Minggu, 31 Desember 2017

PCNU Banyuwangi Kirim Langsung Donasi dan Bantuan ke Pacitan

Banyuwangi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyuwangi mengagendakan lawatan ke Pacitan, Selasa (05/12) siang. Rombongan akan bertolak dari Banyuwangi dengan menggunakan jalur darat dengan beberapa armada mobil yang disiapkan panitia.

Agenda selama di Pacitan adalah mengantarkan bantuan pakaian layak dan obat-obatan secara langsung. Mereka juga meninjau langsung perkembangan evakuasi dan bantuan.

PCNU Banyuwangi Kirim Langsung Donasi dan Bantuan ke Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Banyuwangi Kirim Langsung Donasi dan Bantuan ke Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Banyuwangi Kirim Langsung Donasi dan Bantuan ke Pacitan

Koordinator pengumpulan bantuan Fandi Ahmad Joko KN menegaskan, pakaian dan obat-obatan akan diantarkan secara langsung. Dana bantuan disalurkan melalui rekening Ketua PCNU Kabupaten Pacitan.

"Bantuan dana yang berhasil kita kumpulkan sejauh ini Rp 35 juta. Bantuan berupa pakaian layak serta obat-obatan akan kami antarkan secara langsung siang ini dengan menggunakan beberapa mobil pick up," tutur Wawan, sapaan Fandi Ahmad Joko KN.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menjelaskan, subsidi keseluruhan bantuan ini dikumpulkan dari beberapa MWC beserta badan otonomnya se-Kabupaten Banyuwangi dengan sebaran instruksi secara langsung dari PCNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Nantinya tim yang akan ke sana juga melalui instruksi pengurus cabang secara langsung, yang kita delegasikan melalui pengurus dan banom di tingkat cabang," tutur wawan.

Ia berharap semoga dengan bantuan yang tak seberapa nilainya ini dapat meringankan beban kesusahan yang dihadapi.

"Semoga musibah dan kesedihan ini segera berakhir. Juga semoga ke depan tidak ada bencana yang menimpa beberapa kabupaten wilayah Provinsi Jatim, pun umumnya bangsa dan Negara Indonesia," harap Wawan.

Tim yang didelegasikan adalah Haikal Kafili dan Syukron dari PCNU Banyuwangi, Mashud mewakili GP Ansor Banyuwangi, Masfuk dari LAZISNU Banyuwangi, dan Corps Brigade Pembangunan Banyuwangi yang diwakili oleh Rido Tantowi. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible untuk Makanan Sehat

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Forum Silaturahim Mahasiswa Pascasarjana NU UGM kembali mengadakan diskusi bulanan kelima Kamis (16/11).

Diskusi ini mengangkat tema Pemanfaatan Jamur-jamur Edible sebagai Alternatif Makanan Sehat bagi Masyarakat bertempat di laboratorium Integrated of Plant Disease Science Fakultas Pertanian UGM. 

Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible untuk Makanan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible untuk Makanan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Pascasarjana NU UGM Manfaatkan Jamur Edible untuk Makanan Sehat

Bahru Rohmah, pembicara dalam acara tersebut mengatakan jamur edibel adalah jamur yang dapat dikonsumsi, sebagai salah satu alternatif sumber makanan sehat bagi masyarakat. 

Beberapa jenis jamur edible yang dapat dikonsumsi, seperti jamur tiram, jamur merang, jamur kancing, dan beberapa jamur konsumsi lainnya.

Terdapat 35 jenis jamur edibel, namun yang sudah dibudidayakan sebanyak 20 jenis. 

“Dari berbagai jenis jamur tersebut, jamur tiram memiliki presentase budidaya terbesar, yaitu sebesar 25 persen. Hal dini didukung karena meningkatnya pengetahuan masyarakat akan konsumsi jamur serta kebradaan jamur yang mudah didapatkan,” kata mahasiswa pascasarjana pada program studi Fitopatologi Fakultas Pertanian UGM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain menjelaskan jamur edibel, Bahru juga menjelaskan mengenai jamur yang beracun dan jamur yang dapat dijadikan sebagai obat. 

“Jamur genoderma lucidum, adalah salah satu jamur yang banyak digunakan sebagai obat pada beberapa penyakit,” jelas Bahru.  

Forum diskusi ini merupakan wadah bagi mahasiswa pascasarjana, baik S2 maupun S3 UGM untuk sharing tentang keilmua mereka. Forum juga membahas lintas disiplin ilmu. 

Kekuatan forum ini adalah karena masing-masing peserta diskusi datang dari latar belakang keilmuan yang bebeda, baik dari rumpun keilmuan sosial-humaniora, maupun dari rumpun keilmuan eksakta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu kekuatan forum ini adalah mengintegarsikan masing-masing bidang keilmuan untuk memperkuat dan membahas suatu masalah agar lebih komprehensif. (Irsyadul Ibad/Kendi Setiawan)

  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pada Ramadhan 1437 H ini PCNU Kabupaten Pringsewu berhasil menggelar Safari Ramadhan di 22 lokasi di 9 Kecamatan yang ada di Bumi Secancanan Bersenyum Manis ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu H. Taufiqurrahim dalam Acara Penutupan Rangkaian Safari Ramadhan yang dipusatkan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (4/7).

Taufiq menjelaskan bahwa Safari Ramadhan pada tahun ini difokuskan untuk penguatan organisasi dan amaliyyah Ahlussunnah wal Jamaah bagi para pengurus NU di tingkatan MWC Kecamatan dan Ranting Pekon . "Kegiatan ini terdiri dari dua Gelombang. Gelombang pertama untuk jajaran pengurus Tanfidziyyah dan Gelombang kedua untuk Syuriyah," katanya.

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Khusus pada gelombang Kedua yang dilaksanakan mulai pertengahan Ramadhan, Materi safari Ramadhan diisi juga dengan Sosialisasi Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu. "Dalam sosialisasi tersebut juga dilakukan tanya jawab seputar Fiqh Zakat yang dipandu oleh Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung," ujarnya.

Selain Safari di 9 MWC NU Kecamatan, PCNU juga mengadakan Jihad Sore atau Ngaji Ahad Sore yang merupakan rangkaian dari Safari Ramadhan di Gedung NU sebanyak 4 kali. "Jihad sore ini merupakan Kegiatan Rutin yang biasanya dilakukan pada pagi hari. Khusus pada Ramadhan kita laksanakan pada sore hari yang dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama dan Shalat Maghrib Berjamaah," tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Taufiq berharap Kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman dan kesemangatan para pengurus dilevel MWC dan Ranting untuk terus berkhidmah di Jamiyyah Nahdlatul Ulama. " Kita juga berharap Kegiatan Safari Ramadhan pada tahun mendatang akan lebih berkualitas sehingga berpengaruh signifikan terhadap perkembangan organisasi," harapnya.

Hadir pada acara penutupan tersebut Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali Segenap Pengurus PCNU, MWC NU, Badan Otonom dan Lembaga se Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Al-Barzanji dan Burdah kerap dibacakan di berbagai momentum. Mulai rutinan malam Jumat atau saat-saat tertentu seperti halnya prosesi cukuran bayi yang baru lahir. Namun kini tradisi membaca Al-Barzanji dan Burdah ini mulai kurang populer di kalangan masyarakat luas. Khususnya masyarakat perkotaan.

Untuk memperkuat keberadaan tradisi pembacaan Al-Barzanji dan Burdah, generasi muda Nahdlatul Ulama yang dimotori PC GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya dan Lesbumi NU Kabupaten Tasikmalaya menggelar Lomba Al-Barzanji dan Burdah.?

Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah

Lomba tersebut digelar dalam rangka Harlah NU ke 94 dan rangkaian pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Tasikmalaya masa khidmah 2017-2022.

"Pada lomba kali ini pembacaan Al-Barzanji dan Burdah ini kita kemas dalam bentuk yang lain. Kita kombinasikan dengan seni musik tradisional yang bernada islami. Ada yang dengan marawis, tagoni maupun hadrah," kata Ketua Lesbumi NU Kabupaten Tasikmalaya, Imam Mudofar, Ahad (23/4).

Al-Barzanji dan Burdah sendiri, lanjut Imam, berisi tarikh atau sejarah Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya lengkap dengan syair-syair yang berisi pujian atau sanjungan pada Sang Nabi akhir zaman.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski demikian, kata Imam, tak sedikit masyarakat yang awam tentang hal tersebut. Ironisnya, tak sedikit pula masyarakat yang menganggap tradisi tersebut sebagai sesuatu yang kolot dan bahkan tak sedikit yang beranggapan pembacaan Al-Barzanji dan Burdah ini sebagai sesuatu yang dianggap menyesatkan.

"Intinya kita ingin tetap melestarikan tradisi pembacaan Al-Barzanji dan Burdah ini di tengah-tengah masyarakat," ujar Imam. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Habib, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 30 Desember 2017

Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Para ulama di Jepara, Jawa Tengah, menolak proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Jepara, karena dinilai lebih banyak madhorotnya dibanding manfaatnya. Keputusan ini sekaligus menjadi rekomendasi bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta.

Keputusan didasarkan hasil kajian Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) Nahdlatul Jepara selama dua hari, 1-2 September 2007, yang diikuti oleh sejumlah kiai dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara.

Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara

“PLTN tidak hanya menyangkut masalah energi, tapi juga lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi. Untuk meneropong masalah tersebut, batasnya adalah manfaat dan bahaya bagi kepentingan umat,” kata Sekretaris Tim Perumus Bahtsul Masail KH Ahmad Roziqin di Kantor PCNU Jepara, Ahad (2/9).

“Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan PLTN Muria haram hukumnya. Energi yang dihasilkan hanya 2-4 persen, sementara limbah radioaktifnya sangat berbahaya,” kata Kiai Ahmad yang didampingi Ketua Tim Perumus KH Kholilurahman.

Para ulama NU Jepara berharap pemerintah membatalkan rencana pembangunan PLTN Muria. Meski masi berupa rencana, PLTN nyata-nyata menimbulkan keresahan umat .

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keputusan penolakan pembangunan PLTN berlaku pada tingkat lokal, yakni PLTN Muria. “Keputusan ini akan kami rekomendasikan ke PWNU dan PBNU sebagai bahan kajian lagi,” kata Kiai Ahmad dan Kiai Kholilurahman.

Ketua PBNU Ahmad Bagja di Jakarta mengatakan, PBNU akan membahas lagi persoalan PLTN Muria. "Keputusan PCNU Jepara itu kami nilai sebagai masukan atau rekomendasi,” ungkapnya.

Dalam pembahasan nanti, kata Ahmad, PBNU sepertinya tidak akan terlalu jauh sampai ke penentuan fatwa halal atau haram bagi PLTN Muria. “Kami akan kaji manfaat dan mudaratnya dari aspek agama dan ilmiah,” katanya.(ant/gpa/sam)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Guna mencetak pewarta muda yang profesional, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Bela Negara UPN "Veteran" Jatim menggelar pelatihan Jurnalistik. Setelah mengikuti pelatihan diharapkan peserta mengetahui dasar-dasar jurnalistik dan teknik menulis berita.

PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik

Ketua PMII Komisariat UPN, Shiddiqurahman mengatakan, derasnya era globalisasi membawa konsekuensi logis dengan semakin menjamurnya media online, cetak, dan televisi. Untuk itu, PMII setidaknya dapat melahirkan kader yang memiliki keterampilan menulis.

“Ini kebutuhan zaman, apalagi sebagai seorang mahasiswa keterampilan menulis adalah sebuah keharusan. Kami ingin semua kader bisa menulis, baik dalam bentuk berita, artikel, maupun puisi,” terangnya saat ditemui usai acara di Bascamp PMII UPN, Rabu (25/11) 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, dia menjelaskan, saat ini pihaknya telah membuat media yang cukup representatif sebagai sarana belajar menulis yakni website. Media tersebut juga menjadi corong informasi bagi internal kader maupun dunia luar yang ingin mengetahui aktivitas PMII UPN. “Website akan diisi oleh para kader. Ke depan kita upayakan membuat media cetak seperti buletin,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Jurnalis Kominfo Jatim, Lukman Hakim yang diundang sebagai narasumber menuturkan, untuk melatih kemampuan menulis, maka membaca dan diskusi sudah harus menjadi kebiasaan. Artinya, antara membaca, diskusi dan menulis merupakan aktivitas yang saling berkaitan dan menunjang satu sama lain.

“Input informasi itu diperoleh dari membaca, baik membaca Koran, realitas maupun fenomena. Sementara diskusi itu semakin mematangkan hasil bacaan. Setelah matang dicurahkan dalam bentuk tulisan,” terang Lukman yang juga Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Diungkapkannya, kemampuan menulis bukan ditentukan oleh bakat, namun lebih banyak dipengaruhi oleh konsistensi latihan. Maka tidak ada alasan bagi siapapun yang ingin belajar menulis karena pada hakikatnya semua orang dapat menulis dengan baik. 

Acara yang diikuti sebanyak 30 kader ini terdiri dari mahasiswa semester 1 dan 3. Rencananya pelatihan jurnalistik akan menjadi kegiatan rutin tiap minggunya. (Yusuf Efendi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Sleman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Sebanyak 30 peserta pendidikan Pesantren Agraria mempelajari berbagai macam pengetahuan terkait masalah agraria mulai analisa persoalan, peta konflik, dan metode riset sejak di Kantor NU Sleman, Kamis (12/5) malam hingga Ahad (15/5). Di hari terakhir mereka bergerak ke salah satu daerah potensi konflik agraria. Di sini mereka bertemu langsung dengan warga dan menghadapi masalah agraria yang berkembang di masyarakat setempat.

Menurut Penggerak Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Muhammad Al-Fayyadl, pendidikan Pesantren Agraria ini memberikan penekanan khusus pada masalah agraria. Pesantren Agraria ini berbeda dengan pesantren-pesantren pada umumnya.

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbekal Metode Riset, Puluhan Santri Pesantren Agraria Terjun di Area Konflik

Dalam pesantren ini, peserta tidak akan mempelajari kitab kuning seperti lazimnya pesantren yang ada. Mereka diajak memahami persoalan alam yang kini tengah menjadi masalah mendesak di masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita tidak akan belajar kitab kuning, kita akan belajar alam. Kawan-kawan diperkenalkan persoalan alam kemasyarakatan yang hari-hari ini menjadi masalah yang krusial,” kata Muhammad Al-Fayyadl.

Sementara Ketua Nahdlatul Ulama (NU) H Imam Aziz lebih memotivasi peserta pendidikan Pesantren Agraria.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita menjadi sorotan karena orang bertanya, ketika terjadi konflik agraria, NU di mana? Kita harus rela dituntut seperti itu. Kita harus mau mendalami kerumitan-kerumitan itu. Kita harus mengikhlaskan diri untuk mendampingi hal-hal rumit di Indonesia,” kata H Imam Aziz di hadapan peserta yang umumnya berusia muda.

Pesantren Agraria adalah sebuah pendidikan singkat untuk mengantarkan para pesertanya masuk ke dalam isu agraria hingga gerakan pendampingan. Pendidikan yang berlangsung selama empat hari ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sleman dan FNKSDA Yogyakarta. (Ubaidillah Fatawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 Desember 2017

Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setelah tidur dalam kevakuman lebih kurang 10 tahun, kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah kini kembali bangkit. Tidak tanggung-tanggung, Ketua PAC Ansor Dukuhturi Rozi Nursama bertekad mengembangkan sarung Ansor untuk mendongkrak perekonomian.

Demikian dijelaskan Rozi kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai dilantik masa khidmah 2016-2018 di gedung MWCNU Dukuhturi Jalan Desa Kepandean Dukuhturi, Tegal, Ahad (15/1/17).

Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung

Menurut Rozi, pemuda Ansor di daerahnya banyak yang menjadi pengusaha dan pekerja sarung. Potensi lokal ini akan dikembangkan melalui koperasi Ansor yang juga akan bergerak di bidang barang dan jasa.

“Sarung produk putra-putra Ansor sudah banyak beredar meskipun tidak membawa nama Ansor yakni sarung Goyor dan Toldem. Insyaallah, kami telah mendesain dan dalam waktu dekat akan menyebarluaskan sarung Ansor produk kami,” tekadnya.

Untuk mempersiapkan SDM, lanjutnya, Ansor akan intensif melakukan pelatihan pengusaha mandiri.

Selain program ekonomi kreatif, sambung Rozi, dirinya akan melakukan pengkaderan dengan merekrut alumni IPNU untuk berkhidmah ke Ansor. Pengkaderan akan terus dilakukan lewat PKD maupun Diklatsar. Dari 18 desa di Kecamatan Dukuhturi sudah berdiri 17 Pimpinan Ranting.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tinggal Desa Dukuhturi yang belum berdiri. Dalam waktu dekat Insyaallah akan berdiri lagi,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Dukuhturi Tegal dilakukan Wakil Ketua PW Ansor Jateng Syarifudin di hadapan ribuan pengunjung dan para ulama dan Kapolsek Dukuhturi Yuliantoro. Mereka yang dilantik, antara lain Ketua Rozi Nursama, Sekretaris M Syaeful Mansur dan Bendahara Jaohar Hanafi.?

Kepengurusan PAC Ansor Dukuhturi terbentuk atas hasil Konferancab Ansor Dukuhturi pada 15 September 2016 silam.?

Pelantikan juga diisi dengan pengajian umum Habib Abubakar bin Hud bin Yahya dari Babakan, Cirebon, Jawa Barat. Dalam ceramahnya antara lain menekankan tentang pentingnya mencintai Nabi, ulama dan mengikuti kiai NU.?

Tidak kalah pentingnya, sebagai orang NU harus selalu menanamkan diri pembelaan terhadap NKRI sebagai perwujudan keimanan kepada Allah SWT. “Cinta tanah air itu, sebagian dari iman. Maka Ansor harus menjadi garda terdepan menjaga kiai, menjaga NKRI,” ajaknya.

Acara dimeriahkan juga oleh grup sholawat Babul Mustofa dari Pekalongan. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Bahtsul Masail, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Masdar Farid Masudi mengimbau kepada seluruh peserta Aksi Super Damai 2 Desember di Monas, Jakarta, Jumat (2/12) ini untuk tidak memprovokasi atau terprovokasi terkait hal-hal yang dapat merusak kekhidmatan aksi. Pihak berwajib juga diharapkan cermat dalam mengantisipasi situasi.

Menurutnya, komitmen untuk menyelenggarakan aksi ini tanpa kerusuhan harus betul-betul dijaga. Apabila terdapat sinyal provokasi dari oknum-oknum tak bertanggung jawab, aparat keamanan harus melakukan langkah-langkah pencegahan dini.

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga

"Kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka luar biasa, bukan hanya bagi korban provokasi tapi juga citra Islam," ujarnya saat diwawancarai ? salah satu stasiun televisi swasta, Jumat, atas nama Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.

Rais Syuriyah PBNU ini juga menegaskan, baik aparat keamanan maupun peserta aksi sama-sama menginginkan aksi berlangsung lancar dan damai. Karena itu, masing-masing mesti bertanggung jawab agar setiap tindakan tetap berjalan di jalur hukum.

Hingga berita ini ditulis, ratusan ribu peserta aksi telah memadati kawasan Monas, Bundaran BI, juga Masjid Istiqlal. Mereka bersiap melaksanakan shalat Jumat. Sesuai dengan komitmen para koordinator lapangan, aksi kali ini bukanlah demonstrasi melainkan doa bersama, istighotsah, dan mendengarkan taushiyah. (Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Kajian Sunnah, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Produktif Menulis, Lahirkan 4 "Buku Berat"

Di dunia tulis-menulis, nama Muhammad Al-Fayyadl (27 tahun) sudah cukup dikenal. Sejumlah buku terlahir dari pria yang kini menempuh pendidikan di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan itu.

Dilahirkan di lingkungan pondok pesantren, 27 tahun silam, gaya hidup seorang santri memang sangat melekat dengan sosok Muhammad Al-Fayyadl. Setidaknya, itu terlihat ketika Kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah Probolinggo menemuinya pada Ahad (4/8) di rumahnya.

Pria yang baru pulang dari Prancis, pada Ahad (28/7) dini hari itu, mengenakan sarung dan berkopiah, layaknya santri lainnya. Menekuni filsafat barat dan belajar di negeri Napoleon ternyata tidak membuat gaya hidup Al Fayyadl jadi kebarat-baratan. Identitas santri tetap melekat pada pria kelahiran Oktober 1985 itu.

Produktif Menulis, Lahirkan 4 Buku Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Produktif Menulis, Lahirkan 4 Buku Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Produktif Menulis, Lahirkan 4 "Buku Berat"

Ya, masa kecilnya memang banyak dihabiskan di lingkungan pesantren. Mulai Pesantren Nurul Jadid, di Kecamatan Paiton, Pesantren Nurul Qur’an di Kecamatan Kraksaan  sampai Pesantren Annuqayah, di Kabupaten Sumenep, Madura.

Fayyadl dilahirkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Pendidikan dasar ia kenyam di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Mun’im, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Selama di Paiton, ia rutin mengikuti pengajian bersama santri lain pada kakeknya, alm KH. Hasan Abdul Wafi, dan pengasuh Pesantren Nurul Jadid saat itu alm KH. Abdul Wahid Zaini. “Kalau Ramadhan, saya pasti ikut pengajian,” katanya.

Selain menimba ilmu di Pesantren Nurul Jadid, Fayyadl juga pernah nyantri di Pesantren Nurul Qur’an, di Kecamatan Kraksaan namun tak sampai setahun. Di pesantren tersebut, penulis buku Derrida ini, sempat menghafal beberapa surat dalam Al Qur’an.

Lulus MI, ia mondok di Pesantren Annuqayah, di Kabupaten Sumenep. Di pesantren tersebut dia menempuh pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Di sini, dia mulai menaruh minat pada bidang Tasawuf dan sastra Indonesia melalui buku-buku yang dibacanya dari perpustakaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat masih duduk di bangku kelas 2 MTs, dia sudah mulai membaca buku Ibnu Sina dan nama-nama lain dalam dunia tasawuf. Ia juga mulai membaca karya-karya Imam Ghazali yang selain sufi, juga seorang filsuf.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di bidang sastra, Fayyadl mulai membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Antara lain “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” (dua buku pertama dari empat buku tetralogi Paramoedya, Red). “Buku Jejak Langkah dan Rumah Kaca, waktu itu saya belum dapat,” kata putra sulung dari H. Malthuf Siraj dan Hj. Hamidah Wafie tersebut.

Buku-buku tersebut, dia dapat dengan cara meminjam pada Makmun, seorang familinya di pesantren. Dari perpustakaan Makmun, Fayyadl juga banyak membaca buku-buku sosial dan filsafat. Hingga akhir Tsanawiyah, dia mulai aktif menulis di buletin pesantren. “Saya suka menulis dengan bentuk esai karena lebih bebas berekspresi,” katanya.

Memasuki tahun 2000, bersama seorang temannya Faisol, Fayyadl menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul “Pertemuan Sufi”. Yang spesial baginya, penyair kenamaan dan pemilik Diva Pers Edi AH. Iyubenu bersedia menulis epilog dalam buku perdananya tersebut.

“Buku itu dibedah di pondok. Dan itu pengalaman pertama saya berbicara di depan orang banyak,” kenang penulis buku Teologi Negatif Ibn Arabi, terbitan LKiS tersebut.

Fayyadl mulai memberanikan diri menulis di media massa, setelah bertemu dan banyak berdiskusi dengan Abdul A’la (kini Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, Red) yang juga pamannya. “Dia (Abdul A’la, Red) banyak menulis di jurnal Taswirul Afkar, Jawa Pos, Kompas, serta media lain,” kata Fayyadl.

Itulah yang melecutkan semangatnya untuk melakukan hal serupa. Hingga akhirnya, tulisannya dimuat di majalah Aula (terbitan PW NU Jawa Timur). Fayyadl ingat betul topik yang ia bahas di tulisan perdananya di media massa tersebut: fiqh.

Saat kelas 3 MA, Radar Madura (Jawa Pos Group) menyediakan halaman opini. Beberapa tulisan Fayyadl, termuat di koran tersebut. Tanpa ia sadari, kebiasaannya menulis di koran lokal tersebut telah memudahkannya menulis di Koran Jawa Pos. Dan, itu terjadi saat ia mulai kuliah di Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta pada Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat.

Lulus dari Jogjakarta, Fayyadl lantas melanjutkan studi di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan pada 2012 lalu. Hingga kini, terhitung telah ada empat buku yang lahir dari tangannya.

Selain kumpulan puisi Pertemuan Sufi, ia juga menerbitkan buku Tawashin: Kitab Kematian (diterbitkan saat kuliah di semester II) yang merupakan terjemahan dari tulisan Al-Hallaj, seorang tokoh sufi yang tewas dibunuh. Kemudian ada buku filsafat berjudul Derrida (2005) dan yang terakhir Teologi Negatif Ibn Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012).

Selain buku pertama, buku karya Fayyadl diterbitkan di Jogjakarta. Buku yang disebutkan terakhir, adalah pengembangan dari skripsinya di IAIN Sunan Kalijaga. Dan kini, sebuah buku baru tengah disiapkannya.

Saat mendapat galar sarjana strata 1 dari IAIN Sunan Kalijaga, ada empat alternatif karir pemikiran (begitu dia memberi istilah) yang akan dijalaninya. Yakni, menekuni filsafat barat, studi keislaman, ilmu-ilmu social, dan sastra.

Namun, pria yang pernah menjadi editor pada penerbitan LKiS Jogjakarta tersebut, memilih filsafat. “Saya rasa, pengetahuan saya di sini masih kurang,” kata penulis yang sempat berencana menempuh studi di Maroko dan Mesir saat lulus Aliyah tersebut.

Ia berobsesi memberikan kontribusi pada wacana filsafat di Indonesia yang menurutnya belum begitu mengakar. Padahal, hal itu sangat penting. Tanpa itu, katanya, tak mungkin founding fathres Indonesia Soekarno merangkai republik ini pada 1945 silam. Baginya, presiden pertama tersebut, terpengaruh pada wacana kebebasan yang berkembang dalam revolusi Prancis saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  (Syamsul Akbar: Red/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengasuh majelis Rijalul Ansor Solo Habib Muhammad Al-Habsyi mengimbau umat Islam untuk tetap menaruh rasa hormat kepada para kiai yang berbeda wadah partai dengan mereka. Karena, sebagai warga negara para kiai memiliki hak berpolitik di partai mana pun.

“Orang tidak lagi hormat dan patuh pada ulama. Apabila ada ulama di partai A, maka sebagian umat yang di partai B tidak menyukai ulama tersebut,” terang Habib Muhammad yang merupakan cucu penulis kitab Simthud Durar Habib Ali Al-Habsyi menyayangkan sikap umat Islam demikian, Rabu (5/3).

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Menurutnya, keterlibatan para kiai di ranah politik praktis menjadi berkah tersendiri. Sekurangnya mereka dapat memperbaiki kondisi politik, yaitu mengisi pemerintahan dengan jiwa keulamaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia berharap, para ulama yang terjun dalam lingkar kekuasaan dapat meniru jejak para khalifah yang sukses menggabungkan kesalehan dan kekuasaan kendati tidak menutup fakta bahwa sebagian kiai belum berhasil mengharmoniskan keduanya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba, Kyai, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Muktamar ke-33 NU yang bakal digelar di Jombang, 1-5 Agustus 2015, masih dibayangi adanya pemadaman listrik. Pasalnya, hampir setiap pekan listrik di kota santri ini sering mati tanpa ada pemberitahuan pasti.

Manajer Area PLN Jombang Lusiana membenarkan masih adanya gangguan sehingga listrik padam. Terkait kesiapannya menyambut perhelatan nasional Muktamar NU di Jombang mendatang, pihaknya mengaku belum bisa memastikan.

Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik

"Soal itu (listrik padam) kami belum bisa menjamin, namun yang jelas kita berusaha agar saat digelarnya acara besar itu listrik tidak mati," ujarnya saat dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (8/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lusi mengakui bahwa beberapa wilayah di Jombang sempat mengalami gangguan mati listrik karena terdapat gangguan kabel putus akibat hujan dan kerusakan peralatan. "Beberapa waktu lalu memang PLN mengalami gangguan, jaringan putus karena adanya pohon tumbang disebabkan adanya angin dan hujan. Ya, memang ada beberapa banyak faktor penyebab mati listrik ini, " jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lusi menyarankan, pihak panitia yang menyelenggarakan acara besar? seperti Muktamar menyediakan genset? untuk berjaga jaga di samping pihaknya akan berusaha agar listrik tidak padam. "Ya memang alangkah lebih baiknya sedia genset, biasanya kita juga berkoordinasi dan menyarankan seperti itu di samping kita usahakan agar tidak listrik,” tandasnya.

Kerapnya gangguan listrik padam yang terjadi dihampir seluruh wilayah Kota Santri pada dua bulan terakhir banyak dikeluhkan masyarakat. "Kemarin mati menjelang magrib, listrik mati hampir 4 jam lebih di desa saya, pemadaman tidak pernah ada pemberitahuan, " ujar Amir, salah satu warga Desa Sawiji Jogoroto.

Tidak hanya Jogoroto, di wilayah Peterongan dan Kepatihan Jombang kota, Tembelang dan Sumobito juga mengalami hal yang sama, yakni listrik sering mengalami gangguan dan padam berjam-jam. "Catatan saya, hampir setiap pekan pasti ada listrik mati. Selama Januari hingga minggu pertama Februari saja mati listrik 8 kali. Hari ini saja mati sejak pukul 5.30 hingga pukul 10.00 lebih mati," ujar Muslim, warga Tembelang.

Seperti diketahui, Muktamar ke-33 NU akan digelar di empat pesantren besar di Jombang, yakni Pesantren Tebuireng Diwek, Pesantren Darul Ulum Peterongan, Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, dan Pesantren Mambaul Maarif Denanyar. Pusat kegiatan, seperti pembukaan dan sidang-sidang pleno, forum musyawarah tertinggi NU ini bertempat di Alun-alun Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek

Purbalingga, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Anak-anak muda yang berjoged ria mengikuti dendang rebana, seolah melupakan sejenak kepenatan kehidupan. Tembang shalawat mengalun merdu diiringi rampak rebana.



Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek

Sontak ribuan jamaah ikut menyanyikan senandung merdu lagu shalawat yang dibawakan, menjadi koor yang indah membawa suasana penuh kecintaan dan puncak kehasyahduan ruhani kepada sang Pencipta kehidupan.

Tampak Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU  menjaga tempat acara dari sekitar 2 kilo sebelum acara digelar sampai lapangan Karanggambas demi tertibnya acara. Para penonton menitipkan kendaraan baik roda dua maupun roda empat di pinggir jalan sepanjang menuju tempat acara. Muda-mudi, baik tua maupun muda berjalan beriringan dengan memakai baju takwa dan mereka lalu menempati duduknya di atas tikar di dalam komplek lapangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Demikianlah panggung pengajian budaya bersama Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng yang digelar, malam itu, Sabtu (8/12) suasana pengajian yang digelar di lapangan Karanggambas, Kec Padamara Kab Purbalingga menjadi sarana bertemu berbagai kalangan masyarakat baik itu dari pejabat maupun kalangan masyarakat biasa. 

Acara dibuka ba’da shalat Isya dengan pembacaan Maulid Simthud Durar yang diiringi hadrah rebana Darul Falah dari Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara bersambung dengan pengajian budaya yang dipimpin langsung oleh Emha Ainun Nadjib. Dalam kesempatan itu budayawan, Emha Ainun Najib alias Cak Nun mengungkapkan, tidak ada orang atau kelompok orang yang melarang manusia untuk beribadah sesuai agamnya. Orang Islam juga tidak boleh menilai bahwa cara yang dilakukan oleh organisasi tertentu itu termasuk haram.

Cak Nun mengibaratkan Islam itu sebagai sepotong ketela. Dari ketela itu diolah oleh manuia menjadi berbagai macam penganan. Ada getuk, cimplung, ciwel, kripik dan sebagainya. Aneka makanan itu menjadi kiasan bagi cara manusia untuk mendalami agama.

Menurut Cak Nun, "NU, Muhammadiyah, LDII lan sedayanipun, niku sanes agama, namung dalan kangge ngaji sinau agama (NU, Muhammadiyah, LDII dan sebagainya, itu bukan agama, hanya jalan untuk ngaji belajar agama)."

“Jadi, yang berhak menyatakan haram itu Allah. Bila masing-masing menganggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, berarti mereka belum bisa membedakan apa itu ketela, apa itu getuk. Ia menegaskan, bahwa manusia tidak usah menggantikan perannya Alloh,” kata Cak Nun pada pengajian dalam rangka peringatan 1 Muhaaram di lapangan Desa Karanggambas Kecamatan Padamara, Purbalingga.

Diungkapkan Cak Nun, jika ada yang makan getuk itu marah-arah dengan yang makan kripik, itu berarti tidak baik. “Lah wong asale nggih sami, asale niku saking tela, nggih napa mboten? (Sebab asalnya juga sama. Jadi jangan bertengkar hanya karena perbedaan makan getuk dan kripik)," kata penyair kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu.

Tausiyah yang santun dan berwibawa itu diselingi dengan menampilkan sholawat Nabi Muhammad SAW. Dengan iringan musik gamelan yang dibawakan oleh Kyai Kanjeng, ribuan pengunjung pun ikut bersholawat. Sebut saja syair Sidnan Nabi, Sholli Wasalimda, Sholawat Badar, Lir Ilir dan Tolaal Badru . Tidak ketinggalan pula lagu modern dimainkan seperti Pak Tani (Koes Plus) dan Musik (Rhoma Irama).

Sementara KH Supono Mustajab yang mendapat kesempatan kedua mengingatkan tentang celakanya orang yang mempunyai ilmu, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Celakanya orang-orang yang mengamalkan ilmunya, kecuali orang-orang yang mengamalkannya dengan ikhlas.

Dilanjutkan oleh KH Supono, “Sungguh surga merindukan empat golongan yang jamin masuk surge; orang-orang yang membaca al Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang member makan dan orang yang puasa di bulan Ramadhan.”

Penceramah ketiga walau singkat, KH AKBP Imam Sutiyono mewakili Kapolres Purbalingga, menyampaikan pentingnya shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”Senandung shalawat yang dilantunkan sungguh mendamaikan hati dan membuat hati menjadi lembut. Apalagi senandung yang dilantunkan adalah shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Shalawat sesungguhnya dicontohkan langsung Allah SWT dan termasuk bagian dari dzikir sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imron:191.

Dalam kesempatan terakhir Wakil Bupati Purbalingga, H. Sukento Ridho M, MM, yang turut menemani jama’ah dari awal acara sampai akhir acara menyambut dengan rasa kegembiraan atas pengajian budaya yang digelar.”Ini menunjukan masyarakat Purbalingga berakhlaq mulia. Dengan digelarnya acara ini semoga masyarakat Purbalingga semakin makmur, jauh dari bencana dan keluarga menjadi mawadah, warohmah dan sakinah.”

Acara kemudian dipungkasi dengan mahalul Qiyam dan ditutup dengan doa oleh KH Supono Mustajab tepat pukul 12.00 malam. 

Kontributor: Aji Setiawan  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Warta, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 28 Desember 2017

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah

Dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan mengharukan, Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq singgah di Quba, kota kecil berjarak kira-kira tujuh kilometer dari kota Madinah. Di kota kecil yang banyak ditumbuhi pohon kurma yang menghijau itu, Nabi tinggal selama empat hari, menurut riwayat lain disebutkan empat belas hari. Di sana, Nabi berjumpa dengan para sahabatnya yang sangat setia seperti Umar ibn Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang lain.  

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah

Selama tinggal di Quba, beliau dengan para sahabatnya yang terdiri dari para muhajir (orang-orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan penduduk Quba membangun suatu masjid yang disebut dengan Masjid Quba. Itulah masjid yang pertama kali dibangun Nabi dan para sahabatnya, yang ditegakkan atas dasar takwa kepada Allah. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu (dhirar) selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. di dalam masjid itu terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. Al-Taubah, 9:108).

Nabi shallallahu alaihi wasallam  sampai di Quba pada hari Senin, setelah tinggal selama empat atau empat belas hari, dan telah selesai membangun masjid yang pertama kali didirikan itu, beliau dan para sahabatnya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke kota Madinah yang selama ini menjadi tumpuan harapan. Pada hari Jumat pagi sekali, Nabi dan para sahabatnya berangkat menuju Yatsrib atau Madinah. Menjelang memasuki kota Madinah pada kilometer empat, beliau sampai di suatu lembah bernama Wadi Ranuna milik keluarga Bani Salim ibn Auf, di tempat itu Nabi dan rombongan melakukan shalat Jumat (M. Muhyiddin, Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahmah, hal. 61). Itulah shalat Jumat pertama yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Sampai sekarang jamaah haji selalu menyempatkan diri berkunjung ke masjid tersebut, dinamai Masjid Jumat karena ia dipakai shalat Jumat untuk yang pertama kalinya.





(Baca juga: Detik-detik Menegangkan Nabi dan Abu Bakar di Gua Tsur)

Dalam khutbahnya yang pertama itu Nabi mewasiatkan beberapa pelajaran yang penting, di antaranya sebagai berikut: “Wahai manusia, hendaklah kamu berbuat kebajikan bagi dirimu sendiri, kamu akan mengetahui, demi Allah, sesungguhnya seseorang dari kamu dikejutkan dengan suara gemuruh, sehingga meninggalkan domba gembalaannya, maka domba itu tidak ada penggembalanya lagi. Allah berfirman padanya, padahal tidak ada penerjemah dan tidak ada penghalang yang menghalangi di sisi-Nya: “Tidakkah rasul-Ku telah datang kepadamu menyampaikan kebenaran?, Aku karuniakan kepadamu harta dan kenikmatan yang banyak maka apa yang dapat kamu kerjakan untuk dirimu?” Orang itu kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, semuanya lengang tidak melihat sesuatu. Kemudian melihat ke depannya, ia pun tidak melihat sesuatu kecuali Jahannam. Siapa yang ingin terlepas dari siksa Jahannam, meskipun hanya sekedar berbuat baik kepada orang lain dengan memberikan secuil buah kurma, hendaklah ia lakukan. Jika secuil buah kurma pun tidak dimilikinya maka hendaklah ia bertutur kata yang baik. Karena tutur kata yang baik adalah amal perbuatan yang terpuji....”. (M. Khudry Bek, Nur al-Yaqien, hal. 82).

Khutbah tersebut mengarahkan umat manusia agar selalu berbuat kebajikan terhadap sesamanya dan tidak mencampakkan dirinya dalam kehancuran dan kenistaan. Sebagai umat Islam, kita wajib memberikan bantuan terhadap mereka yang membutuhkannya. Bantuan itu bisa berupa harta, wisdom (kebijaksanaan), jasa, nasehat, fikiran, do’a, dan bertutur kata yang baik. Umat Islam diarahkan al-Qur’an agar senantiasa menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tidak diperkenankan mengabaikan salah satunya. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash, 28: 77).

Mengenai perseimbangan kehidupan, yang juga berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Ibn al-Asakir meriwayatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

”Bukanlah orang yang terbaik di antaramu, orang yang meninggalkan kehidupan dunia karena semata-mata mengejar kehidupan akhirat, atau meninggalkan akhirat karena semata-mata mencari kehidupan dunia, hingga ia memperoleh keduanya sekaligus. Karena kehidupan dunia adalah sarana untuk mencapai akhirat....”.

KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia selalu memerlukan orang lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab itulah manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Demikian padatnya kebutuhan manusia sehingga persinggungan diantara mereka tidak mungkin terelakkan. Bahkan di dunia yang semakin mengglobal ini, persinggungan itu telah menembus batas. Batas ruang, waktu, budaya, agama dan juga ideologi.

Persinggungan ini harus dikelola dengan baik, agar tidak berubah menjadi gesekan yang akan menghanguskan harmonisme kehidupan. Untuk menjaga ritem ini diperlukan sebuah konsep saling mengerti, yang dalam bahasa kita dikenal dengan teposeliro atau tenggangrasa. Yaitu sikap saling menghormati dan saling menghargai perasaan orang lain. Karena hanya dengan sikap inilah keselarasan hidup bersama orang lain akan tetap terseleggara. Apalagi jika mengingat keberadaan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan juga bahasa. Maka memiliki sikap tenggangrasa menjadi sebuah kewajiban bagi saiapapun yang hidup di Indonesia.

Bagi umat Islam sendiri perbedaan ini bukanlah sebuah masalah. Karena memang demikianlah Allah swt menciptakan kehidupan di dunia ini, sebagaimana firmannya dalam al-Hujarat ayat 13

Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  . Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…

Memang mengelola perbedaan bukanlah hal yang mudah, hanya muslim yang berkwalitas iman dan taqwanya yang dititipi oleh Allah swt kemampuan menjaga keseimbangan ini. Karena sejatinya perbedaan itu merupakan kasunyatan yang sengaja dihadirkan Allah swt sebagai cobaan bagi umat muslim. Sebagaimana diandaikan Allah sendiri dalam surat al-Maidah 48.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan  satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

 

Ayat di atas merupakan sebuah petunjuk bagi umat muslim, bahwasannya persamaan dan kesatuan hanyalah sekedar pengandaian adapaun kenyataannya sesungguhnya adalah perbedaan, dan sekaligus Allah swt menjadikan yang nyata itu sebagai ‘soal’ ujian bagi manusia. Karena Allah swt mengetahui bahwa manusia tidak akan mampu menjawab soal ujian yang bersifat pengandaian seperti di atas. Dengan kata lain manusia tidak akan mampu bertahan hidup jika Allah swt menciptakan manusia dalam satu macam saja.

Dalam rangka mempermudah manusia menemukan jawaban dari soal ujian tentang perbedaan ujian ini, Allah swt perintahkan Rasulullah saw turun ke bumi untuk mengajar umatnya. Sayangnya persinggungan Rasulullah saw dengan pemeluk agama lain (yahudi dan nasrani) tidak tergambar dengan komplit dalam hadits-haditsnya kecuali sangat sedikit sekali. Diantaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah;

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? r ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, dan bila kamu berjumpa dengan mereka di jalan maka desaklah mereka ke tempat yang lebih sempit.” (HR. Muslim)

Melalui hadits di atas Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara memperlakukan pemeluk agama lain ketika berpapasan di tengah jalan. Demikian pula seharusnya ajaran ini diqiyaskan secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya seorang muslim tetap menyediakan ‘ruang sosial’ untuk menghormati mereka, tetapi ruang itu harus lebih sempit adanya dibandingkan dengan ruang sosial yang kita sediakan sesama muslim. Hal ini sebagai bukti keteguhan hati dalam beragama Islam.

Ruang itupun harus jelas batasannya. Imam Nawawi dalam Tafsir Munir menjelaskan bahwa penghormatan itu hanya boleh dilakukan dalam batas urusan duniawi (sosial saja) tidak menyinggung soal aqidah. Itupun harus disertai dengan keyakinan bahwa hanya Islamlah agama yang paling haq, adapun yang lain adalah bathil. Jikalau penghormatan itu terlalu berlebihan hingga melahirkan rasa simpati kepada agama lain, maka hal itu dilarang. Karena dapat menyebabkan kekufuran.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Demikian pula pendapat Imam ar-Razi yang termaktub dalam tafsirnya Mafathul Ghaib. Meski demikian keterangan dalam Hasyiyah al-Bujairami alal Khatib memberikan pengecualian bahwa berhubungan dengan pemeluk agama lain sangat dianjurkan apabila dirasa mampu memberikan maslahah secara syar’i atau dapat menghindarkan diri dari bahaya

 ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ?

Pembahasan mengenai hubungan dengan agama lain menjadi sangat kontekstual ketika musim natal dan tahun baru tiba. Apalagi kalau tidak soal hukum mengucapkan natal dan tahun baru kepada pemeluk agama lain?

Beranjak dari keterangan teks di atas, memang tidak ada satupun kata yang menunjuk pada ucapan selamat natal ataupun tahun baru. Mungkin saja tradisi semacam itu tidak terdapat dalam kehidupan penulis pada zaman dan dilingkungannya. Akan tetapi teks tersebut bisa menjadi sumber simpulan melarang mengupkan selamat natal dan tahun baru kepada pemeluk agama lain, kecuali hanya sebagai basa-basi saja. Bukan diniatkan sebagai do’a apalagi sebagai rasa simpati dengan aqidahnya.

Demikialah tradisi saling berucap selamat ini dilakukan oleh umat bergama di Indonesia. Mereka saling mengucap selamat di hari raya dan tahun baru sebagai mujamalah dhahriyah (basa-basi saja) tanpa ada rasa dalam hati. Ini merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam konsep tenggangrasa. Yaitu saling menjaga perasaan antara satu dan lainnya yang diejawantahkan dalam bentuk basa-basi dan kesopanan. Ini sangatlah penting karena ‘yang lain’ itu pada dasarnya adalah bagian dari keluarga besar Indonseia juga. Tenggangrasa tidak pernah meganggap yang lain adalah benar-benar orang lain. Tenggangrasa melihat perbedaan sebagaimana adik-kakak yang berbeda pendirian, berbeda selera dan keinginan tetapi mereka adalah satu keluarga. Sesuai dengan firman Allah swt 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,

Hal ini sungguh berbeda dengan konsep toleransi yang memandang orang lain adalah benar-benar orang lain, bukan bagian dari keluarga. Sehingga harus dihormati dan diberi kesempatan selayaknya menghormati seorang tamu bukan saudara. Diantaranya dengan membiarkan (tolere) apapun yang mereka lakukan meskipun itu berbeda dengan kita. Terasa sekali adanya unsur ‘agak memaksa’ dalam memberikan penghormatan menurut konsep toleransi. Dalam toleransi tersirat adanya kepentingan dalam ‘menghormati’ orang lain, penghormatan yang tidak lahir dari tulusnya hati tapi karena seuatu hadirnya sesutau yang lain.

Sesungguhnya jika diangan lebih dalam berbagai masalah yang timbul seputar wacana hubungan antar pemeluk agama (mulai dari ucapan selamat natal, valentine day, tahun baru, dll) itu muncul berbarengan dengan munculnya konsep toleransi itu sendiri. Walhasil apakah kita masih ingin melanjutkan keterjebakan kita dalam goa toleransi yang selalu menghadirkan permasalahan? Atau menggeser diri keluar dari kegelapan goa toleransi dan kembali pada terang tenggangrasa? (Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Perilaku dan akhlak yang baik adalah anjuran nabi yang selalu ditekankan pada umatnya, bahkan berbuat baik pada orang yang telah melakukan hal buruk sekalipun. Hal ini jelas sudah dicontohkan oleh sang pemuda padang pasir, Muhammad SAW dengan selalu menimpali perbuatan buruk orang lain terhadapnya dengan kasih sayang.

Syahdan, suatu hari Nabi SAW hendak pergi ke masjid dan melewati jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju masjid. Di situ Nabi selalu mendapat hinaan, cacian, bahkan dilempar kotoran. 

Namun Nabi tidak pernah membalasnya walau hanya mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir terhadap orang yang melempar kotoran saat suatu hari dia tidak melakukan kebiasaan buruknya itu. Ternyata Nabi mendapat kabar bahwa dia sedang sakit. 

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Meski mendapat perlakuan negatif dan keji, Nabi tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dikerjainya tersebut mempunyai sifat baik dan tidak dendam sedikitpun. Perangai Nabi itulah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas hingga sekarang.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Barang siapa bangun pagi dengan maksud untuk tidak berbuat zhalim (Aniaya)kepada seseorang maka perbutan dosa yang dilakukan akan diampuni (oleh Allah). Dan barang siapa bangun dipagi hari berniat untuk menolong orang yang terzholimi, memenuhi kebutuhan orang muslim maka dia akan mndapatkan pahala seperti haji mabrur.” (Nashaihul Ibad, hal 21)

Berbuat baik (menolong orang yang terdzalimi)dalam arti di atas memiliki arti umum yakni “Madhlum” yang berarti orang yang teraniaya, artinya berbuat baik tidak pandang agama, golongan ataupun ras. Namun berbuat baik adalah anjuran yang harus melekat pada diri manusia. (Diana Manzila)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Amalan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku

Adik sepupu almarhum KH MA Sahal Mahfudh, Pengasuh Ponpes Putri Raudlah al Thahiriyah Kajen, Pati, Jawa Tengah, KH Ahmad Muadz Thohir, punya cerita tentang keistimewaan sang kakak. Menurutnya, Rais Am PBNU dan Ketua MUI yang wafat pada Januari 2014 lalu, itu seorang yang sangat hobi membaca. Kegiatan Mbah Sahal kalau tidak mengajar atau menemui tamu, ya membaca. Tak hanya membaca kitab klasik yang memang dikoleksinya, tetapi juga buku-buku terbaru terutama yang terkait pendidikan atau keagamaan.

Kiai Muadz pernah merasa "sakit hati" karena merasa sudah membaca buku terbaru, ternyata kalah duluan dengan kakaknya tersebut.

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku

Suatu hari ia punya acara di Jakarta. Saat hendak pulang, ia melihat buku baru di etalase Bandara Soekarno-Hatta. Dibelilah buku di kios Bandara tersebut. Tidak terlalu tebal, maka dia baca dengan target khatam dalam perjalanan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Di Bandara itu selalu ada buku baru yang dijual di kios. Saya beli buku tentang Pendidikan anak. Langsung saya baca di ruang tunggu. Saya lanjutkan kala duduk di dalam pesawat ke Semarang. Sampai mendarat di Semarang, buku itu rampung saya baca," ujar ketua PCNU Pati ini dalam rapat Majma Buhuts an-Nahdliyah di Solo, Selasa (17/11) malam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari buku itu dia merasa ada hal baru, dan ingin didiskusikannya dengan sang kakak. Selang sehari dari kepulangannya dari Jakarta, Kiai Muadz pun bertandang ke rumah Mbah Sahal. Ia tak bercerita kalau sudah beli dan baca buku tersebut, hanya bertanya dan meminta penjelasan saudara tuanya.

"Kak, menurut jenengan pendidikan anak itu dimulai sejak kapan,?" tanya dia.

Mbah Sahal tidak langsung menjawab melainkan menimpali tanya.

"Yang kamu inginkan konsep menurut ulama atau menurut ilmuwan modern?"

"Nggih kalih-kalih ipun (Ya dua-duanya)," sahut Kiai Muadz.

"Kalau menurut ulama, ada yang bilang pendidikan anak dimulai sejak sebelum nikah."

"Nggih to?"

"Ya iya. Kalau nikahnya menurut Islam, itu modal pendidikan yang baik untuk anak. Kalau tidak sesuai ajaran Islam, ya jadi investasi yang buruk," tutur Mbah Sahal.

Mbah Sahal melanjutkan; "Menurut ulama lain, pendidikan anak dimulai sejak sebelum jimak (berhubungan intim). Yakni jika jimaknya baik menurut tuntunan Kanjeng Nabi, ya Insyaallah hasilnya baik. Lantas ulama lain bilang dimulai dari sejak janin di kandungan ibu."

Kiai Muadz manggut-manggut tanda paham. Ia lalu menunjukkan gelagat ingin bertanya tentang pendidikan anak menurut ilmuwan moden. Mbah Sahal tahu gelagat itu, bukan meneruskan memberi penjelasan, melainkan masuk ke ruang tengah rumahnya, tempat perpustakaan pribadinya berada. Lalu sang kakak kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah buku.

"Kalau kamu ingin tahu bagaimana pendidikan anak menurut ilmuwan modern, ya baca buku ini," ucap Mbah Sahal sambil menaruh buku di meja agar dilihat sang adik.

Deg! Kiai Muadz terperanjat. Ternyata buku yang diberikan sang kakak itu persis buku yang kemarin ia baca selama perjalanan naik pesawat dari Jakarta. Rupanya sang kakak telah lebih dulu membacanya. “Padahal buku itu baru terbit 10 hari lalu. Bahkan sepertinya beliau sudah tahu kalau saya habis baca buku itu," tuturnya takjub.

Ketika ia buka, Kiai Muadz melihat bukti khas buku yang dibaca sang kakak. Mbah Sahal, menurutnya, selalu memberi catatan kecil dengan aksara Arab, di setiap buku atau kitab yang dibaca. Coretan yang ditulis di pinggir halaman buku/kitab tersebut merupakan tafsiran atau komentar Mbah Sahal.

Kiai Muadz pun pamit pulang sambil membaca buku permberian kakaknya tersebut. "Biarlah punya dua buku, yang ini istimewa karena ada coretan tulisan tangan Mbah Sahal," pungkasnya.

Ilâ hadlrati rûhi KH MA Sahal Mahfudh, al-Fâtihah. (Moch. Ichwan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan rukyatul hilal (observasi bulan sabit) untuk penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1433 H yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama di berbagai titik rukyat di Indonesia pada Senin (15/10) petang kemarin, bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah, dinyatakan tidak berhasil.

Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu

Dalam almanak NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah, posisi hilal memang masih belum memungkinkan untuk dilihat, karena ijtima’ atau konjungsi terjadi sebelum dzuhur dan pada saat dilakukan rukyat hilal masih berada di bawah ufuk barat.

Setelah rukyat dinyatakan tidak berhasil, maka penentuan awal bulan dalam penanggalan qamariyah atau hijriyah dilakukan dengan kaidah istikmal, atau penyempurnaan bulan sebelumnya (dalam hal ini Dzulqa’dah) menjadi tiga puluh hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Diikhbarkan bahwa observasi hilal (ru’yah) tidak berhasil melihat hilal. Maka awal Dzulhijjah 1433 H jatuh pada Rabu 17 Oktober 2012 atas dasar istikmal,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah per-SMS usai pelaksanaan rukyatul hilal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Senin malam KH Ghazalie langsung mengikuti Sidang Itsbat di kantor Kementerian Agama, Jakarta, bersama perwakilan ormas Islam lainnya. Sidang yang dipimpin oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menetapkan hari raya Idul Adha atau tanggal 10 Dzulhijjah 1433 jatuh pada tanggal 26 Oktober 2012.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejarah Catat Santri Wakafkan Hidupnya untuk Negara

OKU Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - PCNU OKU Selatan menggelar apel Hari Santri Nasional di Desa Gunung Raya Kecamatan Warkuk Ranau Selatan Kabupaten OKU Selatan, Sumsel, Sabtu (5/11). Apel ini diadakan untuk memperingati dan meneladani perjuangan para kiai dan santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tampak ribuan santri berbaur dengan masyarakat sekitar di lapangan apel. Sebelumnya mereka melakukan kirab dengan finish di lokasi apel.

Sejarah Catat Santri Wakafkan Hidupnya untuk Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Catat Santri Wakafkan Hidupnya untuk Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Catat Santri Wakafkan Hidupnya untuk Negara

Apel ini terselenggara atas kerja sama PCNU OKU Selatan dan Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten OKU Selatan. Bendera, baliho, dan baner bertema Hari Santri dan lambang Nahdlatul Ulamabertebaran di sekitar lokasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para santri beserta kiai dan ustadz-ustadznya dari pesantren se-Kabupaten OKU Selatan mengenakan seragam sebagai tanda semangat mereka. Resolusi Jihad pendiri NU Hadratus Syekh Hasyim Asyari dibacakan oleh Bupati OKU Selatan Popo Ali sebagai pembina upacara. Popo Ali yang mengenakan kain sarung khas santri ini menyatakan bahwa peringatan Hari Santri adalah peristiwa penting dan bersejarah bagi bangsa Indonesia.

"Sejarah mencatat bahwa para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut," terang Popo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Santri dengan caranya masing-masing bahu-membahu bersama seluruh elemen bangsa melawan penjajah, baik di daerah maupun di Surabaya dengan puncaknya adalah peristiwa perang 10 November yang akhirnya ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

"Semua itu tak lepas dari peran KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama bersama para kiai lainnnya dengan dicetuskannya Resolusi Jihad yang membakar semangat para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan," ungkapnya.

Hari Santri ditetapkan agar kita meneladani semangat juang keindonesiaan dan kebhinekaan para pendahulu bangsa.

Tampak di panggung kehormatan seluruh kiai pimpinan pesantren se-kabupaten, Kepala Kantor Kementerian Agama OKU Selatan, para pejabat daerah termasuk unsur kepolisian, dan tamu undangan lainnya yang mayoritas mengenakan kain sarung.

Setelah apel selesai, Ketua PCNU OKU Selatan Sholehien Abuasir melantik beberapa ranting yang di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Warkuk Ranau Selatan. Di Warkuk Ranau Selatan dibentuk dua MWCNU mengingat luasnya wilayah kecamatan ini. Padahal lazimnya setiap kecamatan satu MWCNU. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Desember 2017

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Khartoum, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Khartoum Sudan hasil Konfercab XII PCINU Sudan yang lalu telah resmi dilantik oleh salah satu Mustasyar PCINU Sudan Dr Syekh Muhammad Al Fatih Ali Hasanain di Wisma NU Sudan.

Para pengurus PCINU Sudan masa kidmat 2013-2014 yang dilantik Jum’at (3/5) kemarin merupakan hasil keputusan rapat tim formatur sebanyak tiga kali pertemuan. Dalam kepengurusan periode ini lebih didominasi oleh “generasi baru” yang dinilai mempunyai komitmen dan loyalitas terhadap PCINU Sudan.

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Hadir dalam pelantikan tersebut beberapa tokoh dari organisasi masyarakat dan mahasiswa dari berbagai negara, serta perwakilan dari KBRI Sudan. Diantaranya, Ketua dan Sekretaris PPMI Sudan, Ketua dan Sekretaris Ikatan Keluarga Aceh (KMA), Ketua dan Sekretaris Persatuan Mahasiswa Malaysia dan Thailand.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia, Budi Sutardi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya pelantikan. Sedangkan Rais Syuriah terpilih Auza’i Mahfudz Asirun dalam sambutannya menginstruksikan kepada para pengurus yang terpilih agar menjalankan tugas kepengurusan  dengan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam berkhidmah.

Selain itu, Syekh Fatih selaku mustasyar menyampaikan dalam tausiahnya: “Aksi secara berjama’ah itu lebih utama dari pada aksi secara individual sebagaimana sholat berjama’ah lebih utama 27 derajat dari pada sholat sendirian”. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mendorong kepada generasi muda NU untuk meneruskan risalah yang telah dikembangkan oleh organisasi para ulama nusantara ini sebagai warisatul anbiya’, pewaris para nabi. Beliau mengutip hadist Nabi Muhammad SAW: Sampaikanlah (ajaran) dariku walau satu ayat.

Acara ini disampaikan dalam tiga bahasa, bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dengan tujuan agar para audien bisa mengikuti seluruh rangkaian acara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang

Damaskus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Indonesia melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya (Tbk) berkomitmen untuk membangun Suriah kembali pasca konflik berkepanjangan dan Pemerintah Suriah siap memberikan dukungan kemudahan bagi keterlibatan Indonesia di Suriah. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara delegasi PT Wijaya Karya (WIKA) dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Suriah, Husein Arnous, di Damaskus.

Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang

“Kami mulai mencanangkan program Rebuild Syria (Membangun kembali Suriah) pasca kehancuran oleh para teroris. Dan kami sangat berharap PT WIKA dari Indonesia dapat terlibat dalam pembangunan pasca konflik. Prioritas Pemerintah Suriah adalah pembangunan gedung yang hancur, seperti rumah, saluran air, rumah sakit, dan sekolah," pinta Husein Arnous pada pertemuan Jumat (9/9) melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahad (11/9).

Menanggapi hal tersebut, Manajer Divisi Operasi Timur Tengah dan Afrika Utara PT WIKA, Bimo Prasetyo menyampaikan bahwa WIKA telah berpengalaman tinggi pada proyek konstruksi cepat pasca bencana.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menghadapi tantangan yang serupa dengan kerusakan Suriah pasca konflik, WIKA berpengalaman dalam pembangunan Aceh pasca bencana tsunami? pada 2004 silam. Selain itu, WIKA juga kini dipercaya oleh banyak negara untuk mengerjakan proyek penting, seperti mall dan jembatan di Malaysia, jalan tol di Myanmar, bandara di Thailand, juga Libya, Timor Leste, dan Dubai," kata Prasetyo.

Menurut Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, hubungan Indonesia Suriah mencapai titik yang sangat baik, mengingat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus yang tidak hanya tetap bertahan di Damaskus, tetapi juga berkiprah cukup aktif di tengah konflik Suriah. “Tinggal bagaimana kalangan bisnis di Indonesia dapat memanfaatkan peluang besar di Suriah yang telah terbuka lebar ini menjadi keuntungan ekonomi,” ujar Dubes Djoko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Suriah mengalami konflik berkepanjangan sejak tahun 2012 dan semakin diperparah dengan munculnya kelompok teroris ISIS yang berpusat di kota Raqqah Suriah. Kota-kota penting di Suriah hancur akibat serangan mortar dan bom, seperti Aleppo, Idlib, juga beberapa titik penting di ibukota Damaskus. Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang mempertahankan misi diplomatiknya dengan kepala perwakilan duta besar di ibukota Damaskus.

Pada pertemuan terpisah antara PT WIKA dengan Hamsho Group, perusahaan konstruksi terbesar di Suriah, dijajaki pula tentang kerja sama proyek pembangunan pasca konflik di Suriah, terutama perihal kemampuan lembaga keuangan penjamin dan cara pembayaran, mengingat Suriah masih terbelenggu embargo ekonomi. Hamsho Group tertarik bekerja sama dengan PT WIKA pada renovasi bandara internasional Damaskus dan pembangunan gedung apartemen yang hancur. Hamsho Group merupakan holding company yang menguasai bisnis strategis di Suriah, seperti konstruksi, telekomunikasi, dan media.

Ditambahkan oleh Pejabat Fungsi Ekonomi KBRI Damaskus, Makhya Suminar, KBRI Damaskus siap memfasilitasi kalangan bisnis di Indonesia yang ingin terlibat dalam pembangunan kembali Suriah. “Peluangnya terbuka sangat lebar. Bahkan Indonesia adalah satu-satunya kedutaan yang hadir pada pameran Rebuild Syria 7-11 September 2016,” pungkas Makhya. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ini Alasan Kenapa Puasa Itu Menyehatkan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Bulan suci Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat untuk bisa hidup sehat. Sebab puasa itu sehat untuk memperbaiki fisik dan mental (rohani). Selain mengendalikan mulut untuk tidak makan dan minum, waktu makan pun diatur dengan baik.

Kepala Bidang Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr HM Asjroel Sjakrie mengatakan, puasa itu sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Sebab ketika tidak makan dan minum, kadar gula dalam darah akan turun. Puasa merupakan sarana terapi kesehatan. Di mana siang hari akan terasa lapar dan haus.

Ini Alasan Kenapa Puasa Itu Menyehatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Kenapa Puasa Itu Menyehatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Kenapa Puasa Itu Menyehatkan

“Biasanya kita sarapan pada jam 06.00, sekarang lebih awal sebelum subuh. Setelah sahur, kita beribadah shalat subuh dan bekerja dengan semangat tanpa berpikir haus dan lapar. Artinya, kita dituntut secara mental untuk semangat walapun dalam keadaan puasa,” ungkapnya, Sabtu (18/6).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Asjroel, dengan lapar dan haus tersebut akan terjadi pemecahan katabolisme (respirasi sel). Sehingga energi akan diisi lagi untuk bekerja. Simpanan lemak dan kadar gula akan terpakai yang berdampak pada perbaikan sel-sel pada organ tubuh kita. “Tentu akan kelihatan sekali pada orang gemuk usia 40 tahun. Di mana berat badan, kadar gula dan lain sebagainya akan turun,” jelasnya.

Lebih lanjut Asjroel menegaskan perbaikan ini akan berlangsung terus hingga saat berbuka puasa. Untuk mencapai hidup sehat tersebut, ada kalanya saat buka puasa agar tidak terlalu banyak mengonsumsi es dan membatasi jumlah makanan (tidak berlebihan).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Biasanya saat sore hari, rasa lapar orang yang berpuasa akan hilang. Karena energi tubuh akan terisi oleh pemecahan katabolisme dari lemak dan glikogen (gula yang tersimpan di dalam hati dan otot),” tegasnya.

Oleh karena itu Asjroel menyarankan supaya waktu sahur hendaknya makan dan minum yang banyak dengan niat mau puasa bukan takut tidak kuat berpuasa. Tetapi saat berbuka puasa, tidak dianjurkan makan dan minum secara berlebihan. Sebab jika dipaksakan lambung akan terasa sakit.

“Usahakan waktu buka puasa minum air hangat supaya lendir di tubuh akan mudah terlarutkan dan rasa dahaga cepat hilang. Puasa itu melatih manusia untuk bisa bersabar dan mampu menahan hawa nafsu,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Santri Perlu Diajari untuk Profesional

Lumajang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Selama ini kegiatan di pondok pesantren masih didominasi rutinitas di tingkat konsepsi, teori dan gagasan. Kalangan santri pun masih belum mampu beraktivitas di tingkat aktualisasi, implementasi dan aksi. Karenanya, lembaga pendidikan berbasis agama Islam itu pun perlu didorong agar lebih berani beraktualisasi sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Demikian wacana yang mengemuka pada pembukaan Kursus Maintenance Komputer dan Internet untuk Santri yang digelar Pimpinan Pusat (PP) Rabitah Ma’had Islami (RMI) di Lumajang, Jawa Timur, Senin (26/2). Hadir pada acara tersebut Wakil Katib Syuriah PBNU KH Sadid Jauhari, Ketua Umum PP RMI KH Mahmud Ali Zain, Wakil Sektetaris PP RMI HM Sulthan Fatoni dan Wakil Ketua PP RMI Bashori Alwi.

Santri Perlu Diajari untuk Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu Diajari untuk Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu Diajari untuk Profesional

”Kita sering melihat kelompok masyarakat sibuk dengan wacana syariat Islam namun kita tidak pernah tahu wujud aktualisasi ke-Islam-an mereka. Contoh nyata, kita sering mengkaji kitab kuning bab bai’ (transaksi jual-beli), namun kita masih belum mampu menerapkannya dalam kegiatan usaha yang profesional,” kata KH Mahmud Ali Zain.

Menurut Kiai Mahmud, banyak sekali potensi pesantren yang belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan kemampuan beraktualisasi. Kelemahan tersebut, katanya, dapat diatasi dengan cara memperbanyak kursus-kursus. ”Kursus maintenance komputer ini diharapkan dapat menumbuhkan kegairahan berkreasi. Begitu juga kursus internet yang dapat membantu santri untuk mengakses dunia keilmuan di luar komunitas mereka,”terangnya.

Senada dengan Kiai Mahmud, KH Sadid Jauhari mengatakan, sampai saat ini masih saja ada segelintir orang yang memanfaatkan NU untuk tujuan politik praktis. Tindakan tersebut tentu merugikan NU, baik di masa sekarang maupun mendatang. ”Saya minta agar NU tidak diseret ke mana-mana. Karena NU menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik. Karena itu, program PP RMI seperti ini perlu diadakan sesering mungkin untuk menegaskan bahwa corak kegiatan NU yang sudah khittah itu, ya yang begini” ujarnya.

Sementara itu, HM Sulthan Fatoni menjelaskan, program kursus komputer yang diikuti oleh 60 santri se-Jember, Pasuruan dan Lumajang itu akan dilaksanakan hingga tiga bulan mendatang. Sedangkan kursus internet selama enam hari. ”Peserta yang berasal dari Lumajang dapat berangkat dari rumahnya, sedangkan yang dari luar Lumajang ditampung di Ponpes Habibul Abrori Suko Lumajang,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada kesempatan itu, Sulthan meyakinkan tentang kesiapan tenaga teknisi. ”Kami bekerjasama dengan satu lembaga profesional yang sanggup menggaransi semua peserta kursus menjadi terampil berkomputer dan berinternet. Program ini dirancang cukup ideal dan diharapkan, pesantren-pesantren yang santrinya ikut kursus tidak lagi mempunyai problem tenaga teknisi komputer dan internet,” kata mantan Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU itu. (maz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 Desember 2017

Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan adanya pandangan umat Islam di Indonesia yang berbeda-beda terkait boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal, harus disikapi dengan saling menghormati dan memahami.

Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag

“Kita memahami bahwa kita masyarakat yang beragam. Di (umat) Islam sendiri terjadi keragaman pendapat dalam menyampaikan ucapan selamat Natal kepada saudaranya yang umat Kristiani,” demikian Menag menjawab pertanyaan wartawan usai peluncuran Al-Qur’an dan Terjemahan Bahasa Daerah di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Rabu (20/12) siang.

(Baca: Tiga Terjemahan Al-Quran Bahasa Daerah Diluncurkan Kemenag)Ia mengatakan ada sebagian umat Islam yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal kepada umat Kritiani, karena beranggapan dengan ucapan tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kelahiran Yesus Kristus yang dalam akidah Islam bukanlah Tuhan sebagaimana umat Kristiani memahaminya.

Namun, ada sebagain umat Islam yang berpandangan mengucapkan selamat Natal bukanlah haram sehingga dibolehkan, karena ucapan selamat Natal tersebut ditujukan atas kelahiran Nabi Isa. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadi yang dipersepsikan adalah peringatan kelahiran Nabi Isa,” kata Menag.

Menurutnya jangankan terhadap nabi, terhadap orangtua, saudara, keluarga dan teman-teman kita pun setiap tahun dirayakan hari kelahiran atau hari ulang tahun.

“Apalagi kepada nabi, (mengucapkan ulang tahun) tidak semata boleh, tetapi juga dianjurkan,” lanjut dia.

Menag menegaskan keragaman pandangan semacam ini karena persepsi dan interpretarsi yang tidak sama. Oleh karenanya yang terpenting tidak perlu saling menyalahkan. 

“Bagi mereka yang memang mengharamkan, ya sudah kita hormati. Kita maklumi kalau tidak mengucapkan selamat Natal, sehingga umat Kristiani juga harus berjiwa besar karena ada sebagian saudara mereka yang karena keyakinannya tidak membolehkan mereka mengucapkan selamat Natal,” papar Menag.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tetapi, sambung Menag, kita juga harus menghormati mereka yang berpandangan bahwa mengucapkan Natal itu dibolehkan. 

“Demi menjaga hubungan baik, menjaga persaudaraan sebangsa dan sebagai sesama manusia,” tandas Menag.

Ia menegaskan hal yang sama-sama diyakini umat Islam adalah larangan mengikuti ritual upacara keagamaan atau melakukan amaliyah peribadatan dalam peringatan Natal. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Mantan bintang Disney Lindsay Lohan dikabarkan menjadi mualaf setelah memeluk agama Islam. Ahad lalu, pemeran Cady Heron dalam film "Mean Girls" (2004) itu menghapus semua unggahan di media sosialnya; Instagram dan Twitter.

Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf?

Akhir pekan ini rumor pun beredar Lohan sudah berubah keyakinan menjadi seorang Muslim karena salam berbahasa Arab di laman Instagram miliknya, "Alaikum salam" yang kurang lebih berarti semoga kedamaian selalu menyertaimu, salam yang umum digunakan kaum Muslim.

Aktris berusia 30 tahun itu sebelumnya membuat heboh dengan menenteng Al-Quran pada hari pertama saat memberikan layanan sosial di New York musim panas tahun lalu.

Lohan mengatakan dia baru saja jatuh cinta kepada Islam dan dia mengungkapkan kalau dia sudah mempelajari agama untuk memuaskan rasa penasaran intelektual dan spiritualitasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia mengatakan kepada The Sun: "Saya orang yang sangat spiritual dan sangat terbuka untuk belajar,"?

Lohan yang terlahir Katolik itu juga mengungkapkan bahwa adik perempuannya Ali juga sedang menjelajahi sisi spiritualnya dan sudah beralih menganut Budha.

Selain itu, Lohan juga menjelaskan bahwa dia mempraktikan sebuah bentuk meditasi yang disebut "tapping", yang meliputi mengosongkan diri untuk mencapai ketenangan jiwa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Itu jauh dari awal dia menunjukkan ketertarikannya kepada agama.

Selama masa kejayaannya menjadi bintang remaja, dia mengenakan gelang merang Kabbalah yang dipercaya menangkal nasib buruk yang diakibatkan oleh "si mata jahat".

Dia juga dikabarkan menghadiri sejumlah kelas Kabbalah dan pada 2012 dia bergabung dengan grup Budha-nya Courtney Love. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah