Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ser, Banser Nasibmu

Oleh KH Ubaidillah Shodaqoh



Sebagai Nahdliyyin saya sering bersentuhan dengan Banser. Pengajian rutin, akbar, karnaval, penanggulangan bencan, mantu sampai parkirpun mereka terlibat. Dus, saya sebagai warga negara merasa kapiran kalau tidak ada Banser.

Saya sering iseng menggoda mereka dengan meminta rokok. "Mas, minta rokoknya, mas," kataku.?

Ser, Banser Nasibmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ser, Banser Nasibmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ser, Banser Nasibmu

Mas Banser itu pun meraba-raba kantongnya di baju tebal seragamnya. Satu menit kira-kira dia baru berhasil mengeluarkan bungkusan rokok. Ketika disodorkan padaku, ternyata tinggal dua batang yang sudah bengkong hampir putus karena tertekan-tekan dalam kantong sempitnya. Itu pun Dji Samsoe yang dapat diisap sampai batas maksimal karena tidak berfilter.

Aduh…, gagah-gagah demikian rokoknya eceran.?

Betul juga guyonan KH Hasyim Muzadi. Mereka hanya mampu membeli rokok eceran. Dalam acara-acara pengajian dan lainnya mereka pun diberi konsomsi paling akhir. Ya, kalau snack dan makanan besar sudah cukup untuk tamu-tamu dan jamaah tentunya. Kalau tidak, ya makan seadanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pernah ketika saya ndereake pak kiai di kabupaten Semarang. Ia dijemput delapan Banser yang menaiki empat motor. Ada yang gendut, gagah, tapi motornya bebek kuno Yamaha. Untuk melancarkan perjalanan kiaiku, empat pembonceng membawa peluit satu-satu. Mereka meniup bergantian untuk menyibak kemacetan jalan. Ya, jangankan sirine, sumpritan saja kayaknya sudah berkarat.

Bayangkan, malam mengawal dan mengamankan acara. Pagi mereka harus bekerja mencari nafkah. Ada tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, tukang batu atau kuli batu. Demi khidmah pada guru dan kiai, mereka rela berpayah-payahan. Mungkin di rumahnya hanya tersedia beberapa liter beras saja. Tapi juga ada dosen, pedagang, dan bahkan doktor yang golongan ini sebagai pendonor cigaret atau jajan mereka.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selama ini, kemana pun saya blusukan di Jateng, selalu menjumpai Banser. Setiap keramaian di Pantura maupun Jawa bagian selatan. Dalam penanggulangan bencana. Masyaallah, tanpa upah, tanpa bayaran, mereka berkhidmah pada masyarakat di lapisan apa pun.

Hah... kalau sejarah perjuangan membela negara janganlah bertanya lagi. Cikal-bakalnya selalu aktif melawan penjajah. Apalagi masa revolusi 65. Betapa besar jasanya meskipun setelah lahir Orde Baru, mereka digencet segencet-gencetnya, namun tak melawan tak mengeluh, tetap berkhidmah pada masyarakat.

Kini ketika NKRI terancam, mereka pun tak mau bertumpang dagu pura-pura dungu. Nahi munkar dengan mencegah provokator kerukunan umat yang berkoar-koar di masjid. Mereka tidak tega ulamaknya diperolok-olok dan dijelek-jelekkan sebagai ahli bid’ah. Mereka tidak rela Pancasila sebagai kesepakatan umat dilecehkan. Bukan hanya rokok dua gelintir taruhannya, tapi juga nyawa mereka.

Nah, meskipun ada beberapa tokoh di Jakarta yang tidak simpati pada langkah yang diambil kawan-kawan Banser dan bahkan sinis dan menyebarkannya seantero dunia lewat dunia maya, namun bersabarlah kawan-kawan semua bahwaganjaran Gusti Allah Taala atas keiikhlasamu menjaga NKRI sebagai rumah pengamalan Islam Aswaja NU, jauh lebih berharga dan banyak dibanding dengan tepuk tangan riuh dan pujian para politisi di pusat.?

Ser, Banser, tetaplah terukur dan terarah, ikuti komando pimpinanmu dan nasihat para ulamakyai. Lillahi Taala… Lillahi Taala…Lillahi Taala.

Ser, Banser, semoga amalmu diterima oleh Gusti Allah, dan rizekimu lancar sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor, dan yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran.

Penulis adalah Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 12 Februari 2018

Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi

Penyakit yang hinggap pada manusia tidak hanya bersifat lahir, tetapi juga ada penyakit yang dapat merusak batin manusia. Orang-orang tua di zaman dahulu menyebut sejumlah penyakit hati seperti riya, sum‘ah, ujub, takabur, hasud.

Untuk mengobati sejumlah penyakit batin itu, orang-orang tua di zaman dahulu membuat sejumlah formula untuk memulihkan kesehatan batin. Abu Ishak Ibrahim bin Ahmad Al-Khawash salah satunya.

Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi

Pernyataan Syekh Ibrahim Al-Khawash ini kemudian diabadikan oleh Imam Al-Qusyairi dalam Risalah-nya sebagai berikut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Salah satu ucapannya (Ibrahim Al-Khawash adalah, ‘Obat hati terdiri atas lima perkara, (1) membaca Al-Quran disertai perenungan, (2) mengatur pola makan agar perut tidak kenyang (bisa puasa atau cara lain), (3) bangun malam (tahajud, zikir, atau amal lainnya), (4) merendahkan diri di hadapan Allah pada akhir malam, (5) bergaul dengan orang-orang saleh.’ Hal ini disebutkan dalam Ar-Risalatul Qusyairiyah.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketika mensyarahkan Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali, Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes Kediri dalam Sirajut Thalibin jilid 2 mengutip pernyataan Syekh Ibrahim Al-Khawash. Rincian obat hati ini merupakan keterangan tambahan ketika Imam Al-Ghazali menjelaskan tawakal.

Kalangan sufi meyakini bahwa lima hal ini dipercaya dapat merontokkan penyakit hati dari dalam batin seseorang. Pasalnya satu-sama lain dari lima hal ini akan saling membantu dalam mengatasi penyakit hati seperti disebutkan di atas.

Obat hati ini cukup efektif untuk menasihati manusia yang terjankiti penyakit batin karena lima hal ini menasihati manusia dalam waktu-waktu dan dalam kondisi-kondisi tertentu. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 10 Februari 2018

PMII Situbondo: Pilkada oleh DPRD, Tak Lahirkan Pemimpin Rakyat

Situbondo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Situbndo, Jawa Timur, Jumat (19/9), menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Situbondo. Mereka mendesak pimpinan DPRD sementara ikut menolak pengesahan RUU Pilkada yang akan segera dilakukan oleh DPR RI.

PMII Situbondo: Pilkada oleh DPRD, Tak Lahirkan Pemimpin Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Situbondo: Pilkada oleh DPRD, Tak Lahirkan Pemimpin Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Situbondo: Pilkada oleh DPRD, Tak Lahirkan Pemimpin Rakyat

Dalam orasinya,  Ketua Pengurus Cabang PMII Kabupaten Situbndo Fathurrahman mengatakan, pemilihan kepala darah tidak langsung yang terdapat dalam RUU Pilkada, tidak domkratis dan bertentangan dengan UUD 1945, serta berlawanan dengan semangat reformasi.

“Wahai para wakil rakyat, jangan cederai era reformasi, tolak Pilkada tak langsung karena tidak demokratis dan tidak sesuai dengan UUD 45,” teriaknya di halaman gedung DPRD Situbondo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Fathurrahman, pemimpin yang dipilih melalui Pilkada tidak langsung hakikatnya bukan pemimpin rakyat, tapi pemimpin segelintir anggota dewan yang telah memilihnya. Sehingga, dikhawatirkan dia tidak punya kepedulian dan perhatian yang semestinya kepada rakyat.

“Pilkada tak langsung, hakikatnya bukan Pilkada, karena yang memilih cuma segelintir orang. Bupati, walikota, gubernur yang terpilih akhirnya hanya takluk pada dewan, masa bodoh dengan kepentingan rakyat. Soal rakyat itu nomor sekian. Dan itulah  hasil Pemilukada tak langsung,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya pimpinan sementara DPRD Kabupaten Situbondo, Bashori Shanhaji,  menemui pengunjuk rasa. Politisi PKB itu menyatakan setuju dan mendukung aspirasi dan keinginan pengunjuk rasa.

“Mari saya bantu, kalau perlu sekarang juga saya kirim pernyataan penolakan kalian. Tapi mohon maaf, kalau saya atas nama DPRD,  harus rapat dulu jika akan mengambil keputusan,” ujarnya. Pengunjuk rasa pun akhirnya bubar. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 04 Februari 2018

Pernyataan Sikap Tokoh Lintas Iman di Magelang atas Krisis Rohingya

Magelang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar menyulut sejumlah aksi simpati di tanah air.

Pernyataan Sikap Tokoh Lintas Iman di Magelang atas Krisis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernyataan Sikap Tokoh Lintas Iman di Magelang atas Krisis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernyataan Sikap Tokoh Lintas Iman di Magelang atas Krisis Rohingya

 

Nilai kemnausiaan yang bersifat universal juga memotivasi tokoh lintas Iman di Magelang Raya, Jawa Tengah pekan lalu untuk menyikapi tragedi Rohingya.

Berikut butir-butir pernyataan sikap bersama tokoh-tokoh lintas iman di Magelang:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

1. Kami atas nama warga beriman se-Magelang Raya mengecam segala tindakan kekerasan yang menciderai nilai-nilai kemanusiaan. Segala bentuk tindakan kekerasan adalah tindakan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan.

2. Bahwa tidak ada satu pun agama dan ideologi di dunia ini yang membenarkan tindakan dan cara-cara kekerasan dalam kehidupan umat manusia. Kami semua ikut merasakan kepedihan yang sangat luar biasa atas peristiwa yang menimpa masyarakat muslim yang berada di Rohingya, Myanmar. 

3. Mengajak seluruh umat manusia, terutama warga negara Indonesia untuk bersama-sama menggelorakan kehidupan yang damai, saling menjaga, saling melindungi dan menghargai sesama manusia, meskipun berbeda agama dan keyakinan. Semua pihak dihimbau untuk berperan dalam upaya menciptakan perdamaian dan harmoni.

4. Mengajak kepada siapa pun untuk terus menggalang solidaritas dan bantuan kemanusiaan guna meringankan beban penderitaan masyarakat Rohingya, Myanmar.

5. Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada semua pihak, terutama kepada Pemerintah Republik Indonesia dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan yang telah mengambil langkah konkret dalam meminimalisir dan mengupayakan penghentian tindakan kekerasan terhadap Muslim Rohingya yang terjadi di Myanmar serta menciptakan perdamaian bagi segala bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

6. Kami meminta pemerintah Indonesia melaksanakan amamat UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, melalui proses diplomasi dan upaya-upaya yang bermartabat untuk mendesak pemerintah Myanmar mengakui status kewarganegaraan Muslim Rohingya dan terwujudnya penghormatan atas hak asasi manusia di Myanmar.

7. Menghimbau kepada semua pihak untuk menciptakan situasi dan kondisi yang aman, tertib dan nyaman di masyarakat, tidak menyebarkan hoax yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dan berpotensu menimbulkan konflik SARA, bersikap dan bertindak secara proporsional dalam menyikapi tragedi kemanusiaan di Rohingya Myanmar. Mari tebarkan kebaikan, taburkan cinta kasih dan berbagi karunia kepada sedama manusia.

8. Memohon dengan sepenuh ketundukan kepada Allah untuk memberikan pertolongan dengan sifat Pengasih dan Penyayang-Nya serta kekuasaan mutlak-Nya kepada masyarakat Rohingya agar terlepas dari penderitaan karena penindasan dan kejahatan kemanusiaan.

Pernyataan sikap ini diinisiasi oleh Jamaah Kopdariyah Netizen Magelang Raya. Ikut mendukung Jamaah Kopdariyah:

1. GP Ansor NU

2. Pk3 VIKEP KEDU

3. LTN NU Kab. Magelang

4. Turn Back Hoax Magelang Raya

5. Komunitas Save Pahingan

6. LESBUMI Magelang

7. Vihara Mendut

8. PT. Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko

9. PS PAGAR NUSA

10. PESONA Magelang

11. IKASUKA Magelang

12. OBOR Borobudur

13. Paguyuban Pedagang Borobudur

14. Pemuda Gereja Kristen

15. BKTPA Kabupaten Magelang

16. Pemuda Katholik

17. GUSDURian

18. Sangha Threravada

19. Nglaras Ati

20. BEM STAIA Syubbanul Wathon Magelang

21. BANSER Kabupaten Magelang

22. PMII Cabang Kabupaten Magelang

23. IPNU Cabang Kabupaten Magelang

(Vinanda Febriani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, IMNU, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Februari 2018

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dunia masa kini yang dipenuhi dengan tuntutan kesempurnaan dan persaingan sengit diantara berbagai fihak telah menimbulkan tekanan-tekanan mental bagi sebagian anggota masyarakat. Sentuhan rohani yang diberikan oleh tasawwuf ternyata mampu memberi keseimbangan jiwa dan ketenangan batin.



Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Demikian dikatakan oleh Khatib Aam PBNU KH Nasaruddin Umar dalam pembukaan Munas Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (28/6).

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Departemen Agama ini menuturkan, tantangan-tantangan baru yang dihadapi masyarakat seringkali melampaui kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hal ini bukan hanya dialami oleh kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok atas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mencontohkan munculnya persaingan dalam dunia politik seperti dalam perebutan jabatan melalui Pilkada serta upaya untuk tetap bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi yang terus menekan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Disinilah peran penting institusi tarekat, untuk menuangkan aspek batiniah agama dan pedalaman makna agama serta mencegah adanya praktek tidak terpuji yang keluar dari koridor akhlak Islam,” tuturnya.

Munas ini diikuti oleh sekitar 500 orang dari berbagai jamaah tarekat yang tergabung dalam Jatman. Munas merupakan forum tertinggi setelah muktamar yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai program yang sudah dirancang sebelumnya.

Suasana penuh ketenganan dan keteduhan hati sangat tampak dalam forum ini. Para peserta yang sebagian besar memakai baju koko warna putih, dengan tekun mengikuti rangkaian acara. Mereka adalah para kiai dan guru tarekat yang memiliki ribuan jamaah di daerahnya masing-masing.

Zikir-zikir panjang dan istighotsah selalu menjadi bagian rutin dalam sholat berjamaah yang diselenggarakan di masjid asrama haji.

Sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Nasaruddin Umar, salah seorang guru tarekat dari Jawa Timur yang ditemui Pondok Pesantren Attauhidiyyah menuturkan, tarekat saat ini semakin diterima oleh masyarakat. Jika dulu hanya komunitas santri saja yang akrab dengan tarekat, kini para birokrat, pengusaha, intelektual, termasuk dari kalangan militer secara intens mendalami tarekat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam

Islam memang tidak menjelaskan secara detail bagaimana model pakaian Islam. Tidak ada aturan khusus di dalam Islam terkait kesunahan memakai pakaian tertentu. Urusan pakaian ini diserahkan kepada tradisi dan lokalitas masyarakat. Hanya saja, Islam memberikan panduan umum berpakaian yang harus dipatuhi.

Di antara panduan umum tersebut adalah pakaian yang digunakan tertutup, tidak transparan, tidak terbuka, dan tidak menyerupai lawan jenis. Apapun bentuk pakaiannya, kalau selaras dengan panduan umum ini, pakaian itu sudah termasuk pakaian islami.

Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kriteria Pakaian Serupa Pakaian Lawan Jenis (Tasyabbuh) dalam Syariat Islam

Salah satu aturan umum berpakaian ialah tidak menyerupai lawan jenis. Pembahasan ini tampaknya perlu diperjelas untuk mengetahui batasan menyerupai lawan jenis. Misalnya, kapan pakaian yang kita gunakan dikategorikan sebagai pakaian yang menyerupai lawan jenis: apa standarnya?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Batasan menyerupai lawan jenis ini sudah dijelaskan Sayyid Abdurrahman Ba’lawi dalam Bughyatul Mustarsyidin. Batasannya adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Berhias dengan sesuatu yang dikhususkan untuk lawan jenis, atau secara umum di daerah tersebut hiasan itu dikhususkan untuk lawan jenis.”

Batasan menyerupai lawan jenis menurut Sayyid Abdurrahman adalah menggunakan pakaian atau hiasan yang lazim digunakan oleh lawan jenis. Bila ada laki-laki yang menggunakan model pakaian perempuan sehingga orang yang melihat laki-laki tersebut menyangka kalau dia perempuan, maka itu sudah termasuk kategori menyerupai lawan jenis.

Menggunakan pakaian lawan jenis dalam Islam tidak boleh. Sebab itu, sebaiknya masing-masing orang menggunakan pakaian yang sesuai dengan dirinya. Tujuan dari aturan ini tentu untuk menjaga fitrah manusia. Laki-laki sebaiknya bergaya sebagaimana laki-laki pada umumnya, begitu pula perempuan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Kalangan pesantren tidak henti-hentinya mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Pada era penjajahan Belanda selama ratusan tahun, para kiai beserta santrinya mampu mempertahankan martabat pribumi melalui perlawanan simbolik maupun substantif.

Bahkan segala cara dilakukan oleh Belanda untuk dapat menundukkan para kiai pesantren. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang amtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa Bintang Jasa yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu.

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Pondok pesantren dengan komitmen cinta tanah airnya yang membuncah membuat Belanda tak berkutik. Begitu pun ketika bangsa Indonesia mulai dijajah oleh Jepang (Nippon) pada tahun 1942. Rakyat pribumi tak sedikit yang harus mengikuti peraturan Jepang karena konsekuensi pedih akan didapat jika melawan.

Namun tidak demikian dengan kalangan pesantren. Tidak ada sedikit pun rasa gentar dari para kiai dan santri ketika harus menghadapi fitnah dan propaganda Jepang untuk menundukkan pesantren. Termasuk yang menjadi target utama Jepang, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Mereka menuduh Kiai Hasyim sebagai dalang pemberontakan rakyat kepada Jepang di desa Cukir, sekitar Jombang, Jawa Timur. Padahal Kiai Hasyim tidak tahu menahu.

Bukan hanya Kiai Hasyim, tragedi pada tahun 1943 tersebut sejumlah kiai yang mengkomandoi Jam’iyah Nahdlatul Ulama juga ditangkap yaitu KH Mahfudz Shiddiq. Hal ini memantik perlawanan ribuan santri kepada Jepang untuk membebaskan Sang Kiai. Sedangkan KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Wahid Hasyim berupaya keras melakukan diplomasi dengan tujuan yang sama.

Meskipun Kiai Hasyim pada akhirnya bebas, namun tahun pertama dalam masa pendudukan tentara Nippon, Maret 1942-Maret 1943 ditandai oleh tumbuhnya kebencian rakyat kepada tingkah serdadu-serdadu Nippon dan rasa muak terhadap propaganda Nippon. KH Saifuddin Zuhri (Berangkat dari Pesantren, 2013) mengungkap sejumlah penyebab kebencian dan rasa muak rakyat Indonesia kepada Jepang sebagai berikut:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama, terbukanya kebohongan propaganda Tokyo bahwa Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia yang sebangsa dan seketurunan dengan bangsa Nippon.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, mendirikan ketenteramana yang teguh atas dasar mempertahankan Asia Raya, tak lain dan tak bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan sekaligus sebagai daerah garis belakang (home front) sumber tenaga manusia dan bahan mentah serta gudang logistik bagi tentara Nippon di medan perang Pasifik dan Asia Tenggara.

Ketiga, kebencian rakyat adalah spontanitas akibat keserakahan Nippon merampas bahan makanan dan harta benda rakyat. Suatu slogan berbunyi: “padi untuk saya, untuk kami, dan untuk kita sekalian” membuka kedok keserakahan mereka.?

Nippon harus mendapat makan tiga kali. Pertama kali sebagai saya (Nippon), kedua sebagai kami (Nippon ikut mendapat bagian kedua), ketiga sebagai kita (Nippon ikut mendapat bagian yang ketiga). Sedangkan untuk engkau dan kamu (rakyat Indonesia) tidak dipikirkan.

Keempat, kerja paksa berupa romusha. Kendati dirayu dengan sebutan “prajurit ekonomi” pada hakikatnya adalah kuli paksa. Hal ini tak ubahnya pekerjaan rodi di zaman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels pada 1762-1818, yang memaksa rakyat di Jawa membuat jalan raya sepanjang Anyer-Banyuwangi dengan pengawasan tangan besi, bahkan romusha lebih kejam lagi dibanding rodi.

Daendels hanya mengerahkan rakyat untuk proyek di Tanah Jawa. Tapi romusha adalah kuli-kuli paksa yang diperintahkan dengan tangan besi untuk mengerjakan proyek-proyek peperangan bukan hanya di Jawa dan di Indonesia, tetapi juga di Burma (Myanmar), Indochina, Malaya, Kepulauan Pasifik, dan tempat-tempat lain yang dirahasiakan.?

Tragedi ini memisahkan mereka dengan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang tidak diketahui nasibnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia yang menjadi romusha juga banyak yang menetap di Thailand dan Burma serta menjadi warga negara tetap di sana.

Kelima, tenaga kerja perempuan yang dijanjikan Nippon untuk tugas palang merah, kenyataanya banyak yang dijadikan alat pemuas nafsu serdau-serdadu Nippon di medan perang.

Terakhir keenam yaitu perkosaan lebih dahsyat lagi adalah dari segi akidah, keyakinan Islam. Karena saat itu rakyat Indonesia tanpa kecuali diwajibkan setiap pagi menghadap ke arah istana Kaisar Jepang di Tokyo untuk melakukan upacara saikeirei, menyembah kaisar Jepang yang disebut Tenno Heika. Menurut kepercayaan Jepang, Tenno Heika adalah keturunan dari Dewa Matahari, Amaterasu O. Mikami yang mahakuasa.

Saikeirei dilakukan dengan cara membungkukan badan 90 derajat, persis seperti rukuk di dalam sholat. Sedangkan membungkuk dengan tujuan menyembah tersebut di dalam Islam hukumnya kufur dan haram sehingga wajib ditentang. Hal ini juga terjadi ketika Kiai Hasyim Asy’ari meringkuk di penjara Jepang selama lima bulan. Setiap pagi seluruh tahanan harus melakukan saikeirei, namun Kiai Hasyim dengan tegas menolak. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengekspresikan rasa dukanya atas kepergian KH Ahmad Hasyim Muzadi dengan berziarah langsung ke makam mantan ketum PBNU itu di kompleks Pondok Pesantren al-Hikam Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3) petang.

Ia yang datang bersama pengurus lain, di antaranya Sekjen PBNU H Helmy Faishal dan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, memimpin pembacaan tahlil dan doa yang diikuti para santri dan peziarah lainnya.

Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi

Sebelumnya, prosesi pemakaman Kiai Hasyim digelar secara militer dengan inspektur upacara Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kiai Said tak sempat mengikuti upacara pemakaman lantaran di saat yang bersamaan PBNU menyelenggarakan Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Menurut Kiai Said, Nahdliyin patut merasa sangat kehilangan ulama yang ia sebut sebagai sosok panutan itu. Ia mengatakan, dedikasi Kiai Hasyim untuk Nahdlatul Ulama sangat luar biasa dan tidak pernah surut. Kiai Hasyim merupakan tokoh NU, yang berkhidmah sejak dari tingkat ranting hingga pengurus besar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya sepuluh tahun mendampingi beliau, ketika berkhidmat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” imbuh Kiai Said.

Jenazah Kiai Hasyim disemayamkan sekitar pukul empat sore setelah dishalatkan puluhan kali di Malang lalu dilanjutkan di Depok. Wapres Jusuf Kalla bersaksi bahwa almarhum merupakan tokoh yang sungguh-sungguh dalam mendarmabaktikan dirinya untuk bangsa dan negara. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, PonPes, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Januari 2018

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ujaran kebencian saat ini tidak lagi berkeliaran dari mulut ke mulut. Melainkan sudah merambah ke dunia maya. Lalu lintas percakapan di dunia maya kian deras dan tak terbendung. Kebebasan berekspresi dan berbicara tidak lagi menjadi penghalang di media sosial.

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force

Penggunaan media sosial yang tak terkontrol ini banyak meresahkan masyarakat, termasuk NU. "Kita sudah buat tim ‘pasukan udara’ untuk memantau dunia maya dari teman-teman Ansor dan Cyber NU Jatim. Namanya Cyber Force," kata Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah di Markas Polda Jatim, Kamis (1/9).

Cyber Force sudah bekerja sejak beberapa bulan lalu. Tim inilah yang memantau lalu lintas media sosial dan menganalisis ujaran-ujaran yang berseliweran di dunia maya. Jika ada ujaran yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa, NKRI langsung dilaporkan ke Kominfo. "Cara kerjanya seperti apa, tanya ke Ansor dan cyber NU Jatim," lanjut Kiai Mutawakkil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang paling disorot NU, lanjut Mutawakkil, ialah ujaran dari kelompok Islam yang menebarkan paham keagamaan terindikasi radikal. Kelompok seperti inilah yang biasanya menyebarkan virus perpecahan, baik di tubuh Islam maupun masyarakat sebagai bangsa.

Kiai Mutawakkil mengungkapkan hal itu dalam acara penandatanganan nota kesepakatan atau MoU tentang Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian (Hate Speech) oleh Markas Besar Kepolisian RI dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). MoU dihadiri oleh Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Rof Maulana/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Nasional, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 24 Desember 2017

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Tiga Rumah Sakit di Jombang siap memberikan diskon biaya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat pemegang Kartu Anggota NU (Kartanu). Ketiga RS itu adalah, Rumah Sakit NU, Rumah Sakit Medika Pesantren Darul Ulum serta Rumah Sakit Muslimat NU.

Hal ini disampaikan, Ketua PCNU saat sosialisasi Kartanu yang diikuti seluruh Badan Otonom NU, diantaranya GP Ansor, IPNU-IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU dan Pagar Nusa, ISNU serta Pergunu di kediaman Sholahul Am Notobuwono yang juga ketua PC GP Ansor di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Kamis (31/1).?

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu

“Insyaallah Tiga Rumah Sakit (RSNU, RS Media Darul Ulum dan RS Muslimat,) sudah siap memberikan diskon bagi pemegang Kartanu,”bebernya mengatakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengenai berapa prosentasi diskon yang bakal diterima, Ketua Tanfidziah PCNU Jombang dua periode ini menargetkan warga NU di kota santri ikut terdaftar dan memiliki kartu tanda anggota. Karena menurutnya program Kartanu adalah sebagai bentuk kedisiplinan anggota terhadap organisasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Targetnya Rp 200 ribu lebih, dan ini sebagai wujud kedisiplinan organisasi, sebagai anggota sudah selayaknya bisa memiliki kartu anggota, apalagi Jombang kota santri,”imbuh kyai yang juga dosen Unipdu Peterongan Jombang ini menambahkan.?

Sementara itu, Mahwal Huda, Koordinator pelaksanaan Kartanu meminta seluruh Banom ikut aktif mensosialisasikan program PWNU Jatim ini. Dengan keterlibatan Banom target pelaksanaan kartanu di Kabupaten Jombang akan berhasil. “ Kita juga berharap kalangan pesantren juga ikut berperan mensukseskan Kartanu ini,” tandasnya.

Mahwal menambahakan, ada beberpa manfaat dengan adanya Kartanu ini diantaranya adalah untuk konsolidasi organisasi karena semuanya terlibat hingga ranting. “Termasuk ? manfaatnya adalah pemegang juga mendapatkan adanya potongan biaya ketika berobat di RS NU, RS Medika Darul Ulum dan RS Muslimat,”tandasnya.

Ditambahkannya, PCNU Jombang telah melakukan sosialisasi awal yang langsung diikuti ratusan pengurus MWCNU dan ranting. Dan dalam sosisialisasi juga dilakukan pemotretan.

”Antusias pengurus sangat tinggi, terbukti sosialisasi pertama sebanyak 313 Kartanu langsung tercetak,”imbuh wakil sekretaris PCNU Jombang seraya mengatakan pemotretan hingga kartanu bisa jadi hanya membutuhkan waktu 10 menit.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Syariah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Silatnas PKPT IPNU IPPNU Rumuskan Kaderisasi di Peguruan Tinggi

Banyuwangi,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Silaturahmi Nasional Ke-IV Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) se-Nusantara dihelat di Banyuwangi pada Sabtu-Ahad (27-28/2).

Silatnas PKPT IPNU IPPNU Rumuskan Kaderisasi di Peguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Silatnas PKPT IPNU IPPNU Rumuskan Kaderisasi di Peguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Silatnas PKPT IPNU IPPNU Rumuskan Kaderisasi di Peguruan Tinggi

Acara yang dibuka bersamaan dengan pelantikan PC IPNU IPPNU Banyuwangi masa khidmat 2015-2017 tersebut dilangsungkan di auditorium KHR. As’ad Syamsul Arifin, IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi.

Silatnas yang diikuti PKPT dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta tersebut, diagendakan untuk membahas prosedur kaderisasi IPNU maupun IPPNU bagi kalangan mahasiswa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fahmi Nuris Syafaat, salah satu koordintor nasional PKPT IPNU menjelaskan tujuan dari Silatnas tersebut adalah untuk merumuskan matari-materi kaderisasi yang akan diterapkan di kalangan mahasiswa.

“Materi kaderisasi bagi IPNU di kalangan mahasiswa, tentu berbeda dosisnya dengan materi kaderisasi IPNU di tingkat SMP maupun SMA. Jadi perlu ada rumusan khusus untuk menyesuaikan dengan perkembangan intelektualitas dan iklim di kampus,” ungkapnya di sela-sela acara pembukaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain membahas tentang kaderisasi, Silatnas tersebut juga akan membahas tentang bidang garap, positioning PKPT dan hal ihwal legalitas PKPT. Di luar agenda organisasi, forum yang mempertemukan pengurus PKPT lintas daerah tersebut juga bertujuan untuk merekatkan kebersamaan serta mengenal daerah sama lain. Khoirul, ketua PKPT IPNU IAI Ibrahimy, Banyuwangi, selaku tuan rumah akan mengajak rombongan PKPT IPNU IPPNU se-Nusantara tersebut untuk berziarah kepada tokoh-tokoh NU Banyuwangi dan mengenalkan beberapa potensi wisata andalan di Banyuwangi.

“Besoknya, kita akan ajak berziarah ke makam KH. Zarkasyi Djunaidi dan bertamasya ke pantai di Banyuwangi,” paparnya.

Acara tersebut dibuka oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Mantan ketua umum IPNU masa khidmat 2000-2003 tersebut berpesan bahwa berproses di IPNU tersebut merupakan bagian penting dalam peningkatan Sumber Daya Manusia.

“Investasi yang paling penting bukan membangun rumah, membeli sawah, atau membeli mobil, tapi investasi yang paling penting adalah investasi SDM bagi keluarga dan bangsa,” ungkapnya.

Ia menambahkan di IPNU inilah karakter kepemimpinan sebagai bagian dari peningkatan SDM, saya dapatkan. “Bagaimana mengeksekusi gagasan, mendapatkan tantangan dan penolakan dari bawah, saya pelajari. Sehingga saat saya menjadi bupati tidak kaget dengan yang demikian, kenangnya.” (Anang Lukman Afandi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 Desember 2017

Ingin Lulus, Santri di Pesantren Al Ishlahiyah Diuji Tujuh Orang

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Yayasan Pondok Pesantren Al Ishlahiyah mengelar ujian munaqosah bagi setiap santri lulusan madrasah diniyah Al Ishlahiyah pada 24-27 Mei 2016. Ujian ini hampir seperti ujian skripsi di perguruan tinggi. Ada tujuh penguji yang akan melihat kemampuan para santri dalam membaca kitab, nahwu, shorof, fiqih, dan lain sebagainya. Orang tua atau wali santri dapat menyaksikan prosesi ujian tersebut.?

Dalam ujian tersebut santri memang benar-benar diuji sejauh mana kemampuannya dalam pemahaman agama. Tentu disamping ujian itu, pertimbangan soal akhlak dan moral santri sehari-hari menjadi penilaian utama, karena moral santri adalah bekal kehidupan nyata untuk santri sampai kapanpun.

Ingin Lulus, Santri di Pesantren Al Ishlahiyah Diuji Tujuh Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Lulus, Santri di Pesantren Al Ishlahiyah Diuji Tujuh Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Lulus, Santri di Pesantren Al Ishlahiyah Diuji Tujuh Orang

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al Ishlahiyah Nyai Anisah Mahfud menjelaskan, “Pendidikan akhlak merupakan upaya untuk mensinkronkan perilaku manusia (lahir-batin) dengan doktrin agama sehingga agama benar-benar menjadi jalan hidup bagi penganutnya. “?

Ia menambahkan, terbangunnya akhlak yang baik inilah yang menjadi tujuan diutusnya Rasulullah SAW. Pesantren adalah wahana pendidikan akhlak yang cukup signifikan karena pesantren merupakan tempat indoktrinasi nilai-nilai agama sekaligus sebagai laboratorium dan ruang praktikum penerapan ilmu yang didapatkan.?

“Keberadaan pengasuh pesantren yang satu atap dan pengawasan sepanjang waktu sangat menentukan keberhasilan pendidikan akhlak di pesantren,“ imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesantren Al Ishlahiyah didirikan oleh KH Mahfudz Kholil dan Nyai Hj Hasbiyah Hamid, yang merupakan sepupu KH Wahab Chasbullah. Red Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon, Hubbul Wathon minal Iman, Wala Takun minal Hirman, Inhadlu Alal Wathon. Demikian penggalan lirik lagu Syubbanul Wathon yang menggema di arena Festival Pramuka 2017 dalam rangka HUT Ke-416 Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (5/5) di Taman Rakyat Slawi (Trasa).

Lagu yang dibawakan grup Hadroh Pramuka Pondok Pesantren MA Mahadut Tholabah Babakan Lebaksiu, Tegal itu mampu memukau para pengunjung yang memadati Taman Rakyat Slawi.

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka

Selain, Syubbanul Wathon, beberapa lagu religi juga dibawakan yakni Sholawat Nabi dan Ya Rosululloh. "Mereka sudah terbiasa berlatih, baik di pesantren maupun di Madrasah," ujar Pembina MA Mahadut Tholabah Babakan, Dani Zakaria

Sekretaris Daerah Pemkab Tegal, dokter Widodo Joko Mulyono yang hadir tampak terpukau dengan ? penampilan Hadroh Pramuka.?

"Saya apresiasi Festival Pramuka ini, ada hadroh Pramuka. Ini menunjukan Pramuka juga bisa, tidak hanya berkemah saja," ungkapnya

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia yang juga Ketua Kwarcab Pramuka Tegal berharap, Festival Pramuka menjadi tradisi setiap tahun pada setiap HUT Kabupaten Tegal yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan.?

"Gelaran ini juga sebagai alat untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka yaitu membentuk manusia yang berkarakter, berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur sebagai warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila," tutur?

Ketua DKC Tegal, Septi Kusuma Putri selaku koordinator acara menambahkan, selain Hadroh Pramuka, ajang Festival Pramuka juga dimeriahkan serangkaian penampilan yakni Tari Mayong, Kreasi Kolone Tongkat, Deklamasi Puisi dan Senam MOP, Simulasi Bencana oleh Ubaloka Tegal, Tari Papua dan Demo Cuci Tangan. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Desember 2017

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok

Lombok Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Istilah Tuan Guru memang akrab dengan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tuan Guru merupakan sebutan, panggilan, sekaligus gelar dari masyarakat untuk ulama di daerah ini. Posisi Tuan Guru setara dengan Kiai di Tanah Jawa.

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok

Demikian penuturan Pengasuh Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan TGH Ahmad Taqiuddin Mansur kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah menjelang perhelatan Pra-Muktamar NU di kediamannya di komplek pesantren Bonder-Praya Barat-Lombok Tengah, NTB, Rabu (8/4) sore.

“Kalau kiai di sini itu banyak. Yang mandiin mayit, disebut kiai. Yang mimpin tahlil, dzikir, juga kiai. Banyak. Jadi, kiai di sini biasa aja. Nah, kalau tuan guru sangat langka. Bisa hanya satu perseribu orang. Seperti kiai di Jawa,” ujar TGH Taqiuddin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, lanjutnya, sekarang ini penduduk Lombok telah menerima istilah kiai sebagai seorang ulama. Mereka juga mampu menempatkan kiai pada proporsinya. “Yang jelas, masyarakat sini menyebut kiai seperti di Jawa itu sebagai Tuan Guru. Jadi, tidak semua orang bisa menjadi tuan guru,” tandas Ketua PWNU NTB ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut TGH Taqiuddin, sebutan Tuan Guru juga berlaku bagi seseorang yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. “Kalau belum haji, ya, ustadz atau guru biasa lah. Namun, tidak juga yang punya pesantren. Memang umumnya tuan guru itu memiliki pesantren. Satu hal yang kami kagumi dari seorang tuan guru adalah ketokohannya,” ungkap suami Nyai Hj Hattiyatul Malichah ini. ? ?

Dipanggil tuan guru, tambahnya, selain karena memiliki trah atau keturunan tuan guru pendiri pesantren, juga memiliki keilmuan yang mumpuni. Meski demikian, ia menyatakan berat sekali menyangga gelar tuan guru.

“Namun, rasanya lebih karena kesolehannya ya, bukan karena ilmunya saja. Tapi sikap wara’-nya itu. Nah, masyarakat lah yang akhirnya memberi gelar seperti itu. Cuman memang berat ya disebut tuan guru. Karena tuan guru kan nggak bisa bebas main bola,” selorohnya sembari tertawa.

Disinggung soal keterpilihan pesantren asuhannya sebagai tempat penyelenggaraan pra-muktamar, TGH Taqiuddin menjawab biasa saja, tidak ada sesuatu yang berlebihan apalagi istimewa. Yakni, karena posisinya sebagai Ketua PWNU NTB yang memiliki pesantren.

“Sederhana saja. Mungkin karena saya Ketua NU NTB yang punya pondok kali ya. Dan, pondok-pondok yang kami rekayasa untuk siap ketempatan ternyata susah juga. Tidak seperti di Jawa. Namun yang pasti, saya tidak ingin nilai-nilai pondok seperti di Jawa di sini jangan sampai hilang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Anti Hoax, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 Desember 2017

NU Care-LAZISNU dan LAZISMU Dorong Pemerintah Perkuat Regulasi Pengelolaan Zakat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (NU Care–LAZISNU) dan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah (LAZISMU), mendukung rencana pemerintah untuk memberikan intervensi dalam pengelolaan zakat di Indonesia. Hal tersebut terangkum dalam konferensi pers kedua lembaga zakat di Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (20/9) siang.

Dukungan kedua lembaga zakat disertai catatan bahwa pemerintah harus bersedia menguatkan regulasi pengelolaan zakat sebagaimana diatur dalam UU No. 23 Tahun 2012, pada pasal 22 dan 23. Dalam kedua pasal tersebut, status zakat di Indonesia hanya “sebagai pengurang penghasilan kena pajak“. Klausal ini menjadikan wajib pajak dan wajib zakat harus menambah beban pengeluaran jika ingin menunaikan kewajiban agama (berzakat) dan kewajiban berwarganegara (membayar pajak).

NU Care-LAZISNU dan LAZISMU Dorong Pemerintah Perkuat Regulasi Pengelolaan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU dan LAZISMU Dorong Pemerintah Perkuat Regulasi Pengelolaan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU dan LAZISMU Dorong Pemerintah Perkuat Regulasi Pengelolaan Zakat

NU Care-LAZISNU dan LAZISMU menilai, keinginan pemerintah untuk menyelaraskan program pengurangan angka kemiskinan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) adalah hal yang logis dan strategis baik dalam perspektif yuridis formal maupun ekonomi.?

Dalam perspektif yuridis formal, UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat mengamanahkan kepada BAZNAS untuk mengelola keuangan zakat yang diperolehnya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Maka, meski secara spesifik tidak disebutkan bahwa BAZNAS harus bersinergi program dengan pemerintah, namun tidak boleh dilupakan bahwa BAZNAS adalah lembaga milik negara.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Oleh karenanya, lembaga ini memiliki kewajiban untuk bersama-sama pemerintah mengentaskan kemiskinan. Penyelarasan ini juga menunjukkan kehadiran negara dalam kontrol terhadap kegiatan lembaga negaranya agar sesuai dengan blue print yang telah ditetapkan.

Ada pun dalam persepktif ekonomi, potensi dana zakat di Indonesia sangatlah besar. Berdasarkan data BAZNAS, potensi zakat pada tahun 2016 saja mencapai Rp217 triliyun. Nilai potensi angka tersebut setara dengan 10,4 persen dari APBNP 2016 yang mencapai Rp. 2.082 triliyun. Namun, kenyatannya realiasi perolehan zakat di Indonesia masih jauh dari ekspektasi, karena hanya berada pada kisaran Rp. 4 triliyun, atau baru menyentuh 1,8 persen dari jumlah potensi yang ada.?

Dalam upaya peningkatkan perolehan nilai zakat di Indonesia, NU Care-Lasiznu dan Lazismu meminta pemerintah melakukan supervisi dan dukungan penuh terhadap pengelolaan zakat di Indonesia. Apabila pemerintah benar-benar ingin melakukan intervensi dalam pengelolaan zakat di Indonesia, hal fundamental yang harus dikuatkan adalah mengubah regulasi “zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak” menjadi “zakat sebagai pengurang pajak”.?

Dengan adanya pergantian pasal tersebut, NU Care–LASIZNU dan LAZISMU yakin akan ada perubahan secara signifikan terhadap peningkatan perolehan nilai zakat yang selama ini belum optimal. Dampak positif lainnya akan terjalin sinergitas antara pajak dan zakat, karena para wajib pajak sekaligus dapat menunaikan zakatnya tanpa harus menambah beban pengeluaran.?

Lebih dari itu, untuk meningkatkan trust (kepercayaan) masyarakat terhadap Lembaga Amil Zakat (LAZ), semua LAZ harus bersedia melaporkan kondisi keuangan secara terbuka dan berkala, serta bersedia diaudit secara profesional. Hal ini selain untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas LAZ, juga sebagai alat kontrol pemerintah dalam memastikan penyaluran dana zakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, yakni untuk mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 25 November 2017

Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rapuhnya akhlak di kalangan generasi muda, menjadi faktor penyebab kenakalan remaja. Ahlak yang rendah sebagai akibat dari kurangnya pendidikan agama. Sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif. Padahal generasi muda menjadi tumpuan kehidupan bangsa dan negara di masa mendatang.?

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Assalafiyah Brebes KH Subkhan Makmun saat menyampaikah makalah pada Pembinaan Penyuluh Agama se Kab Brebes, di aula kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes, Senin (26/05/14).

Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Kiai yang terkenal tegas tersebut mengungkapkan, bahwa kenakalan remaja seperti pencurian, penipuan, perkelahian, pengrusakan, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, pelanggaran susila, pelecehan seksual dan lain-lain tengah merambah generasi muda. Keadaan tersebut diatas tidak bisa kita pungkiri tetapi bukan berarti untuk dibiarkan. Namun harus ada tindakan kongkrit dari dai dan pendidik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata Kiai Subkhan, ada upaya-upaya yang dapat diambil dalam penanggulangan kenakalan remaja. Antara lain melalui pertama, tindakan preventif berupa peningkatan kesadaran orang tua tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik pertama dan utama. Kedua, menjalin komunikasi yang efekttif antara Tsalasa Usul (Tri pusat pendidikan), antara keluarga, sekolah dan masyarakat bersinerji dalam satu bahasa menangani kenakalan remaja. Langkah ketiga menanamkan ajaran agama dan nilai-nilai akhlak dan keempat memfasilitasi atau mengisi waktu-waktu luang dengan hal-hal bermanfaat.?

“Sesungguhnya, sifat muda, pengangguran dan kecukupan harta yang tidak terkendali menjadi sumber kerusakan bagi seseorang,” kata Kiai Subkhan menyitir sebuah syair.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun demikian, Keluarga tetap menjadi yang pertama sebagai madrasah keluarga. Di dalam keluarga bisa berfungsi sebanya pusat belajar agama, cinta kasih, sosial budaya, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan.?

Sebagai dai dan pendidik, lanjutnya, adalah sebagai sumber teladan. Karena tidak hanya berfungsi menginformasikan ilmu saja tetapi harus berupaya membersikan diri dan mengarahkannya ke akhlaqul karimah. Jiwa dan raganya bisa mencerminkan keagungan ilmu dan mengindahkan syariat.?

Untuk itulah, sebagai dai dan pendidik harus mempunyai niat nasrul ilmu, ketulusan hati, mencontoh kebenaran dan kembali kepada yang haq serta berdoa untuk umat dan peserta didik.?

“Langkah-langkah tersebut tentunya dengan bersandar kepada Allah SWT,” papar Kiai Subkhan.

Pembinaan penyuluh agama, di prakarsai Kantor Kemenag Brebes sebagai upaya turut membangun akhlak bangsa. Kepala Kantor Kemenag Brebes H Imam Hidayat menjelaskan, pembinaan diikuti 268 penyuluh agama non PNS se Kabupaten Brebes. Para penyuluh ini, merupakan sukarelawan yang direkrut Kantor Urusan Agama tiap Kecamatan.?

“Mereka bekerja sukarela dan ikhlas dengan mengharap Ridlo Allah SWT,” kata Imam Hidayat.? (wasdiun/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, PonPes, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 18 November 2017

Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menyikapi berbagai bencana alam yang terjadi di sebagian wilayah di Indonesia, puluhan kader Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Solo mengadakan aksi damai dan doa bersama di bundaran Gladak Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/1).

Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Solo Gelar Aksi Damai dan Doa Bersama

“Aksi damai ini sebagai rasa keprihatinan kami tentang musibah-musibah yang terjadi seperti banjir, gempa bumi dan tanah longsor,” kata Ketua IPNU Solo, Ahmad Khabhibi.

Selain itu kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke-88. Untuk itu Khabhibi berharap, dalam momentum ini segenap warga Nahdliyyin juga turut berdoa untuk kebaikan NU ke depannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aksi tersebut diselingi dengan orasi suara pelajar NU untuk bangsa, istighotsah, puisi, tanda bakti IPNU untuk bangsa dan NU, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars IPNU

Dalam salah satu orasi, kader IPNU Solo berpesan agar masyarakat ikut menjaga kondusifitas, sebab menurutnya tahun ini merupakan tahun politik yang rawan akan konflik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Syariah, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 November 2017

GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme

Sumenep, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sumenep, Jawa Timur menggelorakan "Sumenep Waspada". Hal itu menyusul indikasi kian merebaknya paham radikalisme dan gerakan terorisme yang mengancam ketenangan bangsa Indonesia.

"Karena itu, Kamis (21/1) besok pukul 08.00 WIB, sahabat-sahabat ketua dan sekretaris Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Sumenep akan mengadakan kampanye simpatik di depan Masjid Jamik," terang Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen, Rabu (20/1).?

Menurut alumnus Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep tersebut, tema yang diusung ialah Sumenep Waspada. Yaitu, waspada terhadap terorisme, radikalisme agama, dan aliran Sesat dengan membagikan stiker kepada para pengendara sepeda motor, mobil, dan pejalan kaki.

GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gelorakan Sumenep Waspadai Terorisme

"Indonesia kini mengalami ancaman besar berupa radikalisme agama dan terorisme. Ini sudah menjadi persoalan akut yang mesti kita lawan melalui aksi penyadaran kepada khalayak," terang M Muhri.

Dalam konteks lokal, tambah mantan Ketua Umum PC PMII Sumenep tersebut, di Kabupaten Sumenep kini terdapat gerakan aliran atau paham keagamaan yang mengancam keutuhan bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Memang Indonesia menjadi incaran paham radikalisme, karena tergolong berpenduduk muslim terbesar di dunia. Begitu halnya di Sumenep. Penyikapan terhadap aliran atau paham yang nyeleneh menjadi fokus gerakan kami," paparnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Nasional, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 09 November 2017

IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Ikatan Pelajar NU (IPNU) akan melakukan launching buku pedoman pengkaderan baru pada tanggal 11 April 2005 di Gedung PBNU Lt 8. “Kongres IPNU ke 14 di Surabaya yang mengembalikan IPNU sebagai organisasi pelajar dari organisasi pemuda menyebabkan reparadigmatisasi gerakan sehingga perlu dibuat konsep pengkaderan yang baru” ungkap Ketua Umum IPNU Mujtahidur Ridho, Sabtu.

Dalam launching tersebut, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi diharapkan memberikan orasi tentang “Titik Nol Pengkaderan NU”. Setelah launching, acara akan dilanjutkan dengan dialog tiga generasi yang mengambil tema “NU dan Degradasi Kader” dari tokoh-tokoh IPNU yang mewakili generasinya dan dipanel dengan akademisi dan peneliti NU.

Selanjutnya akan dilakukan palatihan pelatih tingkat nasional yang akan berlangsung selama 4 hari (11-15 April) bertempat di Gedung MUI (Wisma Khodimul Ummah) Puncak Bogor.

Buku pengkaderan yang akan dilaunching tersebut merupakan hasil keputusan rapat kerja nasional (Rakernas) I IPNU yang diselenggarakan Juli 2004 di Pekanbaru Riau. Penyusunan buku ini telah melalui proses panjang sebelum diputuskan di Rakernas. Didahului dengan diskusi-diskusi tim pengkaderan pimpinan pusat, dilanjutkan dengan workshop pengkaderan di PP Al Masturiyah Sukabumi dan berakhir di sidang komisi pengkaderan di Rakernas.

Sementara itu dialog tiga generasi akan meneropong lebih dalam dan jauh mengenai perjalanan pengkaderan di NU yang mengalami pasang surut. Masa-masa sulit pengkaderan tidak terlepas dari instrumen pengkaderan yang mendukungnya, termasuk didalamnya konsolidasi badan-badan otonom dibawah NU yang menjadi pilar utama pengkaderan yang juga mengalami pasang surut dan dinamika organisasi yang luar biasa.

IPNU misalnya, setelah hampir 30 tahun konsolidasi basis kadernya berada di sekolah dan pesantren, pada tahun 1989 meluas ke berbagai sasaran garap yang disebabkan perubahan dari “pelajar” menjadi Putra, atau PMII dari organisasi mahasiswa resmi di bawah NU menyatakan independen dari NU.

“Mampukah IPNU menjadi pelopor pembaharuan kaderisasi di tubuh NU? Sanggupkan NU menjadi mediasi distribusi kader ke seluruh potensi kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Pelatihan pelatih akan diikuti peleh pimpinan pusat sebanyak 10 orang, utusan masing-masing cabang se DKI 2 orang dan masing-masing wilayah 2 orang. Pelatihan ini akan menggunakan standar kurikulum pelatihan pelatihn yang ada di buku pedoman pelatihan. Selain itu juga akan diisi dengan penyampaian isu-isu aktual sebagai bahan analisis peserta untuk mempertajam kerangka piker dari beberapa narasumber yang ahli dibidangnya.

Beberapa materi adalah NU dan pengembangan SDM, IPNU dan tantangan globalisasi, Aswaja dan konsep gerakan kepelajaran, prinsip dan falsafah pelatihan, psikologi pelatihan, methodologi pelatihan, media dan manajemen pelatihan, pengembangan kurikulum, psikologi perkembangan remaja, dan methodologi evaluasi pengembangan pelatihan.(mkf)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru

Kamis, 12 Oktober 2017

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah dinilai panik dan frustasi menyikapi persoalan perberasan yang meruncing karena harga beras di banyak tempat telah naik tajam. Keputusan pemerintah menambah jumlah beras impor sebesar 500.000 sangat membahayakan ketahanan pangan Indonesia.

”Bagi saya, ini sungguh keputusan politik yang tergesa-gesa. Alasan-alasan yang dibangun juga sangat klasik, produksi yang turun, konsumsi naik, jumlah penduduk naik, dan alasan-alasan instan reaktif lainnya,” kata KH. Mohammad Maksum, Wakil Ketua Penguruts Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Yogyakarta, Kamis (15/2).

Menurut Maksum yang juga peneliti di Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) Universitas Gajah Mada (UGM), semua pihak harus duduk bersama dan mencermati urusan pangan dari perpektif jangka panjang. Keberlanjutan ketahanan dan kedaulatan RI harus diprioritaskan.

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Impor Beras Berbahaya bagi Ketahanan Pangan

“Banyak yang harus kita telah sehingga tidak reaktif -impor begitu saja. Padahal itu membahayakan kedaulatan pangan dan RI kita. Selain itu impor beras untuk kebutuhan Operasi Pasar itu lebih banyak mubazirnya,” kata Maksum.

Dikatakan, mestinya pemerintah berangkat dari mempertanyakan kenapa OP yang baru-baru ini digencarkan selalu gagal dan tidak efektif. Menurut teori OP berfungsi untuk menyetabilkan harga, namun kenyataannya tidak demikian. “Misteri itu harus diungkap.. Harus kita sadari bahwa misteri itu ada,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gejolak perberasan memang menjadi kebiasaan tahunan. Pada Januari-Februari tahun ini kenaikan harga beras termasuk paling dahsyat. Namun, kata Maksum, perlu diingat bahwa ada kelambatan panen di satu fihak dan ada manipulasi pasar di fihak lain. Pembangunan pertanian harus dilakukan secara sistemik pernah sistemik dan tidak reaktif begitu saja.

”Apakah dengan impor persoalan selesai? Saya yakin tidak! Kecuali kita reorientasi membangun bangsa ini dengan mementingkan pertanian dan kaum sebagai kiblat dan pusat perhatian, bukan hanya sebagai semboyan seperti dulu. Tanpa memahami sistem pasar yang terjadi di balik dinamika harga ini, solusinya pasti reaktif, jangka pendek, dan tidak pernah selesaikan persoalan,” katanya. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah