Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama membutuhkan banyak biaya, mulai dari mempersiapkan sarana dan prasarana hingga kebutuhan lain. Namun jangan sampai panitia mengharap keuntungan materi dari kegiatan lima tahunan ini.

Peringatan dan juga harapan ini disampaikan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah pada kegiatan soft launching muktamar di Kantor PWNU Jatim, Jalan Raya Al-Akbar Timur Surabaya, Sabtu (28/2).

Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi

Dalam pandangan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini, muktamar kali ini terasa istimewa karena dilaksanakan di tempat dimakamkannya para pendiri NU. Sejak NU berdiri, tidak pernah muktamar digelar di Jombang, kendati berulang-ulang pernah dilaksanakan di Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? "Tujuan dan niatnya juga agar seluruh pengurus dan anggota NU berziarah ke makam para pendiri NU," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia menjelaskan, tema Islam Nusantara yang diusung pada muktamar sebagai penguatan Islam dan keindonesiaan dalam menghadapi perubahan global, bukan hanya dari segi keislaman, tapi juga politik, budaya, dan ekonomi.

? "Makanya muktamar kali ini akan dilirik dan menjadi perhatian dunia," tandas Ketua PWNU Jatim dua periode ini.

Karenanya, Kiai Mutawakkil berharap para panitia dapat menyukseskan Muktamar ke-33 NU, baik pra maupun saat muktamar dilaksanakan. "Saya yakin panitia tidak mengharapkan materi, karena kalau itu yang didahulukan akan kualat. Tapi kalau mengharap berkah, Insya Allah akan diberi rezeki min haitsu laa yahtasib wa yuhtasab," katanya.

Sementara itu, Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf menerangkan, rencananya launching terkait tempat muktamar akan dilaksanakan pada 14 Maret 2014 mendatang di Jombang. Gubernur Jatim, Pangdam Brawijaya V, Kapolda Jatim, dan sejumlah forpimda akan diundang pada launching tersebut.

? ? "Kalau pembukaan muktamarnya akan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla," kata Gus Ipul.

Selain Gus Ipul dan Kiai Mutawakkil, hadir sejumlah tokoh dan kiai NU dalam soft launching muktamar tersebut. Di antaranya Katib Syuriah PWNU Jatim, KH Syafruddin, Pengurus PBNU yang juga mantan Mendikbud Muhammad Nuh, mantan Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa, Rektor UINSA Prof Dr Abdul Ala, dan lainnya. Kegiatan Soft launching ini diakhiri dengan istighasah dan doa bersama. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Jadwal Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Kiai, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Februari 2018

Ulama dan Umara

- Anda kok suka dengan ulama?

+ Amin. Alhamdulillah. Semoga.

- Lho, saya tanya, kok Anda mengamini?

Ulama dan Umara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama dan Umara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama dan Umara

+ Iya, saya suka ulama. Saya minta doanya agar istiqomah menyintai ulama.

- Kenapa Anda menyintai ulama?

+ Karena saya belum menemukan ubaru sehingga saya masih menyintai ulama. (Hamzah Sahal)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Januari 2018

Pengikut Paham Radikal Diperkirakan Mencapai 10 Juta

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Syuriyah PWNU Jawa Timur, Prof Dr KH Ali Mascan Moesa, mencatat pengikut paham radikal di Indonesia saat ini mencapai 10 juta orang.

Pengikut Paham Radikal Diperkirakan Mencapai 10 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengikut Paham Radikal Diperkirakan Mencapai 10 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengikut Paham Radikal Diperkirakan Mencapai 10 Juta

"Hasil riset menunjukkan empat persen penduduk Indonesia atau sekitar 10 juta orang sekarang memiliki pemahaman radikal," katanya, di Surabaya, Selasa.

Dia menjelaskan penelitian yang dilakukan menunjukkan hubungan agama dan negara menentukan kekerasan atas nama agama.

"Kalau hubungan agama dan negara terlalu dekat maka ada dua dampak yakni agama dijadikan alat atau terjadi radikalisasi agama, tapi kalau terlalu jauh akan terjadi sekulerisasi dan liberalisasi," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut mantan anggota DPR itu, liberalisasi yang menjauhkan negara dari agama justru mendorong negara menjadi bangkrut akibat banyak masyarakat terlalu rasional dan stres.

"Solusi terbaik itu kembali pada cara Nabi Muhammad SAW yang lembut atau moderat dalam memadukan antara agama dan negara dengan mengedepankan akhlak dan akidah daripada fiqih dalam bernegara. Saya kira, cara ini perlu diterapkan pemerintah melalui kerja sama dengan para tokoh agama," katanya.

Ia mencontohkan nabi pernah hendak dibunuh. "Kalau menggunakan fiqih, maka orang yang hendak membunuh nabi itu harus dibunuh.

Tapi nabi melawan kekerasan dengan akhlak, bukan fiqih, sehingga orang itu memeluk Islam, bahkan satu suku masuk Islam," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr H Sahid HM, menegaskan, adikalisasi dalam Islam mulai terjadi saat kepemimpinan Usman bin Affan, akibat konflik politik, karena banyak masyarakat yang tidak setuju dengan mutasi yang dilakukan Usman terhadap Saad bin Abi Waqash.

"Ada empat tokoh masyarakat yang tidak setuju tapi tanpa kekerasan, di antaranya Salman Alfarisi, namun ada 2.000 orang yang mengedepankan fiqih dengan membenturkan agama dengan politik, sehingga mereka menyatakan Usman harus dibunuh, karena tidak menggunakan hukum Islam," katanya.

Akhirnya, terbunuhnya Usman melahirkan tiga kubu yakni kubu Syiah yang pro-Ali bin Abi Thalib dan kubu Muawiyah yang anti-Ali bin Abi Thalib (Sunni), lalu muncul kubu Khawarij dari kubu Ali bin Abi Thalib tapi tidak setuju dengan Ali.

Dari kubu Khawarij inilah yang melakukan "takfiri" atau mengafirkan mayoritas Muslim itu berdosa besar, karena tidak berpedoman pada hukum Islam.?

"Pola radikalisme itu muncul juga pada era modern dan kontemporer," katanya.

Pada era modern muncul di Arab Saudi yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahab pada 1703 atau dikenal dengan kelompok Wahabi yang memurnikan Islam dengan melawan bidah, khurafat, dan tahayul. Wahabi menghancurkan seluruh makam di Tanah Arab.

"Cara-cara itu melahirkan Komite Hijaz di Indonesia yang meminta pemerintah Saudi Arabia agar makam Rasulullah tidak dihancurkan sebagai bagian dari sejarah Islam. Komite Hijaz itulah yang mendorong lahirnya NU," katanya.

Pada era kontemporer, radikalisme muncul sebagai reaksi atas modernisme nilai-nilai Barat dalam sosial, budaya, politik, dan ekonomi, sehingga lahir Ikhwanul Muslimin di Mesir pada 1928.

"Arahnya atau targetnya untuk membentuk negara Islam dengan empat ciri yakni melawan atau menggunakan kekerasan, dan menolak hermeneutika atau pemahaman Al-Qur’an secara kontekstual," katanya.

Ciri lain, menolak pluralisme atau pemahaman terhadap non-Islam secara kemanusiaan yang dianggap merusak akidah, dan menolak Islam secara sosiologis seperti Islam Nusantara yang dianggap mendegradasi Islam.

"Bentuknya bisa gerakan politik seperti Wahabi atau Ikhwanul Muslimin, atau bisa gerakan dakwah seperti Hizbuth Tahrir yang bisa bermetamorfose menjadi PKS, FPI, Laskar Jihad, Majelis Mujahidin, tapi targetnya sama, yakni Negara Islam," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, News, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 13 Januari 2018

GP Ansor Bondowoso Kunjungi Korban Tanah Longsor di Desa Kembangan

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang GP Ansor Bondowoso bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Binakal dan GP Ansor setempat menurunkan bantuan untuk korban tanah longsor di Desa Kembangan. Pengurus harian GP Ansor Bondowoso menyerahkan bantuan berupa bahan makanan pokok.

Bantuan ini diserahkan langsung di lokasi kejadian bencana di Dusun Kembang Desa Kembangan Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, Senin (26/9) malam.

GP Ansor Bondowoso Kunjungi Korban Tanah Longsor di Desa Kembangan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bondowoso Kunjungi Korban Tanah Longsor di Desa Kembangan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bondowoso Kunjungi Korban Tanah Longsor di Desa Kembangan

"Begini, kejadiannya itu sudah dua hari yang lalu. Akibat tanah longsor karena hujan lebat terus menerus sehingga rumah ibu saya ibu Maimunah tertimpah tanah longsor. Itu sekitar jam lima sore kejadiannya,” kata Sofi, keluarga salah satu korban.

Ia bersyukur tidak ada korban jiwa saat kejadian. Hanya saja "Rumah ibu saya yang rusak tertimpah tanah longsor tersebut," kata Sofi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kondisi jalan untuk menempuh lokasi dalam keadaan licin, becek, dan gelap gulita. Untuk menempuhnya, orang dapat lewat dengan penerangan hp.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil berharap bantuan itu bisa meringankan beban yang terkena musibah.

“Dari kegiatan penyaluran bantuan longsor itu kita terpanggil sesama manusia agar kita bisa meringankan beban yang terkena musibah, saling membantu,” kata Muzammil.

Tampak hadir Ketua MWCNU Binakal H Lutfi, Ketua GP Ansor Binakal Ahmad Efendy, Ketua Baanar Bondowoso Fiqi Abdillah, dan Pengurus GP Ansor lainnya. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 07 Januari 2018

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan ribu warga NU tumplek blek di alun-alun kota Jombang,  Rabu (8/5) malam. Dengan pakaian serba putih dan juga kopyah putih, mereka larut dalam  lantunan bacaan Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW yang didengungkan Habib Syekh Abd Qodir  Assegaf.

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syekh: Ikutlah Kiai..! (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syekh: Ikutlah Kiai..!

Kegiatan Jombang bersholawat dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran Jombang menerima penghargaan ke-5 pemerintahan terbaik oleh Pemerintah Pusat juga dihadiri Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf alias Gus Ipul serta ratusan kiai, pengasuh serta santri pondok pesantren se-Jombang.

Bupati Suyanto Jombang mengatakan, Jombang  Bersholawat digelar dalam rangka Isro miroj dan tasyakuran karena Jombang meraih penghargaan sebagai  pemerintahan terbaik kelima.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Usai sambutan Bupati,  Habib Syekh Abd Qodir Assegaf  langsung menggebrak dengan lantunan syiir Gus Dur, seperti dikomando ribuan jamaah Nahdliyin, menyahudi syiiran yang sudah mendarah daging dikumandangkan di musholla-musholla dan radio menjelang magrib tersebut. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hampir 1,5 jam lebih gema sholat dengan iringan musik rebana memenuhi pusat kota santri. Dan bagaikan konser musik Slank, para Syehker sebutan pecinta Habib asal Solo itu juga mengibarkan bendera kebesaran kelompoknya masing-masing, seperi Remaja Masjid, IPNU, Ansor serta Jamaah Sholawat bahkan bendera Merah Putih juga nampak berkibar ditengah-tengah lautan manusia berbaju putih.

Jombang Sholawat ditutup dengan doa oleh KH Masduqi Abd Rohman Al Hafidz, setelah sebelumnya Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf memberikan sambutan dan Habib Syech memberikan wejangan. 

"Para kiai sudah menyediakan kendaraan untuk kita,  tinggal kita ikut saja. Terserah kita memilih, apakah pingin ikut jalur sugeh? Yo melok’o wong sugeh (Apakah ingin mengikuti jalur orang kaya? ya ikutlah mereka, red), jika ingin selamat dunia akhirat silahkan ikut kiai," ujarnya.

Habib juga sedikit menyinggung pemahaman tentang Islam kelompok tertentu yang selalu mengkafirkan NU. Menurutnya, tidak ada yang salah di NU. "Saya pribadi mendukung pemimpin yang berahlussunah wal Jamaah. Bukan hanya orang yang berjenggot panjang yang sering menyalahkan," imbuhnya.

Jombang bersholawat ditutup dengan lantunan lagu Indonesia Raya yang dipimpin langsung Kapolres Jombang AKBP Tri Bisno. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 04 Januari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Anti Hoax, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 Desember 2017

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Masdar Farid Masudi mengimbau kepada seluruh peserta Aksi Super Damai 2 Desember di Monas, Jakarta, Jumat (2/12) ini untuk tidak memprovokasi atau terprovokasi terkait hal-hal yang dapat merusak kekhidmatan aksi. Pihak berwajib juga diharapkan cermat dalam mengantisipasi situasi.

Menurutnya, komitmen untuk menyelenggarakan aksi ini tanpa kerusuhan harus betul-betul dijaga. Apabila terdapat sinyal provokasi dari oknum-oknum tak bertanggung jawab, aparat keamanan harus melakukan langkah-langkah pencegahan dini.

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga

"Kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka luar biasa, bukan hanya bagi korban provokasi tapi juga citra Islam," ujarnya saat diwawancarai ? salah satu stasiun televisi swasta, Jumat, atas nama Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.

Rais Syuriyah PBNU ini juga menegaskan, baik aparat keamanan maupun peserta aksi sama-sama menginginkan aksi berlangsung lancar dan damai. Karena itu, masing-masing mesti bertanggung jawab agar setiap tindakan tetap berjalan di jalur hukum.

Hingga berita ini ditulis, ratusan ribu peserta aksi telah memadati kawasan Monas, Bundaran BI, juga Masjid Istiqlal. Mereka bersiap melaksanakan shalat Jumat. Sesuai dengan komitmen para koordinator lapangan, aksi kali ini bukanlah demonstrasi melainkan doa bersama, istighotsah, dan mendengarkan taushiyah. (Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Kajian Sunnah, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 Desember 2017

Banser Jakbar Bantu Pemudik Disabilitas

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Peristiwa tahunan mudik lebaran menggerakan Ansor-Banser Jakarta Barat membuka posko untuk membantu para pemudik dengan layanan kesehatan, pembagian takjil, pijat refleksi, charger handphone, dan lain-lain. Mereka juga ikut serta dalam membantu pemudik disabilitas atau berkebutuhan khusus.

“Kami berpandangan bahwa setiap warga masyarakat berhak untuk mengakses fasilitas mudik sehingga kami terdorong mendukung mudik gratis penyandang disabilitas yang diselenggarakan oleh LSM dan Bank,” kata Ketua GP Ansor Jakarta Barat Alfanny.

Banser Jakbar Bantu Pemudik Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jakbar Bantu Pemudik Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jakbar Bantu Pemudik Disabilitas

Alfanny berharap pemudik disabilitas bisa mendapatkan pelayanan yang maksimal dari pemerintah di masa mendatang berupa perbaikan fasilitas umum yang lebih ramah bagi penyandang disbailitas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain membantu pemudik disabilitas, Banser Jakbar bersinergi dengan Polisi, TNI dan lain-lain, juga turut berpartisipasi mengamankan dan mengatur lalu lintas arus mudik di sejumlah terminal bus dan stasiun kereta api seperti Terminal Bus Kalideres dan Grogol serta Stasiun Kereta Api Jakarta Kota.

Posko mudik yang didirikan Ansor-Banser Jakarta Barat di Masjid An-Nahdlah samping terminal Kalideres di bawah komando Satkorcab Banser Jakarta Barat Nurhamim sejak Senin (19/6) sampai Sabtu (24/6). Posko ini juga membagikan ratusan takjil setiap hari kepada para pemudik di sejumlah terminal bus dan stasiun kereta api di Jakarta Barat, serta juga mendistribuskan ratusan paket sahur kepada sejumlah komunitas masyarakat di Jakarta Barat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami mengucapkan terima kasih kepada sejumlah warga Jakarta yang mendukung secara spontan Posko Mudik Ansor-Banser sehingga posko mudik ini dapat melayani pemudik,” kata Nurhamim.

Setelah hari raya Idul Fitri, Banser Jakbar juga akan meningkatkan patroli keliling Jakarta Barat untuk memantau rumah dan pertokoan yang ditinggalkan pemudik. (Nahraji Zen/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul di Kantor PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis, (5/2) sore. Pertemuan ini untuk menanggapi masalah yang mengemuka akhir-akhir ini terkait kemelut antara KPK dan Polri, dan mengenai ketegasan Presiden Jokowi dalam menyelsaikan kemelut tersebut.

“Pertemuan ini tidak terkait dengan politik, murni untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan kita saat ini,” tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memimpin penyampaian sikap di lantai 5 kantor PBNU.

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Hasil dari pertemuan ini, mereka menyampaikan hal-hal sebagai berikut,?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

1. Penegakan kebenaran dan keadilan adalah syarat mutlak keselamatan bangsa Indonesia.?

2. Tugas Negara dan pemerintahan adalah menjaga nilai-nilai luhur agama dan memajukan kemashlahatan rakyatnya. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

3. Pemimpin yang jujur, amanah dan adil akan membawa bangsa ini mencapai kemajuan dan kesejahteraan.?

Dari tiga persamaan persepsi kebangsaan itu, mereka menyampaikan 7 butir seruan moral kepada presiden, KPK, dan Polri sebagai berikut, ?

1. Menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk tidak khawatir, was-was atau resah, serta tetap tenang dan menjalankan aktifitas sebagaimana biasa.?

2. Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk terus secara sungguh-sungguh memimpin pemberantasan korupsi. ?

3. Mengetuk nurani Presiden Republik Indonesia untuk tidak ragu-ragu mengambil langkah yang tegas, cepat dan tepat untuk mengakhiri dan menyelesaikan perselisihan dan kemelut antara KPK dan Polri sesuai konstitusi.

4. Menyerukan Presiden Republik Indonesia untuk mengangkat kepemimpinan Polri dengan mengutamakan moralitas, kredibilitas, berintegritas ? dan kapabel.

5. Mendukung KPK dan Polri untuk melakukan tugasnya menegakkan hukum dalam kerangka memberantas korupsi dan meningkatkan akuntabilitasnya.?

6. Mendorong semua pihak agar menghentikan kriminalisasi dan tidak menjadikan KPK dan Polri sebagai alat bagi kepentingan politik individu dan kelompok.?

7. Mengingatkan KPK untuk kembali ke fitrahnya dan betul-betul menjaga dan meningkatkan kredibilitasnya sebagai lembaga pemberantasan korupsi.

Hadir dalam pertemuan tersebut diantarnya Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekjend PBNU), Dr. H. Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute), Romo Ignatius Harianto SJ. (Sekjend ICRP/KWI), HS. Dillon (Intelektual dan Tokoh Agama Shikh), Pendeta Albertus Patti (PGI), Uung Sendana (Ketum Majlis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), Piandi ? (Ketum Majlis Budayana Indonesia), Yanto Jaya (Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia), Suprih Suhartanto (Majlis Luhur Agama Nusantara), Ulil Ashar-Abdalla (ICRP), M. Imdadun Rahmat (Komisioner Komnas HAM), Zafrullah Pontoh (JAI), dan Syamsiah (ICRP). Hadir juga perwakilan dari Ahmadiyah, Agama Tao, dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Desember 2017

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mendorong para santrinya untuk berthariqah dengan rutin. Selain kepada santri, pesantren ini juga mengajak wali santri dan warga sekitar. Hal ini dilakukan setiap bulan sekali di halaman pesantren setempat.

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah

Nama aliran thariqah tersebut adalah Syadziliyah al-Mas’udiyah yang dipelopori oleh Abul Hasan Asy Syadzili pada zamannya. Salah satu ajaran yang diterapkan dalam thariqah ini, para jamaah diimbau membaca fida’ sebagai usaha meminta ampunan kepada Allah SWT atas dosa yang telah diberbuat.

Seperti halnya yang dilakukan KH Muhammad Qoyim Ya’qub, Pengasuh Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo yang sekalius sebagai Mursyid Thariqah ini dalam menerapkan fida’. Para jamaah diperintahkan untuk membaca surat Al Ikhlas sebanyak 100.000 di masa hidupnya. 

“Amalan fida’ ada beberapa versi tergantung mursyidnya dari masing-masing thariqah. Tetapi kalau di sini amalan fida’-nya membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali selama orang itu hidup,” kata Gus Qoyim, panggilan akrabnya saat memberikan arahan kepada para jamaah, Sabtu (17/1) lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, pada momentum bulan maulid Nabi Muhammad SAW ini sekaligus dijadikan media bertambahnya kecintaan para jamaah dengan membaca shalawat kepadanya. Mereka tampak antusias dan khusyuk dengan diiringi alat musik al-banjari.

Selain mempelajari ilmu thariqah, pada keesokan harinya, Ahad (18/1/2016) di tempat yang sama, pondok pesantren ini juga mengajak para jamaahnya untuk mendalami ilmu-ilmu syari’at sebagai pemantapan dan penerapan langsung dari ibadah-ibadah syar’i.  “Sebab sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang digurukan kepada guru atau ulama,” ujar Sya’roni Hasan, salah satu pengurus pondok pesantren tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Anti Hoax, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Desember 2017

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok

Lombok Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Istilah Tuan Guru memang akrab dengan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tuan Guru merupakan sebutan, panggilan, sekaligus gelar dari masyarakat untuk ulama di daerah ini. Posisi Tuan Guru setara dengan Kiai di Tanah Jawa.

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok

Demikian penuturan Pengasuh Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan TGH Ahmad Taqiuddin Mansur kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah menjelang perhelatan Pra-Muktamar NU di kediamannya di komplek pesantren Bonder-Praya Barat-Lombok Tengah, NTB, Rabu (8/4) sore.

“Kalau kiai di sini itu banyak. Yang mandiin mayit, disebut kiai. Yang mimpin tahlil, dzikir, juga kiai. Banyak. Jadi, kiai di sini biasa aja. Nah, kalau tuan guru sangat langka. Bisa hanya satu perseribu orang. Seperti kiai di Jawa,” ujar TGH Taqiuddin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, lanjutnya, sekarang ini penduduk Lombok telah menerima istilah kiai sebagai seorang ulama. Mereka juga mampu menempatkan kiai pada proporsinya. “Yang jelas, masyarakat sini menyebut kiai seperti di Jawa itu sebagai Tuan Guru. Jadi, tidak semua orang bisa menjadi tuan guru,” tandas Ketua PWNU NTB ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut TGH Taqiuddin, sebutan Tuan Guru juga berlaku bagi seseorang yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. “Kalau belum haji, ya, ustadz atau guru biasa lah. Namun, tidak juga yang punya pesantren. Memang umumnya tuan guru itu memiliki pesantren. Satu hal yang kami kagumi dari seorang tuan guru adalah ketokohannya,” ungkap suami Nyai Hj Hattiyatul Malichah ini. ? ?

Dipanggil tuan guru, tambahnya, selain karena memiliki trah atau keturunan tuan guru pendiri pesantren, juga memiliki keilmuan yang mumpuni. Meski demikian, ia menyatakan berat sekali menyangga gelar tuan guru.

“Namun, rasanya lebih karena kesolehannya ya, bukan karena ilmunya saja. Tapi sikap wara’-nya itu. Nah, masyarakat lah yang akhirnya memberi gelar seperti itu. Cuman memang berat ya disebut tuan guru. Karena tuan guru kan nggak bisa bebas main bola,” selorohnya sembari tertawa.

Disinggung soal keterpilihan pesantren asuhannya sebagai tempat penyelenggaraan pra-muktamar, TGH Taqiuddin menjawab biasa saja, tidak ada sesuatu yang berlebihan apalagi istimewa. Yakni, karena posisinya sebagai Ketua PWNU NTB yang memiliki pesantren.

“Sederhana saja. Mungkin karena saya Ketua NU NTB yang punya pondok kali ya. Dan, pondok-pondok yang kami rekayasa untuk siap ketempatan ternyata susah juga. Tidak seperti di Jawa. Namun yang pasti, saya tidak ingin nilai-nilai pondok seperti di Jawa di sini jangan sampai hilang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Anti Hoax, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Salah satu keputusan Sidang Pleno Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama (Muskercab NU) Kabupaten Jombang adalah merekomendasikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Alasan yang dikemukakan oleh peserta Muskercab karena HTI telah jelas-jelas tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sikap HTI tersebut dinilai sebagai perbuatan makar terhadap negara.

Keputusan sidang Pleno yang dibacakan KH Junaidi Hidayat tersebut selanjutnya disahkan sebagai keputusan Muskercab PCNU Jombang secara resmi oleh Pimpinan Sidang, KH Dr. Isrofil Amar.

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

PCNU Jombang juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melarang seluruh aktifitas HTI. (Ma/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Ulama, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 23 November 2017

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Negara-negara Islam di Timur Tengah saat ini tengah dilanda krisis dan konflik berkepanjangan. Seakan tak tampak lagi wajah Islam yang santun dan berkeadaban. Hari-hari selalu dihiasi dengan perang, pembunuhan, dan tragedi. Ini menunjukkan model keberagamaan Islam dan sistem yang dibangun di sana tak mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi.?

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

“Lain halnya dengan Indonesia. Negeri yang berpenghuni muslim terbesar sedunia ini, jauh lebih mampu mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” terang KH Wahfiuddin Sakam saat menyampaikan taushiyah usai pelantikan pengurus Mahasiswa Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (MATAN) Cabang Ciputat, Tangerang Selatan dan Komisariat STAINU Jakarta, UNU Indonesia, UI, IPB, UNJ, dan STIKIP Kusuma Negara, Senin (11/4) lalu.

Mengapa ini bisa terjadi? Kiai Wahfi menjelaskan, karena umat Islam Indonesia mampu menerapkan tiga pilar ajaran Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ia mengibaratkan tiga pilar itu ibarat tripod yang mampu menyanggah dan tegak dengan gagah. Bila salah satu pilarnya tak lurus, maka tripod tersebut akan roboh dan tak mampu menyanggah beban.?

Tiga pilar itu jika diterjemahkan secara sederhana berarti aqidah (iman), syariah (Islam), dan tasawuf (ihsan). Ketiga pilar ini tidak bisa dipisah-pisah, tapi harus menyatu dan berdiri kokoh dalam diri seorang muslim. Hal ini sebagaimana tercermin dalam sejarah kejayaan Islam di masa lalu.?

“Ketika saya melakukan ekspedisi napak tilas kejayaan Islam di Eropa dan juga Timur Tengah, saya datang ke makam-makan ulama besar dan pemikir di sana, ternyata mereka semua adalah orang sufi pengamal tarekat,” terang Kiai Wafi yang juga Mudhir JATMAN (Jamiyah Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah) DKI Jakarta.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kebesaran Islam di Indonesia juga tak lepas dari guru-guru mursyid Tarekat. Syeikh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Syaikh Khotib Sambas, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Syeikh Abdusshamad al-Palimbangi, dan juga para wali penyebar Islam di Nusantara, semuanya adalah muslim pengamal tarekat.?

“Karena itu, Islam yang mereka ajarkan di Indonesia, tidak hanya menggunakan pendekatan fiqih-formalistik yang cederung hitam-putih, tapi juga memperkuat ajaran Islam yang santun, ramah, dan toleran terhadap perbedaan,” tegasnya.

NKRI adalah bukti nyata buah karya ulama ahli tarekat yang mampu memadupadankan ajaran Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara. Untuk itu, supaya tiga pilar tadi dapat berdiri dengan kokoh, ajaran tarekat tidak hanya dilakukan oleh generasi tua, tapi juga harus diamalkan oleh generasi muda, yaitu para mahasiswa. Ini penting, karena korupsi dan kolusi yang memporkak-porandakan negeri ini dilakukan oleh para pejabat, yang mereka semua adalah mantan mahasiswa.?

“Untuk itu, organisasi MATAN hadir di tengah-tengah kampus untuk menanamkan amalan tarekat, agar generasi muda Indoesia tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter Iman, Islam, dan Ihsan,” pungkas Kiai Wahfi. (Abdullah Ubaid/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 21 November 2017

IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah? . Agenda kaderisasi dalam tubuh IPNU menjadi starting point pada setiap program kerja yang dicanangkan. IPNU dituntut untuk dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya tangguh secara intelektual semata, lebih dari itu ketangguhan dalam aspek karakter dan akhlak yang ditopang oleh keterampilan dalam berorganisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari visi dan misi IPNU itu sendiri.?

IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua PW IPNU DKI Jakarta, Mohammad Khoiron dalam rilis yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (24/2).

“Dengan kata lain, kaderisasi IPNU adalah upaya untuk mencetak calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki kapasitas kepemimpinan yang tinggi dan memiliki sifat militansi serta berkarakter kritis terhadap berbagai persoalan dan perkembangan sosial yang dihadapi,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan kaderisasi inilah, lajutnya, proses meritokrasi atau sistem organisasi di mana janji yang dibuat dan tanggung jawab yang ditugaskan untuk individu berdasarkan kecerdasan dan kemampuan akan terwujud, sehingga pada akhirnya kader organisasi yang muncul benar-benar berkualitas karena mengikuti prosedur kaderisasi yang ditetapkan dan memahami kebutuhan kader dan organisasi yang baik.?

“Dengan demikian, kebutuhan akan kaderisasi semacam ini semakin mendesak, mengingat saat ini kita dihadapkan pada problematika yang sangat kompleks, khususnya yang menyangkut masalah pelajar,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khoiron menerangkan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau IPNU adalah organisasi pelajar yang hadir sebagai organisasi dengan dua dimensi, yaitu dimensi sebagai organisasi kader NU, dan dimensi organ gerakan pelajar. Sejak kelahirannya pada tanggal 24 Pebruari 1954 yang lalu, ia telah mengemban amanat sebagai badan otonom NU di garda terdepan dalam hal kaderisasi pada segmen pelajar dan santri.?

Di samping itu, tambahnya, kehadiran IPNU di dalam tubuh NU sebagai penggerak bagi pelajar dan santri agar tetap kritis dan sadar terhadap berbagai macam persoalan yang dihadapi serta dituntut untuk melakukan berbagai macam upaya dalam mengadvokasi pelajar di segala bidang.

Dia juga menjelaskan, segmentasi pelajar dan santri dipilih bukan tanpa alasan yang jelas. Hampir bisa dipastikan, semua elemen orang sepakat bahwa pelajar merupakan tumpuan yang kokoh bagi bangsa dan Negara. Karena mereka merupakan elemen dari beberapa komponen penting dalam setiap perubahan.?

“Peran pelajar dalam Agent of Change atau agen perubahan bukanlah isapan jempol belaka. Bila dikaitkan dengan sejarah perjuangan pra dan pasca kemerdekaan Negara kita, maka pelajar, pemuda, dan santri selalu berada di garda terdepan,” ucapnya.

Oleh karena itu, ujarnya, agar peran yang dimainkannya teruss berkesinambungan, maka sudah barang tentu pelajar saat ini harus diorganisir. Untuk itu, dalam kaitannya dengan organisir pelajar, di samping dibutuhkan pengorganisasian pelajar, yang lebih penting lagi adalah pembangunan kapasitas pelajar dalam kepemimpinan atau Capacity Building on Leadership.

“Akhirnya, diusianya yang ke 61 ini, IPNU berharap kesadaran kalangan pemuda untuk terus ? belajar, berjuang, dan bertakwa guna menyiapkan peran di hari depan yang lebih baik, sehingga penguatan kaderisasi berbasis ideologi Aswaja menjadi ruh gerakan dan keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi,” pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 November 2017

Pemimpin adalah Pembaca

Oleh Bakhrul Amal

Pemimpin adalah pembaca. Tesis itu harus kita sepakati terlebih dahulu sebelum kita lebih jauh memperbincangkan sosok pemimpin ideal yang diharapkan, bukan hanya oleh partai politiknya an sich, tetapi juga oleh seluruh elemen yang dipimpinnya.

Pemimpin adalah Pembaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin adalah Pembaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin adalah Pembaca

Kata ‘baca’ dalam bahasa Arab dikenal dengan iqra (kata pertama yang diterima nabi dari Malaikat Jibril, bacalah). Sedangkan kata ‘bacalah’ dalam Al-Qur’an? menurut Yusuf Qardhawi, merujuk pada Surah Al-Alaq, secara etimologi memiliki arti membaca huruf-huruf yang tertulis dalam sebuah kitab atau buku. Yusuf Qardhawi melanjutkan bahwasanya kata ‘baca’ itu pun memiliki terminologi membaca dalam arti yang lebih luas dari sekedar membaca kitab atau buku. Membaca juga diartikan kemahiran membaca alam semesta atau ayat Al-Kaun.

Jika merujuk pada definisi yang dijelaskan oleh Yusuf Qardhawi tersebut, yang kemudian diselaraskan pada makna pemimpin pembaca, berarti setidaknya seorang pemimpin ideal itu haruslah; bibliophile atau pembaca buku yang rakus serta melek literasi, dan mampu membaca kondisi yang ada disekitarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Pembaca Buku


Sejarah membuktikan jika, seperti dikutip dari Harvard Bussiness Review, seorang pemimpin itu memliki kebiasaan yang sama, yakni kebiasaan membaca buku. Artikel tersebut kemudian memberikan contoh; Steve Jobs sang pemilik Apple memiliki "minat baca yang tak habis-habisnya" pada karya William Blake; Pendiri Nike, Phil Knight, sangat menghormati perpustakaannya sehingga di dalamnya Anda harus melepas sepatu. Selain itu adapula Winston Churchill, Perdana Menteri terkenal dunia dari Inggris, memenangkan hadiah Nobelnya justeru dalam bidang literatur, bukan dalam bidang perdamaian atau kemanusiaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seorang bijak bestari mengatakan “buku memberikan pengalaman tanpa harus kita mengalaminya sendiri”. Pemimpin yang rajin membaca tentu akan memiliki wawasan yang luas. Wawasan tersebut kemudian digunakan olehnya untuk merumuskan gagasan dan kebijakan-kebijakan yang baik dan mebahagiakan bagi rakyatnya.

Sebagai contoh, pada tataran kebijakan, pemimpin pembaca tentu akan mafhum bahwa terdapat dua gugus teori filosofi kebijakan yang terdiri dari utilitarianisme dan libertarianisme (Rocky Gerung, Jurnal Perempuan, 2017). Dasar kebijakan utilitarianisme adalah memperhatikan suatu kebahagiaan hanya bisa disebut adil apabila memuaskan kehendak mayoritas. Artinya, keinginan mayoritas adalah dasar dari sebuah kebijakan.

Akan tetapi, kebijakan dengan prinsip utilitarianisme kemudian ditentang sehingga muncul versi kebijakan baru yang disebut libertarianisme. Jika utilitarianisme memandang keadilan berdasarkan jumlah kebahagiaan menurut masyarakat, pada libertarianisme keadilan akan kebahagiaan itu dikembalikan kepada masing-masing individu. Hematnya, libertarianisme memberikan makna kebebasan itu pada pribadi, bukan pada standar kebahagiaan mayoritas.

Dari dua pembacaan tersebut, pemimpin pembaca, tentu tidak akan gegabah dalam membuat kebijakan. Pemimpin pembaca tidak akan dengan mudah ditekan karena pemimpin pembaca memiliki dasar kuat untuk membuat kebijakan. Dan bagi pemimpin pembaca, kebijakan tidak dijadikan sekedar proyek tetapi tujuan untuk keadilan kebahagiaan seluruh rakyatnya, baik menurut mayoritas (utilitirianisme) maupun pribadi (libertarianisme).



Pembaca Alam Semesta


Selain pembacaan tekstual, pemimpin juga diharapkan mampu menjadi pembaca alam semesta agar dapat memahami segala hal yang dibutuhkan oleh masyarakatnya. Asumsi dasarnya sederhana, karena seorang pembaca alam semesta sudah pasti mencintai perjalanan.

Kita dapat mengambil contoh dari Presiden Pertama Indonesia, yakni Ir. Soekarno. Soekarno adalah seorang pembaca semesta yang baik. Hal tersebut dia buktikan ketika mampu merangkum kesepakatan dalam sebuah pidato di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau BPUPKI. Dia, salah satunya, menyampaikan bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia itu masyarakat gotong royong yang mencintai musyawarah mufakat. Indonesia bagi Soekarno tidak mengikuti kebebasan mutlak a la liberal, tidak pula menghilangkan kepemilikan seutuhnya menjadi milik bersama seperti komunis, melainkan kepemilikan yang bersifat sosial seperti tradisi adat-adat di Indonesia.

Pemimpin pembaca, dalam hal ini membaca alam semesta, tidak akan nyaman duduk-duduk di kantor untuk lalu kemudian merumuskan kebijakan berdasarkan bisikan, saran ahli, dan desas-desus politis. Pemimpin pembaca (alam semesta) juga tidak pernah puas pada kesimpulan “apa kata buku”. Pemimpin pembaca akan turun dan melihat langsung kondisi sosial di wilayah teritorinya. Hal itu dilakukan agar kebijakannya tepat sasaran dan tidak ngawur.



Penutup


Menyesuaikan dengan Pancasila pemimpin, pembaca itu seyogyinya sesuai dengan sila kesatu yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, dia harus memahami ketuhanan dan merefleksikan pemahamannya itu pada ibadah. Pemimpin pembaca juga dianjurkan mengenal manusia serta peradabannya, dan lahir serta tumbuh dari nilai-nilai kehidupan manusia Indonesia. Aktualisasi sila ketiga, pemimpin pembaca, pasti dekat dengan cita-cita persatuan yang mengutamakan sikap gotong royong. Pemimpin pembaca juga melaksanakan sila keempat dari hasil bacaannya berupa tindakan mengutamakan dialog untuk hasil kebaikan bersama (musyawarah mufakat). Yang terakhir, sila kelima, pemimpin pembaca harus punya banyak model inovasi yang berbasis pada pengalaman untuk tujuan pemenuhan ekonomi, pendidikan, dan sosial (keadilan sosial).

Dari semua yang telah disebutkan di atas kini kita, sebagai bangsa Indonesia yang menganut Pancasila, bisa menentukan beberapa sikap yang antara lain; sudahi memilih pemimpin yang sekedar memberikan janji dengan iming-iming yang justeru jatuh pada money politics, hindari mencoblos pemimpin yang tidak kredibel dan tidak memiliki kemampuan yang mumpuni. Sekarang saatnya mencari dan memutuskan untuk mendukung pemimpin pembaca, yang tidak hanya membaca buku (tekstual) tetapi juga dimbangi pembaca alam semesta (kondisi sosial masyarakat), agar tujuan kesejahteraan rakyat itu tercapai utuh dan bukan sekedar kebutuhan politik

Penulis adalah dosen Ilmu Hukum UNUSIA Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Hadits, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 September 2017

Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 14 grup dari kalangan pemuda kabupaten Kudus meramaikan Festival Tongtek yang diselenggarakan oleh IPNU-IPPNU Kudus dan salah satu harian di Kudus. Pada Ahad (5/7) sore menjelang berbuka puasa di depan Matahari Plaza Kudus, mereka menunjukkan kebolehannya memukul bambu yang menimbulkan sebuah irama.

Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus

Tongtek merupakan seni musik tradisional yang menggunakan kentongan bambu kering. Pada bulan Ramadhan di beberapa daerah di Indonesia, tongtek sudah menjadi tradisi membangunkan warga untuk melaksanakan sahur.

Menurut ketua panitia Sodiqin, festival tongtek digelar khusus untuk membudayakan kembali kesenian tongtek agar semakin kreatif dalam berinovasi di masa depan. ? “Kami memfasilitasi, karena di desa-desa banyak kegiatan tongtek keliling. Di sini bisa menambah banyak pengalaman bagi teman-teman yang biasa membawakan kesenian tongtek,” katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia berharap acara ini menginspirasi dan memberikan gambaran baru dalam masyarakat supaya menggerakan kegiatan-kegiatan tongtek di desa-desanya, tambah manajer iklan Radar Kudus itu.

Sementara pananggung jawab IPNU-IPPNU Kudus Muhammad Khoirun menyatakan rencananya untuk mengadakan festival ini berkelanjutan setiap tahun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setelah ini, di IPNU-IPPNU tingkat ranting dan anak cabang akan diadakan acara serupa setiap bulan suci Ramadhan,” ujar koordinator bidang Perekonomian IPNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Syaiful Anam, salah satu peserta festival menilai bahwa kesenian tongtek memiliki makna-makna tertentu, di antaranya setiap pukulan tongtek terdapat isyarat-isyarat seperti menandakan adanya kematian atau pembunuhan, pencurian, kebakaran, banjir bandang, dan lain-lain.

Bagi Anam, manfaat dari acara festival tongtek adalah pelestarian budaya di zaman modern. Untuk itu, ia mendorong anak muda NU untuk ikut serta mengembangkan tongtek supaya memasyarat dan lebih lestari.

“Saya sebagai warga NU menyarankan kepada masyarakat supaya melestarikan kesenian tongtek. Jangan khawatir kebisingan, karena ? tongtek ini sebagai kesenian yang harus dijaga,” pungkasnya. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Anti Hoax, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 18 Agustus 2017

Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air

Padang Pariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, melakukan peletakan batu pertama revitalisasi pembangunan embung Sungai Abu Tabek Gadang di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (13/5). Dengan luas 2,5 hektar, embung tersebut akan mampu mengairi Kecamatan Sintoga, Nan Sabaris, dan Ulakan Tapakis.

“Kita berharap revitalisasi ini akan dapat memberikan dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Selain sektor pertanian, sektor pariwisata dan perikanan juga bisa tumbuh,” ujarnya.

Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air

Ia meyakini, produktivitas pertanian warga akan sangat terbantu dengan adanya pengairan yang baik. Dalam kalkulasinya, kurangnya air membuat para petani hanya mampu panen sekali dalam setahun. Embung, lanjutnya, akan membuat para petani mampu panen tiga hingga empat kali dalam setahun. Begitu juga dengan pengembangan sektor perikanan.

“Baru sekitar 45 persen desa-desa punya saluran irigasi atau embung. Nagari harus anggarkan Rp200-Rp500 juta untuk embung. Ini sesuai instruksi Presiden Joko Widodo,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Eko menambahkan, embung juga harus bisa dimanfaatkan sebagai wisata air dan sarana olahraga seperti kolam renang. Selain itu, lanjutnya, pemerintah desa juga dapat menambahkan lapangan bola dan pengelolaan parkir sehingga total lahan yang digunakan bisa mencapai 4,5 hektar. Ia menegaskan hal tersebut dapat terwujud karena setiap desa kini memiliki dana desa.

"Awalnya banyak yang meragukan apakah desa mampu mengelola keuangannya sendiri. Ternyata masyarakat desa kalau dikasih kesempatan bisa. Ekonomi di desa-desa harus terus berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Padang Pariaman, Ali Mukni, optimistis revitalisasi pembangunan embung berpotensi menjadi wisata unggulan daerah. Dirinya memprediksi embung tersebut juga akan mampu mengairi hingga 400 hektar lahan sawah. Ali pun mengapresiasi adanya dana desa dari pemerintah pusat karena dinilai mampu mempercepat pembangunan di pedesaan serta memberdayakan masyarakat desa.

“Embung ini ke depannya akan dijadikan tempat wisata, mancing ikan dan irigasi. Dananya murni diambil dari dana desa 2017 sebesar Rp 60 juta. Sampai selesai butuh dana 3M,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sejarahnya, embung tersebut mulai dibangun sejak pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1912 dengan luas 2 hektar. Pada 2009 lalu, masyarakat meminta Wali Nagari mengeruk embung karena debit air mulai menurun. Hal itu disebabkan sedimentasi serta merimbunnya pohon kelapa dan rumbio di tepi embung. Pengerukan dan renovasi dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera V pada 2012 lalu. (kemendes.go.id/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 08 Juli 2017

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rabithah Alawiyah menggelar halaqoh bertajuk Kabar Gembira di Tengah Kesulitan dengan pembicara ulama asal Yaman, Alhabib Umar bin Salim bin Hafidz. 

Dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini menyampaikan pentingnya pertemuan ulama untuk memecahkan masalah umat.

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

"Perlunya pertemuan ulama seperti ini, semoga kedepan bisa direncanakan lebih besar dan fokus kepada pemecahan masalah umat. Misal membicarakan apa kekuatan dan kelemahan kita," tutur Helmy dalam sambutannya di Crowne Hotel, Jakarta, Selasa (17/10).

Hal itu, lanjut Kang Helmy, penting karena data dari Bank Indonesia dari seluruh uang yang beredar di Indonesia 80 persen dimiliki hanya 35 orang saja. Ia menambahkan lebih tercengang lagi data global wealth 90 persen aset negara dikuasai 1 persen saja. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Secara logika sebagai mayoritas seharusnya ikut menentukan arah kebijakan negara, nyatanya masih belum," imbuh Pria kelahiran Cirebon ini.

Sementara Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith mengatakan penguatan ekonomi umat sebagai salah satu benteng iman dari segala godaan. 

"Kristenisasi bukan hanya salah para petugas, kita juga ikut andil karena tidak aktif membentengi dengan membuat penguatan ekonomi, sebagai salah satu sebabnya," tutur Habib Zen.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal senada disampaikan Habib Umar bin Hafidz dalam ceramah, dimana ekonomi tergantung niatnya. Jika diniatkan mencari ekonomi untuk berjuang di jalan Allah SWT maka itu jalan yang dibenarkan. 

"Seperti dalam sebuah riwayat ada anak muda pergi ke pasar, ada sahabat yang bilang seandainya kekuatan digunakan untuk pergi jihad ke medan perang lebih bermanfaat. Namun Baginda Rasullullah menuturkan jangan mudah menilai, jika niatnya untuk menafkahi bapak dan ibunya maka fisabilillah, jika niatnya untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak perlu mengemis maka fisabilillah tapi jika niatnya untuk menumpuk harta, pamer  maka ia dijalan setan," tutur Almusnid AlHabib Umar bin Salim bin Hafidz.

Hadir dalam kegiatan tersebut, KH Hasib Wahab, KH Manarul Hidayat, KH Anim Mahfus, KH Saifuddin Amsir, H Hanif Saha Ghofur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, RMI NU, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 01 Juli 2017

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

Sidoarjo,Pondok Pesantren Attauhidiyyah ? . Sekitar 500 jamaah dan sejumlah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur menunaikan ibadah shalat tahajud, shalat tasbih dan shalat hajat. Kegiatan ini mereka lakukan di masjid setempat untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT melalui malam Lailatul Qodar atau malam seribu bulan pada malam 21 Ramadhan.

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

"Para jamaah menunaikan shalat tasbih yang dilakukan dengan empat rakaat dua salaman, shalat Hajad dan Tahajud dilakukan dua rakaat satu salaman. Semoga para pengurus bangkit dan tetap semangat untuk ibadah kepada Allah. Kami juga mangajak taqorrub dengan membaca istighfar kepada Allah agar segala permasalahan kita diberikan jalan keluarnya," kata Ketua MWCNU Jabon, Ahmad Kuzaemi, Sabtu (25/6).

Kuzaemi menuturkan, keutamaan shalat tasbih sendiri sangat banyak manfaatnya. Salah satunya, barangsiapa yang mau melakukan dengan istiqomah akan diberikan jalan keluar dan akan diberikan kemudahan di dunia. Sedangkan keutamaan dari shalat hajat dan tahajud akan mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski bukan bulan Ramadhan, sambung Kuzaemi, warga Nahdliyin di wilayahnya sudah terbiasa menunaikan ibadah shalat tersebut. Tak hanya itu saja, warga Nahdliyin pada setiap malam satu, tiga, lima dan tujuh juga mengadakan Khotmil Quran yang diadakan di masjid-masjid.

"Lailatul Ijtima ini sudah menjadi amaliyah pendiri NU. Bahkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga pernah berpesan untuk menggerakkan Lailatul Ijtima. Hanya Nahdlatul Ulama yang mempunyai kegiatan batin yang bisa mencarikan jalan keluar di berbagai problem lewat Lailatul Ijtima.? Kami juga memberikan dorongan dan motivasi kepada jajaran ranting untuk bangkit di dalam Lailatul Ijtima," tegasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah