Minggu, 21 Desember 2014

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Terus molornya penyelesaian kasus lumpur Lapindo Sidoarjo, sangat mengecewakan warga Kota Petis itu. Apalagi proses verifikasi tanah yang semakin rumit dan semakin banyak saja persyaratan yang diminta oleh pihak PT Minarak, perusahaan yang diminta Lapindo membayar ganti rugi. Warga semakin kecewa. “Penanganan lumpur selama ini sangat-sangat-sangat kurang maksimal,” kata Drs H Abdi Manaf, Ketua PCNU Sidoarjo di Surabaya, Sabtu.

Ia mencontohkan, kalau dulu, Lapindo belum mengakui tanah yang berstatus petok D dan letter C, lalu minta disetujui Bupati. Ketika Bupati dan pemerintah pusat sudah mengakui, bahkan bupati bersedia menjadi jaminan, ternyata Minarak menambah syarat lagi, yaitu riwayat tanah. “Ini jelas semakin mempersulit warga,” lanjut Gus Manaf. “Tampaknya memang ada kesan Lapindo sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran ganti rugi pada warga,” lanjutnya.

Yang membuat hati alumnus Pesantren Tebuireng Jombang itu tidak enak, ternyata selama ini pihak Lapindo masih belum merasa bersalah atas musibah itu, sekalipun sudah ribuan orang hidup di pengungsian dan kehilangan harta benda. Kesimpulan itu diterima Gus Manaf ketika bertemu langsung dengan Andi Darussalam dari PT Minarak. Kalaupun Lapindo selama ini mau mengeluarkan uang, hal itu semata-mata hanya karena tanggung jawab sosial.

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Penyelesaian lumpur Lapindo yang diinginkan warga, menurut Gus Manaf, sebenarnya tidak muluk-muluk. Pemerintah memberikan jaminan ganti rugi kepada warga, lalu seluruh aset Lapindo dijadikan jaminan kepada pemerintah. Selesai. “Kalau pemerintah bilang tidak punya uang, buyar saja negara ini, masak negara kok tidak punya uang untuk memberikan ganti rugi warganya,”? terang putra Bawean itu.

Tapi sayang, pemerintah tampaknya tidak punya keberanian untuk melangkah ke sana. Sedangkan pihak Lapindo hanya mengobral janji-janji terus, nyaris tak ada pembuktian. Pemerintah juga tidak berani mengambil langkah lebih tegas lagi pada perusahaan milik keluarga Bakrie itu.

Gus Manaf tidak bisa membayangkan sampai kapan proses verifikasi tanah warga akan selesai. Sebab, dari 16 ribu warga yang akan diverifikasi, hanya terselesaikan 10 sampai 15 orang setiap harinya. Itupun belum termasuk yang harus dikembalikan berkasnya, karena dinilai belum lengkap. “Terus kapan selesainya?” tanyanya tak habis mengerti.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di sisi lain, ia menilai peranan empat orang anggota DPD asal Jawa Timur dalam soal Lumpur Lapindo masih sangat kurang. Sebab mereka baru datang ke lokasi lumpur setelah musibah itu berlangsung lebih dari satu tahun. Tepatnya sekitar tiga hari lalu. “Katanya sih untuk menyerap aspirasi,” tutur Gus Manaf.

Penanganan lumpur selama ini, kata Gus Manaf, ibarat lingkaran setan. Pemerintah tidak berani menjadi jaminan, sedangkan Lapindo yang menyatakan sanggup membayar ganti rugi, ternyata hanya mengobral janji. “Kalau begini terus, kan kasihan orang-orang itu,” tegasnya. (sbh)



Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Desember 2014

Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Seiring perkembangan zaman, media merupakan salah satu bagian penting yang tak dapat dipisahkan lagi dengan kondisi sosial masyarakat. Pasalnya, media adalah sebuah acuan atau tolak ukur berkembangnya suatu negara. Lalu sejauh mana peran media massa? Ada banyak jawaban yang diajukan oleh para pakar sosial mengenai peran media massa terhadap isu yang berkembang di masyarakat. 

Demikian pembicaraan yang menguak dalam pemaparan singkat diskusi media massa dan NU, yang disampaikan oleh kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah wilayah Tegal Abdul Muiz dalam Latihan Kader Muda (Lakmud) yang dikemas oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdltul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Tarub, baru-baru ini di SDN Gedongan Sayang Kecamatan Tarub. 

Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat

Muiz menjelaskan media massa juga bisa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. Media memiliki andil yang penting dalam mengajak masyarakat untuk memerangi kekerasan dan tindak kriminalitas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat,” katanya.

Dalam diskusi yang diikuti oleh 90 peserta itu, ia juga menceritakan tahun 20 sampai 30-an, media-media NU bergerak dalam penguatan akidah ahlusunah wal jama’ah. Pada tahun 50-an warga NU memiliki media Duta Masyarakat yang memiliki pengaruh yang sangat kuat apalagi NU menjadi partai terbesar ketiga dalam pentas nasional sehingga Duta Masyarakat selalu dinanti oleh masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kendati demikian, tantangan kita saat ini ialah maraknya kelompok fundamintalis Islam dan liberal yang merongsong akidah Islam. Mereka sangat gencar, hingga mereka menerbitkan tafsir Alquran sendiri. Itu semua harus dihadapi oleh NU. Melihat karakter media NU tahun 20-60-an dan sekarang ini, warga NU diharuskan meluruskan tema dan isu sekaligus membangun strategi redaksional yang memadai,” tukasnya.

Diakhir sesi banyak pertanyaan yang terlontar dari peserta, sehingga jalannya diskusi semakin hangat. Rekomendasi dari kegiatan diskusi itu adalah adanya tindak lanjut dengan menggelar kegiatan yang lebih intensif semacam diklat jurnalistik. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Nahdlatul Ulama, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Desember 2014

Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 100 siswa SMA Walisongo Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dalam keadaab berpuasa mereka digembleng Patriotisme oleh Komando Rayon Militer (Koramil) setempat. Mereka mendapatkan materi tentang kebangsaan agar tertanam jiwa Pancasilais, patriotisme, dan nasiolisme.

Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme

“Kita harus menggelorakan kembali semangat Pancasila dan nilai nilai kebangsaan kepada generasi muda, termasuk anak-anak sekolah,” ujar Danramil 15 Ketanggungan Solehudin saat membuka acara Pekan Pancasila Koramil 15 Ketanggungan, di SMA Walisongo Ketanggungan, Sabtu (10/6)

Solehudin mengaku bangga dengan masih banyak siswa yang memiliki jiwa patriotisme, pancasilais dan nasionalis. Namun demikian perlu dilakukan penanaman lebih mendalam lagi mengingat era sekarang banyak sekali paham-paham yang mengajak kepada paham radikalisme yang berusaha merongrong Pancasila dan Keutuhan NKRI.?

Kita harus waspada dengan pergerakan yang mengarah kepada perpecahan bangsa. Karena terbukti, para pelaku tindakan teror mayoritas masih berusia muda yang masih labil dan gampang dikibuli dengan dalih agama.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umi Hidayah dan Dwi Mulyana kelas 11 IPA mengaku senang dan bersemangat mengikuti kegiatan pekan Pancasila meski diadakan di bulan puasa. “Suasana menjadi cair, semangat, senang berpadu menjadi satu, pokoknya hepi dech,” ujar Umi.

Kegiatan Pekan Pancasila diisi dengan ceramah oleh Danramil dengan outbond yang dipandu oleh 6 anggota TNI. Outbond antara lain memainkan tandu bola, hola hop, tandu air, estafet air dengan mata tertutup, estafet bambu di leher dan lain-lain.?

“Para siswa juga di test mengucapkan Pancasila, yang ternyata ada satu siswa yang terlihat grogi sehingga mengucapkannya terbalik, seharusnya sila ketiga yang diucapkan sila keempat,” sambung Kepala SMA Walisongo Ahmad Amin yang ikut mendampingi acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Amin menyakini, setelah siswanya mengikuti pekan Pancasila bisa tertanam jiwa saling gotong royong, persatuan dan kesatuan, kekompakan dan patriotisme serta nasionalismenya tumbuh. “Keseimbangan lahir dan batin, jiwa dan raga harus berpola dengan baik sebagaimana yang termaktub dalam agama dan Pancasila,” terang Amin.

Selain pekan Pancasila, lanjut Amin, SMA Walisongo juga menggiatkan berbagai kegiatan Islami seperti Tadarus, Lomba Khitobah, Tartil dan Maulid Barzanji. Sedangkan Pesantren Ramadhan bakal digelar pada 12-15 Juni. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 14 Desember 2014

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Seperti tahun sebelumnya, tahun ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar Kirab Resolusi Jihad NU. Penyelenggaraan kirab sebagai salah satu bentuk peringatan Hari Santri Nasional 2016, akan menempuh sekurang-kurangnya 2000 kilometer dan memakan waktu sepuluh hari. Para peserta diharapkan untuk dengan ikhlas menjalankan kegiatan ini, sekaligus menyiapkan fisik, karena jarak tempuh yang jauh dan lamanya waktu.

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari

Hal itu muncul dalam rapat koordinasi Kirab Resolusi Jihad NU 2016 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Ahad (9/10) sore.

Aizuddin Abdurahman mewakili panitia mengatakan, Kirab Resolusi Jihad NU tahun ini mengalami perkembangan yang luar biasa. Kirab tahun ini juga lebih istimewa karena animo, ekspektasi, dan harapan atas terselenggaranya kirab.

Selama perjalanan kirab, rombongan akan bersilaturahim kepada para kiai serta pengurus NU di daerah, berdialog, dan bersosialisasi dengan warga NU. Selain itu peserta kirab juga akan diajak melakukan ziarah ke makam pendiri dan pejuang NU. Oleh karena itu peserta kirab diharapkan ? benar-benar menjaga semangat kekhidmadan kirab karena bernilai sejarah.

Sebanyak kurang lebih delapan puluh orang diberangkatkan dalam kirab yang dimulai di Banyuwangi pada 13 Oktober hingga tiba kembali di Jakarta pada 22 Oktober. Para peserta adalah perwakilan seluruh lembaga dan badan otonomi di bawah PBNU. Pemberangkatan peserta dari Jakarta dilakukan Selasa, 12 Oktober menggunakan kereta api, dan tiba di Banyuwangi Rabu, 13 Oktober.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setiba di Banyuwangi peserta akan menggunakan lima armada bus. Dari Banyuwangi peserta kirab dijadwalkan akan mengunjungi Situbondo, Probolonggo, Pasuruan, Malang, Sidoarjo, Bangkalan, Bubutan pada ? 14 Oktober. Hari berikutnya, 15 Oktober, rombongan akan memasuki Surabaya, Mojokerto, Rejoso, Jombang, Kertosono, Kediri.

Pada Ahad 16 Oktober, rombongan terjadwal mengunjungi Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun. Menginap semalam di Madiun, esok harinya 17 Oktober, rombongan akan mengunjungi Magetan, Ngawi, Mantingan, Sragen, Solo, Klaten, Jogjakarta.

Selasa, 18 Oktober rombongan meneruskan perjalanan ke Magelang, Parakan, Wonosobo, dan Banyumas. Sementara pada Rabu, 19 Oktober, perjalanan dilanjutkan ke Cilacap, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Bandung.

Kamis 20 Oktober, rombongan dijadwalkan tiba di Cianjur, meneruskan ke Bogor dan Tangerang Selatan pada sore harinya. Jumat 21 Oktober dari Tangerang Selatan rombongan akan mengunjungi Serang, Pandeglang, Cilegon dan Jakarta. Rombongan kirab akan mengikuti Upacara Hari Santri di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, Sabtu 22 Oktober.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kirab diharapkan tidak hanya utuk konsolidasi, namun juga akan menambah ketebalan ke-NU-an. Rute dan kegiatan kirab akan membawa rombongan pada napak tilas perjuangan para pendiri NU. ? Sehingga para peserta kirab nantinya akan merasakan perjuangan para pendahulu, serta ada nilai-nilai yang dapat diteladani. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Desember 2014

Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah”

Jakarta, NU.Online
Workshop “Revitalisasi Peran Agamawan Dalam Pemulihan  dan Pengembangan Pariwisata Nusantara” yang dilaksanakan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Hotel Aston Atrium Jakarta 7-8 Mei Mengusulkan diwujudkannya pariwisata yang berbasiskan syariah.

Secara kongret Ketua Umum PP LPNU H. Basofi Soedirman menyatakan akan mengembangkan konsep wisata pesantren. Pesantren merupakan sebuah institusi pendidikan yang unik, yang tidak ada di Barat. Ini adalah suatu hal yang menarik “Asalkan aman dan nyaman, mereka akan berbondong-bondong datang pesantren” ujar Basofi.

Basofi yang memiliki sejumlah biro perjalanan mengatakan bahwa semasa menjadi gubernur di Jawa Timur ia sudah pernah mengembangkan wisata pesantren. Lokasi yang dipilihnya adalah pesantren Salafiah Syafiiyah Asembagus yang diasuh oleh KH As’ad Samsul Arifin. Namun demikian, proyek tersebut berhenti ditengah jalan ketika ia turun dari jabatannya.

Menanggapi usulan dari Basofi tersebut, Syuriah PBNU KH Said Aqil Siraj yang juga hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut sambil bercanda menannyakan “Nanti yang dilihat turisnya apa santrinya?”. Pengembangan pesantren sebagai lokasi wisata perlu dipersiapkan konsep yang matang agar dikemudian hari tidak timbul masalah.

Bagaimanapun juga kegiatan wisata harus dikembangkan untuk menunjang kegiatan Perekonomian. Said Aqil yang merupakan direktur pascasarjana Universitas Islam Malang dalam ceramahnya mengatakan bahwa bagaimanapun juga kita harus mengembangkan suatu konsep wisata yang memiliki nilai agama atau bisa juga dikatakan sebagai wisata syariah, mengacu konsep yang sudah ada sebelumnya seperti bank syariah, asuransi syariah, atau hotel syariah yang saat ini sudah mulai berkembang di masyarakat.

Kita tidak boleh hanya melarang saja atas kegiatan wisata yang bersifat negatif. Kita harus memberikan satu alternatif dulu yang sesuai dengan ajaran agama sebelum melarangnya. “Amal Ma’ruf dulu, baru Nahi Munkar, jangan kebalik ” ujarnya.

Saat ini sebetulnya sudah ada wisata yang bernilai ibadah, yaitu wisata ziarah. Warga NU sudah akrab sekali dengan ziarah wali songo. Akan tetapi selama lokasi wisata belum dikembangkan dengan baik sehingga nilai tambahnya kurang baik. Secara internasional Taj Mahal di India, Piramid di Mesir, ataupun makam-makam lainnya juga merupakan wisata ziarah, namun mereka sudah dikelola dengan baik. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah”

Selasa, 02 Desember 2014

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf

Batam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Mualaf 2016, untuk mengasah pengetahuan muallaf terkait ajaran Islam.

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf

"Saya menyambut baik kegiatan ini karena merupakan wujud visi dan misi Kementerian Agama dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama," kata Kepala Kanwil Kemenag Kepri Marwin Jamal dalam siaran pers di Batam, Selasa.

Terdapat lima cabang lomba yang digelar dalam MTQ Mualaf, yaitu shalat, pidato, cerdas cermat, adzan dan iqomah.

Ia berharap MTQ Mualaf dapat dilakukan berkelanjutan agar manfaat yang dirasakan juga tidak terputus. Kemenag juga akan mendorong agar MTQ Mualaf bisa menjadi cabang dalam MTQ Nasional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemenag ingin pembinaan mualaf terus dilakukan, satu di antaranya menggunakan dana zakat, karena mualaf berhak menerima zakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Ali Hasan Hasibuan mengatakan peserta MTQ Mualaf berasal dari enam kabupaten/kota, di Kepri, yaitu Tanjungpinang, Batam, Bintan, Lingga, Natuna dan Karimun. Hanya Kabupaten Kepulauan Anambas yang belum hadir dalam MTQ Mualaf.

MTQ Mualaf, kata dia, merupakan bentuk pembinaan bagi saudara baru untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam.?

Ketua Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI) Kepulauan Riau yang juga Kepala Bidang Bimas Islam Kanwil Kemenag Kepri Erman Zaruddin mengatakan penyelenggaraan MTQ Mualaf itu sudah dilaksanakan tiga kali, dan sempat terhenti selama lima tahun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Biasanya semua mualaf dapat mengikuti kegiatan ini, namun kali ini sengaja dibatasi bagi mualaf yang baru lima tahun menjadi pemeluk agama Islam. Tujuannya supaya kita mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pembinaan yang dilakukan di kabupaten/kota," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Daerah, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 15 November 2014

Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya

Banyuwangi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Tindak kekerasan yang dilakukan militer Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya mendapat kecaman dari berbagai pihak. Di antaranya Pengurus Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Banyuwangi. Banom NU tersebut juga melakukan doa bersama di gedung PCNU banyuwangi, Selasa (22/11) untuk kedamaian Rohingya.?

Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya

"Acara ini sebagai wujud keprihatinan dan solidaritas kita kepada saudara-saudara kita di Rohingya yang mengalami penindasan," ungkap Ketua IPNU Banyuwangi, Yahya Muzakki yang menjadi penggerak kegiatan tersebut.

Selain doa bersama, ada tiga hal yang menjadi pernyataan sikap dari mereka terkait kasus Rohingya. "Pertama, kami mengutuk setiap tindak kekerasan yang menciderai rasa kemanusiaan atas nama apa pun. Terlebih yang melegitimasinya dengan ajaran keagamaan," tegas Yahya.

Mereka juga mendesak kepada Pemerintah Indonesia untuk terlibat penuh dalam upaya-upaya diplomatik mewujudkan kedamaian bagi etnis Rohingya.?

"Kami mengapresiasi respon cepat Pemerintah Indonesia melalui Menlu (Menteri Luar Negeri) untuk melakukan klarifikasi dan langkah-langkah diplomatik lainnya. Namun, kami mendesak Presiden Jokowi untuk lebih intens lagi dalam melakukan penekanan pada Myanmar. Indonesia sebagai salah satu negara besar di Asean harus menunjukkan kekuatan diplomatiknya pada negara lain sekawasannya," harap Yahya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Yahya juga mengimbau kepada segenap masyarakat untuk tidak gegabah dalam melihat kasus Rohingya. Konflik Rohingya ini, menurutnya, merupakan konflik sosial yang merambat ke isu keagamaan.?

"Oleh karena itu, kami berharap masyarakat Indonesia tidak mudah terprovokasi dengan ajakan-ajakan jihad yang justru akan semakin memperunyam keadaan. Apalagi sampai muncul di kalangan umat muslim Indonesia budhaphobia karena yang melakukan kekerasan kebetulan beragama Budha," imbau Yahya.

Sebenarnya, sebagai bentuk solidaritas IPNU IPPNU Banyuwangi akan melakukan penggalangan dana, namun berdasarkan informasi yang mereka dapat, sulit untuk menemukan lembaga donor yang akan menyalurkannya," katanya, banyak bantuan yang ditujukan kepada mereka (Rohingya) yang tidak sampai. Bantuan itu ngendon di lembaga-lembaga melakukan penggalangan dana. Kami takut tidak amanah," papar pria berkacamata tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai penggantinya, mereka melakukan kampanye #SAVEROHINGYA di media sosial untuk mengundang solidaritas yang lebih luas. "Fungsi media sosial yang saat ini begitu luar biasa dalam memberikan daya tekan, kami harapkan bisa gerakan #SAVEROHINGYA ini bisa terekskalasi secara luas dan menarik perhatian internasional untuk ikut terlibat dalam penyelesaiannya," tutup Yahya. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)





Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 Oktober 2014

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tiris Barat (Tiba), Selasa (8/12) memberikan sosialisasikan program Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Tiba ke Ranting NU Pesawahan dan Ranugedang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.

Sosialisasi program kerja LKNU MWCNU Tiba ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Tiba Imron Hamzah, Ketua LKNU MWCNU Tiba H Sutisro, Kepala Puskesmas Ranugedang Mujoko dan sejumlah pengurus MWCNU Tiba.

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU

Ketua Tanfidziyah MWCNU Tiba Imron Hamzah mengungkapkan sosialisasi ini bertujuan supaya Nahdliyin mengetahui beberarapa program kerja yang akan dilaksanakan oleh LKNU MWCNU Tiba pada tahun 2016 mendatang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Semua program ini dibuat supaya NU tidak hanya dikesankan berdakwah hanya dibidang agama saja. Setidaknya warga NU merasa diurusi oleh NU dibidang kesehatan sehingga memiliki kesehatan yang berkah,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Ketua LKNU MWCNU Tiba H Sutisro menyampaikan beberapa program kerja yang akan dilakukan pada tahun 2016 mendatang. Salah satunya adalah memperkuat pelayanan kesehatan terhadap warga NU dan mengadakan kerja sama lebih dalam dengan Puskesmas Ranugedang.

“Selain itu juga akan dilakukan sosialisasi antisipasi penyakit HIV/AIDS dan mengadakan kajian kesehatan 1 bulan 1 kali dalam 1 bulan bagi pengurus LKNU MWCNU dan Ranting NU,” katanya.

Program lain yang akan dilakukan diantaranya adalah turun ke bawah (turba) kesehatan tim LKNU beserta tim Puskesmas Ranugedang. Serta mengupayakan pemberdayaan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) agar mendapatkan keringanan pembiayaan bagi pemilik Kartanu ketika berobat ke Puskesmas Ranugedang.

“Kami juga akan mengadakan pengobatan massal dan operasi bibir sumbing bekerja sama dengan Puskesmas Ranugedang. Kegiatan ini akan diberikan kepada masyarakat yang ada di wilayah kerja MWCNU Tiba,” pungkasnya.

Sedangkan Kepala Puskesmas Ranugedang Mujoko menyambut baik yang dilakukan oleh LKNU MWCNU Tiba ini. Pihaknya akan selalu memfasilitasi sepanjang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 25 Oktober 2014

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj siang ini, Senin (7/4) mengajak para pimpinan partai politik peserta Pemilu 2014 melaksanakan Istighotsah. Acara yang digelar di pesantren Luhur Al-Tsaqafah jalan M Kahfi I nomor 22 Cipedak-Ciganjur kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini akan dihadiri semua ketum parpol.

Ketika dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah via telepon, staf Ketua Umum PBNU Muhammad Nabil Harun mengatakan, para pimpinan parpol menyatakan siap datang memenuhi undangan. Yang sudah konfirmasi antara lain Ketua Umum Gerindra Suhardi, Ketua Umum PAN M Hatta Radjasa.

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah (Sumber Gambar : Nu Online)
H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah (Sumber Gambar : Nu Online)

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah

“Pak Jokowi juga dijadwalkan memberi sambutan selaku Gubernur DKI Jakarta. Yang membuka acara tentu Kang Said,” ujar Nabil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hingga berita ini ditulis, suasana di sepanjang jalan raya M Kahfi I hingga menuju pesantren Luhur Al-Tsaqafah asuhan KH Said Aqil Siroj terpantau ramai lancar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beberapa pengguna jalan baik yang berkendaraan roda empat maupun roda dua tampak sesekali melirik spanduk bergambar Kang Said bersama para pemimpin parpol. Bahkan ada juga yang berhenti sembari membaca informasi Istighotsah yang sebentar lagi digelar. (Ali Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Anti Hoax, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 Oktober 2014

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tiap hari Jum’at malam rutin menggelar kegiatan istighotsah. 

Kegiatan yang sudah berlangsung secara istiqomah selama 10 tahun ini diikuti oleh seluruh pengurus ranting NU, lembaga, lajnah dan badan otonom.

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kraksaan Moch. Siddiq Hasan kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (10/2) mengatakan selain merupakan instruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), istighotsah ini juga bertujuan untuk mengamalkan ajaran tradisi NU Ahlussunnah wal Jamaah dan mendoakan masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam istighotsah ini kami berdoa bersama-sama dan memohon kepada Allah agar Kabupaten Probolinggo, khususnya Kraksaan menjadi daerah yang aman dan kondusif baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Selain itu diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik kepada ranting dalam melaksanakan program kerja,” ungkapnya.

Menurut Hasan, biasanya setelah istighotsah dilanjutkan dengan diskusi dengan seluruh pengurus ranting untuk membahas program kerja yang akan dijalankan baik di MWC maupun ranting NU. Usulan-usulan tersebut kemudian ditampung untuk diambil sebuah keputusan membuat usulan prioritas yang selanjutnya akan dijadikan sebagai program kerja.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam kesempatan tersebut kami juga menyerap aspirasi warga nahdliyin dari masing-masing ranting. Kesulitan-kesulitan yang disampaikan warga nahdliyin selanjutnya kami bicarakan bersama untuk dicarikan solusi dan jalan keluarnya. Seperti pada saat adanya aliran sehat yang sangat meresahkan warga Nahdliyin karena ajaran yang disampaikan menyimpang dari akidah ahlussunnah wal jamaah,” jelasnya.

Dikatakan Hasan, melalui kegiatan istighotsah tersebut akhirnya tercipta sebuah ikatan silaturahim yang sangat kuat diantara sesama pengurus NU. Apalagi istighotsah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan.

“Istighosah ini merupakan salah satu tradisi NU. Oleh karena itu saya berpesan kepada segenap masyarakat agar tidak meninggalkan tradisi-tradisi yang ada serta tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh para ulama-ulama NU,” pintanya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pendidikan, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 02 Oktober 2014

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB

Lombok Tengah,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menghadiri Sarasehan Alim Ulama se-Nusa Tenggara Barat di Pondok Pesantren NU Al-Mansuriyah Ta’limushibyan Bonder, Lombok Tengah, pada Jumat sore (24/2).

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB

Ia hadir bersama Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi dan Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi. Pada kesempatan tersebut, setelah berceramah tentang tugas-tugas dan peran ulama, Rais ‘Aam mendengarkan pendapat dan pertanyaan dari para ulama.

Di antara pertanyaan yang diajukan para ulama tersebut adalah bagaimana menghadapi orang menistakan Al-Qur’an, agama, dan ulama; bagaimana menyelesaikan masalah ekonomi umat; pedoman berorganisasi, toleransi mayoritas dan minoritas, kekhasan NU, dan Islam Nusantara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bagaimana menghadapi penistaan, saya kira, kita sudah jelas. Kebetulan saya sebagai Ketua Majelis Ulama, misalnya kasus Ahok, sudah jelas ia menghina ulama. Kalau di dalam masalah unjuk rasa, NU memang tidak menyuruh, tidak melarang, tidak boleh menggunakan atribut NU. Alasannya apa? Pemerintah saja tidak melarang, masa kita melarang. Urusannya bukan agama, tapi konstitusi, moderat saja,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Soal istinbatul ahkam masail jadidah atau keputusan hukum masalah-masalah yang baru, menurut dia, kalau sudah diputuskan di muktamar atau munas, warga NU harus mengikutinya. Kalau belum diputuskan, boleh berbeda. ?

Ia juga menjawab tentang pertanyaan kenapa muncul istilah Islam Nusantara dari rahim Nahdlatul Ulama. “Sepakat tidak sepakat itu sudah menjadi keputusan muktamar. Islam Nusantara itu ya Ahlussunah wal-Jamaah itu. Huwa, huwa, Islam Nusantara itu kemasan saja. Isinya ya Ahlussunah wal-Jamaah. Tidak ada Islam yang lain. Ini bukan konsumsi umat kita, tapi global, dunia, dari gambar NU itu,” terangnya.

Terkait mendengar pendapat para alim ulama di daerah tersebut, menurut Rais ‘Aam, PBNU selepas Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur pada 2015, memprogramkan silaturahim dengan para Syuriyah NU dan kiai-kiai yang bukan pungurus.

“Sebab ada kesan kiai yang bukan pengurus itu tidak punya tanggung jawab kepada NU. Padahal pengurus itu hanya sopir, menjalankan, yang punya NU itu ulama. Oleh karena itu, para ulama punya tanggung jawab terhadap NU. Kalau pengurus terlalu kencang, diperingatkan. Kalau kendor, didorong.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Nusantara, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 September 2014

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gul-e-Khandana, 44, seorang guru sekolah di wilayah barat laut Pakistan, telah menjadi ikon pendidikan yang menentang Taliban berkuasa selama puncak pemberontakan di tahun 2007 hingga 2009.

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban

Hidup di lembah Swat, ia terus mengajar gadis-gadis lokal hingga peluncuran operasi militer yang memaksa penduduk setempat untuk mengevakuasi. Sebagai hasil dari operasi, yang berlangsung selama hampir dua bulan, tentara Pakistan mengusir militan keluar dari Swat dan orang-orang kembali ke rumah mereka. Setelah kembali ke rumah, dia tidak hanya menjalankan SD putri, tetapi juga mengawasi Organisasi Non-Pemerintah (NGO) yang bekerja untuk hak-hak perempuan miskin di daerah setempat, sebagaimana dilaporkan oleh al arabiya.

Selama periode kekerasan, Taliban menghancurkan lebih dari 400 sekolah di Lembah Swat, tanah air Malala Yousafzai, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian termuda. Sementara Malala telah memainkan peran besar dalam bekerja untuk pendidikan untuk anak perempuan di lembah Swat, sejarah juga harus ingat wanita seperti Khandana, yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi lembaga-lembaga pendidikan di wilayah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini adalah waktu yang sangat sulit dalam hidup kita," kata Khandana. Selalu ada ketakutan ledakan dan serangan bunuh diri, dengan hujan mortir turun dari lokasi yang tidak diketahui, dan jika anak-anak terluka, itu sulit untuk membawa mereka ke rumah sakit karena jalan diblokir, katanya. "Ketika Taliban melarang pendidikan untuk anak perempuan itu benar-benar mengejutkan bagi saya," kata Khandana. "Siapa yang pernah mencoba untuk menentang perintah mereka secara brutal dihukum. Mereka menentang pendidikan."

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini adalah periode yang mengerikan dan menyakitkan bagi wanita yang dibatasi. Dengan kehancuran sekolah-sekolah putri, mereka hampir kehilangan harapan mereka untuk mendapatkan pendidikan," kata Khandana.

"Bukan hanya para militan tetapi bahkan beberapa orang lokal juga tidak menunjukkan rasa hormat dan memberi label kita sebagai kafir," katanya.

"Di malam hari aku mendengar sebuah ledakan. Kemudian kami menemukan bahwa sekolah menengah seorang gadis di sekitarnya saya hancur," kata Khandana.

"Pagi hari saya pergi ke sekolah saya. Aku melihat puluhan militan, bersenjata dengan senapan Kalashnikov dan roket granat turun dari truk mereka. Mereka berbicara tentang membakar sekolah ... aku keluar dan menantang mereka bahwa tidak ada yang dapat membahayakan sekolah bahkan jika aku harus mengorbankan hidup saya untuk perlindungan."

"Aku berdebat dengan mereka selama berjam-jam dan akhirnya membuat mereka pergi. Tapi sebelum meninggalkan mereka memperingatkan bahwa mereka akan kembali dan tidak hanya akan menghancurkan sekolah tetapi juga akan menggorok leher saya. "

"Saya memiliki keyakinan bahwa setiap orang akan mati satu hari dan hanya Allah dapat mengambil kehidupan seseorang bukan manusia ... salah satu tidak boleh takut pada keyakinan ini," kata Khandana.

"Mereka membantai banyak orang. Jika kita mempelajari agama kita, tidak ada menyebutkan perintah membantai orang atau melancarkan terorisme," katanya. "Mereka benar-benar menyebarkan agenda mereka kekerasan dibungkus dalam sampul Syariah [hukum Islam]."

Pada awal tahun 2009, terjadi pertempuran sengit antara militan dan tentara Pakistan. Peluru menembus melalui tubuh warga sipil tak berdosa. Semua alat komunikasi diblokir. Militan mengambil alih desa Khandana, dan membawanya bersama dengan orang lain sebagai tahanan.

"Sebagai balas dendam atas apa yang telah saya lakukan pada mereka untuk menyelamatkan sekolah, mereka memerintahkan saya memasak makanan... mereka terlalu banyak dalam jumlah dan saya memasak kari dan membuat roti (roti tradisional) siang dan malam. Ini adalah saat paling kelam dalam hidupku. Tidak ada rasa hormat. Tidak ada kehormatan. Tidak ada harapan," kenangnya.

"Mereka adalah monster yang menganggap diri mereka sebagai raja dan bagi kita tidak ada pilihan lain selain mematuhi perintah mereka," katanya.

"Para militan duduk di luar rumah kita dan sibuk mempersiapkan diri untuk meluncurkan serangan terhadap tentara. Mereka terlalu banyak dan di mana-mana-rumah, ladang, kebun dan pegunungan," katanya.

"Ada ketakutan dan kepanikan di seluruh lembah seperti itu. Militan, dan bukan pemerintah Pakistan, yang memutuskan nasib masyarakat setempat," kata Khandana.

Segera pertempuran memasuki fase menentukan dan penduduk setempat diberitahu untuk mengosongkan rumah mereka. Alih-alih mengambil pakaian dari anak-anaknya, Khandana pergi ke sekolah dan dikantonginya semua catatan siswa.

"Catatan yang jauh lebih penting dari apapun. Itu masa depan anak-anak perempuan di daerah itu dan itu sebabnya aku terus dengan diri saya sendiri," kata Khandana.

Haroor ur Rasheed, suami Khandana, yang disebut istrinya "seorang wanita yang sangat berani. Lebih berani dari saya."

"Semua orang di keluarga kami berbeda dengan dia dan menegur dia untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi dia tidak mendengarkan siapa pun karena dia memiliki gairah untuk layanan kemanusiaan," katanya.

"Saya dengan dia, dan misi kami adalah untuk membantu orang-orang berani tanpa rasa takut. Kadang-kadang selama sesi pelatihan, beberapa gadis akan berkata: ‘Anda adalah orang tua kami’ Komentar dan sentimen tersebut selalu membuat pipi saya basah dengan air mata syukur dan kebahagiaan bergulir turun dari mata saya dan meresap ke dalam jenggot saya," kata Rasheed.

Berbicara tentang pemberontakan Taliban, Iffit Nasir, seorang pejabat pendidikan senior Swat mengatakan: "Militan pertama kali mulai menargetkan sekolah seorang gadis, tapi kemudian dalam rangka menciptakan kepanikan dan mengintensifkan dampak; mereka mulai meledakkan sekolah anak laki-laki juga. Para militan mengancam kami, memperingatkan kita untuk tidak datang ke sekolah karena mereka menggunakan bahan peledak untuk meledakkan bangunan."

"Hal yang baik yang saya catat adalah bahwa ada setidaknya kenaikan 29 persen dalam pendaftaran anak perempuan di sekolah Swat setelah mereka kembali ke lembah dari pengungsian di mana mereka dipaksa untuk hidup sementara operasi militer terjadi," tambah Nasir.

"Daerah kami menghadapi kemiskinan dan ketidaktahuan meningkat di wilayah tersebut. Saudara kita duduk diam di rumah. Itu sebabnya saya berpikir untuk mengorbankan hidup saya untuk saudara saya, untuk memperbaiki kehidupan mereka," kata Khandana.

Terlepas dari pekerjaan guru sekolah, Khandana juga menjalankan LSM Kesejahteraan & Pengembangan Perempuan. Sejauh ini dia telah memberdayakan dan memberi ketrampilan lebih dari 20.000 wanita yang sekarang menjalankan keluarga mereka.

Khandana ingat hari ketika seorang janda dan ibu dari empat datang kepadanya dan meminta bantuan.

"Saya membeli mesin jahit dan mengajarinya teknik menjahit dan keterampilan yang diberdayakannya. Dia sekarang memberikan anak-anaknya pendidikan dan hidup bahagia," kata Khandana.

"Selama pemberontakan, orang-orang yang bekerja untuk LSM dinyatakan sebagai kafir dan itulah mengapa saya ingin memberitahu orang-orang lokal bahwa tidak pekerjaan yang buruk dan itu adalah untuk kesejahteraan manusia."

Guli Khandana memuji Malala atas kerja keras dan pengorbanannya dalam pendidikan perempuan. "Dia adalah seorang gadis pemberani. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional bahwa mereka mendukung Malala, karena dia banyak menderita di wilayah ini. Malala telah mengangkat suaranya dalam mendukung pendidikan gadis. Dia telah melakukan pekerjaan yang besar," katanya.

Mengingat masa lalu, Khandana mengatakan, "Ini adalah waktu yang mengerikan dari kehidupan kita. Itu adalah zaman kegelapan. Kami meminta Tuhan untuk tidak menghitung periode dalam hidup kita."

Namun sampai sekarang, ia masih menerima surat ancaman dan panggilan telepon, kata Khandana.

"Terima kasih Tuhan sekarang situasi damai di Swat, tapi masih ada ketakutan pemberontakan mungkin kembali ke wilayah itu," katanya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 September 2014

LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis (21/4) malam, membuat sejumlah warga di Desa Buni Bakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi harus berkutat membendung air yang masuk ke dalam rumah mereka. Berdasarkan pantauan Tim Tanggap Darurat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim NU di lapangan, hampir seluruh wilayah ini terendam dengan ketinggian air diperkirakan mencapai 30-100 cm.

“Warga di sini sudah terbiasa seperti ini kalau pas hujan. Hujan sedang saja banjir, apalagi hujan deras. Sudah pasti kelelep (tenggelam) ini kampung,” kata Ahmad (32), warga RW 8 Desa Buni Bakti, Jumat (22/4).

LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Serahkan Ratusan Sembako untuk Korban Banjir di Bekasi

Pihak LPBI NU pada Sabtu dan Ahad (23-24/4) menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Buni Bakti. Bantuan yang diberikan berupa paket sembako untuk 203 KK. Berdasarkan pantauan Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU, saat ini kebutuhan utama masyarakat terdampak banjir di antaranya adalah makanan.

Menurut Koordinator Tim Tanggap Darurat PP LPBI NU Yulistianto, berdasarkan informasi dari masyarakat, musibah banjir di daerah Babelan terjadi hampir setiap tahun. Banjir disebabkan oleh besarnya volume air yang ada di Kali Bekasi kiriman dari dearah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, pada saat yang sama air laut sedang pasang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua LPBI NU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat di sekitar lokasi banjir untuk melakukan kajian risiko bencana banjir agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hasil kajian risiko bencana ini jika nantinya terdesiminasi dengan baik, maka para pihak terutama masyarakat dapat aktif melakukan kegiatan untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Sementara pihak pemerintah dapat menentukan perencanaan dan kebijakan untuk penanggulangannya yang didukung oleh lembaga usaha untuk memaksimalkan upaya pengurangan risiko bencana.

Ali Yusuf berharap semua pihak di daerah sekitar dapat berkonsolidasi dan segera merumuskan rencana dan tindakan konkret untuk melakukan penanggulangan bencana banjir agar kejadian yang sangat merugikan dan terjadi setiap tahun ini tidak terulang lagi ke depannya.

Menyambut bantuan dari LPBI NU, pengurus MWCNU Babelan KH Misbah yang mewakili penerima bantuan mengatakan, bantuan yang diberikan oleh PP LPBI NU ini sangat diperlukan dan sangat membantu masyarakat yang terdampak banjir. Bantuan ini mudah-mudahan dapat mengurangi penderitaan masyarakat yang hampir setiap tahun terdampak banjir. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 September 2014

Rambut Rontok Saat Haid

Assalamu’alaikum wr wb. Pak ustadz, ketika istri saya sedang haid ia tidak berani membuang rambut yang rontok, atau menghilangkan potongan kukunya sendiri. Dia beralasan kalau sebelum disucikan, rambut-rambut maupun kuku-kuku itu akan menuntutnya di hari kiamat.

Yang saya mau tanyakan apakah hal itu memang benar? Kemudian apakah  kalau  mandi ketika suci, rambut-rambut atau potongan kuku tersebut wajib dibasuh? atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. (Nur Rohman Brebes)

Wa’alaikum salam  wa rahmatullah wa barakatuh.

Saudara Nur Rahman yang terhormat.

Rambut Rontok Saat Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Rambut Rontok Saat Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Rambut Rontok Saat Haid

Seorang wanita yang sedang menstruasi memang memiliki spesialisasi (kekhususan) yang tidak sama dengan kondisi normal (tidak haid). Diantara hukum yang khusus baginya adalah diberi keringanan untuk tidak melakukan aktifitas maupun ibadah  wajib maupun  sunnat  ketika sedang tidak haid seperti sholat, thawaf, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya. Bahkan apabila ia masih tetap menajalankan ibadah-ibadah tersebut, maka hukumnya adalah  haram.

Pertanyaan yang saudara sampaikan juga sering kami jumpai di tengah-tengah masyarakat. Tanggapan diantara mereka pun beraneka ragam, ada yang berkomentar bahwa pendapat yang mengatakan bahwa rambut, kuku atau potongan tubuh ketika sedang haid  apabila belum disucikan akan menuntut di hari kiamat  adalah mitos belaka dan ada pula yang mengikuti pendapat tersebut dengan alasan kehatia-hatian dalam beribadah.

Dalam kitab al-Iqna’ karya Muhammad bin Ahmad al-Khatib asy-Syarbini (w.977 H), kami menemukan sebuah rujukan seperti berikut ini:    

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Sebuah faidah; imam al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya’ Ulumiddin: “Tidak sepantasnya bagi orang yang sedang junub (berhadas besar) untuk mencukur, memotong anggota tubuh, berhias, serta mengeluarkan darah dengan sengaja, karena anggota-anggota tubuh tersebut akan kembali nanti di akhirat dalam keadaan masih junub.

Saudara Nur Rahman yang dimuliakan Allah

Jika melihat referensi diatas, maka anggapan yang mengatakan bahwa anggota-anggota tubuh akan menuntut kita di akhirat apabila belum disucikan dapat dibenarkan. Hal ini sebenarnya berlaku bagi orang yang sedang junub secara umum, bukan hanya wanita yang sedang mengalami haid saja. Mungkin karena durasi yang cukup lama, sehingga kaum wanita terasa lebih berat untuk menjaga potongan-potongan anggota tubuh (kuku, rambut dsb) yang lepas dari tubuh mereka.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 Selanjutnya menanggapi pertanyaan saudara mengenai wajib tidaknya membasuh potongan-potongan anggota tubuh yang lepas tersebut,- dengan mengacu penjelasan di atas-, maka secara otomatis potongan-potongan anggota tubuh yang lepas ketika sedang junub wajib dibasuh atau disucikan saat mandi wajib. Apabila hal ini dilakukan, maka keragu-raguan yang muncul dengan masalah terkait akan kian menghilang.

Mudah-mudahan Allah menjadikan dan menganugerahi kita  semua termasuk orang-orang yakin, teliti serta hati-hati dalam peribadatan yang kita lakukan, dengan tidak dihinggapi rasa was-was.

Amin. Wallahu al-Muwaffiq ila aqwam at-Thariq.

Wassalamu’alakum wr. wb.

Maftukhan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 September 2014

SMK NU Kudus Pamerkan Mode Busana Karya Siswa di Jogja

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Kementerian Koperasi dan UKM menggelar “SMK Expo 2, Pameran Produk Unggulan SMK Se-Indonesia” di Yogyakarta, 28-31 Mei 2015.

Ada puluhan SMK se-Indonesia yang menjadi peserta dalam acara yang berlangsung di Gedung Jogja Expo Center (JEC) yang terletak di Jalan  Janti, Banguntapan, Yogyakarta ini. Salah satu SMK yang ikut ambil bagian dalam pameran tersebut adalah SMK NU Banat Kudus. Dalam pameran tersebut, SMK NU memamerkan beberapa produk unggulan di bidang fashion karya asli siswa-siswa.

SMK NU Kudus Pamerkan Mode Busana Karya Siswa di Jogja (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK NU Kudus Pamerkan Mode Busana Karya Siswa di Jogja (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK NU Kudus Pamerkan Mode Busana Karya Siswa di Jogja

“Ternyata antusiasme masyarakat Yogyakarta terhadap produk-produk kami luar biasa. Kami sampai kewalahan melayani pembeli maupun pemesan. Stan baru di buka tadi pagi, tapi koleksi kami tinggal sedikit. Kami tadi langsung nelpon, meminta kiriman lagi,” ujar penjaga stan, Ida Rusmayanti, saat ditemui Pondok Pesantren Attauhidiyyah  di stan pameran, Kamis sore (28/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut penuturannya, SMK NU Banat Kudus merupakan satu-satunya yang mendapat undangan dan mengikuti acara pameran tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saat mendapat undangan, kami heran. Kok Cuma kami sendiri yang mendapat undangan. Padahal ada banyak SMK di Kota Kudus. Setelah kami melihat daftar list peserta yang di situ ada nama SMK NU Banat Kudus, kami baru percaya dan langsung mempersiapkan semuanya,” tambah guru tata busana di SMK NU Banat Kudus itu.

Ditanya mengenai harapan mengikuti acara tersebut, Ibu Ida berharap lewat acara tersebut, nama SMK NU Banat Kudus semakin berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.  Ida mengaku bahwa SMK NU Banat Kudus mendapatkan dukungan langsung dari Djarum Foundation dalam acara tersebut dalam mempersiapkan stan. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 30 Agustus 2014

Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jerman merupakan salah satu negara favorit sebagai tujuan mahasiswa asal Indonesia untuk melanjutkan studi. Negara yang saat ini dipimpin Kanselir Angela Merkel tersebut menyediakan sejumlah fasilitas beasiswa dan biaya terjangkau.

Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman

Salah satu santri Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat, Muhammad Abdullah Syukri menguraikan bagaimana proses persiapan bisa kuliah di Jerman dalam Webinar yang digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki melalui Youtube, Senin (18/9). 

Bagi masyarakat Indonesia yang terbilang mampu secara materi tak perlu repot-repot untuk berebut beasiswa di Jerman karena biaya perkuliahan dan kehidupannya cukup terjangkau.

“Selain kampusnya murah, juga kemudian biaya hidupnya sangat murah sekali,” ungkap mahasiswa magister ilmu politik Universitas Duisberg-Essen, Jerman itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abdullah Syukri mengatakan, “Di Jerman kampusnya gratis.” Namun ada istilah semester ticket. Biaya untuk semester ticket ini cukup terjangkau, “Biasanya sekitar 300 Euro, kalau dirupiahkan kurang dari lima juta.”

Keterjangkauan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat pembayaran semester itu sudah termasuk seluruh tiket transportasi di kota tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Meskipun biaya hidup murah, tetapi mahasiswa wajib memiliki uang deposito. Bagi mahasiswa yang tidak menggunakan beasiswa, wajib menyediakan 8000 Euro atau sekitar 120 juta rupiah.

 

“Untuk yang kuliah di Jerman kemudian tidak menggunakan beasiswa harus mempunyai sekitar 8000 Euro selama satu tahun,” katanya.

“Uang 8000 Euro itu akan ditarik berkala selama setahun oleh penggunanya,” imbuhnya.

Proses persiapan

Beasiswa yang paling populer dan hampir semua mahasiswa asing menggunakannya yaitu beasiswa DAAD. Untuk S2 dan S3 mereka sudah banyak membuka kelas internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Hal pertama yang harus diperhatikan bagi calon pendaftar kuliah di Jerman adalah melihat daftar kampus yang diakui oleh Jerman. “Tidak semua kampus di Indonesia diakui ijazahnya untuk dapat melanjutkan S2 di Jerman,” jelas Syukri.

Mas Dede, begitu ia akrab disapa oleh masyarakat Buntet Pesantren, memberitahukan, bahwa kita dapat melihat daftar kampus Indonesia mana saja yang sudah diakui oleh Jerman melalui laman Kementerian Pendidikan Jerman Anabin (http://anabin.kmk.org/anabin.html).

Dari hal tersebut, Mas Dede mengingatkan pemerintah Indonesia, bahwa standard kualitas pendidikan Indonesia masih diragukan oleh Jerman. Meskipun ia tidak melihat hal tersebut di negara lainnya, semisal Inggris.

“Ini juga jadi PR sendiri bagi pemerintah kita, pemerintah Indonesia, bahwa ternyata standarisasi kampus di Indonesia masih diragukan kualitasnya untuk bersanding dengan kampus-kampus yang ada di Jerman khususnya,” katanya.

Setidaknya ada empat aspek yang harus diperhatikan oleh calon pendaftar. Hal yang paling pertama dilihat adalah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Meskipun IPK bukan segalanya, tetapi ia menjadi poin penting. Meskipun begitu, hal tersebut bisa ditunjang dengan tiga aspek lainnya, yakni karya atau publikasi dan konferensi, pengalaman bekerja, dan organisasi.

“Nah jadi, sisi akademik, kemudian karya kita, lalu pengalaman bekerja, pengalaman organisasi, empat itu merupakan satu kesatuan yang kalau kita bisa memenuhi standar di sini maka kita siap bersaing dengan pelamar beasiswa yang ingin mendaftar di DAAD,” ungkapnya.

“Itupun berlaku bagi teman-teman yang ingin mendaftar melalui LPDP. Persyaratannya kurang lebih sama,” lanjutnya.

Proses perkuliahan

Di Jerman, seluruh keseharian menggunakan bahasa Jerman. Mulai dari pertokoan, transportasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, DAAD sebagai lembaga pemberi beasiswa untuk studi di Jerman memberikan kursus bahasa Jerman gratis kepada penerimanya selama jangka waktu tertentu sesuai program beasiswa yang diterimanya.

“Mereka sangat membantu dari segi persiapan, contoh kita diberikan kursus bahasa Jerman,” ujar santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang tersebut.

Selain DAAD, masing-masing kampus juga umumnya membuka kursus bahasa Jerman gratis. “Biasanya kampus menyediakan kursus bahasa Jerman gratis. Kita tinggal apply saja,” katanya.

Jika kita mengenal kampus-kampus terbaik di Indonesia seperti UGM, UI, ITB atau lainnya. Atau di Amerika Serikat dengan adanya Harvard University, Stanford University, MIT, dan di Inggris seperti Cambridge University dan Oxford University, hal tersebut tidak berlaku di negara pimpinan Angela Markel tersebut. 

“Semua lembaga pendidikan di Jerman diberlakukan sama,” ujar alumni Universitas Brawijaya tersebut.

Jerman tidak mengenal kampus terbaik karena semua disamaratakan. Hal yang membedakan antara kampus satu dengan lainnya adalah usia dan lokasinya. Kampus tua tentu saja sudah lebih banyak melahirkan alumni yang sudah bisa dilihat kiprahnya. Berbeda dengan kampus yang lebih baru.

Selain itu lokasi kampus juga hal yang berbeda. Jika ingin menikmati perkuliahan dengan suasana yang cukup ramai, kita bisa pilih kampus di wilayah selatan seperti Stutgart, Frankfurt, atau Munchen. 

Sebaliknya, jika ingin merasakan perkuliahan dengan suasana yang sepi, kita dapat memilih kota di wilayah barat. Pertimbangan lainnya untuk memilih kampus tentu saja dari jurusannya.

Abdullah Syukri mengingatkan, bahwa membaca menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Meskipun tentu saja belajar di manapun membaca itu suatu keharusan. Tetapi studi di Jerman memiliki alasan tersendiri. 

“Biasanya dosen memberikan lima sampai enam referensi dalam satu mata kuliah per minggu,” jelasnya.

Pria yang fotonya sempat viral di jagad santri karena menggunakan pakaian ala santri saat berjalan-jalan di tengah kota Koln Jerman itu juga menekankan pentingnya pengatuaran waktu. “Kalau ada yang meleset sebentar saja itu akan mengacaukan semuanya,” ungkapnya.

Selain itu, tidak hanya tugas akhir yang mesti dibicarakan dengan dosen, tetapi keseluruhan tugas pembuatan makalah harus dikonsultasikan. “Semua tugas harus dikonsultasikan.” Artinya, hal tersebut menuntut mahasiswa untuk berperan aktif. 

“Yang aktif mahasiswanya, dosen tidak mengarahkan sama sekali,” tegasnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar kita dapat berinisiatif.

Di samping itu, hal yang tak kalah penting untuk dipersiapkan sejak dini untuk melanjutkan studi di Jerman adalah mental. “Yang paling harus dipersiapkan sekali kuliah di Jerman adalah mental,” tutur  

Persaingan yang sangat kompetitif membuat hal tersebut penting selain juga karena hal lain seperti keaktifan dalam diskusi. Oleh karena itu, ia sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa kuliah di luar negeri bukan bagi orang yang pinter ataupun cerdas, tetapi bagi mereka yang bermental.

Syukri yang juga akrab disapa Abe oleh rekan-rekannya di Universitas Brawijaya, juga menyampaikan bahwa birokrasi Jerman cukup rumit. “Birokrasi di Jerman agak rumit,” katanya. Hal tersebut karena semuanya berbahasa Jerman dan segala rupanya harus segera ditentukan dan dilaporkan seperti kepulangan dan sebagainya.

Diskusi yang dimoderatori oleh mahasiswi magister ilmu tafsir Necmettin Erbakan University Turki Aeni Nahdliyati ini juga menghadirkan Wakil Ketua PCINU Jepang Yudhi Nugraha dan mahasiswa magister Uludag University Turki M. Muafi Himam.

Kegiatan ini terselenggara atas insiasi PCINU Turki bekerja sama dengan PCINU Jerman dan PCINU Jepang, serta AIS Nusantara. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Agustus 2014

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 500 warga menyaksikan pelantikan pengurus baru ranting NU Larangan Tokol di pesantren Az-Zubair, Langgar Rajeh, Sumberanyar, Pamekasan. Pelantikan yang bersamaan dengan peringatan maulid ini juga dihadiri anggota badan otonom NU seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU.

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair

Pengurus baru ini dilantik oleh Wakil Ketua PCNU Pamekasan KH Moh Ramli pada Rabu, (28/1). Kiai Ramli dalam sambutannya mengimbau pengurus baru NU untuk bersinergi dengan banom, lembaga, dan lajnah NU.

“Dengan demikian pelantikan tidak hanya seremonial, tetapi sebagai awal untuk lebih menyejahterakan masyarakat utamanya Nahdliyin dan tetap dalam koordinasi para Ulama NU,” tegas Kiai Ramli.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyampai taushiyah maulid ialah pengasuh pesantren As-Salafiyah As-Safi’iyah As-Suja’iyah Pati Jember KH Misbach Kholili. Pengurus PCNU Jember ini mengingatkan bahwa tantangan NU ke depan semakin kompleks dari segala sisi lebih-lebih gempuran kaum Wahabi yang selalu menganggap salah segala amaliah warga NU.

“Untuk itu warga NU harus membentengi diri dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama NU,” kata Kiai Misbach.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir pula pengurus PCNU Pamekasan beserta Banom, Pengurus MWCNU Tlanakan, aparat kecamatan Tlanakan, Kapolsek, dan Danramil Tlanakan. (Moh Wahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Sunnah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Agustus 2014

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Secara kelembagaan Nahdlatul Ulama memang lahir pada tahun 1926. Akan tetapi secara kultur sesungguhnya ia ada sejak zaman Wali Songo. Para wali berpaham  Ahlussunah wal Jamaah dan tetap mengakomodasi budaya-budaya lokal.

Meski para ulama Wali Songo terdiri dari para sufi, namun dalam kegiatan ibadah kesehariannya menggunakan metode fiqih sehingga dakwahnya mudah diterima di tengah masyarakat.

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Hal tersebut dikatakan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hafsin Umar saat memberikan pengarahan kepada jajaran pengurus baru Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat di Gedung Aswaja Pekalongan Ahad (2/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, amaliyah (perilaku keberagamaan) Wali Songo terus berkembang hingga pada puncaknya, para ulama yang dimotori Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari mendeklarasikan nama “Nahdlatul Ulama” sebagai organisasi pada 31 Januari 1926.

"NU secara kultur sesungguhnya telah ada sejak zaman Wali Songo, sehingga Islam yang berkembang saat ini di Indonesia, ya Islam ala Nahdlatul Ulama," ujar Kang Abu, panggilan akrabnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dirinya mengajak kepada segenap jajaran pengurus MWC NU yang baru saja dilantik untuk tidak ragu mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamin, karena Islam yang demikian merupakan Islam ala Nahdlatul Ulama yang harus kita pupuk dan sirami agar tetap tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Pekalongan H Ahmad Rofiq meminta kepada pengurus baru untuk segera merealisasikan program-programnya dan bersinergi dengan PCNU, khususnya dalam penanganan aset aset NU.

Dikatakan, NU ingin menyelamatkan aset-aset miliknya yang berjumlah cukup banyak dan saat ini masih dikuasai secara perorangan. “Kita tidak ingin terulang kembali aset yang diwakafkan oleh orang NU untuk NU kemudian yang menguasai dan menikmati lembaga/organisasi lain,” ujarnya.

Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, akan tetapi harus dimulai dengan segera, sehingga upaya penyelamatan asset-aset NU di Kota Pekalongan yang saat ini masih dikuasai dan diatasnamakan persorangan bisa kembali ke NU.

Rofiq berpesan, para pengurus harus mengingat betul sumpah dan janji yang baru saja diucapkan. Karena apa yang telah diucapkan merupakan janji untuk berkhidmah di NU selama lima tahun. Menurut dia, pengurus yang tidak menjalankan roda organisasi berarti telah melanggar sumpah atau janji.

Acara yang dirangkai dalam format pelantikan dan raker bersama dihadiri oleh PWNU Jawa Tengah, jajaran PCNU Kota Pekalongan, Ranting NU se-MWC NU Pekalongan Selatan dan Barat, serta tamu undangan dari badan otonom kedua  MWCNU itu. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Agustus 2014

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (9/3) sore memperingati Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62 dan 61, di balai pertemuan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori.

Ketua PAC IPNU Kaliori, Muhammad Lilik Wijanarko mengungkapkan, acara ini sebagai upaya hormat terhadap hari lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. "Selain acara Harlah, kami juga mengemas acara tersebut dengan Rapat Kerja Anak Cabang (Rakerancab) PAC IPNU-IPPNU Kaliori," terangnya.

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Para perwakilan setiap Ranting yang turut hadir dalam acara tersebut berupaya untuk menyampaikan gagasan terhadap program kerja yang akan dijalankan dalam masa khidmah 2015-2016.

Agenda terdekat, lanjut Lilik, melaksanakan "Pekan Madaris" yang akan kami laksanakan di Desa Dresi Kecamatan Kaliori pada 9-10 April depan. "Kami berharap dengan banyaknya kegiatan yang akan kami lakukan tetap membuat para kader solid dan semangat dalam berjuang," harapnya.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil I PC GP Ansor Rembang Ahmad Najih, Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani , Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam, Ketua PC IPPNU Rembang Afaf Muniroh Atid, dan beberapa pengurus harian PC IPNU-IPPNU Rembang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani dalam sambutannya mengatakan, bagi pelajar NU harus bisa memilih siaran televisi yang tepat. Bukan hanya menikmati siarannya saja, tetapi harus bisa mengambil hikmah dari apa yang disiarkan. 

"Kita sebagai warga nahdliyin bukan malah menonton MTA tv, tetapi menonton siaran Ahlussunnah wal Jamaah seperti TV9 dan Aswaja TV," pesannya.

Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan meniup lilin dan pemotongan tumpeng oleh Ketua PAC Kaliori dan diberikan kepada Ketua PC IPNU-IPPNU Rembang. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dengan para peserta. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, AlaNu, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 31 Juli 2014

Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Program toko ritel modern ini menjadi pilihan yang diputuskan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) sebagai program penting untuk membangun jaringan.?

Toko ritel modern dari segi finansial benefit itu tidak menarik, tapi dalam konteks membangun jaringan ini sangat penting

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua umum Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Abdul Kholik saat mengantar acara Focus Discussion Group (FGD) yang diselenggarakan oleh HPN di lantai 5, Gedung PBNU, Jakara Pusat, Kamis (3/2).

Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengusaha Nahdliyin Bahas Jaringan Toko Ritel

Melalui jaringan toko ritel modern ini, katanya, sehingga pengusaha antar daerah bisa terhubungan antara yang satu dengan yang lainnya.

“Jadi yang sedang kita bangun di toko ritel ini sebenarnya adalah kita berupaya membangun jaringan, simpul-simpul,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia melanjutkan, nanti setelah jaringan terbentuk maka akan ditumpangi dengan beragam bisnis, seperti tiketing, simpan pinjam, micro finance, dan lain-lain.

Acara yang bertemakan “Penguatan Koperasi dan UMKM dalam Bisnis Ritel di Pedesaan” ini menghadirkan pembicara dari Deputi Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI Prakoso Budi Susetyo, dan Wakil Ketua Umum DPN Apindo Tutum Ruhanta. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 22 Juli 2014

Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal akhir pekan ini, Ahad (14/6) siang, menandai dibukanya Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU 2015. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperkirakan sebanyak 25.000 warga NU akan memenuhi masjid terbesar di Asia Tenggara ini.

Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan, 25.000 Nahdliyin Hadiri Istighotsah Akbar di Masjid Istiqlal

Demikian laporan Ketua Panitia OC Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz perihal persiapan Munas NU pada rapat harian Tanfiziyah PBNU, di Jakarta, Rabu (10/6) sore.

“Rais Aam PBNU KH Ahmad Musthofa Bisri akan menyampaikan taushiyahnya pada kesempatan ini. kemudian disusul dengan pidato amanat Presiden RI Jokowi,” kata Ketua PBNU yang lazim disapa Mas Imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadirin istighotsah terdiri atas warga NU di Jakarta dan kabupaten di sekitarnya. Mereka akan datang dari Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok. Selain itu, lembaga, lajnah, dan aktivis banom NU seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, juga akan turun.

Istighotsah ini berlangsung sejak pukul 12.00 hingga 16.00. Pada kesempatan ini, PBNU sekaligus membuka acara Munas Alim Ulama NU 2015 di Jakarta. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 27 Juni 2014

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga Amerika Serikat menempatkan posisi Gus Dur sekelas dengan pemimpin gerakan perubahan di AS Martin Luther King. Mereka mengapresiasi pemikiran dan gerakan Gus Dur dalam memperjuangkan nasib kelompok minoritas.

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Demikian disampaikan Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake dalam lawatan kerjanya di pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (11/12) pagi.

“Di Amerika Serikat, Sosok Gus Dur disamakan dengan Martin Luther King,” kata Blake.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara King sendiri, Blake menyatakan, aktivis HAM dan pemimpin gerakan hak sipil Afrika-Amerika. Sedangkan ajaran dan kepemimpinan Gus Dur memiliki peran penting dalam membentuk demokrasi yang beragam, toleran dan aktif seperti yang terlihat saat ini di Indonesia.

“Saya sangat senang dengan gagasan Gus Dur. Demokrasi, HAM, pluralisme dan anti-kekerasan tetap bertahan dan diaplikasikan oleh generasi muda Indonesia,” Blake menambahkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masyarakat AS sudah semakin memahami Islam sehingga tidak merasa takut berlebih dengan kehadiran Islam di Amerika. “Bahkan agama Islam sekarang di AS berkembang pesat. Di beberapa negara bagian, Islam merupakan agama kedua terbanyak yang dianut masyarakat,” kata Blake dalam bahasa Inggris.

Pengasuh pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid menyatakan dirinya akan melakukan pertemuan lanjutan dengan Blake untuk memaparkan pemikirna Gus Dur secara detil. Ia juga sempat menawarkan pendidikan pemikiran Gus Dur bagi siswa dan mahasiswa AS untuk tinggal beberapa bulan di pesantren Tebuireng. (Abror/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Tokoh, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Juni 2014

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dewan juri Kompetisi Film Pendek Dokumenter Muktamar ke-33 NU menetapkan 15 nominasi film sebagai nominasi juara. Keputusan tersebut ditetapkan setelah pertemuan dewan juri di gedung PBNU sehari sebelum Lebaran atau Kamis (16/7) lalu.

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Berikut adalah ringkasan isi ke-15 film tersebut:

Inoeng Silat berdurasi 13 menit 23 detik (2014) dengan sutradara Miftha Yuslukhalbi & Nadia Susera. Film ini bercerita tentang perempuan belajar beladiri yang dianggap tabu di Aceh masa kini. Padahal jaman dahulu perempuan Aceh mahir beladiri untuk menjaga diri dari segala marabahaya. Dalam Kenangan berdurasi 5 menit 12 detik (2014) sutradara Canggih Setyawan. Film ini bererita tentang Heri Susetyo, seorang Tionghoa yang memutuskan masuk Islam dan mendirikan sebuah masjid. Bagaimana dia memandang seorang Gus Dur? Al Ghorib: Sebuah Kisah tentang Kemungkinan yang Asing berdurasi 29 menit 10 detik (2015) dengan sutradara Vedy Santoso. Film ini mengisahkan Dr. Katrin Bandel, mualaf asal Jerman yang memilih dan menjalani kehidupan nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Suluk Batik-Kitab berdurasi 16 menit 24 detik (2015) dengan sutradara Abdul Syukur & Dwi Rahmanto. Film ini mengisahkan perjalanan diri membangun seni lingkungan bermediakan batik sebagai acuan dan pacuan pemahaman kedepan. Batik sebagai bagian seni rupa tradisional tak lepas dari pijakan kesatuan antrara nilai jasmani dan rohani. Selokan Mataram berdurasi 30 menit (2015) dengan sutradara Setiyo Junaedi. Selokan Mataram merupakan kanal yang membelah Yogyakarta. Dibangun dengan darah dan air mata. Sebuah langkah penting untuk jalur pengairan utama kehidupan pertanian masyarakat Yogyakarta. Tata Cara Tante Cora berdurasi 12 menit 48 detik (2013) sutradara Muh. Alif Rasman. Film ini tentang tante Cora. Ini tentang betapa kayanya Allah yang menjadikan manusia beraneka ragam, bagaimana mengedepankan kebebasan dalam memilih jalan hidup, dan berlapang dada dalam menghargai perbedaan. Kisah Nglurah: Potret Toleransi Umat Islam & Hindu Jawa. Film berdurasi 6 menit 30 detik diproduksi tahun 2015 oleh sutradara Nugroho Adi Saputro. Seperti kebanyakan desa di pulau Jawa, desa Nglurah mayoritas berpenduduk muslim. Bagaimana bentuk interaksi antara warga desa Nglurah dengan pemeluk agama Hindu yang beribadah di candi Menggung yang terletak di wilayah desa tersebut? Film Teungku Rangkang berdurasi 16 menit 30 detik (2014) dengan sutradara Muhammad Akbar Rafsanjani & Muhajir. Film ini bercerita tentang metode Iqra dalam membaca & belajar Al Quran semakin menggeser metode Qaidah Baghdadiyah (Aleh-Ba) di penjuru Aceh. Teungku Hanifuddin dari Gampong Blang Asan, Sigli, berusaha terus melestarikan qaidah tersebut agar tak punah ditelan waktu. Indah Itu Pesantren berdurasi 7 menit (2015) dengan sutradara Prajanata Bagiananda Mulia. Masa depan seorang anak pada akhirnya bergantung pada cara ia dididik dalam memperoleh ilmu. Benarkah menuntut ilmu di pesantren itu membosankan dan mengerikan? Bagaimana pula dengan masa depan lulusan pesantren? Di Bumi Tuhan, film berdurasi 22 menit 41 detik (2015) besutan sutradara Taufan Latief Alimudin Akbar. Film ini tentang kerukunan, pemuda, hubungan antarmanusia yang hidup bersama di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, bersama-sama di bumi Tuhan. Pustaka di Lembah Gunung Slamet berdurasi 15 menit (2015) buah karya sutradara Zandy Ivanda. Film ini merekam Ridwan Sufuri yang prihatin dengan minimnya pengetahuan warga sekitar rumahnya. Ia berinisiatif membuat perpustakaan keliling. Sejauh mana usahanya itu menggapai manfaat? Film Dalae berdurasi 20 menit (2014) oleh sutradara Arziqi Mahlil & Munzir. Film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan Dalail. Sebaliknya dengan pemuda kota. Apa penyebab pemuda kita tidak begitu peduli kepada budaya Dalail? Mableun, film berdurasi 20 menit karya sutradara Faisal Ilyas & Samsul pada 2013. Film ini mengangkat peran seorang nenek yang membantu masyarakat dalam proses persalinan ditengah ketidakhadiran bidan Puskesmas di Pulo Aceh, Aceh Besar. Pelangi di Tepian Samudera buah karya sutradara Mukhlas Syah Walad & Fuad Ridzqidari, film berdurasi 20 menit diproduksi tahun 2014. Film ini mengungkap perjuangan seorang Mukim di tengah pergulatan ekonomi. Ia meyakini Kenduri Laut menjadi simbol pemersatu masyarakat dalam sebuah kearifan lokal. Bulan Sabit di Kampung Naga, film berdurasi 19 menit 52 detik ini diproduksi tahun 2015 karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan. Film ini mengungkap Islam membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’, bukan ‘rahmatan lil muslimin’, apalagi ‘rahmatan lil nahdliyin’. Semangat menjadi rahmat bagi semesta alam ini bisa mewujud di lingkungan Pondok Pesantren Kauman yang terletak di Pecinan kota Lasem-Rembang. Interaksi multikultur yang berlangsung lama ini telah membangun kesadaran akan pentingnya dialog antarpihak.? Kompetisi yang dibuka 20 Juni hingga 10 Juli 2015 ini diikuti 69 film. Menurut salah seorang anggota tim kreatif Muktamar ke-33 NU, Hamzah Sahal, bahwa jumlah peserta melebihi target. “Kami menargetkan 30 judul film yang masuk. Tapi ternyata ada 69 judul film. Sebetulnya, kata Hamzah, ada 73 judul film, tapi yang 4 judul masuk setelah batas akhir penerimaan. Jadi, batal dengan sendirinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi. Jawa Tengah, Tawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Daerah Istimewa Jogjakarta paling banyak mengirimkan karya.

Dewan juri yang terdiri dari Nurman Hakim, Bebi Hasibuan, Bowo Leksono, Aman Sugandi, Dimas Jayasrana akan menentukan pemenang pertama, kedua, dan ketiga, dengan hadiah total 45 juta. Pemenang akan diumumkan di Pondok Pesantren Attauhidiyyah pada 1 Agustus 2015. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

(Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Mei 2014

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Bupati Tegal Ki Enthus Susmono menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Tegal menolak 5 Hari Belajar yang merupakan kebijakan Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini akan mematikan pendidikan Madrasah dan Taman Pendidikan Quran (TPQ).

Padahal, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pendidikan formal, tetapi yang lebih penting adalah pendidikan agama yang di dalamnya terdapat pendidikan akhlak.

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Sekolah 5 Hari, Ki Enthus Kirim Surat ke Mendikbud

"Perhitungan saya kalau sekolah 5 hari, anak sekolah pulang sore sekitar pukul 16.00. Lalu pendidikan Madrasah dan TPQ mau dikemanakan?” tegas Ki Enthus dengan nada bertanya saat acara peringatan Nuzulul Quran tingkat Kabupaten Tegal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Tegal, Senin (12/6) malam.

Mantan Kasatkorcab Banser Tegal itu mengatakan, pendidikan formal memang penting, tetapi akhlak generasi bangsa itu jauh lebih penting.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya siap mendapatkan hukuman apapun kalau sikap ini dianggap salah dan menentang kebijakan itu, karena ini demi masa depan bangsa yang berakhlak," tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan itu, Ki Enthus yang mengenakan celana batik khas Tegalan dan jaket Banser langsung memerintahkan Kepala Dinas Dikbud, Salu Panggalo untuk menyurati Mendikbud.

"Pak Salu, besok pagi surati (Selasa.red) surati Mendikbud, apapun risikonya saya yang tanda tangan. Saya juga siap dipanggil oleh Menteri, bahkan saya juga siap bahtsul masail tentang itu," pungkasnya.

Acara ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Tegal KH Chambali Utsman, sejumlah ulama, anggota Forkompimda Kapolres Tegal, Dandim 0712, Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Tegal, para Kepala OPD, para ulama dan tokoh masyarakat Kabupaten Tegal serta ratusan anggota Banser. (Hasan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 Mei 2014

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama menggelar Finalisasi Draf PMA tentang Penilaian Buku Pendidikan Agama dan Keagamaan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi (Tadqiq al-Kutub).

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Kemenag Matangkan Draft PMA Tadqiq

Kegiatan tersebut dijadwakan selama tiga hari, Ahad-Selasa, 27-29 Agustus 2017 di Hotel Harper Jl. Pangeran Mangkubumi, Yogyakarta. Acara dibuka resmi Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud, Ahad (27/8) malam.

Dalam pidato pengarahannya, Mas’ud menyatakan bergembira dan menyambut positif terkait rencana penerbitan PMA tadqiq atau penilaian buku. Karena sangat minim sekali aturan tentang kelitbangan. “Termasuk tentang tadqiq atau penilaian buku ini sangat akurat sekali,” kata dia.

   

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mas’ud menyebut kebetulan ide pembuatan draft sesuai dengan inovasi yang ia lakukan dalam proyek perubahan pada Diklat Pimpinan di Lembaga Administrasi Negara. “Saya melihat miskinnya regulasi terkait Litbang dan Diklat. Kalau tidak ada aturan yang mengikat ya kita nggak bisa melakukan apa-apa. Jadi, kita butuhkan regulasi yang kuat di antaranya berangkat dari PMA,” tandasnya.

Ia menambahkan, dalam proyek perubahan tersebut Mas’ud menggagas optimalisasi sistem penjaminan mutu dan inovasi pemanfaatan hasil kelitbangan. Selama ini belum maksimal. Dampaknya, banyak hasil penelitian yang belum bisa dimanfaatkan dengan baik. “Bahasa Jawa-nya muspro. Makanya ini suatu keharusan ada regulasi yang kuat di atas, dan kami lah yang menyiapkan,” tukasnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Puslitbang LKKMO Choirul Fuad Yusuf dalam laporannya mengatakan, kegiatan ini merupakan kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga. Sebelumnya, lanjut Fuad, sejak 2016 Puslitbang Lektur telah membuat draft PMA tersebut. PMA ini bertujuan menyediakan dasar aturan (legal base) untuk memberikan penilaian terhadap buku teks dan pustaka pendidikan agama dan keagamaan.

Menurut adik kandung mantan Wakil Ketua Umum PBNU KH Slamet Effendi Yusuf (Alm.) ini, penilaian terhadap buku tersebut meliputi tiga hal. Pertama, menilai konsistensi dan validitas penulisan teks-teks keagamaan dalam buku teks dan pustaka di lingkungan pendidikan.

“Kedua, meminimalisasi terjadinya kesalahan, ikhtilaf atau perbedaan pendapat, dan ketidaksesuaian dalam penulisan teks-teks keagamaan, baik pada tataran praktis maupun substantif. Ketiga, menilai relevansi substansi buku dengan pemahaman keagamaan di Indonesia dalam kerangka NKRI,” paparnya.

Menurut Fuad, ada dua alasan lahirnya draft PMA tersebut. Pertama, alasan regulatif. Yakni UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). “Yang terbaru UU tahun 2017 yang menyebut perlunya menelaah buku ajar baik secara teks maupun nonteks,” ujarnya.

Kedua, lanjut dia, alasan empiris yang menunjukkan bahwa buku-buku yang sudah disahkan oleh BNSP hingga 2025 itu masih banyak bermasalah tentang penerjemahan Al-Qur’an dan proses transliterasi. “Satu lagi, ada Perpres tahun 2015 yang mengatur apapun terkait urusan agama menjadi tanggung jawab Kementerian Agama,” kata Fuad. 

Lokakarya yang diikuti 50 orang tersebut menghadirkan sejumlah pejabat dan akademisi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, antara lain Rektor Prof KH Yudian Wahyudi PhD, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Guru Besar Bidang Politik Islam Kontemporer Prof Noorhaidi Hasan PhD, serta para peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah