Kamis, 30 November 2017

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menyikapi kejahatan kemanusiaan di Rohingnya, Rijalul Ansor Way Kanan, GP Ansor Bahuga, Gusdurian Lampung, Satkorwil Banser Lampung, dan Aji Tapak Sesontengan (ATS) Global Indonesia Tim Swarna Raya menggelar doa untuk Rohingya serta bakti sosial penyembuhan alternatif penyakit medis dan non-medis.

Ketua Rijalul Ansor Way Kanan Hasyim Asyari di Blambangan Umpu, Kamis (7/9) menjelaskan, kegiatan itu bertujuan untuk mengundang masyarakat mendoakan agar etnis Rohingya segera terbebas dari kekerasan dan diskriminasi dialami selama ini.

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS

Pelaksanaan kegiatan akan berlangsung di dua tempat, pertama pada Jumat 8 September di area Panti Asuhan Pesantren Roudlotul Mutaqqin dan pada Sabtu 9 September di Mushola Al Hikmah, Kampung Dewa Agung, Kecamatan Bahuga.

"Sembari menunggu penagananan penyembuhan penyakitnya seperti asam urat, lemah jantung, sakit gigi, urat kejepit, migrain, vertigo, maag dan berbagai penyakit medis lain oleh Pelaksana Tugas Kepala Satuan Khusus Banser Husada Lampung sekaligus kamitua atau master ATS sahabat Gatot Arifianto, masyarakat akan kami pandu mendoakan saudara kita di Rohingya," ujar Hasyim didampingi Ketua GP Ansor Bahuga Muhammad Nur Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyikapi persoalan Rohingya dengan doa menurut Hasyim, lebih maslahat daripada menyebar gambar hoax tidak sesuai, sadis dan didramatisir yang berpotensi memecah belah masyarakat Indonesia.

"Kami sepakat, bahwa apa yang terjadi di Rohingya ialah tragedi kemanusiaan yang harus segera dihentikan karena bertentangan dengan nalar hingga nurani. Siapapun yang beragama dan mengimaninya dengan benar pasti menolak kebiadaban," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain berdoa bersama, masyarakat juga akan diajak berfoto dengan membawa pesan-pesan perdamaian, seperti wasiat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Agama jangan jauh dari kemanusiaan, lalu Dalai Lama XIV: Perdamaian bukan hanya sekadar tidak adanya kekerasan. Perdamaian adalah, perwujudan kasih sayang manusia, serta kutipan positif lain. (Erli Badra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

17 Grup Rebana Ramaikan Peringatan Harlah IPNU di Klaten

Klaten, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hari Lahir (Harlah) Ke-62 Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ke-61 Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU), diperingati Pelajar NU di Klaten Jawa Tengah dengan mengadakan kegiatan pengajian dzikir dan shalawat, Sabtu (27/2) lalu.

17 Grup Rebana Ramaikan Peringatan Harlah IPNU di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)
17 Grup Rebana Ramaikan Peringatan Harlah IPNU di Klaten (Sumber Gambar : Nu Online)

17 Grup Rebana Ramaikan Peringatan Harlah IPNU di Klaten

Acara yang dilaksanakan di Masjid Joglo Baitul Makmur, Kunden, Karanganom, Klaten tersebut dihadiri sekitar 900 pengunjung dan 17 grup rebana dari berbagai daerah se-Kabupaten Klaten.

Menurut Ketua PC IPNU Klaten, Aan Prihartanto mengatakan, peringatan Harlah IPNU-IPPNU bertema ‘Pelajar Bersholawat’ ini dihelat bersamaan dengan acara peresmian Masjid Joglo.

Dalam sambutannya, Aan menegaskan, pelajar NU mesti siap menjawab tantangan zaman. “Kita sebagai pelajar harus mampu menjawab tantangan dan perkembangan zaman, sekaligus tidak boleh melupakan tradisi yang diusung oleh para ulama an-Nahdliyah yang salah satunya adalah dzikir dan shalawat,” tukasnya.

Sementara itu, H Qomarudin perwakilan dari PCNU Klaten menyatakan dukungannya dan senantiasa mendorong setiap langkah pelajar dan pemuda untuk kebangkitan dan kemajuan NU di masa yang akan datang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebagai orang tua, kita wajib dan harus mendukung para pelajar dan pemuda kita untuk belajar dan bergerak lebih maju, karena merekalah yang akan mengnggantikan kita semua nanti di masa yang akan datang,” kata dia.

Acara diakhiri dengan penyampaian ceramah yang disampaikan oleh KH Nur Kholis dari Ampel, Boyolali. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Qur’an sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Qur’an menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Qur’an diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Qur’an sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Qur’an berkata “Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa’: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtama’ul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

 

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Pertandingan, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Cintai Budaya Daerah, PMII Unila Galakkan Satu Hari Berbahasa Lampung

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berawal dari diskusi mingguan, para aktivis Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Lampung menyatakan prihatin dengan kian jauhnya masyarakat dari kebudayaannya sendiri, terutama bahasa daerah.

Bahasa daerah Lampung saat ini dinilai sudah di ambang kepunahan. Hal tersebut bisa dilihat secara kasat mata pada penggunaan bahasa daerah yang sangat minim, terutama pada daerah perkotaan. Masyarakat perkotaan umumnya sudah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian dan mulai melupakan bahasa daerah.

Cintai Budaya Daerah, PMII Unila Galakkan Satu Hari Berbahasa Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Cintai Budaya Daerah, PMII Unila Galakkan Satu Hari Berbahasa Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Cintai Budaya Daerah, PMII Unila Galakkan Satu Hari Berbahasa Lampung

Upaya-upaya pelestarian bahasa Lampung sebenarnya sudah ada pada bangku pendidikan mulai dari kanak-kanak seperti tercantum dalam Pasal 7 dan 8 Peraturan Daerah Provinsi Lampung No. 2 Tahun 2008 mengenai Pemeliharaan Bahasa dan Aksara Lampung, bahwa pengenalan dan pengajaran bahasa dan aksara Lampung dimulai dari jenjang kanak-kanak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, dalam realitas kehidupan sehari-hari penggunaan bahasa Lampung masih minim. Berawal dari masalah tersebut, PMII Unila mengambil topik “Revitalisasi Bahasa Lampung” dalam diskusi mingguan yang diadakan pada Selasa (11/5) sore hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diskusi mingguan menghasilkan konsensus bahwa PMII khususnya Universitas Lampung harus bisa menjadi pelopor cinta budaya daerah. Tindak lanjut dari diskusi tersebut yaitu setiap hari Jumat diwajibkan kepada anggota dan kader PMII Unila untuk berbahasa Lampung sebagai wujud nyata cinta budaya daerah.

Yogi Prayogo selaku penanggung jawab gerakan “Satu Hari Berbahasa Lampung” mengungkapkan bahwa kecintaan terhadap budaya daerah harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

“Mencintai budaya daerah sudah menjadi kewajiban setiap warga daerah, namun kesadaran tersebut harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat” Ujar Yogi yang merupakan mahasiswa FMIPA Unila tersebut.

Sementara Ketua Komisariat PMII Unila, Erzal Syahreza Aswir berharap gerakan? “Satu Hari Berbahasa Lampung” dapat meluas setidaknya ke organisasi tingkat mahasiswa terlebih dahulu lalu ke lembaga lain, dan kemudian menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya.

“Gerakan Satu Hari Berbahasa Lampung semoga dapat meluas ke organisasi tingkat mahasiswa dan lembaga-lembaga lain, dan goal akhirnya bisa menjadi kebiasaan masyarakat” Ujar Erzal

Ia juga menambahkan jika bisa tidak hanya satu hari berbahasa Lampung, namun setiap hari Bahasa Lampung dapat digunakan oleh setiap elemen masyarakat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 29 November 2017

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kembali menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD). Kali ini, kaderisasi jenjang pertama organisasi pemuda NU tersebut digelar di wilayah Subang selatan, meliputi Kecamatan Jalancagak, Cisalak, Kasomalang, Tanjungsiang, Ciater, Sagalaherang dan Serangpanjang. Namun ada juga peserta dari delegasi Subang tengah meliputi Kecamatan Subang dan Cibogo.

Kegiatan PKD tersebut digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (30-31/7/2016) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Az-Zahra Kampung Cibatu,? Desa/KecamatanTanjungsiang. Sebanyak kurang lebih 50 orang terlibat dalam kegiatan yang menjadi ajang kaderisasi di GP Ansor tersebut.

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat

Ketua Panitia Pelaksana, Gilang Fajar Alfina menegaskan, dalam pelaksanaan rekrutmen anggota GP Ansor tersebut dilakukan beberapa instrumen penting dalam mengikuti kegiatan PKD di antaranya dilakukan screening atau proses penyaringan terlebih dahulu untuk memastikan layak dan tidaknya mengikuti PKD.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini penting dilakukan karena konsep kaderisasi di GP Ansor tidak sembarangan. Merekalah yang akan mengemban amanah organisasi jika sudah pulang ke daerahnya masing-masing," ujar Gilang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para peserta tersebut, kata Gilang, telah dibekali dengan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan konsep kepemimpinan dan menggali potensi diri untuk kemudian diimplementasikan dalam kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. "Karena mereka akan menjadi penggerak motor organisasi GP Ansor untuk berkiprah di daerahnya masing-masing," kata Gilang yang merupakan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Tanjungsiang.

Ia berharap, sebagaimana tema yang diusung, "Meneguhkan Ideologi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, Generasi Muda Siap Memimpin", kader-kader GP Ansor bisa meneruskan estafet kepemimpinan di Kabupaten Subang dengan berbasis ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pondasinya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Subang Asep Alamsyah Heridinata menegaskan, kegiatan kaderisasi di GP Ansor ini rutin digelar setiap tahunnya. "Saat ini sudah memasuki tahun ketiga kita laksanakan PKD dan Diklatsar setelah bulan-bulan kemarin kita gelar di Subang bagian barat," kata Asep.

Dengan demikian, lanjut Asep, kader-kader GP Ansor dan Banser sudah terjun ke akar rumput hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Subang. "Karena ini komitmen kami akan membentuk kepengurusan GP Ansor di tingkat ranting (desa, red)," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Warga Norwegia Skeptis Muslim Berhijab

Kairo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebuah penelitian baru secara online pada warga Norwegia terhadap imigran menunjukkan, mereka skeptis wanita Muslim yang menggunakan hijab, hal ini menunjukkan simbol “keasingan”.

“Hijab menjadi simbol penting dari ‘keasingan’,” kata Zan Strabac, associate professor di Sør-Trøndelag University College, kepada harian Klassekampen. The Foreigner melaporkan pada Kamis (19/9).

Warga Norwegia Skeptis Muslim Berhijab (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Norwegia Skeptis Muslim Berhijab (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Norwegia Skeptis Muslim Berhijab

“Menarik mengetahui dengan tepat, apakah konotasi negatif dengan hijab ini timbul pada populasi mayoritas,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebuah penelitian eksperimental dilakukan untuk mengetahui sikap orang Norwegia pada imigran, partisipan survey online menunjukkan gambaran yang berbeda terhadap perempuan yang sama, ketika menggunakan atau tidak menggunakan hijab. 

“Gambaran yang dimunculkan pada subyek adalah Kristen atau Muslim ketika tidak menggunakan hijab dan Muslim ketika menggunakan hijab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Subyek yang menjadi penelitian adalah seorang kolega Portugis yang bisa terlihat mirip dengan orang keturunan Timur Tengah.

Menurut Strabac, yang melakukan studi kolaborasi, bukan agama wanita tersebut yang menjadi masalah kecurigaan, tetapi hijab itu sendiri.

Islam melihat hijab sebagai kewajiban dalam tata cara berpakaian, bukan simbol agama untuk menunjukkan afiliasi seseorang.

Isu hijab mulai membesar sejak Perancis melarang penggunaannya di tempat-tempat publik pada 2004. Sejak saat itu, beberapa negara Eropa mengikuti aturan tersebut.

Persoalan hijab kembali menjadi headline pada Januari 2013 setelah pemerintah Norwegia melarang sebuah proposal yang memungkinkan polisi wanita beragama Islam menggunakan hijab ketika sedang bertugas.

Meskipun hasil studinya seperti itu, seorang profesor dalam bidang kerja sosial berpendapat Muslimah sebaiknya tetap menggunakan hijab.

“Biaya menggunakan hijab cukup tinggi,” kata Marco Valenta, profesor di Trondheim’s University of Science and Technology (NTNU), Department of Social Work and Health Science.

“Tetapi, sikap terhadap Muslim tidak lebih negatif dibandingkan sikap terhadap wanita lain dengan latar belakang imigran yang tidak menggunakan hijab.”

Hasil survey dilakukan secara obyektif, katanya.

“Skor tidak seburuk Muslim yang tidak menggunakan simbol dalam kehidupan personal mereka,” kata Valenta seperti dilansir Klassekampen.

“Terdapat jarak sosial baik pada Muslim dan Kristen, selalu terdapat pengaruh imigran, tetapi tidak semakin membesar ketika hal ini terkait dengan Muslim.”

Muslim Norwegia diperkirakan berjumlah 150.000 dari 4.5 juta populasi, sebagian besar berasal dari Pakistan, Somalia, Irak dan Marokko.

Terdapat sekitar 90 organisasi Muslim dan Islamic Center di seluruh negara Eropa Utara. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Internasional, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Shalawat Rindu Bergema di Kampus UI

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis (29/12), ada pemandangan yang tidak biasa di Masjid Ukhuwah Islamiyah (UI) Universitas Indonesia. Sore itu Masjid UI dipenuhi orang-orang berkerudung dan berpeci di ruang utama. Dengan khidmat mereka melantunkan syair-syair pujian karya Syaikh Ja’far Al Barzanji.

Shalawat Rindu Bergema di Kampus UI (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Rindu Bergema di Kampus UI (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Rindu Bergema di Kampus UI

Pada hari itu Masjid UI sedang menjadi tuan rumah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tajuk Sholawat Rindu. Acara ini diinisiasi oleh gabungan PMII UI, KMNU UI, Asyraaf UI, dan Matan UI.

Hadir dalam forum tersebut Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis, Ketua DKM Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Muhammad Luthfi dan Ketua Umum PBNU ke-4 KH Hasyim Muzadi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya, Muhammad Anis mengutip Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56. Ia menggarisbawahi tiga poin penting yang terangkum dalam ayat tersebut, yakni Allah yang memberikan rahmat kepada Nabi, Malaikat yang memintakan ampun untuk Nabi, dan anjuran berdoa bagi orang mukmin agar mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Anis berpesan kepada para hadirin untuk kembali mengingat pentingnya shalawat kepada Rasul. Selepas sambutan dari rektor UI, acara dilanjutkan dengan sesi mauidhah hasanah oleh KH Hasyim Muzadi.

Kiai Hasyim menekankan kepada para hadirin untuk memosisikan Rasulullah sebagai pusat teladan. Ia juga mengingatkan bahwa intelektualitas yang tinggi tak selalu diiringi kepekaan rohani yang rendah. (Daniel/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Putri Gus Dur: Sastrawan adalah Pahlawan

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Putri bungsu presiden keempat RI  Inayah Abdurrahman Wahid mengapresiasi para sastrawan, penulis, dan budayawan sebagai pahlawan dalam acara peluncuran buku Antologi Puisi buat Gus Dur; dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel di rumah makan Bambu Wulung Kudus, Sabtu (28/9).

Menurut Inayah, mereka ada di garis depan perjuangan untuk mengembalikan kesadaran kemanusiaan. Para sastrawan yang menghasilkan karya tulis maupun syair-syair puisi menjadi  sumbangsih luar biasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Putri Gus Dur: Sastrawan adalah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Putri Gus Dur: Sastrawan adalah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Putri Gus Dur: Sastrawan adalah Pahlawan

“Mereka ini adalah benar-benar pahlawan yang sekarang kita sedang kekurangan berkurang karena pada sibuk mencari kekuasaan. Sastrawan dan penulis tidak butuh itu (kekuasan), tetapi mereka hanya berharap negara bisa mewujudkan sesuai yang ditulis dalam karya-karyanya,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mengutarakan, sastra di negeri ini sering dipandang sebelah mata karena dinilai tidak penting dan tidak menarik. Hal demikian yang menyebabkan negara ini tidak pernah maju dan banyak di kelilingi kemiskinan, kemarahan, dan kekerasan.

“Orang yang suka melakukan kekerasan itu biasanya tidak tersentuh oleh sastra seni dan budaya sehingga tidak terasah kebijaksanaannya, sensitif perasaannya, mengenali masyarakatnya,” ujar Inayah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia melanjutkan, dunia, termasuk agama, dibangun berdasarkan sastra tulisan maupun lisan. Al-Qur’an dan Al Kitab termasuk “buku sastra” paling laris, tetapi banyak orang yang tidak mampu mengimplementasikan, karena kemampuan sastranya tidak dibangun.

“Saking pentingnya dunia sastra ini, bapak saya (Gus Dur) selalu mengajarkan kepada kami untuk memperbanyak membaca,” tuturnya.

Inayah juga mengapresiasi buku antologi yang diterbitkan Dewan kesenian Kudus ini. Ia menilai melalui karya puisi buat Gus Dur ini berarti sebagai cara menuangkan nilai-nilai yang telah diajarkan Ketua Umum PBNU 1984-199, yakni kedamaian, kesetaraan, penghargaan, nilai kemanusian, dan kedamaian.

Dalam kesempatan itu, Inayah juga membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Bapak Mengajari Membaca. Puisi ini sebagai bentuk ajaran atau wasit Gus Dur kepadanya untuk selalu membaca. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Humor Islam, IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Nahdlatul Ulama (NU) telah meng-ikhbar-kan 1 Ramadhan jatuh pada Senin, 6 Juni 2016. Hal ini berdasarkan keputusan dan ketetapan yang dilakukan oleh pemerintah melalui sidang itsbat pada Ahad (5/6) malam. Ketetapan ini berdasarkan pada pengamatan Hilal di 93 titik yang disebar oleh Kemenag dengan menggandeng LAPAN, Lembaga Falakiyah PBNU, dan lain-lain.

Nahdlatul Ulama tetap berpegang teguh pada metode rukyatul hilal sebagai instrumen penetapan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal. Langkah ini sama sekali tidak menafikan metode Hisab, karena metode perhitungan secara matematis ini perlu dibuktikan secara empiris. 

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Ghazali Masroeri sering menekankan kepada seluruh masyarakat bahwa NU sama sekali tidak menafikan metode hisab, tetapi justru NU menggunakan metode hisab dengan almanak yang diterbitkan setiap tahun. 

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Namun demikian, berangkat dari Sabda Rasulullah SAW, “Berpuasalah setelah melihat bulan, dan berlebaranlah setelah melihat bulan”, NU tidak berhenti di satu metode, tetapi berusaha membuktikan perhitungan matematis secara empiris dengan mengamati hilal secara langsung.

Demikian sekilas ulasan tentang Majalah Risalah Edisi 61/Tahun X/1437 H/Juni 2016 yang merupakan edisi terbaru. Selain mengulas persoalan puasa, Majalah yang kini dikemas dengan tampilan yang lebih besar ini juga melaporkan kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diselenggarakan PBNU pada 9-11 Mei 2016 lalu di JCC Senayan Jakarta. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian, momen bulan haji juga dimanfaatkan Redaksi Majalah Risalah untuk mengulas perkara haji yang kini banyak mengalami perubahan secara pembiayaan yang lebih murah. Tentu hal ini merupakan kabar baik bagi para calon Jamaah Haji. Hal menarik lain yang juga perlu diketahui yaitu, Kementerian Agama mengeluarkan peraturan bahwa jemaah yang sudah pernah melakukan ibadah haji tidak diperkenankan berangkat lagi agar memberi kesempatan kepada jemaah yang belum pernah melakukan ibadah haji.

Edisi terbaru yang terbit 66 halaman ini juga memuat berbagai informasi dan bacaan substantif lain. Di bagian akhir majalah ini, terdapat tulisan renyah dari Dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Fariz Alniezar yang mengulas tentang moderatisme keislaman yang selama ini diteguhkan oleh NU sehingga corak Islam khas Nusantara kerap menjadi inspirasi bagi carut marut dunia Islam selama ini. Selamat membaca! (Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bukti Tunjukkan Kemungkinan Yasser Arafat Meninggal Diracun

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat mungkin telah diracun dengan radioaktif polonium, kata laporan forensik Swiss yang diperoleh oleh al-Jazeera, seperti dilansir oleh BBC Indonesia.

Catatan medis Araffat menunjukan bahwa dia meninggal pada 2004 karena serangan stroke yang disebabkan karena gangguan darah.

Bukti Tunjukkan Kemungkinan Yasser Arafat Meninggal Diracun (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukti Tunjukkan Kemungkinan Yasser Arafat Meninggal Diracun (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukti Tunjukkan Kemungkinan Yasser Arafat Meninggal Diracun

Namun, Klik jenazahnya diangkat tahun lalu karena adanya dugaan bahwa dia dibunuh.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Laporan forensik Swiss ini mengatakan tes yang dilakukan pada jenazah menunjukan "kandungan polonium-210 yang cukup tinggi", yang "cukup" untuk mendukung dugaan itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para ilmuwan dari Vaudois University Hospital Centre (CHUV) mempelajari catatan medis Arafat dan meneliti sisa-sisa jenazah, termasuk tulang belulang dan contoh tanah di makamnya.

Mereka menegaskan bahwa mereka tidak bisa mencapai kesimpulan yang lebih pasti karena jangka waktu kematian yang cukup lama. Sampel yang terbatas juga menjadi penghambat.

Polonium-210 adalah zat radioaktif yang secara alami diperoleh makanan dan tubuh dengan dosis rendah, namun senyawa ini bisa mematikan jika jika tertelan dalam dosis tinggi.

Menurut Prof Paddy Regan, seorang pakar deteksi dan pengukuran radiasi di University of Surrey, Inggris, mengatakan temuan merupakan "pernyataan yang sangat kuat".

"Mereka mengatakan hipotesis yang mengatakan bahwa Arafat diracun dengan polonium-210 adalah valid dan teori ini belum bisa dipatahkan oleh data. Namun, mereka tidak mengatakan secara pasti jika dia dibunuh."

Banyak warga Palestina dan lainnya percaya bahwa Israel menaracuni Arafat. Sementara yang lain menduga bahwa kematian Arafat disebabkan oleh penyakit AIDS atau kanker.

Israel sejauh ini konsisten Klik membantah keterlibatannya. Juru bicara kementerian luar negeri Israel mengatakan penyelidikan yang dilakukan oleh Swiss ini tak ubahnya seperti "sinetron, daripada pembuktian ilmu pengetahuan".

Sementara itu, berbicara di Paris, janda Arafat, Suha, mengatakan temuan ini mengungkap "tindak kriminalitas, pembunuhan politis."

"Ini telah mengkonfirmasi keraguan kita. Telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan bahwa dia tidak meninggal secara alami dan kami memiliki bukti bahwa pria ini dibunuh."

Reuters mengatakan Suha tidak menyebut siapa yang mungkin membunuhnya tetapi menyadari bahwa suaminya memiliki banyak musuh. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang

Sukabumi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat KH R. Abdul Basith mengatakan, untuk memakmurkan masyarakat, diperlukan tiga gerakan. Gerakan itu adalah berjamaah shalat, berinfaq dan sedekah, zakat, serta perekonomian umat.  

“Jika tiga hal tersebut diterapkan di kabupaten Sukabumi insyaallah akan makmur,” katanya pada Lailatul Ijtima dan silaturahim bulanan ulama dan umaro sekaligus peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Pendopo Kabupaten Sukabumi (20/4).

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang (Sumber Gambar : Nu Online)
Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang (Sumber Gambar : Nu Online)

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Cicurug ini, lebih menekankan poin kedua, yaitu zakat, infak dan sedekah. Menurut dia, zakat adalah kewajiban dari Allah sesudah shalat. “Kenapa Allah memerintahkan kepada umat Islam harus mengeluarkan zakat? Karena setiap harta yang kita miliki ini di dalamnya ada hak orang lain yaitu 2,5%.

Ia mengaku sukar sekali zakat ini dipraktkkan karena tidak adanya pelajaran yang diajarkan langsung kepada anak-anak. Hal itu berbeda dengan kewajiban shalat, puasa, bahkan haji yang telah diajarkan mulai Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-kanak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait infak dan sedekah, ia menyebutkan keberhasilan di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug. Di desa dengan jumlah penduduk1522 orang tersebut, tiap hari mengeluarkan uang 500 rupiah. Kemudian dikumpulkan oleh satu panitia dengan pertanggungjawaban yang jelas.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebelum belanja kebutuhan sehari-harinya diusahakan untuk sedekah dulu karena ini ganjarannya langsung dari Allah SWT. Sedekah berbeda dengan ibadah yang lain yang ada syarat-syarat tertentu dalam melaksanakannya,” lanjutnnya.

Ia menjelaskan, di desanya itu, dengan hanya sedekah 500 rupiah bisa membebaskan raskin untuk masyarakat tak mampu, membayar rekening listrik masjid, mushola, pondok pesantren, majlis talim dan madrasah.

Dari uang 500 itu juga desa tersebut bisa mendirikan klinik gratis, membantu pembiayaan keluarga yang anggotanya meninggal dengan membacakan Al-Qur’an selama seminggu. Serta melakukan lampunisasi setiap gang.

“Seandainya semua ini berjalan di kabupaten Sukabumi maka akan membantu pemerintah,” ungkapnya.

Di Desa Nangerang, kata dia, dengan uang 500 itu dalam satu bulan itu mencapai 27 juta. Setelah 3 tahun terus naik karena sudah terasa manfaatnya oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Apa yang dilakukan di desa Nanggerang bukan untuk menyaingi BPJS, tapi membantu pemerintah dan masyarakat. “Ini sudah terjadi di desa kami, bahkan dalam satu tahun bisa mencapai 300 juta. Ini melebihi dari pajak didapat pemerintah di desa itu. Dan sekarang sudah berkembang di tiga kecamatan yaitu Cicurug, Cibadak dan Cidahu,” pungkasnya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Halaqoh, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 28 November 2017

Bibir Seksi

Pejalanan pulang melalui jalur darat selesai menunaikan haji. Pilihan kami ini bukan tanpa alasan, guru kami pernah berpesan; kalau pun harus terbang jangan sampai hal itu membuatmu merasa tinggi. 

Ingatlah bahwa di bawah sana banyak kekasih-kekasih Allah yang hidupnya sederhana. Selain itu, perjalanan darat menawarkan kepada kami tentang rihlah sejarah.

Bibir Seksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibir Seksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibir Seksi

Jalur yang kami lewati antara kota suci Mekah dan Tarim melalui kota tua Sana’a, ibu kota Yaman, dan tempat bersejarah lainya seperti daerah Darwan yang terletak di sebelah barat daya Sana’a. Daerah Darwan oleh para pakar sejarah Islam diperkirakan adalah daerah pemukiman Ashabul Jannah yang disebut-sebut Allah dalam dalam kitab suci Nya. Konon, Darwan memiliki kwalitas tanah tersubur yang berada di muka bumi, sehingga tidak sedikit buah-buahan, kurma, anggur, dan berkah bumi lainnya dihasilkan dari daerah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pagi hari kami telah melewati perbatasan. Kala itu, urusan imigrasi di perbatasan rada tersendat, tampaknya ada sedikit masalah dengan paspor kami, sebelum akhirnya uang dapat mempermudah urusan. Dari perbatasan ke Sana’a kami menyewa travel. Biaya yang ditawarkan si sopir cukup mahal, yaitu 15 dinar. Satu dinar pada saat itu senilai sama dengan sekitar 75 ribu rupiah, atau sekitar 30 riyal. Namun setelah jadi tawar-menawar yang cukup ulet, si sopir menurunkan 1 dinar per orang. Aku, Xafi dan Umar, masing-masing membayar  120 riyal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Travel yang kami tumpangi tak lain adalah mobil SUV tua peninggalan penjajahan Rusia. Mula-mula kami ragu, namun setelah berjalan beberapa saat kemudian kami mulai menikmati. Ternyata mobil Eropa sangat nyaman walaupun segi fisik terlihat usang. Di luar dugaanku, mobil sangat cepat melibas jalanan, terkadang juga harus melintasi gurun untuk menempuh jalan pintas. Masih sekuat mobil-mobil Rally Paris Dakkar yang sering aku lihat di televisi dulu. 

Debu-debu mengepul di sisi kanan-kiri kaca, sesekali mobil melakukan jumping ketika menabrak gundukan-gundukan kecil. Suspensi yang masih baik membuat kami tidak begitu merasakan benturan yang keras di dalam mobil.

Ketika aku mulai berbicara heart to heart, menceritakan tentang masa laluku, Xafi akhirnya mulai terbuka. Ia kali ini tidak lagi menghindar dari pertanyaanku. Sepanjang perjalanan ia bertutur tentang masa lalunya yang penuh dengan kegelapan dan kebimbangan, sebelum akhirnya datang petunjuk Tuhan.

“Aku tidak tahu bagaimana mulanya. Saat itu umurku menginjak 15 tahun, seperti kebanyakan remaja lainnya di negeriku, aku hidup dalam kebebasan dan mulai berani mengekspresikan hayalan liar. Aku tidak tahu siapa ayahku. Aku hanya tinggal bersama ibuku di sebuah apartemen tua. Pada suatu malam aku bermimpi mendengar sebuah nyanyian, namun entah nyanyian apa itu? Semacam bunyian-bunyian akapela, kedengaran seperti paduan suara di gereja-gereja.” 

“Semenjak itu, mimpi yang sama sering hadir dalam tidurku. Semakin sering terjadi aku semakin penasaran. Ada satu lirik yang aku coba ingat, dan lirik itulah yang kemudian aku tanyakan kepada ibuku. Namun ibuku tidak tahu. Aku coba bawa masalahku ini ke sekolah dan aku tanyakan kepada guruku. Tapi apa jawaban yang kudapat? Katanya aku mengalami gangguan jiwa. Aku disarankan menajalani terapi. Aku merasa baik-baik saja. Aku tak merasa menyimpang dari sebelumnya, selain aku mulai malas datang ke gereja, dan bagiku itu wajar, seperti kebanyakan teman sebayaku yang mulai kenal dengan kehidupan luar. Tak sengaja ada seorang guru sejarah yang mendengar masalahku. Ia kemudian menemuiku dan menjelaskan apa yang sebenarnya kualami. 

“Nak, lirik itu adalah bunyi-bunyian dalam Islam,” jelasnya tentang apa yang kudengar dalam mimpi. 

“Ya, aku tahu ada Agama Islam, tapi aku tak tahu kalau ada suara seindah itu dalam Islam. Lalu aku tanyakan kembali, “Sesungguhnya apa yamg kudengar ini, Pak? Lagu, novel, atau apa?” 

Guru sejarah itu tersenyum kecut, “Lupakan saja. Itu hanya nyanyian peperangan, dalam sejarah kelam bangsa kita!”.

Di lain hari aku menemui seorang biarawan, aku rasa dialah yang alim dalam urusan agama. Barangkali ia pernah mendapat pelajaran tentang perbandingan agama, dan pasti dia sedikit banyak tahu tentang Islam, dan tentunya ia tahu lagu apa yang sering kudengar dalam mimpiku. Biarawan itu kaget mendengar pertanyaanku. 

“Baiklah, akan aku beritahu. Mimpimu adalah sadarmu, dan yang kau dengar itu sebenarnya bukan nyanyian, melainkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, seperti Injil dalam agama kita. Ayat yang kau dengar itu menerangkan tentang siapa Tuhan menurut agama mereka? Allah adalah Tuhan, dan yang disebut Tuhan pastilah baik. Hanya saja konsep Tuhan menurut kita beda dengan konsep Tuhan menurut mereka yang cuma satu.” 

Nak, kata guru sejarah, mimpimu itu adalah teguran dari Tuhan agar kau rajin-rajin beribadah!

Setelah mendapat jawaban dari biarawan itu, aku mulai belajar tentang Islam. Sampai akhirnya aku benar-benar yakin. Dua tahun kemudian aku pergi ke Casablanca untuk meresmikan keyakinan baruku. Aku mengucapkan Syahadat di bawah bimbingan seorang Syeikh. Dan Sekarang, ya seperti yang kau lihat sendiri, dan Alhamdulillah aku sudah menenuaikan rukun ke lima ini bareng Kamu” Begitulah kira-kira cerita Xafi yang bisa kutangkap.

“Lega bukan rasanya sudah menenunaikan kewajiban?” tanyaku mengomentari ceritanya.

“Belum.” Xafi kulihat membuang pandangannya ke luar mobil.

“Kenapa?” tanyaku kembali.

“Aku selalu berdoa, agar ibuku mendapat petunjuk!” Xafi lalu diam. Suaranya agak serak ketika menjawab pertanyaanku. Dan aku, tahu, semua orang pasti ingin ibunya bahagia.

Umar yang mengajak pulang naik pesawat rupanya sangat kesal karena aku dan Xafi memilih perjalanan darat. Sepanjang perjalanan ia hanya diam, cemberut. Mungkin karena aku tidak memihak kepadanya. Aku bisa memaklumi. Namun aku sengaja memberinya pelajaran seperti ini. Biar dia tidak mudah menghina orang-orang miskin. 

Mobil berhenti di kota Harad untuk mengisi bahan bakar. Si sopir memberi kami waktu sebentar untuk membeli perbekalan, atau sekadar istirahat sejenak. Karena setelah ini kami akan menempuh perjalanan yang sangat panjang, ratusan mil jauhnya. Melewati gurun sahara, padang pasir yang tak bertuan, dan lembah-lembah yang sangat tandus. Mungkin senja hari kami baru sampai di kota Hamr, itu pun jika tidak terjadi gangguan dalam perjalanan, seperti ban kempes dan lainnya. Kami gunakan jeda tersebut untuk mandi. Betapa segarnya yang kurasa, tubuh tidak lagi terasa gerah. Plikat-plikat keringat telah luruh dibasuh air suci. Umar lalu pergi ke rumah makan untuk membeli perbekalan, barangkali roti dan air minum. Aku dan Xafi melakukan relaksasi sejenak dengan saling memijat bergantian.

Tidak sampai satu jam kami istirahat si sopir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Kota Harad tidak begitu besar, namun kota Harad adalah satu-satunya kota yang paling besar yang kami lewati semenjak dari perbatasan. Dari kota ini  mobil mendapat tambahan satu penumpang. Ia duduk di depan bersama sopir, sedangkan kami tetap pada posisi semula.

Mobil berjalan meninggalkan kota, lalu desa dan lepas meninggalkan pemukiman. Dari balik kaca depan mobil yang tampak hanya genangan air yang menggeliat di atas permukaan tanah. Sebenarnya aku kasihan pada Umar. Aku yang kurus saja merasa gerah, apalagi dia. Tapi bagi saya pribadi, perjalanan ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Bagai suku-suku Arab nomaden dalam melakukan surfive kehidupan. Ada banyak sejarah, tetesan keringat dan darah yang perlu aku renungi dari perjuangan islam sepanjang perjalanan ini. Beginikah rasanya mereka dahulu dalam menyebarkan agama? Memangkas potongan-potongan siksa untuk menebarkan pahala. Sungguh, aku merasa tidak ada apa-apa, bahkan debu yang mereka injak pun aku tak sebanding.

Perasaan jenuh gerah dan yang tak enak-enak sudah mulai berdatangan, namun kota Hamr masih jauh di ujung mata. Bosan memang membosankan, tapi di saat seperti inilah saat yang tepat untuk melatih kesabaran. Bau tak sedap keringat bercampur kunyahan daun ghot penumpang dari Harad menambah memperburuk suasana. untung saja dulu aku sudah terlatih dengan semacam ini ketika naik kereta ekonomi jurusan Jakarta. Hanya saja panas dan debunya tak separah di sini.

Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk melaksanak shalat Jamak Ta’khir, dhuhur di waktu ashar. Mobil menepi, dan semua penumpang turun. Kami mengambil air wudlu dari sebotol aqua ukuran 1,5 mili liter yang telah kami persiapkan sebelumnya. Hanya sebentar mobil kebali berjalan. Suasana sudah tak sepanas sebelumnya. Satu jam perjalanan nampak mentari mulai menuruni balik bukit dan mulai menjauhi arah laju mobil.

Di depan jauh sana aku melihat seperti ada sesosok manusia berjalan. Aku perhatikan benar siluet tersebut. Jika benar-benar orang, mungkin dialah satu-satunya pejalan kaki yang kami temui di sepanjang perjalanan. Aku mulai yakin ketika mobil semakin dekat. Nampaknya seorang wanita sebatang kara. Entahlah apa ia tertinggal dari rombongannya, atau penduduk setempat? Tapi sepanjang aku memutar mata, tidak kudapatkan pemukiman di sekeliling jalan yang kami lalui.

Mobil melintasinya perlahan. Dari dalam aku melihat wanita itu berjalan sempoyong tak berdaya. Seketika hatiku terketuk tak tega. Aku meminta sopir untuk berhenti, pedal gas diinjaknya dalam, dan ban menggasut tanah liat memunculkan asap debu.

Aku bergegas turun menghampirinya.

“Assalamualaikumm..”.

“Salamun qaulan min rabbir rahim..”[1] jawab wanita itu atas salam yang kuucapkan.

“Yarhamukillah.. wahai fulanah, apa yang kau perbuat di tempat seperti ini?”

“Wa man yudllil fala haadiya lah!”[2] jawabnya.

“Maksudmu apa?”

 “Wa man yudllil fala haadiya lah!”[3] Jawaban sama yang kudapatkan darinya.

Aku tidak paham. Lalu memanggil Xafi untuk membantu menanyainya. Xafi turun dari mobil dan berdiri di sampingku. Tapi tetap saja wanita itu menjawab dengan kalimat yang sama “Wa man yudllil fala haadiya lah!”[4] Xafi yang cerdas segera tanggap dengan jawaban tersebut. “Mungkin maksudnya: dia sedang tersesat!”

“Emm..baiklah. terus antum hendak kemana?” tanyaku lagi kepada wanita itu.

“wa atimmulhajja wal ‘umrata lillah… fa man lam yajid fashiyamu tsalatsati ayyamin filhajji wa sab’ati idza raja’tum..ala bu’dan li’adin qaumi hud…”[5] jawabnya.

Xafi tampak berpikir memahami jawaban wanita itu, lalu setelah mendapatkan ia coba menjelaskan kepadaku. “Mungkin maksudnya; ia baru saja menunaikan ibadah haji, dan sekarang ia dalam perjalanan pulang ke rumah yang kemungkinan berada di sekitar Syi’eb Hud.”

Aku mulai memahami cara berbicara wanita ini. Dia selalu menggunakan ayat-ayat Al- Qur’an dalam memberikan jawaban. Ini seperti bermain sanepo. Tidak ada jawaban yang diutarakan secara langsung. Untung saja xafi mudah tanggap dengan jawabannya.

“Wahai Fulanah, mengapa kau tak menjawab dengan biasa? Bisakah kau berbicara sepertiku? Maksudku dengan bahasa percakapan.” Aku membujuk agar dia tak lagi menggunakan bahasa Sanepo, dan percakapan kami dapat berlangsung dengan mudah.

“ma yulfadzu min qaulin illa ladaihi raqibun ‘atiid….”[6]

Astaghfirullah.. jawaban yang mematikan, aku menyerah. Sudahlah, aku tidak bisa memaksa orang untuk memahamiku, tapi bagaimana sebaiknya aku sekarang bisa memahaminya.

“Anda berasal dari mana?” lanjutku.

“wa la taqifu ma laisa laka bihi..”

“cukup..cukup” putusku. Aku semakin pusing dengan jawabannya yang tidak membantu.

Baiklah, begini saja. Beri aku jawaban yang mudah, agar aku bisa menolong, atau setidaknya membantumu?! Ee, sudah berapa hari anda tersesat?”

“tsalatsa layalin sawiyya; .” [7]

Hah, tiga hari?! 

“Emm, kelihatannya kau kehabisan makanan?”

“Huwa yuth’imuni wa yasqin: .”[8] jawabnya seolah tak perduli.

Sebenarnya aku sebal dengan percakapan yang kaku ini. Tapi aku tak tega melihatnya. 

Aku coba menggiring percakapan ini ke yang lebih baik, tentunya untuk dia. Bagaimana dia sudah tiga hari tersesat di gurun tanpa tersisa bekal. Akan tetapi bagaiman aku bisa membantunya jika percakapan masih berlangsung seperti ini. 

“Maukah kau kuambilkan makan dan minuman?”

“Tsumma atimmus shiyama ilal laili”[9]

Penolakan yang halus. Tapi aku berusaha membujuknya untuk menerima bantuan dari kami. Baiklah jika dia ingin berpuasa, tapi apakah dia tidak memikirkan kondisi tubuhnya yang sudah tak berdaya seperti itu.

“Tapi sekarang bukan bulan Ramadan!” bujukku.

“wa man tathawwa’a khairan fa innallaha syakirun ‘alim..”[10]

“Hemm.. pintar! Tapi bukankah kita diperbolehkan tidak berpuasa dalam perjalanan!” desakku.

“wa an tashumu khairun lakum in kuntum ta’lamun..”[11]Lagi-lagi hujah yang ia katakan membuatku mati kutu. Mendengar jawaban-jawaban yang tak membantu itu xafi menyuruhku untuk meninggalkan saja. Aku sendiri masih bimbang.

“Baik lah.. mohon maaf jika kami telah menganggu perjalanan anda? Sekali lagi mohon maaf..”

“La tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum….. la tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum….. la tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum..///”[12] 

Begitu aku mendengar dia memaafkanku dengan cara yang sama, hatiku tiba-tiba tersentak. Ini orang bukan sembarangan, pikirku. Jarang sekali orang berbicara demikian. Al-Qur’an dan Al-Qur’an, tidak ada yang lain.

Aku yang sebenarnya sudah mulai putus asa timbul niatan untuk memberinya tumpangan. Tapi aku tidak berhak sepenuhnya atas itu. Jadi aku perlu minta ijin lebih dahulu pada si sopir, dan penumpang lainnya. “Itu terserah kamu? Tapi apa yang lainnya setuju?” kata Xafi. “Mangkanya itu?” jawabku lalu menemui si saik. “Asalkan membayar? Sepuluh orang pun boleh?” katanya. Tapi rupanya temanku yang satunya lagi keberatan. Aku memaklumi karena Umar memang orang yang kaku, kolot, cenderung fundamentalis dalam bermazhab.

“Ini bukan soal mahrom dan tidak. Juga bukan soal halal haram, Mar! Cobalah sedikit lebih toleran..! Ini soal nyawa perempuan itu, Mar?!”

“Tetap saja tidak bisa!” jawab Umar bersikukuh pada pendiriannya.

“Baiklah, kalau tidak boleh, aku dan saleh akan tetap tinggal!” kata Xafi membelaku.

“Oh, jangan.. jangan..!” Umar ketakutan. Karena ia sebenarnya jarang bepergian dan takut bila sendiri. “Ya sudah.. Tapi jangan kau dudukkan wanita itu bersamaku!”“Kebetulan,” kata hatiku.

Xafi nyengir. Umar cemberut membuang mukanya ke kaca sebelah. Aku lalu menghampiri wanita tersebut untuk menawarkan tumpangan.

“Maukah kau ikut bersama kami?” kataku menawari.

“wa ma taf’alu min khairin ya’lamhullah; ..”[13] jawabnya berkali-kali.

Niat yang tidak sia-sia, besitku dalam hati.

Akhirnya dia menerima tawaranku. Aku mengajaknya ke mobil. Aku bukakan pintu. Lalu wanita itu segera masuk. Tanpa sengaja ketika naik kepala wanita itu terbentur ke dinding pintu. “Inna lillahi..” wanita itu terjatuh ke tanah. Jubahnya semakin penuh dengan balutan debu. Ia berusaha bangkit sendiri. Aku semakin tak tega.

“Wa ma ashabakum min mushibatin fa bima kasabat min aidikum;..” ujarnya sambil meraih badan mobil untuk bangkit.

“Ishbirii, Ya ukhti..”[14]

“Fa fahimnaha sulaiman;..”[15] balasnya santun.

Aku mempersilakan ia kembali masuk ke dalam mobil.

“Qul lil mu’minina yaghudldlu min absharihim;..”[16] perintahnya menggunakan perintah Tuhan. Ia sepertinya mau membuka khimar yang menghalangi pandangannya.

“Baiklah, kami akan memejamkan mata. Silakan masuk, Ya Ukhti!”

Saat aku buka mata wanita itu telah berada di dalam mobil. Aku segera masuk menyusulnya. Si sopir menjalankan mobilnya kembali.

“Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun;..”[17] ucap wanita itu di awal laju.

Xafi yang berpindah di jok belakang melantunkan Qasidah dari diwan haddad kesukaannya. Suaranya begitu merdu, meliuk-liuk serupa seruling. Tapi entah mengapa wanita itu tidak begitu suka, dan menghentikan dengan membaca ayat “waqshid fi masyika waghdluld mis shautik.. waqra’uu ma tayassara minal qur’an;…”[18]

Xafi berhenti bersenandung, dan si saik memelankan laju mobilnya. Aku menengok ke belakang, kulihat umar semakin cemberut. Aku senang, setidaknya ia mau toleran dengan sesama umat manusia. Hehehe, aku tersimpul di samping wanita itu, di dalam mobil yang melaju yang terasa nyenyap, tidak ada qasidah yang disenandungkan, tidak ada diantara kami yang hafal alqur’an, sedangkan wanita itu sendiri juga diam.

“Apakah anda sudah mempunyai suami?” Tanyaku coba mencairkan suasana.

“Ya ayyuhalladzina amanuu la tas`aluu ‘an asyya`a in tubda lakum tasu`kum:..”[19]

Hehehe.. Aku sudah kehabisan akal untuk mencari cara. Lagi-lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang ia lantunkan bagai senjata mematikan. Dan hal itu juga membuatku semakin yakin akan mukjizat Al-Qur’an dalam mengalahkan lawan bicara.

Kami semua diam seiring mentari tenggelam. Mobil merangkak di atas jalanan padang pasir, bagai siput menuju kota Himr. Kesunyian semakin bertambah ketika langit semakin gelap. Tidak ada suara lain di dalam keheningan senja, kecuali derum mobil yang menabuh dinding penjuru. Diantara kesepian itu, sesekali terdengar si saik dan penikmat daun ghot berbincang-bincang dengan bahasa yang tak kupahami. Bahasa arab dalam intonasi mereka terdengar seperti bahasa madura saja, membuatku geli ingin tertawa, tapi kutahan, aku takut mengganggu ketenangan wanita di sampingku. Setelah yakin memasuki waktu Maghrib aku tawarkan air dan roti. Ia menerimanya. Aku minta kepada umar untuk berbagi madu dengan wanita itu. Barangkali rasa manis dapat membantu mengembalikan staminanya.

Sungguh banyak sekali orang di negeriku yang hafal Al-Quran, namun sedikit sekali yang seperti dia. Aku teringat kata Alhabib; Al yamanu ilmu wal amal. Yaman adalah tempat ilmu dan amal. Mungkin karena itu orang di negeriku tidak, atau belum ada yang sepertinya. 

Ketika sampai di pemukiman kami segera mencari kafilah, barangkali ada diantara mereka yang mengenal perempuan yang bersama kami. Kami sadar bahwa dia tidak bisa berlama-lama bersama kami. Dalam budaya dan tradisi arab perempuan yang bukan muhrim tidak mungkin bersama lelaki lain, kecuali dalam keadaan memaksa (dlarurat). Maka aku minta kepada si saik untuk membawa kami ke penginapan yang ada di desa tersebut. Setelah bertanya pada penduduk setempat mobil bergerak pelan menuju ke tengah-tengah pemukiman, tempat satu-satunya penginapan itu berada.

“Ya Fulanah! Adakah kau mempunyai seseorang yang bisa aku hubungi?” Tanyaku dalam bahasanya.

Perempuan yang sampai saat ini belum ku tahu namanya itu hanya mengangguk. “pelit amat kau!” besitku dalam hati. Sungguh padahal di negeriku ada pepatah; barang siapa malu bertanya maka sesat di jalan. Ini orang sudah tersesat, masih pelit bicara. Aduh, pasti orang seperti ini di negeriku akan selamanya tersesat. Bukan karena dia tidak baik, melainkan apalagi di daerah sumatera, konon orang yang paling baik adalah orang yang menyesatkan penanya jalan.

“Siapa?”

“Wa qad Ahsana bii idz akhrajanii min assijni wa ja~a bikum min albadwi min ba’di an nazagha asysyaithanu bainii wa baina ikhwatii”[20]

Dengan jawaban tersebut aku tahu kalau dia terpisah dari saudaranya dalam perjalanan. Tidak mungkin orang yang ketat beragama seperti orang-orang Yaman macam dia keluar dari rumah sendirian, seperti yang sudah menjadi kebiasaan perempuan di negeriku, itu tidak mungkin. Setiap kali perempuan-perempuan Hadramiy itu keluar dari sarangnya, pasti ada satu dua keluarga yang menyertai, entah itu ayah atau saudara lelakinya. Tapi ia tidak menyebutkan siapa saudaranya itu.

“Adakah nama yang bisa aku gunakan untuk memanggil saudaramu, Ya Fulanah?”

Mendengarku mengulang pertanyaan aku berharap kali ini yang keluar dari mulutnya adalah sebuah nama, dan bukan teka-teki ayat yang harus membuatku berpikir terlebih dahulu untuk menangkap jawaban. Ia segera menjawab, tapi suara bising mobil menelan mentah-mentah suaranya yang rendah dan pelan itu. 

“Ma? Qul jahran Ya Fulanah!” bentak Umar tidak sabar.

Wanita itu sedikit terkaget dengan suara keras umar, sembari memagangi jantung lalu mengulangi jawaban. Kali ini dengan suara yang cukup keras untuk kami dengar.

“Wa attakhada Allahu Ibrahima khalila…. Ya Yahya khudzi alkitaba bi quwwah.”[21]

Hemm.. Aku kira dia akan menyebutkan namanya saja, namun ternyata nama saudaranya itu juga ada dalam deretan ayat-ayat kitab suci. Aku memandang Umar, umar mengangguk. “Yahya dan Ibarahim,” lanjutku.

“Mungkin?”

“Coba kau cari di penginapan!” ujarku kepada Umar.

“Ah, tidak. Kau saja yang keluar!” kelitnya.

“Banci!”

“Ma huwa banci?” Tanya Xafi atas bahasa asing kami.

“Banci ‘inda lughatil arab; khuntsa, ya Xafi!” jelasku

Xafi tertawa mendengarnya.

“Amma inda lughat Asbaniyyah: Afimanado” lanjut Xafi memberi dalam bahasa Spanyol.

“Tak pantas kau bernama Umar! Lebih baik jika kau kujuluki Afimanado, benarkan seperti itu?”

“Na’am.. Afimanado. Hahaha” Xafi tertawa terpingkal-pingkal.

“Kenapa tak pantas?” tampik Umar nampak marah ditertawakan.        

“Memang tak pantas. Umar itu nama seorang yang pemberani, bukan cuman keras doank! Kalau Cuma keras, Abu Lahab juga keras, alias kolot!”

Umar melawan, mencoba membantah tuduhanku atas dirinya. Dia coba memintaku untuk diam di dalam mobil. Xafi melerai percekcokan kami. Tapi aku tak hiraukan, lalu keluar menuju penginapan. Si sopir menyusul di belakangku, dan mendahuluiku ketika masuki pintu penginapan.

Perasaanku sangat jengkel terhadap Umar. Aku suka orang yang teguh dalam beragama, keras dalam mempertahankan prinsip, tapi aku tak suka dengan orang yang ‘sok’ seperti Umar. Teramat jauh perangainya bila dibandingkan dengan Umar yang habib, guru kami. Umar ini bisanya cuma meniru kerasnya saja, tidak alim apalagi saleh. Beda dengan guru kami, keteguhannya mendasar, murah senyum dan murah hati dengan umat, kendati berdisiplin keras akan tetapi untuk pribadi dan keluarganya sendiri.

Seorang syeikh yang mempunyai penginapan tersebut keluar menemui kami. Aku masih ingat, saat itu ia menyebut serta marga keluarganya. Ya, nama marga yang tidak asing bagi telinga orang indonesa macam aku, satu-satunya keluarga bermarga Baswedan di desa tersebut, seperti nama seorang tokoh yang cukup terkenal di negeriku.

Syeikh Aqil si tuan penginapan itu meminta maaf pada kami karena kamar di penginapannya sudah penuh.

“Oh, bukan itu maksud kedatangan kami ke sini?” kataku coba meluruskan kesalah-pahaman tersebut.

“Sukurlah jika memang seperti itu!” balasnya dengan logat lahm khas Yamannya.

Aku menjelaskan maksud kedatangan kami. Syeikh Aqil sangat khidmat menyimak bahasaku yang agak payah, sembari membelai-belai jenggotnya yang tak lagi hitam, bahkan sudah tampak uban pada alisnya. 

Beliau lalu mengajak kami ke atas. Aku mengikutinya menaiki tangga, sedangkan si syekh tidak ikut masih tetap di bawah. Sesampai di atap loteng kudapati  tamu-tamu penginapan sedang bersantai-santai menikmati angin malam. Beberapa orang di saftah sebelah kiri tangga duduk melingkar, membuat semacam riungan. Di tengah-tengah mereka tersaji cangkir-cangkir yang kemudian aku ketahui ternyata berisi kopi bun. Syeikh Aqil mempersilakan. “Ya, mereka lah tamu-tamu ku. Coba anda Tanya sendiri..” 

“Baik Syeikh”

Dengan harapan salah satu diantaranya adalah saudara wanita yang bersama kami, aku menghampiri mereka.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikum salam wa rahmah..”

“Afwan, apakah di antara kalian ada yang bernama Ibrahim dan Yahya?” tanyaku dalam bahasa mereka.

Mereka tidak segera menjawab, saling pandang, berbicara sangat cepat dengan bahasa lahm, terdengar seperti cericau burung manyar. Yang terdengar jelas cuma ketika mengulangi nama yang kutanyakan, “Ibrahimm,. Ibrahimm.. wa yahya.. mitsla anbiya..” ulang salah-satunya.

“Ma fi ismina Ibrahim,” jawab yang lain.

Pandanganku terjatuh. Seketika harapanku buyar kala mendapat jawaban yang nihil. Kasihan kalau tak sampai aku menemukan saudara perempuan itu. Kami tak mungkin membawanya dalam perjalanan malam ini. Sialnya lagi kamar penginapan juga sudah penuh.

“Syukran..”

Aku kembali kepada tuan penginapan. Aku berpikir meminta tolong agar memberitahukan kabar ini kepada semua tamu penginapan yang masih ada di dalam kamar. Syeikh Aqil tidak berani. Pantangan baginya mengganggu pelanggan yang sedang beristirahat, karena salah satu pelayanan yang ditawarkan penginapannya adalah kenyamanan pengunjung. Aku coba mendesaknya, merayunya, agar mau memudahkan. Tapi beliau masih bersikukuh. Lebih panjang lagi, beliau menghadirkan hadits; ma yu’min bi yaumil akhir fal yukrim dlaifahu..aku jadi tak berkutik mendengarnya.

Syeikh Aqil menawarkan untuk datang lagi besok, kami tidak bisa, sebab kami akan langsung melanjutkan perjalanan yang masih bermil-mil jauhnya, mengingat waktu sewa, karena bukan mobil pribadi. Aku sudah menyerah, dan bermaksud membawa serta perempuan itu ke Sana’a. Mungkin lewat tengah kami baru akan sampai tempat tujuan, dan waktu yang sangat lama untuk bersama wanita asing. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah mengambilnya, dan aku pula sekarang yang bertanggung jawab atas keselamatan dirinya.

Ketika turun ke lantai dua terdengar suara pintu yang dibuka. Suara tersebut berasal dari lorong ujung. Aku meminta ijin pada Syeikh Aqil untuk menunggu sebentar. Barangkali ada seseorang yang bakal keluar dari kamarnya, dan tentu harapanku orang tersebut adalah Ibrahim atau Yahya.

Suara jejakan kaki di atas lantai semakin mendekati tempatku berhenti. Lorong yang gelap tanpa penerang membuat wujud suara itu belum juga nampak, mungkin berasal dari kamar yang paling ujung. Antara sesaat kemudian lelaki berbadan tegap muncul dari belik kegelapan. Aku memberanikan diri untuk menyapa dan menghentikannya.

Betapa syukur hatiku ketika kuketahui orang tersebut bernama Ibrahim. Lantas saja ku beritahukan apa yang terjadi. Mendengar penjelasanku Ibrahim juga sangat senang. Ia jabat tanganku dan menariknya kedalam dekapannya. Seperti salaman orang pulang haji. Ia merasa bersyukur.

Aku ajak Ibrahim untuk turun ke mobil memastikan apakah perempuan tersebut adalah saudarinya. Hampir tiap langkahnya ia sertai dengan ucapan terima-kasihnya kepadaku. Aku jadi tak enak sendiri dengan sifat berlebihan itu, walau pun sebagai awam aku juga senang.

Di sudut ruang tamu si saik sudah terkapar tak sadarkan diri. Aku mengajak Ibrahim langsung keluar menuju tempat mobil diparkirkan. Xafi dan Umar kulihat sedang isis di atas permadani yang sengaja mereka gelar di belakang mobil. Sedangkan penikmat daun Ghot sudah tak bernyawa di jok depan. Pikirku juga, mungkin Umar memilih di luar karena tidak nyaman dengan wanita asing dalam satu ruangan, dan bagiku itu juga baik.

Ibrahim segera membuka pintu mobil untuk menghampiri saudaranya. Kudengar dari luar mereka berdua menangis. Barangkali adalah tangis kebahagiaan karena mereka telah dipertemukan kembali. Aku ikut terharu. Xafi dan Umar tiba-tiba telah berdiri di sampingku. Ibrahim keluar menemui kami, dan bilang kalau wanita itu benar-benar saudarinya. Aku mempersilakan ia membawanya dari kami.

Kami bertiga lalu masuk ke penginapan guna memenuhi undangannya. Lagian kami juga perlu membangunkan si sopir yang masih tertidur pulas di ruang tamu.

“Kami tunggu di sini saja..” ujarku ke pada Ibrahim.

“Baiklah. Mau kubuatkan kopi?” tawarnya kepada kami.

“tidak..tidak..” serempak kami bertiga menjawab. Karena tahu, kopi yang dimaksud Ibrahim adalah kopi bun. Ia tidak lebih manis dari jamu bagi lidah kami.

“Ya..ya,, aku tahu” sambungnya. “Kalau sahi kalian pasti suka?”

Ibrahim mengajak saudarinya naik ke kamar meninggalkan kami. Aku membangunkan si sopir. Kali ini aku lihat wajah Umar tak setegang sebelumnya. Ia sudah mulai bisa tersenyum kembali. Xafi memilih berbicang-bicang dengan Syeikh Aqil di ruang sebelah untuk menunggu. Antara beberapa saat Ibrahim telah turun kembali menyapa kami. Sesaat kemudian disusul lelaki lain yang nampaknya adalah Yahya, membawakan sahi dan roti untuk jamuan kami. Aku minta umar memanggil xafi untuk ikut bergabung.

“Bagaimana ceritanya, sampai bisa terpisah dengan saudari anda?” tanyaku untuk memulai percakapan.

“Awalnya kami pulang Haji. Dalam perjalanan di gurun terjadi badai. Kami serombongan berpencar untuk mencari tempat berlindung masing-masing. Badai berlangsung cukup lama dan parah menerjang kami. Saking parahnya, apa yang kami lihat seperti dinding tampak di depan muka. Aku sendiri berusaha menyelamatkan apa yang kami bawa, dan Yahya memegang Kendali onta. Ya, itulah kira-kira yang terjadi saat itu. Setelah badai mereda kami telah kehilangan Wudah. Kami terpisah sejak itu. 

Aku berusaha menacarinya tapi tak menemukan. Kami juga sudah menunggunya lama, tapi Wudah tidak segera muncul. Mengingat perbekalan menipis, kami memutuskan untuk singgah di desa terdekat sebelum mencarinya kembali. Rencana besok pagi kami berangkat mencarinya. Sukurlah kalian telah membawanya terlebih dahulu kepada kami.” Jawab ibrahim dalam bahasanya, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah bercakap-cakap seantara dan telah pula menikmati jamuan kami meminta undur diri. Sebenarnya Ibrahim meminta kami duduk lebih lama, namun kami memaksa berangkat, mengingat perjalanan masih cukup jauh. 

“Masya Allah, aku hamper lupa! Apakah saudari anda tidak berbicara selain itu?”

“Apa? Maksud anda, cara adik saya berbicara dengan menggunakan Ayat-ayat Qur’an?”

“Iya.”

“Seingatku, itu sudah lama, sekitar tujuh tahun yang lalu. Sejak itu ia  tidak lagi bicara kecuali dengan ayat-ayat suci.”

“Subahanallah.. Mengapa?”

“Entahlah.. mungkin dia takut kalau hafalannya hilang!” 

Ibrahim mengantarkan kami sampai mobil.

“Terimakasih.. atas jamuannya..”

“Terimakasih juga, telah membawa Wudah kepada kami..”

“Mohon doanya.. semoga selamat di perjalanan..”

“Amin.. Ma’assalamah wassahalah..”

Aku lepaskan jabat tangan Ibrahim kemudian segera menyusul Xafi dan Umar yang terlebih dahulu masuk. Mobil bergerak melanjutkan perjalanan. Ibrahim tampak masih berdiri mematung melepas kepergian kami. Perasaan menjadi lega, selega perasaan mereka.

Sekitar pukul 23: 30, mobil yang kami naiki melintas melewati Raydah. Tidak ada yang bisa kami lihat atas kota itu kecuali warna gelap malam dengan sedikit pernak-pernik lampu. Sayang perjalanan antara Himr dan Raydah kami tempuh pada malam hari. Andai saja lebih awal kami tiba, setidaknya sebelum petang, tentu kami bisa singgah ke daerah Darwan untuk menengok tempat Ashabul Jannah  berada.

Aku dengar Umar telah mendengkur tidur di jok belakang.  Sedangkan Xafi nampaknya sedang asik menyenandungkan kasidah-kasidah dari Diwan Hadad. Aku sendiri masih terngiang-ngiang akan wanita mulia itu. Bagaimana bisa dia berbicara hanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Apa dia tidak bosan? Aku tak habis pikir. Hehehe..akhlak yang sangat cantik. Walaupun aku tak sempat melihat wajahnya, aku rasa perempuan itu mempunyai bibir yang seksi. 

Sebentar kemudian aku tak sadarkan diri. Dan terbangun kembali ketika mobil telah berhenti di depan sebuah penginapan di kota Sana’a. aku lihat jam menunjukkan pukul 01.50 dini hari.

_________ [1] .Yasin 58[2] .Al A’raf 186[3] .Idem[4] .Idem [5] . Albaqarah 196 – Hud  60[6] .Qaf 18[7] .Maryam 9 [8] .Assyu’ara 79[9] .Albaqarah 187[10] .Idem 158 [11] .Idem 184 [12] .Yusuf  92[13] .Albaqarah 197[14] . “Sabarlah wahai saudara..”[15] .Al Anbiya 79[16] .Annur 30[17] .Azzukhruf 13 / 14[18] . Luqman 10 – Muzammil 20[19] .Almaidah 104[20] . Yusuf 100[21]. Annisa’ 125 – Maryam 12

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Adanya pengurangan kuota haji Indonesia, sebagian besar calon jamah haji (calhaj) mengaku pasrah. Mereka menyatakan legowo bila memang harus tertunda tidak jadi berangkat ke tanah suci Makkah pada tahun ini.

Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji

Salah seorang calon haji dari KBIH An-Nur Kudus Ahmad Sjahri menyatakan sangat menerima dengan ikhlas terhadap kebijakan pengurangan kuota dari kerajaan Arab Saudi itu.Sebab, ia teringat pesan Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi bahwa menunaikan ibadah haji merupakan fadhal dari Allah SWT.

“Bila tidak jadi berangkat, tidak apa-apa mas. Berarti kami belum memperoleh fadhal untuk menunaikan ibadah haji tahun ini,” ujarnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu (13/7).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Sjahri , kebijakan pengurangan kuota ini sudah tepat dikarenakan di tanah suci Makkah sedang ada renovasi bangunan yang bisa berpengaruh pada pengurangan tempat pelaksanaan ibadah haji. Dikatakan, pihak kerajaan arab Saudi pasti sudah mengkalkulasi daya tampung jamaah haji untukmenghindari kecelakaan jamaah haji.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Seperti foto yang dikirimkan pengurus KBIH Annur saat umroh, memang melihat lokasi renovasi tersebut. Jadi amatlah benar kalau diberlakukan pengurangan,” imbuhnya.

Meskipun belum menerima pemberitahuan resmi, Sjahri yang akan berangkat bersama istrinya ini tidak merasa risau seandainya masuk daftar tunggu tahun 2014. Menurut pengetahuannya, pertimbangan pengurangan kuota adalah calhaj dengan nomor porsi terbelakang, umur termuda dan waktu pelunasan terakhir.

“Menyadari sebagai calhaj yang masih muda, saya dan istri santai saja bila harus tertunda. Kami kembali pada dawuhnya mbah Sya’roni bahwa berangkat sekarang dan besok itu semuanya adalah fadhal dari Allah,”tandasnya.

Pernyataan senada juga disampaikan calhaj dari KBIHNU Kudus Mu’tamad. Ia menerima segala keputusan yang dikeluarkan pemerintah. “Karena nomor kursi yang saya peroleh termasuk terbelakang, jadi kemungkinan termasuk dalam daftar tunggu. Namun semua ini kita kembalikan kepada kehendak Allah,” katanya singkat.

Beberapa waktu lalu, Kepala kementrian Agama Kudus H Hambali menginformasikan calon jamaah haji yang terkena dampak pengurangan kuota haji sebanyak 200 orang Calon Haji (Calhaj) Kabupaten Kudus yang bakal tertunda keberangkatannya tahun ini. Tetapi nama-nama CJH itu belum bisa diketahui karena harus menunggu pengumuman resmi dari pemerintah pusat setelah 15 Juli mendatang dengan cara by name by addres.

Penguman nama-nama calhaj yang masuk daftar pengurangan, katanya, tidak dilakukan secara terbuka melainkan dengan pendekatan secara personal. “Hal ini untuk menghindari kerisauan para calhaj sehingga mereka tidak berkecil hati karena tidak jadi berangkat,” jelas Hambali.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bolehkan Zakat Profesi Diberikan ke Orang Tua?

Assalammualaikum wr. wb. Nama saya Sauki ustad. Saya seorang karyawan di salah satu perusahaan. Setiap bulan saya selalu mengeluarkan 2,5% dari pendapatan saya. Pertanyaan saya, apakah 2,5% tadi apabila diberikan ke orang tua apa terhitung zakat atau shodaqoh saja? Terima kasih mohon penjelasannya ustadz.

Jawaban

Bolehkan Zakat Profesi Diberikan ke Orang Tua? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkan Zakat Profesi Diberikan ke Orang Tua? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkan Zakat Profesi Diberikan ke Orang Tua?

Wa’alaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa zakat merupakan salah satu rukun Islam. Zakat menjadi kewajiban bagi setiap orang muslim yang telah memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan syariat. Menurut syara` zakat adalah sebuah nama untuk menyebutkan kadar harta tertentu yang disitribusikan kepada golongan tertentu dengan pelbagai syarat-syarat tertentu pula.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Zakat adalah sebuah nama untuk menyebutkan kadar harta tertentu yang didistribusikan kepada kelompok tertentu pula dengan pelbagai syarat-syaratnya”. (Muhammad al-Khatib asy-Syarbini,Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 1, h. 368)

Dengan mengacu kepada definisi di atas maka harta-benda yang wajib dizakati (mal zakawi) merupakan harta tertentu, seperti pertanian, emas-perak, perdangan, dan termasuk juga penghasilan. Tentunya dengan persyaratan-persyaratan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqh.

Disamping itu zakat juga harus didistribusikan kepada kalangan tertentu pula, yaitu delapan golongan (al-ashnaf ats-tsamaniyyah) yaitu orang-orang fakir, miskin, amil, mu`allafatu qulubuhum (orang yang perlu dilunakkan hatinya kepada Islam), budak-budak yang dalam proses memerdekan diri, orang-orang yang berhutang, orang yang sedang menuntut ilmu (fi sabilillah), dan orang yang dalam perjalanan. Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman Allah swt sebagai berikut:

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ?:60

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S. At-Taubah [9]: 60)

Apa yang dikemukakan ayat di atas tidak satu pun menyebutkan kedua orang tua sebagai salah satu golongan yang berhak menerima zakat. Dari sini saja kita sudah dapat memahami bahwa seorang anak tidak boleh memberikan zakatnya kepada kedua orang tua. Sebab, anak adalah bagian dari keduanya.

Dengan kata lain, jika seorang anak memberikan zakatnya kepada kedua orang tuanya maka ia seolah-olah memberikan kepada dirinya. Sebab, ia adalah bagian dari mereka. Dan harta yang dimiliki seorang anak itu juga merupakan harta kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadits dikatakan:

 ? ? ? -? ?

“Kamu beserta hartamu adalah milik orang tuamu” (H.R. al-Bazzar).

Dengan demikian, pada dasarnya memberikan zakat kepada kedua orang tua hukumnya tidak diperbolehkan. Namun apakah ketidakbolehan ini berlaku secara mutlak? Dalam hal ini menurut Ibn al-Mundzir bahwa ketidakbolehan memberikan zakat kepada kedua orang tua ketika dalam kondisi dimana si pemberi zakat harus dipaksa untuk memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Para ulama telah sepakat (ijma`) bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada kedua orang tua dalam kondisi dimana si pemberi zakat (muzakki) harus dipaksa untuk memberi nafkah kepada orang tuanya.”. (Ibn al-Mundzir, al-Ijma`, ‘Ajman-Maktabah al-Furqan, cet ke-2, 1420 H/1999 M, h. 57)

Apa yang dikemukakan Ibn al-Mundzir menunjukkan bahwa ketidakbolehan memberikan zakat kepada kedua orang tua itu dibatasi dalam kondisi dimana si muzakki (orang yang wajib membayar zakat) berkewajiban memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya. Hal ini mengandaikan si anak menjadi orang yang mampu sedang orang tuanya tidak. Maka kewajiban si anak memberikan nafkah kepada orang tuanya.

Dalam kondisi yang seperti ini jika seorang anak memberikan zakatnya kepada orang tua,  maka menjadikan mereka tidak membutuhkan nafkah darinya serta gugurnya kewajiban anak memberikan nafkah kepada orang tua. Akibatnya, manfaat dari zakat itu malah kembali kepada si anak, dan seolah-olah ia mengeluarkan zakat untuk dirinya.         

Berangkat dari penjelasan singkat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian 2,5 % dari penghasilan—sebagaimana pertanyaan di atas—yang ada diberikan kepada orang tua bukan masuk kategori zakat, tetapi masuk kategori shodaqoh sebagai bentuk ihsan atau berbuat baik kepada kedua orang tua.

Namun jika orang tua ternyata tidak mampu, maka pemberian tersebut bisa dikategorikan sebagai nafkah kepada mereka. Sebab, kewajiban anak adalah memberi nafkah kepada orang tua apabila mereka adalah orang yang tidak mampu.

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Dan sebagai pengingat dari kami, berbuat baiklah kepada kedua orang tua karena merupakan sebuah kewajiban. Dan jangan pernah mengungkit-ungkit pemberian kita kepada orang tua, karena itu akan menyakitkan hati mereka. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Majikan Dungu Sakit Gigi

Seorang majikan dungu sudah dua hari sakit gigi keras. Ia sebentar-sebentar memegang rahang. Sementara tangan satunya memijit kepala. Rebahan, salah. Duduk, tidak betah. Berdiri, gelisah.

Ketimbang bicara, ia lebih sering marah-marah tanpa sebab yang jelas. Marah pun tak jelas siapa yang dituju. Pokoknya nyeri gigi, hebat luar biasa.

Majikan Dungu Sakit Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Majikan Dungu Sakit Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Majikan Dungu Sakit Gigi

“Kalau ketemu dokter, aku akan sampaikan semua keluhan sakit gigiku yang tak tertahankan ini agar ia dapat memberi obat yang manjur,” kata si dungu.

“Kalau sakit gigi tuan sudah parah begitu, mana sanggup tuan banyak bicara,” jawab babunya yang lebih sehat baik lahir maupun mental. (Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

*) Dikutip dari Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin (Hikayat Orang Dungu dan Orang Lalai) karya Inul Jauzi. Judul oleh pengutip.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Umar Syahid atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Tumbu oleh masyarakat Pacitan, Jawa Timur mempunyai kisah tersendiri kala berhadapan dengan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.?

Kisah tersebut diceritakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahldatul Ulama (PBNU) KH Abdul Mun’im DZ saat menjenguk Mbah Tumbu beberapa hari sebelum wafat.

Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI

“Saat persitiwa pemberontakan oleh PKI 1948 di Madiun, beliau sedang jualan di sana dan menyaksikan langsung pembantaian para ulama,” terang Mun’im.

Jualan, lanjut penulis buku Benturan NU dan PKI ini, adalah salah satu cara agar Mbah Umar selamat karena dikira orang biasa.?

“Dia menjadi informan bagi para kiai untuk menghadapi PKI. Sebab dia bisa berjalan ke mana saja tanpa dicurigai PKI,” ujar pria yang aktif melakukan pengkaderan warga NU dalam wadah Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mbah Umar Tumbu termasuk kiai tertua di Indonesia yaitu berusia 132 tahun. Usia tersebut diakuinya sendiri ketika Mun’im dan kawan-kawan menjenguknya di Pacitan. Mbah Tumbu wafat pada Rabu (4/1) pukul 22.55 WIB di RSUD Pacitan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sesepuh Pacitan ini adalah santri dan teman perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari. Waktu mudanya, sesepuh Pacitan tersebut hidup sebagai kiai kelana dengan jualan Tumbu (wadah dari anyaman bambu, sejenis gerabah).

“Karena itu beliau dikenal dengan sebutan Mbah Tumbu,” jelas Mun’im.

Hasil jualan Tumbu, imbuhnya, digunakan Mbah Umar Tumbu untuk membangun musholla dan masjid di sekitar Pacitan, Ponorogo, dan Madiun.

Mbah Umar merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Nur Rohman, Jajar, Donorojo, Pacitan. Pada masa remaja, ia nyantri di Pesantren Tremas Pacitan dibawah asuhan KH Dimyathi Abdullah.

Kecintaanya pada NU dibuktikan dengan istiqamahnya yang selalu hadir dalam tiap acara pengajian atau acara keagamaan yang digelar oleh NU atau pesantren. Dan selalu menunggui hingga acara selesai.

Mbah Tumbu juga disebut-sebut sebagai azimat-nya masyarakat Pacitan dan Nahdliyin pada umunya. Terbukti kediamannya tidak pernah sepi dari para tamu yang sowan meminta nasihat atau doa darinya. Karena itulah ia dikenal sebagai kiai pelayan umat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sekolah kader Kopri digelar secara nasional di Hall Oesman Mansoer UIM, Malang, Kamis (20/11). Sekolah ini menghadirkan narasumber dari pelbagai kalangan mulai dari politikus, penulis, akademisi, dan aktivis sosial.

Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga

Pada kesempatan pembukaan Nisaul Kamilah mendorong perempuan untuk banyak berkiprah. "Banyak ruang dan cara untuk perempuan dalam berkarya."

"Kader Kopri hari ini harus lebih menguatkan kapasitas keilmuan dan pengetahuannya. Karena, untuk menjadi seorang perempuan yang bernilai di masyarakat ia harus berwawasan dan berhati lapang," imbuh Irma menutup acara Talk Show Pra SKK PMII Malang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Sekolah Kader Kopri (SKK) I yang diadakan Kopri Kota Salatiga, melibatkan pengurus Kopri seprovinsi Jawa Tengah. Sekolah kader ini berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad (21-23/11) di sekolah alam Quryah Toyyibah, Salatiga.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada kesempatan sekolah ini mereka merumuskan strategi perempuan dalam menghadapi perubahan sosial di tengah era Global. Kegiatan ini diikuti sedikitnya 30 utusan cabang Kopri se-Jateng. Mereka yang hadir antara lain datang dari Semarang, Purworejo, Kudus, Blora, Yogyakarta, Wonosobo Temanggung dan Pekalongan.

“SKK I sengaja mengundang Kopri PMII se-Jawa Tengah untuk belajar dan diskusi bersama, saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dari satu cabang ke cabang lainnya,” kata Ketua Kopri PMII Kota Salatiga Winda. (Diana/Sri/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro

Bojonegoro, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Syekh Muhammad Fadhil al-Jailani al-Hasani menghadiri peringatan hari lahir ke-93 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani Meriahkan Harlah NU di Bojonegoro

Syekh Fadhil memberikan ijazah (sanad keilmuan) kepada para jamaah yang hadir, berua shalawat dan lainnya, yang dibacakan dengan menggunakan bahasa Arab. Setelah membacakan ijazah itu, para jamaah secara serentak mengucapkan qabilna atau kami terima.

Di hadapan ribuan warga NU, ia mengaku hanya Indonesia yang paling ia senangi selama berkeliling dunia. "Sudah sembilan tahun datang ke Indonesia, tidak pernah merasa menjadi orang asing di Indonesia. Indonesia negera kedua saya," kata Syekh Fadhil, melalui penerjemah Abdul Aziz Ibnu Abdil, Sabtu (23/4) itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syekh Fadhil juga menjelaskan tentang keistimewaan angka tujuh. "Hikmah angka 7 banyak, angka itu keramat, angka istimewa," katanya yang juga memaparkan bahwa setiap perbuatan baik diganjar 10 dan setiap sepuluh itu berlipat tujuh, sehingga menjadi 70. Syekh Abdul Qodir juga dikatakan sebagai wali tingkat tujuh di antara wali-wali yang lain.

Acara digelar di halaman Yayasan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin (YPPRT) Balen. Cucu Syekh Abdul Qodir al-Jailani asal Turki itu mendapat sambutan hangat dari warga NU. Usai kegiatan, jamaah yang berbaju putih-putih secara bergantian berjabat tangan dengannya secara tertib.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum pengajian dimulai, momen peringatan harlah ke-93 NU ini diisi acara pengukuhan para pengurus baru Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Balen. Ketua MWCNU Kecamatan Balen H Mulazim menyebut para pengurus baru sebagai generasi mendatang kepemimpinan NU. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KBIHNU Gelar Taaruf Jamaah Calon Haji

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Nahdlatul Ulama (KBIHNU) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menggelar Ta’aruf Jamaah Calon Haji (JCH) tahun 2014/1435 H di Gedung NU lantai 2, Jalan Pemuda No.51, Ahad (9/2).

KBIHNU Gelar Taaruf Jamaah Calon Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIHNU Gelar Taaruf Jamaah Calon Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIHNU Gelar Taaruf Jamaah Calon Haji

Kegiatan yang diikuti 100 orang tersebut dihadiri KH Ahmad Kholil (Rais Syuriah PCNU), KH Asyhari Syamsuri (Ketua PCNU), KH Imam Abi Jamrah (Wakil Ketua KBIHNU), KH Abdul Hamid Suyuti (Pembimbing KBIHNU) dan H Ali Arifin (Bidang pelaksanaan Ibadah Haji Kemenag Jepara).

KH Imam Abi Jamrah, Wakil Ketua KBIHNU kepada ratusan orang yang hadir mengatakan, sebelum menunaikan ibadah haji, jamaah diharapkan menunaikan tiga hal, yakni mengetahui ilmu haji, tobat dan memohon ampunan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal itu dikemukakan Kiai Abi Jamrah sebagaimana mengutip pendapat Imam Ghazali. “Yaitu meminta ampunan kepada Allah dan sesama manusia,” jelasnya.

Meminta ampun kepada Allah bisa dilaksanakan dengan intensitas beribadah kepada-Nya. Sementara kepada sesama manusia, lanjut Katib Syuriah PCNU ini, meski agak susah dilaksanakan, harus tetap dilakukan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di samping itu, JCH harus mengetahui ilmu tentang ibadah haji. Senada dengan Kiai Abi Jamrah, KH Asyhari Syamsuri, Ketua PCNU menambahkan, mengetahui ilmu tentang haji berarti mengetahui dasar al-Qur’an dan hadits serta ijtihad ulama.

Apalagi Kepala SMKN 3 Jepara itu juga mengutip hadits yang intinya yang menginginkan dunia dan akhirat harus dengan ilmu. Kiai Asyhari juga menjelaskan posisi seorang pembimbing ibadah haji laiknya pembimbing “skripsi”.

Sehingga, yang dibimbing lanjutnya mempunyai hak penuh untuk? melaksanakan ibadah sesuai aturan. Tidak asal-asalan. “Suami istri juga harus paham masing-masing. Agar disana tidak saling nebeng. Karena ibadah ini bersifat individu,” tambahnya.? ?

Bidang Pelaksanaan Ibadah Haji Kemenag Jepara, H Ali Arifin lebih banyak menyampaikan teknis pelaksanaan ibadah haji. Diantaranya JCH melaksanakan tiga kali bimbingan: kelompok, bimbingan di kecamatan dan di kabupaten.

Sementara, M Nasrullah Huda dari Sekretariat KBIHNU mengungkapkan pihaknya memberikan pelayanan ekstra kepada JCH. Alhasil, KBIH yang telah beroperasi sejak 2004 itu membagi dalam beberapa wilayah: Keling-Donorojo, Kembang-Bangsri-Mlonggo-Pakis Aji, Tahunan-Batealit-Kedung, Pecangaan dan Nalumsari-Mayong-Welahan.

Di samping itu, Huda menyinggung tentang transparansi anggaran KBIH agar semua pihak mengerti dan tidak ada yang dikecewakan. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah