Kamis, 17 Desember 2009

Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari

Situbondo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Agar dapat menjadi organisasi sosial keagamaan yang tetap relevan, NU perlu turun di berbagai gelanggang. Jangan apriori termasuk di ranah politik.

Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari (Sumber Gambar : Nu Online)
Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari (Sumber Gambar : Nu Online)

Rahasia Menjaga NU Agar Tetap Lestari

Penegasan ini disampaikan Masdar Hilmy ketika menjadi pembicara Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU, Rabu (11/1). Kegiatan tersebut atas prakarsa Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, TV9 Nusantara dan PW LTN NU Jatim di aula Mahad Aly pesantren setempat.

Guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut menyampaikan agar keberadaan NU tetap lestari, maka ada sejumlah hal yang perlu ditekankan. "Pertama adalah, NU hendaknya jangan semata besar secara kuantitas, tetapi juga kualitas," jelasnya.

Besarnya jumlah warga NU, harusnya juga diimbangi dengan peran dan kiprah para kadernya di berbagai sektor. "Termasuk dalam politik," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, Masdar mengingatkan bahwa politik yang harus dikawal NU adalah kerakyatan, kenegaraan serta kemasyarakatan. "Tidak semata politik praktis," sergahnya.

"Sedangkan hal kedua yang harus diperjuangkan NU adalah bagaimana NU tetap relevan dan dibutuhkan bangsa ini dalam seluruh pergantian cuaca," ungkapnya.?

Di era digital seperti sekarang, kehadiran NU harus menjadi penawar atas kian merebaknya insan yang linglung. "Bagaimana NU memberikan jawaban yang memuaskan tidak hanya secara retoris, tapi juga argumentatif," terangnya.

Karenanya, jangan sampai NU dibutuhkan hanya saat mengurusi warganya yang meninggal. "Tapi bagaimana kehadiran Nahdliyin dibutuhkan sepanjang masa," jelasnya.

Karenanya, keberadaan Khittah NU harus terus direkonstruksi sehingga dapat dipahami secara terbuka oleh berbagai pihak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum Masdar Hilmy, tampil KH Afifuddin Muhajir yang memaparkan 14 hal yang harus dijaga NU hingga titik darah penghabisan. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Doa, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 20 Oktober 2009

Kisah Unik Gus Dur Menulis Pengatar Buku “Mati Ketawa Cara Rusia”

Suatu hari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) datang ke Grafiti Press, tempat Ismed Natsir bekerja sebagai editor. Dia tanya, "Med, ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah".

"Ada Gus, membuat pengantar untuk buku."

Kisah Unik Gus Dur Menulis Pengatar Buku “Mati Ketawa Cara Rusia” (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Unik Gus Dur Menulis Pengatar Buku “Mati Ketawa Cara Rusia” (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Unik Gus Dur Menulis Pengatar Buku “Mati Ketawa Cara Rusia”

Gus Dur pun setuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama—hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sembari dia mengetik, Ismed mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sore hari menjelang pulang, Ismed baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah. Pengantar redaksi yang luar biasa keren, segar, dan jenaka. Itulah pengantar "Mati Ketawa Cara Rusia".

Cerita ini disampaikan Lies Marcoes, istri Ismed Natsir yang juga aktivis hak asasi manusia. Kisah yang diunggah di akun Fecebook pribadinya pada 9 Maret 2014 itu menunjukkan setidaknya dua hal. Pertama, canggihnya Gus Dur soal membaca sebuah karya, lalu menuangkan analisanya dalam tulisan dalam tempo yang singkat.

Kedua, tentang kesederhanaannya. Gus Dur yang di kemudian hari dipercaya sebagai presiden keempat RI bukanlah orang yang kaya raya. Sebagai cucu tokoh besar dan putra pejabat negara, ia tetap menjalani hidup dalam kebersahajaan dan mandiri: mengandalkan pontensi dan kerja kerasnya sendiri. (Mahbib)

Berikut adalah kata pengatar buku "Mati Ketawa Cara Rusia" itu yang kami ambil dari Gusdurian.net.

Pengantar Buku "Mati Ketawa Cara Rusia"

?

Oleh Abdurrahman Wahid

?

Presiden Gonzales dari sebuah “republik pisang” di Amerika Latin sangat tidak populer. Pada suatu hari ia bertamasya keliling ibu kota, dengan berkendaraan kuda. Ketika akan menyeberang sebuah jembatan, kuda yang dinaikinya terkejut melihat derasnya arus sungai di bawah jembatan itu. Presiden Gonzales terjatuh dari kudanya ke dalam sungai itu, dan dihanyutkan arus deras tanpa dapat ditolong oleh para pengawalnya. Namun, setelah hanyut sangat jauh, ia ditolong oleh seorang pengail ikan yang pekerjannya setiap hari mengail di tempat itu. Dengan rasa terima kasih sangat besar, ia menyatakan kepada pengail miskin itu siapa dirinya, dan betapa besarnya jasa pengail itu kepada negara, dengan menolong dirinya. Ditanyakannya kepada pengail tersebut, apa hadiah yang diinginkannya sebagal imbalan atas jasa sedemikian besar itu. Dengan kelugasan orang kecil, pengail itu menjawab: “Satu saja, Paduka. Tolong jangan ceritakan kepada siapa pun bahwa sayalah yang menolong Paduka.”

?

Lelucon di atas memiliki unsur-unsur ‘humor yang mengena’. Unsur surprise terdapat pada akhir cerita, karena jawaban pengail itu benar-benar di luar dugaan. Juga ada unsur sindiran halus, yang mengajukan kritik atas hal-hal yang salah dalam kehidupan, tetapi tanpa rasa kemarahan atau kepahitan hati. Keduanya merupakan kondisi psikologis terlalu intens dan emosional, sehingga kehilangan obyektivitas sikap terhadap hal yang dikritik itu sendiri. Tidak lupa tertangkap dalam cerita di atas, rasionalitas yang merupakan tali pengikat seluruh cerita. Terakhir, situasi yang ditampilkan, yaitu akal orang kecil untuk menggunakan kearifan mereka sendiri, tertangkap dengan jelas.

?

Buku kumpulan lelucon tentang Rusia ini menampilkan cukup banyak lelucon yang memiliki kelengkapan unsur-unsur seperti lelucon di atas. Memang tidak seluruh lelucon yang ada di dalam buku kumpulan ini baik, tetapi jumlah yang benar-benar baik sudah lebih dari cukup untuk menikmatinya sebagai kumpulan lelucon. Kenyataan ini timbul dari kenyataan tingginya rasa humor orang Rusia. Rasa humor itu juga terlihat dalam cerita berikut. Lenin meninggal tahun 1924, dan Stalin menggantikannya sebagai penguasa Rusia. Mayat Lenin, yang disemayamkan di mausoleum di Kremlin, pada suatu hari dicoba untuk dihidupkan lagi oleh para dokter. Mereka berhasil dengan percobaan itu, dan mayat Lenin dengan sempoyongan meninggalkan mausoleum, menuju ke kantor Politbiro Partai Komunis. Dimintanya semua koran yang terbit sejak kematiannya, dikuncinya dirinya di kamar kerjanya, untuk menyimak ulang perkembangan Rusia sejak ditinggalkannya selama tiga tahun itu. Ia tidak mau diganggu, hanya meminta makanan diletakkan di muka pintu ruang itu. Selama tiga hari makanan masih diambilnya, dan piring bekas makanan masih dikeluarkannya dari dalam ruang. Setelah itu tidak ada piring kotor dikeluarkan, dan makanan yang disediakan tidak diambil. Setelah beberapa hari hal itu berlangsung, diputuskan untuk mendobrak pintu ruang itu, dan melihat apa yang terjadi, karena dikhawatirkan terjadi sesuatu atas dirinya. Ternyata, Lenin tidak berada di sana. Harian-harian lama yang dimintanya berceceran memenuhi lantai, dan di meja ditinggalkannya secarik kertas, berisikan pesan tertulis berikut: REVOLUSI TELAH GAGAL. SAYA AKAN KEMBALI KE JENEWA UNTUK MEMPERSIAPKAN REVOLUSI LAGI.

?

Rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain. Kepahitan akibat kesengsaraan, diimbangi oleh pengetahuan nyata akan keharusan menerima kesengsaraan

tanpa patahnya semangat untuk hidup. Dengan demikian humor adalah sublimasi dari kearifan sebuah masyarakat.

?

Mengapakah kemampuan menertawakan diri sendiri menjadi demikian menentukan? Karena orang harus mengenal diri sendiri, sebelum mampu melihat yang aneh-aneh dalam perilaku diri sendiri itu. Lelucon berikut menunjukkan hal itu dengan nyata. Dua orang Irlandia berbincang tentang tanda apa yang ingin mereka pasang di kubur masing-rnasing setelah mati kelak. Kata Mulligan, ia ingin kuburnya nanti disiram wiski, pertanda kegemarannya yang memuncak kepada minuman keras. Dimintanya agar sang teman mau melakukan hal itu, kalau Mulligan mati lebih dahulu. Jawab temannya, “Aku bersedia, tetapi kau tidak keberatan bukan kalau wiskinya kulewatkan ginjalku dahulu?”

?

Watak kegemaran akan minuman keras memang sudah menjadi “ merk dagang” beberapa bangsa, termasuk bangsa Irlandia. Watak bangsa Yahudi adalah kekikiran. Citra ini memang tidak fair bagi orang Irlandia atau orang Yahudi, tetapi memang demikianlah yang sudah menjadi anggapan umum di seluruh dunia. Kisah berikut menunjukkan kekikiran orang Yahudi. Seorang Yahudi membuat minuman keras untuk dinikmati sendiri. Ketika temannya melihat hasil karya itu, dimintanya contoh sedikit, untuk dianalisa di laboratorium. Temyata, minuman itu mengandung bahaya, dapat membuat mata buta dan hanya dapat diatasi dengan operasi. Ketika disampaikan hal itu kepada si Yahudi itu, ditanyakannya berapa biaya pengobatan mata itu nantinya. Sewaktu diberi tahu biayanya dua puluh lima ribu rupiah, dijawabnya, “Biarlah kunikmati minuman itu, karena biaya membuatnya tiga puluh lima ribu rupiah. Kalau operasi juga, sudah menghemat sepuluh ribu rupiah.”

?

Bangsa lain yang terkenal kikir adalah orang Skot dan kepulauan Inggris. Suatu hari, seorang ibu mencari-cari orang yang menolong anaknya yang hampir tenggelam di danau sehari sebelumnya. Ketika sampai ke si penolong, orang itu menjawab agar tidak usah terlalu dipikirkan, karena sudah kewajiban manusia untuk menolong sesamanya. Jawab ibu tersebut, “Ya, tetapi topinya hilang sewaktu Anda menolong anak saya kemarin. Siapa yang harus bertanggung jawab atas kehilangan itu?”

?

Dari kemampuan mengenal kekurangan diri sendiri itu, lalu muncul pengertian juga akan keadaan orang lain. Seorang Skot pergi ke Laut Galilea di Israel. Oleh pemandu wisata ditawarkan untuk membawanya menyeberang dengan perahu, mengikuti garis lintas Yesus dahulu berjalan kaki di atas air. Ketika ditanyakannya biaya penyeberangan dengan perahu itu, sang pemandu wisata itu menjawab sepuluh dolar Amerika Serikat.

Gerutu orang Skot itu dalam hatinya, “Pantas Yesus memilih berjalan di atas air, biaya penyeberangannya dengan perahu semahal itu!”

?

Dalam episode itu tergambar rasa pengertian akan nasib sesama orang yang sering ditipu oleh para pemandu wisata. Apalagi kalau sama-sama liciknya, tentu akan lebih dalam rasa saling pengertian itu. Rasa itu dapat juga timbul bagi masyarakat sendiri, yang sering kalah di hadapan bangsa-bangsa lain. Kejadian berikut menggambarkan rasa ketidakberdayaan itu dengan tepat. Seorang sopir pada tahun enam puluhan membawa seorang turis Amerika berkeliling Jakarta. Di depan Toserba Sarinah, sang turis bertanya, berapa lama diperlukan waktu untuk mendirikan bangunan itu. Sopir itu menjawab empat tahun. Sang turis menyatakan hal itu terlalu lama dan memakan waktu, karena di Amerika Serikat hanya dua tahun. Sesampai di jalan lingkar di depan Hotel Indonesia, turis itu menanyakan berapa lama waktu mendirikan hotel tersebut. Sopir itu memendekkan waktunya dan menjawab dua tahun. Sang turis menyatakan di Amerika hanya diperlukan setahun. Ketika sampai di dekat kompleks stadion Senayan, turis itu menanyakan hal yang sama. Sopir taksi itu menjawab, tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun, “Entahlah, Tuan, kemarin stadion itu belum ada di sini!”

?

Rasa pengertian itu juga muncul dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan. Seorang turis Amerika menyombongkan luasnya daratan negerinya, dengan menyatakan bahwa dari pantai barat di San Francisco ke New York di pantai timur, orang harus naik kereta api tiga hari lamanya. Seorang Malaysia yang mendengar itu rupanya salah mengerti dan menjawab, “Di negeri saya kereta api juga suka rusak berhari-hari seperti di negeri Anda.” Ketidakberdayaan orang Malaysia menghadapi sistem perkeretaapian di negerinya itu, rupanya, diproyeksikan kepada kenyataan lain di negeri orang. Seperti halnya anak kecil kita yang bertemu anak orang kulit putih di salah satu pasar. Anak Melayu itu berkata kepada ayahnya, “Pak, itu anak kecil-kecil kok sudah bisa berbahasa Inggris?” Bahwa hanya orang Melayu dewasa saja yang mampu berbahasa Inggris, diproyeksikan kepada anak orang asing itu oleh si anak Melayu.

?

Namun, humor juga mencatat hal-hal lucu ketika manusia berusaha menjadi makhluk komunikatif kepada orang lain. Seorang turis Arab mendapat tempat di meja makan yang sama sewaktu sarapan di sebuah hotel di Paris. Orang Prancis yang merasa harus menggalakkan pariwisata di negerinya itu menganggukkan kepala dan mengucapkan selamat pagi kepada turis asing itu, dengan mengatakan, “Bonjour, Monsieur.” Turis Arab itu mengira ditanya namanya, dan menjawab “Ana Abbas Hasan.” Dan mereka pun lalu bersarapan tanpa berucap apa pun. Pada siang harinya, hal yang sama terjadi ketika mereka akan makan siang. Namun, setelah menjawab dengan jawaban yang sama, turis Arab itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Masakan ada orang bertanya nama dua kali? Setelah makan siang, ia lalu pergi ke toko buku dan melihat pada kamus Prancis-Arab. Ternyata, ucapan “Bonjour” adalah salam bahagia untuk orang lain. Sewaktu mencari padanan jawabannya dalam bahasa Prancis, ia tidak menemukan kamus Arab-Prancis. Ia memutuskan untuk mendahului mengucapkan “Bonjour, Monsieur” ketika makan malamnya. Sewaktu hal itu dilakukannya malam harinya, ia terkejut setengah mati. Mengapa? Karena si orang Prancis meniawab dalam bahasa Arab, “Ana Abbas Hasan.” Sama-sama ingin komunikatif, tetapi tetap saja tidak komunikatif.

?

Humor juga merekam akibat perbuatan manusia dalam hidupnya, termasuk akibat atas dirinya sendiri. Seorang wartawan melihat seorang tua di pegunungan kuat sekali meneguk minuman keras. Ditanyakan apakah itu kegemarannya yang utama, orang tua itu menjawab, “Ya, saya minum paling sedikit dua botol vodka tiap hari, dan main cewek di mana-mana.” Sang wartawan kagum, bahwa orang tua renta dengan muka begitu keriput dan rambut begitu putih masih kuat melakukan hal itu. ”Berapa umur Bapak sekarang?” tanyanya dengan hormat. Orang itu menjawab, “Tiga puluh dua tahun.”

?

Humor merupakan senjata ampuh untuk memelihara kewarasan orientasi hidup sebuah masyarakat, dengan itu warga masyarakat dapat menjaga jarak dari keadaan yang dinilai tidak benar. Salah satu di antaranya adalah sikap penuh pretensi, yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Kecenderungan manusia untuk memperlihatkan kebodohan jika bersikap pretensius dapat dilihat pada lelucon Rusia yang tidak ada dalam buku ini. Ketika radio transistor dipakai umum di negeri-negeri Barat, seorang turis tampak membawa sebuah di suatu tempat di Moskow. Seorang Rusia mendekatinya bertanya, “Di sini juga banyak barang seperti Anda bawa ini. Apa namanya?” Pretensi selalu menampakkan wajah ketololan, apalagi kalau dilakukan dengan cara tolol pula.

?

Terkadang humor tentang sikap pretensius mengambil bentuk lelucon yang mengajukan kritik tajam. Bagi orang Malaysia yang jengkel dengan perusahaan penerbangan nasionalnya MAS bukan kependekan Malaysian Air System melainkan ‘Mana Ada System?’ Untuk orang Filipina, PAL bukanlah Philippine Air Lines, melainkan Plane Always Late. Dan GARUDA apakah kepanjangannya? Bagi sementara orang, ia adalah Good And Reliable, Under Dutch Administration (Bagus dan tepat, kalau diurus orang Belanda). Yang paling fatal adalah singkatan Penerbangan Mesir di zaman Nasser dahulu, UAA. Bagi kebanyakan orang, ia tidak berarti United Arab Airways, melainkan Use Another Airways (Gunakan Penerbangan Lain). Kritik lucu diarahkan kepada pretensi perusahaan- perusahaan penerbangan yang menampangkan ketepatan waktu dan baiknya pelayanan dalam iklan-iklan mereka, padahal dalam kenyataan tidakiah demikian. Seperti juga orang jengkel melihat perilaku pihak kepolisian, yang menggambarkan pasukan Sabhara sebagai elite yang penuh tanggung jawab, melayani masyarakat tanpa pandang bulu dan dengan cara yang adil. Karena kenyataannya banyak berbeda, ada orang yang memperpanjang istilah tersebut, hingga menjadi ‘Sabbharaha?’ Artinya dalam bahasa daerah Sunda: berapa? Rupanya, sudah diketahui orang ‘modus operandi’nya

?

Pretensi yang paling banyak terdapat adalah justru di bidang politik, karenanya tidak heran kalau kehidupan politik yang paling banyak dijadikan sasaran humor, seperti terlihat dalam buku ini. Kata seorang humoris terkenal di Amerika “Saya berhati-hati sekarang, tidak banyak menyatakan lelucon. Yang sudah-sudah kalau saya kemukakan sejumlah lelucon polilik kepada Presiden Reagan, ia akan mengangkat mereka pada jabatan penting dalam pemerintahan.”

?

Salah satu sasaran empuk adalah sifat egoistis para politisi. Lelucon berikut menggambarkan hal itu. Dalam perebutan calon presiden Amerika Serikat dan pihak Partai Demokrat, dalam tahun 1960, ada tiga orang calon kuat, yaitu Adlai Stevenson, Hubert Humphrey, dan Lyndon Johnson. Menurut kisah ini, ketiga mereka bertemu dalam sebuah pesta. Stevenson berkata kepada yang dua itu, “Saya tadi malam mimpi diberkati Tuhan. Rupanya, sayalah yang akan memenangkan pencalonan partai kita.” Humphrey menjawab, “Aneh, saya juga bermimpi yang sama, sehingga kans kita tampaknya sama.” Yang terhebat adalah Lyndon Johnson, yang mengatakan, “Lho, bagaimana mungkin? Saya kok tidak merasa memberkati kalian?” Lelucon yang menunjukkan besamya ego Lyndon Johnson sudah tentu diceritakan saingan terberat mereka, yang kemudian memenangkan jabatan kepresidenan, yaitu Mendiang John Fitzgerald Kennedy.

?

Tetapi untuk tidak terlalu menjatuhkan martabat kaum politisi, ada baiknya dikemukakan lelucon tentang kegoblokan orang dan profesi lain. Seorang pelatih bola marah karena anak asuhannya tidak naik tingkat di fakultas. Ia menyatakan dengan suara keras kepada dekan fakultas tersebut, “Kamu pilih kasih, anak sepintar dia sampai tidak naik tingkat. Kamu sentimen kepada olah raga bola.” Sang dekan menjawab, “Dia tolol sekali. Bagaimana mungkin ada mahasiswa menjawab tiga kali tiga ada sepuluh?” Sang pelatih memuncak marahnya, dengan suara semakin lantang ia berteriak, “Babi kamu, kelebihan dua angka saja sudah dijatuhkan!” Rupanya, ia mengira tiga kali tiga sama dengan delapan!

?

Kata pengantar ini ditutup dengan jaminan bahwa para pembaca pasti puas dengan lelucon-lelucon dari dan tentang Rusia yang ada dalam buku ini. Memang tidak sama standarnya, dan ada yang menjengkelkan tetapi kekurangan yang ada akan tertutup oleh mutiara-mutiara begitu banyak yang terserak dalam buku ini. Kalau tidak puas, tentu tidak mungkin buku ini dikembalikan kepada penerbit, dengan ganti rugi. Itu tidak lucu sama sekali. Masih lebih lucu kalau para pembaca meloakkan saja buku ini, agar tidak tertawa seorang diri karena orang lain tidak mampu membacanya, karena tidak mampu membelinya dengan harga asli. Diloakkan boleh, tetapi jangan dipinjamkan. Mengapa? Karena banyak peminjam sudah tahu peribahasa ampuh berikut: orang yang meminjamkan buku adalah orang bodoh, tetapi mengembalikan buku pinjaman adalah perbuatan orang gila.

?

?

Awal 1986



(Baca Juga: Gus Mus: Sederhana, Gus Dur Tak Punya Dompet)


Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 18 Oktober 2009

Khofifah Usulkan Syaraf Libido Pelaku Kejahatan Seksual Diputus

Samarinda, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pucuk Pimpinan Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa menyarankan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Nahdatul Ulama (NU) menelurkan rekomendasi berupa hukuman maksimal untuk pelaku kejahatan seksual.

Khofifah Usulkan Syaraf Libido Pelaku Kejahatan Seksual Diputus (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Usulkan Syaraf Libido Pelaku Kejahatan Seksual Diputus (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Usulkan Syaraf Libido Pelaku Kejahatan Seksual Diputus

Hal ini diungkapkan Khofifah yang juga Menteri Sosial Kabinet Kerja itu dalam sambutannya saat membuka Rakernas Muslimat NU di Lamin Etam, komplek Kantor Gubernur Kaltim, Kamis (5/2) kemarin. “Hukumannya juga harus berat. Bisa saja saraf libidonya diputus,” kata Khofifah.

Khofifah menuturkan, adiksi (kecanduan) pornografi lebih bahaya dari kecanduan narkoba. Khofifah pun mengaku sudah berdiskusi dengan dokter dan ahli hukum mengenai hukuman maksimal ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Efek trauma bagi korbannya ini yang kita perhitungkan. Apalagi, pelaku kejahatan seksual ini korbannya banyak. Jadi, Indonesia tidak hanya darurat narkoba, tapi juga darurat pornografi,” katanya dalam pembukaan Rakernas Muslimat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rakernas di Samarinda akan berlangsung hingga Sabtu (7/2) besok. Sekjen Muslimat, Aniroh Slamet Efendi Yusuf mengatakan, Muslimat NU mengamanatkan Rakernas dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali diantara dua kongres atas undangan Pimpinan Pusat.

Menurutnya, sebelum Kongres tahun 2016, PP Muslimat NU menyelenggarakan  Rapat Kerja Nasional Bidang Pendidikan dan mengagendakan Rapat Kerja Nasional Bidang Kesehatan dan Bidang Ekonomi.

Rakernas  Pendidikan kali ini diselenggarakan   tanggal 5 -7 Februari 2015 di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan mengambil tema "Menguatkan Jaringan Pendidikan yang Makin Berkualitas, dan Terjangkau untuk Menyiapkan SDM yang Unggul, Kompetitif dan Ber-Akhlak Mulia". (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Olahraga, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Oktober 2009

Menpora Jelaskan Potensi Kerja Sama Pemuda dan Olahraga kepada Dubes

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menpora Imam Nahrawi hari Selasa (16/2/2016) siang menerima sejumlah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia yang akan bertugas di luar negeri. Negara-negara tujuan para dubes Indonesia adalah Bosnia, Equador, Aljazair, Iran, Denmark, Panama, Kroasia, Oman dan Vatikan. Menpora juga menjamu makan siang bersama para dubes di lantai 10 Gedung Kemenpora, Jakarta. 

Menpora Jelaskan Potensi Kerja Sama Pemuda dan Olahraga kepada Dubes (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Jelaskan Potensi Kerja Sama Pemuda dan Olahraga kepada Dubes (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Jelaskan Potensi Kerja Sama Pemuda dan Olahraga kepada Dubes

Para dubes itu adalah Dubes RI untuk Bosnia Amelia Yani, Dubes RI untuk Equador Diennaryati Tjokrosuprihartono, Dubes RI untuk Aljazair Safira Machrusah, Dubes RI untuk Iran Husnan Bey Fanani, Dubes RI untuk Denmark Ibnu Said, Dubes RI untuk Panama Budhy Santoso, Dubes RI untuk Kroasia Alexander Litaay, Dubes RI untuk Oman Musthofa Taufik Abdul Latif, dan Dubes RI untuk Vatikan Antonius Agus Sriyono. 

Menpora cukup senang dengan kedatangan para dubes dan menjelaskan potensi kerja sama yang bisa dilakukan, terutama kerja sama bidang pemuda dan olahraga. Yakni pertukaran pemuda dan pertukaran pelatih olahraga. Menpora juga menjelaskan event TAFISA Games 2016 dan Asian Games 2018. 

"Dalam konteks keolahragaan, kita juga sedang memperjuangkan tambahan dana buat Rio Haryanto. Soal pertukaran pelatih, utamanya adalah di olahraga unggulan. Kami betul-betul ingin mempromosikan olahraga khas Indonesia. Kami ada federasi pencak silat dan sepak takraw. Keduanya sangat menarik dan kami promosikan betul. Ada juga olahraga Tarung Derajat dari Bandung," ujar Nahrawi seperti diberitakan laman kemenpora.go.id. 

Terkait kepemudaan, Menpora berharap ada pertukaran pemuda berbagai bidang. "Kami didampingi semua deputi agar kerjasama pemuda dan olahraga dapat direalisasikan. Kami sudah ada kesepahaman dengan Menlu bahwa setiap pertukaran disambut luar biasa oleh KBRI," tandas Menpora. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dubes RI untuk Bosnia Amelia Yani cukup senang dengan pertemuan ini. "Kami adalah para dubes di negara-negara Balkan, ada Dubes Kroasia pecahan Yugoslavia, dan dubes-dubes lain. Kita pernah mengalami pelanggaran HAM di Indonesia 50 tahun, di sana baru 20 tahun. Kami ingin bertemu Menpora untuk mendorong pertukaran di bidang pemuda dan olahraga, seperti pelatih tenis, dan olahraga lain. Sikap mental atlet juga penting untuk ditransformasikan antar negara," ujarnya. 

"Penduduk Kroasia cuma 4,2 juta tetapi turis yang berkeliaran di sana 17 juta orang. Di Kroasia dikenal dengan bola kaki. Saya akan promosikan senam olahraga poco-poco nanti," ujar Dubes RI untuk Kroasia Alexander Litaay. 

"Saya menjadi Dubes Panama merangkap Kosta Rika, Nikaragua, dan Honduras. Pendekatan olahraga dan budaya akan menjadi kerjasama sebagai ujung tombak diplomasi," ujar Dubes RI untuk Panama Budhy Santoso. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Oman kurang begitu populer, namun Muscat (Ibukota Oman) itu paling cantik. Oman itu Arab yang paling sopan. Organisasi Konferensi Islam (OKI) saat ini hanya dipakai secara politis. Saya berpikir itu perlu dimanfaatkan untuk peluang ekonomi," ujar Dubes RI untuk Oman Musthofa Taufik Abdul Latif 

Dubes RI untuk Denmark Ibnu Said mengatakan, setiap tahun ada Denmark Open. "Di Denmark, orang senang naik sepeda. Sekitar 70 persen di sana senang naik sepeda. Pertukaran pelatih bidang sepakbola sangat mungkin," katanya. 

"Vatikan wilayahnya sangat kecil, namun pengaruh kebijakannya sangat besar. Asian Beach Games bisa dikerjasamakan karena seribu pemuda Katholik se-Asia akan berkumpul," ujar Dubes RI untuk Vatikan Agus Sriyono. 

"Pencak silat di Iran sangat disukai. Bagi KBRI, yang terpenting adalah sosial budaya. Selama ini persepsinya hanya soal sunni-syiah. Padahal urusan lainnya banyak," kata Dubes RI untuk Iran. 

Sejumlah deputi dan staf khusus mendampingi Menpora. Yakni Deputi Pemberdayaan Pemuda Yuni Poerwanti, Deputi Pengembangan Pemuda Sakhyan Asmara, Deputi Pembudayaan Olahraga Faisal Abdullah, Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Djoko Pekik Irianto, Kepala Komunikasi Publik Kemenpora Gatot S Dewabroto, dan Staf Khusus Olahraga M Khusen Yusuf. 

Deputi Pemberdayaan Pemuda Yuni Poerwanti mengusulkan kerja sama di bidang kreativitas, pencegahan narkoba, pencegahan terorisme, kemaritiman, dan pluralisme atau lintas agama. Deputi Pengembangan Pemuda Sakhyan Asmara mengusulkan kerjasama pertukaran pemuda dan wirausaha pemuda. Deputi Pembudayaan Olahraga menjelaskan TAFISA. Sementara Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga menjelaskan kerjasama olahraga. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 17 September 2009

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan tinggi (Dikti), Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo melakukan kunjungan ilmiah ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Ahad (20/8).

Kunjungan ke pesantren yang juga mengelola lembaga Dikti Universitas KH Wahab Chasbullah (Unwaha) ini diikuti oleh tiga pimpinan tiga perguruan tinggi yang berada di Pesantren Nurul Jadid, yakni Rektor IAI Nurul Jadid, Ketua STT Nurul Jadid dan Ketua STIKes Nurul Jadid Paiton.

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Jadid Segera Kembangkan Universitas Berbasis Pesantren

Rombongan diterima oleh Dr. Fathullah Malik, selaku Wakil Rektor 1 Universitas KH. Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang beserta segenap jajaran. Selanjutnya mereka melakukan dialog seputar perkembangan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.?

“Kunjungan ini bertujuan untuk mengembangkan lembaga tinggi di Pesantren Nurul Jadid Paiton menjadi universitas yang berbasis pesantren,” kata Kepala Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Hamid Wahid.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Kiai Hamid, kedatangannya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum tidak lain adalah untuk menimba ilmu terkait dengan merger perguruan tinggi yang ada di pesantren menjadi universitas di bawah naungan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dan Dikti) Republik Indonesia.?

“Kami tidak bisa menunggu lagi, karena perguruan tinggi pesaing juga sudah berkompetisi untuk meningkatkan mutu PTKI (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam). Mumpung ada peluang dari Kemenristek dan Dikti, maka kita mencoba ambil peluang menjadi universitas. Dengan model beberapa program studi di lembaga kami, Insya Allah kami bisa apabila disertasi kesungguhan, ikhtiar dan doa,” tegasnya.

Sementara Wakil Rektor 1 Unwaha Jombang Dr. Fathullah Malik menyampaikan bahwa antara Pesantren Nurul Jadid dan Pesantren Bahrul Ulum sekilas memiliki budaya yang sama. Yakni, lembaga pendidikan tinggi yang berada di pondok pesantren dan perguruan tinggi yang berasaskan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) atau berbasis Nahdliyin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Universitas yang kita miliki ini merupakan cita-cita dari KH. Wahab Chasbullah yang sangat visioner. Tentunya tidak mudah untuk mewujudkan universitas ini, diperlukan ? ketelatenan dan usaha keras untuk mewujudkan ini semua,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 16 September 2009

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a

Pada dasarnya mengangkat tangan ketika berdo’a dan dan mengusap wajah sesudahnya bukanlah sekedar tradisi yang tanpa dasa. Keduanya merupakan sunnah Rasulullah saw. sebagaimana termaktub dalam salah satu haditsnya yang diceritakan oleh Ibn Abbas:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? (? ? ?)

Apabila engkau memohon kepada Allah, maka bermohonlah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu, dan jangan dengan bagian luarnya. Dan ketika kamu telah usai, maka usaplah mukamu dengan keduanya.

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengangkat tangan dan Mengusap Muka ketika Berdo’a

Demikian pula keterangan para ulama dari beberapa kitab. Bahkan mereka menganjurkan ketika semakin penting permintaan agar semakin tinggi pula mengangkat tangan. Adapun ukuran mengangkat tangan adalah setinggi kedua belah bahu. Dalam I’anatut Thaibin Juz Dua diterangkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dan diwaktu berdoa disunnahkan mengangkat kedua tangannya yang suci setinggi kedua bahu, dan disunnahkan pula menyapu muka dengan keduanya setelah berdo’a.

Keterangan ini ditambahi oleh keterangan Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdy dalam Al-Hawasyil Madaniyyah  dengan sangat singkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ?

Batas maksimal mengangkat tangan adalah setinggi kedua bahu, kecuali apabila keadaan sudah amat kritis, maka ketika itu bolehlah melewati tinggi kedua bahu.

 Akan tetapi, di masa sekarang ini banyak kelompok yang meragukan dan menyangsikan sunnah Rasulullah saw ini. mereka meanyakan kembali tentang keabsahannya. Sungguh hal ini bukanlah sesuatu yang baru karena dulu telah disinggung oleh pengarang kitab al-Futuhatur rabbaniyyah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sang pengarang telah berkata bahwa “telah ada hadits-hadits yang tak terbatas banyaknya mengenai mengangkat tangan ke langit ketika berdo’a, barang siapa menganggap itu tidak ada, maka ia telah keliru.

Red. Ulil H.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Sholawat, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 Juli 2009

Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Hotel Paragon Ahad (11/12) Pimpinan Pusat IPNU mensahkan sistem kaderisasi dalam memperkuat organisasi. Pengesahan tersebut setelah 24 Pimpinan Wilayah IPNU seluruh Indonesia turut menyepekati.

Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Rakernas, IPNU Bertekad Terdepan Kaderisasi di Tubuh NU

"?Pelaksanaan Rakernas sudah mencurahkan energi, berbagai langkah dan regulasi memperkuat organisasi," ujar Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid seusai Rakernas yang dilakukan sejak tanggal 8 sampai 11 Desamber 2016,.

Asep menuturkan, dalam Rakernas dilakukan pembahasan organisasi, kaderisasi, CBP, sampai dengan rekomendasi wilayah dan rekomendasi nasional. Dalam memutuskan peraturan organisasi ditambah dengan penguatan sistem keorganisian, serta penguatan tatanan ideologi organisasi IPNU ke depan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Seluruh kader IPNU? semakin memadukan gerak langkah sinergis dengan berbagai elemen, dengan menggerakan organisasi menjadi lebih baik," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia menambahkan, ?program IPNU ke depan dengan menjadikan kaderisasi garda terdepan NU, dengan dapat? menjawab atas krisis kader Nahdlatu Ulama. Disamping itu, hasil keputusan dapat dilaksanakan secepatnya di semua tingkatan organisasi.

"Dalam menatap usia satu abad NU, ada kegelisahan dengan minimnya kader kritis dalam tubuh Nahdlatul Ulama," katanya.

Lanjut dia, ?hilangnya peranan strategis di masyarakat harus diperkuat dengan ?berkomitmen keputusan bersama di Rakernas IPNU. Organisasi IPNU ke depan sudah dapat melihat perkembangan yang lebih baik untuk organisasi, agar memiliki kader IPNU yang memiliki militansi yang tinggi.

"Semua dapat melaksanakan hasil keputusan tersebut, terutama dalam memperkuat kaderisasi di semua tingkatan," lanjutnya.

Asmoez, Saapan akrabnya menambahkan, ?peran IPNU harus aktif dalam pengawalan isu strategis dan wacana kritis yang terjadi di sekeliling masyarakat, sehingga dapat direspons dengan secepatnya. Ditambah, dalam rakernas akan dilakukan gerakan sejuta kartu anggota, agar memiliki data base organisasi yang secara sistematis.

?"Ada sekitar 28 PW IPNU yang sudah sah, dan ada 6 PW IPNU yang sedang dipersiapkan," pungkasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Dr. Hilmy Muhammadiyah, M.Si mengatakan, Rakernas IPNU berlangsung dengan baik, dengan meningkatkan tata kelola organisasi yang profesional. Sesungguhnya pelaksanaan Rakernas semakin mengarahkan menjaga segmentasi NU, dengan generasi IPNU yang terdidik.

"Menyiapkan warga Nahdliyin yang terdidik, dan tata kelola organisasi yang baik," katanya.

Dia menambahkan, ?sebagai Banom NU sudah memiliki? tata kelola organisasi dengan baik, ?dengan memiliki manajemen yang profesional? dan organisasi modern. NU pada satu abad akan memiliki tantangan yang kompleks, sehingga ?IPNU yang masuk tetap eksis dengan kontribusi terhadap kemajuan bangsa.

"NU semakin harus tetap kontribusi terhadap kemajuan bangsa," ungkapnya.

Dia melanjutkan, ?pemikiran yang berkembang dengan penerapan akreditasi pada semua tingkatan organisasi IPNU, untuk melakukan penataan organisasi yang lebih baik. ?Dalam akreditasi organisasi harus memiliki ukuran yang jelas, agar kaderisasi dapat berlanjut untuk organisasi yang kuat.

"Dalam akreditasi harus memiliki ukuran yang jelas, sehingga dalam penguatan organisasi," pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Mei 2009

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setiap daerah memiliki keunikan sendiri dalam menyambut lebaran, seperti di wilayah pantura kabupaten Subang terdapat tradisi tukar rantang atau biasa disebut dengan udun-udunan.

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Subang Miliki Tradisi Tukar Rantang Jelang Lebaran

Menurut Reti salah satu warga desa Cilamayagirang tukar rantang adalah saling tukar makanan atau masakan yang disimpan di dalam rantang susun, “Tradisi tersebut sudah turun temurun dari nenek moyang daerah sini” jelasnya.

”Dalam tukar tantang ada perbedaan antara kerabat dan tetangga. Jika kerabat yang nasabnya lebih tua, tukar rantang berisi lengkap, seperti nasi, bakakak (ayam panggang), gula, kopi, udud (rokok) aneka macam buah-buahan,” ujar Siti Aisyah.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kalau untuk kerabat yang nasabnya lebih muda dan tetangga, tukar tantang isinya sederhana, yaitu nasi lengkap lauk pauknya, seperti telur atau ayam opor. 

“Kebiasaan orang yang diberi hantaran rantang akan membalas hantaran pada hari yang sama atau hari berikutnya. Tentu saja isinya sama, nasi lengkap dengan lauk-pauk,” jelas Aisyah pada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (6/8/2013).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ustadz Sobri, Tradisi tukar rantang harus dilestarikan karena selain bersedekah makanan, tradisi tersebut untuk memperetat tali silaturrahim antar kerabat dan tentangga.

Uniknya, dalam tradisi tukar rantang ada juga angpau atau amplop yang berisi uang yang disisipkan. Uang tersebut diperuntukkan kepada si anak pengirim rantang. 

Untuk isi amplop beragam, mulai dari Rp5.000 sampai dengan  Rp50.000 atau pun Rp100.000, tergantung pada kemampuan si pemberi.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 07 April 2009

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Krapyak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 40 santriwati Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum tingkat Madrasah Aliyah mengikuti Training and Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Lentera Foundation bersama Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) dan Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta (US Embassy).

Tema pelatihan ini ‘Journalism Training and Women Leadership Program for Female Students in Islamic Boarding School (pesantren)’. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada 14-15 September 2015 di gedung pengajian Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Dalam acara pembukaan, Indar, perwakilan dari Kedutaan Amerika menyampaikan sambutan dan rasa senang bisa mengadakaan pelatihan ini di pesantren. "Kami merasa senang, selain bisa mengunjungi pesantren, kami juga berharap potensi-potensi besar yang dimiliki santri khususnya santriwati bisa dikembangkan terutama bidang jurnalistik," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari pihak yayasan pondok pesantren yang diwakili oleh Ibu Ny Hj Maya Fitria sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. "Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggara dan kami berharap para santriwati mendapat pemahaman dan pengalaman dalam pelatihan ini," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan ini sebelumnya juga dilaksanakan di PPMI Assalaam Solo. Kemudian usai dari pesantren Krapyak, kegiatan ini akan dilanjutkan ke Semesta Boarding School Semarang. (Muyas/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 23 Maret 2009

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga

Dari segi permainan, taktik pelatih, sejauh ini ada yang menarik tidak, ada yang mengejutkan penampilannya?



Justru kalau mengejutkan sih enggak, saya sering kaget melihat permainan tim-tim yang berasal dari daerah tertentu yang selama ini tidak anggap daerah bola, tapi di Liga Santri ternyata pemainnya bagus-bagus. 

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga

Misalkan?

Misalkan DDI Kaballangan. Selama ini siapa yang kenal DDI Kaballangan, ternyata mainnya bagus. Kalau misalnya dari Bandung, dari Surabaya, wajarlah. Dari Sragen juga ada Persi Sragen, tapi tiba-tiba dari Kaballangan, ternyata bagus. Terus dari Muaro Jambi, orang kan enggak kenal, tapi timnya bagus. Paiton, orang tahunya Pembangkit Listrik Tenaga Uap, ternyata mainnya bagus. Nurul Jadid itu bagus. 

Saya kira seperti Kaballangan ini menyiapkan tim? 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tahun kemarin mereka sudah ikut, juara Seri Regional, tahun ini masuk lagi. Jadi, kelihatan tim yang selama ini konsisten mempersiapkan diri di eskul atau ada program sekolah bolanya, biasanya hasilnya kelihatan. Dari segi permainan pun mereka sedikit lebih baik. Ashidiqiyah itu di Jakarta kan punya lapangan sendiri, punya SSB sendiri. Kaballangan juga sama. Walisongo juga sama. 

Ada yang menarik nih, Nuris juara pertama 2015, Nur Iman juara pertama 2016. Mereka selalu tersingkir. Kenapa? 

Saya bilang tadi, standar kualitas tim ini masih naik turun. Nah, sekarang dengan adanya liga santri berkelanjutan, mulai ada tim-tim yang membentuk SSB, lapangan sendiri, nanti ada tim-tim yang ajeg dan tim naik turun. Yang ajeg itu akan ada. Seperti Walisongo, model Ashidiqiyah, itu akan ajeg prestasinya. Kalau ini terus dikondosikan dan dipertahankan di Liga Santri ini; kalau sekarang ini kan baru tiga tahun, orang masih menakar, ini bisa panjang atau enggak. 

Jadi, kadang-kadang tim ini tahun ini juara, tahun depan enggak, karena memang kita belum punya lapisan-lapisan pemain. Generasi tahun ini bagus, generasi di bawahnya belum tentu ada. Makanya tahun ini bisa juara, tahun depan ambruk. Nur Iman, juara tahun lalu, tahun ini ambruk karena pemainnya udah beda. Liga Santri masih sesuatu yang sekarang belum menjadi semacam program rutin. Mungkin sesudah tiga dan empat tahun ini, pesantren mempersiapkan itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk tahun ini ada yang sudah kelihatan menonjol seperti tahun kemarin yang membuktikan kualitas Rafli?

Belumlah kelihatan. Kita tidak bisa semuanya datangi pertandingan di region. Sulit. Ya yang saya bisa katakan dari region yang saya kunjungi  level permainnanya sekarang tidak terlalu jauh. Saya nonton di Trenggalek, di Cirebon, di Maluku, di Lampung, levelnya dekat-dekat. Makanya pertandingan hari ini tipis-tipis, 1-1, 2-2, ada yang menang 4-1 memang, ada yang menang 7-0, itu kan kasus khusus, tapi selebihnya berimbang. 

LSN ini proyeksinya bagaimana, misalnya 10 tahun ke depan? 

Kalau dari obrolan kami, saya kan kebetulan kan bukan pengurus RMINU,  kebetulan tenaga profesional untuk mengelola kompetisinya. Dari wacana yang kami diskusikan, harus ada badan hukum yang secara formal liga ini, sekaligus badan itu menjadi anggota PSSI supaya pemain-pemain, alumnus liga ini bisa menjadi bagian badan hukum anggota PSSI ini berkompetisi di liga yang level lebih tinggi, misalnya alumnus liga ini bisa mengikuti liga tiga, liga dua, kalau lebih bagus lagi, ke liga satu, atau di liga tiga tetap di situ, tapi pemainnya bisa kemana saja. 

Kalau saya sih menganggap liga santri ini pabrik penghasil pemain, tapi tetap kita harus punya iconnya di kompetisi, misalnya Santri FC ikut di liga tiga. Santri mana sajalah, mau di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, ikut liga tiga, pemain-pemain alumnus liga santri ikut kompetisi itu. Hasilnya, bahwa mereka diambil di liga dua atau satu. Jadi memanfaatkan hasil kompetisi ini, pemainnya yang berkembang di kompetisi lain dengan pemain yang lain. 

Kalau kita mau evaluasi, dengan kondisi sekarang, kira-kira berapa tahun Liga Santri ini bisa mapan?

Tiga atau empat tahun lagi. Semakin kita konssiten menyelenggarakan liga ini, konsistensi jadwalnya, regulasinya, standar pelaksanaanya, tata kelolanya, akan semakin serius pesantren menyiapkannya tahun depan. Jadi, awal-awalnya kan mereka, oh begini, tahun kedua lebih banyak. Tahun ketiga semakin banyak. Tahun depan, kalau ini lancar sampai final, sukses dari segi tata kelola dan penyelenggaraan, dan publikasi, tahun depan akan lebih hits. Ini kan masih dikemas publikasinya publikasinya, masih perlu dikemas imaginenya, pencitraannya tentang kompetisi ini, masih perlu dikemas cara membuat event ini lebih meriah, lebih menarik, bukan sekadar selesai, tapi juga membekas, berkesan untuk masyarakat Bandung. Oh, kemarin ada Liga Santri ini. 

Ada pemantau talent scouting, tahun ini ada Robby Darwis, ada Ade Abdullah bekas Persi, Bandung Raya, PSIM juga. Hari ini ke sini, Siliwangi. Ada Udin Rafiudin, bekas Bandung Raya, hari pertama Udin di Arcamanik. 

Tanggung jawab apa? 

Mereka mendata pemain-pemain berbakat, dari pelatihnya Persis Solo, masih melatih Persis Solo kita undang ke sini untuk melihat dan mendata pemain-pemain yang potensial. Pemain itu kelebihannya apa, kekurangannya apa. Nanti pemain-pemain itu yang akan kita bawa ke Tim Nasional. Ini kan kelompoknya dekat dengan timnya Indra Sjafri ya. Rafli kan prosesnya begitu. Muncul 18 pemain tahun lalu. Dipakai enggaknya urusan tim nasional. Tapi kalau tim nasional perlu data pemain, kita punya databasenya. Ada 22 ribu data pemain ini yang kta bisa jaring dari kompetisi ini. Nanti yang terbaiknya, seratus besarnya, yang kita jaring ini, kita bawa ke PSSI. Nih pemainnya. Tahun ini ada 22 ribu pemain dari 1046 tim. Pemainnya kan rata-rata 20 orang. Jadi 22 ribu lebih. 

Jadwal yang ketat bagaimana?

Karena memang kompetisi ini budgetnya, finansialnya masih kurang. Idealnya main, tiga hari lagi main. 

Biaya klub bagimana? 

Diserahkan kepada mereka, kita subsidi aja.   

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Februari 2009

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji

Nganjuk, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kamis (20/9) pagi terjadi suasana berbeda di Lapas Kabupaten Nganjuk yang terletak di utara Masjid Agung Kabupaten Nganjuk. Pagi itu ratusan napi tampak rapi berbaju putih serta rombongan hafidz berdatangan di Lapas karena digelar gerakan Nusantara Mengaji.

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang digelar serentak secara nasional yang dilaksanakan di lapas-lapas se-Indonesia dalam rangka hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53. Kegiatan di lapas ini dimulai sejak jam 07.00 WIB dengan petanda dibuka oleh insiator gerakan Nusantara Mengaji HA. Muhaimin Iskandar dan Menteri Hukum dan HAM Yosanna H Laoly di Rutan kelas 1 Cipinang Jakarta Timur. Gerakan ngaji bersama di hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53 ini telah mendapat rekor Muri.

Di Lapas Nganjuk, kegiatan ini diawali dengan shalat dluha berjama’ah yang dipimpin Korda Nusantara Mengaji Nganjuk KH Moh. Syamsudin Al Aly Pengasuh Ponpes Al ? Fattah Pule. Selanjutnya prakata pembuka oleh Moh. Mansur kepala Lapas Nganjuk yang didampingi H Ulum Basthomi, wakil ketua DPRD Nganjuk dan selanjutnya langsung dimulai oleh mengaji oleh para hufadz dan napi secara serentak. Acara diakhiri jam 13.00WIB ditutup dengan doa oleh Korda Nganjuk dan shalat dhuhur berjam’ah .

Moh. Mansur kepala Lapas Nganjuk sangat berterima kasih kepada insiator Nusantara Mengaji serta Korda Nganjuk. Dengan kegiatan semacam ini diharapkan bisa memberikan ketenangan jiwa serta memotivasi para napi untuk menjadikan hidup mereka hidup yang bermakna.?

Senada dengan Pak Mansur, Rumidi salah satu napi menyatakan senang sekali dengan kegiatan ini, terasa menjadi penyejuk bagi kehidupan kami dan spirit untuk memperbaiki kehidupan kami. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Daerah, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah