Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Ser, Banser Nasibmu

Oleh KH Ubaidillah Shodaqoh



Sebagai Nahdliyyin saya sering bersentuhan dengan Banser. Pengajian rutin, akbar, karnaval, penanggulangan bencan, mantu sampai parkirpun mereka terlibat. Dus, saya sebagai warga negara merasa kapiran kalau tidak ada Banser.

Saya sering iseng menggoda mereka dengan meminta rokok. "Mas, minta rokoknya, mas," kataku.?

Ser, Banser Nasibmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ser, Banser Nasibmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ser, Banser Nasibmu

Mas Banser itu pun meraba-raba kantongnya di baju tebal seragamnya. Satu menit kira-kira dia baru berhasil mengeluarkan bungkusan rokok. Ketika disodorkan padaku, ternyata tinggal dua batang yang sudah bengkong hampir putus karena tertekan-tekan dalam kantong sempitnya. Itu pun Dji Samsoe yang dapat diisap sampai batas maksimal karena tidak berfilter.

Aduh…, gagah-gagah demikian rokoknya eceran.?

Betul juga guyonan KH Hasyim Muzadi. Mereka hanya mampu membeli rokok eceran. Dalam acara-acara pengajian dan lainnya mereka pun diberi konsomsi paling akhir. Ya, kalau snack dan makanan besar sudah cukup untuk tamu-tamu dan jamaah tentunya. Kalau tidak, ya makan seadanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pernah ketika saya ndereake pak kiai di kabupaten Semarang. Ia dijemput delapan Banser yang menaiki empat motor. Ada yang gendut, gagah, tapi motornya bebek kuno Yamaha. Untuk melancarkan perjalanan kiaiku, empat pembonceng membawa peluit satu-satu. Mereka meniup bergantian untuk menyibak kemacetan jalan. Ya, jangankan sirine, sumpritan saja kayaknya sudah berkarat.

Bayangkan, malam mengawal dan mengamankan acara. Pagi mereka harus bekerja mencari nafkah. Ada tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, tukang batu atau kuli batu. Demi khidmah pada guru dan kiai, mereka rela berpayah-payahan. Mungkin di rumahnya hanya tersedia beberapa liter beras saja. Tapi juga ada dosen, pedagang, dan bahkan doktor yang golongan ini sebagai pendonor cigaret atau jajan mereka.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selama ini, kemana pun saya blusukan di Jateng, selalu menjumpai Banser. Setiap keramaian di Pantura maupun Jawa bagian selatan. Dalam penanggulangan bencana. Masyaallah, tanpa upah, tanpa bayaran, mereka berkhidmah pada masyarakat di lapisan apa pun.

Hah... kalau sejarah perjuangan membela negara janganlah bertanya lagi. Cikal-bakalnya selalu aktif melawan penjajah. Apalagi masa revolusi 65. Betapa besar jasanya meskipun setelah lahir Orde Baru, mereka digencet segencet-gencetnya, namun tak melawan tak mengeluh, tetap berkhidmah pada masyarakat.

Kini ketika NKRI terancam, mereka pun tak mau bertumpang dagu pura-pura dungu. Nahi munkar dengan mencegah provokator kerukunan umat yang berkoar-koar di masjid. Mereka tidak tega ulamaknya diperolok-olok dan dijelek-jelekkan sebagai ahli bid’ah. Mereka tidak rela Pancasila sebagai kesepakatan umat dilecehkan. Bukan hanya rokok dua gelintir taruhannya, tapi juga nyawa mereka.

Nah, meskipun ada beberapa tokoh di Jakarta yang tidak simpati pada langkah yang diambil kawan-kawan Banser dan bahkan sinis dan menyebarkannya seantero dunia lewat dunia maya, namun bersabarlah kawan-kawan semua bahwaganjaran Gusti Allah Taala atas keiikhlasamu menjaga NKRI sebagai rumah pengamalan Islam Aswaja NU, jauh lebih berharga dan banyak dibanding dengan tepuk tangan riuh dan pujian para politisi di pusat.?

Ser, Banser, tetaplah terukur dan terarah, ikuti komando pimpinanmu dan nasihat para ulamakyai. Lillahi Taala… Lillahi Taala…Lillahi Taala.

Ser, Banser, semoga amalmu diterima oleh Gusti Allah, dan rizekimu lancar sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor, dan yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran.

Penulis adalah Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 Januari 2018

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II

Kediri, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kickoff Liga Santri Nusantara (LSN) Regional Jatim II resmi dibuka Asisten Pemerintahan dan Kesra Mandung Sulaksono di Lapangan Sepak Bola Brawijaya Kediri, Rabu (24/8). Regional Jatim II meliputi Kediri, Jombang, Malang, Batu, Nganjuk, Blitar, dan Tulungangung.

Kota Kediri mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Region II Jawa Timur dalam gelaran LSN 2016 yang digelar mulai 24-31 Agustus. Dalam kompetisi ini akan ada 17 tim yang berlaga.?

Dalam sambutanya, Mandung mengatakan Pemerintah Kota Kediri mengapresiasi digelarnya Liga Santri ini. "Ini merupakan suatu dorongan bagi dunia sepak bola. Dalam kompetisi ini banyak santri-santri berbakat dalam dunia sepak bola yang bermunculan," ujarnya.

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Tuan Rumah, Pemkot Kediri Sambut Baik LSN Regional Jatim II

Lebih lanjut, Mandung menambahkan agar dalam pertandingan ini para pemain tetap menjaga sportifitas. "Junjung dan jaga terus sportifitas. Untuk para pemain yang sedang tidak bertanding kalian bisa jalan-jalan untuk mengunjungi beberapa tempat di Kota Kediri," imbuhnya.

Mandung mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah mempercayai Kota Kediri menjadi tuan rumah pada pelaksanaan Liga Santri Nusantara regional Jatim II ini. "Kota Kediri menjadi tuan rumah Liga Santri Nusantara regional Jatim II ini terasa istimewa. Sebab, kompetisi ini merupakan kali pertama bagi Kota Kediri menjadi pelaksana," ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lelaki yang menduduki posisi Kesra di Pemkot Kediri ini menambahkan, demi menyambut baik kepercayaan Kemenpora terhadap Kota Kediri dalam pelaksanaan LSN Regional Jatim II, Pemkot Kediri akan berusaha keras untuk suksesnya liga santri ini, "Sebagai tuan rumah yang baik, Pemkot Kediri akan berusaha keras demi terciptanya liga yang kompetitif dan sportif," jelasnya.

Mandung yang mewakili Walikota Kediri juga berharap pelaksanaan LSN bisa dimaksimalkan oleh pesantren untuk menghasilkan pemain sepak bola yang mumpuni . Dengan demikian, ke depan Timnas Indonesia tidak akan pernah kekurangan pemain berbakat untuk membela nama bangsa dan negara.



Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Hadir dalam Kickoff LSN ini para Pengasuh Pondok Pesantren Kota Kediri, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga, serta Manajer Persik Kediri. (Red-Zunus). Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Amalan, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Januari 2018

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Forum Kerukunan Umat Beragama Generasi Muda (FKUB GM) Jawa Tengah yang baru pertama ada di Indonesia dan menjadi percontohan, Jum’at (30/12) kemarin dikukuhkan. pengurusnya dilantik.

Pelantikan dilaksanakan di Hotel Muria, Jl Dr Cipto Semarang, oleh Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih didampingi Kepala Badan Kesbangpollinmas Jateng Agus Tusono dan seluruh pengurus FKUB Jateng.

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Disaksikan hadirin utusan FKUB kabupaten/kota se-Jateng dan pejabat Kantor Kanwil Kemenag Jateng, organiasi baru para aktivis muda lintas agama itu dikukuhkan untuk berkiprah menjaga kerukunan umat beragama di kalangan generasi muda.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka terdiri atas Ketua Imam Fadhilah (Islam), Wakil Ketua Iqbal Birsyada (Islam), Wakil Ketua Pdt Timotius Setyanto (Kristen), Sekretaris Titus Bayu Santoso (Katholik), Sekretaris II Chandra Purnama Sari (Budha), Bendahara Eko Pujianto (Hindu) Bendahara II Giyanto Wijaya Salim (Kong Hu Chu). 

Ditambah para pengurus bidang yang mewakili unsur enam agama di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dibentuk di Seluruh Jateng

Ketua FKUB Jateng Abu Hapsin Umar didampingi jajaran pengurus menyatakan, pihaknya akan berupaya membentuk FKUB GM di seluruh kabupaten atau kota se-Jawa Tengah.  Targetnya, dalam tahun 2012 bisa selesai di 35 daerah di Jateng.

 “Kami mengupayakan agar FKUB GM bisa terbentuk di seluruh kabupatan/kota se-Jateng dalam tahun 2012 ini. Semoga ini kepeloporan ini membawa kebaikan dan bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” tuturnya.

Ketua FKUB GM Iman Fadhillah menyatakan, forum yang dipimpinnya bertugas membantu FKUB yang sudah ada dalam upaya menjalin dialog antar umat beragama di kalangan generasi muda.

“Kami akan menjadi fasilitator bagi para pemuda lintas agama untuk membicarakan isu-isu strategis dalam relasi antar agama,” terang akvitis muda Nahdlatul Ulama ini.

Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini menambahkan, forumnya telah menggelar rapat kerja dan memprogramkan banyak kegiatan. Diantaranya mengadakan Kongres Pemuda Antaragama yang mempertemukan pemuda lintas agama dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Rustriningsih dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda Jawa Tengah terus menjaga kerukunan antarumat beragama agar tercipta suasana yang guyub, dan harmonis. Ia meminta pengurus FKUB GM Jateng membangun terus komunikasi lintas agama.

“Fasilitasi aspirasi umat dengan baik dan sosialisasikan kebijakan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama.”

Rustri berharap FKUB GM menjadi pionir dalam kehidupan sosial, dengan  program pemberdayaan  masyarakat dalam aktivitas yang positif seperti bhakti lingkungan, peduli korban bencana, dan pelatihan kerja.

Secara khusus Wagub menyampaikan penghargaan kepada Gerakan Pemuda Ansor yang pasukannya, Banser,  selalu membantu pengamanan perayaan Natal.

“Hal itu sebagai wujud nyata kerjasama lintas agama untuk mendukung toleransi dan kerukunan beragama,” ucapnya seraya mendukung pembentukan FKUB GM di daerah di Jawa Tengah.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Internasional, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 10 Januari 2018

Yang Sibuk Duniawi Belum Terlambat Raih Lailatul Qadar

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ramadhan telah membimbing kita untuk menyeimbangkan hubungan harmonis hamba dengan Sang Khalik dan manusia dengan manusia. Bila keduanya bisa sama-sama berjalan dengan baik, maka akan tercapai kefitrian manusia.

Yang Sibuk Duniawi Belum Terlambat Raih Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Sibuk Duniawi Belum Terlambat Raih Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Sibuk Duniawi Belum Terlambat Raih Lailatul Qadar

Pandangan tersebut disampaikan Imam Besar Masjid Agung Brebes KH Rosyidi saat bincang-bincang dengan Pondok Pesantren Attauhidiyyah di rumahnya, Jalan KH Kholid Barat Brebes, Kamis (30/6).

“Manusia, harus menjalin hubungan yang seimbang dengan Allah SWT maupun sesama manusia,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Rosyidi menjelaskan, hubungan dengan Allah berupa pokok-pokok peribadatan sebagaimana termaktub dalam rukun Islam, yakni membaca dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji serta ibadah-ibadah lainnya. Sedangkan hubungan dengan manusia dengan manusia, berupa berbuat baik kepada tetangga, kerabat, dan handai taulan dan termasuk dengan alam raya. “Kedua hubungan tersebut harus terus dijaga sepanjang masa,” ucapnya.

Lewat puasa, lanjutnya, kita diarahkan untuk memperbaiki kembali hubungan baik dengan Allah SWT. Puasa menjadi cara ampuh untuk mengharmonisasi hubungan tersebut, karena penilaiannya langsung dilakukan oleh Allah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Hubungan spesial ini menjadikan kita mengintrospeksi dan berbuat jujur dengan apa adanya serta tidak ada intervensi dari pihak manapun karena didasari oleh keimanan,” terang mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Brebes tempo dulu itu.

Di ujung Ramadhan, sambungnya, keberadaan manusia digiring untuk berbuat baik dengan sesama manusia. Yakni dengan tradisi silaturahim yang lebih kita kenal halal bi halal.

Kenapa manusia kadang lalai berbuat baik untuk Sang Khalik dan sesama manusia? Karena manusia telah disatukan dengan jasad. Ketika di alam arwah, ruh telah berjanji akan selalu taat dan berbuat baik kepada sesama manusia. Namun ketika bersatu dengan jasad dan dilahirkan ke alam dunia, manusia memiliki nafsu dan nafsu itulah yang menjadikan ruh lupa dengan janjinya.

“Agar tidak lupa dengan janjinya, jasad dan ruh manusia harus berpuasa untuk mengingatkan kembali hal-hal terbaik yang harus dilakukan untuk menuju jalan yang lurus dan diridhai-Nya,” tutur pria kelahiran Brebes 8 Oktober 1937 itu.

Dalam suatu hikayat, ada seorang perempuan yang sempurna ibadahnya kepada Allah SWT. Namun dengan tetangganya dia tidak baik. Di hadapan Rasulullah, wanita itu tidak bisa masuk surga akibat berbuat zalim dengan tetangganya.

Belum Terlambat

Tentu, kita berharap pada Lebaran nanti menjadi orang yang sukses berupa kembali ke fitrah. Apalagi, di bulan Ramadhan ada malam yang lebih baik dari seribu bulan yakni malam Lalilatul Qadar yang bisa kita raih dengan ikhtiar.

Allah, tambahnya, tidak menjelaskan secara pasti kapan datangnya Lalilatul Qadar tetapi kita harus terus-menerus mencari dengan berjaga sepanjang malam. Dalam artian bukan begadang, namun kita isi malam itu dengan membaca Al-Qur’an, dzikir, shalat tasbih, dan i’tikaf.

Ciri-ciri orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar tergambar jiwa dan kehidupannya tenang, serbabaik, mendapat barokah dari Allah SWT.

Hanya saja, tutur Kiai, banyak orang yang tidak menyempatkan i’tikaf karena lebih mementingkan kehidupan duniawi belaka. Berbagai sebab telah membuat manusia lalai dengan perburuan Lailatul Qadar akibat terlalu keras bekerja sehingga kecapekan, nonton bola, maupun memilih bermedsos ria. “Meski demikian, kita belum terlambat, mudah-mudahan kita bisa meraihnya untuk menyeimbangkan hubungan vertikal dan horizontal bisa terwujud dan meraih surga-Nya, Amin,” pungkasnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 01 Januari 2018

Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri)

Oleh  Rif’atuz Zuhro 



Perbaikan kaderisasi di tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sedikit dan banyaknya telah dirasakan oleh kader-kader PMII se-Indonesia, entah penerimaan di setiap kader daerah merasa semakin maju atau malah sebaliknya, tentu mereka mempunyai takaran yang berbeda dalam sisi menentukan berkembang dan tidaknya. Sebagai organisasi kaderisasi, jelas PMII tidak luput dari upaya-upaya upgrading baik dalam segi materi, konten, silabus, atau bahkan akan dicetuskannya kurikulum dalam ber-PMII. Termasuk memberikan ruang terbuka untuk kader-kader Korp PMII putri (Kopri) untuk memperbaiki dan menyerukan perubahan dalam ranah publik.

Tiga tahun terakhir, PB PMII memperkenalkan istilah baru yang sebelumnya belum digunakan dalam kaderisasi formal PMII dalam membungkus istilah pergerakan kaum perempuan, yakni Nahdlatun Nisa’ atau kebangkitan perempuan. Bisa jadi dua kemungkinan, pertama untuk membuat hubungan PMII dan NU semakin terlihat harmonis (setelah keputusan Muktamar ke-33  NU di Jombang yang memutuskan PMII sebagai banom kemahasiswaan NU), istilah yang biasanya nampak liberal seperti gender dan feminisme lantas dibungkus dengan istilah Nahdlatun Nisa’. Kedua, memang ada niatan baik untuk memberikan ruang bahkan mendorong kader Kopri untuk bangkit dengan membawa perubahan dalam masyarakat di berbagai sektor, seperti sosial, politik, pendidikan, budaya, dan ekonomi.

Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri) (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri) (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdlatun Nisa’ (Korp “PMII” Putri)

Dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sendiri terdapat IPPNU, Fatayat NU, dan Muslimat NU sebagai wadah perjuangan perempuan Nahdliyin. Bahkan ada salah satu tokoh Muslimat NU favorit penulis yakni mantan ketua umum PP Muslimat NU yakni Asmah Sjachruni yang terkenal dengan sebutan singa podium. Ada kalimatnya yang terangkai rapi yang dapat menyulut api semangat perempuan Nahdliyin.  

“Jangan meminta jatah atau keistimewaan karena kodrat perempuan kita. Tapi kita harus menuntutnya jika memang layak untuk kita. Jadi, ada perjuangan. Kalau perlu kita rebut posisi itu dengan argumentasi yang tepat. Itu namanya berjuang. Jangan sekali-kali berharap diberi. Tak bakalan wanita akan diberi hak-hak yang lebih tinggi oleh kaum pria.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Asmah Sjacruni, ia adalah salah satu tokoh perubahan yang lahir dari rahim Muslimat NU, karakter cerdas, kuat, tegas akan nampak apabila pembaca mau mengenal lebih dalam lagi sosok perempuan baja tersebut. Selain itu, banyak tokoh-tokoh perempuan NU lintas generasi yang patut diteladani, seperti Ny Khoiriyah Hasyim, Ny Mahmudah Mawardi, dll. Terbaru, Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansah, ketua umum PP Muslimat NU periode 2017-2022 yang  juga merupakan alumnus PMII yang lahir dari rahim Kopri. Mungkin, (opini penulis) inilah yang menjadi harapan besar untuk membawa pergerakan kader puteri PMII untuk mengerucut sebagai basis kaderisasi dari Muslimat NU, karena sudah terbukti, kader PMII mampu melahirkan kader mumpuni yang mampu menyokong dan membawa organisasi banom NU dengan apik. Namun, jelas pilihan tetap ada pada jati diri dan kemauan kader untuk menyalurkan hasrat berjuang dalam ranah dan wadah yang mana.

Mau tidak mau, kader Kopri memang harus bangkit, bangkit dari debat kusir dan mematangkan strategi untuk mengaplikasikan tujuan besar Kopri yakni, terbentuknya pribadi muslimah Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. 

Kopri merupakan bagian dari instrument membumikan ideologi Aswaja, oleh karena itu, kader Kopri harus cerdas mengurai secara sistematis tentang Aswaja serta posisi dan pembacaannya terhadap konteks kebutuhan terkini untuk sebuah misi pembebasan dari ketidakadilan. Kekerasan, marginalisasi, stereotype, subordinasi, dan beban ganda masih sangat akrab dengan perempuan Indonesia.

Apabila pergerakan kader Kopri masih stagnan dan setia berjalan di tempat, jangankan berkontribusi untuk membawa perubahan, dikenal masyarakatpun tidak. Karenanya, perempuan harus kuat dan progresif dalam mengamalkan ilmunya, proaktif melepaskan belenggu yang mengikat kaki dan tangannya, tidak hanya dirinya namun juga saudara sesama manusianya yang disebut perempuan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidaklah mungkin, perjuangan tanpa ideologi yang jelas, dunia tanpa ideologi akan hancur dan berantakan, begitupun juga dengan Kopri, garis perjuangan politik atau jihad sistematis yang berlandaskan Aswaja harus tertata dan dijiwai dengan tepat. Pembacaan teks dan konteks keadaan harus dibaca dengan cermat dan tegas oleh perempuan. Nilai tawar, penyaluran kader, jelas mesti di perkuat di berbagai sektor. Tentu tidak hanya dalam ranah politik, namun penyaluran kader mesti harus sesuai dengan minat dan bakat kader itu sendiri.

Berdasarkan kurikulum PB Kopri PMII, terdapat tiga pilar yang harus diperjuangkan oleh kader putri. Pertama, Al-Khuriyah atau pembebasan (kemerdekaan), kader putri harus mempunyai dasar dan mental yang kuat untuk membebaskan dirinya sendiri terlebih dahulu, bebas dari kebodohan, kejumudan, dan taqlid terhadap teks-teks yang mengurung untuk berdzikir, berfikir, dan beramal shaleh lebih luas lagi. Setelah itu, kader putri harus memberikan dampak positif untuk menyumbangkan pikiran dan jiwanya lebih luas lagi, yaitu mengamalkan ilmu dan pengetahuannya untuk terbentuknya tatanan sosial yang adil makmur.

Kedua, Al-Adalah atau keadilan, adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan. Itulah representasi dari Aswaja yang tidak hanya dimaknai sebagai manhaj al fikr, namun juga alharakah maupun assiyasah. Ketiga, AlMusawwamah atau kesetaraan, yang dimaksud di sini adalah kesetaraan kesamaan hak untuk mendapatkan ruang dan akses publik untuk mengamalkan ilmu dan pengetahuan seluas-luasnya.

Aswaja Kopri hadir bukan hanya hadir berdimensi dengan nuansa spiritual, akan tetapi harus mampu tampil sebagai narasi yang bisa memberikan solusi untuk bangsa. Seperti, penyadaran budaya patriarki, kapitalisme pasar, imperialisme atau penjajahan gaya baru, dan fasisme religius atau pemasungan hak-hak perempuan dengan dalil agama, sehingga muncul tafsir misogenis.

Tidak kalah penting, untuk terwujudnya misi Nahdlatun Nisa’, kader Kopri juga harus melek dan cakap dalam dunia literasi sebab kita tidak dapat membendung perubahan monopoli zaman yang kerap disalahgunakan. Kader Kopri harus turut mengambil peran membendung isu-isu yang menggelembungkan ketidakharmonisan Islam dan Indonesia, karena asas dari Kopri adalah Pancasila, serta berkontribusi untuk menyampaikan pesan dan gagasan perubahan dengan matang melalui media massa maupun media sosial. Oleh karena itu cakap dalam orasi, literasi, dan aksi adalah rumus untuk mewujudkan Nahdlatun Nisa’ dapat lahir dari rahim Kopri.

Penulis adalah Sekretaris I PC PMII Jombang periode 2016-2017

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 Desember 2017

Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek

Purbalingga, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Anak-anak muda yang berjoged ria mengikuti dendang rebana, seolah melupakan sejenak kepenatan kehidupan. Tembang shalawat mengalun merdu diiringi rampak rebana.



Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek

Sontak ribuan jamaah ikut menyanyikan senandung merdu lagu shalawat yang dibawakan, menjadi koor yang indah membawa suasana penuh kecintaan dan puncak kehasyahduan ruhani kepada sang Pencipta kehidupan.

Tampak Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU  menjaga tempat acara dari sekitar 2 kilo sebelum acara digelar sampai lapangan Karanggambas demi tertibnya acara. Para penonton menitipkan kendaraan baik roda dua maupun roda empat di pinggir jalan sepanjang menuju tempat acara. Muda-mudi, baik tua maupun muda berjalan beriringan dengan memakai baju takwa dan mereka lalu menempati duduknya di atas tikar di dalam komplek lapangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Demikianlah panggung pengajian budaya bersama Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng yang digelar, malam itu, Sabtu (8/12) suasana pengajian yang digelar di lapangan Karanggambas, Kec Padamara Kab Purbalingga menjadi sarana bertemu berbagai kalangan masyarakat baik itu dari pejabat maupun kalangan masyarakat biasa. 

Acara dibuka ba’da shalat Isya dengan pembacaan Maulid Simthud Durar yang diiringi hadrah rebana Darul Falah dari Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara bersambung dengan pengajian budaya yang dipimpin langsung oleh Emha Ainun Nadjib. Dalam kesempatan itu budayawan, Emha Ainun Najib alias Cak Nun mengungkapkan, tidak ada orang atau kelompok orang yang melarang manusia untuk beribadah sesuai agamnya. Orang Islam juga tidak boleh menilai bahwa cara yang dilakukan oleh organisasi tertentu itu termasuk haram.

Cak Nun mengibaratkan Islam itu sebagai sepotong ketela. Dari ketela itu diolah oleh manuia menjadi berbagai macam penganan. Ada getuk, cimplung, ciwel, kripik dan sebagainya. Aneka makanan itu menjadi kiasan bagi cara manusia untuk mendalami agama.

Menurut Cak Nun, "NU, Muhammadiyah, LDII lan sedayanipun, niku sanes agama, namung dalan kangge ngaji sinau agama (NU, Muhammadiyah, LDII dan sebagainya, itu bukan agama, hanya jalan untuk ngaji belajar agama)."

“Jadi, yang berhak menyatakan haram itu Allah. Bila masing-masing menganggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, berarti mereka belum bisa membedakan apa itu ketela, apa itu getuk. Ia menegaskan, bahwa manusia tidak usah menggantikan perannya Alloh,” kata Cak Nun pada pengajian dalam rangka peringatan 1 Muhaaram di lapangan Desa Karanggambas Kecamatan Padamara, Purbalingga.

Diungkapkan Cak Nun, jika ada yang makan getuk itu marah-arah dengan yang makan kripik, itu berarti tidak baik. “Lah wong asale nggih sami, asale niku saking tela, nggih napa mboten? (Sebab asalnya juga sama. Jadi jangan bertengkar hanya karena perbedaan makan getuk dan kripik)," kata penyair kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu.

Tausiyah yang santun dan berwibawa itu diselingi dengan menampilkan sholawat Nabi Muhammad SAW. Dengan iringan musik gamelan yang dibawakan oleh Kyai Kanjeng, ribuan pengunjung pun ikut bersholawat. Sebut saja syair Sidnan Nabi, Sholli Wasalimda, Sholawat Badar, Lir Ilir dan Tolaal Badru . Tidak ketinggalan pula lagu modern dimainkan seperti Pak Tani (Koes Plus) dan Musik (Rhoma Irama).

Sementara KH Supono Mustajab yang mendapat kesempatan kedua mengingatkan tentang celakanya orang yang mempunyai ilmu, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Celakanya orang-orang yang mengamalkan ilmunya, kecuali orang-orang yang mengamalkannya dengan ikhlas.

Dilanjutkan oleh KH Supono, “Sungguh surga merindukan empat golongan yang jamin masuk surge; orang-orang yang membaca al Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang member makan dan orang yang puasa di bulan Ramadhan.”

Penceramah ketiga walau singkat, KH AKBP Imam Sutiyono mewakili Kapolres Purbalingga, menyampaikan pentingnya shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”Senandung shalawat yang dilantunkan sungguh mendamaikan hati dan membuat hati menjadi lembut. Apalagi senandung yang dilantunkan adalah shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Shalawat sesungguhnya dicontohkan langsung Allah SWT dan termasuk bagian dari dzikir sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imron:191.

Dalam kesempatan terakhir Wakil Bupati Purbalingga, H. Sukento Ridho M, MM, yang turut menemani jama’ah dari awal acara sampai akhir acara menyambut dengan rasa kegembiraan atas pengajian budaya yang digelar.”Ini menunjukan masyarakat Purbalingga berakhlaq mulia. Dengan digelarnya acara ini semoga masyarakat Purbalingga semakin makmur, jauh dari bencana dan keluarga menjadi mawadah, warohmah dan sakinah.”

Acara kemudian dipungkasi dengan mahalul Qiyam dan ditutup dengan doa oleh KH Supono Mustajab tepat pukul 12.00 malam. 

Kontributor: Aji Setiawan  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Warta, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 28 Desember 2017

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Perilaku dan akhlak yang baik adalah anjuran nabi yang selalu ditekankan pada umatnya, bahkan berbuat baik pada orang yang telah melakukan hal buruk sekalipun. Hal ini jelas sudah dicontohkan oleh sang pemuda padang pasir, Muhammad SAW dengan selalu menimpali perbuatan buruk orang lain terhadapnya dengan kasih sayang.

Syahdan, suatu hari Nabi SAW hendak pergi ke masjid dan melewati jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju masjid. Di situ Nabi selalu mendapat hinaan, cacian, bahkan dilempar kotoran. 

Namun Nabi tidak pernah membalasnya walau hanya mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir terhadap orang yang melempar kotoran saat suatu hari dia tidak melakukan kebiasaan buruknya itu. Ternyata Nabi mendapat kabar bahwa dia sedang sakit. 

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Meski mendapat perlakuan negatif dan keji, Nabi tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dikerjainya tersebut mempunyai sifat baik dan tidak dendam sedikitpun. Perangai Nabi itulah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas hingga sekarang.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Barang siapa bangun pagi dengan maksud untuk tidak berbuat zhalim (Aniaya)kepada seseorang maka perbutan dosa yang dilakukan akan diampuni (oleh Allah). Dan barang siapa bangun dipagi hari berniat untuk menolong orang yang terzholimi, memenuhi kebutuhan orang muslim maka dia akan mndapatkan pahala seperti haji mabrur.” (Nashaihul Ibad, hal 21)

Berbuat baik (menolong orang yang terdzalimi)dalam arti di atas memiliki arti umum yakni “Madhlum” yang berarti orang yang teraniaya, artinya berbuat baik tidak pandang agama, golongan ataupun ras. Namun berbuat baik adalah anjuran yang harus melekat pada diri manusia. (Diana Manzila)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Amalan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 Desember 2017

Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Mantan bintang Disney Lindsay Lohan dikabarkan menjadi mualaf setelah memeluk agama Islam. Ahad lalu, pemeran Cady Heron dalam film "Mean Girls" (2004) itu menghapus semua unggahan di media sosialnya; Instagram dan Twitter.

Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Lindsay Lohan Jadi Mualaf?

Akhir pekan ini rumor pun beredar Lohan sudah berubah keyakinan menjadi seorang Muslim karena salam berbahasa Arab di laman Instagram miliknya, "Alaikum salam" yang kurang lebih berarti semoga kedamaian selalu menyertaimu, salam yang umum digunakan kaum Muslim.

Aktris berusia 30 tahun itu sebelumnya membuat heboh dengan menenteng Al-Quran pada hari pertama saat memberikan layanan sosial di New York musim panas tahun lalu.

Lohan mengatakan dia baru saja jatuh cinta kepada Islam dan dia mengungkapkan kalau dia sudah mempelajari agama untuk memuaskan rasa penasaran intelektual dan spiritualitasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia mengatakan kepada The Sun: "Saya orang yang sangat spiritual dan sangat terbuka untuk belajar,"?

Lohan yang terlahir Katolik itu juga mengungkapkan bahwa adik perempuannya Ali juga sedang menjelajahi sisi spiritualnya dan sudah beralih menganut Budha.

Selain itu, Lohan juga menjelaskan bahwa dia mempraktikan sebuah bentuk meditasi yang disebut "tapping", yang meliputi mengosongkan diri untuk mencapai ketenangan jiwa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Itu jauh dari awal dia menunjukkan ketertarikannya kepada agama.

Selama masa kejayaannya menjadi bintang remaja, dia mengenakan gelang merang Kabbalah yang dipercaya menangkal nasib buruk yang diakibatkan oleh "si mata jahat".

Dia juga dikabarkan menghadiri sejumlah kelas Kabbalah dan pada 2012 dia bergabung dengan grup Budha-nya Courtney Love. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel

Pangkep, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Aqiqah adalah peristiwa agama berupa penyembelihan kambing bagi bayi yang baru lahir, satu ekor kambing untuk perempuan dan dua ekor kambing untuk laki-laki, yang disedekahkan kepada kerabat dan handaitolan. Di Indonesia, ritual aqiqah tersebut dipadu dengan tradisi dan kearifan lokal sehingga menjadi sebuah peristiwa yang menarik dan penuh makna.



Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel

Di Sulawesi Selatan yang didominasi oleh suku Bugis dan Makassar, syukuran aqiqahan ini sangat kental dengan makna penyelamatan lingkungan dan pesan moral agar melihat dalam perspektif jangka panjang sampai lintas generasi, bukan berfikir secara instan sehingga kelahiran sebuah generasi baru tidak merusak atau membebani alam sekaligus menjaga tradisi gotong royong dan memelihara kekerabatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah sempat mengikuti sebuah acara prosesi upacara aqiqahan di kelurahan Pundata Baji, Kec. Labakkang Kab. Pangkep Jum’at (8/2) atas seorang bayi perempuan dengan nama Anindyanari Lintang Amala, putrid campuran Jawa-Makassar yang diaqiqahi pada hari ketujuh kelahirannya. Terdapat beberapa ritual dan sejumlah barang yang harus disediakan yang menjadi simbol dan doa bagi masa depan bayi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terdapat perbedaan persyaratan bagi bayi yang masih keluarga bangsawan dengan gelar karaeng, andi, atau daeng, dengan masyarakat biasa. Sebagai anak yang masih memiliki darah bangsawan suku Makassar, ia diwajibkan untuk menyediakan 29 bibit kelapa. Dalam acara aqiqahan, bibit kelapa tersebut dihias dengan indah dan ditaruh dalam kamar bayi. Beras yang ditaruh dalam baskom juga dihias dengan bentuk kepala manusia.

Penanaman kelapa ini merupakan upaya agar bayi yang baru lahir telah dipersiapkan sebagian dari kebutuhan hidupnya. Kelapa, buah yang bermanfaat dari akar sampai ujung daun tersebut akan berbuah ketika sang bayi sudah menginjak remaja yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya. Terdapat pesan moral yang penting bahwa segala sesuatu telah dipersiapkan bagi kehidupan bayi dalam perspektif jangka panjang dan tidak merusak alam. Tradisi ini sangat kontekstual pada masa sekarang ini

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

dimana alam dieksploitasi habis-habisan sehingga menimbulkan berbagai bencana alam.

Sayangnya tradisi yang sangat bagus ini bagi sebagian masyarakat hanya menjadi simbol saja karena perubahan kondisi sosial masyarakat. Perubahan dari masyarakat agraris dengan kepemilikan tanah yang luas tentu tidak mengalami masalah dalam menjalankan tradisi ini. Tetapi ketika masyarakat sudah hidup di perkotaan dengan kepemilikan tanah hanya selebar petak rumahnya saja, tampaknya perlu ada perubahan tradisi yang lebih fleksibel terkait dengan penyelamatan lingkungan.

Bayi yang baru lahir juga disediakan dua ekor ayam yang masih usia muda dan sebutir telur ayam. Ayam merupakan binatang yang bisa berkembang biak dengan cepat dan memiliki nilai gizi yang sangat bagus. Untuk mengenalkan diri dengan binatang, saat prosesi aqiqah, dahi bayi dan ibunya disentuhkan dengan ayam-ayam tersebut.

Selain itu disediakan pula sebuah kelapa muda yang dibuka dan airnya digunakan untuk membasahi gunting guna memotong rambut sang bayi. Kelapa muda melambangkan sebuah kesegaran, kemudaan, dan kesehatan yang diharapkan selalu menyertai kehidupan anak yang dilahirkan tersebut. Sebelas lilin kecil merupakan simbol agar kehidupannya selalu diliputi jalan terang.

Dua potong gula merah juga disediakan sebagai simbolisasi agar kehidupan anak tersebut selalu manis, menyenangkan, dan penuh kegembiraan. Ditambah pula dengan dua buah pala yang berisi pengharapan agar bayi tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia akan selalu ada ketika orang lain membutuhkannya.

Tak ketinggalan, sebuah tasbih dengan sebuah cincin emas yang dicelupkan ke air kemudian disentuhkan di dahi menunjukkan agar ajaran agama selalu menjadi pegangan dalam seluruh kehidupannya. Untuk menambah suasana, dinyalakan pula dupa untuk wewangian dalam prosesi potong rambut bayi yang dilakukan oleh dukun bayi terlatih yang telah membantu merawat bayi.

Bagi dukun bayi, mereka diberi sedekah berupa 12 macam jenis kue yang ditaruh dalam satu nampan, 8 liter beras dan uang 20 ribu rupiah yang dibawa pulang setelah prosesi tersebut selesai.

Ari-ari yang merupakan bagian tubuh bayi saat dilahirkan menjadi bagian penting. Setelah dicuci, ari-ari tersebut ditanam dengan harapan agar bayi tersebut selalu ingat akan kampung halaman dimana ia dilahirkan.

Pembacaan barasanji atau syair barzanji juga umum diselenggarakan pada malam aqiqahan. Pada acara tersebut rambut bayi dipotong dan ada pula pembagian minyak wangi kepada jamaah yang membacakan syair-syair pujian kepada Rasulullah.

Bagi orang Bugis-Makassar, perayaan akikah diselenggarakan cukup meriah. Pada acara tersebut sekitar 300 orang kerabat dan relasi diundang. Keluarga dekat telah berdatangan sehari sebelumnya untuk membantu menyiapkan pesta. Para tamu yang datang biasanya memberikan sumbangan atau kado untuk bayi. Tamu-tamu juga turut melihat si kecil yang kini telah menjadi anggota baru dalam keluarga tersebut.

Sayangnya, kekayaan tradisi dan kearifan lokal ini seringkali kurang dipahami maknanya secara utuh. Masyarakat hanya melaksanakan apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya tanpa memahami makna dan filosofinya. Sebagian masyarakat bahkan menganggap hal ini sebagai bid’ah yang harus ditinggalkan.

Seorang gadis memaknai pemberian bunga dari seorang pria sebagai simbol dan tanda cinta. Tentunya Allah juga memahami doa melalui simbol-simbol yang dibuat hambanya. (Mukafi Ni’am)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Fragmen, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di sela-sela acara Muktamar NU nampak seorang sastrawan masyhur D. Zawawi Imron sedang berkeliling di alun-alun kota Jombang, Ahad sore, (02/08). Tak mau melewatkan kesempatan ini, seorang tim Majalah Bangkit menghampirinya.

Amru, tim Majalah Bangkit memaparkan, bahwa Kiai Zawawi berpesan kepada para generasi muda NU, mulai sekarang ini selain belajar agama, semestinya kita juga harus mengamalkan agama itu. 

Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan

"Jadi tak cukup agama itu hanya dijadikan ilmu. Agama yang indah itu kalau bisa diamalkan" tegas sastrawan yang mendapat julukan Celurit Emas ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Zawawi menegaskan, bahwa juga tidak kalah pentingnya, agama itu punya orientasi kepada kemajuan umat, sehingga hari besok itu lebih baik dari sekarang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Kiai Zawawi, kita selain mengembangkan akal sehat kolektif, menghargai orang lain, tapi tidak kalah pentingnya adalah juga harus mengembangkan daya kreatifitas. Sehingga dari itu, kita dapat menghasilkan inovasi-inovasi baru untuk menjawab tantangan zaman.

Karenanya, kita harus sadar bahwa zaman itu sedang berjalan. Zaman itu menuju hari esok. Dan untuk mengantisipasi hari esok, kita harus mengembangkan keilmuan kreatif, sehingga mampu menjawab tantangan hari esok," pungkas sastrawan asal Madura ini. (Anwar Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Desember 2017

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bakti sosial (baksos) bekam, sunatan massal hingga pengajian akbar diigelar 14 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati 90 tahun hari lahir NU. Kegiatan dimulai 30 Januari hingga 9 Februari 2016.

"Walau sederhana, kami mengajak MWCNU untuk memperingati harlah NU, di tingkatan ranting, Sabtu 30 Januari malam kami meminta pengurus untuk menggelar tahlil dan yasinan bagi pendiri NU," ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda di Blambangan Umpu, Kamis (28/1).

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan

Selain menggelar beberapa kali musyawarah di Gedung PCNU yang berada di Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu, sejumlah MWC NU juga melakukan musyawarah sendiri bersama badan otonom seperti GP Ansor, Fatayat dan Muslimat NU di tingkatan anak cabang, salah satunya MWC Pakuan Ratu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sabtu 30 Januari MWC Pakuan Ratu menggelar bakti sosial bekam gratis bagi 90 orang dan khitanan massal gratis bagi puluhan anak. Dan pada Minggu 31 Januari kami menggelar istighosah dan pengajian akbar," kata Ketua PAC GP Ansor Pakuan Ratu Bakti Gozali.

MWCNU Kasui dan Blambangan Umpu juga menggelar pengajian akbar pada 31 Januari. Adapun MWCNU Bumi Agung menggelar pengajian pada Sabtu 30 Januari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk kegiatan itu, Ketua MWC NUBumi Agung Kiai Syamsudin pada Rabu (27/1) mengantar surat kepada Kepala Kemenag, Pj Bupati, Dandim dan Kapolres Way Kanan didampingi KH Nur Huda didampingi sejumlah pengurus.

Di tingkatan cabang, peringatan harlah NU dimulai mulai 7 hingga 9 Februari 2016. Menurut Ketua Lakpesdam Way Kanan Supri Iswan, kegiatan cukup beragam, antara lain lomba membaca Barzanji, bakti sosial, lomba menulis opini, baca puisi, bazar dan ditutup dengan pengajian akbar. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Ahlussunnah, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bantu Korban Banjir Sampang, Menpora Dirikan Posko Relawan Pemuda

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menteri Pemuda dan Olahraga RI Imam Nahrawi bersama alumni program Pelatihan Kepeloporan Pemuda Kemenpora RI mulai hari ini membangun Posko Pemuda Relawan Kemenpora, Senin (29/2). Pemuda Relawan Kemenpora ini membuka posko perwakilan Kemenpora untuk membantu korban banjir di Sampang.

Pemuda Relawan Kemenpora menyiapkan bantuan di tengah banjir bandang yang merendam kota Sampang sejak Sabtu (27/2), yang mengakibatkan aktivitas warga dan arus lalu lintas lumpuh total.

Bantu Korban Banjir Sampang, Menpora Dirikan Posko Relawan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Korban Banjir Sampang, Menpora Dirikan Posko Relawan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Korban Banjir Sampang, Menpora Dirikan Posko Relawan Pemuda

Dalam rangka membantu korban banjir, sejumlah pemuda yang berasal dari 4 kabupaten di Madura mendirikan Posko Pemuda Relawan Kemenpora di Jalan Rajawali RT 02 RW 03 tepat di tengah-tengah kota Sampang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Koordinator Posko Pemuda Relawan Kemenpora Abdul Hamid yang ditemui di sela persiapan distribusi bantuan logistik menyampaikan bahwa, posko ini didirikan sebagai bentuk kepedulian bersama dari para pemuda se-Madura untuk membantu para korban banjir di Sampang.

"Dengan bekerja sama dan bantuan dari pihak Kementerian Pemuda dan Olah Raga, mulai hari ini kami dari tim relawan muda akan membagikan kurang lebih 1.000 paket bantuan yang terdiri dari nasi bungkus, mie instan, air mineral, dan obat-obatan ke? warga di lokasi yang terisolir," kata Hamid, Senin (29/02).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, tambah Hamid, pihaknya akan melakukan kerja bakti dengan relawan muda Nahdlatul Ulama (NU) untuk melakukan aksi bersih-bersih tempat ibadah di kampung-kampung terlanda banjir. Sebab, ketika air sudah surut warga akan disibukkan dengan membersihkan rumahnya masing-masing sementara masjid, mushalla atau langgar kerap terabaikan.

"Untuk itu kami sebagai kaum muda, dalam 3 hari ke depan akan bekerja membersihkan masjid, mushalla, langgar yang kotor karena banjir sampai benar-benar suci, bersih dan harum agar bisa segera ditempati untuk melaksanakan ibadah," tegasnya.

Imam Nahrawi menyatakan turut prihatin dan berharap musibah serupa tidak kembali datang di musim penghujan selanjutnya. “Semoga posko yang dibangun para Pemuda Relawan Kemenpora dapat memberikan bantuan secara maksimal atau setidaknya mampu meringankan beban warga dalam menghadapi bencana banjir,” harap Menteri Imam saat ditemui di kantor Kemenpora, Senayan.

Melalui Posko Pemuda Relawan Kemenpora ini, lanjutnya, pemuda juga secara tidak langsung dilatih peduli terhadap sesama terutama dalam menghadapi bencana yang terjadi di wilayah sekitar pemukiman mereka. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang memfasilitasi kegiatan bedah fatwa MUI Tangerang perihal ideologi yang dapat merusak integritas kebangsaan Republik Indonesia. Di Villa Binual Cilember, Bogor, Selasa-Rabu (25-26/11), mereka mencoba melihat posisi gerakan ideologi keislaman di tengah konsep negara Indonesia.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya para kiai di kampus STISNU. Ketua FSPP KH A Baijuri Khotib berkata, “Pertemuan ini bertujuan membangun persepsi dari seluruh ormas Islam di Tangerang yang cinta NKRI terkait integritas kebangsaan.”

Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Pesantren Tangerang Raya Tolak Ideologi Islam Radikal

Sementara Ketua PCNU Kota Tangerang H A Bunyamin memandang, pilar-pilar kebangsaan secara subtansi tidak bertentangan dengan ajaran luhur keislaman. Sebab itu, merawat keutuhan NKRI dengan antara lain memerangi ideologi transnasional harus digalakkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita harus menyiapkan generasi kita di masa depan agar negara ini tetap ada sampai hari Kiamat,” kata H Bunyamin.

Pertemuan ini dihadiri oleh FSPP kabupaten Tangerang KH Hasbiyallah, FSPP Tangerang Selatan KH Muslihuddin, FSPP Kota Tangerang KH M Tabar, PCNU Tangsel KH Abbas Hurobby, Syuriyah PCNU Kota Tangerang KH Mamun, dan STISNU Nusantara Tangerang HM Qustulani. (Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Amalan, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Desember 2017

Libatkan Perguruan Tinggi, Seleksi Pendamping Desa Dijamin Tanpa Kecurangan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Proses rekrutmen pendamping desa telah memasuki tahap seleksi tes tulis yang dilakukan di perguruan tinggi tegeri yang ditunjuk di masing-masing provinsi. Seleksi ini dijamin transparan dan akuntabel karena melibatkan langsung pihak perguruan tinggi yang sudah teruji dalam melakukan seleksi.

Libatkan Perguruan Tinggi, Seleksi Pendamping Desa Dijamin Tanpa Kecurangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Libatkan Perguruan Tinggi, Seleksi Pendamping Desa Dijamin Tanpa Kecurangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Libatkan Perguruan Tinggi, Seleksi Pendamping Desa Dijamin Tanpa Kecurangan

"Kita (perguruan tinggi) sudah biasa melakukan seleksi dan tes semacam ini. Dijamin tidak akan ada kecurangan. Kita bekerja dengan independent, professional, akuntabel, dan dengan indikator yang sangat terukur," ujar Ketua Tim Panitia Seleksi Pendamping Desa Region Jawa Tengah, Yusuf Subagyo, Sabtu (28/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Akademisi dari Universitas Jendral Soedirman ini menjelaskan, komposisi tim seleksi pun dibagi untuk menutup celah sekecil apa pun kemungkinan kesalahan. Dari 7 orang anggota tim seleksi, 3 dari pihak perguruan tinggi, 2 dari pusat (Kementerian Desa PDTT), dan 2 dari provinsi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Dengan komposisi ini, tidak bisa ada orang-orang titipan. Kami pastikan proses seleksi ini independen, tidak ada kepentingan apapun, tidak ada yang bisa menekan," tegasnya.

Dari sisi keterbukaan, lanjut Yusuf, masyarakat juga bisa melihat apa saja indikator kelolosan untuk menjadi pedamping desa, mereka yang lolos nantinya merupakan SDM pilihan yang akan membangun desa. "Saat proses seleksi tertulis, wawancara, dan verifikasi kompetensinya nilainya pasti bagus. Itu kan secara kuantitatif sudah bisa terukur," jelasnya.

Seleksi pendamping desa di Jawa Tengah sendiri mencapai 7.648 orang calon dan yang akan diterima sekitar 3.200 peserta. Para peserta ini di tahap tes tertulis harus menjawab 50 soal dengan pasing grade 60 persen dan setelah itu yang lolos akan mengikuti psikotes dan evaluasi dari tim seleksi.

"Yang lolos ujian tes tulis akan mengikuti psikotes tanggal 1 Juni 2016 dan peserta yang lolos akan dievaluasi oleh Tim Seleksi melalui Uji Kualifikasi dan ditetapkan hasilnya sekitar tanggal 11-12 Juni 2016," tandas Yusuf.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendes PDTT, Taufiq Madjid mengatakan, seleksi pendamping desa tahun ini memang berbeda dengan pola rekrutmen tahun lalu. Pihaknya melibatkan perguruan tinggi dalam proses penyeleksian untuk menjaga akuntabilitas rekrutmen tersebut.

"Baik sebagai supporting system maupun pelaksana, kita bekerjasama dengan perguruan tinggi. Pemerintah pusat dalam hal ini hanya penyelenggara, terkait pelaksana sepenuhnya diserahkan kepada Timsel (Tim Seleksi)," ujarnya.

Taufik menjelaskan, dalam rekrutmen yang digelar secara terbuka tersebut, Kemendes PDTT bekerjasama dengan 33 perguruan tinggi negeri yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Adapun Timsel terdiri dari 7 yakni 3 dari perguruan tinggi negeri, 2 dari Satuan Kerja yang dibentuk oleh pemerintah daerah, dan 2 dari pemerintah pusat. Saat ini, ada 100 ribu lebih calon pendamping desa yang mengikuti tes tertulis.

"Hari ini pelaksanaan tes tertulis menggunakan LJK (Lembar Jawaban Komputer). Ada sekitar 100.460 lebih yang ikut seleksi tertulis hari ini. Pengumuman hasil tes tertulis akan diumumkan Tanggal 30 Mei. Setelah hasil tertulis selesai, akan dilanjutkan dengan ujian psikotes yang rencananya akan digelar Tanggal 1 Juni. Kemudian dilanjutkan lagi dengan kualifikasi berbentuk pengalaman dan pendidikan. Semakin tinggi pengalaman dan pendidikannya, maka bobotnya akan semakin tinggi," urainya.

Dalam perekrutan tersebut Taufik menjamin tidak adanya intervensi pemerintah terutama Kemendesa PDTT terkait proses hingga hasil seleksi. Pasalnya, proses seleksi telah telah sepenuhnya diserahkan kepada Timsel. "Mana bisa kita intervensi, sepenuhnya Timsel yang melaksanakan. Rekrutmen kita ini sangat terbuka, semua mengawasi secara langsung. Mulai dari komisi V, dan dipantau langsung oleh ombudsman," ujarnya.

Terkait jumlah pendamping desa yang akan direkrut dalam seleksi kali ini berjumlah 19.096 orang tenaga pendamping profesional. Tenaga profesioanl tersebut meliputi Tenaga Ahli Pendamping Masyarakat (TAPM), Pendamping Desa (PD), dan Pendamping Lokal Desa (PLD).

Sementara itu, Ketua Ombudsman, Amzulian Rifai, mengapresiasi atas dilibatkannya perguruan tinggi dalam rekrutmen pendamping desa. Menurutnya, semakin banyak pihak berkompeten yang terlibat, maka proses rekrutmen akan menjadi lebih baik. Selain itu, jalur pendaftaran yang dilakukan hanya melalui sistem online, juga dinilai sebagai bentuk pelayanan yang baik.

"Sistem apapun sepanjang professional dan fair tidak masalah. Pemanfaatan teknologi juga baik jika tujuannya supaya pelayanan kepada peminat menjadi lebih cepat dan lebih baik," ujarnya.

Terkait hal tersebut, Amzulian mengaku akan memberikan tindakan cepat jika terdapat penyimpangan dalam proses rekrutmen. "Jika terdapat laporan maladministrasi, akan segera kita tindaklanjuti," tegasnya. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 03 Desember 2017

PMII-Coin Foundation Bantu Korban Gempa Pidie Jaya Aceh

Pidie Jaya Aceh, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Selama tiga hari dua malam, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banda Aceh bersama Coin Foundation memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan beberapa kebutuhan logistik pada korban gempa di Pidie Jaya, tepatnya di Gampong Lhok Puuk Kecamatan Panteraja yang sampai sejauh ini masih terisolir dan belum mendapat bantuan secara maksimal.

Co Foundation merupakan lembaga sosial milik Kader NU asal Mataram yang bergerak dalam bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan dan lembaga sosial anak.

PMII-Coin Foundation Bantu Korban Gempa Pidie Jaya Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII-Coin Foundation Bantu Korban Gempa Pidie Jaya Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII-Coin Foundation Bantu Korban Gempa Pidie Jaya Aceh

Melalui arahan Ketua PCNU Pidie Jaya, PMII bersama Coin Foundation bergerak menuju lokasi yang memang belum banyak mendapat bantuan seperti lokasi-lokasi yang dekat dengan posko di jalan raya Banda Aceh Medan. Lokasi yang dimaksud adalah Gampong Lhok Puuk.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PC PMII Banda Aceh, Akmaluddin beserta rombongan menuju ke lokasi bersama Abdul Aziz selaku direktur Coin Foundation pada Senin (19/12) langsung menuju camp pengungsian yang berpusat di Pondok Pesantren milik Tgk. Jamaluddin.

"Setelah kemarin, Minggu, kami memberikan bantuan berupa 300 paket perlengkapan sekolah untuk anak-anak di Gampong Meunasah Cut, Dayah Teumanah dan Gampong Dayah Pangwa, kemudian kami mendapat arahan dari PCNU Pidie Jaya untuk meninjau langsung keadaan di Gampong Lhok Puuk yang letaknya sangat jauh dari pusat kota," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari hasil wawancara dengan Sekdes setempat, Gampong Lhok Puuk terdiri dari 133 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 560 jiwa, satu masjid dan 33 rumah warga rusak total (tidak termasuk rusak ringan). Tidak ada korban jiwa namun ada 3 warga patah tulang dan 18 orang luka ringan saat kejadian gempa beberapa waktu lalu.

Lokasi gampong yang begitu jauh dan pelosok tidak mematahkan semangat Abdul Aziz yang datang jauh-jauh dari Nusa Tenggara Barat untuk menyalurkan bantuan secara langsung kepada masyatakat yang betul-betul membutuhkan. Bahkan ia memutuskan untuk bermalam di tempat pengungsian bersama warga setempat.

"Bantuan ini didedikasikan sebagai pengabdian kami terhadap saudara-saudara yang betul-betul membutuhkan. Dalam konteks masyarakat, tidak hanya pada persoalan hidup yang harus mengais tanpa henti, juga pada persoalan kesejahteraan yang terkadang harus tergadaikan oleh sistem yang tidak diindahkan". Jelas Abdul Aziz selaku direktur Coin Foundation yang juga sebagai Mabincab PMII Mataram.

Aziz, sapaan akrabnya, mendengar penjelasan Tgk. Jamaluddin bahwa ada beberapa perlengkapan dapur umum yang masih kurang dan juga kasur lantai yang dipakai warga di tenda darurat. Bahkan Aziz langsung memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.

"Kami catat apa yang kurang, kemudian kami penuhi waktu itu juga. Sengaja kami ajak Tgk. Jamaluddin untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan," katanya.

Sementara itu, pagi harinya, selasa 20/12/16 Aziz juga menyempatkan diri datang dan memberikan bantuan logistik pada warga Gampong Muka Blang yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari Lhok Puuk. Bantuan yang dibawa adalah hasil penggalangan dana dari PC PMII Mataram juga dari Persatuan mahasiswa Lombok barat yang diamanahkan melalui Aziz agar diberikan kepada korban gempa di Pidie Jaya. (Fauzi E/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Amalan, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 22 November 2017

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Namanya Nafisah Almais Aidiniyah. Usianya 13 tahun, tapi hadir di Kongres ibu-ibu Muslimat. Ia bukan mengikuti kongres memang, melainkan melantunkan surah An-Nisa ayat 125 di penutupan kongres di Aula Serba Guna Asrama Haji Embarkasi, Jakarta pada Sabtu (26/11).?

Ia melantunkan Al-Qur’an di hadapan Wakil Presiden RI H. Jusuf Kalla, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan ribuan pengurus Muslimat NU. ? ?

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah

Selepas, melantunkan Al-Qur’an, ia melanjutkannya dengan mendendangkan Shalawat Nabi. Dendangannya diikuti seluruh penghuni aula.?

Ketika penutupan usai, ketika sesi foto-foto, Ais turut berfoto dengan Khofifah Indar Parawansa. Mensos RI tersebut menyempatkan diri anak siswi MTs Pembangunan UIN Jakarta kelas VII. Tak hanya Khofifah, ibu-ibu yang lain menghampirinya, memeluknya, kemudian meminta berpotret dengan Ais.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seorang ibu mengungkapkan keinginannya memiliki putri sebagaimana Ais, bisa melantunkan Al-Qur’an dengan baik dan fasih.?

Nafis adalah anak sulung dari empat bersaudara. Semuanya perempuan. Ia adalah putri dari pasangan Abi Juhar seorang PNS Kanwil Kemenag Bali dan Umi Nur Hamidah, kepala sekolah TK. Keluarga mereka berlatar belakang Nahdliyin.?

Nafis bercerita, ia belajar mengaji sejak usia tiga tahun oleh ayahnya. Kemudian memperdalam ilmu bacaannya di pesantren Baitul Qurro, milik qoriah internasional, Hj. Maria Ulfa.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karena suaranya yang merdu dan fasih, ia kerap diundang dalam berbagai kegiatan. Ia pernah tampil di depan Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin di Bali tahun 2015. Bahkan ia pernah tampil di sebuah acara yang dihadiri menteri iagama empat negara yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Hari ini ia tanpil di depan Wakil Presiden RI.?

“Nafis merasa deg-degan saat tampil,” katanya sambil tertunduk malu.?

Dalam bidang baca Al-Qur’an, prestasinya sampai di tingkat nasional. Debutnya ? ketika di Bengkulu 2010, ia tidak mendapat prestasi apa-apa. Namun ia bisa membuktikannya menjadi yang terbaik di MTQ Batam 2014 sebagai juara pertama.?

Di bidang seni suara, ia juga berprestasi dalam menyenandungkan kasidah. Ia ? menjadi juara pertama sebagai vokalis pada kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) di Kendari, Sulawesi Tenggara. Prestasinya menurun menjadi juara harapan dua pada Musabaqoh Hifzdil Qur’an di Mataram, Nusa Tenggara Barat tahun 2016.

Prestasi itu tidak membuatnya berbangga diri, tapi tetap rendah hati. Meskipun sudah level nasional, ia tidak memilih undangan mengaji. (Nelly Korabe/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 29 Oktober 2017

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Sejarah, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 28 Oktober 2017

Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ribuan jamaah dari Jakarta dan sekitarnya, Selasa (21/5) malam, memadati Masjid Jami’ al-Munawwarah yang terletak di kompleks kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Mereka mengikuti istighotsah kubra.

Istighotsah yang digelar bersemaan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj ini berlangsung khidmat. Sejumlah lantunan ayat al-Qur’an, dzikir dan shalawat bergema sejak wirid sembahyang isya’ selesai. Di luar masjid, puluhan pedagang berjajar turut memeriahkan acara.

Hadir dalam kesempatan ini, guru Tarekat Syadziliyah KH Lukman Hakim, Sekretaris Pengurus Pusat LDNU H Nurul Yakin Ishaq, pengasuh Pesantren al-Mishbah Jakarta KH Mishbahul Munir, serta sejumlah pengurus NU dan kiai setempat.

Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Istighotsah Kubra, Ribuan Jamaah Padati Masjid Gus Dur

Dalam sambutannya, Yakin mengingatkan tentang pentingnya menjalin persatuan antarumat, salah satunya melalui forum istighotsah. Menurut dia, sejak awal para NU menegaskan bahwa Negara Kesatuan Repulik Indonesia (NKRI) bersifat final, dan menjadi tugas umat Islam sekarang untuk merawat dan mengisinya dengan positif.

Saat berceramah, Lukman menjelaskan, istighotsah atau memohon pertolongan kepada Allah seyogiannya dilakukan setiap saat. Tak perlu menunggu datangnya bencana atau musibah, karena sifat manusia sejatinya senantiasa membutuhkan pertolongan.

Istihotsah kubra ini sedianya dihadiri Pemimpin Tarekat Naqsabandi Haqqani Amerika Serikat Syekh Hisyam Kabbani dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Karena terkendala sejumlah hal, mereka terpaksa tidak datang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 24 Oktober 2017

Ma’rif NU Harus Terdepan Pertahankan NKRI dan Aswaja

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Usai mengikuti Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat LP Maarif NU pada 5-7 Desember 2016 di Jakarta Pengurus Wilayah LP Maarif Jawa Tengah langsung menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Hotel Siliwangi Semarang.

Ma’rif NU Harus Terdepan Pertahankan NKRI dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’rif NU Harus Terdepan Pertahankan NKRI dan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’rif NU Harus Terdepan Pertahankan NKRI dan Aswaja

Ketua Umum PP LP Maarif NU H. Arifin Junaidi mengatakan, sinergitas dan integritas merupakan dua nilai penting yang menjadi modal utama untuk menggerakkan lembaga pendidikan.

“Sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan NU, Maarif NU berkomitmen untuk menjadi garda terdepan mempertahankan NKRI dan merawat kebinekaan,” tuturnya dalam sambutan pembukaan Rakerwil II, Sabtu (10/12)

Lebih lanjut ia menjelaskan, merujuk pada visi dan misi LP Maarif NU, tugas utamanya ada empat, yaitu penguatan paham Aswaja, pengembangan dalam kelembagaan, peningkatan kapasitas pendidik dan pemanfaatan Informasi dan teknologi (IT) secara profesional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Arifin juga mengharapkan seluruh Pengurus Cabang Maarif NU se-Jateng untuk benar-benar membentengi akidah Aswaja an-Nahdiyah dari ancaman paham transnasional di wilayah masing-masing.

"Ancaman terhadap akidah Aswaja NU sudah ada di tangan kita yaitu gajet atau handphone. Oleh karena itu, Pengurus Maarif terus memantau satuan pendidikan di wilayahnya masing-masing," tegasnya pada Rakerwil bertema “Bersama Maarif NU Kita Wujudkan Pendidikan yang Nasionalis, Religius bernafaskan Aswaja".

Sedangkan ketua PW LP Maarif NU Jateng, H. Agus Sofwan Hadi menegaskan bahwa LP Maarif NU harus memiliki tiga, yaitu mandiri, profesional dan unggul.

Ia mencontohkan keunggulan Maarif yang terbukti dengan salah satu siswa Maarif NU dari Jepara yg berhasil menyabet juara 1 olimpiade internasional di Singapura.

Rakerwil dibuka oleh Kepala Dinas Provinsi Jateng, Nurhadi dan dihadiri pengurus PWNU Jateng, ketua tanfidziyah dan Rais Syuriyah. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wayang Kulit Semarakkan 1000 Hari Gus Dur

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pagelaran wayang kulit turut meramaikan peringatan 1000 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ciganjur, Jagakarsa, Jakartas Selatan, Rabu (26/9) malam hingga Kamis dini hari.

Pertunjukan yang dibanjiri ribuan penonton ini menampilkan lakon “Kumbokarno Gugur” yang menganologikan ketokohan Gus Dur.

Wayang Kulit Semarakkan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Wayang Kulit Semarakkan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Wayang Kulit Semarakkan 1000 Hari Gus Dur

Sang dalang, Ki Enthus Susmono, menggambarkan sosok Kumbokarno selayak raksasa berhati kesatria, berprinsip kebenaran, dan berperangai bijaksana. Namun, risiko pahit harus menimpanya akibat kebusukan politik Dasamuka yang rakus kekuasaan. Kumbokarno akhinya gugur sebagai pahlawan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Putri sulung Ketua Umum PBNU selama tiga periode ini, Alissa Wahid, mengatakan, wayang adalah salah satu seni tradisi yang sangat digemari ayahandanya. Wayang dinilai mampu menghadirkan pesan positif melalui jalan cerita yang diperagakannya.

“Wayang senantiasa memberikan pelajaran tentang yang baik dan benar. Nah, kita ingin pagelaran kali ini membawa manfaat bagi semua,” tuturnya mewakili Yayasan Bani Abdurrahman Wahid sebagai penyelenggara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara yang digelar di lingkungan Pesantren Ciganjur atau Yayasan A Wahid Hasyim ini juga dimeriahkan sinden asal Amerika Serikat. Tampak hadir pula istri mendiang Gus Dur Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Kepala Direktorat Pengedaran Uang BI Gatot Sugiono, dan sejumlah pengurus Yayasan Bani Abdurrahman Wahid.

Peringatan 1000 hari kewafatan Gus Dur digelar di berbagai daerah. Untuk di Jakarta, rangkaian acara dimulai sejak Selasa dengan bedah buku “Sang Zahid, Mengarungi Sufisme Gus Dur”. Usai pagelaran wayang kulit, khatmul qur’an, tahlil akbar dan gema shalawat bersama Habib Syekh dijadwalkan Kamis ini. Agenda lain selanjutnya, doa lintas iman, ziarah budaya, pameran, halaqah, konferensi, dan Gus Dur Award.

Redaktur : A. Khoirul Anam 

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pesantren, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah