Minggu, 27 Desember 2015

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mengantisipasi jatuhnya korban demam berdarah di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, GP Ansor Gerokgak mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng pada Jumat (29/1). Mereka melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Buleleng.

Dalam surat itu, mereka setidaknya mengajukan dua hal dalam rangka pencegahan demam berdarah. Mereka mengharapkan dinas kesehatan melalui petugas medis melakukan sosialisasi bahaya demam berdarah, mulai dari sebab, gejala, dan cara pencegahannya.

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Kedua, karena banyaknya genangan air dan tumpukan sampah plastik akibat intensitas hujan yang begitu tinggi, GP Ansor meminta dinas terkait mengadakan pengasapan pada wilayah-wilayah yang rawan penyakit demam berdarah.

Ketua GP Ansor gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, selama tahun 2015, di kecamatan Gerokgak ada seratus lebih kasus demam berdarah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Banyaknya kasus pada tahun sebelumnya setidaknya menjadi peringatan bagi petugas kesehatan untuk dapat meminimalisasi kasus DBD dengan cara antisipasi sejak dini,” ujar Karim. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Internasional, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 23 Desember 2015

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) menghelat seminar nasional bertajuk “Menelusuri Indikasi Pengaburan Sejarah Islam Nusantara”. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab dan Humaniora.

Acara tersebut digelar di aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (12/3) siang. Diskusi tersebut menghadirkan tiga sejarawan: Wakil Ketua PP Lesbumi NU KH Agus Sunyoto, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, dan Ridwan Saidi.

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah

Pengasuh Padasuka KH Syarif Rahmat dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjernihkan pemahaman keislaman masyarakat. “Saya harap, diskusi ini membuka cakrawala pemahaman baru sejarah kita,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyoal tentang pengaburan suatu sejarah, Kiai Syarif Rahmat memberikan satu contoh. Suatu ketika, para dukun dan tukang santet di zaman Nabi Sulaiman kehilangan pasaran. Lalu mereka bersekongkol untuk mengdongkel kekuasaan Raja Sulaiman. Mereka pun sepakat menyelundupkan sejumlah orang untuk menjadi punggawa istana Sulaiman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setelah situasi dirasa aman, mereka mengubur sejumlah peralatan sihir di bawah singgasana Raja Sulaiman. Beberapa waktu setelah Sulaiman wafat, mereka lalu berkumpul untuk mengatur strategi. Mereka membagi tugas, ada yang jadi tim gabungan pencari fakta (TGPF), ada pula yang bagian berita,” tutur Kiai Syarif menirukan mereka.

TGPF itu, lanjut Kiai Syarif, lalu meminta izin untuk masuk istana dengan dalih penyelidikan. Lalu, mereka pun membongkar apa yang pernah mereka tanam di bawah kursi Sulaiman. Mereka lalu pura-pura terkejut. Tanpa banyak komentar, mereka lalu melakukan konferensi pers yang pesertanya adalah anggota mereka sendiri.

“Singkat cerita, sejak itu terbentuklah opini bahwa Sulaiman adalah tukang sihir, pendusta yang memutarbalikkan fakta. Mereka mengambil kesimpulan bahwa Sulaiman selama ini menggunakan kekuatan sihir,” paparnya.?

Hal ini, lanjut Kiai Syarif, berlangsung hingga ribuan tahun hingga datang seorang pembaharu, yakni Nabi Muhammad SAW. Mereka lalu marah karena memandang penjelasan Rasulullah merupakan hal baru.

Rasulullah juga menjelaskan kepada mereka bahwa Baitullah yang paling tua adalah yang ada di Mekah, bukan yang di Baitul Maqdis. “Apa alasanmu, Muhammad. Sejarah kan harus ada buktinya,” kata mereka.

Lalu Rasulullah mengajukan tiga bukti dan fakta bahwa Baitullah yang di Mekah itu lebih tua. Sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani beranggapan sebaliknya. Pertama, ayat bayyinat itu ayat-ayat yang nyata. Yakni, adanya maqam Ibrahim lebih tua sepuluh generasi baru sampai Sulaiman.

“Kedua, siapapun yang masuk ke wilayah Ka’bah di Mekah merasa aman yang mana hal tersebut disepakati tiga agama karena menghormati kewingitan daerah itu. Ketiga, adanya kewajiban melakukan ibadah haji ke Baitullah, bukan ke Baitul Maqdis,” tandasnya.

Kiai Syarif berkesimpulan, peristiwa semacam itu bukan tak mungkin terjadi pada masa berikutnya. Peristiwa pemalsuan sejarah ala Yahudi dan Nasrani bisa saja terjadi di negeri tercinta ini.

“Oleh karena itu, ketika saya berkeliling sowan ke para kiai dan para tokoh, saya berpandangan bahwa sekarang ini saatnya para pendekar sejarah bicara untuk Indonesia, bukan untuk orang lain,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Anti Hoax, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, salah seorang Wali Songo, yaitu Sunan Bonang, berhasil mensinkronkan antara bahasa Arab dalam kitab kuning dengan bahasa ibu santri, misalnya bahasa Jawa.

Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya

Kiai yang akrab disapa Kang Said itu mencontohkan, dalam memaknai kitab kuning, santri memiliki rumus khusus dalam bahasa Jawa. Jika kedudukan kalimat itu mutada, maka akan ditandai utawi, khobar itu iku, fail atau naibul fail itu sopo atau opo, maf’ul bih itu ing, dhorof itu ingdalem, tamyiz apane, hal itu hale.

Pada praktiknya, misalnya dalam kalimat alhamdu utawi sedoyo puji. Utawi di situ supaya tahu santri bahwa itu mubtada. Iku lillahi, kagungan allah. Iku di situ supaya tahu bahwa itu khobar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Karena bahasa itu menunjukkan bangsa, pesantren adalah cagar budaya, benteng budaya dan sumber budaya,” tegasnya ketika diwawancarai di ruangannya, gedung PBNU, Jakarta, Senin (17/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia kemudian mengimbau, supaya bangsa Indonesia mempertahankan bahasa ibu masing-masing karena bahasa Indonesia tidak selengkap bahasa ibu. “Bangsa besar adalah bangsa yang bisa mempertahankan jatidirinya, bahasanya, kepribadiannya, wisdomnya, tidak tergilas era apapun, termasuk era globalisasi.”

Hari Bahasa Ibu berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh. Tanggal 21 Februari dinyatakan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional oleh UNESCO pada tanggal 17 November 1999. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 15 Desember 2015

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, kembali menegaskan bahwa NU netral dalam pemilihan presiden mendatang. NU tidak akan mendukung salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden.

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral

"NU bukan partai politik, jadi tidak akan terlibat aksi dukung-mendukung," kata Kiai Said di Jakarta, Selasa (29/4). Penegasan netralitas ini disampaikan setelah beredar kabar dukungan NU ke kandidat calon presiden tertentu, seiring dengan banyaknya aksi silaturahim politisi ke PBNU.

Dengan netralitas tersebut, Kiai Said mengaku memberikan kebebasan kepada Nahdliyin untuk menentukan pilihannya. Termasuk jika ada kader NU yang menginginkan maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, pilihan ke mana berkoalisi diserahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan. "Saya tidak menyebut nama ke mana dukungan warga NU mestinya diberikan," tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski demikian NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar ingin memberikan arahan kepada rakyat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, terkait kriteria pemimpin yang layak dipilih. Kriteria itu sendiri seperti tertuang dalam kitab al-Ahkam ash-Shulthoniyah karya Imam Mawardi yang sudah banyak dikaji di pesantren-pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kriteria pemimpin islami pertama adalah berilmu, cerdas (alim). Kedua adalah berani, tegas (syuja), dan ketiga adil (adil)," kata Kang Said, demikian Kiai Said disapa di kesehariannya.

Kriteria keempat pemimpin islami, lanjut Kang Said, adalah jujur dan sederhana (zuhud). Sementara kriteria terakhir adalah mampu secara fisik (salim al-jism). "Kalau ada calon pemimpin yang bisa memenuhi lima kriteria itu, dia sudah islami, meskipun diusung oleh partai yang tidak berbasis massa Islam," pungkanya. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Aswaja, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 14 Desember 2015

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memantapkan langkah di era digital, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Institut Pesantren Mathaliul Falah (KPI IPMAFA) menjalin kerja sama dengan sejumlah pakar media untuk menyelenggarakan forum diskusi bertema ‘Kompetensi Dasar Komunikasi dan Penyiaran di Masa Depan’ yang merumuskan sejumlah pemikiran dan hubungan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.?

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Acara yang berlangsung Jumat (25/3) ini dihadiri oleh sejumlah praktisi dan pakar media seperti Hakim Jayli (TV9), Asep Cuwantoro (KPID Jawa Tengah), Muhammad Niam (Kepala SMK Multimedia Cordova), dan Luluk (PAS FM Pati).

?

"Forum ini adalah pemantik untuk membuka berbagai sumbangsih pemikiran mengenai tren era komunikasi digital pada 10 tahun mendatang," ungkap Rektor IPMAFA H Abdul Ghaffar Rozin saat memberikan sambutan.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ditegaskan kembali oleh Hakim Jayli, tren komunikasi dan penyiaran digital di era mendatang akan menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keberagaman konten dan teknologi berbasis internet. Maka dibutuhkan kejelian untuk menangkap adanya peluang itu sekaligus kemampuan mengatasi berbagai hambatan yang ada.

?

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh PAS FM Pati yang memandang, institusi pendidikan seperti KPI IPMAFA harus memulai untuk memberikan sumbangsih berupa karya-karya berbasis teknologi digital seperti pembuatan film dokumenter maupun fiksi, seni fotografi, maupun reportase radio. Namun, lebih ditekankan pada aspek local wisdom yang kini mulai terlupakan. Padahal secara geografis tiap daerah pasti memiliki kekhasan tersendiri. Tinggal bagaimana membuat kemasannya terasa menarik dan tepat sasaran.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perihal konten berbasis local wisdom ini juga disoroti oleh Asep Cuwantoro selaku KPID Jawa Tengah. Menurutnya, aspek konten inilah yang harus diperkuat kembali. IPMAFA sebagai institusi perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi dan penyiaran akan memiliki keunikan tersendiri jika mampu menghasilkan konten berkualitas yang berpatokan pada standar regulasi penyiaran dan tentu saja nilai-nilai moral pesantren.

?

Pada ranah praktis, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi maupun institusi pendidikan penyelenggara kegiatan pembelajaran komunikasi sejenis. Misalnya dari segi pembiayaan dan pengadaan alat-alat yang tentunya tidak murah. "Keterbatasan alat bisa disiasati dengan menjalin kerjasama dengan berbagai institusi," ungkap Muhammad Niam Kepala SMK Cordova.

?

Acara yang dimulai pukul 9:30 dan berakhir pada 15.30 WIB itu tidak hanya merumuskan gagasan ideal dan praksis untuk menghadapi tren komunikasi digital di masa depan, tetapi juga ditindaklanjuti dengan kesepakatan hubungan kerjasama antara IPMAFA dengan lembaga-lembaga yang hadir.

?

Menurut Arif Chasannudin, Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran IPMAFA, sumbangsih pemikiran dari para narasumber diskusi ini juga akan menjadi acuan ideal untuk merumuskan kurikulum perkuliahan komunikasi dan penyiaran berbasis nilainilai pesantren di masa depan. Ia juga menambahkan, tidak menutup kemungkinan KPI IPMAFA menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Gajah Mada (UGM), Undip Semarang dan penyelenggara pendidikan komunikasi lainnya. (Jamal Mamur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 10 Desember 2015

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, terus meningkatkan performance santrinya agar bisa eksis di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah dengan ? Program Abdi Masyarakat (PAM).?

Sebelum para santri benar-benar lepas dan menjadi alumni Nuris, ? mereka "diuji" dulu untuk terjun di masyarakat, menjalani pengabdian, beradaptasi dan bergaul dengan warga yang sama sekali baru.?

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat

Sebanyak 146 santriwan-santriwati pada Jumat (28/4) dilepas untuk mengikuti PAM angkatan ke-5. ? Pelepasan yang dilakukan di halaman belakang Pondok Pesantren Nuris tersebut dihadiri oleh sang pengasuh, KH Muhyiddin Abdusshomad, para pengurus dan segenap santri.?

Kiai Muhyiddin menekankan pentingnya peserta PAM menjaga diri dan bersikap ramah selama berada di tengah-tengah ? masyarakat. "Teruslah kalian terapkan S6 selama kalian bertugas" tuturnya.?

S6 yang dimaksud Kiai Muhyiddin adalah singkatan dari sopan,santun, salam, sapa, senyum dan sanjung yang memang menjadi moto Nuris.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, pengasuh Nuris yang lain, KH Robith Qashidi menyatakan bahwa PAM mempuyai banyak manfaat bagi santri. Diantaranya, pertama adalah mempererat hubungan antar pesantren, khususnya pesantren Nuris dan tempat peserta PAM bertugas.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, membekali santri dengan pengalaman mengajar, dan ketiga meningkatkan rasa percaya diri santri. "Kalau di perguruan tinggi, ini namanya KKN. Jadi tempat dan masyarakat di mana santri diterjunkan itu adalah miniatur masyarakat sesungguhnya yang kelak akan dihadapi santri ketika telah benar-benar lepas dari Nuris," ucapnya.

Pelepasan peserta PAM tersebut, ditandai dengan pengenaan jas PAM oleh Gus Robith Qashidi terhadap santri yang diwakili Nur Habibullah, siswa kelas XII IPA SMA. Sementara untuk perwakilan santriwati dikenakan oleh Ning Laili Happy Dianterhadap Shinta Louna Faqih, siswi ? kelas XI MA Unggulan Nuris.

Ke-146 santri tersebut diterjunkan di 16 ? pesantren di seantero Jember, dan satu pesantren di Bondowoso. Mereka akan menjalani pengabdian selama satu bulan penuh. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 07 Desember 2015

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik

Sumedang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Cabang Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat kembali mengadakan Pelatihan Muharrik Masajid di Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, Selasa (26/1).

Ketua LTMNU Eman Sulaeman mengatakan, muharrik (penggerak) masjid adalah orang yang bertugas mengatur dan menggerakan para pengurus takmir masjid dengan memanfaatkan segala sumber daya dan dana yang dimilki oleh masjid bersangkutan.

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik

Seorang muharrik, katanya, juga membantu pengurus takmir masjid untuk memahami dan menghadapi kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. “Jadi seorang muharrik tidak hanya memberi rekomendasi dan melakukan presentasi, akan tetapi dituntut selalu tampil dalam proses implementasi. Ia berperan sebagai pendamping takmir dalam mengimplementasikan agenda revitalisasi masjid,” terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus LTMNU kini sedang melakukan pendataan terhadap masjid NU. Eman bersyukur pihaknya sudah berhasil memberikan surat keputusan (SK) masjid-masjid di empat kecamatan di Sumedang.

“Dan ini menjadi program prioritas LTMNU untuk terus meng-SK-an masjid-masjid di Kabupaten Sumedang. Sehingga kita dapat mengetahui jumlah masjid-masjid NU itu ada berapa, tipologinya seperti apa di Sumedang ini. Di samping bertujuan untuk membentengi dari paham-paham yang menghancurkan paham Ahlusunnah wal Jamaah,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendidikan bagi para penggerak masjid ini dihadiri 50 orang. Hadir sebagai pemateri Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh. Menurutnya, jumlah masjid yang begitu banyak membuktikan bahwa keberadaan tempat ibadah ini sangat penting di mata umat Islam.

Di negeri yang dihuni mayoritas umat Islam ini, sambungnya, jumlah masjid dan mushala mencapai 1.070.000. Jumlah tersebut berdasarkan data Kementerian Agama RI pada tahun 2009. Sementara, berdasarkan data Lazuardi Biru tahun 2010, kurang lebih 80 persen masjid di Indonesia menggunakan amaliyah ala NU dalam hal beribadah, misalnya qunut saat shalat subuh, wirid setelah imam salam, adzan jumat dilakukan dua kali, dan sebagainya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 06 Desember 2015

Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Selama bulan Ramadhan, seperti biasa Masjid Jami’ Assegaf Pasar Kliwon Solo, menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Menurut Imam Masjid Jami’ Assegaf, Habib Jamal Bin Abdul Qodir Assegaf, kegiatan sudah dimulai sejak pukul 12.00 WIB.

“Setiap harinya, rutin mulai pukul 12 siang sampai dini hari, ada banyak kegiatan” terang kakak Habib Syech As-Segaf itu, saat ditemui Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (2/7) sore.

Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo

Setelah diawali dengan pengajian tafsir al-Qur’an, waktu sore hari dilanjut dengan kegiatan Rauhah Sore. “Setiap sore kita menafsiri Kitab Rayadhus Shalihin karangan Imam Nawawi,” ujar Habib Jamal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Usai kajian kitab, kemudian jamaah berkumpul di serambi masjid untuk mendengarkan kultum dari salah seorang ustadz. Kultum berakhir hingga waktu azan Maghrib tiba.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbagai kegiatan usai salat tarawih, juga sudah disiapkan takmir masjid. “Ada Nyantri Ramadhan, Sarasehan Ramadhan, Dzikir dan Muhasabah,” katanya.

Agar jamaah tidak mengantuk, ada pula beberapa acara inspiratif seperti Kisah Malam, Suara Anda, dan Dialog Interaktif. Untuk tahun ini, panitia juga mengadakan beberapa program baru.

“Ada Burhan (Bubur Ramadhan) yang diselenggarakan pada dua puluh hari pertama Ramadhan dan Si Jidan (Santri Masjid Ramadhan),”

Dengan berbagai kegiatan tersebut, pihaknya berharap dapat menjadikan jamaah lebih tertarik untuk semakin giat dalam beribadah di bulan Ramadhan. Tak lupa, di malam hari para jamaah akan disuguhi secangkir kopi rempah khas masjid ini. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 03 Desember 2015

PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memberikan pembekalan kepada Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) atau Dai Ambassador di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya, Jakarta. TIDIM merupakan program Lembaga Dakwah NU yang bertujuan menyiapkan dai agar siap bertugas di luar negeri.?

PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional

Dalam sambutannya, Wakil Sekretaris LDNU, KH Wahfiudin Sakam mengutarakan jika selama 11 hari (19/5-29/5) 20 dai dari berbagai daerah akan digembleng di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Ia menambahkan, selama pelatihan para dai akan mendapatkan pembelajaran terkait komunikasi, pemanfaatan media sosial, bahasa Inggris, fisik dan mental, membuat presentasi serta psikoterapi.?

"Alhamdulillah untuk bulan ramadhan tahun ini, LDNU akan mengirimkan satu dai ke Amsterdam dan dua dai ke Hongkong. Untuk Australia kami masih menjalin komunikasi," ungkap penanggung jawab program TIDIM itu.

Rencananya selepas Idul Fitri, LDNU akan memperkuat TIDIM dengan kemampuan bahasa Inggris mereka agar lebih siap go International. "Insyaallah selama tiga minggu TIDIM akan intensif belajar bahasa Inggris," ungkap KH Wahfiudin.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Wakil Ketua LDNU, KH Maman Imanul Haq mengamini agar dai-dai yang memiliki basis pengetahuan Islam aswaja dan kemampuan komunikasi yang baik dapat diterjunkan ke seluruh dunia. “Sebuah harapan baru bagi Islam Nusantara untuk menjadi ruh bagi perjuangan Islam yang rahmatan lil alamin,” terang Anggota DPR RI ini.

Pembekalan juga disampaikan oleh salah satu Ketua PBNU, KH Manan Abdul Ghani. Ia menegaskan bahwa NU terus bergerak dan pergerakan dimulai dari masjid. "Saat ini kita juga sedang menjalankan program penggerak masjid. Kader dai internasional harus mampu mengembangkan dakwah yang bermuara dari masjid," pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan jika TIDIM harus memegang amanah dengan baik. Islam yang berkembang di Indonesia terbukti mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

"Janganlah kita ragu untuk terus mendakwahkan kebenaran dalam kondisi apapun," tutupnya. (Idan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 22 November 2015

NU Menuju Organisasi Profesional

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sekjen PBNU Ir Iqbal Sullam menegaskan, arah dan kebijakan NU ke depan adalah menuju organisasi yang memiliki tradisi profesional agar bisa bersaing dengan umat yang lainnya. Semuanya tersebut, diarahkan untuk menghasilkan kesejahteraan ummat.

“Untuk mencapai itu, perlu dilakukan secara konsisten sehingga mampu menghasilkan keahlian,” katanya ketika menerima rombongan dari MWC NU Kangkung Kendal, Selasa (21/12).

NU Menuju Organisasi Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Menuju Organisasi Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Menuju Organisasi Profesional

Untuk memperbaiki kinerja NU, Iqbal menganjurkan agar MWC atau Cabang NU yang sudah maju dapat menjadi contoh bagi yang lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Drs Khofidin, wakil ketua MWC NU Kangkung menjelaskan, saat ini Maarif NU yang ada di daerahnya telah mengelola sejumlah lembaga pendidikan, diantaranya ada 2 Madrasah Tsanawiyah, 6 Madrasah Ibtidaiyah, 1 Madrasah Aliyah, 1 SMA, 23 Madrasah Diniyah, 16 Madrasah Wustho, 24 PTQ dan 1 Madrasah Ulya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofidin yang juga kepala sekolah di MTs NU Kangkung menjelaskan, kurikulum dan pengorganisasian sekolah-sekolah di Kendal sudah ditata rapi. MTs NU Kangkung sendiri saat ini terdaftar sebagai MTsNU nomor 20, dari total 29 MTsNU yang ada di Kendal. Saat ini Maarif NU Kendal sudah mengelola 29 MTs, 10 SMP, 5 SMA dan 3 SMK.

“Kita berharap agar PBNU mampu mendorong PCNU Kendal untuk membuat perguruan tinggi,” katanya.

Meskipun jumlah lembaga pendidikan yang dikelola sudah banyak, tetapi perlu peningkatan kualitas agar mampu bersaing dengan sekolah lainnya.

Hadir dalam rombongan tersebut ketua PAC Muslimat NU, Fatayat NU dan Ansor NU. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Habib, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 17 November 2015

Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setelah kemarin digelar di Kabupaten Ciamis, Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda); dalam rangka knsolidasi dan koordinasi para imam, khotib, dan DKM, akan digelar pula di Tasikmalaya, hari ini, Ahad (10/2).

Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya

Kegiatan tersebut rencananya akan berlangsung di aula PCNU Kabupaten Tasikmalaya. Acara akan dimulai pukul 09.00, dibuka amanat Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi. Kemudian dilanjutkan materi pertama Revitalisasi masjid untuk memperkuat struktur dan kultur NU; akan disampaikan Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A. Ghani.

Kemudian materi fundrising (keuangan masjid) disampaikan KH Mansur Saeroji, pengembangan ekonomi masjid oleh Ir. Suaidi MM., database masjid oleh Sekretaris PP LTMNU KH Ibnu Hazen dan Ir. Soecipto, pentingnya sertifikasi wakaf nadzir NU dan tekniknya oleh KH Sholeh Qosim MM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan yang diagendakan berakhir pukul 17.00 tersebut bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat”; diikuti 200 orang peserta dari Kabupaten/Kota Tasikmalaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rapimda tersebut terselenggara atas kerjasama PP LTMNU, PCNU Kabupaten/Kota Tasikmalaya dan PT Sinde Budi Sentosa.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 10 November 2015

Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah  

Dalam rangka memperingati hari pangan dunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, Forum Silaturrahmi Mahasiswa Pascasarjana Nahdlatul Ulama UGM bekerjasama dengan Pusat Studi Energi UGM menyelenggarakan diskusi bulanan ke-3 pada Rabu, (18/10). Diskusi ini mengusung tema “Peran Pangan Fungsional untuk Kesejahteraan Masyarakat.” 

Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Pascasarjana NU di UGM Bahas Pangan Fungsional untuk Masyarakat

Hadir sebagai pembicara Satyaguna Rakhmatullah, alumni S2 Fakultas Peternakan UGM yang sekarang menjadi  peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM. Selain itu ia juga aktif sebagai pengurus Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU DIY. 

Satyaguna menyampaikan bahwa pangan fungsional itu erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pangan fungsional ini adalah pangan yang tidak hanya memberikan nutrient atau nilai gizi, tetapi juga memberikan nilai kesehatan lebih bagi tubuh kita. 

Lebih lanjut, Satyaguna mengatakan bahwa pangan fungsional yang jumlahnya sangat banyak itu dapat kita temukan di lingkungan sekitar kita baik dalam bentuk umbi, sayur, maupun buah-buahan lokal. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemerintah diharapkan dapat mendorong kampanye pangan fungsional ini dalam rangka untuk meningkatkan taraf hidup masyarkat baik dalam sisi kesehatan maupun dalam konteks ekonomi. Setiap desa diharapkan dapat mengembangkan pangan fungsional yang berasal dari hasil alam yang organik sebagi ciri khas daerah tersebut dan sekaligus untuk menguatkan ketahanan pangan masyarakat.

Sementara Ahmad Rahma Wardhana, perwakilan Pusat Studi Energi menyampaikan bahwa yang terpenting dalam menyelenggarakan diskusi seperti ini adalah keistiqomahan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu ia juga menyampaikan, sebagai forum yang berisi mahasiswa dari litas disiplin, forum ini memungkinkan kita untuk mengembangkan sudut pandang multi perspektif, untuk keluasan dan kedewasaan dalam mengambil keputusan. 

Diskusi ini diikuti oleh sekitar 30 mahasiswa S2 dan S3 yang berasal dari bebagai jurusan di kampus UGM, UIN Sunan Kalijaga dan UNY.  Forum ini merupakan wadah diskusi untuk mengembangkan intelektualitas mahasiswa Pascasarjana dari berbagai disiplin ilmu yang terikat oleh satu rasa emosi yang sama, yakni sebagai keluarga besar Nahdhlatul Ulama. (Irsyadul Ibad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesantren Al Hikam Gelar Sesarehan Pra Munas

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Meskipun pelaksanaan musyawarah nasional (munas) dan konferensi besar (konbes) yang sejatinya diselenggarakan pada 30-31 Agustus ini diundur pada 1-2 November, pesantren Al Hikam yang menjadi tuan rumah tetap menggelar kegiatan dalam bentuk silaturrahim halal bihalal dan sarasehan nasional ulama pesantren serta penataan program pra munas dan konbes.?

Pesantren Al Hikam Gelar Sesarehan Pra Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al Hikam Gelar Sesarehan Pra Munas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al Hikam Gelar Sesarehan Pra Munas

Ahmad Millah Hasan, panitia tim media dari pesantren Al Hikam, Kamis (28/8) menjelaskan, kegiatan tetap dilaksanakan karena panitia lokal sudah mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan, sementara keputusan pengunduran jadual baru dilakukan dalam waktu yang mepet.

Rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah yang diselenggarakan pada Rabu (27/8) memutuskan munas-konbes diundur agar rekomendasi jatuh pada tangan yang tepat, yaitu pemerintah baru, agar masukan dapat dilaksanakan. Hadir pada rapat tersebut Rais Aam KH Musthofa Bisri, Katib Aam KH Malik Madany, Ketua Umum KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum H As’ad Said Ali dan para pengurus lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Akan hadir dalam pertemuan di pesantren Al Hikam tersebut 80 ulama terkemuka dari Jatim, 70 ulama pesantren dari Jateng, 62 ulama dari Jabar, dan 32 ulama Banten selain para peserta dari pengurus wilayah NU seluruh Indonesia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejumlah masalah penting masuk dalam agenda pembahasan yaitu Ahlussunnah dan Islam moderat dalam lintas Indonesia dan dunia, dan Indonesia masa depan pasca pilpres. Selain itu, dalam acara itu akan dibacakan "maklumat kebangsaan" tentang Indonesia masa depan.

Sejumlah nama tokoh nasional dijadwalkan hadir menjadi pembicara. Yaitu Presiden terpilih Joko Widodo, Jimly Asshiddiqie, Wahiduddin Adams, Jenderal Moldoko, Prof Masud Said, Refly Harun, Prof Gumilar Rusliwa, dll. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 05 November 2015

Tablig Akbar Iringi Haflah Tilawah Al-QurĂ¢€™an NU Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kegiatan Tilawah Al-Qur’an NU Sulsel di Al Markaz Al Islami Makassar, Ahad (16/12), diiringi dengan tabligh akbar. Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, membuka Tablig Akbar dan Haflah Qur’an Nasional seusai shalat dhuhur berjamaah yang dilaksanakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulsel.

Mantan Ketua Umum PBNU yang juga salah satu Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi tampil sebagai penceramah inti dalam Tablig Akbar tersebut.

Tablig Akbar Iringi Haflah Tilawah Al-QurĂ¢â‚¬â„¢an NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tablig Akbar Iringi Haflah Tilawah Al-QurĂ¢€™an NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tablig Akbar Iringi Haflah Tilawah Al-QurĂ¢€™an NU Sulsel

Dalam ceramahnya ia berpesan agar sekiranya warga Nahdliyyin menjaga tradisi-tradisi keberagamaan dan berpengetahuan. Disisi lain beliau berpesan untuk ? senantiasa menjaga keberislaman kita semua. Beliau juga turut prihatin dengan maraknya konflik negara Timur Tengah.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tak luput pula ia berpesan Nahdliyyin di Sulsel berperan serta menjadikan Pilgub Sulsel menjadi Pilkada damai. “Mudah-mudahan Pilgub di Sulsel bisa berjalan aman dan lancar serta bisa memilih pemimpin dengan damai”.

Agus Arifin Nu’mang ? berharap, Tablig Akbar tidak hanya berperan menambah pengetahuan di bidang agama, tetapi juga paling penting artinya untuk perbaikan moral dan mempererat hubungan silaturrahm dan kekerabatan, bukan hanya di kalangan umat Islam saja, tapi setidaknya juga bisa memperkokoh persaudaraan antar umat beragama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Agus Arifin Nu’mang adalah salah satu anggota Musytasar PWNU Sulsel dan salah satu Pembina PW IPNU wilayah tersebut.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andi Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Habib, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 30 Oktober 2015

Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Seknas Jaringan GusDurian (JGD) mengajak masyarakat untuk turut bersama dalam mendukung perjuangan anti-korupsi. Hal tersebut disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid berkaitan dengan peristiwa teror yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Selasa (11/4).

“Kami menganggap bahwa serangan dan intimidasi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya untuk melemahkan KPK serta menghalangi penanggulangan korupsi di Indonesia secara umum,” kata Alissa kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi

Ditegaskan putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, atas peristiwa tersebut Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan empat sikap sebagai berikut:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

1. Mengutuk keras serangan intimidasi terhadap Novel Baswedan dan KPK. Novel Baswedan sebagai penyidik berpestasi dan Ketua Wadah Pegawai KPK adalah salah satu figur penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

2. Serangan ini adalah intimidasi terhadap upaya penegakkan hukum dalam pemberantasan korupsi, untuk melemahkan KPK dan menciptakan rasa takut kepada semua pihak yang menginginkan kasus-kasus korupsi dibuka dan diadili.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

3. Meminta aparat untuk segera menangkap pelaku dan mengusut tuntas peristiwa teror ini.

4. Menyerukan kepada masyarakat untuk terus memberikan dukungan kepada KPK dalam perjuangan pemberantasan korupsi di Indonesia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, AlaNu, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Oktober 2015

Fatwa MUI Larang Euthanasia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin mengatakan bahwa MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat).

"Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu kan melakukan pembunuhan," kata KH MA`ruf Amin di Jakarta, Jumat. Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain.

Lebih lanjut, KH Ma`ruf Amin mengatakan, euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus. Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung oleh alat penunjang kehidupan tetapi ternyata alat tersebut lebih dibutuhkan oleh orang lain atau pasien lain yang memiliki tingkat peluang hidupnya lebih besar, dan pasien tersebut keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Sedangkan, kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak akan mati bila hanya dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus dimatikan. Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan "euthanasia", dia menjelaskan bahwa dalilnya secara umum yaitu tindakan membunuh orang dan karena faktor keputus-asaan yang tidak diperbolehkan dalam Islam.

Dia mengungkapkan, dasar pelarangan euthanasia memang tidak terdapat secara spesifik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi. "Hak untuk mematikan seseorang ada pada Allah SWT," ujarnya menambahkan. Ketua komisi fatwa MUI itu mengatakan, MUI akan menjelaskan dan mengeluarkan fatwa pelarangan euthanasia tersebut, apabila Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau institusi lainnya menanyakan kepada MUI.

Ia menjelaskan, kasus permohonan euthanasia memang belum pernah terjadi di Indonesia, tetapi MUI telah menetapkan fatwa pelarangan tersebut setelah melakukan diskusi dan pembahasan tentang permasalahan euthanasia yang terjadi di luar negeri. Penjelasan tentang euthanasia berkaitan dengan surat permohonan tindakan Euthanasia yang diajukan oleh Panca Satrya Hasan Kesuma untuk istinya, Agian Isna Nauli (33) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jumat pagi.

Dalam surat permohonannya, Hasan meminta kepada ketua PN Jakpus untuk berkenan menetapkan apakah bisa dilakukan euthanasia terhadap istrinya atau tidak, karena menurut penelitian dokter spesialis neorologi yang merawat, kondisi kesehatan istrinya tidak akan pernah bisa kembali pada keadaan semula.

Surat permohonan tersebut disampaikan oleh Panca Satrya Hasan Kesuma, karena istrinya, Agian Isna Nauli (33), lumpuh setelah melahirkan melalui operasi caesar di Rumah Sakit Islam Bogor.

Menurut penelitian dokter spesialis neorologi yang merawat, kondisi kesehatan istrinya tidak akan pernah bisa kembali pada keadaan semula. Dalam surat permohonan tersebut, Hasan Kesuma mengatakan ia harus memilih euthanasia karena selama perawatan istrinya, ia tidak dapat memperhatikan dan mengupayakan kehidupan yang layak, memberi nafkah pada dua orang anaknya, yaitu Ditya Putra Mardhika (9), dan anaknya yang baru lahir Raydie Attila Nurullah Kesuma.

Beserta surat permohonan tersebut dilampirkan resume perawatan Agian dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan berkas hasil pemeriksaan radiologis dari RS Pusat Pertamina. Selain itu surat permohonan pada Walikota Bogor tentang bantuan sosial kemanusiaan, surat dari DPRD Bogor mengenai undangan rapat dengar pendapat, dan hasil dengar pendapat, dan surat undangan dari Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Barat yang meminta keterangan tentang Agian. (atr/cih)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Ahlussunnah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fatwa MUI Larang Euthanasia (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatwa MUI Larang Euthanasia (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatwa MUI Larang Euthanasia

Senin, 26 Oktober 2015

Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Halaqah Dakwah Nasional 2017 bertema "Menjawab Tantangan Dakwah di Era Modern" yang dilaksanakan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Pusat menghasilkan program strategis pembentukan Akademi Dakwah.

Ketua Umum MUI Pusat KH Maruf Amin saat pembukaan kegiatan tersebut mengemukakan bahwa Akademi Dakwah yang akan dibentuk tersebut merupakan Lembaga Pendidikan bagi para dai atau penceramah dengan durasi waktu 2 sampai dengan 3 bulan berbasis peta dan pedoman dakwah.

Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah

Akademi tersebut dibentuk dalam rangka memperbaiki kegiatan dakwah secara menyeluruh baik pada dai, madu, maddah, manhaj, maupun wasilah dakwah. 

Dengan hal tersebut harapnya proses dakwah semakin berkualitas dan mencerdaskan umat serta membawa umat kepada jalan kebaikan dan ketakwaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Akademi Dakwah yang sedang dibentuk ini nantinya akan mendidik para dai (penceramah) Indonesia agar berstandar Internasional," ungkap Rais ‘Aam PBNU ini di hotel Rivoli Jakarta, Senin (13/11).

Kiai Maruf menjelaskan juga bahwa dakwah harus memerankan fungsi tauhidul ummah (mempersatukan umat), tansiqul harakah (mensinkronkan gerakan dakwah), taswiyatul manhaj (menyamakan persepsi pola keagamaan Ahlussunnah wal-Jamaah), dan himayatul ummah (melindungi umat) dari akidah dan pemikiran sesat. 

Dakwah juga harus mampu melindungi umat dari muamalat yang haram dan konsumsi yang haram, termasuk membentengi umat Islam menghadapi rongrongan dari luar seperti upaya pemurtadan.

Halaqah yang dilaksanakan mulai Senin (13/11) sampai dengan Rabu (15/11) ini diikuti oleh peserta dari utusan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI tingkat provinsi se-Indonesia. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Oktober 2015

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Pacitan,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menyemarakkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyambut peringatan haul ke-18 almagfurlah KH Habib Dimyathi, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, menggelar turnamen bola voli tingkat kabupaten pada Sabtu-Ahad (2-3/1) di halaman pesantren tersebut.

Panitia penyelenggara, Nasrowi, menyatakan, turnamen dihelat untuk memperkenalkan pesantren pada masyarakat luas. "Ini sebagai salah satu wujud mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok, bahwa image pesantren tidak hanya ngaji saja, tapi ada olahraganya juga, " tuturnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (3/1).

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Dikatakannya, melalui turnamen ini masyarakat bisa datang menyaksikan pertandingan bola voli sekaligus bisa mengenal lebih dekat dengan dunia pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turnamen yang digelar setahun sekali ini diikuti 52 tim se-Kabupaten Pacitan. Panitia menyediakan hadiah sebesar Rp. 5.250.000 beserta tropi tetap PHBI CUP 2016.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada laga final yang digelar pada Ahad sore (3/1), tim Sumber Rejeki Ketepung, Kecamatan Kebonagung menjadi juara setelah menekuk tim Desa Mlati. Pertandingan yang disaksikan ribuan massa ini berlangsung sangat ketat, dengan skor akhir 3-1.

Sumber rejeki berhak menerima hadiah uang pembinaan dan piala tetap PHBI CUP 2016. Penyerahan piala secara simbolis akan dilakukan pada malam pengajian Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW Rabu malam (6/1). (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 18 Oktober 2015

Puasa dan Budaya Literasi

Oleh Sholihin Hasan



Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq. Artinya; Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Ayat di atas merupakan ayat pertama dari lima ayat Surat Al-‘Alaq yang turun sebagai wahyu pertama. Ayat itu diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril pada malam 17 Ramadhan saat Nabi Muhammad Saw sedang berkhalwat di Gua Hira’. Ketika itu beliau memasuki usia 40 tahun.

Puasa dan Budaya Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Budaya Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Budaya Literasi

M Quraish Shihab dalam kitab tafsir Al-Mishbah menyebutkan, kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a yang berarti bacalah. Iqra’ juga berarti  menghimpun, menyampaikan, menelaah, membaca mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-ciri sesuatu. Perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik suci maupun tidak suci.

Perintah iqra’ yang turun 14,5 abad yang lalu akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian dari mayoritas umat Islam di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa lembaga internasional menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara-negara lain.

Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 menempati posisi terburuk kedua. Posisi Indonesia berada diurutan ke 64 dari 65 negara yang disurvei.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Empat tahun setelah penelitian PISA, ternyata posisi budaya literasi bangsa ini belum mengalami perubahan signifikan. Sebab, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) di New Britain, Conn, Amerika Serikat tahun 2016, menempatkan literasi di Indonesia pada peringkat ke 60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literate Nations. 

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan betapa lemahnya budaya literasi masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya literasi di Indonesia salah satunya disebabkan karena budaya masyarakat adalah budaya menonton, budaya dongeng dan cerita, bukan budaya membaca.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Anak-anak sekolah lebih senang bermain game ketimbang pergi ke perpustakaan. Masyarakat lebih senang membicarakan materi pembicaraan yang berdasarkan katanya, katanya dan katanya, ketimbang berdasarkan sumber ilmiah atau dari ayat-ayat suci.

Tingginya budaya menonton masyarakat terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun lalu. Dimana jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia untuk menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah waktu menonton anak-anak Indonesia terlalu besar jika dibandingkan dengan anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari.

Untuk mendorong minat baca di kalangan siswa, di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pernah mewajibkan para siswa membaca buku 15 menit sebelum jam belajar dimulai.

Pentingnya Literasi

Literasi biasa dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Menurut Unesco, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menerjemahkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan tertulis maupun tercetak yang berhubungan dengan berbagai konteks.

Kemampuan literasi sering menjadi pembuka bagi datangnya keberhasilan. Hubungan lingkaran setan antara status kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sesungguhnya berkaitan erat dengan budaya literasi.

Ketika budaya literasi menguat, maka impact-nya lambat laun akan menghilangkan status kebodohan. Dengan sirnanya status kebodohan, maka status keterbelakangan juga ikut sirna. Bahkan, impact dari kuatnya budaya literasi akan mampu memperbaiki taraf hidup, serta kemajuan suatu bangsa.

Unesco pernah melakukan penelitian berjudul Literacy for Life, menemukan adanya hubungan erat antara lemahnya budaya literasi (illiteracy) dengan kemiskinan. Negara-negara yang tingkat literasinya rendah, rata-rata adalah negara miskin. 

Momentum Puasa

Umat Islam yang saat ini tengah melaksakan ibadah puasa Ramadhan perlu merenungi kembali makna perintah iqra’. Apakah perintah iqra’ sudah dilaksanakan dengan baik dan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari? Kalau pun sudah, apakah iqra’ memiliki pengaruh dalam kehidupan nyata?

Ramadhan adalah momentum penting untuk memperbaiki atau meningkatkan budaya literasi. Sebab, bagi umat Islam di Indonesia, khususnya umat Islam di Jawa, momentum Ramadhan identik dengan budaya literasi.

Beberapa tradisi Ramadhan yang terkait dengan literasi antara lain tradisi tadarus Al-Qur’an. Tradisi ini biasanya digelar selepas shalat Tarawih. Hampir di setiap masjid dan mushalla, selalu dilaksanakan kegiatan tadarus. Baik dengan metode koor, sorogan maupun long march.

Kegiatan tadarus dilaksanakan antara satu hingga dua jam setiap malamnya. Yakni, pukul 20.00 hingga pukul 22.00. Selama Ramadhan biasanya khatam membaca al Qur’an antara dua hingga empat kali khataman. Bahkan ada yang lebih, lima atau enam kali.

Kegiatan tadarus tidak hanya dilaksanakan di masjid dan mushalla, tetapi tadarus juga dilaksanakan di rumah, sekolah, kampus maupun kantor. Organisasi sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatkan pun tak ketinggalan melaksanakan kegiatan tadarus berjamaah.

Selama Ramadhan juga semarak dengan kegiatan ceramah agama dan kajian agama. Ceramah agama tersebut biasanya dilaksanakan selepas jamaah shalat isya’ atau tarawih, dan setelah jamaah shalat subuh. Ceramah agama yang ditempatkan di dua waktu ini biasanya sifatnya pendek atau dikenal dengan ceramah kuliah tujuh menit (kultum).

Kajian agama pun marak dilaksanakan di pondok-pondok pesantren. Mulai ba’da subuh hingga larut malam dilakukan kajian kitab kuning. Kajian kitab kuning ini dilakukan para kiai, ustadz dan para santrinya. Berbagai macam kitab kuning dikaji selama Ramadhan. Mereka mengambil waktu khataman baca kitab kuning antara 17 hingga 21 Ramadhan. 

Momen buka puasa bersama sering dijadikan media dilaksanakannya kajian agama atau kultum. Buka puasa bersama dengan kajian agama dengan durasi waktu agak panjang biasanya dilaksanakan di masjid-masjid atau mushalla. Sedangkan untuk buka puasa di kantor, sekolah, perusahaan, kampus maupun organisasi sosial kemasyarakatan biasa didahului dengan ceramah agama agak singkat.

Berbagai kegiatan di atas menunjukkan bahwa kegiatan literasi umat Islam selama Ramadhan meningkat jika dibandingkan di luar Ramadhan. Karena kegiatan-kegiatan seperti itu tidak dijumpai di luar Ramadhan.

Suasana religi tersebut diperkuat tampilan media cetak dan elektronik. Koran, majalah, radio, situs internet dan televisi memberikan ruang khusus selama Ramadhan.

Pertanyaanya, kegiatan baca Al-Qur’an begitu marak, kajian dan ceramah agama digelar di mana-mana, tetapi mengapa literasi bangsa Indonesia dinilai masih terpuruk? 

Hal ini dikarenakan kemampuan literasi umat Islam hanya berhenti pada kemampuan membaca. Kemampuan literasi belum sampai pada kemampuan mengidentifikasi apalagi memahami. Kemampuan literasi belum sampai menghasilkan karya atau produksi.

Tadarus al Qur’an hanya berhenti pada kegiatan membaca. Masih berkutat pada aplikasi penerapan ilmu tajwid, makharijul huruf, ketartilan bacaan, serta merdu dan tidaknya suara. Tadarus Al-Qur’an belum dikembangkan menjadi kegiatan pendalaman melalui kajian tafsir. 

Melalui kajian tafsir akan diperoleh pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai penafsir. Dari pendalaman ayat-ayat tersebut akan diperoleh pemahaman. Dari pemahaman tersebut umat Islam diharapkan bisa melakukan identifikasi pesan moral dari kandungan ayat untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Maraknya ceramah agama selama Ramadhan ini juga berhenti dengan selesainya materi ceramah. Minim program tindak lanjut. Masyarakat masih cenderung mendengarkan atau mencari penceramah yang lucu dan memiliki selera humor tinggi. Mengenai isi materi menjadi persoalan belakangan.

Penceramahnya juga cenderung melayani selera masyarakat ketimbang melakukan pencerahan dan melakukan program tindak lanjut. Bahkan, materi ceramah sering diulang-ulang. 

Itulah mengapa masyarakat Indonesia oleh lembaga Programme for International Student Assessment dan Central Connecticut State University dinilai kemampuan literasinya rendah. Karena kemampuan literasinya baru taraf membaca dan mendengarkan.

Untuk menguatkan kemampuan literasi, maka maraknya kegiatan tadarus, kajian agama, dan ceramah agama selama Ramadhan ini hendaknya tidak berhenti di tempat. Gelombangnya sedikit di naikkan. Tadarus tidak sekedar membaca, ceramah tidak sekedar mendengarkan, tetapi sedikit ditingkatkan menjadi memahami maknanya dan selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan nyata.  

Penulis adalah mahasiswa program doktor UIN Walisongo Semarang, sekaligus dosen STAI Almuhammad Cepu

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, IMNU, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Oktober 2015

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Dalam masyarakat kita ada kecenderungan sebagian orang memandang sebelah mata mereka yang tak bisa memberikan keturunan. Apalagi jika mereka perempuan. Beberapa suami menceraikan istrinya hanya karena ia mandul. Hal seperti ini ? dialami seorang wanita yang Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) memanggilnya “Bulik” untuk “mbasakke” anak-anak Mbah Ngis. Memang masih ada hubungan kerabat antara Mbah Ngis dengannya meski tidak sangat dekat. Sebut saja perempuan itu beranama Bulik Fulanah.

Betul. Bulik Fulanah dicerai suaminya hanya karena tak bisa memberikan keturunan. Sejak itu Bulik Fulanah hidup menjanda. Suami tak ada. Anak tak punya. Kakak atau adik sudah tiada. Orang tua juga sudah lama meninggal dunia. Bulik Fulanah tak punya keluarga. Ia sebatang kara. Masih beruntung ada keponakan yang bersedia menampung hidupnya di rumah di sebuah kampung yang padat penduduk.?

Bulik Fulanah hidup menderita. Ia tak punya apa-apa alias miskin. Jika diperbandingkan, Bulik Fulanah sangat kontras dengan Mbah Ngis meskipun ada beberapa persamaan, seperti sama-sama bukan orang kaya yang berjualan makanan kecil. Bulik Fulanah tak memiliki seorang anak pun. Mbah Ngis memiliki 13 anak. Bulik Fulanah dikenal suka banyak bicara. ? Sedangkan Mbah Ngis cukup tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Kebiasaan banyak bicara yang topiknya tidak selalu menarik kadang membuat beberapa orang tak menyukai Bulik Fulanah.?

Empati  Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)
Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Tetapi bagi Mbah Ngis, semua kekurangan Bulik Fulanah tak dipermasalahkan. Mbah Ngis cukup toleran terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. Mbah Ngis cukup mengerti tidak setiap orang berpengatahuan luas atau memiliki banyak pengalaman menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Mbah Ngis malahan menaruh iba yang mendalam terhadap nasib Bulik Fulanah sebagai sesama saudara sekaligus sesama perempuan.?

Sudah lama Mbah Ngis bertanya pada diri sendiri kapan bisa menyenangkan Bulik Fulanah dengan memberikan atau mewujudkan sesuatu yang membuatnya berbesar hati. Mbah Ngis lama berpikir soal itu hingga akhirnya Mbah Ngis menemukan gagasan.?

Gagasan itu adalah mengajaknya pergi ke Jakarta, sebuah kota metropolitan dengan segala kemegahannya. Mbah Ngis sendiri belum pernah ke Ibu Kota. Kali ini ada kesempatan bagi Mbah Ngis pergi ke sana, tapi bukan karena Mbah Ngis memiliki banyak uang. Salah seorang keponakan Mbah Dullah di Jakarta mempunyai hajat menikahkan putrinya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keponakan itu cukup mapan secara ekonomi karena ia seorang pejabat penting. Mbah Ngis dan Mbah Dullah diundang menghadiri resepsi perkawinan itu. Segala sesuatu terkait dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi selama di perjalanan Jakarta pulang-pergi sudah ada yang mengurus dan semuanya ditanggung oleh sang keponakan. Mbah Ngis dan Mbah Dullah tinggal menyiapkan diri, terutama kesehatannya, agar bisa hadir. Mbah Ngis sangat senang atas undangan ini dan bersyukur karena semua fasiltas tersedia secara cuma-cuma.?

Rasa syukur itu diwujudkan Mbah Ngis dalam bentuk menyisihkan selama sebulan penuh uang hasil berjualan makanan kecil setiap hari di pondok. Mbah Ngis ingin sekali mengajak Bulik Fulanah ke Jakarta dengan seluruh biaya ditanggung Mbah Ngis.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Benar. Mbah Ngis, Mbah Dullah dan Bulik Fulanah serta rombongan lain dari Solo berangkat bersama ke Jakarta dengan menaiki Kereta Api Senja Utama. Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi Mbah Ngis dan Bulik Fulanah pergi ke Jakarta. Juga merupakan kali pertama dan terakhir menaiki kereta api kelas bisnis.?

Sekembalinya ke Solo, Bulik Fulanah memiliki banyak cerita tentang Jakarta dan orang-orang besar yang dilihatnya di resepsi pernikhan putri keponakan Mbah Dullah. Banyak orang tertarik menyimaknya meski ada sebagian kecil berpura-pura tak mendengar. Yang pasti mereka semua menikmati “oleh-oleh” yang dibawa Bulik Fulanah dari Jakarta. ? Peristiwa ini terjadi puluhan tahun lalu di awal tahun 1990-an.?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 September 2015

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Diantara faktor yang menyebabkan kondisi Indonesia terpuruk adalah semakin maraknya praktik korupsi oleh para elit negeri ini. Salah satu upaya untuk membasmi korupsi adalah dengan meningkatkan spiritualitas melalui tasawuf.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta, Selatan, Jumat (4/10)

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf

“Menteri gajinya sudah cukup, bupati sudah cukup, bensinnya, pembantunya, sopir, semuanya digaji oleh pemerintah. Menteri itu sudah staf khusus, staf ahli, asisten, deputi, sekretaris pribadi, bensin mobilnya, tukang masak di rumahnya itu ditanggung negara semua,” papar kiai asal Cirebon tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ternyata, Kiai Said menambahkan, mereka masih merasa kurang, “Kalau masih kurang, berarti jauh dari sifat-sifat sufi. Coba kalau terima, coba kalau qonaah, alhamdulillah sudah cukup, tidak akan korupsi,” paparnya.

Kiai yang akrab dipanggil Kang Said tersebut menyatakan bahwa salah besar jika ada yang mengatakan tasawuf yang menjadikan penyebab kemunduran Islam, justru tasawuflah yang mendorong agar spirit kualitas manusia menjadi dinamis dan memberikan semangat yang tinggi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tasawuf tidak membuat manusia pusing, sedih dengan urusan-urusan tektek bengek. Hanya sedih karena Allah. Yang menyebabkan kemunduran Islam adalah hubbu dunya, rebutan jabatan, rebutan harta, takut kelaparan, takut miskin takut mati,” tambahnya.

Jika saja para pejabat dan pemimpin negeri ini memiliki kualitas spiritual yang tinggi maka mereka akan menghindari korupsi, untuk menuju kualitas spiritualitas tersebut dapat ditempuh dengan tasawuf. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 September 2015

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia meramaikan acara malam apresiasi seni yang diselenggarakan oleh Omah Aksoro dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pijar STAINU Jakarta, Rabu malam (23/12) di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Berbagai karya seni dipentaskan, seperti halnya puisi, cerpen, akustik, musikalisasi puisi, dan stand up comedy.

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Ketua panitia, Ibnu Athoillah mengatakan, diselenggarakannya kegiatan kali ini dimaksudkan sebagai tempat ekspresi mahasiswa mengembangkan bakat yang dimilikinya. “Mahasiswa memang membutuhkan banyak tempat berekspresi, tidak hanya menyoal tentang hiruk-pikuk akademik dan perkuliahan saja,” katanya.

Mengambil tema ‘Rabun Sastra, Buta Sejarah’ Athok mengatakan kepada seluruh yang hadir untuk tidak melupakan dunia sastra dalam belajar. Meskipun secara makna sastra memiliki banyak penafsiran yang berbeda, akan tetapi pada dasarnya sastra mampu membaca sejarah dengan kaca mata yang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ambil saja Pramoedya Ananta Toer yang menulis sejarah dalam bentuk sastra tetraloginya, kita disajikan epik sejarah yang enak dibaca alurnya,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Pembantu Ketua (Puka) III Bidang Kemahasiswaan STAINU Jakarta Ahmad Nurul Huda mengatakan, kegiatan malam apresiasi seni menjadi warna tersendiri kegiatan mahasiswa di luar perkuliahan. Kelompok kajian seperti Omah Aksoro mungkin bisa dicontoh mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kegiatan yang sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya senang dengan kegiatan kali ini, dan saya dukung sepenuhnya sekaligus berharap bisa rutin digelar, kalau perlu tiap bulan,” katanya.

Lebih ramai lagi karena juga ada penampilan dari kampus di luar STAINU Jakarta dan UNU Indonesia. Acara ditutup dengan penampilan dari Kaprodi Psikologi Any Rufaedah yang menyanyikan lagu kemesraan dari Iwan Fals.

Turut memeriahkan dalam kegiatan ini wakil sekretaris LTN PBNU yang juga dosen STAINU Jakarta dan UNU Indonesia, Faris Alnizar; Ketua LP3M STAINU Jakarta, Fatkhu Yasik; dan civitas akademika, Amsar Dulmanan, Muhammad Nurul Huda, Ahmad Dzakirin serta para alumni STAINU Jakarta. (Faridurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Khutbah, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 16 Agustus 2015

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbagai pemikiran para ulama Indonesia yang saat ini hanya ditulis dalam bahasa Indonesia perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris agar dikenal oleh dunia.

“Kenapa tidak ada ulama Indonesia yang mendunia, persoalan karena ditulis dalam bahasa Indoensia, sehingga yang tahu hanya orang Indonesia,” tutur Ketua PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Jum’at (3/8).

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing

Dikatakannya ulama Indonesia masa lalu telah melahirkan banyak pemikiran yang dikenal dunia karena mereka menulisnya dalam bahasa Arab seperti yang dilakukan oleh Syeikh Ihsan Jampes, Syeikh Nawawi al Bantani, dan lainnya.

Penyebarluasan pemikiran melalui metode terjemahan ini dilakukan oleh Abu A’la Al Maududi, pemikir dari Pakistan yang hanya menulis dalam bahasa Urdu, namun ia memiliki tim dari Institute of Islamic studies yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan Arab sehingga ide-idenya bisa disosialisasikan secara luas.

Mantan Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini menceritakan pengalamannya ketika mengikuti Islamic Expo di London sebagai wakil NU tahu lalu. Sejauh ini pemikiran dari ulama Indonesia kurang dikenal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saat diskusi, tentang Indonesia sedikit sekali yang datang, hanya para pecinta Indonesia karena ada anggapan Indonesia tidak ada intelektualisme,” paparnya dengan nada prihatin.

Lulusan Doktor dari Jerman ini juga menjelaskan bahwa pemikiran ulama Malaysia lebih dikenal meskipun pemikiran dari cendekiawan muslim Indonesia lebih maju. Ini disebabkan pemerintah Malaysia membantu mensosialisasikan pemikiran Islam melalui Institute Kepahaman Islam Malaysia dan lembaga lainnya yang memiliki fungsi sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Walaupun dalam kenyataannya, pemikiran Islam di Indonesia lebih maju, tetapi gaungnya di dunia lebih bergaung Malaysia. Ini karena ada lembaga yang secara gencar mempromosikan, disamping setiap negara besar ada chair of Malaysia,” tandasnya.

Saat ini ia tengah mengusulkan adanya Lembaga Riset Islam Indonesia yang diharapkan didukung pemerintah untuk menjalankan fungsi sosialisasi pemikiran dan ide para ulama Indonesia sehingga lebih dikenal dunia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 14 Agustus 2015

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Meski terhitung masih lama, Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, tapi sejumlah isu strategis untuk terus memperkuat NU baik secara struktural ataupun kultural sudah mulai dihembuskan.?

Salah satunya penguatan jenjang kaderisasi NU sebagai pengurus di level cabang NU harus diperhitungkan. "Ke depan, PCNU Harus diisi sebagaimana yang sudah dibikin para ulama terdahulu," kata H Zulfikar Damam Ikhwanto, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor setempat, Selasa (15/11).?

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Dijelaskan, jenjang kaderisasi NU merupakan media kekuatan dalam berorganisasi. Sejumlah kader NU dari masa ke masa juga dari semua level kepengurusannya akan terwadahi. "Kalau tidak demikian, input kader itu tidak akan kuat untuk ngopeni NU. Militansi pengurus kurang matang kalau tidak berdasar tahapan-tahapan kaderisasi itu," ujarnya.?

Jenjang kaderisasi di NU, lanjut pria yang kerap disapa Gus Antok itu, sudah sangat jelas mulai dari tingkat pelajar, pemuda dan kader NU yang sudah dianggap sepuh. "Kita ini gantian, di tingkat pelajar ada IPNU dan IPPNU, terus naik lagi ke level mahasiswa ada PMII juga PKPTNU, kemudian setelah itu naik lagi ke GP Ansor atau Fatayat NU, setelahnya PCNU dan Muslimat NU," tegas dia.

Selama ini ia memantau, jenjang kaderisasi itu masih belum diperhatikan dengan serius, sehingga kader yang benar-benar berproses di NU sekalipun terkadang tak ada wadah dan hengkang dengan sendirinya. "Saya ada banyak kader Ansor yang sudah pasca kepengurusan cabang, tapi mereka tidak masuk struktur PCNU, terus siapa yang akan mengisi PCNU kalau tidak Pengurus Ansor yang sudah selesai itu," singgung dia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PNS di lingkungan kota santri itu berharap PCNU sudah mulai memperhatikan ketertiban jenjang kaderisasi NU menjelang Konfercab ini. "Ya memang PCNU harus berani mengambil kebijakan seperti itu agar dicontoh oleh MWC-MWCnya, dan MWC juga ambil kader Ansor yang di kecamatan-kecamatan, begitu juga di ranting," ucapnya.

Untuk diketahui, Konfercab NU Jombang akan berlangsung pada bulan April 2017 mendatang. Hal ini sesuai koordinasi antar pengurus internal PCNU setempat. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 12 Juli 2015

Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader

Padangpariaman,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat terus melakukan pembenahan dengan konsolidasi kepengurusan Pimpinan Cabang di kabupaten dan kota. Kader Cabang-cabang yang sudah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) diminta mempersiapkan diri melaksanakan PKD lanjutan dan Konferensi Cabang (Konfercab).

Demikian diungkapkan Ketua Tim Carateker Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman pada rapat Tim Carateker PW Ansor Sumbar, Selasa (8/9) di batas Kota Padang – Padangpariaman.

Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader

Dikatakan Rahmat, sesuai dengan SK Pengesahan Penunjukkan Tim Caretaker PW GP Ansor Sumbar tahun 2015 tertanggal 2 September 2015, menetapkan penasehat Rahmat Hidayat Pulungan (PP GP Ansor) dan Drs. Rusli Intan Sati, MM. Ketua Rahmat Tuanku Sulaiman, Sekretaris Hafnizon dengan anggota Armaidi, Firdaus, Zeki Ali Wardana dan Afriendi Sikumbang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Rahmat Tuanku Sulaiman, dalam waktu dekat Tim Caretaker berkoordinasi dengan kader Ansor di sejumlah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. "Untuk lebih memaksimalkan kerja Tim Caretaker, masing-masing anggota mengkonsolidasi kabupaten/kota. Hafnizon (Kota Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan), Afriendi (Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam dan Kota Padangpanjang), Armaidi (Kota Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat), Zeki Ali Wardana (Kabupaten 50 Kota, Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan), Firdaus (Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Dhamasraya)," katanya.

"Kami berharap kader-kader Ansor, pemuda nahdiyin dan aktifis pemuda lainnya untuk menyiapkan diri masuk dalam kepengurusan Ansor di masing-masing Kabupaten/Kota. Sebelum dilaksanakan Konfercab, masing-masing pengurus diharuskan mengikuti PKD," kata Rahmat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rapat Tim Caretaker ini dihadiri Ketua Rahmat Tuanku Sulaiman, Sekretaris Hafnizon dengan anggota Armaidi, Zeki Ali Wardana dan Afriendi Sikumbang, minus Firdaus yang berhalangan hadir.

Di bagian lain, Rahmat menambahkan, pada Mei 2015 lalu PW GP Ansor Sumbar sudah melaksanakan PKD sebanyak 5 angkatan yang menghasilkan 205 kader yang sudah mengikuti PKD. "Syarat menjadi pengurus PC Ansor di Kabupaten/Kota harus mengikuti PKD yang disetujui oleh PP GP Ansor. Selain itu, instruktur PKD langsung dari PP GP Ansor Jakarta," tutur Rahmat mantan anggota KPU Kabupaten Padangpariaman ini. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Keterangan foto:

Rahmat Tuanku Sulaiman sedang memimpin Rapat Tim Caretaker, Selasa (8/9/2015)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 11 Juli 2015

Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah? . Menteri Sosial Republik Indonesia Hj Khofifah Indar Parawansa meminta kepada para korban lumpur lapindo yang berada di dalam Peta Area Terdampak (PAT) untuk segera melengkapi berkas atau persyaratan pencairan dana talangan korban lumpur yang masih kurang selambat-lambatnya tanggal 31 Juli 2015.

Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli

"Sekarang masih kita cocokkan sejumlah 3337 berkas dan baru 1027 berkas yang tervalidasi. Kami juga masih menunggu kelengkapan warga sampai 31 Juli. Supaya pada pencairan nanti warga sama-sama menerima," kata Khofifah kepada ratusan warga korban lumpur lapindo di Pendopo Delta Wibawa, Selasa (14/7).

Menurutnya, semua dokumen harus masuk paling lambat 31 Juli 2015. Kalau ada surat keterangan kematian, mohon Bupati Sidoarjo untuk membantu percepatan dokumen yang dibutuhkan warga. "Bagi warga yang belum melengkapi surat-suratnya, supaya meminta bantuan Bupati, Camat dan Lurah setempat," tegas Pimpinan PP Muslimat NU ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia juga meminta kepada Pansus DPRD Tingkat II terkait dengan korban lumpur Sidoarjo untuk pro aktif membantu kelengkapan percapatan dokumen. Tidak hanya itu saja, dirinya juga meminta kepada Minarak Lapindo Jaya, BPLS, Pemkab Sidoarjo dan DPRD untuk sama-sama pro aktif dalam membantu masyarakat.

“Jika semua berkas sudah lengkap, maka data tersebut akan dibawa ke KPKN dan akan ditransfer ke warga korban lumpur lapindo lewat rekening BRI,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah mengingatkan, bahwa awal musibah luapan lumpur di Porong, Tanggulangin dan Jabon terjadi sejak 29 Mei 2006. Dirinya bersama pemerintah sudah bersusah payah melakukan cara untuk melunasi dana bagi para korban. Saat ini sedang berlangsung proses validasi diharapkan selesai secepatnya.

"Bagi warga yang belum melengkapi persyaratannya supaya diselesaikan secepatnya. Memecahkan permasalahan ini tidak gampang, karena ini uang negara. Sekali lagi tidak gampang. Maka warga korban lumpur harus sabar," ungkap Abah Ipul sapaan akrab Bupati. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Juni 2015

Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin menyambut kedatangan 564 jamaah haji yang baru tiba dari tanah suci, Kamis (30/10). Para tamu Allah SWT tersebut disambut di obyek wisata religius Miniatur Ka’bah Desa Curah Sawo Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo.

Dibandingkan dengan waktu pemberangkatan, jumlah jamaah haji berkurang 3 (tiga) jamaah. Pasalnya selama menjalankan ibadah haji, ketiga jamaah haji tersebut wafat di tanah suci. Yaitu, Sudarko bin Kastam (51), warga Desa/Kecamatan Sukapura, Suwito bin Sidin (54), warga Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih dan Nirjo (63), warga Desa Alas Tengah Kecamatan Besuk.

Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji

Kedatangan jamaah haji Kabupaten Probolinggo terbagi dalam dua gelombang. Yakni gelombang pertama adalah jamaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 46 dengan 123 jamaah haji. Sementara gelombang kedua dengan 441 jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 47.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berkat kesiapan dan kesigapan petugas keamanan, proses kedatangan jamaah haji dan penjemputan oleh keluarganya mulai malam hingga dini hari itu berjalan lancar dan sukses. Meskipun ketika rombongan bus yang mengangkut jamaah haji tiba, gerombolan massa sempat memaksa untuk maju mendekat pagar pembatas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perasaan tidak sabar menahan rasa rindu ingin bertemu keluarga membuat ribuan penjemput sempat memaksa menerobos masuk. Hiruk-pikuk massa yang mencari keluarganya segera bercampur dengan keharuan dan isak tangis bahagia tatkala mereka bertemu dengan orang-orang yang sangat dirindukannya.

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan ucapan selamat datang dan bersyukur karena jamaah haji Kabupaten Probolinggo telah tiba di Tanah Air dalam kondisi sehat dan selamat. ”Selamat datang kembali di Kabupaten Probolinggo. Semoga menjadi haji yang mabrur,” ungkapnya.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo H Busthami mengungkapkan jamaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci itu langsung menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya untuk menyelesaikan beberapa proses administrasi seperti pemeriksaan paspor dan cek kesehatan.

“Setelah melalui pemeriksaan paspor, barang bawaan dan pemeriksaan kesehatan, selanjutnya jamaah haji diserahkan kepada petugas Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo untuk pemulangannya ke Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Terkait dengan wafatnya 3 jamaah haji, Busthami mengaku masih menunggu Surat Keterangan Kematian (SKK) dari Konsulat Jenderal (Konjen) Indonesia di Arab Saudi. ”Setelah SKK didapatkan, kami akan mengurusi administrasi untuk pencairan asuransi yang akan diberikan pada ahli waris,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Juni 2015

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan pemotretan program Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) tiap-tiap ranting di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo berjalan dengan sukses dan lancar. Tidak tanggung-tanggung, tercatat sedikitnya 14.250 warga Nahdliyin turut serta dalam program yang digagas oleh PBNU tersebut.

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu

Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan program Kartanu yang digelar oleh MWCNU Kecamatan Sumberasih, Kamis (11/4) malam. Menurut Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Sumberasih Imam Syafi’i, jumlah ini merupakan perolehan terbesar untuk program Kartanu di Kabupaten Probolinggo.

“Dari MWC-MWC yang sudah melaksanakan pemotretan Kartanu, jumlah warga Nahdliyin yang mengikuti Kartanu di Kecamatan Sumberasih merupakan yang terbesar se Kabupaten Probolinggo. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat menyambut antusias program Kartanu ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Imam, keberhasilan dan kesuksesan pelaksanaan program Kartanu ini diraih berkat kerja sama seluruh pengurus NU, lembaga, lajnah dan badan otonom yang ikut melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang penting dan manfaatnya Kartanu sebagai database warga NU.

Alhamdulillah, semua warga Nahdliyin menyambut baik program Kartanu ini. Mereka datang ke lokasi pemotretan Kartanu sejak pagi untuk ikut antri dan mendapatkan Kartanu. Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Nahdliyin yang ikut memberikan database kepada pengurus NU,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Imam, sebenarnya warga NU di MWCNU Sumberasih lebih dari 14.250 orang. Hanya saja sebagian besar dari mereka ada yang belum sempat mengikuti pemotretan Kartanu di waktu yang telah ditentukan.

“Selain karena keterbatasan waktu, sebagian besar masyarakat ada yang sedang bekerja ke luar kota sehingga tidak dapat mengikuti pemotretan Kartanu. Tetapi kami akan mengupayakan supaya bisa diadakan pemotretan Kartanu susulan kepada PCNU kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Imam mengungkapkan bahwa kesuksesan pendataan Kartanu ini tentunya membantu pengurus NU dalam mendapatkan data keanggotaan yang benar-benar valid dan akurat. ”Melalui keberadaan Kartanu ini kami berharap data keanggotaan warga Nahdlatul Ulama khususnya di Kecamatan Sumberasih benar-benar valid dan akurat. Sehingga bisa diketahui siapa saja masyarakat yang memang setia kepada NU,” tegasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Kajian Sunnah, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah