Minggu, 30 Juli 2017

Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Internet Marketers Nahdlatul Ulama (IMNU) terus berperan aktif memerangi paham radikalisme yang tumbuh subur di internet. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan pemaparan materi terkait strategi dakwah di media sosial yang ditujukan bagi para kiai, santri, dan Nahdliyin.

Seperti yang dilakukan IMNU belum lama ini. Dalam acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar yang diadakan GP Ansor Kabupaten Soppeng Makassar di Kampus STAI Al Ghazali 24-26 November 2017, IMNU mengambil peran untuk menyampaikan materi tentang strategi dakwah di media sosial.

Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet

Menurut Baldanur Baharudin, Sekretaris Jenderal IMNU, yang menjadi pembicara pada pelatihan tersebut, paham radikalisme yang sudah menjamur di internet perlu dikhawatirkan.

"Sangat mengkhawatirkan. Apalagi umat Islam di Indonesia banyak yang tidak paham tentang manhaj atau mazhabnya (paham radikalisme). Umumnya hanya berkata yang penting Islam, padahal dalam ber-Islam perlu manhaj yang jelas dan sanad ilmu yang tersambung sampai ke Rasululllah. Akhirnya kaum awam mudah terpengaruh oleh paham-paham baru yang masuk negara ini," tutur pria yang akrab disapa Baldan itu kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Baldan juga mengingatkan akan pentingnya membangun jaringan dakwah di internet, khususnya pada para dai.

"Dai-dai NU harus lebih melek internet dan wajib membangun jaringan dakwahnya melalui Internet. Ini dilakukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh dan masuk ke dalam paham-paham radikal dan paham-paham yang mengancam Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah an-Nahdliyah."

Pelatihan yang diikuti 30 peserta itu juga dihadiri Ketua Fatayat NU A. Tenri Ampa dan Ketua Tanfiziyah NU Muh. Asis Makmur beserta pengurus GP Ansor Soppeng.

Berdasarkan keterangan Baldan, para peserta terlihat antusias mengikuti pelatihan. Bahkan seusai acara, GP Ansor dan Fatayat sudah merencanakan akan berkolaborasi dengan IMNU untuk menggelar pelatihan serupa dengan peserta yang lebih banyak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain di Sulawesi Selatan, di waktu yang sama, IMNU juga memberikan pelatihan serupa di wilayah Jombang, Jawa Timur. (Alika Rukhan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bada lontong, Kupatan

Bada berasal dari bahasa Arab, ba’da, artinya sesudah. Lontong adalah jenis makanan yang terbuat dari beras yang direbus, bungkusnya daun pisan, umumnya berbentuk lonjong.?

Bada lontong adalah istilah untuk makan lontong secara bersama-sama di masjid pada tanggal 8 Syawwal. Lontong berasal dari kiriman para jama’ah masjid. Imam masjid atau kiai biasanya mengirim lontong lebih banyak dari jamaah lainnya, karena ini mometum para kiai untuk bersedekah. Lontong tidak hanya dikirim ke masjid, tapi juga untuk tetangga.

Bada lontong, Kupatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bada lontong, Kupatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bada lontong, Kupatan

Perayaan yang ditandai dengan makanan tersebut dilakukan pagi hari, waktu dluha, kira-kira pukul delapan hingga sembilan. Jamaah masjid berkumpul, dari anak-anak hingga orang tua. Sebelum makan bersama, dilakukan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh imam masjid atau sesepuh setempat.

Perayaan ini dilakukan setelah puasa sunnah selama enam hari di bulan syawal. Puasa sunnah tersebut sebetulnya tidak diharuskan berturut-turut, tapi para kiai menghimbau berturut-turut agar tidak ditunda-tunda.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bada Kupat atau Kupatan, atau juga Syawalan adalah nama lain dari Bada Lontong. Istilah Kupatan memiliki makna sendiri bagi Islam Jawa. Kupatan bermakna cukup empat perkara, yakni (1) Sudah puasa Ramadaan, (2) sudah zakat, (3) sudah shalat Id dan (4) sudah puasa syawal enam hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tradisi lazim dilakukan kalangan Islam Jawa dan merupakan bagian dari kearifan tradisi pesantren. Tiap daerah memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya di lamongan, tradisi Kupatan dilakukan di ruang terbuka, ratusan orang kumpul untuk berdoa dan makan kupat berjamaah atau bancakan. Di Lamongan, Kupatan juga dikaitkan dengan Sunan Drajat, Wali yang berdakwah di daerah tersebut.(Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Rabat,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Program Mahasiswa Kelas Internasional mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAINU) Jakarta di Universitas Ibnu Tufail Kenitra berakhir. Setelah 11 bulan menimba ilmu di kampus itu, mereka harus kembali ke tanah air.  

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Perpisahan program tersebut digelar di Griya Mahasiswa Kenitra pada Kamis malam 11 Desember 2014. Pada kesempatan itu, hadir Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyub, H. Husnul Amal Mas’ud dan Prabowo Wiratmoko Jati mewakili Dewan Mustasyar PCINU. Hadir pula perwakilan KBRI, anggota PPI Maroko serta beberapa warga Maroko.

Kia Mujib yang juga Ketua Badan Pengawas Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa Maroko merupakan salah satu pusat keilmuan Islam. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya literatur- keislaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di negara Maroko pula, tambah dia, tempat lahirnya para cendekiawan islam yang menyebarkan Islam hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. “Di Indonesia ada beberapa kuburan yang tidak diketahui identitas jelasnya. Tetapi di nama-nama, di batu nisannya bertuliskan maghribi yang berarti berasal dari Maroko”.

Ia berpandangan, tidak menutup kemungkinan, corak keislaman Indonesia memang sebagian dibawa oleh ulama Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua rombongan mahasiswa STAINU Ooz Fauzi menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dan melancarkan kegiatan tersebut.

Ia mengutip adagium yang sudah masyhur di Maroko “idza kunta fil maghrib fala tastaghrib”. Apabila kamu berada di maghrib (Maroko) maka janganlah kamu terheran-heran (dengan apa yang terjadi di sini). “Seyogyanya kita (kawan-kawan STAINU) agar mengambil segala hal yang baik dari Maroko dan membuang hal-hal yang tidak baik dari sini,” ujarnya.

Sementara Abdul Karim Jariri, ustadz di Maroko, menutup doa perpishan itu. Ia mengaku senang berinteraksi dengan para mahasiswa yang belajar di Maroko. (Fairuz Ainun Naim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 28 Juli 2017

10 Tahun NU Online

Kebudayaan adalah ‘makhluk’ besar setelah manusia. Ia melekat pada diri manusia, berupa ‘bentuk’ dan ‘isi’ sekaligus. Kebudayaanlah yang menilai seorang anak manusia dinilai indah atau buruk, dinilai berbudaya atau tidak berbudaya.?

Dan bukan mungkin, kebudayaan merupakan ‘wahyu’ terbesar karena diberikan kepada semua jenis manusia, bukan hanya kepada para rasul dan nabi.

10 Tahun NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Tahun NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Tahun NU Online

Sampai di sini, mari kita meloncat, menelusuri Nahdlatul Ulama dan menjelajahi pesantren. Dan mari kita meloncat juga pada kesimpulan-kesimpulan tentang pesantren dan kebudayaan yang menggerakkan dan mengitarinya.?

Paling tidak, ada tiga planggeran yang dijadikan pijakan kebudayaan pesantren: nilai-nilai keagamaan atau ketuhanan, penghargaan pada tradisi atau masa lalu, dan keterbukaan kepada yang baru. Dan dengan kesadaran penuh, ketiga hal itu membuat pesantren meniscayakan kebhinekaan anak cucu Adam dan segenap kebudayaannya dan keyakinannya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiga planggeran tersebut mengejewantah dalam praktik, sikap, dan tindakan keagamaan, mewujud dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi visi dan cita-cita untuk melindungi, melangsungkan, mengembangkan peradaban manusia.

Tiga planggeran itulah yang menjadi sandaran almagfurlah KH Ahmad Shiddiq dalam menyusun ‘Khittah Nahdlatul Ulama’ atau akrab dengan sebutan ‘Khittah Nahdliyah’. Sebelumnya telah tercantum, lebih dahulu dalam Qonun Asasi oleh Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari (1926) serta risalah Mabadi Khorio Ummah yang dihasilkan muktamar NU di Magelang 1939.

Secuil catatan di atas menjadi latar belakang Pondok Pesantren Attauhidiyyah media resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama untuk melakukan ikhtiar-ikhtiar kebudayaan yang sudah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Rangkaian sepuluh tahun Pondok Pesantren Attauhidiyyah (2003-2013) dibagi dalam empat sesi, yang diadakan selama empat bulan berturut-turut, Maret, April, Mei, dan Juni.?

Sesi pertama mengetengahkan gerak kebudayaan yang berlangsung di pesantren dan komunitas-komunitas NU. Sejak awal bulan ini, kami mengabarkan gerak-gerak kesenian dan kebudayaan yang ada di pelbagai daerah, di Subang ada genjring, di Solo kelompok shalawat, di Jepara kelompok ketoprak, ada pergerakan pemikiran, hingga humor beraroma kebudayaan muncul di bulan ini.?

Sesi pertama ini akan ditutup dengn pidato kebudayaan dan Asrul Sani Award yang akan digelar di PBNU, Kamis malam, 28 Maret 2013.

Sesi kedua atau bulan April, Pondok Pesantren Attauhidiyyah mengusung tema teknologi. Ada peluncuran karya-karya teknologi modern dari Pondok Pesantren Attauhidiyyah ataupun dari komunitas NU yang tak terikat secara struktural dengan NU, tapi mereka adalah jamaah setia NU yang memiliki intensitas dengan teknologi.?

Sesi ketiga atau bulan Mei, menggerakkan literasi pesantren. Pada sesi ini ada pameran kitab-kitab pesantren berbahasa daerah, seminar-seminar, dan festival-festival kepenulisan bertema pesantren.?

Sesi keempat ikhtitam. Dalam sesi ini, kami memiliki azam menampilkan Rais Aam PBNU KH. A. Sahal Mahfudz untuk memperikan taushiyah dan doa.?

Dari semua itu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah hanya berharap satu hal saja, yakni ada yang baru dalam melanjutkan hubungan berjama’ah dan menggerakkan jam’iyah: Nahdlatul Ulama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 23 Juli 2017

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur, meluncurkan buku baru, Kamis (17/8). Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said tersebut berlangsung meriah dan dihadiri sejumlah pengasuh dan ratusan guru dari lembaga pendidikan formal yang ada di pesantren setempat. Acara diawali dengan istighatsah dalam rangka memperingati hari kemerdekaan ke-72 RI.

"Peluncuran buku ini memang bersamaan dengan hari kemerdekaan," kata Ainur Rofiq al-Amin usai kegiatan.

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Peringati Kemerdekaan dengan Luncurkan Buku

Menurut dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut, memang kahadiran buku ini adalah sebagai semangat perjuangan yakni membangun negeri dan membangun umat muslim yang moderat, lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Buku setebal 500 halaman tersebut berjudul “Tambakberas: Menelisik Sejarah Memetik Uswah” dan ditulis oleh dzurriyah atau keluarga pesantren. "Mereka berjumlah 8 orang yakni Heru Najib, Syifa Malik, Nidaus Saadah, Basyiratul Hidayah, Abdul Jabbar Hubbi, Wafiyul Ahdi, Khalid Masud dan saya sendiri," kata Gus Rofik, sapaan akrabnya.

Sebagai gambaran, Gus Rofik mengemukakan bahwa buku itu berisi seputar biografi, sejarah sepak terjang perjuangan, sejumlah kisah, dan beragam sisi dari sosok para ulama dan kiai di Pesantren Tambakberas. "Tentu saja dengan tokoh pentingnya adalah KH Abdul Wahab Chasbullah," terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kelebihan buku ini ditulis dengan acuan dari puluhan saksi sejarah, dan referensi utama yang berbicara tentang NU dan buku kuno lainnya. "Karena itu penulisnya adalah dzurriyah Tambakberas yang memiliki latarbelakang sebagai kiai, akademisi, hingga peneliti," kata salah seorang penulis, Heru Najib.

Sebenarnya, peluncuran buku tersebut sebagai percobaan untuk mengetahui tanggapan pasar. "Alhamdulillah hari ini bisa terjual hingga seribu eksemplar," kata Gus Heru, sapaan akrabnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 21 Juli 2017

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) angkatan XVI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Nusantara (Uninus) dihadiri salah seorang pendiri PMII, KH Nuril Huda.

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Mapaba bertema Gerakan Ideologisasi versus Deregenerasi dan globalisasi tersebut, digelar di kantor PWNU Jawa Barat, di Bandung, Jumat (19/10) hingga Ahad (21/10).

Pada kesempatan itu, KH Nuril Huda yang datang pada Sabtu, (20/10) bercerita sejarah pendirian PMII pada tahun 1960. Saat itu, ada empat partai terkuat, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setiap partai mempunyai kader di kalangan mahasiswa, PNI punya GMNI, Masyumi punya HMI, PKI punya CGMI, partai NU belum punya,” katanya.

Kemudian ia 13 orang mahasiswa NU menghadap kepada Ketua Umum PBNU waktu, KH Idham Chalid, untuk menanyakan perlun tidaknya dibentuk organisasi mahasiswa NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Perlu!” jawab Kiai Idham Chalid yang memipin NU selama 25 tahun. Jawaban dia, diamini salah seorang Syuriyah PBNU waktu itu, KH Anwar Musaddad.

Dengan demikian, sambung KH Nuril, PMII adalah anak sah NU. Meski kemudian PMII secara struktural pisah, tapi hakikatnya masih anak NU, “Itu hanyalah strategi saja. Benang merahnya masih ada, masih anak NU.”

Sebagai anak muda NU, maka PMII adalah organisasi intelektual berhaluan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Karena itulah ia menjelaskan perbedaan aliran keagamaan dalam Islam yang tumbuh di berbagai organisasi di Indonesia.

Mapaba tersebut diikuti 80 orang mahasiswa dan mahasiswi. Selain Uninus, ikut pula beberapa peserta dari kampus sekitar Bandung.

Redaktur:  A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali

Banyumas, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen Banyumas, Jawa Tengah khususnya warga jamiyah Nahdlatul Ulama kembali tengah berencana kembali membangun Masjid Jami At Taqwa yang akhir Januari 2014 lalu, roboh diterpa gempa bumi.

Desain dan anggaran untuk pembangunan Masjid Jami At Taqwa Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen hingga kemarin pertengahan April 2014 ini masih terus dibahas. Pasalnya pembangunan masjid ini  perlu perencanaan desain konstruksi yang matang. Selain itu, anggaran pembangunan masjid juga masih terus dikumpulkan dari berbagai sumber.

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali

Dalam musyawarah panitia pembangunan Masjid Jami At Taqwa Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen, Kamis (17/4) malam terungkap selain menghimpun swadaya dari masyarakat dan donatur lainya, panitia juga tengah menunggu kepastian bantuan penanganan gempa yang dijanjikan Pemkab Banyumas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Yul Khoerudin mengatakan usai gempat terjadi  hingga pertengahan April 2014 ini telah terkumpul uang bantuan sebanyak 107 juta. Selain itu juga ada sekitar 425 sak semen, 315 dus keramik dan berbagai material bangunan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami harap berbagai bantuan yang terkumpul bisa menjadi modal awal pembangunan. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami," kata Yul Khoerudin.

Tokoh ulama setempat, Habib Muhammad Al Habsyi yang juga takmir masjid mengatakan, panitia pembangunan terus bermusyawarah secara rutin tiap minggu untuk membahas langkah lanjutan untuk pembangunan masjid ini.

Komunikasi dan koordinasi panitia dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak lain juga terus diintensifkan untuk memperlancar proses pembangunan kembali masjid warga ini.

"Kami dari warga juga tidak akan berpangku tangan terkait penanganan pasca musibah gempa yang membuat ambruk masjid kami. Makanya kami dari panitia bersama pemerintah akan duduk bersama untuk membahas secara matang konsep detail dan anggaran pembangunan masjid ini. Semoga secepatnya pembangunan ini terealisasi," jelasnya.

Petugas Posko Bencana Gempa Masjid Jami At Taqwa, Muhammad Tohar Fauzi mengatakan bagi siapa saja yang terketuk hatinya untuk membantu pembangunan masjid dapat langsung menghubungi petugas posko bencana di nomor ponsel 081391131030 (Muhammad Tohar Fauzi) atau dating langsung ke Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

Selain itu, panitia pembangunan masjid juga menerima bantuan melalui rekening BRI Syariah KCP Ajibarang 1015829687.

Seperti diketahui, akibat gempa bumi yang berpusat di wilayah barat daya Kebumen akhir Januari 2014 lalu, membawa dampak bagi rusaknya ratusan rumah di Desa Karangklesem Kecamatan Pekuncen. Efek terdahsyat dari gempa juga mengakibatkan Masjid Jami At Taqwa di Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen ambruk. Pasca ambruk, warga bersama pemerintah daerah dibantu berbagai pihak lain mengadakan perataan lokasi masjid dan merencanakan pembangunan kembali.(susanto/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Kajian Islam, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 17 Juli 2017

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mendukung gerakan ekonomi IPPNU Garut dalam pengembangan industri kuliner kreatif untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dirintis dan dikembangkan rekanita IPPNU Garut. Kepekaan dalam melihat peluang memang terlihat dari upaya konkret dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada," kata Puti kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (10/2).

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Ia menegaskan bahwa IPPNU akan terus mendorong para kadernya menciptakan kreasi-kreasi, inovasi, dan jeli melihat potensi serta peluang pasar dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai jawaban menghadapi MEA.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Upaya ke depan, pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan akan makin ditingkatkan dan ditindaklanjuti secara serius oleh IPPNU," ujarnya.

Puti berharap IPPNU di semua lini baik wilayah, cabang, anak cabang maupun ranting di daerah lain harus dapat termotivasi dan tidak boleh kalah dengan IPPNU Garut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang tentunya beragam, saya berharap kader-kader IPPNU dapat mewujudkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar di era MEA, pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Budaya, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 15 Juli 2017

Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam

Ada sebagian makmum yang mengikuti shalat berjamaah shalat kurang memperhatikan gerakan dan bacaan imam secara detail sehingga menjadikan mereka melakukan gerakan dan bacaan bersamaan persis dengan imam. Hal ini hukumnya makruh.

Akibatnya makmum bisa kehilangan fadhilah (keutamaan) jamaah khusus pada rukun (filiy/qauliy) yang ia kerjakan bersama persis dengan imam tersebut. Artinya bukan berarti jika satu gerakan saja makmum melakukan bersama imam kemudian kehilangan semua fadhilah jamaah secara total.

Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Gerakan Hampir Berbarengan Makmum dan Imam

Andai saja makmum melakukan gerakan bersama persis dengan imam pada saat ruku‘, maka ruku‘ yang dilakukan bersama imam itulah ia tidak mendapatkan fadhilah 27 derajatnya ruku‘. Selain ruku‘ tersebut ia tetap mendapat fadhilah jamaah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid Bakri Syatha.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Fadhilah jamaah menjadi hilang, maksudnya pada bagian yang makruh melakukannya secara bersama-sama saja. Jika kemakruhan tadi dilakukan bersamaan saat ruku maka nilai 27 kali ruku‘lah yang menjadi hilang,” (I‘anatut Thalibin, juz II, halaman 39).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemakruhan di atas apabila makmum melakukan dengan sengaja baik gerakan atau bacaan walaupun pada shalat sirriyah (pelan) bersama persis dengan imam. Jika kebersamaan hanya kebetulan yang tidak disengaja atau makmum memang tidak mengetahui bahwa hal tersebut adalah makruh, maka hukumnya tidak makruh.

Yang tidak makruh lagi adalah ketika makmum sengaja bersama-sama dengan imam pada saat imam membaca Al-Fatihah karena makmum khawatir jika tidak bersama, ia akan tertinggal ruku‘nya imam.

Seperti makmum pada shalat tarawih, misalnya. Makmum boleh membaca Al-Fatihah di waktu imam sedang membaca Al-Fatihah jika memang makmum khawatir apabila Al-Fatihah dibaca tidak secara bersama imam, ia akan tertinggal ruku‘nya.

?]: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Faidah) dimakruhkan bersamaan dengan imam dalam berbagai gerakan shalat. Begitu pula ucapan-ucapannya (aqwalus shalah) menurut pendapat muktamad. Fadhilah jamaah hilang pada rukun yang tepat ia jalankan dengan membarengi imam meskipun pada shalat yang dengan bacaan pelan (sirriyyah) selama makmum tidak mengetahui jika ia mengakhirkan sampai imam selesai membaca Al-Fatihah justru akan menjadikan makmum tertinggal ruku‘. Begitulah? yang dikatakan Ali Syibramalisi. Ar-Rasyidi berpendapat bahwa yang menjadikan hilang fadhilah hanya terbatas pada rukun qauliy. Adapun kemakruhan bersama persis itu jika memang disengaja, tidak berlaku apabila terjadi secara kebetulan atau makmum tidak mengetahui bahwa hal itu merupakan sesuatu yang makruh sebagaimana pendapat Imam Syaubari, (Lihat Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr, halaman 119).

Oleh karena itu, sebaiknya imam mengetahui enam waktu sunah untuk diam sejenak dalam shalat yang meliputi antara takbiratul ihram dan iftitah, iftitah dan ta‘awudz, ta‘awudz dan Al-Fatihah, Al-Fatihah dan "amin", "amin" dan surat, dan antara surat dan ruku‘, (Lihat Safinatun Naja, Darul Minhaj, halaman 42).

Praktiknya, imam membaca Al-Fatihah, makmum mendengarkan. Setelah membaca "amin" bersama-sama, imam diam sejenak sekadar cukup bagi makmum untuk membaca Al-Fatihah. Di saat inilah makmum membaca Al-Fatihah. Setelah sekira selesai, imam kemudian membaca surat. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Amalan, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 11 Juli 2017

Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Panitia satu abad Qudsiyyah Menara Kudus menggelar pengajian umum bertajuk Roadshow: Meneladani Dakwah KHR Asnawi di Desa Papringan, Kaliwungu Kudus, Ahad (17/4) malam. Pengajian umum keliling kampung ini digelar dalam rangka meneladani dakwah salah seorang pendiri NU ini.

Acara yang dimeriahkan oleh Grup Rebana Al-Mubarok Qudsiyyah ini dimulai pukul 20.00 WIB dengan dihadiri KH Fathur Rahman, KH M Yusrul Hana, KH Saifuddin Lutfi beserta para ustadz Madrasah Qudsiyyah Kudus, dan ribuan jamaah lainnya.

Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus

Salah satu panitia Ali Yahya mengatakan, kegiatan keliling? ini merupakan upaya meneladani dan meneruskan dakwah KHR Asnawi.

"Kegiatan meneladani Dakwah KHR Asnawi ini paling tidak memberikan taushiyah dan menekankan pentingnya kita meneladani gaya dan ciri khas dakwah yang dilaksanakan pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di tiga kota, yaitu Kudus, Demak, dan Jepara yang merupakan basis terbesar alumni Qudsiyyah Kudus. Kegiatan ini merupakan upaya melanjutkan perjuangan dakwah KHR Asnawi Kudus.

Berikut agenda pengajian keliling peringatan satu abad Qudsiyyah. Pertama, malam Senin 17 April 2016 di Masjid Baiturrahim, Dukuh Tumang wetan Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu Kudus, malam Kamis, 20 April 2016 di Masjid al-Hidayah, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kudus, malam Senin, 24 April 2016 di Masjid Nurul Mubin, Desa Bae, Kecamatan Bae Kudus, malam Kamis, 27 April 2016 di Masjid Baitul Adhim, Ngaringan Klumpit, Kecamatan Gebog Kudus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan pada malam Ahad, 30 April 2016 pengajian umum akan digelar di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati Kudus, malam Senin, 8 Mei 2016 di Masjid Baiturrahman Desa Cendono, Kecamatan Dawe Kudus, malam Rabu, 10 Mei 2016 di Masjid KUA Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan Kudus, malam Senin, 16 Mei 2016 di Desa Kirig, Kecamatan Mejobo Kudus, malam Kamis, 18 Mei 2016 di Kecamatan Karanganyar Demak, malam Jumat, 26 Mei 2016 di Lengkong Mulyorejo Kabupaten Demak.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus. Madrasah ini resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Anggota Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Nahdlatul Ulama (DPP K Sarbumusi NU) Suhandoko, di Jakarta, Selasa (4/10) menyatakan, hukum dan peraturan harus berpihak pada buruh.

"Hukum dan aturan peraturan perburuhan selama ini belum pernah ditegakan dan berpihak bagi buruh. Kita bisa melihat esensi berbagai undang-undang ketenagakerjaan dan sistem pengupahan. Outsourcing (alih daya) masih saja berjalan dan semakin merajalela bahkan sampai ke istana," ujar dia.

Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh

Berkaitan dengan itu, Handoko menyayangkan para pembuat undang-undang yang tak pernah berpihak pada buruh yang membayar mereka. "Mereka kita bayar untuk mewakili kita di tempat-tempat terhormat seperti di Senayan untuk membuat undang-undang. Tapi kenapa ketika undang-undang diselesaikan tak pernah dijalankan sesuai hukum dan aturan dan berpihak bagi buruh?" Handoko mempertanyakan.

Hal tersebut, imbuhnya, menjadi ironi. "Lihatlah perlakuan para pekerja yang ada di Senayan dan Medan Merdeka tehadap orang-orang berduit dan pemilik uang. Bahkan kepada mereka yang selama ini tidak bayar pajak pun mereka memberi ampunan. Tentu saja ini terasa sangat menyakitkan. Tapi kenapa pada buruh seolah tak ada ampunan? Contoh kecil ketika terlambat bayar listrik hanya dua hingga tiga bulan, jaringan diputuskan. Anak-anaknya telat bayar iuran tak boleh ikut ujian," paparnya.

Persoalan lain, menurut dia adalah kemiskinan di berbagai bidang yang membuat buruh tidak sejahtera. "Jika buruh disuruh berwirausaha. Tingkat keberhasilan sangat rendah. Kenapa? Mereka itu miskin segalanya, mulai dari modal, teknologi, keahlian, pemasaran dan teknologi, seperti kebanyakan masyarakat miskin lainnya di Indonesia. Modal tanpa bimbingan dan keahlian hanya akan membawa mereka pada jurang kemiskinan yang makin dalam," ujar dia lagi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu jalan terbaik bagi tercapainya kesejahteraan buruh adalah aturan ketenagakerjaan yang berpihak pada buruh, selain mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia mendatang untuk mumpuni, demikian Suhandoko. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang, Jawa Timur, Kamis (3/7), menebar berkah Ramadhan dengan membagi-bagikan takjil untuk pengguna jalan. Pembagian menu buka puasa ini dimulai pukul 17.00 sore menjelang berbuka puasa.

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Sekitar 25 kader PMII menyebar disudut perempatan Jalan Wahid Hasyim depan Masjid Ar-Raudloh Jombang. Hanya berselang 20 menit 500 bungkus kurma dan 500 gelas minuman ludes.

“Alhamdulillah, kami hari ini bisa membagi-bagikan rezeki kepada sesama yang ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, beberapa jamaah masjid ada yang tidak kebagian karena memang masih sebatas itu kemampuan kami,” terang Mahmudi, Ketua PC PMII Jombang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aksi bagi-bagi takjil mereka mendapat apresiasi dari masyarakat dan para pengguna jalan setempat. Mereka bersyukur kader mahasiswa Islam Nahdhlatul Ulama tersebut masih peduli sosial meski di tengah keterbatasan yang PMII Jombang miliki.

“Mahasiswa seperti mereka sangat baik sudah mempunyai rasa saling mengasihi. Saya dan jamaah yang lain senang kalau tiap hari ada yang mau seperti mereka. Kan yang tidak dapat hari ini, bisa dapat besok,” kata salah satu penerima takjil, Urifah, sembari tersenyum. (Romza M Gawat/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Lomba, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 10 Juli 2017

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Tanpa harus menunggu instruksi RW atau RT, warga NU sudah mengerti dari sononya untuk menyediakan aneka penganan dan makanan untuk dihidangkan dalam perayaan maulid Nabi Muhamad SAW.

Penganan maupun makanan yang tidak setiap hari tergeletak di meja sarapan pagi, bisa keluar begitu saja di perayaan maulid sebagai berkat. Penganan basah maupun kering khas di lingkungan masing-masing, mengobati kerinduan mereka pada makanan-makanan langka tersebut.

Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Penganan siap lahap antara lain adalah kue pisang, ketimus, gemblong, dodol, uli, ketan, lemper, dan lainnya. Kecuali itu, perayaan maulid juga dihadiri aneka buah-buahan baik yang panen musim setahun sekali atau lebih.

Dalam menyajikan hidangan maulid, warga NU sekenanya saja mengemas berkat. Kemasan yang dipakai berupa daun pisang, plastik, kertas nasi, hingga daun jati. Ada juga yang menggabungkan antara plastik dan daun pisang. Bahkan, ada pula yang membungkus makanan dalam keranjang dari anyaman bambu. Itu sah saja ditinjau dari hukum agama maupun hukum positif.

Isi berkat tentu saja bukan urusan kiai apalagi jajaran perangkat desa. Isi berkat ditentukan oleh individu masyarakat sendiri. Nasi boleh sama. Perkara lauknya, itu putusan yang tidak akan pernah bulat hingga hari Kiamat. Lauk berkat boleh daging kerbau, sapi, ikan bandeng, ikan emas, ikan mujahir, ayam atau telurnya.

Boleh jadi daging itu dimasak model goreng, semur, rendang, atau dendeng. Untuk ayam, ada kekhususan sedikit selain aneka model di atas. Warga NU juga kerap menyajikannya dalam bentuk opor atau dimasak banjir kecap. Yang pasti, nasi itu tidak dibiarkan sendirian. Akan terlihat janggal kalau nasi putih sendirian mendekam di dalam berkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ini pelajaran awal yang baik buat para remaja perihal hak yang nilainya melebihi harga sepuluh kilo daging. Aneka warna penganan dan lauk meramaikan perayaan maulid tanpa ada pembatasan atau pengawasan dari institusi apapun. Penganan yang terlalu manis atau asin juga tidak membuat mereka cerewet seperti pengunjung restoran.

Berkat maulid berupa penganan masuk tidak hanya ke dalam rongga tubuh mereka. Berkat juga bisa masuk ke alam pikiran mereka. Bayangkan, kehadiran beragam makanan membuat kanak-kanak yang belum mengerti dunia kegirangan. Meskipun pasti kebagian, kanak-kanak berebutan menjambret makanan dari tangan panitia.

Kanak-kanak seperti kesetanan. Kalau keadaan sudah demikian, imbauan tertib panitia takkan diindahkan. Mereka hanya mengerti berebut. Titik. Tetapi, melihat kekisruhan kecil itu, orang dewasa hanya tertawa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berkat Gaya Muslimat NU Depok

Dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. pada 1434 H yang bertepatan pada tahun 2013, pengurus Muslimat NU Depok tidak mau tertinggal kaum Nahdliyin. Mereka mengumpulkan paling sedikit dua ribu kadernya di Masjid Dian Al-Mahri yang masyhur dikenal ‘Masjid Kubah Emas’, jalan Meruyung, Kecamatan Limo Depok, Senin (28/1) pagi.

Hanya saja perayaan maulid tahun ini meleset jauh makanan dan penganan di atas. Mereka terima undangan dari majelis taklim, lalu datang hanya membawa diri tanpa makanan apapun. Karena, berkat sudah disediakan panitia maulid. Hal ini dipandang ringan saja oleh para hadirin.

Pulang mendengarkan sifat luhur Nabi Muhamad SAW, kaum ibu Muslimat NU Depok hanya menenteng kepalan-kepalan garam mentah. Tak ada semur kerbau, opor ayam, pecak bandeng, atau keributan kanak-kanak berebut berkat.

Bagi umat Islam pengamal setia maulid atau penentangnya, berkat berupa garam mentah tidak lazim sama sekali. Sesuatu di luar kelaziman akan mendatangkan guncangan di tengah masyarakat. Setuju dengan model berkat demikian? Silakan. Tidak setuju? Anggap saja angin lalu.

Yang masih menggantung, apa maksudnya pengurus Muslimat NU Depok membekali garam mentah sebagai berkat? Apa karena kaum ibu dinilai lebih akrab dengan cobek? Mungkin boleh jadi kaum ibu dinilai lebih mandiri dalam mengolah makanan yang senantiasa bercengkerama dengan garam?

Pengurus Muslimat NU Depok mungkin hanya ingin mengingatkan bahwa garam merupakan satu kebutuhan dasar bagi manusia. Tanpa garam, orang bisa diserbu penyakit gondok. Tak ada garam, kelezatan masakan pun berkurang drastis seperti benda jatuh dari lantai lima langsung menuju lubang sumur.

Boleh jadi berkat berisi garam mentah merupakan cara kaum ibu NU membela nasib petani garam Indonesia yang terhuyung-huyung akibat kebijakan impor garam oleh pemerintah setahun terakhir.

Berkat garam Muslimat NU Depok boleh jadi merupakan kelanjutan dari kongres Asosiasi Petani Garam Nusantara, Aspegnu 11-12 Juli 2012 di Madura atas pelbagai soal terkait garam nasional. Bagi-bagi garam merupakan partisipasi Muslimat NU agar petani garam dalam negeri tidak menjadi “Anak itik mati di lumbung padi” atau alih profesi menjadi importir garam.

Sadar akan kepentingan umum, Muslimat NU Depok sanggup mengurungkan niat untuk berdemonstrasi yang akan menimbulkan kebisingan selain kemacetan. Dalam hal ini, kaum ibu Muslimat NU tidak mau gegabah menyikapi masalah garam nasional. Karena, salah-salah ambil sikap dapat merumitkan persoalan yang sebenarnya mudah.

Karena itu, mereka berinisiatif untuk memilih bentuk berkat maulid tahun ini dengan garam mentah dalam arti harfiah. Artinya, berkat itu benar-benar garam mentah yang dibawa pulang oleh 2000 kader Muslimat NU Depok. Mereka akan bercerita berkat pada suami, anak, dan anak menantu mereka. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar malam selikuran (21 Ramadhan) akhir pekan lalu. Acara diawali dengan kirab yang dimulai dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo.

Usai kirab mereka membagikan 1000 tumpeng kepada warga, yang sebelumnya dibawa dalam acara kirab. Pembagian tumpeng untuk menyambut malam selikuran sudah menjadi tradisi Keraton yang digelar sejak masa kerajaan Demak, termasuk dilakukan oleh para wali.?

Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarnokusumo mengatakan tradisi tersebut digelar untuk menyambut kedatangan malam lailatul qadar atau malam seribu bulan.

“Jumlah seribu tumpeng yang dikirab menggambarkan limpahan pahala setara seribu bulan bagi umat Islam yang beribadah pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tumpeng berisi nasi berwarna putih menandakan kesucian seperti manusia yang baru lahir, yakni penuh kebaikan,” kata Winarno.

Ditambahkan Winarno, pada zaman dahulu Keraton mengadakan malam selikuran, dengan rute kirab dari keraton melalui Jalan Slamet Riyadi, dan berakhir di Sriwedari. Namun, karena sekarang banyak perubahan akhirnya hanya diadakan di Masjid Agung.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Dulu dilakukan di Sriwedari pada masa pemerintahan Paku Buwono ke-IX. Karena sekarang Sriwedari sudah tidak memiliki ruh Keraton Solo. Maka malam selikuran kita lakukan di Masjid Agung," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, KRT Muhtarom menambahkan 1000 tumpeng kecil yang dibagikan kepada para jamaah dan pengunjung di Masjid Agung Surakarta juga memiliki maksud untuk memberikan penghormatan kepada para jamaah yang beri’tikaf.

“Tujuan lain untuk menghormati mereka yang hendak beritikaf dan berzikir serta qiyamullail untuk mengharapkan mendapat keutamaan lailatul qadar,” terang Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 09 Juli 2017

Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbagai upaya terus dilakukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk mempercepat proses Desa Membangun. Salah satunya mengajak Pemerintah Korea Selatan untuk melakukan transfer ilmu dan teknologi ke desa-desa.

Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan

Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Marwan Jafar mengatakan, desa-desa di Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar namun belum terkelola secara maksimal. Karena itu, kerjasama dengan Korea diarahkan untuk mempercepat proses pemanfaatan sumber daya alam desa dengan mengangkat skill masyarakat desa.

"Kita arahkan agar ada transfer ilmu dari Korea kepada masyarakat desa, sehingga nantinya masyarakat bisa mandiri mengelola potensi desa yang ada," tegasnya lewat rilis yang dikirim ke Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (25/8) di Jakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi dengan Korea secara khusus dijalin melalui Kementerian Administrasi Pemerintahan dan Dalam Negeri Republik Korea Selatan. Hadir dalam acara penandatanganan MoU itu Wakil Menteri Administasi Pemerintahan dan Dalam Negeri Republik Korea, Chung Chae Gun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ada lima poin yang ditandatangani dalam kerjasama itu, meliputi program peningkatan kapasitas sumber daya manusia; Kerjasama pembangunan kawasan perdesaan dengan menggunakan Model Pemberdayaan Masyarakat seperti Saemaul Undong (Gerakan Desa Baru).

Kemudian program peningkatan infrastruktur, ekonomi, social dan budaya; Penelitian dan pembelajaran bersama mengenai pembangunan perdesaan; dan saling kepentingan mengenai pembangunan desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi yang dapat diputuskan bersama secara tertulis. 

Chung Chae Gun menjelaskan, gerakan Saemaul Undong mulai lahir sejak tahun 1970-an. Hingga saat ini, gerakan ini terbukti mendongkrak pembangunan desa.

"Beberapa bulan lalu, media Korea melakukan survei apa yang bisa dongkrak pembangunan Korea, ternyata jawabannya 70 persen menyebut Saemaul Undong," ujarnya.

Menurut dia, gerakan itu bukan hanya dorongan untuk pembangunan desa, melainkan semacam gerakan revolusi mental. "Jadi membangun mental masyarakat desa untuk maju," tandasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 08 Juli 2017

Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) akan dilaksanakan pada 6-9 Agustus 2007 di Jakarta. Rakernas akan mengambil tema “Norma Hukum Islam Sebagai Spirit Legislasi Hukum Nasional.”

Menurut Ketua Panitia Rakernas HM Cholil Nafis, pemilihan tema itu dimaksudkan sebagai upaya mendialogkan teori “yang maha luas” yang terkandung dalam kitab-kitab kuning dengan realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Dikatakan Cholil Nafis, perundang-undangan yang saat ini terus berproses membutuhkan gagasan segar dan asli yang muncul dari tradisi masyarakat.

Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus

“Misalnya, Peradilan Agama yang belum memiliki undang-undang yang dijadikan sumber hukum materinya, revisi undang-undang perkawinan tahun 1974, rencana undang-undang keuangan syariah dan lain-lain memerlukan lebih banyak payung hulum Islam yang kreatif dan responsif,” katanya.

Dikatakan bahasa hukum Islam atau fikih dalam bahtsul masail perlu dialihkan ke dalam bahasa peraturan perundang-undang modern. Hal itu memerlukan keterampilan dan bahan yang lebih komprehensif, pembahasan lebih utuh, dan legal drafting yang lebih khas. “Ini tantangan baru bagi bahtsul masail,” kata Cholil Nafis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejak Muktamar NU ke 31 di Asrama Haji Donuhudan Jawa Tengah tahun 2004 lalu Lembaga Bahtsul Masail secara khusus membentuk komisi masail diniyyah qanuniyyah (masalah keagamaan hubungannya dengan aturan perundang-undangan) selain masail diniyyah waqi’iyyah (masalah keagamaan aktual yang lebih bersifat kasuistik), dan masail diniyyah maudlu’iyyah (masalah keagamaan aktual yang lebih umum dan tematik).

Rakernas diawali dengan pandangan umum dari Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tentang revitalisasi LBMNU sebagai tangki pemikiran (think tank) NU, dan taushiyah dari Rais Am’ Syuriah PBNU KH MA Sahal Mahfudh mengenai agenda krusial LBMNU saat ini dan tantangan ke depan.

Rakernas dilanjutkan dengan beberapa seminar tentang bahtsul masail berkaitan dengan dengan proses legislasi nasional yang disampaikan oleh para pengurus PBNU, akademisi, menteri dan pejabat pemerintahan terkait.

Ada empat seminar sekaligus yakni, tentang paradima baru LBM dalam merespon agenda legislasi nasional dan daerah (Perda), posisi dan kontribusi hukum islam dalam legislasi hukum nasional, problem kependudukan indonesia dan kontribusi umat Islam mengatasinya, dan khitan perempuan dalam perspektif hukum Islam.

Sebelum acara inti pembahasan program kerja dan tata organisasi LBMNU, Rakernas akan membuka forum bahtsul masil. Pada Komisi Diniyah Waqi’iyyah, bahtsul masail akan membahas hukum Islam mengenai multi level marketing (MLM), hukum tinggal satu rumah setelah cerai, dan keluarga berencana (KB) dengan sistem baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada Komisi Diniyah Maudlu’iyyah akan ditegaskan kembali hukum memepekerjakan anak, khitan bagi wanita, dan aborsi bagi korban perkosaan. Sementara pada Komisi Diniyyah Qanuniyyah akan bahtsul masail akan membincang keabsahan Amandemen UUD 1945, UU anti korupsi, dan Kasus BLBI.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rabithah Alawiyah menggelar halaqoh bertajuk Kabar Gembira di Tengah Kesulitan dengan pembicara ulama asal Yaman, Alhabib Umar bin Salim bin Hafidz. 

Dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini menyampaikan pentingnya pertemuan ulama untuk memecahkan masalah umat.

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

"Perlunya pertemuan ulama seperti ini, semoga kedepan bisa direncanakan lebih besar dan fokus kepada pemecahan masalah umat. Misal membicarakan apa kekuatan dan kelemahan kita," tutur Helmy dalam sambutannya di Crowne Hotel, Jakarta, Selasa (17/10).

Hal itu, lanjut Kang Helmy, penting karena data dari Bank Indonesia dari seluruh uang yang beredar di Indonesia 80 persen dimiliki hanya 35 orang saja. Ia menambahkan lebih tercengang lagi data global wealth 90 persen aset negara dikuasai 1 persen saja. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Secara logika sebagai mayoritas seharusnya ikut menentukan arah kebijakan negara, nyatanya masih belum," imbuh Pria kelahiran Cirebon ini.

Sementara Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith mengatakan penguatan ekonomi umat sebagai salah satu benteng iman dari segala godaan. 

"Kristenisasi bukan hanya salah para petugas, kita juga ikut andil karena tidak aktif membentengi dengan membuat penguatan ekonomi, sebagai salah satu sebabnya," tutur Habib Zen.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal senada disampaikan Habib Umar bin Hafidz dalam ceramah, dimana ekonomi tergantung niatnya. Jika diniatkan mencari ekonomi untuk berjuang di jalan Allah SWT maka itu jalan yang dibenarkan. 

"Seperti dalam sebuah riwayat ada anak muda pergi ke pasar, ada sahabat yang bilang seandainya kekuatan digunakan untuk pergi jihad ke medan perang lebih bermanfaat. Namun Baginda Rasullullah menuturkan jangan mudah menilai, jika niatnya untuk menafkahi bapak dan ibunya maka fisabilillah, jika niatnya untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak perlu mengemis maka fisabilillah tapi jika niatnya untuk menumpuk harta, pamer  maka ia dijalan setan," tutur Almusnid AlHabib Umar bin Salim bin Hafidz.

Hadir dalam kegiatan tersebut, KH Hasib Wahab, KH Manarul Hidayat, KH Anim Mahfus, KH Saifuddin Amsir, H Hanif Saha Ghofur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, RMI NU, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 07 Juli 2017

KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro

Bojonegoro, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Konferensi Cabang (Konfercab) NU Bojonegoro, Jawa Timur menetapkan kembali KH Misbach Syakur sebagai Rais Syuriyah PCNU masa khidmah 2013-2018. Sementara Dr. Kholid Ubed sebagai Ketua Tanfidziyah.

KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro

Konfercab XXII tahun 2013 yang diselenggarakan pada Sabtu-Ahad (9-10/3) lalu dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur H Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

Usai ditetapkan kembali sebagai Rais Syuriyah, KH Misbach Syakur mengatakan akan langsung bermusyawarah dengan pihak tanfidziyah untuk membentuk susunan pengurus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mengatakan, terpilihnya kembali dirinya merupakan tanggungjawab yang besar dan harus dijalankan. Dengan harapan, semoga NU Bojonegoro kedepannya lebih baik dan mandiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Dr Kholid Ubed mengaku sangat menghargai proses demokrasi yang berjalan pada Konfercab 2013 ini, mengingat hampir 100% pengurus ranting mengikuti Konfercab. "Kedewasaan NU mulai muncul, adanya kandidat yang banyak," jelasnya.

Ubed berharap, kedepannya akan terjalin susunan NU yang kompak. Ia akan berusaha menjadikan NU mengimplementasikan Aswaja, mandiri dan rahmatalilalamin.

Selain itu, dirinya juga menjamin NU Bojonegoro nir politik. Sebab, sejatinya tugas NU hanya memberikan pengetahuan dan pengalaman. "NU tidak akan mengarahkan pilihan kepada partai mana pun, karena memilih partai hak anggota bukan hak NU," pungkasnya 

Foto: Gus Ipun membuka Konfercab NU Bojonegoro

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Ali Maksum

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pahlawan, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 04 Juli 2017

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Oleh Syarif Hidayat Santoso

---Disadari atau tidak, Indonesia adalah lahan penyebaran petroreligiositas. Petroreligiositas adalah lahirnya transformasi keberagamaan negara-negara kaya minyak. Di dunia Islam, negara yang gencar menyebarkan petroreligiositas adalah Arab Saudi dan Iran. Arab Saudi dengan paham salafi-wahabinya dan Iran dengan syiahnya. Melalui dana miyak yang melimpah, mereka menyebarkan pahamnya ke seluruh dunia. Bahkan antar keduanya telah terjadi semacam kontestasi yang saling menegasikan.

Melalui kekuatan Rabitah Alam Islami dan buku-buku gratis yang dibagikan kepada para jamaah haji, arab Saudi menyebarkan pahamnya. Arab Saudi juga aktif memobilisasi dan mendanai gerakan jihad internasional seperti di Afghanistan waktu invasi Sovyet dan perang Bosnia. Iran pun juga sama. Mereka mengekspor Revolusi Islamnya ke seluruh dunia, salah satunya melalui organisasi Jamaah Dakwah. Iran juga berperan aktif di Irak, Afghanistan, Lebanon, Bahrain, Yaman ? melalui ? partai-partai dan milisi lokal.

Jihad pun tak lagi murni sebuah ibadah. Jihad internasional telah menjadi pertaruhan perebutan kuasa politik antara Iran dan Arab Saudi. Semasa perang Bosnia (1992-1995), ditemukan dua kelompok mujahidin internasional yang berafiliasi baik dengan Iran maupun Saudi. Ada mujahidin syiah bentukan Hezbollah dukungan Iran. Kesatuan mujahidin ini berasal dari kombinasi pejuang Palestina, Lebanon, syiah Afghan dan Iran. Di sisi lain, Arab Saudi melatih dan mendanai veteran perang Afghan dalam jihad di Bosnia. Poros mujahidin pro Saudi ini terdiri dari kombinasi para pejuang sunni Turki, Albania, Arab Saudi, Afghanistan dan sukarelawan Eropa.

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Petroreligiositas juga merambah Indonesia. Bentuknya berupa transformasi pemikiran melalui buku-buku, yayasan, pesantren dan sekolah Islam yang berafiliasi dengan keduanya. Kaum Wahabi-Salafi juga pernah berjihad di Ambon. Salafi dan syiah juga saling berkontestasi dalam ruang religiositas Indonesia. keduanya saling berseteru dan menjadikan kaum sunni tanah air sebagai basis massa untuk diperebutkan.

NU dengan kekuatan basis massa tradisionalnya merupakan sasaran empuk gerakan petroreligiositas. Basis massa NU digerogori sedikit demi sedikit. Jika puluhan tahun lalu, basis NU di Jawa adalah sepenuhnya NU, kini tidak lagi. Di Madura, telah bersemi gerakan Syiah dan Salafi. Syiah dan salafi juga muncul dengan ambisius di basis terkuat NU mulai Bangil, Pekalongan, Jember, Bondowoso, Kediri, Jombang, Gresik, Banyuwangi, Cirebon dan Surabaya. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salafi dan syiah bergerak dengan dua titik. Pertama, ruang urban di perumahan-perumahan di kota, kedua di pedesaan terpencil. Ini merupakan taktik kaum petroreligiositas. Di perumahan-perumahan modern, kaum transnasional bisa dengan mudah mendapat kader. Sebab sosiologisnya karena ikatan warga penghuni perumahan relatif longgar. Warga perumahan pada dasarnya merupakan kalangan terpelajar kelas menengah keatas namun minim ilmu agama. Gerakan petroreligiositas dengan gigih berupaya merebut massa kalangan profesional. Mereka dengan bangga akan mengatakan ke hadapan publik bahwa kader dan simpatisannya merupakan kalangan terpeelajar dan profesional.

Kalangan awam di pedesaan terpencil juga merupakan sasaran empuk. Taktik yang dipakai mirip misionaris. Menyantuni kaum miskin sambil menyebarkan pahamnya. Baik di perumahan maupun kawasan terpencil NU relatif bergerak. Di perumahan kaum urban, NU relatif sulit didekati karena longgarnya basis soliditas antar warga. Kaum urban juga terkadang sinis terhadap para kiai dan ustadz NU yang dianggap konservatif dan tradisional. Di kawasan terpencil, NU terkena stigma sebagai pelindung kaum abangan. Posisi NU di kawasan terpencil kadang kalah gesit dengan ormas lokal Hidayatullah dan DDII. Dalam beberapa kasus sering dijumpai kalau gerakan Islam transnasional bisa berkembang karena memanfaatkan massa Islam modernis yang lebih dulu ada.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagi kalangan urban, para tokoh NU yang berstatus akademisi atau mereka yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi wajib didayagunakan. Kombinasi antara kiai salaf dengan kiai universitas wajib dilakukan demi dakwah di kota-kota. Tanpa dukungan akademisi, dakwah NU akan diminorkan kaum urban. Di desa terpencil, NU harus lebih kreatif dalam melindungi kaum abangan diantaranya dengan perbaikan syariat secara perlahan. Sebabnya, Kaum transnasional sering mendudukkan kaum abangan sebagai sasaran dakwah. Simpati terhadap Dakwah salafi-wahabi sebenarnya lebih banyak berasal dari kalangan abangan, bukan nahdliyyin. Kaum abanganlah penyumbang terbesar kader salafi-wahabi di Indonesia.

Petroreligiositas adalah fakta global abad ini. Meskipun terlihat kuat dan tangguh, namun petroreligiositas rapuh di dalam karena digerakkan berdasar uang. Petroreligiositas juga rapuh karena berdasar kombinasi antara dakwah dan politik.

?

Syarif Hidayat Santoso, alumni hubungan internasional FISIP UNEJ, warga NU Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Budaya, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 03 Juli 2017

Guru dalam Pandangan Gus Mus

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Orang yang suka membatas-batasi umumnya pengetahuannya memang terbatas. Orang yang membatasi santri hanya sebatas yang mondok di pesantren, misalnya. Atau membatasi Islam hanya sebatas urusan fiqh, membatasi ibadah hanya sebatas shalat, puasa, zakat, dan haji. Lalu membatasi rahmat Allah hanya sebatas untuk dirinya dan kelompoknya, membatasi jihad sebatas perang bersenjata, atau bisa diperpanjang dengan misal dan contoh yang lain.

Demikian tulis Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam akun Facebook milik pribadinya ‘Ahamd Mustofa Bisri’, Rabu (25/11).

Guru dalam Pandangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru dalam Pandangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru dalam Pandangan Gus Mus

“Mengenai guru, juga banyak yang membatasi hanya sebatas mereka yang mengajar di sekolahan dan madrasah. Bahkan ada yang membatasi hanya sebatas mereka yang termasuk anggota PGRI,” ujar kiai yang juga dikenal sebagai Budayawan ini.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagi Gus Mus, guru bisa siapa saja. Minimal untuk diri dia sendiri. “Siapa saja bisa menjadi guruku; asal ada sesuatu darinya yang bisa aku GUgu (percaya dan ikuti ucapan-ucapannya) dan aku tiRU (contoh). Boleh jadi kalian, atau di antara kalian, diam-diam adalah guru-guruku dalam berbagai hal dan bidang,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nyatanya di Facebook ini saja, kata Gus Mus, berapa banyak dirinya mendapat pelajaran. Baik dari status maupun komentar-komentar atas status. Mulai pelajaran tentang resep masakan, tentang akik, tentang kesehatan, tentang obat-obatan tradisional, tentang adat-istiadat, hingga tentang kearifan, dan pelajaran hidup.

Maka apabila hari ini, imbuhnya, dirinya mengucapkan selamat Hari Guru dan berterima kasih serta mendoakan kepada guru-gurunya, itu artinya termasuk untuk dan kepada semua orang juga.

“Selamat Hari Guru. Semoga semua guru senantiasa diberi rahmat dan berkah oleh Allah, dimudahkan hidupnya di dunia maupun di akhirat kelak,” tutup Gus Mus.

Hingga berita ini ditulis, status panjang tersebut telah disukai oleh 3.483 orang, dikomentari oleh 278 orang, dan 1.050 kali dibagikan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Cerita, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setiap tahun pada bulan Desember ada satu hari yang disebut Hari Ibu.? Hampir setiap negara di dunia ini memiliki Hari Ibu yang peringatannya dilaksanakan pada hari yang berbeda satu sama lain. Di Indonesia Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Di negara-negera Eropa dan Amerika, peringatan Hari Ibu jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei. Sementara di negara-negara Arab, seperti, Mesir, Iraq,? Saudi Arabia, dan sebagainya? Hari Ibu jatuh pada tanggal 21 Maret.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari data tersebut, dapat kita ketahui bahwa di setiap budaya atau bangsa, seorang ibu diakui memiliki peran sangat penting dalam hidup ini. Adanya peringatan Hari Ibu di seluruh dunia menunjukkan adanya kesadaran bersama untuk mengakui sekaligus? menghargai jasa-jasa ibu. Jauh sebelum dunia menetapkan perlunya peringatan Hari Ibu, Rasulullah SAW? telah meletakkan dasar-dasar teologis bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatakan dari Anas bin Malik RA:

? ? ? ?

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia hingga seolah-olah surga yang begitu indah dan agung saja tidak lebih tingggi daripada seorang ibu karena diibaratkan berada di bawah telapak kakinya. Kita semua tahu bahwa telapak kaki adalah bagian paling bawah atau rendah dari organ manusia. Namun maksud hadits ini adalah bahwa? tidak mungkin seorang anak bisa masuk surga tanpa ketundukan kepada seorang ibu.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Rasulullah SAW mengisyaratkan agar bakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ?

“Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah SAW. Orang itu? bertanya kepada Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi, siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu? bertanya lagi,? siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu? bertanya lagi. Nabi kemudian menjawab, kemudian ayahmu."

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa perbandingan bakti kita kepada ibu dan ayah adalah 3 : 1 atau 75 persen : 25 persen. Pertanyaan yang muncul kemudian, atas dasar apa Rasulullah SAW mengisyaratakan perbandingan seperti itu. Pertanyaan ini dapat kita temukan jawabannya? dalam surat Luqman, ayat 14, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapa; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah payah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada ibu-bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.”

Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam kaitannya dengan proses kejadian dan kelahiran manusia ke bumi ini, terdapat 4 fase penting. Fase pertama adalah fase yang melibatkan partisipasi dari? ayah dan ibu dimana peran ayah sangat menentukan. Dalam fase ini, sel telur sang ibu tidak mungkin terbuahi tanpa pertemuannya dengan seperrma sang ayah. Dengan kata lain tugas alamiah seorang laki-laki atau ayah adalah membuahi sel telur perempuan atau ibu sehingga terjadi kehamilan yang bentuk awalnya berupa gumpalan darah yang? dalam Al Qur’an, Surat ke 96, ayat 2? disebut sebagai ‘alaq sebagaimana ayat berikut:? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ?

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Ayat di atas menegaskan bahwa proses awal terjadinya manusia adalah gumpalan darah. Hanya pada fase awal inilah seorang laki-laki memainkan peran alamiah satu-satunya? yang tidak mungkin digantikan oleh perempuan karena sel telur hanya bisa dibuahi oleh sperma. Maka bisa dimengerti? bakti seorang anak kepada ayah dibadingkan dengan ibu adalah 1 : 3 karena dalam 3 proses berikutnya seorang ayah sudah tidak terlibat lagi. Masing-masing dari ketiga proses ini sepenuhnya dilakukan oleh ibu dengan susah payah dan penuh risiko. Hal ini berbeda sama sekali dengan proses awal atau fase pertama yang penuh dengan kenikmatan tanpa risiko berarti.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah selesainya proses pertama, yakni pembuahan sel telur oleh sperma, maka proses berikutnya atau kedua adalah kehamilan. Dalam proses ini, seorang ibu harus mengandung si janin dalam kandungan selama rata-rata 9 bulan. Selama 9 bulan ini, tidak ada partisipasi ayah sama sekali karena organ laki-laki memang tidak dirancang untuk bisa mengandung seorang bayi. Hingga kini pun tidak ada teknologi yang bisa membuat laki-laki berpartisipasi atau mengambil alih tugas mengandung. Bayi tabung pun juga tidak bisa dikembangkan dalam organ laki-laki karena faktanya? laki-laki memang tidak memiliki rahim.

Dalam fase mengandung ini, seorang ibu mengalami kesusahan demi kesusahan yang didalam Al Qur’an digambarkan sebagai ? ? ? , yakni keadaan susah payah dan lemah yang dari hari ke hari bukannya makin ringan tetapi makin berat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah proses kedua selesai, disusul proses ketiga yang merupakan puncak dari proses kehamilan, yakni proses melahirkan. Lagi-lagi dalam proses melahirkan ini tidak ada keterlibatkan seorang ayah. Seorang ibu harus berjuang sendiri untuk bisa melahirkan dengan selamat, baik selamat bagi dirinya sendiri maupun bayi yang dilahirkannya.? Tugas ini ber-risiko tinggi karena secara langsung berkaitan dengan keselamatan jiwa. Tentunya telah sering kita dengar beberapa perempuan meninggal saat melahirkan. Dalam proses melahirkan ini, sang ayah? juga tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban sang ibu. Seringkali terjadi, sang ayah? tak sanggup dan tak tega menyaksikan sang ibu sedang berjuang melahirkan karena penderitaan yang dialaminya sangat berat dengan nyawa sebagai taruhannya. Seringkali pula, sang ayah hanya bisa menangis penuh kekhawatiran sambil berdoa mudah-mudahan? sang ibu bisa melahirkan dengan selamat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah proses ketiga selesai, disusul proses keempat, yakni menyusui. Dalam proses menyusui ini, sang ibu harus berhati-hati dan selalu menjaga diri sebaik mungkin karena apa yang terjadi pada dirinya bisa berdampak langsung pada si bayi. Sang ibu harus sanggup berjaga menahan kantuk, baik siang maupun malam. Ketika si bayi haus dan lapar dan membutuhkan ASI, seorang ibu harus selalu siap memberikannya. Dalam tugas ini, sang ayah juga tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban sang ibu. Berbagai resiko, baik fisik maupun non-fisik pun, juga sering dihadapi para ibu yang sedang menyusui.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Al-Qur’an memberitakan masa menyusui adalah dua tahun sebagaimana bunyi ayat:

? ? ?

“Dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”

Masa dua tahun menyusui dengan ASI adalah ideal terutama bagi ibu-ibu yang memang memiliki kesempatan untuk itu. Tetapi bagi mereka yang memiliki masalah tertentu, maka setidaknya selama 6 bulan pertama dapat mengusahakannya sebab selama itu ASI bersifat eksklusif.? Ini merupakan standar? internasional yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Mengingat beratnya tugas ibu, yakni tiga hal penting yang terdiri dari: mengandung, melahirkan dan menyusui, maka bisa dimengerti mengapa? Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan agar hormat dan bakti kepada ibu lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana saya uraikan di atas, perbandingannya adalah 3 : 1. Perbandingan ini masuk akal dan adil.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) SurakartaDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Makam, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 01 Juli 2017

Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho

Bantul, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Syahdu malam di kawasan yang kental nuansa perkampungan menyeruak seiring dengan menyelinapnya dingin angin di tengkuk. Jarum jam sudah menunjukkan angka kembar, 11. Lantang pengeras suara di masjid melantunkan pujian dalam nada Jawa kuno kepada sang kekasih Nabi Muhammad SAW.

Sedikit aneh ketika pujian berbahasa Arab yang diambil dari kitab kumpulan syair Barzanji ditembangkan dengan iringan seperangkat kendang lengkap dengan sebuah rebana besar yang digantung bak gong. Rebana ini mirip dengan beduk tapi tipis dengan kulit hanya di satu sisinya.

Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho

H Walid, seorang pengurus masjid Sabilurrosyad tempat di mana Lebaran Ketupat diselengarakan mengatakan, kegiatan ini sejak dahulu disebut Sholawat Maulid. Sholawat Maulid biasa dilakukan di pengujung Lebaran Ketupat tepat di hari ke-7 Syawal 1435 Hijriah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat ditanya perihal awal mula acara seperti ini dilangsungkan, H Walid menjawab, “Sejak saya masih kecil.” Kegiatan ini, menurutnya, sudah menjadi tradisi warga di sekitar masjid Sabilurrosyad di dusun Kauman Wijirejo Pandak, Bantul.

Di masa lalu, masjid yang juga dikenal dengan nama masjid Panembahan Bodho itu turut merayakan setiap kali datang peringatan harai besar Islam. “Untuk syi’ar dan ajang silaturahmi. Masyarakat di sini masih berusaha untuk terus menjaga tradisi silaturahmi melalui kegiatan ini agar jangan sampai hilang,” terang H Walid, Ahad (3/8).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

H Walid melanjutkan, “Sekarang-sekarang kegiatan ini hanya dilangsungkan di setiap dua lebaran, dan satu lagi di bulan Mulud. Beda dengan zaman saya masih kecil dulu.”

Para hadirin hampir semuanya terdiri atas bapak-bapak yang sudah berumur. H Walid menjelaskan, “Ya memang karena ini kegiatan bapak-bapak. Anak-anak muda biasanya ada di belakang, nyiapke soghatan.”

“Ibu-ibu juga tidak kelihatan karena mereka punya kegiatan masak untuk persiapan bodho kupat tadi sebelum acara ini. Pembacaan sholawatan ini adalah pamungkas dari acara Syawalan atau Halal Bihalal masyarakat sekitar sini,” lanjutnya.

H Walid mengakui bahwa usaha masyarakat di sekitar masjid Panembahan Bodho yang ada di selatan pesantren Al-Imdad Kauman Bantul ini memang masih kalah dibandingkan dengan uri-uri kabudayan yang dilakukan masyarakat di sekitar dusun Mlangi Sleman. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat warga untuk terus menjaga benteng ajaran yang konon diwariskan oleh leluhur.

Masyarakat percaya bahwa tradisi ini adalah salah satu bentuk perwujudan dari metode pengajaran yang dijalankan Kanjeng Sunan Kalijogo di masa lalu.

Sementara perangkat Kaur Kesra desa Wijirejo Pandak Hariyadi menjelaskan, “Sebetulnya yang dibaca dalam acara ini sama dengan yang dibaca saat rodatan pada 1 Syawal kemarin. Tapi, kalau rodatan itu nadanya rampak dan meriah di samping juga melibatkan anak-anak muda dan remaja masjid. Sedangkan sholawat maulid di acara Lebaran Ketupat ini nadanya lebih syahdu.” (M Yusuf Anas/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

Sidoarjo,Pondok Pesantren Attauhidiyyah ? . Sekitar 500 jamaah dan sejumlah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur menunaikan ibadah shalat tahajud, shalat tasbih dan shalat hajat. Kegiatan ini mereka lakukan di masjid setempat untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT melalui malam Lailatul Qodar atau malam seribu bulan pada malam 21 Ramadhan.

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

"Para jamaah menunaikan shalat tasbih yang dilakukan dengan empat rakaat dua salaman, shalat Hajad dan Tahajud dilakukan dua rakaat satu salaman. Semoga para pengurus bangkit dan tetap semangat untuk ibadah kepada Allah. Kami juga mangajak taqorrub dengan membaca istighfar kepada Allah agar segala permasalahan kita diberikan jalan keluarnya," kata Ketua MWCNU Jabon, Ahmad Kuzaemi, Sabtu (25/6).

Kuzaemi menuturkan, keutamaan shalat tasbih sendiri sangat banyak manfaatnya. Salah satunya, barangsiapa yang mau melakukan dengan istiqomah akan diberikan jalan keluar dan akan diberikan kemudahan di dunia. Sedangkan keutamaan dari shalat hajat dan tahajud akan mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski bukan bulan Ramadhan, sambung Kuzaemi, warga Nahdliyin di wilayahnya sudah terbiasa menunaikan ibadah shalat tersebut. Tak hanya itu saja, warga Nahdliyin pada setiap malam satu, tiga, lima dan tujuh juga mengadakan Khotmil Quran yang diadakan di masjid-masjid.

"Lailatul Ijtima ini sudah menjadi amaliyah pendiri NU. Bahkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga pernah berpesan untuk menggerakkan Lailatul Ijtima. Hanya Nahdlatul Ulama yang mempunyai kegiatan batin yang bisa mencarikan jalan keluar di berbagai problem lewat Lailatul Ijtima.? Kami juga memberikan dorongan dan motivasi kepada jajaran ranting untuk bangkit di dalam Lailatul Ijtima," tegasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah