Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 08 Februari 2018

Islam Menegakkan Hak Asasi Manusia

Oleh Rosidin





Islam Menegakkan Hak Asasi Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Menegakkan Hak Asasi Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Menegakkan Hak Asasi Manusia

Setiap Muslim harus memegang keyakinan bahwa Allah SWT Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Sebaliknya, manusia pasti butuh kepada Allah SWT. “Hai manusia, kalian semua fakir (butuh) kepada Allah; sedangkan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak butuh apa pun) lagi Maha Terpuji (Q.S. Fathir [35]: 15).

Kandungan ayat ini dipertegas hadist qudsi, bahwa Allah SWT berfirman, “Wahai para hamba-Ku, seandainya generasi masa lalu dan masa depan, bangsa manusia maupun jin, memiliki hati yang paling bertakwa, tidak akan menambah sedikit pun pada kekuasaan-Ku. Wahai para hamba-Ku, seandainya generasi masa lalu dan masa depan, bangsa manusia maupun jin, memiliki hati yang paling durhaka, tidak akan mengurangi sedikit pun pada kekuasaan-Ku (H.R. Muslim).

Jika demikian, berarti ajaran Islam disyariatkan bukan dalam rangka kepentingan Allah SWT, melainkan demi kemaslahatan manusia. Secara garis besar, kemaslahatan manusia dibagi menjadi dua jenis. Pertama, kemaslahatan umum (publik). Kedua, kemaslahatan khusus (pribadi).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk membedakan kedua jenis kemaslahatan tersebut, Islam memperkenalkan dua istilah. Pertama, Hak Allah SWT, yaitu hak-hak yang berhubungan dengan kemaslahatan umum (publik); namun dinisbatkan kepada Allah SWT. Kedua, Hak Hamba, yaitu hak-hak yang berhubungan dengan kemaslahatan khusus (pribadi); dan dinisbatkan kepada manusia.

Ibaratnya, jadwal pelajaran disusun untuk kemaslahatan umum semua siswa, namun dinisbatkan kepada kebijakan sekolah. Seandainya jadwal pelajaran disusun untuk kemaslahatan khusus setiap siswa, pasti tidak akan pernah tersusun jadwal pelajaran, karena setiap siswa memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Sudah jelas bahwa jadwal pelajaran seperti itu tidak bisa disebut melanggar hak-hak asasi siswa, ketika ada siswa tertentu yang merasa jadwal pelajaran tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pribadinya; mengingat jadwal pelajaran tersebut sudah disusun sesuai dengan kebutuhan dan keinginan semua siswa secara umum. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Peraturan yang dibuat oleh manusia saja ditujukan untuk kemaslahatan manusia secara umum, lebih-lebih syariat Islam yang berasal dari Allah Yang Maha Bijaksana, “Bukankah Allah Hakim yang paling bijaksana? (Q.S. al-Tin [95]: 8)”.

Oleh sebab itu, sudah pasti semua syariat Islam memiliki tujuan untuk kemaslahatan manusia. Tujuan syariat Islam ini dikenal sebagai Maqashid Syariah yang meliputi pemeliharaan agama (hifzh al-din), jiwa-raga (hifzh al-nafs), akal (hifzh al-‘aql), keluarga (hifzh al-nasl), harta (hifzh al-mal) dan harga diri (hifzh al-‘irdh). Misalnya, Allah SWT mengharamkan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender) demi kemaslahatan umum manusia terkait pemeliharaan keluarga dan anak-keturunan (hifzh al-nasl), meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan kemaslahatan pribadi manusia yang mengidap kelainan orientasi seksual.

Atas dasar itu, jangan sampai kita ikut-ikutan salah paham terhadap istilah hak Allah, sehingga sembrono menuduh Islam tidak mendukung Hak Asasi Manusia (HAM). Faktanya, seluruh ajaran Islam disyariatkan untuk menegakkan HAM, baik yang bersifat umum (disebut hak Allah) maupun khusus (disebut hak hamba).

Akan tetapi, ketika terjadi pertentangan antara HAM umum dengan HAM khusus, maka yang diutamakan adalah HAM umum. Misalnya, Islam menghormati HAM khusus setiap manusia untuk mencari nafkah, namun tidak boleh merusak HAM umum umat manusia. Contoh praktisnya, Islam mengharamkan riba yang dapat merusak perekonomian umat manusia secara umum, meskipun bisa jadi mendatangkan kemaslahatan bagi sebagian manusia secara khusus, seperti para bankir dan rentenir.

Bagaimana mungkin Islam tidak mendukung HAM, sedangkan visi-misi agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah menebar kasih sayang ke semesta alam atau rahmatan lil ‘alamin (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107).

Perhatian Islam terhadap HAM sudah terbukti berabad-abad sebelum Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948. Misalnya, Khutbah Wada’ yang disampaikan oleh Rasulullah SAW sarat dengan nilai-nilai HAM. Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah (nyawa), harta dan harga diri kalian adalah mulia di tengah-tengah kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini (Idul Adha), bulan ini (Dzulhijjah), negeri ini (tanah haram)” (H.R. Bukhari). 





Darah atau nyawa berkenaan dengan hak untuk hidup. Syariat Islam sangat tegas dalam menjamin hak hidup manusia. Misalnya, pembunuhan yang dilakukan tanpa alasan yang haq (dibenarkan syariat Islam), hukumannya adalah qishash atau hukuman mati yang sejenis (Q.S. aA-Baqarah [2]: 178-179). Bahkan ada Fikih Jinayah yang khusus membahas hukum Islam tentang tindak kejahatan terhadap jiwa-raga manusia, seperti pembunuhan, pelukaan, pencederaan dan pemukulan. Jangankan manusia, janin manusia dalam kandungan pun begitu dihormati dalam Islam, sehingga aborsi hukumnya adalah haram dan dosa besar, bahkan lebih kejam daripada tradisi masyarakat Jahiliyah yang mengubur anak perempuan dalam keadaan hidup-hidup (Q.S. al-Takwir [81]: 8-9).

Harta berkenaan dengan hak untuk memiliki. Syariat Islam memiliki aturan yang ideal terkait hak kepemilikan harta, yaitu tidak mengagungkan kepemilikan pribadi layaknya ekonomi kapitalis; dan tidak mengagungkan kepemilikan masyarakat layaknya ekonomi sosialis-komunis. Kepemilikan pribadi dan masyarakat sama-sama dihormati.

Artinya, setiap manusia boleh kaya, namun dia harus berbagi harta kepada masyarakat melalui berbagai akad pelepasan harta, seperti zakat, infak, sedekah dan wakaf, agar harta terus bergulir dan tidak terjadi penumpukan harta yang menjadi ciri khas ekonomi kapitalis (Q.S. Al-Hasyr [59]: 7).  

Harga diri berkenaan dengan hak kemerdekaan. Syariat Islam begitu menghargai kemerdekaan manusia. Hal ini tercermin dari tiga kasus. Pertama, kemerdekaan sebagai manusia. Sejak awal Islam peduli terhadap upaya-upaya pemerdekaan budak. Misalnya, salah satu mustahik zakat adalah riqab (Q.S. al-Taubah [9]: 60), yaitu budak yang ingin merdeka dari tuannya dengan cara membayar uang tebusan.

Kedua, kemerdekaan dalam beragama (Q.S. al-Baqarah [2]: 256). Penaklukan oleh tentara Islam tidak sama dengan penjajahan ala Barat. Misalnya, ketika tentara Islam menaklukkan Andalusia (Spanyol), masyarakatnya diberi pilihan, apakah memilih masuk Islam dengan kewajiban membayar zakat atau tetap menganut agamanya dengan kewajiban membayar pajak (jizyah). Bertolak-belakang dengan apa yang dilakukan tentara Kristen saat menaklukkan Andalusia. Mereka membantai setiap Muslim beserta anak-cucunya yang tidak mau kembali kepada agama Kristen.

Ketiga, kemerdekaan berpikir dan berpendapat. Banyaknya ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia agar memberdayakan akal pikirannya (kata ‘aql dan bentukannya disebut 49 kali; kata fikr dan bentukannya disebut 18 kali) menunjukkan Islam mendukung kebebasan berpikir. Terkait kemerdekaan berpendapat, cukup menyimak sabda Nabi SAW: “Jihad yang paling utama adalah pernyataan yang adil di hadapan pemimpin yang sewenang-wenang“ (H.R. Abu Dawud).

Catatan terakhir, HAM dalam syariat Islam harus dikawal dengan empat sifat khas Aswaja. Pertama, Tawassuth (moderat) dan I’tidal (lurus). Misalnya, kemerdekaan berpikir dan berpendapat tidak sampai terjerumus pada sikap ekstrem kiri (liberal) maupun ekstrem kanan (radikal). Kedua, Tasamuh (toleran). Misalnya, kemerdekaan dalam beragama membuat umat muslim bersikap toleran terhadap umat agama lain.

Ketiga, Tawazun (seimbang). Misalnya, Hak Asasi Manusia perlu diimbangi dengan Kewajiban Asasi Manusia sebagai hamba Allah yang bertugas ibadah dan khalifah Allah yang bertugas imarah (memakmurkan bumi). Keempat, Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Misalnya, Menegakkan HAM yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, namun menolak HAM yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.    

***

Penulis adalah Pengurus LTN NU Kabupaten Malang, Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum

Assalamu’alaikum wr. wb

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah, saya hendak mengajukan pertanyaan. Untuk lantai masjid, apakah antara imam dan makmum sebaiknya dibuat rata atau tinggi tempat imamnya. Mohon jawaban serta dalilnya. Terima kasih.Wassalamu ’alaikum wr. wb (Ahmad Qodri/Jepara)

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sepanjang yang kami ketahui dalam khazanah fikih madzhab Syafi’i mengenai tempat berdirinya imam atau istilah populer di masyarakat kami pengimaman sebaiknya dibuat rata, tidak lebih tinggi dari tempatnya makmum. Begitu juga sebaliknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karenanya, jika satu lebih tinggi dihukumi makruh. Salah satu dalil yang digunakan sebagai dasar dari pendapat ini adalah adalah riwayat dari Abu Dawud dan Hakim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. “Dimakruh salah satu tempat atau posisi imam dan makmum lebih tinggi atas yang lain karena ada riwayat yang menyatakan bahwa sahabat Hudzaifah RA pernah mengimami orang-orang di kota Madain di atas dukkan, lantas Ibnu Masud RA memegang gamis dan menariknya. Ketika Hudzaifah selesai dari shalatnya, Ibnu Masud berkata, “Apakah kamu tidak tahu bahwa mereka melarang hal itu.” Hudzaifah pun menjawab, ‘Tentu aku tahu, sungguh aku ingat ketika kamu menarik gamisku.” Ini telah diriwayatkan Abu Dawud dan Hakim.

Hakim berkata bahwa riwayat ini adalah sahih sesuai persyaratan kesahihan yang ditetapkan Bukhari dan Muslim. Sebaliknya (makmum lebih tinggi dari imam) dikiaskan dengan hal tersebut. (Lihat Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, I, halaman 234).

Namun kemakruhan tersebut bisa berganti menjadi kesunahan apabila ada kebutuhan atau hajat yang menghendaki tempat imam lebih tinggi seperti adanya tujuan untuk memberikan pengajaran shalat sehingga bisa terlihat jelas oleh semua makmum.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Kemudian apabila imam butuh untuk berdiri lebih tinggi (dari makmum) karena untuk mengajari shalat atau selainnya, atau makmum lebih tinggi karena agar bisa menyampaikan takbirnya imam atau selainya, hal itu disunahkan karena untuk memenuhi tujuan tersebut.” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, juz, I, halaman 234).

Dengan demikian poin penting yang harus digarisbawahi di sini adalah adanya kebutuhan atau tidak. Jika ada kebutuhan, itu menjadi sunnah. Jika tidak ada kebutuhan, ia menjadi makruh. Tetapi kesimpulan ini bukan tanpa persoalan, terutama yang terkait hukum makruh dalam konteks ini, yaitu ketika tidak ada kebutuhan atau hajat.

Seberapa batas ketinggian tempat imam atau makmum yang memiliki konsekuensi hukum makruh?

Di sinilah kemudian al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi memberikan penjelasan yang hemat kami sudah cukup memadai. Menurutnya, tinggi dalam konteks ini tinggi yang kasat mata kendati hanya sedikit. Tetapi jika ‘urf menganggapnya itu tinggi, maka tetap dihukumi makruh.

?: (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Perkataannya ‘tingginya tempat salah satu dari keduanya di atas yang lain’, maksudnya adalah ketinggian yang kasat mata dimana urf menganggapnya tinggi meskipun sedikit,” (Lihat al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Beirut Darul Fikr, juz, II, halaman 30).

Demikian penjelasan yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Hadits, Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kepedulian Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur terhadap penyandang disabilitas memantik penghargaan. Penghargaan tersebut diberikan oleh tim yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) yang berpusat di Yogyakarta.

Seremoni penyerahan penghargaan itu telah dilakukan Senin lalu di sebuah rumah makan di Jember, dan diterima oleh Sekretaris PAC Muslimat NU Arjasa, Rohimah.? “Penghargaan tersebut langsung diberikan oleh Direktur SAPDA, Ibu Nurul Sa’adah, dan saya yang menerima selaku wakil PAC Muslimat NU Arjasa,” ucapnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di kediamannya, Kamis (22/12).

PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas

Seperti diketahui, selama ini Rohimah merupakan sosok yang? cukup getol bergiat di dalam pelayanan insan-insan difabel. Salah satu program? yang ia gagas adalah “Menuju Arjasa Ramah Difabel”. Pada saat hampir bersamaan, SAPDA yang bekerja sama dengan Kemenko PMK RI dan The Asia Foundation, memilih Kecamatan Arjasa dan Ambulu sebagai daerah intervensi. Dan Rohimah pun semakin mantap? mengurusi? sekaligus? melayani tetek bengek yang berkaitan dengan penyandang disabilitas. Atas kegiatannya tersebut, Rohimah mendapat perhatian dari pemerintah. “Seiring berjalannya waktu, saya? diangkat menjadi FL (Fasilitator Lapangan) Desa Arjasa,”lanjutnya.

Sebagai PAC Muslimat NU, tentu saja dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan penyandang? disabilitas,? ia selalu melibatkan Muslimat NU, termasuk dalam pembuatan? film dokumenter seputar orang yang mempunyai keterbatasn fisik tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebaliknya, dalam agenda rutin PAC Muslimat NU, penyandang disabilitas? selalu dihadirkan,? berbaur dengan masyarakat umum. Selain? itu, dalam rangka menyambut? Hari Disabilitas Internasional (HDI)? 2016,? Muslimat NU Arjasa? juga dilibatkan. Misalnya dalam kegiatan pergelaran seni Pandalungan dan karnaval, yang menampilkan seni musik hadrah dengan melibatkan 150 orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sedangkan untuk kegiatan intensif penyandang disabilitas, dalam setiap bulan ada forum warga yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti? tokoh agama, tokoh masyarakat dan aparat pemerintahana Ada juga forum belajar serta kelompok belajar yang juga melibatkan? masyarakat dan penyandang disabilitas,” tutur Rohimah.

Dikatakannya, Pemeritah Kabuapten Jember mempunyai perhatian yang besar terhadap penyadang disabilitas. Apalagi? saat ini Jember sudah memilki Perda Difabel.? Merujuk pada data Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), di Kabupaten Jember? tercatat sedikitnya? ada sekitar 2.500 penyandang disabilitas. ”Mereka butuh perhatian? kita semua,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Sholawat, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 22 Januari 2018

Ironis, Kondisi Makam Pendiri IPNU Ini Kurang Terawat

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada penelusuran jejak penyebaran Islam di daerah Pajang Laweyan Surakarta, belum lama ini (16/3), kami sempat singgah ke sebuah kompleks Pemakaman Pulo, yang kebetulan terletak tak jauh dari Masjid Laweyan.? Menurut kabar yang kami terima, di pemakaman tersebut terdapat makam satu pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), KH Mustahal bin KH Ahmad Masyhud. Momentum ziarah ini tentu juga tepat, mengingat organisasi pelajar NU ini baru saja memperingati Hari Lahir ke-63.

Tiba di pemakaman, kami pun sempat berziarah ke beberapa makam para tokoh ulama Solo yang dimakamkan di tempat tersebut, antara lain KH Ahmad Shofawi, KH Asy’ari, KH Muhammad Sulaiman, dan lain sebagainya.

Ironis, Kondisi Makam Pendiri IPNU Ini Kurang Terawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ironis, Kondisi Makam Pendiri IPNU Ini Kurang Terawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ironis, Kondisi Makam Pendiri IPNU Ini Kurang Terawat

Makam para tokoh tersebut terletak dalam sebuah bangunan, yang kemungkinan menjadi area pemakaman keluarga dari KH Ahmad Shofawi, yang merupakan salah satu pendiri Pesantren Al-Muayyad. Namun, letak makam yang menjadi tujuan pencarian kami belum jua ditemukan.

Penuh Semak Belukar

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hingga akhirnya, kami pun bertemu dengan seorang warga setempat. Saat kami temui, wanita yang enggan menyebut namanya tersebut, tampak sedang menyapu sekitar belakang bangunan makam keluarga KH Ahmad Shofawi.

Kami kemudian ditunjukkan ke salah satu makam yang penuh dengan rerumputan dan tanaman liar. “Ini makamnya Pak Mustahal dan istrinya. Ya kondisinya memang tidak terawat begini. Paling kalau lebaran atau ruwah, ada yang ke sini,” kata dia.

Setelah kami cek, tulisan yang tertera pada makam memang betul: H. Mustahal Achmad Masyhoed. 8 Januari 1935. Wf 1 Juli 1994. (tulisan ini sekaligus meralat tulisan berjudul? KH Mustahal Ahmad, Perintis Tiga Banom NU, di mana disebutkan KH Mustahal Achmad lahir 31 Januari 1935,-red).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sembari membersihkan makam, ia pun menunjuk makam yang ada di dekat makam KH Mustahal. Kondisinya bahkan dipenuhi semak belukar. “Kalau yang ini makam Bapak dan Ibu Mawardi (Machmudah Mawardi,-red),” ujarnya.

Machmudah Mawardi merupakan kakak Mustahal, yang pernah mengemban amanah sebagai Ketua PP Muslimat NU selama delapan periode.

Keadaan kedua makam tersebut, tentu sangat disayangkan. Mengingat jasa keduanya yang begitu besar, baik untuk NU maupun Umat Islam.

Saat kami konfirmasi hal ini kepada sejumlah pengurus IPNU dan PMII di Kota Solo, sebagian dari mereka bahkan mengaku tidak mengetahui keberadaan makam tersebut.

“Insyaallah akan kita masukkan dalam agenda ziarah, sebagai rangkaian Harlah PMII mendatang,” terang Ketua PC PMII Surakarta, Bahar.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Aswaja, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 21 Januari 2018

Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah

Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Peringatan Hari Santri Nasional ( HSN) berlangsung di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Ketua Hipsi Lampung H Karim, di Bandar Lampung, Jumat (21/10) malam menjelaskan, Danrem 043/Garuda Hitam Kolonel Kav Supriyatna turut hadir membaca sholawat nariyah di Pesantren Darusaadah, Seputih Jaya, Gunung Sugih, Lampung Tengah.

Selain Danrem, Katib Suriyah PBNU KH Mujib Quryubi, Ketua PWNU Lampung KH Soleh Bajuri, jajaran pengurus MUI dan Hipsi juga turut menghadiri pembacaan 1 miliar sholawat nariyah bersama para santri di Lampung Tengah.

Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Danrem, Polisi hingga Santri Bershalawat Nariyah

"Alhamdulillah. Di Kampung Gunung Tiga, Kecamatan Pugung, Tanggamus juga sangat meriah. Warga juga turut hadir, lalu dari kepolisian sektor Pugung pun turut serta dalam pembacaan solawat nariyah. Total sekitar 750 orang," ujar aktivis Gusdurian Lampung dan Yayasan Pendidikan Islam Pondok Pesantren (YPIPP) Nurul Falah Tanggamus, WD Fatchurrochman Syam.

Di Bandar Lampung, salah satu tempat pembacaan sholawat nariyah adalah sekretariat Hipsi Lampung, Jalan ZA Pagaralam Nomor 95, Gedung Meneng, samping museum Lampung.

Di Kabupaten Pringsewu, pelaksanaan pembacaan sholawat nariyah berlangsung di Pesantren Miftahul Huda, Ambarawa. Usai membaca, para santri diajak bakar-bakar ikan sembari menyaksikan pemutaran film Sang Kiai.

Adapun di Way Kanan, salah satu tempat membaca shalawat yang mempunyai sejumlah fadilah seperti menghilangkan segala macam kesusahan, memudahkan pekerjaan, menerangkan hati, memperbaiki budi pekerti, menghindarkan malapetaka dan perbuatan buruk itu berlangsung di Pesantren Roudhotul Mutaqin asuhan KH Rofiul? Bashori, Kecamatan Bumi Agung. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sudah menapaki usia yang ke-53 tahun. Seperti manusia, usia PMII ini sudah tidak muda lagi. Usia yang semestinya cukup matang bagi sebuah organisasi dalam melibatkan diri dan merancang bangun perjalanan bangsa Indoensia.

Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Momentum PMII Semarakkan Kegiatan Kaderisasi

Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur mengajak seluruh kader untuk merefleksikan kembali demi menata fondasi PMII sebagai organisasi kader dan pergerakan yang betul-betul pergerakan.

"Pada Harlah PMII ke-53 kali ini harus dijadikan momentum untuk menyemarakkan kembali kagiatan-kegiatan kaderisasi di Jawa Timur,"kata Bendahara Umum PKC PMII Jatim, Rusman Hadi, di Surabaya, Selasa (2/4).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sehingga, menurut dia, peringatan Harlah PMII tidak sekadar bersifat rutinitas tahunan belaka. Menyemarakkan kegiatan kaderisasi sangat urgen. Sebab, kader merupakan ujung tombak sekaligus tulang punggung keberlangsungan sebuah organisasi.

Mantan Ketua Umum PC PMII Sumenep ini menyadari, di usianya yang ke-53 ini, PMII masih lebih banyak mampu melahirkan kader-kader politisi. Sementara ruang-ruang lain bisa dikatakan masih sangat sedikit yang dijamah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Jadi saat inilah momentum untuk melahirkan kader-kader PMII yang siap berkompetisi dalam banyak lini, tidak hanya pada ruang politik semata,"tegasnya.

Bagi dia, pengembangan potensi kader akan menjadi jawaban terhadap kebutuhan organisasi di masa sekarang dan akan datang.

Ia mencontohkan Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh PKC PMII Jatim. "Ini dalam rangka menantang para kader untuk berkarya, meningkatkan kemampuan, agar jati diri mahasiswa sebagai agen intelektual muncul,"tandasnya.

Pada momentum Harlah ke-53 ini, PKC PMII Jawa Timur menggelar LKTIM berhadiah total Rp 16,5 juta plus tropy bagi tiga pemenang dan tiga juara harapan. Hingga H-3 batas akhir penyetoran naskah LKTIM (batas akhir pada tanggal 5 April), baru belasan naskah yang masuk ke panitia.

"Pada hari terakhir, tanggal 5 April nanti insya Allah mencapai lebih 40 naskah peserta yang masuk, ini sudah banyak yang menghubungi, "kata Sekretaris Panitia LKTIM Anang Romli.

Rusman Hadi menambahkan, menggalakkan kegiatan kaderisasi tersebut, juga dalam rangka menguatkan mentalitas dan moralitas kader di tengah krisis moral yang melanda bangsa kita.

"Harapannya, PMII mampu melahirkan kader profesional yang bermoral, kader politik yg bermoral tak seperti para penguasa sekarang yang cenderung korup,"pungkasnya.

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Habib, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang kami hormati. Ibadah Jumat dinilai sebagai hari Ied bagi umat Islam. Di dalamnya para jamaah mendengarkan nasihat-nasihat ketakwaan dalam khutbah Jumat.

Yang saya tanyakan, bagaimana hukumnya kalau seorang khatib mengangkat masalah politik praktis dan menjelek-jelekan orang lain terutama politikus dan partai tertentu terlebih lagi di tengah pilpres, pilkada, pilbup? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Jakarta/Abdurrahim).

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Khutbah merupakan rangkaian yang wajib dilakukan dalam ibadah Jumat. Seorang khatib di dalam khutbahnya wajib berpesan kepada jamaah agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan ketakwaan ini merupakan satu dari lima rukun khutbah itu sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memang tidak ada ketentuan perihal pilihan kata terkait pesan ketakwaan atau washiat ketakwaan. Khatib hanya diwajibkan untuk menyampaikan washiat ketakwaan meskipun dengan “taatlah kepada Allah”.

Meskipun demikian, seorang khatib perlu memerhatikan rambu-rambu khutbah. Berikut ini kami kutipkan anjuran para ulama seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Majemuk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang khatib dalam khutbahnya disunahkan menggunakan kata-kata yang jelas dan lancar, teratur, terang, tanpa dipanjangkan dan tanpa teriak. Jangan pula khutbah menggunakan kata-kata klise (seperti slogan dalam propaganda politik maupun iklan) karena tidak mengena dengan sempurna di hati pendengar. Jangan juga menggunakan kata asing karena dapat menjauhkan dari maksud pesan ketakwaan itu sendiri. Seorang khatib hendaknya menggunakan kata-kata secara bijak dan mudah dipahami. Imam Al-Mutawalli berpendapat, khatib makruh menggunakan kata-kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga makruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Al-Mutawalli berargumentasi dengan perkataan Sayyidina Ali RA, ‘Bicaralah kepada orang lain sesuai daya pikir mereka. Apakah kalian senang kalau Allah dan Rasul-Nya didustakan?’ (HR Bukhari di akhir Bab Ilmu),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tahun 2010, Juz 4, Halaman 363).

Terkait kata-kata asing yang sulit dijangkau oleh daya pikir sebagian jamaah ini, Syekh Sulaiman Jamal mengingatkan agar para khatib menghindarkan untuk mengeluarkan kata-kata yang terlalu berat untuk dipahami atau bahkan kontroversial seperti istilah-istilah para filsuf atau para sufi yang “berat-berat”.

? : ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? .

Artinya, “(Tidak menggunakan kata aneh dan asing) tidak lazim dalam penggunaan. Syekh Al-Qamuli berkata bahwa khatib dilarang dengan makruh menggunakan kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga dimakruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Yang terakhir ini menjadi haram bila khatib terjatuh melakukan hal yang diharamkan melalui ucapannya. Selesai penjelasan Syekh Barmawi,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal, Hasyiyatul Jamal ala Syarhi Manhajit Thullab, Juz 5 halaman 478).

Rambu-rambu seperti di atas memang sengaja dirumuskan para ulama karena mempertimbangkan penyampaian nasihat sebagai tujuan pokok dari pesan ketakwaan itu sendiri. Hal ini diuraikan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam karyanya Kanzur Raghibin atau lebih dikenal Al-Mahalli yang kami kutip berikut ini.

? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.(? ? ?) ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “(Washiyyat ketakwaan) karena mengikuti sunah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW selalu mewashiatkan ketakwaan dalam khutbahnya. (Tidak ada ketentuan mengenai redaksinya) terkait bahasa pesan ketakwaan (menurut pendapat yang shahih). Karena tujuan dari washiat ini adalah penyampaian nasihat. Penyampaian nasihat ini dianggap memadai meski dengan lafal selain “washiat”. Maka dianggap memadai dengan lafal ‘Taatlah kamu kepada Allah’,” (Lihat Al-Mahalli, Kanzur Raghibin ala Minhajit Thalibin [Hamisy Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah], Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Meskipun tidak ada ketentuan perihal redaksi wasiat, khatib dianjurkan untuk membatasi diri pada lafal “washiat” itu sendiri. Ini yang lebih utama sebagaimana usul Syekh Qaliyubi yang kami kutipkan berikut ini.

? : ( ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Perihal (washiat ketakwaan), kalau khatib hanya menggunakan lafal ‘washiat’, tentu lebih utama karena tidak adanya ketentuan perihal lafal ketakwaan disepakati para ulama,” (Lihat Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Lalu bagaimana dengan khatib yang menyelipkan isu politik praktis di dalam washiat ketakwaan dalam khutbahnya? Hemat kami, mimbar Jumat terlalu suci untuk diwarnai dengan kepentingan politik praktis, apalagi misalnya kalau khutbah itu digunakan untuk menghasut, mencaci-maki, melontarkan ghibah, atau melontarkan kata sufistik yang kontroversial (syathahat). Ini jelas diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Sulaiman Jamal dalam Hasyiyah-nya seperti kami kutip di atas.

Kami menyarankan agar para khatib memerhatikan kembali tujuan utama dari washiat ketakwaan itu sendiri, yakni mengingatkan para jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan kata-kata yang bijak dan santun.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, RMI NU, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Januari 2018

Saling Menjaga, 100 Personel Banser NTT Partisipasi Damai Natal

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak seratus personel Barisan Serba Guna (Banser) GP Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan siap berpartisipasi dalam Damai Natal dan Tahun Baru 2016 di Kota Kupang dan sekitarnya. Bersama elemen masyarakat lainnya, GP Ansor NTT akan membentu aparat kepolisian setempat mengawal keamanan dan ketertiban pada peringatan Natal dan tahun baru 2016.

Kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Kupang, Selasa (22/12), GP Ansor NTT melalui kepanitiaan saudara Iksan Arman Pua Upa mengatakan, panitia partisipasi Damai Natal tahun 2015 dan tahun baru 2016 di NTT melibatkan seratus personel yang terdiri dari perwakilan GP Ansor Kupang, GP Ansor Kota Kupang, Banser NTT, dan sejumlah pengurus GP Ansor NTT serta gabungan dari Pemuda Hindu Dharma.

Saling Menjaga, 100 Personel Banser NTT Partisipasi Damai Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
Saling Menjaga, 100 Personel Banser NTT Partisipasi Damai Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

Saling Menjaga, 100 Personel Banser NTT Partisipasi Damai Natal

"Kami sudah total sekitar 100 orang Banser dan gabungan pemuda Hindu Dharma," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Iksan, persiapan pengamanan dimulai dari 24 hingga 25 Desember 2015, dengan 13 titik gereja di wilayah Kota Kupang. Hari ini pihak panitia sudah mendistribusukan sejumlah surat pemberitahuan kepada gereja dan rapat koordinasi bersama Polres Kupang kota serta beberapa instansi terkait.

Sekretaris GP Ansor NTT Ajhar Jowe menegaskan, partsiapasi Damai Natal sudah menjadi agenda tahunan GP Ansor NTT. Tidak ada maksud dan tujuan lain dari kebersamaan ini. Kegiatan ini digelar demi menjaga keberagaman, kerukunan umat beragama yang ada di Nusa Tenggara Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebab, setiap hari raya keagamaan Idul Fitri maupun Idul Adha teman-teman dari pemuda gereja juga melakukan hal yang sama seperti kita lakukan. Sebagai garda terdepan, kita tetap mengawal keberagamaan ini,” kata Ajhar. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Desember 2017

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bakti sosial (baksos) bekam, sunatan massal hingga pengajian akbar diigelar 14 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati 90 tahun hari lahir NU. Kegiatan dimulai 30 Januari hingga 9 Februari 2016.

"Walau sederhana, kami mengajak MWCNU untuk memperingati harlah NU, di tingkatan ranting, Sabtu 30 Januari malam kami meminta pengurus untuk menggelar tahlil dan yasinan bagi pendiri NU," ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda di Blambangan Umpu, Kamis (28/1).

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan

Selain menggelar beberapa kali musyawarah di Gedung PCNU yang berada di Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu, sejumlah MWC NU juga melakukan musyawarah sendiri bersama badan otonom seperti GP Ansor, Fatayat dan Muslimat NU di tingkatan anak cabang, salah satunya MWC Pakuan Ratu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sabtu 30 Januari MWC Pakuan Ratu menggelar bakti sosial bekam gratis bagi 90 orang dan khitanan massal gratis bagi puluhan anak. Dan pada Minggu 31 Januari kami menggelar istighosah dan pengajian akbar," kata Ketua PAC GP Ansor Pakuan Ratu Bakti Gozali.

MWCNU Kasui dan Blambangan Umpu juga menggelar pengajian akbar pada 31 Januari. Adapun MWCNU Bumi Agung menggelar pengajian pada Sabtu 30 Januari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk kegiatan itu, Ketua MWC NUBumi Agung Kiai Syamsudin pada Rabu (27/1) mengantar surat kepada Kepala Kemenag, Pj Bupati, Dandim dan Kapolres Way Kanan didampingi KH Nur Huda didampingi sejumlah pengurus.

Di tingkatan cabang, peringatan harlah NU dimulai mulai 7 hingga 9 Februari 2016. Menurut Ketua Lakpesdam Way Kanan Supri Iswan, kegiatan cukup beragam, antara lain lomba membaca Barzanji, bakti sosial, lomba menulis opini, baca puisi, bazar dan ditutup dengan pengajian akbar. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Ahlussunnah, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Desember 2017

PCNU Siapkan Dai dan Daiyah Baru Aswaja di Pringsewu

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua PCNU Pringsewu Mas Taufik mengharapkan kader-kader baru dai dan daiyah Aswaja di Pringsewu. Menurutnya, tantangan ke depan Aswaja NU akan semakin banyak dan semakin kompleks.

"Lomba ini adalah sebuah ikhtiar dari PCNU Pringsewu untuk mencari bibit-bibit potensial yang akan dapat mengembangkan dinul Islam ala Ahlissunah wal Jamaah khususnya di Kabupaten Pringsewu yang mayoritas warga NU," kata Mas Taufik saat membuka Lomba Dai dan Daiyah dalam rangka Harlah Ke-91 NU tingkat Kabupaten Pringsewu di Gedung NU Pringsewu, Senin (30/1).

PCNU Siapkan Dai dan Daiyah Baru Aswaja di Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Siapkan Dai dan Daiyah Baru Aswaja di Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Siapkan Dai dan Daiyah Baru Aswaja di Pringsewu

Dalam lomba yang bertemakan Syiarkan Islam Untuk Pringsewu ini ia menambahkan bahwa penting untuk selalu membina kader dakwah khususnya di atas mimbar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Para kader dai dan daiyyah sangat penting untuk dibina dengan baik agar nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Mas Taufik.

Dakwah di atas mimbar melalui pidato merupakan salah satu bentuk ibadah mengajak kepada kebaikan. "Dengan pidato di atas mimbar para dai bisa watawa shau bil haqqi dan watawa shaubis shabri," jelasnya.

Dalam kegiatan lomba pidato tersebut, panitia membagi para peserta ke dalam dua golongan, yaitu remaja dan dewasa. Para pemenang akan mendapat trofi piala, piagam, dan dana pembinaan yang sudah disiapkan oleh panitia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pengumuman dan penyerahan hadiah dilaksanakan pada puncak Harlah NU tingkat Kabupaten pada 31 Januari 2017," kata Ketua Panitia Koordinator kegiatan Auladi Rosyad di sela-sela kegiatan. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Puluhan ribu jamaah memenuhi Masjid Agung Solo. Mereka mengikuti dzikir dan tablig akbar bertajuk "20 ribu yasin untuk hajat Anda menuju Solo Kota Santri" bersama Habib Noval bin Muhammad Alaydrus pada Ahad (13/10).

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Berdasarkan pengamatan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, mayoritas jamaah yang hadir berpakian putih. Selebihnya berjaket dengan nama majelis di punggungnya, seperti Majelis Rosululloh, Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah (Malang), dan Ahbabul Musthofa. 

Sambil menanti acara dimulai, para jamaah asyik mendengarkan lantunan solawat yang dilantunkan oleh kelompok hadroh Jamuri Solo dan Fatahilah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebelum dimulai, yuk berdoa kepada Allah agar dikirimkan mendung atau angin yang semilir," ungkap Habib Noval mengawali majelis. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ucapan tersebut keluar setelah melihat ada sebagian jamaah diluar masjid yang kepanasan, meski panitia telah menutup halaman masjid dengan tenda. Lima menit kemudian, jamaah membaca Alfatihah dipimpinnya. Mendung dan hawa dingin pun mulai datang. 

Usai beberapa sambutan, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengajak hadirin untuk membaca surat Fatihah dan Yasin. Selanjutnya, Habib Noval mengajak hadirin menzikirkan lafad "La ilaha Illalloh". 

Usai menzikirkan lafadz tersebut puluhan kali, habib Noval pun memimpin doa. Banyak hadirin yang menangis ketika mengamini doa sang habib. betapa tidak, sebagian besar doa yang dipanjatkan pimpinan majelis Ar-Raudhah berkaitan dengan permohonan ampun atas tiap dosa kepada orang tua.

"Ya Rabb, ampuni kata-kata kasar kami kepada orang tua kami" demikian di antara doa Habib Noval. 

Selain itu, ia juga memohonkan ampun untuk setiap kaum muslimin, serta beberapa doa lain yang diaminkan oleh ribuan jamaah. Bahkan, sang Habib mendoakan keselamatan untuk siapapun yang membenci hadirin, lahir batin. 

Setelah doa, Habib Noval menanyakan kesediaan jamaah untuk menyelenggaraan acara serupa tiap dua bulan sekali. Tentu saja ajakan tersebut diamini oleh ribuan jamaah yang hadir.

Selanjutnya, acara diisi dengan ceramah singkat dari KH Abdurrohim. Kiai yang akrab disapa Gus Rohim ini dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah ini mengutarakan bahwa wasilah doa kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Habib Anis bin Ali Alabsyi. Habib Anis merupakan guru dan mertua Habib Noval yang diakuinya sebagai salah satu guru dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah.

Sementara itu, Habib Muhammad mengawali urainnya dengan "Anda tahu tentang surga?" Cucu Habib Anis tersebut menguraikan tentang itu, serta keyakinannya bahwa jamaah yang hadir di Masjid Agung Solo sebagai calon penghuni surga.

Sebagai penutup acara, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengumumkan akan diadakannya Pameran Buku Aswaja se-Solo di bulan Muharam nanti. Selain itu, Habib Noval menyampaikan tentang diselengarakanya pembaacaan Maulid Simthudduror di Majlis Ar-Raudhah setiap Jumat Pon. (Pekik Sasongko/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 12 Desember 2017

Islah Gagal, Solusinya Parpol Baru

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Meski PBNU tidak memiliki hubungan langsung dengan parpol manapun termasuk PKB, namun jika dalam parpol itu banyak warga NU dan parpol itu mengalami konflik, maka PBNU akan memperhatikannya. Dalam konteks itulah PBNU terkait PKB Gus Dur (Yenny) dan Muhaimin Iskandar ini, PBNU mendorong agar mereka bersatu, islah dan rujuk kembali. Jika gagal, sebaiknya mendirikan partai baru.



Islah Gagal, Solusinya Parpol Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Islah Gagal, Solusinya Parpol Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Islah Gagal, Solusinya Parpol Baru

“Seharusnya rujuk semacam itu mudah, karena keduanya tidak memiliki perbedaan yang fundamental. Secara ideologis keduanya menjunjung tinggi prinsip kebangsaan dan keislaman yang sama dan sebangun,”kata Ketua PBNU H Slamet Effendy Yusuf di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta, Jumat (17/12).

<br /> Bahkan lanjut Slamet, Yenny dan Muhaimin sama-sama memiliki akar keluarga yang serumpun. Hanya saja masalahnya politik itu memiliki logika sendiri. Yaitu ada kepentingan, gengsi, sharing politik dan lain-lain. Sehingga rujuk atau islah seringkali mengalami kebuntuan.

Namun demikian demi PKB dan warga NU, seharusnya untuk islah tersebut Yenny dan Muhaimin harus saling memberi dan menerima. “Harus bersedia berdialog dan berkompromi. Jangan menang-menangan, tapi harus ada sikap saling mengalah untuk kepentingan yang lebih besar,”ujar mantan tokoh Golkar ini menganjurkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tapi, kalau mereka tetap menghadapi kebuntuan, yakni islah gagal, maka alternatifnya adalah Yenny

harus berani mengibarkan bendera baru (Parpol baru, red). Kalau Yenny yakin dengan itu, kenapa tidak? Hanya dengan cara itu konflik akan berakhir,”kata Slamet meyakinkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sehingga nantinya menurut mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini, rakyatlah yang akan menjadi penentu masa depan partai tersebut. “Kami PBNU akan berbahagia jika warga NU yang tersebar di berbagai parpol membawa misi ke-NU-annya, yaitu terbangunnya sistem politik yang solid, demokratis, dilandasi dengan moralitas politik yang tinggi dan diabdikan demi kemaslahatan rakyat,”tutur Slamet yang juga Ketua MUI ini.(amf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, RMI NU, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 07 Desember 2017

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum

Assalamu’alaikum wr. wb

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah, saya hendak mengajukan pertanyaan. Untuk lantai masjid, apakah antara imam dan makmum sebaiknya dibuat rata atau tinggi tempat imamnya. Mohon jawaban serta dalilnya. Terima kasih.Wassalamu ’alaikum wr. wb (Ahmad Qodri/Jepara)

Jawaban

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sepanjang yang kami ketahui dalam khazanah fikih madzhab Syafi’i mengenai tempat berdirinya imam atau istilah populer di masyarakat kami pengimaman sebaiknya dibuat rata, tidak lebih tinggi dari tempatnya makmum. Begitu juga sebaliknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karenanya, jika satu lebih tinggi dihukumi makruh. Salah satu dalil yang digunakan sebagai dasar dari pendapat ini adalah adalah riwayat dari Abu Dawud dan Hakim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. “Dimakruh salah satu tempat atau posisi imam dan makmum lebih tinggi atas yang lain karena ada riwayat yang menyatakan bahwa sahabat Hudzaifah RA pernah mengimami orang-orang di kota Madain di atas dukkan, lantas Ibnu Masud RA memegang gamis dan menariknya. Ketika Hudzaifah selesai dari shalatnya, Ibnu Masud berkata, “Apakah kamu tidak tahu bahwa mereka melarang hal itu.” Hudzaifah pun menjawab, ‘Tentu aku tahu, sungguh aku ingat ketika kamu menarik gamisku.” Ini telah diriwayatkan Abu Dawud dan Hakim.

Hakim berkata bahwa riwayat ini adalah sahih sesuai persyaratan kesahihan yang ditetapkan Bukhari dan Muslim. Sebaliknya (makmum lebih tinggi dari imam) dikiaskan dengan hal tersebut. (Lihat Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, I, halaman 234).

Namun kemakruhan tersebut bisa berganti menjadi kesunahan apabila ada kebutuhan atau hajat yang menghendaki tempat imam lebih tinggi seperti adanya tujuan untuk memberikan pengajaran shalat sehingga bisa terlihat jelas oleh semua makmum.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Kemudian apabila imam butuh untuk berdiri lebih tinggi (dari makmum) karena untuk mengajari shalat atau selainnya, atau makmum lebih tinggi karena agar bisa menyampaikan takbirnya imam atau selainya, hal itu disunahkan karena untuk memenuhi tujuan tersebut.” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, juz, I, halaman 234).

Dengan demikian poin penting yang harus digarisbawahi di sini adalah adanya kebutuhan atau tidak. Jika ada kebutuhan, itu menjadi sunnah. Jika tidak ada kebutuhan, ia menjadi makruh. Tetapi kesimpulan ini bukan tanpa persoalan, terutama yang terkait hukum makruh dalam konteks ini, yaitu ketika tidak ada kebutuhan atau hajat.

Seberapa batas ketinggian tempat imam atau makmum yang memiliki konsekuensi hukum makruh?

Di sinilah kemudian al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi memberikan penjelasan yang hemat kami sudah cukup memadai. Menurutnya, tinggi dalam konteks ini tinggi yang kasat mata kendati hanya sedikit. Tetapi jika ‘urf menganggapnya itu tinggi, maka tetap dihukumi makruh.

?: (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Perkataannya ‘tingginya tempat salah satu dari keduanya di atas yang lain’, maksudnya adalah ketinggian yang kasat mata dimana urf menganggapnya tinggi meskipun sedikit,” (Lihat al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Beirut Darul Fikr, juz, II, halaman 30).

Demikian penjelasan yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, RMI NU, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 Desember 2017

LPBI NU Bantu Korban Banjir di Aceh Tenggara

Aceh Tenggara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banjir yang terjadi di Aceh Tenggara menyebabkan kerusakan parah di sejumlah wilayah. Jalan Nasional Aceh Tenggara (Agara) -Gayo Lues (Galus) putus sehingga transportasi darat antarkabupaten lumpuh, ratusan rumah tertimbun lumpur, lahan perkebunan dan perikanan pun rusak.

LPBI NU Bantu Korban Banjir di Aceh Tenggara (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Bantu Korban Banjir di Aceh Tenggara (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Bantu Korban Banjir di Aceh Tenggara

Menurut Wakil Bupati Aceh Tenggara, Ali Basrah Pasaribu, Banjir yang terjadi di Aceh Tenggara pada 24 Oktober 2015 menyebabkan lima rumah hanyut, 10 lainnya rusak parah, dan 102 rumah terendam lumpur. Selain itu, Jalan Nasional Agara - Galus di Desa Balai Lutu, Kecamatan Ketambe, sepanjang 100 meter juga putus akibat banjir ini. Memang tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian akibat banjir bandang ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara telah mendirikan sejumlah tenda pengungsian. Selain dapur umum, berbagai bantuan berupa mi instan, air mineral dan lainnya pun sudah mengalir kepada para masyarakat terdampak banjir. Namun jumlah bantuan yang ada belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir bandang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyikapi hal tersebut, ? Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), Senin (2/11) memberikan bantuan untuk masyarakat terdampak banjir di Aceh Tenggara berupa paket sembako dan selimut kepada 125 KK di 3 (tiga) Kecamatan yaitu: Bukit Kusam, Ketambe dan Babussalam.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemberian bantuan tersebut dilaksanakan berdasarkan assessment (kajian awal) yang dilakukan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Aceh Tenggara, yang menyebutkan bahwa saat ini masyarakat terdampak banjir di Aceh Tenggara sedang membutuhkan paket sembako, makanan, dan selimut.

Menyambut bantuan dari PP LPBI NU, Ketua PCNU Aceh Tenggara, Tengku Muhajirin, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan, bantuan dari PP LPBI NU ini sangat diperlukan dan sangat membantu masyarakat yang terdampak banjir.?

Ketua PP LPBI NU, M Ali Yusuf mengatakan, bahwa bantuan yang diberikan untuk masyarakat terdampak bencana banjir di Aceh Tenggara setelah dilakukan assessment sebelumnya. Menurut Ali, kejadian banjir di Aceh Tenggara bukan hal baru, sejak tahun 1938, Aceh Tenggara sudah dilanda banjir dan longsor. Hal ini menunjukkan bahwa Aceh Tenggara merupakan daerah yang sangat rawan banjir dan longsor.?

“Oleh karena itu, ? LPBI NU berharap dan mengajak pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak di Aceh Tenggara untuk segera merumuskan solusi untuk mengatasi ancaman bencana banjir dan longsor,” jelasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 Desember 2017

GP Ansor Pakumbulan Nyalakan Obor di Malam 1 Syura

Buaran, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menyambut datangnya tahun baru Hijriyah 1437 H, GP Ansor Pakumbulan kecamatan Buaran menggelar pawai obor keliling desa. Masyarakat menyambut penuh antusias. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berpartisipasi memeriahkan kegiatan yang baru pertama diselenggarakan ini.

Pasalnya, selain semarak tahun baru yang diusung, para warga juga berharap keberkahan acara ini. Sekitar 1500an warga berbagai umur melaksanakan konvoi berjalan memegang obor.

GP Ansor Pakumbulan Nyalakan Obor di Malam 1 Syura (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pakumbulan Nyalakan Obor di Malam 1 Syura (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pakumbulan Nyalakan Obor di Malam 1 Syura

Di mulai dari balai desa Pakumbulan, peserta berjalan mengelilingi desa selama sekitar 2 jam untuk kembali finish di balai desa. Selama perjalanan tersebut, lantunan sholawat berkumandang tanpa henti.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara ditutup dengan pembagian ratusan doorprize dengan mengundi kupon peserta. Hadiah yang disuguhkan berbagai rupa mulai dari ayam, kipas angin, hingga sepeda Jepang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dengan menyala obor di desa kami malam ini, kita berharap di tahun yang baru ini menyala pula kehidupan kita. Dijauhkan dari segala musibah dan kesusahan. Khususnya untuk negeri tercinta, Indonesia!” kata Khumailin di sela-sela acara.

Kegiatan ini berlangsung meriah. Rencananya kegiatan serupa akan dijadikan kegiatan rutin oleh Pemuda Ansor Pakumbulan. (M Mirza Rofiq-Sulthoni/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 26 November 2017

Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit

Tabalong, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Barisan Ansor Serba Guna Nahdlatul Ulama (Banser NU) Kalimantan mulai bangkit dan telah menyebar sampai ke pelosok pulau, di wilayah propinsi Kalimantan Selatan paling timur, tepatnya di Kabupaten Tabalong.

Awal pekan lalu diadakan Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser yang dibuka oleh Polres Tabalong, dihadiri oleh pejabat-pejabat pemkab, kepala pengadilan negeri, kejaksaan negeri dan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Tabalong, serta para pengurus wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Propinsi Kalimantan Selatan.

Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser NU Kalimatan Mulai Bangkit

Kasatlantas Polres Tabalong mewakili Kapolres dalam sambutannya mengatakan, Banser sebagai salah satu potensi Masyarakat perlu membangun kerjasama dengan semua pihak, sehingga diharapkan kedepan dapat bekerjasama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia khususnya Polres Tabalong dalam memberikan bantuan keamanan kepada masyarakat sebagai salah satu tugas dan fungsi Banser.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tabalong mengatakan, Diklatsar Banser secara langsung maupun tidak akan berpengaruh terhadap profesionalitas kader-kader NU dimasa mendatang.

”Jika mereka mendapatkan tempaan keilmuan keorganisasian GP Ansor dan berbagai macam teknik kegiatan lapangan serta penguatan Aswaja, maka akan menjadi bekal bagi mereka tatkala terjun ditengah-tengah masyarakat nanti, mereka tidak akan merasa canggung karena lebih kenal medan perjuangan,” Katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Satuan Koordinasi Nasional Banser, H Tatang Hidayat yang juga hadir pada kegiatan pembukaan menegaskan bahwa tujuan orientasi medan laga banser secara Nasional perlu diarahkan pada “paradigma baru? banser”, yaitu setiap anggota Banser harus ”terlatih, terampil dan berdaya guna atau profesional”. Hal ini harus dipahami oleh seluruh anggota melalui pendidikan dan pengkadenan semacam ini.

Pengertian terlatih adalah, bahwa ke depan tidak ada Anggota Banser yang rekrutmennya tidak melalui prosedur pendidikan dan pelatihan yang berlaku di lingkungan Banser, yaitu Diklatsar untuk pendidikan-pelatihan anggota baru, Susbalan (Kursus Banser Lanjutan) untuk penyelenggara organisasi tingkat menengah (PAC-Cabang) dan Susbanpim (Kersus Banser Pimpinan) untuk penyelenggara organisasi tingkat Tinggi antara Satkorwil dan Satkornas.

Terampil merupakan bekal bagi para anggota untuk memiliki kecakapan hidup sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga disamping berjuang di dalam Banser namun disisi lain telah memiliki sumber pencaharian yang cukup, sehingga komitmen menghidupi organisasi bisa terwujud.

Sedangkan pengertian profesional, bahwa Banser kedepan diarahkan agar memiliki? ketrampilan khusus yang disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing. Misalnya tersedia Banser yang ahli di bidang pengamanan dan kelau lintasan karena telah ditempa oleh Kepolisian melalui pendidikan garda pratama.

Diperlukan juga Banser yang ahli dalam bidang Search and Rescue (SAR) dan telah menerima pelatihan dari Badan SAR Nasional. Juga Banser yang sigap dalam pemadaman kebakaran karena telah dididik dalam penanggulangan kebakaran dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan perjuangan dalam membantu masyarakat sebagai tugas pengabdian Banser.? ? ? ?

Dalam Diklatsar itu para peserta digembleng dengan orientasi medan dan materi lapangan oleh Asrendiklat Satkornas Banser yang diikuti oleh peserta dengan penuh semangat.

Diklatsar dihadiri oleh perwakilan pengurus pusat GP Ansor. Tampak hadir Wakil Sekjen PP GP Ansor Muhtar Hadyayu, Asiten Perencanaan, Pendidikan dan Pelatihan Satuan Koordinasi Nasional Banser Drs H Abdul Mujib Syadzili, dan Sekretaris Pimpinan Wilayah GP Ansor Propinsi Kalimantan Selatan Drs Hadnan. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Tokoh, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 24 November 2017

Badan Pengelola Keuangan Haji Berwenang Investasikan Dana Setoran Haji

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dengan rentang waktu yang lama dan banyaknya umat Islam yang ingin melaksanakan Ibadah Haji maka tidak terpungkiri jika dana awal haji yang disetorkan Calon Jamaah Haji (CHJ) di Indonesia untuk mendapatkan porsi berangkat ke tanah suci sangat besar jumlahnya. 

Badan Pengelola Keuangan Haji Berwenang Investasikan Dana Setoran Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Badan Pengelola Keuangan Haji Berwenang Investasikan Dana Setoran Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Badan Pengelola Keuangan Haji Berwenang Investasikan Dana Setoran Haji

Mempertimbangkan hal ini, Presiden telah membentuk Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang bertugas mengelola Keuangan Haji yang meliputi penerimaan, pengembangan, pengeluaran, dan pertanggungjawaban Keuangan Haji.

Dalam pelaksanaannya masih ada perdebatan yang muncul terkait hukum pengelolaan dana haji tersebut oleh BPKH ditinjau dari hukum fiqih. Seperti diketahui, saat ini BPKH menempatkan dan menginvestasikan keuangan haji tersebut dalam bentuk produk perbankan, surat berharga, emas, investasi langsung dan investasi lainnya.

Permasalahan ini sudah terjawab dalam Bahtsul Masail yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Provinsi Lampung di Pondok Pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung, Sabtu (7/11) yang sepakat membolehkan BPKH menginvestasikan dana haji tersebut.

Menurut Ketua LBM NU Lampung KH Munawir, BPKH melalui akad wakalah yang sudah ditandatangani oleh setiap CJH, berwenang menempatkan keuangan haji di berbagai investasi. "Nilai manfaat (imbal hasil) atas hasil pengelolaan keuangan haji ini dimaksudkan untuk sebesar-besarnya kepentingan jemaah haji," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal ini lanjutnya, mengacu pada aturan perundangan terkait pengelolaan dana haji. UU Nomor 34 tahun 2014 yang mengatur bahwa Badan Pengelola Keuangan Haji BPKH selaku Wakil akan menerima mandat dari calon jemaah haji (CJH) selaku Muwakkil untuk menerima dan mengelola dana setoran BPIH. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Melalui akad wakalah, calon jemaah haji selaku Muwakkil telah memberikan kuasa kepada Kementerian Agama selaku Wakil untuk menerima dan mengelola dana setoran awal BPIH yang telah disetorkan melalui Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku," terang pria yang juga Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung ini, Selasa (7/11).

Ia juga mengingatkan agar Investasi yang dilakukan oleh BPKH harus mempertimbangkan aspek keamanan, kehati-hatian, nilai manfaat, dan likuiditas serta kesesuaian dengan prinsip syariah. Hal ini mengingat dana haji adalah dana titipan masyarakat yang akan melaksanakan ibadah haji. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 22 November 2017

PCINU Arab Saudi: Santri Harus Jadi Pemimpin

Jeddah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan instruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCINU) Arab Saudi melangsungkan pembacaan 1 miliar shalawat Nariyah. Sebanyak 4.444 shalawat digemakan serentak oleh para Nahdliyin di beberapa kota di Arab Saudi yakni Jeddah, Makkah, Thaif, Madinah, Riyadh dan Al Qassim.

PCINU Arab Saudi: Santri Harus Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Arab Saudi: Santri Harus Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Arab Saudi: Santri Harus Jadi Pemimpin

Acara ini turut dihadiri perwakilan KJRI Jeddah, GP Ansor dan Muslimat Arab Saudi, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Arab Saudi, Ormas/LSM, Parpol dan beberapa tokoh masyarakat di Jeddah.

"Secara konseptual, muktamar di Banjarmasin tahun 1935 NU menyatakan bahwa membela negara yang diduduki oleh umat Islam adalah wajib hukumnya", ungkap Ahmad Fuad selaku Ketua Tanfidiziyah PCINU Arab Saudi.

Menurutnya, NU didirikan Hadratus Syaikh Hasyim Asyari untuk mendampingi perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan. "Santri adalah pemimpin. Dubes kita sekarang santri, bahkan diakui sebagai ulama oleh Kiai Mudatsir (Wakil Rois Syuriyah PWNU Jatim 2010-2015)," ujarnya, Jumat (21/10).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fuad berharap pemimpin dari kalangan santri tidak hanya di Arab Saudi. “Anda semua (santri) yang harus mengisi perjalanan Republik Indonesia ke depan ini," lanjut beliau memotivasi para hadirin.

M. Hery Saripudin, Konsul Jendral RI Jeddah mengungkapkan kebahagiaannya atas keberadaan warga Nahdliyin di Arab Saudi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya sebagai konjen baru merasa beruntung karena adanya ulama dan santri Nahdliyin di sini. feel at home," katanya.?

Di kehadiran perdananya Hery Saripudin meminta KJRI Jeddah dan Nahdliyin terus bersinergi. karena tulang punggung umara merupakan ulama.

"Hari Santri ini merefleksikan semangat para ulama dan santri di sini sangat positif sesuai harapan kami sebagai wakil pemerintah," pungkasnya. (Hariri Thohir/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 19 November 2017

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gerakan Pemuda Ansor dan organisasi semiotonomnya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser)? harus menjadi garda terdepan dalam menbentengi NKRI dari rongrongan kelompok-kelompok anti-Pancasila.

Demikian seruan Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi dalam acara peringatan hari lahir (harlah) ke-82 GP Ansor di Pacitan, Jawa Timur, Rabu (27/4) malam.

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando (Sumber Gambar : Nu Online)
Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando (Sumber Gambar : Nu Online)

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando

Kiai Luqman menyampaikan hal tersebut setelah mencermati ancaman terhadap kedaulatan NKRI semakin hari semakin nyata. Salah satu di antarnya adalah maraknya poster atau spanduk yang berisi ajakan menegakkan negara khilafah di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh Pesantren Tremas ini mengatakan, bila di Pacitan benar-benar ditemukan spanduk tentang ajakan menegakkan negara khilafah, GP Ansor dan Banser diminta bergerak untuk menurunkannya. Namun usaha itu harus sepengetahuan alat negara, yakni kepolisian dan TNI. Hal ini sesuai dengan intruksi Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H Yaqut Cholil Qoumas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ansor dan Banser jangan bergerak tanpa komando. Semua harus ada komando, tidak boleh berjalan dengan mengunakan tata cara sendiri. Dan itu pun harus komunikasi dengan alat negara,” imbuhnya mengingatkan.

Penurunan spanduk khilafah, lanjutnya, merupakan salah satu usaha menegakkan kebenaran dan tidak menyalahi Undang-undang. Sebab bila pemasangan spanduk ini dibiarkan begitu saja, maka akan sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia. “Bukanya kita arogan, justru yang memasang spanduk itu yang arogan. Memangnya ini negara siapa?” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pacitan Khoirul Anam memohon arahan dan bimbingan dari para sesepuh dan pengurus NU di Pacitan agar dapat menjalankan roda organisasi dengan baik. Menurutnya, saran-saran yang diberikan akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja pengurus Ansor ke depan.

“Kami mohon doa restu, bimbingan dan motivasinya. Semoga bisa menjalankan amanah yang diberikan kepada kami, untuk meneruskan estafet perjuangan para ulama,” katanya.

Selain puluhan pengurus dan anggota Banser, peringatan harlah Ansor juga dihadiri Mustasyar PCNU Pacitan KH Umar Syahid, Rais Syuriyah PCNU Pacitan KH Faqih Sujak, Sekretaris PCNU Pacitan M Nurul Huda, ketua organisasi kepemudaan dan undangan lainnya. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Pertandingan, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah