Kamis, 30 Mei 2013

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu

Karanganyar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menjelang datangnya bulan Ramadhan, kalangan abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta yang diutus langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X mengadakan Upacara Labuhan di Gunung Lawu, Jumat (30/5) sore. Dipilihnya Gunung Lawu sebagai lokasi upacara karena dulu sempat dijadikan tempat pertapaan para Raja Mataram.

Dalam Upacara Labuhan ini, juru kunci Gunung Lawu dipasrahi ubo rampe atau sesaji oleh para abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta. Ubo rampe tersebut dimaksudkan sebagai lambang terima kasih kepada Allah swt. yang memberi keberkahan bagi masyarakat setempat.

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu

Tradisi ini rutin dilakukan setiap tanggal 30 Rajab atau sebulan sebelum memasuki bulan Ramadan. “Ini juga sebagai ungkapan syukur kepada leluhur yang telah membantu berjuang untuk Kerajaan Mataram di masa lalu,” kata Abdi Dalem Widyo Budoyo, Kanjeng Mas Tumenggung Hardoyudo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abdi dalem telah menyiapkan ubo rampe yang dimasukkan dalam dua kotak kayu berwarna merah yang bertuliskan Redi Lawu Kanemah dan Redi Lawu Kasepuhan. Selain ubo rampe, juru kunci gunung setinggi 3.265 meter ini juga diberikan kain adat jawa oleh abdi dalem.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah diterima, aneka ubo rampe dibawa ke Pepunden di Dusun Nano, Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu untuk diarak bersama warga setempat. Untuk kemudian tepat pada pertengahan malam, dibawa naik ke puncak Lawu.

Kepala Lingkungan Dusun Nano, Surono mengaku senang bisa menyambut para utusan Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Ini memang sebuah tradisi yang harus dipertahankan,” tuturnya. (Rodif/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 Mei 2013

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat kelas dua madrasah aliyah A Hisyam Karim (39) secara tidak sengaja membaca buku Filsafat Eksistensialisme. Rupanya buku filsafat itu membuatnya tertarik untuk mempelajari filsafat lebih lanjut.

"Sejak saat itu saya berpikir filsafat itu menarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi," kata Hisyam di Subang. Jumat (20/5).

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Setelah lulus aliyah pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuludin Universitas Islam Bandung (Unisba). Dua tahun kemudian, keinginan untuk mempelajari filsafat membuat Hisyam pindah kuliah ke Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Jakarta.

"Saat mondok hanya disajikan satu kebenaran saja, tapi pas kuliah di filsafat ternyata kebenaran itu banyak. Makanya dulu teman saya ada yang pakai salib, tidak sholat dan lain-lain karena punya landasan berpikir tersendiri," tambah pendiri Forum Studi M@kar (Manbaul Afkar) Ciputat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah lama berkecimpung dalam dunia filsafat, muncul kegelisahan dalam batinnya karena diakuinya filsafat untuk konsumsi akal. Sementara hati yang menjadi tempat aneka rasa tidak terisi sehingga batinnya menjadi hampa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam melanjutkan, setelah lulus kuliah pada tahun 2004 Hisyam sering sowan kepada Kiai Nawawi yang merupakan sahabat bapaknya. Kemudian pada tahun 2009, Hisyam memberanikan diri untuk bercerita kepada Kiai Nawawi tentang kegelisahan batinnya.

"Saat itu dengan sikap tawadlu Kiai Nawawi mengantar saya ketemu kakaknya, Kiai Sayuti," ungkapnya.

Hisyam menceritakan, Kiai Sayuti adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi adalah khalifahnya. Saat bertemu dengan Kiai Sayuti, Hisyam langsung dibaiat menjadi murid Tarekat Syattariyah.

"Setelah dibaiat, sambil salaman. Alhamdulillah, usai salaman dengan Kiai Sayuti kegelisahan batin yang mengendap dalam diri saya langsung hilang saat itu juga, langsung plong," jelas alumni Pascasarjana STAINU Jakarta yang menulis tesis tentang Peran Kiai Sayuti dalam Menyebarkan Tarekat Syattariyah Itu.

Hisyam mengakui, filsafat memang penting untuk dipelajari karena berdasarkan pengalamannya, dengan mempelajari filsafat manusia bisa berpikir terbuka namun tetap kritis sehingga dalam menerima pemikiran tidak menelan mentah-mentah.

"Selain itu juga dengan belajar filsafat kita bisa berusaha untuk bersikap adil. Kita juga bisa menemukan solusi aneka masalah dengan menggunakan teori-teori filsafat, dan masih banyak lagi tentunya," jelas Hisyam yang saat ini menjabat Ketua NU Caracas itu.

Namun demikian, menurut Hisyam, dalam mempelajari filsafat sebaiknya dibarengi juga dengan mengamalkan ajaran tasawuf seperti masuk salah satu tarekat mutabarah. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan kebutuhan hati.

"Sekali lagi saya tegaskan, ini subjektif pengalaman pribadi saya, tentu yang lain juga punya pengalaman sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 Mei 2013

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Jaringan Lintas Iman Nusantara menggelar "Silaturahmi dan Dialog Kultural" di food court Denala, Jombang, Jawa Timur. Temanya, "Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama". Pada kesempatan itu, Ketua Umum Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Nia Sjarifudin mengingatkan negara melalui aparaturnya harus paham Pancasila.

"Apakah saat ini aparatur negara paham Pancasila atau tidak? Jika tidak ini menjadi persoalan," ujar dia, Sabtu (1/8) malam terkait tumbuhnya fenomena perlawanan-perlawanan terhadap Bhineka Tunggal Ika.

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Pada kegiatan dimoderatori Aan Anshori dari Gusdurian Jawa Timur itu, Nia menegaskan keberagaman ialah takdir Tuhan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Siapa berani melawan Tuhan yang telah menggariskan keberagaman? Cara kita berpikir dan berkelakuan itu juga harus arif. Agama tidak boleh mendominasi kepentingan publik, konstitusi kita menyebut setiap orang, apapun latar belakangnya. Tantangan bangsa Indonesia saat ini ialah kecerdasan kita harus lebih menang dari puritanisme," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di beberapa tempat di Indonesia menegaskan Indonesia masih memerlukan Pancasila yang merupakan bagian dari 4 (empat) konsensus kebangsaan sebagai landasan dan pedoman untuk meyatukan berbagai elemen di tanah air ini. 

Indonesia, ujar Wakil Ketua II PC Fatayat NU Waykanan Provinsi Lampung Ponita Dewi, terdiri dari 1.128 suku bangsa dan bahasa, ragam agama dan budaya, lebih kurang 17.508 pulau yang membentang dari 6,08 LU - 11,15 LS dan 94,45 BT - 141,05 BT.

Konsepsi tentang dasar negara Indonesia dirumuskan dengan merangkum lima prinsip utama (sila) yang menyatukan dan menjadi haluan ke-Indonesiaan, yang dikenal dengan "Pancasila",  yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Karena itu, menjadi mengejutkan ketika masih ada kekerasan atas nama agama di Indonesia beberapa pekan lalu," ujar Ponita yang beberapa hari lalu diminta menjadi moderator Riungan (kumpulan) Kebangsaan dihelat Gusdurian Lampung dan sejumlah pihak berpandangan sama mengenai kebangsaan dan kemanusiaan.

Riungan Kebangsaan merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Riungan Kebangsaan berisi donor darah dan diskusi kebangsaan membahas "Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?" dengan pembicara I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan, Ketua PC Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Supri Iswan. 

Dengan menjadi moderator dalam acara itu, katanya, berarti ikut aktif dalam mensosialisasikan 4 (empat) konsensus kebangsaan, salah satunya adalah Pancasila. 

"Selain mendapatkan ilmu, secara otomatis ikut memberikan kesimpulan kemudian menggali lagi Pancasila. Riungan Kebangsaan mengingatkan kembali lima sila yang menjadi ideologi negara, yang mana nilai-nilai Pancasila tersebut harus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena tanpa kita sadari nilai-nilai Pancasila itu sudah mulai luntur," papar Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 itu pula.

Adapun Presiden Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) HM Syaiful Bahri Anshori menegaskan,  4 (empat) pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika harus disosialisasikan secara berkesinambungan.

"Sosialisasi empat Pilar Kebangsaan menjadi sangat penting dan urgen untuk selalu dilakukan secara sustainable, sistematis dan berkesinambungan sebagai refreshing dan reformating untuk menumbuh kembangkan kembali cita cita luhur para founding father kita tentang konsepsi pendirian negara kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai empat  pilar yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita," ujar anggota DPR RI dari PKB itu. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah