Ia menyampaikan hal itu saat memberikan pengantar pada acara Launching dan Bedah Buku “Ruang untuk yang Kecil dan Berbeda” yang digelar Lakpesdam PBNU di di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (26/7).
| Saling Mengenal Kunci Menyisiati Keragaman (Sumber Gambar : Nu Online) |
Saling Mengenal Kunci Menyisiati Keragaman
Ia mengatakan, pemaknaan kata lita’arafu itu tidak mandeg karena dalam beberapa hal juga diharuskan lita’arafu. Setidaknya dalam keberagamaan dan kelas ekonomi.Pertama, lita’arafu dalam hal keberagamaan, menurutnya, konflik yang terjadi diberbagai tempat itu banyak terkait dengan keberagamaan. Hambatan inklusivitas itu urusan sara yang paling kencang, terutama urusan keberagamaan. Namun, dalam kehidupan akhir-akhir ini yang terjadi adalah ekslusivitas.
“Sementara ajaran NU itu inklusif tidak terbatas pada bainal muslimin, siapa pun dia, apa pun kelasnya untuk masuk ke sana,” jelas pria yang juga menjabat Rektor UNU Indonesia ini.
Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Kedua, lita’arafu dalam kelas (ekonomi atau status sosial). Menurut pria kelahiran Demak, Jawa Tengah ini, lita’arafu dalam kelas itu harus inklusif dalam kehidupan, konsekuensinya wajib menyapa si miskin, menyapa anak yatim.“Dan kedua atribut ini menjadi catatan besar kalau tidak mau disebut yukadzibu biddin, mendustakan agama,” katanya.
Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Pada acara ini hadir tiga pembicara; koordinator peneliti Ahmad Zainul Hadi, Bupati Bondowoso H. Amin Said Husni, dan peneliti LIPI Irene H. Gayatri. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id
Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Quote, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar