Sabtu, 30 Agustus 2014

Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jerman merupakan salah satu negara favorit sebagai tujuan mahasiswa asal Indonesia untuk melanjutkan studi. Negara yang saat ini dipimpin Kanselir Angela Merkel tersebut menyediakan sejumlah fasilitas beasiswa dan biaya terjangkau.

Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Buntet Berbagi Cerita Raih Beasiswa Kuliah di Jerman

Salah satu santri Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat, Muhammad Abdullah Syukri menguraikan bagaimana proses persiapan bisa kuliah di Jerman dalam Webinar yang digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki melalui Youtube, Senin (18/9). 

Bagi masyarakat Indonesia yang terbilang mampu secara materi tak perlu repot-repot untuk berebut beasiswa di Jerman karena biaya perkuliahan dan kehidupannya cukup terjangkau.

“Selain kampusnya murah, juga kemudian biaya hidupnya sangat murah sekali,” ungkap mahasiswa magister ilmu politik Universitas Duisberg-Essen, Jerman itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abdullah Syukri mengatakan, “Di Jerman kampusnya gratis.” Namun ada istilah semester ticket. Biaya untuk semester ticket ini cukup terjangkau, “Biasanya sekitar 300 Euro, kalau dirupiahkan kurang dari lima juta.”

Keterjangkauan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat pembayaran semester itu sudah termasuk seluruh tiket transportasi di kota tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Meskipun biaya hidup murah, tetapi mahasiswa wajib memiliki uang deposito. Bagi mahasiswa yang tidak menggunakan beasiswa, wajib menyediakan 8000 Euro atau sekitar 120 juta rupiah.

 

“Untuk yang kuliah di Jerman kemudian tidak menggunakan beasiswa harus mempunyai sekitar 8000 Euro selama satu tahun,” katanya.

“Uang 8000 Euro itu akan ditarik berkala selama setahun oleh penggunanya,” imbuhnya.

Proses persiapan

Beasiswa yang paling populer dan hampir semua mahasiswa asing menggunakannya yaitu beasiswa DAAD. Untuk S2 dan S3 mereka sudah banyak membuka kelas internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Hal pertama yang harus diperhatikan bagi calon pendaftar kuliah di Jerman adalah melihat daftar kampus yang diakui oleh Jerman. “Tidak semua kampus di Indonesia diakui ijazahnya untuk dapat melanjutkan S2 di Jerman,” jelas Syukri.

Mas Dede, begitu ia akrab disapa oleh masyarakat Buntet Pesantren, memberitahukan, bahwa kita dapat melihat daftar kampus Indonesia mana saja yang sudah diakui oleh Jerman melalui laman Kementerian Pendidikan Jerman Anabin (http://anabin.kmk.org/anabin.html).

Dari hal tersebut, Mas Dede mengingatkan pemerintah Indonesia, bahwa standard kualitas pendidikan Indonesia masih diragukan oleh Jerman. Meskipun ia tidak melihat hal tersebut di negara lainnya, semisal Inggris.

“Ini juga jadi PR sendiri bagi pemerintah kita, pemerintah Indonesia, bahwa ternyata standarisasi kampus di Indonesia masih diragukan kualitasnya untuk bersanding dengan kampus-kampus yang ada di Jerman khususnya,” katanya.

Setidaknya ada empat aspek yang harus diperhatikan oleh calon pendaftar. Hal yang paling pertama dilihat adalah Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Meskipun IPK bukan segalanya, tetapi ia menjadi poin penting. Meskipun begitu, hal tersebut bisa ditunjang dengan tiga aspek lainnya, yakni karya atau publikasi dan konferensi, pengalaman bekerja, dan organisasi.

“Nah jadi, sisi akademik, kemudian karya kita, lalu pengalaman bekerja, pengalaman organisasi, empat itu merupakan satu kesatuan yang kalau kita bisa memenuhi standar di sini maka kita siap bersaing dengan pelamar beasiswa yang ingin mendaftar di DAAD,” ungkapnya.

“Itupun berlaku bagi teman-teman yang ingin mendaftar melalui LPDP. Persyaratannya kurang lebih sama,” lanjutnya.

Proses perkuliahan

Di Jerman, seluruh keseharian menggunakan bahasa Jerman. Mulai dari pertokoan, transportasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, DAAD sebagai lembaga pemberi beasiswa untuk studi di Jerman memberikan kursus bahasa Jerman gratis kepada penerimanya selama jangka waktu tertentu sesuai program beasiswa yang diterimanya.

“Mereka sangat membantu dari segi persiapan, contoh kita diberikan kursus bahasa Jerman,” ujar santri Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang tersebut.

Selain DAAD, masing-masing kampus juga umumnya membuka kursus bahasa Jerman gratis. “Biasanya kampus menyediakan kursus bahasa Jerman gratis. Kita tinggal apply saja,” katanya.

Jika kita mengenal kampus-kampus terbaik di Indonesia seperti UGM, UI, ITB atau lainnya. Atau di Amerika Serikat dengan adanya Harvard University, Stanford University, MIT, dan di Inggris seperti Cambridge University dan Oxford University, hal tersebut tidak berlaku di negara pimpinan Angela Markel tersebut. 

“Semua lembaga pendidikan di Jerman diberlakukan sama,” ujar alumni Universitas Brawijaya tersebut.

Jerman tidak mengenal kampus terbaik karena semua disamaratakan. Hal yang membedakan antara kampus satu dengan lainnya adalah usia dan lokasinya. Kampus tua tentu saja sudah lebih banyak melahirkan alumni yang sudah bisa dilihat kiprahnya. Berbeda dengan kampus yang lebih baru.

Selain itu lokasi kampus juga hal yang berbeda. Jika ingin menikmati perkuliahan dengan suasana yang cukup ramai, kita bisa pilih kampus di wilayah selatan seperti Stutgart, Frankfurt, atau Munchen. 

Sebaliknya, jika ingin merasakan perkuliahan dengan suasana yang sepi, kita dapat memilih kota di wilayah barat. Pertimbangan lainnya untuk memilih kampus tentu saja dari jurusannya.

Abdullah Syukri mengingatkan, bahwa membaca menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Meskipun tentu saja belajar di manapun membaca itu suatu keharusan. Tetapi studi di Jerman memiliki alasan tersendiri. 

“Biasanya dosen memberikan lima sampai enam referensi dalam satu mata kuliah per minggu,” jelasnya.

Pria yang fotonya sempat viral di jagad santri karena menggunakan pakaian ala santri saat berjalan-jalan di tengah kota Koln Jerman itu juga menekankan pentingnya pengatuaran waktu. “Kalau ada yang meleset sebentar saja itu akan mengacaukan semuanya,” ungkapnya.

Selain itu, tidak hanya tugas akhir yang mesti dibicarakan dengan dosen, tetapi keseluruhan tugas pembuatan makalah harus dikonsultasikan. “Semua tugas harus dikonsultasikan.” Artinya, hal tersebut menuntut mahasiswa untuk berperan aktif. 

“Yang aktif mahasiswanya, dosen tidak mengarahkan sama sekali,” tegasnya. Oleh karena itu, ia mengingatkan agar kita dapat berinisiatif.

Di samping itu, hal yang tak kalah penting untuk dipersiapkan sejak dini untuk melanjutkan studi di Jerman adalah mental. “Yang paling harus dipersiapkan sekali kuliah di Jerman adalah mental,” tutur  

Persaingan yang sangat kompetitif membuat hal tersebut penting selain juga karena hal lain seperti keaktifan dalam diskusi. Oleh karena itu, ia sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa kuliah di luar negeri bukan bagi orang yang pinter ataupun cerdas, tetapi bagi mereka yang bermental.

Syukri yang juga akrab disapa Abe oleh rekan-rekannya di Universitas Brawijaya, juga menyampaikan bahwa birokrasi Jerman cukup rumit. “Birokrasi di Jerman agak rumit,” katanya. Hal tersebut karena semuanya berbahasa Jerman dan segala rupanya harus segera ditentukan dan dilaporkan seperti kepulangan dan sebagainya.

Diskusi yang dimoderatori oleh mahasiswi magister ilmu tafsir Necmettin Erbakan University Turki Aeni Nahdliyati ini juga menghadirkan Wakil Ketua PCINU Jepang Yudhi Nugraha dan mahasiswa magister Uludag University Turki M. Muafi Himam.

Kegiatan ini terselenggara atas insiasi PCINU Turki bekerja sama dengan PCINU Jerman dan PCINU Jepang, serta AIS Nusantara. (Syakir NF/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Agustus 2014

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 500 warga menyaksikan pelantikan pengurus baru ranting NU Larangan Tokol di pesantren Az-Zubair, Langgar Rajeh, Sumberanyar, Pamekasan. Pelantikan yang bersamaan dengan peringatan maulid ini juga dihadiri anggota badan otonom NU seperti Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU.

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Larangan Tokol Dilantik di Pesantren Az-Zubair

Pengurus baru ini dilantik oleh Wakil Ketua PCNU Pamekasan KH Moh Ramli pada Rabu, (28/1). Kiai Ramli dalam sambutannya mengimbau pengurus baru NU untuk bersinergi dengan banom, lembaga, dan lajnah NU.

“Dengan demikian pelantikan tidak hanya seremonial, tetapi sebagai awal untuk lebih menyejahterakan masyarakat utamanya Nahdliyin dan tetap dalam koordinasi para Ulama NU,” tegas Kiai Ramli.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyampai taushiyah maulid ialah pengasuh pesantren As-Salafiyah As-Safi’iyah As-Suja’iyah Pati Jember KH Misbach Kholili. Pengurus PCNU Jember ini mengingatkan bahwa tantangan NU ke depan semakin kompleks dari segala sisi lebih-lebih gempuran kaum Wahabi yang selalu menganggap salah segala amaliah warga NU.

“Untuk itu warga NU harus membentengi diri dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para ulama NU,” kata Kiai Misbach.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir pula pengurus PCNU Pamekasan beserta Banom, Pengurus MWCNU Tlanakan, aparat kecamatan Tlanakan, Kapolsek, dan Danramil Tlanakan. (Moh Wahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Sunnah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Agustus 2014

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Secara kelembagaan Nahdlatul Ulama memang lahir pada tahun 1926. Akan tetapi secara kultur sesungguhnya ia ada sejak zaman Wali Songo. Para wali berpaham  Ahlussunah wal Jamaah dan tetap mengakomodasi budaya-budaya lokal.

Meski para ulama Wali Songo terdiri dari para sufi, namun dalam kegiatan ibadah kesehariannya menggunakan metode fiqih sehingga dakwahnya mudah diterima di tengah masyarakat.

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Abu Hafsin: NU Sudah Ada Sejak Zaman Wali Songo

Hal tersebut dikatakan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Abu Hafsin Umar saat memberikan pengarahan kepada jajaran pengurus baru Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Pekalongan Selatan dan Pekalongan Barat di Gedung Aswaja Pekalongan Ahad (2/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, amaliyah (perilaku keberagamaan) Wali Songo terus berkembang hingga pada puncaknya, para ulama yang dimotori Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari mendeklarasikan nama “Nahdlatul Ulama” sebagai organisasi pada 31 Januari 1926.

"NU secara kultur sesungguhnya telah ada sejak zaman Wali Songo, sehingga Islam yang berkembang saat ini di Indonesia, ya Islam ala Nahdlatul Ulama," ujar Kang Abu, panggilan akrabnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dirinya mengajak kepada segenap jajaran pengurus MWC NU yang baru saja dilantik untuk tidak ragu mengembangkan Islam yang rahmatan lil alamin, karena Islam yang demikian merupakan Islam ala Nahdlatul Ulama yang harus kita pupuk dan sirami agar tetap tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Kota Pekalongan H Ahmad Rofiq meminta kepada pengurus baru untuk segera merealisasikan program-programnya dan bersinergi dengan PCNU, khususnya dalam penanganan aset aset NU.

Dikatakan, NU ingin menyelamatkan aset-aset miliknya yang berjumlah cukup banyak dan saat ini masih dikuasai secara perorangan. “Kita tidak ingin terulang kembali aset yang diwakafkan oleh orang NU untuk NU kemudian yang menguasai dan menikmati lembaga/organisasi lain,” ujarnya.

Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, akan tetapi harus dimulai dengan segera, sehingga upaya penyelamatan asset-aset NU di Kota Pekalongan yang saat ini masih dikuasai dan diatasnamakan persorangan bisa kembali ke NU.

Rofiq berpesan, para pengurus harus mengingat betul sumpah dan janji yang baru saja diucapkan. Karena apa yang telah diucapkan merupakan janji untuk berkhidmah di NU selama lima tahun. Menurut dia, pengurus yang tidak menjalankan roda organisasi berarti telah melanggar sumpah atau janji.

Acara yang dirangkai dalam format pelantikan dan raker bersama dihadiri oleh PWNU Jawa Tengah, jajaran PCNU Kota Pekalongan, Ranting NU se-MWC NU Pekalongan Selatan dan Barat, serta tamu undangan dari badan otonom kedua  MWCNU itu. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Agustus 2014

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (9/3) sore memperingati Hari Lahir (Harlah) IPNU-IPPNU ke-62 dan 61, di balai pertemuan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori.

Ketua PAC IPNU Kaliori, Muhammad Lilik Wijanarko mengungkapkan, acara ini sebagai upaya hormat terhadap hari lahir Ke-62 IPNU dan Ke-61 IPPNU. "Selain acara Harlah, kami juga mengemas acara tersebut dengan Rapat Kerja Anak Cabang (Rakerancab) PAC IPNU-IPPNU Kaliori," terangnya.

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris” (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kaliori Agendakan “Pekan Madaris”

Para perwakilan setiap Ranting yang turut hadir dalam acara tersebut berupaya untuk menyampaikan gagasan terhadap program kerja yang akan dijalankan dalam masa khidmah 2015-2016.

Agenda terdekat, lanjut Lilik, melaksanakan "Pekan Madaris" yang akan kami laksanakan di Desa Dresi Kecamatan Kaliori pada 9-10 April depan. "Kami berharap dengan banyaknya kegiatan yang akan kami lakukan tetap membuat para kader solid dan semangat dalam berjuang," harapnya.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil I PC GP Ansor Rembang Ahmad Najih, Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani , Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam, Ketua PC IPPNU Rembang Afaf Muniroh Atid, dan beberapa pengurus harian PC IPNU-IPPNU Rembang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua MWCNU Kaliori KH Ali Armani dalam sambutannya mengatakan, bagi pelajar NU harus bisa memilih siaran televisi yang tepat. Bukan hanya menikmati siarannya saja, tetapi harus bisa mengambil hikmah dari apa yang disiarkan. 

"Kita sebagai warga nahdliyin bukan malah menonton MTA tv, tetapi menonton siaran Ahlussunnah wal Jamaah seperti TV9 dan Aswaja TV," pesannya.

Rangkaian acara tersebut diakhiri dengan meniup lilin dan pemotongan tumpeng oleh Ketua PAC Kaliori dan diberikan kepada Ketua PC IPNU-IPPNU Rembang. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dengan para peserta. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, AlaNu, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah