Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Januari 2018

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pondok Pesantren Walisongo Saragen dan Mambaul Hikmah Selogiri Wonogiri berhasil mencapai babak puncak Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 Zona Jateng 1. Kedua kesebelasan melenggang ke babak final setelah mengalahkan lawan mereka di babak semifinal yang digelar di Stadion Kota Barat Solo, Ahad (20/8).

Pantuan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, laga sengit tersaji pada awal pertandingan Mambaul Hikmah (MH) melawan Al-Manshur Popongan Klaten. Meski demikian, MH kemudian dapat mendominasi jalannya pertandingan dan mengakhiri laga dengan skor telak 6-1.

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat

Ari Yuansyah membuka keunggulan MH dengan golnya pada saat pertandingan baru berjalan menit ketiga. Namun, delapan menit kemudian Al-Manshur dapat membalasnya dengan gol yang dicetak Wawahidin. Tak butuh waktu lama, di menit ke-12, MH kembali unggul. Skor babak pertama 2-1 untuk keunggulan MH.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di babak kedua, MH mendominasi permainan, dan berhasil menyarangkan empat gol ke gawang lawan. Sementara Al-Manshur tidak dapat menambah pundi-pundi golnya. Skor akhir pertandingan 6-1 untuk MH.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan di pertandingan lainnya, Walisongo Sragen berhasil menyingkirkan Al-Barokah Gunting Klaten dengan skor 4-0. Masing-masing gol dicetak oleh Dani, Tri Widodo, Wilaryom dan Usup.

Selanjutnya kedua tim akan bertemu pada babak final, yang rencananya akan digelar hari ini, Senin (21/9), di Stadion Kota Barat.

“Jadwal Final LSN Zona Jateng I, akan dimulai pada pukul 14.30-15.45 WIB, Al Manshur vs Al Barokah memperebutkan juara 3 dan 4. Dilanjutkan, partai final pada pukul 16.00-17.25, Mambaul Hikmah vs Walisongo,” terang salah satu panitia pelaksana LSN Zona Jateng I, Dony Ridukha. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 30 Januari 2018

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kalau merujuk pada Al-Qur’an, ada dua hal mendasar yang menyertai penciptaan manusia di dunia. Yang pertama adalah bahwa bisa saja Allah menciptakan manusia seragam, tapi manusia diciptakan beragam. Yang kedua, hanya orang-orang yang dikasihi Allah-lah yang mampu mengelola perbedaan tersebut sebagai rahmat.

Demikian diungkap oleh KH Abdul Ghofur Maimoen dalam Suluk Maleman bertajuk “Bulan Peneguhan Cinta” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Ahad (19/6) dini hari kemarin.?

Menurut putra KH Maimoen Zubair yang akrab dipanggil Gus Ghofur ini, keberagaman adalah sunatullah, dan kemampuan orang untuk menerima dan mengelola keberagaman adalah cermin bahwa ia termasuk orang yang dikasihi Allah.

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta

Menggarisbawahi apa yang diungkap oleh Gus Ghofur, Anis Sholeh Ba’asyin sebagai tuan rumah acara tersebut menegaskan, puasa Ramadhan adalah salah satu cara agar kita mampu meraih posisi sebagai golongan yang dikasihi Allah.

Menurut Anis, berpuasa itu merupakan langkah menahan diri untuk kepentingan yang lebih tinggi. Inti dari berpuasa pada dasarnya juga dilakukan dalam berbagai bentuk sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bayangkan, bila orang tidak menahan diri untuk berhenti saat lampu merah di traffic light,? sudah pasti kekacauan yang terjadi, dan korbannya bukan hanya pihak yang menerobos, tapi juga orang-orang lain,” ujar Anis.

Dari contoh kecil ini saja, lanjut Anis, bisa dibayangkan bahwa sebuah peradaban tak mungkin dibangun bila para pemangkunya tak mau memuasakan dirinya. Nah, setidaknya ada dua motif manusia ketika melakukan puasa macam ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang pertama, karena takut. Motif ini terkait dengan hukum, orang berhenti di saat lampu merah bukan karena kesadaran dirinya tentang tatanan, tapi karena takut tertangkap polisi misalnya. Yang kedua, karena harapan. Motif ini terkait dengan cinta, orang berhenti di lampu merah baik ada polisi atau tidak, karena ia sadar harus menjaga orang lain, juga dirinya, dari kekacauan.?

Ilyas, dosen yang juga hadir sebagai pemateri justru menyayangkan sejumlah orang yang kerap mengumbar ibadahnya di media sosial. Dalam beribadah, sebaiknya orang juga dilandasi dengan semangat puasa, yakni menahan diri untuk tidak mengumbarnya.

Pria yang kerap berbicara ceplas-ceplos itu justru menilai bahwa orang Jawa-lah yang sebenarnya sudah lama mencapai makrifat. Banyak orang Jawa yang mendasarkan diri dengan puasa meski dibahasakan dengan istilah laku tirakat.

Menurut Ilyas, setidaknya ada tiga tingkatan dalam berpuasa. Puasa tingkatan pertama adalah puasa yang ditujukan untuk tujuan keduniawian. Puasa semacam itu biasanya dilakukan jika ingin mendapatkan kemuliaan di dunia baik jabatan, pekerjaan maupun lain sebagainya.

Ada pula tingkatan puasa dengan maksud berharap masuk surga. Meski lebih baik, namun dirinya menilai akan lebih baik lagi jika ibadah tidak didasari dengan timbal baik apapun.

“Tingkatan yang ketiga, biasanya berpuasa lantaran cintanya sama Allah. Biasanya mereka sudah tidak memiliki maksud apapun. Bahkan jika seandainya apa yang mereka cita-citakan tidak tercapai mereka juga tetap iklash menjalaninya. Puasa dijadikan bentuk berserah diri dan semuanya menjadi urusan Allah,” ujarnya.

Menurutnya orang akan menjadi merdeka jika mereka tidak terikat pada cita-cita atau keinginan keduniawian tertentu. Kemerdekaan akan diraih jika mereka berani untuk tidak menjadi apa-apa.

Ironisnya yang terjadi saat ini seringkali justru terjadi kebalikannya. Banyak orang yang justru sakit hati jika apa yang dicita-citakannya tidak terwujud. Mereka seolah ingin menggantikan posisi Tuhan yakni apa yang diinginkannya harus terwujud.

“Seringkali konflik atau ketidak rukunan terjadi karena ada orang yang memaksakan sesuatu atau orang lain tidak bersikap seperti apa yang dia mau. Memaksakan keinginan sudah pasti bukan cerminan puasa,” imbuhnya.

Selain pembicara diatas, hadir juga? KH. Budi Harjono,? Manu Albertine, perempuan asal Perancis yang sedang magang dalam program manajeman NGO di Indonesia; KH. Anis Maftuhin dari Salatiga; Hasan Aoni Azis, pengelola Rumah Dongeng Marwah-Kudus; Gus Afif, aktivis lingkungan dan juga Kepala Desa Susukan.

Diskusi yang digelar hingga pukul 02.30 Wib tersebut, bertambah atraktif setelah diselingi dengan peluncuran album Cinta Berdebu dari Komunitas Marwah, juga pagelaran musik Galbu Musik Orkestra yang menyuguhkan musik beraroma khas Timur Tengah, ditambah kehadiran puluhan penari sufi. Setidaknya 500 penonton yang hadir terlihat begitu menikmati, meski hujan turun sejak sore hari. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kajian, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (PP LKNU), para tokoh ulama, dan warga NU Kabupaten Brebes dengan menggandeng UNICEF mendeklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi, Sabtu (22/8). Kegiatan yang berlangsung di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta ini mengambil tema Sharing Pengalaman Sosialisasi tentang Gizi dan Pencegahan Stunting.

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi

Deklarasi para tokoh agama ini dilakukan dalam rangka melaksanakan program pencegahan Stunting (bertubuh pendek dan fungsi kognitif terganggu) di Kabupaten Brebes. Kegiatan ini diikuti oleh 45 tokoh agama dari 5 Kecamatan di Kabupaten Brebes.

Menurut Supervisor Program Penanggulangan Stunting LKNU yang sekarang menjabat Sekreteris Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini mengatakan, bahwa mengapa pihaknya merangkul Kabupaten Brebes dalam kegiatan, karena Indeks Kesehatan Masyarakat (IKM) di Kabupaten Brebes paling rendah di Provinsi Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dari 35 Kabupaten di Jawa Tengah, Brebes peringkat ke-35 dalam hal kesehatan di masyarakat. Ini merupakan pilot project yang akan kita terapkan juga di 6 Kabupaten di luar Jawa,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mbak Anggi ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum berkunjung ke PBNU, para peserta tersebut dilepas oleh Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti. Dalam pelepasannya, Bupati sangat berharap kepada para tokoh ulama untuk betul-betul menyosialisasikan program pencegahan stunting ini.

“Kenapa yang justru kita libatkan para tokoh ulama, karena ulamalah yang setiap omongannya diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat sehingga menyadarkan masyarakat untuk melakukan pola hidup sehat,” ujar Ketua PC Fatayat NU Brebes, Hj Mu’minah menirukan sambutan Bupati, Jum’at (21/8) malam.

Dalam kesempatan ini, para tokoh ulama dan warga NU Brebes mendeklarasikan 3 butir kesepakatan dan komitmen pencegahan Stunting yang berisi sebagai berikut:

1. Membentuk Forum Ulama Peduli Gizi di Kabupaten Brebes.

2. Menjalin kerjasama dalam meningkatkan sosialisasi peningkatan gizi dan pencegahan stunting di masyarakat.

3. Bekerjasama dengan semua pihak untuk menyukseskan program pengurangan angka stunting di Kabupaten Brebes.?

Kegiatan ini mendapat pengarahan dari Rais Syuriyah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, serta dihadiri oleh Ketua PCNU Brebes, KH Athoillah, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Doddy Izwardy, dan Chief of Social Policy UNICEF, Dr Petra Hoelscher. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

Manfaatkan Agen, Omzet Setahun BMTNU Camplong Capai 2,7 Miliar

Sampang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jawa Timur Cabang Camplong Kabupaten Sampang kuasa menghasilkan laba hingga Rp288 juta dalam setahun. Angka tersebut paling besar di area Kabupaten Sampang dan Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Pengurus BMTNU Camplong Ra Hassan Al-Mandury menegaskan, capaian tersebut tidak lepas dari kesadaran para pengurus dan anggota untuk serius menjadi bagian dari kemandirian di bidang ekonomi.

Manfaatkan Agen, Omzet Setahun BMTNU Camplong Capai 2,7 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaatkan Agen, Omzet Setahun BMTNU Camplong Capai 2,7 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaatkan Agen, Omzet Setahun BMTNU Camplong Capai 2,7 Miliar

"Simpanan terbesar BMTNU Camplong juga terbesar di area Kabupaten Sampang dan Pamekasan, yakni menembus Rp2,7 miliar," ujar Ra Hassan saat ditemui di Kantor PCNU Pamekasan, Jalan R Abd Aziz Pamekasan, Ahad (15/1) malam.

Capaian tersebut di atas BMTNU Jawa Timur Cabang Pakong Pamekasan dengan capaian rp2,3 miliar. Bedanya, omzet Cabang Pamong tersebut hanya dikumpulkan dalam tenggang waktu 10 bulan.

Menurut Ra Hassan, prestasi BMTNU Camplong tidak terlepas dari inovasi para pengurus atau pengelola dalam menjaring calon peserta. Yakni, membentuk agen di beberapa desa yang potensial dan didominasi warga nahdliyin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami jemput bola untuk merekrut anggota, bukan menunggu bola. Dengan kata lain, kata datang langsung ke objek calon anggota, tidak menunggu duduk manis di kantor," ujarnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Lomba, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Januari 2018

Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru

Karanganyar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sejarah mencatat bahwa Islam di Indonesia selalu meninggalkan jejak-jejak kisah yang menarik untuk ditelusuri. Jejak-jejak itu menjadi bagian dari peradaban yang dibawa dan dibangun sebagai eksistensi bahwa Islam bukanlah agama terbelakang dan mampu beradaptasi dengan dimensi ruang dan waktu.

Seperti Masjid Al Huda atau Masjid Sintru yang berada di Dukuh Sintru Kulon, Dusun Kembang, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan. Dari penulusuran tim dari Pondok Pesantren Attauhidiyyah, belum lama ini, Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Sintru ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai peninggalan anak buah Pangeran Diponegoro yang bernama Hasan Tafsir. Sosok ini pula yang ikut menyebarluaskan ajaran Islam di wilayah Karanganyar timur.

Menelusuri Jejak Peradaban Islam  di Masjid Sintru (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Masjid Sintru

Bukti peninggalan sejarah tentang peradaban Islam di Masjid Sintru ini dikuatkan oleh kitab pustaka yang berisi pelajaran agama Islam dengan tulisan huruf arab dan terjemahan di bawahnya dengan bahasa jawa namun tetap dengan huruf arab. Kitab tersebut hingga kini masih tersimpan di dalam masjid meski kondisinya tak cukup terawat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun sayang, kitab pustaka yang ditinggalkan Hasan Tafsir itu kini sudah tak lagi dapat terbaca oleh masyarakat. Sebab, bahasa Jawa yang digunakan diyakini adalah bahasa Jawa pada zaman dulu, bukan bahasa Jawa yang saat ini dikenal. Apalagi kitab itu kini tersisa beberapa saja. “Kitab yang lainnya dulu dibawa ke Katerban dan Jogorogo di Ngawi, Jawa Timur. Dulu memang banyak dari sini yang nyantri di sana,” ungkapnya.

Kitab-kitab yang dibawa ke Ngawi itu mencapai dua karung. Alasannya pada waktu itu masyarakat setempat kurang peduli terhadap sejarah. Hingga kini hanya satu kitab saja yang tersimpan di Masjid Sintru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum akhirnya dinamai Masjid Al Huda, masjid ini juga sempat diberi nama At Taqwa. “Pergantian nama Al Huda karena pengaruh masa orde baru pada waktu itu,” tuturnya.

Sampai kini masjid Al Huda dipergunakan sebagai masjid induk di Dukuh Sintru. Setahun lalu, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah pernah datang guna mengecek mengenai apakah memang ada kaitannya dengan sejarah atau tidak. Namun hanya berhenti di situ, kini belum terdengar lagi kabar dari BPCB Jateng seputar bukti sejarah Masjid Sintru.

“Kesaktian” Hasan Tafsir

Hasan Tafsir, tokoh yang dianggap sebagai pendakwah yang menetap di Dukuh Sintru sejak abad ke-19, itu mendapat tanah Perdikan dari Mangkunegaran. Konon, Hasan Tafsir yang merupakan anak buah Pangeran Diponegoro itu memiliki kemampuan lebih dari sekadar manusia biasa.

Misalnya saja, ketika ada pencuri yang masuk ke wilayah tersebut, gara-gara ada Hasan Tafsir, pencuri tersebut tidak akan bisa keluar sebelum Hasan Tafsir memberi makan si pencuri tersebut. “Orang pada waktu itu nekat mencuri kan karena lapar,” kata Ustad Parsono Agus Waluyo, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Setelah Hasan Tafsir memberi makan, maka pencuri itu pun dilepas. Namun sebelumnya, ia menyisipkan berbagai nasehat kepada orang tersebut. Dakwah yang dilakukan Hasan Tafsir semacam itu mengundang simpati orang untuk datang untuk belajar ilmu agama dengannya. Sehingga agama Islam di wilayah itu mulai berkembang dan menyebar ke wilayah di sekitarnya.

Bukti tentang sejarah Hasan Tafsir di wilayah tersebut adalah adanya makam yang diyakini menjadi peristirahatan terakhirnya. Dari nisan yang masih ada, Hasan Tafsir diperkirakan wafat pada tahun 1911. Di nisan itu juga terdapat tulisan arab yang ejaannya tidak sembarang dapat membacanya.

Bukti lain dari keberadaan Hasan Tafsir, yakni peninggalan kitab pustaka miliknya. Namun sayang, kitab pustaka yang ditinggalkan oleh Hasan Tafsir itu kini sudah tak lagi dapat terbaca oleh masyarakat.

Sebab, bahasa Jawa yang digunakan diyakini adalah bahasa Jawa pada zaman dulu, bukan bahasa Jawa yang saat ini dikenal. Apalagi kitab itu kini tersisa beberapa saja. “Kitab yang lainnya dulu dibawa ke Katerban dan Jogorogo di Ngawi, Jawa Timur. Dulu memang banyak dari sini yang nyantri di sana,” ungkapnya.

Kitab-kitab yang dibawa ke Ngawi itu mencapai dua karung. Alasannya pada waktu itu masyarakat setempat kurang peduli terhadap sejarah. Hingga kini hanya satu kitab saja yang tersimpan di Masjid Sintru. (Rodif/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 28 Desember 2017

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku

Adik sepupu almarhum KH MA Sahal Mahfudh, Pengasuh Ponpes Putri Raudlah al Thahiriyah Kajen, Pati, Jawa Tengah, KH Ahmad Muadz Thohir, punya cerita tentang keistimewaan sang kakak. Menurutnya, Rais Am PBNU dan Ketua MUI yang wafat pada Januari 2014 lalu, itu seorang yang sangat hobi membaca. Kegiatan Mbah Sahal kalau tidak mengajar atau menemui tamu, ya membaca. Tak hanya membaca kitab klasik yang memang dikoleksinya, tetapi juga buku-buku terbaru terutama yang terkait pendidikan atau keagamaan.

Kiai Muadz pernah merasa "sakit hati" karena merasa sudah membaca buku terbaru, ternyata kalah duluan dengan kakaknya tersebut.

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku

Suatu hari ia punya acara di Jakarta. Saat hendak pulang, ia melihat buku baru di etalase Bandara Soekarno-Hatta. Dibelilah buku di kios Bandara tersebut. Tidak terlalu tebal, maka dia baca dengan target khatam dalam perjalanan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Di Bandara itu selalu ada buku baru yang dijual di kios. Saya beli buku tentang Pendidikan anak. Langsung saya baca di ruang tunggu. Saya lanjutkan kala duduk di dalam pesawat ke Semarang. Sampai mendarat di Semarang, buku itu rampung saya baca," ujar ketua PCNU Pati ini dalam rapat Majma Buhuts an-Nahdliyah di Solo, Selasa (17/11) malam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari buku itu dia merasa ada hal baru, dan ingin didiskusikannya dengan sang kakak. Selang sehari dari kepulangannya dari Jakarta, Kiai Muadz pun bertandang ke rumah Mbah Sahal. Ia tak bercerita kalau sudah beli dan baca buku tersebut, hanya bertanya dan meminta penjelasan saudara tuanya.

"Kak, menurut jenengan pendidikan anak itu dimulai sejak kapan,?" tanya dia.

Mbah Sahal tidak langsung menjawab melainkan menimpali tanya.

"Yang kamu inginkan konsep menurut ulama atau menurut ilmuwan modern?"

"Nggih kalih-kalih ipun (Ya dua-duanya)," sahut Kiai Muadz.

"Kalau menurut ulama, ada yang bilang pendidikan anak dimulai sejak sebelum nikah."

"Nggih to?"

"Ya iya. Kalau nikahnya menurut Islam, itu modal pendidikan yang baik untuk anak. Kalau tidak sesuai ajaran Islam, ya jadi investasi yang buruk," tutur Mbah Sahal.

Mbah Sahal melanjutkan; "Menurut ulama lain, pendidikan anak dimulai sejak sebelum jimak (berhubungan intim). Yakni jika jimaknya baik menurut tuntunan Kanjeng Nabi, ya Insyaallah hasilnya baik. Lantas ulama lain bilang dimulai dari sejak janin di kandungan ibu."

Kiai Muadz manggut-manggut tanda paham. Ia lalu menunjukkan gelagat ingin bertanya tentang pendidikan anak menurut ilmuwan moden. Mbah Sahal tahu gelagat itu, bukan meneruskan memberi penjelasan, melainkan masuk ke ruang tengah rumahnya, tempat perpustakaan pribadinya berada. Lalu sang kakak kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah buku.

"Kalau kamu ingin tahu bagaimana pendidikan anak menurut ilmuwan modern, ya baca buku ini," ucap Mbah Sahal sambil menaruh buku di meja agar dilihat sang adik.

Deg! Kiai Muadz terperanjat. Ternyata buku yang diberikan sang kakak itu persis buku yang kemarin ia baca selama perjalanan naik pesawat dari Jakarta. Rupanya sang kakak telah lebih dulu membacanya. “Padahal buku itu baru terbit 10 hari lalu. Bahkan sepertinya beliau sudah tahu kalau saya habis baca buku itu," tuturnya takjub.

Ketika ia buka, Kiai Muadz melihat bukti khas buku yang dibaca sang kakak. Mbah Sahal, menurutnya, selalu memberi catatan kecil dengan aksara Arab, di setiap buku atau kitab yang dibaca. Coretan yang ditulis di pinggir halaman buku/kitab tersebut merupakan tafsiran atau komentar Mbah Sahal.

Kiai Muadz pun pamit pulang sambil membaca buku permberian kakaknya tersebut. "Biarlah punya dua buku, yang ini istimewa karena ada coretan tulisan tangan Mbah Sahal," pungkasnya.

Ilâ hadlrati rûhi KH MA Sahal Mahfudh, al-Fâtihah. (Moch. Ichwan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 24 Desember 2017

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Tiga Rumah Sakit di Jombang siap memberikan diskon biaya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat pemegang Kartu Anggota NU (Kartanu). Ketiga RS itu adalah, Rumah Sakit NU, Rumah Sakit Medika Pesantren Darul Ulum serta Rumah Sakit Muslimat NU.

Hal ini disampaikan, Ketua PCNU saat sosialisasi Kartanu yang diikuti seluruh Badan Otonom NU, diantaranya GP Ansor, IPNU-IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU dan Pagar Nusa, ISNU serta Pergunu di kediaman Sholahul Am Notobuwono yang juga ketua PC GP Ansor di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Kamis (31/1).?

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Rumah Sakit Beri Diskon Pemegang Kartanu

“Insyaallah Tiga Rumah Sakit (RSNU, RS Media Darul Ulum dan RS Muslimat,) sudah siap memberikan diskon bagi pemegang Kartanu,”bebernya mengatakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengenai berapa prosentasi diskon yang bakal diterima, Ketua Tanfidziah PCNU Jombang dua periode ini menargetkan warga NU di kota santri ikut terdaftar dan memiliki kartu tanda anggota. Karena menurutnya program Kartanu adalah sebagai bentuk kedisiplinan anggota terhadap organisasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Targetnya Rp 200 ribu lebih, dan ini sebagai wujud kedisiplinan organisasi, sebagai anggota sudah selayaknya bisa memiliki kartu anggota, apalagi Jombang kota santri,”imbuh kyai yang juga dosen Unipdu Peterongan Jombang ini menambahkan.?

Sementara itu, Mahwal Huda, Koordinator pelaksanaan Kartanu meminta seluruh Banom ikut aktif mensosialisasikan program PWNU Jatim ini. Dengan keterlibatan Banom target pelaksanaan kartanu di Kabupaten Jombang akan berhasil. “ Kita juga berharap kalangan pesantren juga ikut berperan mensukseskan Kartanu ini,” tandasnya.

Mahwal menambahakan, ada beberpa manfaat dengan adanya Kartanu ini diantaranya adalah untuk konsolidasi organisasi karena semuanya terlibat hingga ranting. “Termasuk ? manfaatnya adalah pemegang juga mendapatkan adanya potongan biaya ketika berobat di RS NU, RS Medika Darul Ulum dan RS Muslimat,”tandasnya.

Ditambahkannya, PCNU Jombang telah melakukan sosialisasi awal yang langsung diikuti ratusan pengurus MWCNU dan ranting. Dan dalam sosisialisasi juga dilakukan pemotretan.

”Antusias pengurus sangat tinggi, terbukti sosialisasi pertama sebanyak 313 Kartanu langsung tercetak,”imbuh wakil sekretaris PCNU Jombang seraya mengatakan pemotretan hingga kartanu bisa jadi hanya membutuhkan waktu 10 menit.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Syariah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 Desember 2017

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama!

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam berlangsungnya kontes menggambar kartun Nabi Muhammad SAW di Curtis Culwell Center, Garland, Texas, Amerika Serikat, Ahad (3/5).?

"Jelas kami sangat menyesalkan adanya acara itu, karena itu bentuk pelecehan terhadap agama (Islam)," kata Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (4/5).

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama!

? Meski akhirnya dibubarkan oleh aparat keamanan setempat, Kiai Said mempertanyakan mekanisme pemberian izin berlangsungnya sebuah acara di Amerika Serikat, sehingga kegiatan yang bersifat sensitif terhadap kerukunan umat beragama tersebut bisa berlangsung.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? "Saya mendengar sampai terjadi penembakan dan jatuh dua korban jiwa. Kejadian seperti itu seharusnya bisa dihindari jika pemerintah setempat lebih peka," kritik Kiai Said.

? Meski mengecam kegiatan dimaksud, Kiai Said meminta kepada umat Islam dunia, khususnya di Indonesia dan warga Nahdlatul Ulama, untuk tidak terpancing membalasnya dengan tindakan bersifat anarkis. "Jangan habiskan energi kita untuk membalas hal-hal seperti itu, apalagi dengan tindakan anarkis. Percaya, Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang melecehkan Islam," pesannya.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW diselenggarakan oleh American Freedom Defense Initiative, sebuah organisasi yang secara aktif terus menyebarkan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat. Presiden lembaga tersebut, Pamela Geller, mengatakan kegiatan yang diadakannya bertujuan kebebasan berpendapat sebagai respons dari kekerasan ketika menggambar Nabi Muhammad di Charlie Hebdo. Gambar terbaik dari loma tersebut diganjar hadiah sebesar 10 ribu US Dollar. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Puluhan ribu jamaah memenuhi Masjid Agung Solo. Mereka mengikuti dzikir dan tablig akbar bertajuk "20 ribu yasin untuk hajat Anda menuju Solo Kota Santri" bersama Habib Noval bin Muhammad Alaydrus pada Ahad (13/10).

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Berdasarkan pengamatan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, mayoritas jamaah yang hadir berpakian putih. Selebihnya berjaket dengan nama majelis di punggungnya, seperti Majelis Rosululloh, Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah (Malang), dan Ahbabul Musthofa. 

Sambil menanti acara dimulai, para jamaah asyik mendengarkan lantunan solawat yang dilantunkan oleh kelompok hadroh Jamuri Solo dan Fatahilah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebelum dimulai, yuk berdoa kepada Allah agar dikirimkan mendung atau angin yang semilir," ungkap Habib Noval mengawali majelis. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ucapan tersebut keluar setelah melihat ada sebagian jamaah diluar masjid yang kepanasan, meski panitia telah menutup halaman masjid dengan tenda. Lima menit kemudian, jamaah membaca Alfatihah dipimpinnya. Mendung dan hawa dingin pun mulai datang. 

Usai beberapa sambutan, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengajak hadirin untuk membaca surat Fatihah dan Yasin. Selanjutnya, Habib Noval mengajak hadirin menzikirkan lafad "La ilaha Illalloh". 

Usai menzikirkan lafadz tersebut puluhan kali, habib Noval pun memimpin doa. Banyak hadirin yang menangis ketika mengamini doa sang habib. betapa tidak, sebagian besar doa yang dipanjatkan pimpinan majelis Ar-Raudhah berkaitan dengan permohonan ampun atas tiap dosa kepada orang tua.

"Ya Rabb, ampuni kata-kata kasar kami kepada orang tua kami" demikian di antara doa Habib Noval. 

Selain itu, ia juga memohonkan ampun untuk setiap kaum muslimin, serta beberapa doa lain yang diaminkan oleh ribuan jamaah. Bahkan, sang Habib mendoakan keselamatan untuk siapapun yang membenci hadirin, lahir batin. 

Setelah doa, Habib Noval menanyakan kesediaan jamaah untuk menyelenggaraan acara serupa tiap dua bulan sekali. Tentu saja ajakan tersebut diamini oleh ribuan jamaah yang hadir.

Selanjutnya, acara diisi dengan ceramah singkat dari KH Abdurrohim. Kiai yang akrab disapa Gus Rohim ini dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah ini mengutarakan bahwa wasilah doa kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Habib Anis bin Ali Alabsyi. Habib Anis merupakan guru dan mertua Habib Noval yang diakuinya sebagai salah satu guru dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah.

Sementara itu, Habib Muhammad mengawali urainnya dengan "Anda tahu tentang surga?" Cucu Habib Anis tersebut menguraikan tentang itu, serta keyakinannya bahwa jamaah yang hadir di Masjid Agung Solo sebagai calon penghuni surga.

Sebagai penutup acara, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengumumkan akan diadakannya Pameran Buku Aswaja se-Solo di bulan Muharam nanti. Selain itu, Habib Noval menyampaikan tentang diselengarakanya pembaacaan Maulid Simthudduror di Majlis Ar-Raudhah setiap Jumat Pon. (Pekik Sasongko/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 Desember 2017

Beda Pilihan Politik Jangan Rusak Persatuan NU

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga NU diminta untuk tetap menjaga kekompakan dan persatuan meskipun saling berbeda soal pandangan politik. KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur) mengatakan hal ini di hadapan pengurus Majelis Wakil Cabang NU Sedan, Rembang, Jawa Tengah, Senin (9/9).

Beda Pilihan Politik Jangan Rusak Persatuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda Pilihan Politik Jangan Rusak Persatuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda Pilihan Politik Jangan Rusak Persatuan NU

Gus Ghofur menyampaikan, sebagian masyarakat dengan mudah terprovokasi oleh keadaan yang ditimbulkan situasi politik menjelang pemilihan umum. Nahdliyin diimbau mengendalikan diri dari sikap yang merusak keharmonisan antarsesama.

“Sebagai warga yang menjujung tinggi ajaran Ahlussunnah wal jama’ah, kita harus bisa menentukan sikap tenggang rasa dan saling menghormati,” ucapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Putra Mustasyar PBNU KH Maimun Zubair ini mengakui bahwa masih banyak masyarakat yang belum paham tentang arti perbedaan dalam hal menentukan pilihan. Maka, ia mengajak masyarakat bisa keluar dari kondisi semacam ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, ketua MWCNU Sedan Muhktar mengatakan, pihaknya sengaja menggelar dialog bersama Gus Ghofur untuk memperluas kesadaran warga NU dalam menghadapi pemilihan legislatif 2014 mendatang.

Muhtar berharap perbedaan tidak menjadikan Warga NU terpecah belah dan tercerai berarai hanya demi memenuhi ambisi. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Berita, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Desember 2017

Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang

Banyumas, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas baru saja menggelar acara konferensi anak cabang (Konferancab) di Gelora Ajibarang Kulon, Ahad, (26/11).

Pada forum rapat tertinggi tingkat Kecamatan itu, Wawan Ibnu Fuad terpilih sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Ajibarang periode 2018-2021.

Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang

Wawan terpilih melalui hasil musyawarah mufakat yang dipimpin oleh Pimpinan Cabang GP Ansor Banyumas bersama Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Ajibarang serta perwakilan dari ranting.

Terpilihnya Wawan sebagai Ketua GP Ansor Ajibarang yang baru diharapkan mampu memberikan warna lain bagi GP Ansor Ajibarang. Melihat sosoknya sebagai seorang pengusaha sukses di Kabupaten Banyumas diharapkan bisa ditularkan kepada sahabat-sahabat Ansor yang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal itu diungkapkan Kartim, salah satu peserta Konferancab dari PR GP Ansor Darmakradenan, "Wawan memiliki leader yang baik, juga seorang pebisnis yang semoga ilmunya bisa ditularkan kepada kami," katanya ketika ditemui usai acara.

Agus Subeno, peserta Konferancab dari PR GP Ansor Ciberung juga berharap, terpilihnya Wawan sebagai ketua yang baru semoga bisa memberikan semangat yang lebih untuk mengembangkan lembaga perekonomian GP Ansor Ajibarang.

Konferancab yang dihadiri oleh 500an peserta dari ranting GP Ansor se-Ajibarang itu, turut hadir pula Rais Syuriyah dan Ketua MWCNU Ajibarang, GP Ansor Banyumas, serta jajaran Forkompimcab setempat. (Kifayatul Akhya/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Desember 2017

Syaiful Bachri Anshori: Dewan Pengupahan Tripartit Mandul

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dewan pengupahan buruh yang tergabung dalam tripartit nasional dinilai mandul. Dewan pengupahan buruh masih kurang serius dalam menangani masalah kesejahteraan buruh sebagai mitra kerja para pengusaha.

Syaiful Bachri Anshori: Dewan Pengupahan Tripartit Mandul (Sumber Gambar : Nu Online)
Syaiful Bachri Anshori: Dewan Pengupahan Tripartit Mandul (Sumber Gambar : Nu Online)

Syaiful Bachri Anshori: Dewan Pengupahan Tripartit Mandul

Demikian dikatakan Ketua Umum Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI) Syaiful Bachri Anshori kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah per telepon, Rabu (1/5) sore.

“Sering terjadi kemacetan dalam komunikasi tiga dewan pengupahan buruh. Pihak pengusaha dan pemerintah cenderung jalan sendiri dalam menetapkan upah buruh,” kata Syaiful Bachri Anshori yang saat itu berada di kota Surabaya, Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syaiful Bachri Anshori mengidealkan persoalan buruh diselesaikan oleh pengusaha dan buruh tanpa melibatkan pemerintah. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syaiful Bachri Anshori mengindikasikan beberapa penyebab mandulnya tripartit. Pertama, tiga dewan belum terlalu serius dalam mencari solusi bagi kepentingan semua pihak. Pihak Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) masih terlalu mendominasi forum dalam sidang dewan. Kedua, minimnya anggaran untuk itu.

Selain persoalan upah, jaminan kesehatan, masalah lembur, upah murah, tenaga alih daya, dan lain persoalan, dewan pengupahan tripartit belum memerhatikan hak-hak buruh untuk berserikat. Pihak pengusaha cenderung mempersulit buruh untuk berserikat. Padahal, imbuh Syaiful Bachri Anshori, undang-undang sudah menjamin hak buruh untuk berserikat dengan jumlah minimal 15 buruh.

Program jelas bagi lapangan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (KEMENAKERTRANS) pun cenderung tidak bekerja. Ini pun menjadi masalah sendiri di luar tripartit, tegas Syaiful Bachri Anshori.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 Desember 2017

Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah

Tanggal 31 Januari 2014 kemarin, NU-ku sudah genap berusia 88 tahun. Angka tersebut bukanlah sekedar angka. 88 bermakna 88 tahun pengabdian NU kepada Indonesia, tanah kelahiran ulama dan nahdliyyin. NU memiliki makna yang berbeda-beda di setiap hati nahdliyyin di seluruh Indonesia.

Bagi saya, mahasiswi yang telah dibesarkan NU selama 21 tahun, NU bermakna sebagai rumah yang senantiasa mengayomi dan menenteramkan hati. Di tengah-tengah merebaknya isu gesekan antara golongan keras Islam dan golongan agama Islam lainnya yang saling mengkafirkan satu sama lain, NU menjadi rumah yang menenangkan. Disaat golongan-golongan keras tersebut begitu mudah menyalahkan yang berbeda dengannya, NU dengan prinsip tasamuh dan tawasuthnya selalu menjadi air yang menyejukkan. Di saat golongan-golongan lain terlalu mudah marah dan tersinggung atas perbedaan, NU selalu sabar dan memaafkan perbedaan.

Saya selalu senang mendengarkan ulama NU berbicara di depan publik. Pembawaannya yang santai namun berwibawa membuat pendengarnya menikmati setiap ucapannya. Ketika saya sedang tidak berada di daerah Jawa Timur (karena memang di JawaTimur banyak nahdliyyin) dan mendengar seseorang berbicara, saya bisa merasakan kalau dia juga nahdliyyin tanpa harus diberitahu.

Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tetaplah NU Jadi Penyejuk Islam yang Marah

Hal sederhana itu membuat saya tersenyum dalam hati. Mengapa? Karena saya tidak perlu mikir dua kali atau bahkan suudzon tentang apa yang diucapkan. Bukannya saya selalu suudzon sama orang, tapi kalau yang diucapkan itu cenderung menuju ke pemikiran-pemikiran keras, saya otomatis mikir dulu bahkan menolak ucapannya. Itu berarti kemoderatan NU telah mengakar di otak saya.

Saya mengagumi Kiai Said Aqil, karena suatu ketika pernah mendengar beliau berbicara. Pidato beliau yang sangat berisi dengan cara penyampaianya yang enak membuat saya bangga memiliki ulama yang fatwanya selalu menjadi patokan. Fatwa-fatwa yang merupakan ijtihad ulama yang menekankan kontekstualisasi terhadap sumber referensi utama, al-Quran dan Hadits, membuat nyaman warga nahdliyyin dalam menjalankan tugasnya sebagai Hamba Allah, baik fatwa dalam lingkup fiqh, hal-hal ubudiyah, uluhiyah dan lainnya. Hal sederhana tersebut hanyalah secuil dari makna istimewa NU bagi saya.

Di lihat dari sejarahnya, NU merupakan salah satu pendiri bangsa ini. Ulama NU turut berjuang melawan kolonialisme dan akhirnya berhasil meraih kemerdekaan. Kini, 88 tahun NU tetap berjuang, mengabdi dan mengawal bangsa ini bersama kelompok lainnya, saudara sesama. 21 tahun dididik oleh Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah secara mengakar membuat saya mencintai tradisi-tradisi NU diantaranya dibaan atau sholawatan. Berada diantara nahdliyyin yang cinta sholawat begitu berkesan dalam hati, terasa tenteram.

Saat ini, suatu hal yang begitu membanggakan mengetahui terciptanya sebuah republik sholawat, wadah bagi mereka pecinta sholawat dengan tali silaturahmi yang erat satu sama lain. Pemuda-pemudi Nahdliyyin luar biasa ? yang begitu aktif membangun bangsa melalui organisasi seperti PMII, IPPNU dan IPNU membuat saya bangga memiliki teman seperjuangan yang sangat potensial menjadi pemimpin bangsa masa depan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak hanya pandai dalam berorganisasi, namun juga hebat dalam mengkaji kitab. Pemikiran-pemikiran mereka yang nyeleneh tapi asyik ini mewarnai perjalanan saya dalam usaha perwujudan impian untuk mampu menjadi generasi muda NU yang kompetitif dan membawa nama harum NU ke kancah internasional. Beberapa hari yang lalu NU kehilangan satu nyawanya, Mbah KH Sahal Mahfudh. Kesedihan mendalam kehilangan ulama ahli fiqih sosial dirasakan oleh seluruh warga nahdliyyin. Semoga segera akan muncul fuqaha penerus beliau. Mungkin beberapa dari kita? Siapa tahu. Aamiin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selamat Harlah NU ke 88, semoga tetap istiqomah mengawal umat di tengah hiruk pikuk kekacauan yang diderita bangsa ini. Tetaplah pada khittahmu, tetaplah menyejukkan kemarahan, menuju Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Kami, nahdliyyin, akan setia menjadi bansermu. (*)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 September 2017

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Danstakorwil Banser) Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi menyayangkan bentrokan antara FPI dan GMBI meluas hingga ke daerah di Jabar. Pasalnya segala bentuk anarkisme tidak bisa dibenarkan oleh siapa pun dengan alasan apapun.

"Kami tak mau tanah Jawa Barat jadi arena peperangan. Urang Islam, urang Sunda mah teu kitu (orang Islam dan orang Sunda tidak seperti itu)," kata Yudi selepas menghadiri undangan Kapolda Jabar, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Anton Carliyan, Jumat (13/1).

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Menurut Yudi, Banser Jabar juga mengkritik gaya yang dipakai FPI dalam mengawal Rizieq Shihab. Sebagai warga negara yang baik, tak perlu "abring-abringan" seperti itu karena siapa pun sama kedudukannya di mata hukum.

"Begitu juga ke GMBI. Serahkan saja kepada kepolisian kasus ini meski memang berdemonstrasi dijamin Undang-Undang," ujar Yudi yang menegaskan bahwa anarkisme kedua kelompok tersebut tidak dibenarkan.

Maka, tuturnya, kesan yang tersiar ke publik pemanggilan Rizieq Shihab sampai dikawal ribuan massa FPI seolah unjuk kekuatan sebagai intervensi hukum, dan adanya massa diluar FPI seolah menandingi gerakan FPI tadi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ya jadi bentrok karena yang namanya kerumunan massa lebih dari dua orang akan menimbulkan keberanian yang tak akan terkendali. Coba kalau Rizieq Shihab datangnya biasa, dan massa GMBI juga menunggu respon kepolisian," ucapnya.

Atas insiden yang telah mencoreng Bumi Parahyangan ini, Banser Jabar mengintruksikan kepada Banser di Kota/Kabupaten se-Jabar untuk terus menjaga kenyamanan warga, terutama warga NU.

"Ada apa dibalik semua itu, kita harus jeli," kata Yudi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelumnya buntut dari bentrokan di Jalan Soekarno Hatta Bandung, sejumlah Sekretariat GMBI diberbagai daerah seperti Bogor, Tasikmalaya, dan Ciamis dirusak massa. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 24 Agustus 2017

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2014 yang menyoroti isu kehidupan beragama. Hal ini akan menunjang program Kemenag yang tengah menggalakkan gerakan deradikalisasi agama.

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU

“Kami sangat berkepentingan dengan hasil Munas ini karena di dalamnya disinggung soal pemahaman keagamaan dan bagaimana agama bersikap dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya kepada wartawan selepas acara pembukaan Munas-Konbes NU 2014 di kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11).

Munas NU yang akan berakhir Ahad (2/11) ini di antaranya mendiskkusikan kode etik penyiaran agama yang meliputi pula wewenang dan batasan negara mengatur kehidupan beragama, etika dakwah, penghargaan tradisi, dan penguatan harmoni di kalangan lintas agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lukman menunggu hasil pembahasan Munas NU. Menurtnya, NU mempunyai sejarah panjang tentang keterlibatannya dalam menjaga NKRI. “Saya menilai paham NU juga sangat cocok dengan jati diri bangsa ini,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Putra tokoh NU KH Saifuddin Zuhri ini mengatakan, bulan depan Kementerian Agama mulai bergerak melaksanakan program deradikalisasi yang bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi. Karenanya, rekomendasi Munas NU menjadi bahan penting bagi usaha menghapus ekstremisme dalam bergama dan membangun kesadaran berkonstitusi tersebut.

Lukman menilai, forum tertinggi setelah Muktamar NU ini merupakan salah satu tradisi yang baik karena dilakukan oleh para ulama kompeten dan melalui kajian mendalam terhadap teks-teks keagamaan.

Secara terpisah, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Ja’far juga mendukung penuh terselenggaranya Munas-Konbes NU. Ia berharap, hasil Munas dapat dikoordinasikan kepada pihaknya untuk ditindak lanjuti. “Tentu saya siap melaksanakan rekomendasi Munas nanti sesuai tupoksi (tigas poko dan fungsi) saya,” tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Teriak "NKRI Harga Mati" Harus Punya Dasar

Pemalang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NKRI Harga Mati bukanlah hanya slogan atau teriakan-teriakan tak bermakna, akan tetapi harus didasari pemahaman yang kuat mengapa kita harus menjaga kesatuan Negara Indonesia ini.





Teriak NKRI Harga Mati Harus Punya Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Teriak NKRI Harga Mati Harus Punya Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Teriak "NKRI Harga Mati" Harus Punya Dasar

Demikianlah penuturan Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyah Ahlith Thoreqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) saat membekali para Pengurus Cabang Mahasiswa Ahlith Thoreqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (MATAN) Kabupaten Pemalang yang baru dilantik, Rabu (29/11) lalu.



Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Acara yang dirangkai dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Majlis Ta’lim dan Dzikir Riyadussholikhin Sibthu Syaikhun Malam Kamis Wage dan Pelantikan PC MATAN Pemalang itu dihadiri oleh Maulana Habib Luthfi Bin Yahya, KH Abdullah Sa’ad dari Solo, dan para kiai serta Habaib di sekitar Pemalang.





Sementara itu, Maulana Habib Luthfi mengatakan NKRI harga mati itu harus punya dasar yang kuat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sekarang ini kita menghadapi berbagai macam gempuran dari luar mulai dari berita-berita hoaks yang begitu banyaknya tersebar di media, yang mengancam stabilitas dan kenyamanan masyarakat sampai pada sesuatu yang mengancam ideologi Negara," katanya

.

Lebih lanjut, Habib Luthfi menjelaskan bahwa hoaks dan provokasi itu sudah ada sejak zaman-zaman dahulu.

"Kalau dihubungkan apa yang terjadi sekarang itu polanya sama dengan yang terjadi dahulu. Peristiwa tahkim di jaman sahabat Ali Bin Abu Tholib, hingga runtuhnya kerajaan-kerajaan besar yang ada di Indonesia maupun dunia, itu banyak terjadi karena hoaks dan pembusukan dari dalam," lanjut Habib Luthfi.

Oleh karena itu, NKRI Harga Mati itu tidak asal teriak.

"Kalau cuma begitu kita bisa lakukan setiap hari. Lebih dari itu kita harus belajar dari sejarah agar apa yang sudah terjadi pada zaman sebelumnya itu tidak terulang lagi pada zaman sekarang. Dengan begitu kita tahu mengapa kita harus mengatakan NKRI Harga Mati, bukan basa-basi,” paparnya.

Acara yang dilaksanakan di kediaman Habib Ahmad Muhdor Assegaf itu berlangsung meriah dengan diiringi grup rebana Az Zahir dibawah pimpinan Habib Ali Zaenal Abidin Assegaf dari Pekalongan. Acara ditutup dengan doa oleh Habib Ahmad Muhdor Assegaf dan dilanjutkan dengan ramah tamah. (Mukh Imron Ali Mahmudi/Kendi Setiawan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 30 Juli 2017

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Rabat,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Program Mahasiswa Kelas Internasional mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAINU) Jakarta di Universitas Ibnu Tufail Kenitra berakhir. Setelah 11 bulan menimba ilmu di kampus itu, mereka harus kembali ke tanah air.  

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Perpisahan program tersebut digelar di Griya Mahasiswa Kenitra pada Kamis malam 11 Desember 2014. Pada kesempatan itu, hadir Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyub, H. Husnul Amal Mas’ud dan Prabowo Wiratmoko Jati mewakili Dewan Mustasyar PCINU. Hadir pula perwakilan KBRI, anggota PPI Maroko serta beberapa warga Maroko.

Kia Mujib yang juga Ketua Badan Pengawas Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa Maroko merupakan salah satu pusat keilmuan Islam. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya literatur- keislaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di negara Maroko pula, tambah dia, tempat lahirnya para cendekiawan islam yang menyebarkan Islam hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. “Di Indonesia ada beberapa kuburan yang tidak diketahui identitas jelasnya. Tetapi di nama-nama, di batu nisannya bertuliskan maghribi yang berarti berasal dari Maroko”.

Ia berpandangan, tidak menutup kemungkinan, corak keislaman Indonesia memang sebagian dibawa oleh ulama Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua rombongan mahasiswa STAINU Ooz Fauzi menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dan melancarkan kegiatan tersebut.

Ia mengutip adagium yang sudah masyhur di Maroko “idza kunta fil maghrib fala tastaghrib”. Apabila kamu berada di maghrib (Maroko) maka janganlah kamu terheran-heran (dengan apa yang terjadi di sini). “Seyogyanya kita (kawan-kawan STAINU) agar mengambil segala hal yang baik dari Maroko dan membuang hal-hal yang tidak baik dari sini,” ujarnya.

Sementara Abdul Karim Jariri, ustadz di Maroko, menutup doa perpishan itu. Ia mengaku senang berinteraksi dengan para mahasiswa yang belajar di Maroko. (Fairuz Ainun Naim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 08 Juli 2017

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rabithah Alawiyah menggelar halaqoh bertajuk Kabar Gembira di Tengah Kesulitan dengan pembicara ulama asal Yaman, Alhabib Umar bin Salim bin Hafidz. 

Dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini menyampaikan pentingnya pertemuan ulama untuk memecahkan masalah umat.

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

"Perlunya pertemuan ulama seperti ini, semoga kedepan bisa direncanakan lebih besar dan fokus kepada pemecahan masalah umat. Misal membicarakan apa kekuatan dan kelemahan kita," tutur Helmy dalam sambutannya di Crowne Hotel, Jakarta, Selasa (17/10).

Hal itu, lanjut Kang Helmy, penting karena data dari Bank Indonesia dari seluruh uang yang beredar di Indonesia 80 persen dimiliki hanya 35 orang saja. Ia menambahkan lebih tercengang lagi data global wealth 90 persen aset negara dikuasai 1 persen saja. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Secara logika sebagai mayoritas seharusnya ikut menentukan arah kebijakan negara, nyatanya masih belum," imbuh Pria kelahiran Cirebon ini.

Sementara Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith mengatakan penguatan ekonomi umat sebagai salah satu benteng iman dari segala godaan. 

"Kristenisasi bukan hanya salah para petugas, kita juga ikut andil karena tidak aktif membentengi dengan membuat penguatan ekonomi, sebagai salah satu sebabnya," tutur Habib Zen.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal senada disampaikan Habib Umar bin Hafidz dalam ceramah, dimana ekonomi tergantung niatnya. Jika diniatkan mencari ekonomi untuk berjuang di jalan Allah SWT maka itu jalan yang dibenarkan. 

"Seperti dalam sebuah riwayat ada anak muda pergi ke pasar, ada sahabat yang bilang seandainya kekuatan digunakan untuk pergi jihad ke medan perang lebih bermanfaat. Namun Baginda Rasullullah menuturkan jangan mudah menilai, jika niatnya untuk menafkahi bapak dan ibunya maka fisabilillah, jika niatnya untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak perlu mengemis maka fisabilillah tapi jika niatnya untuk menumpuk harta, pamer  maka ia dijalan setan," tutur Almusnid AlHabib Umar bin Salim bin Hafidz.

Hadir dalam kegiatan tersebut, KH Hasib Wahab, KH Manarul Hidayat, KH Anim Mahfus, KH Saifuddin Amsir, H Hanif Saha Ghofur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, RMI NU, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Juni 2017

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi...

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelawak sekaligus dai HM Syakirun turut menyemarakkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal yang diselenggarakan pengurus masjid MI Hasyim Asyari Bangsri Jepara, Jawa Tengah, Jumat (17/1) malam.

Dalam pengajian yang berlangsung di Jalan Raya depan Terminal Bangsri Kirun, panggilan akrabnya mengajak jamaah untuk meneladani Nabi Muhammad SAW. “Teladan kita bukanlah Maradona, Rhoma Irama, Jokowi, Sule dan Tukul Arwana melainkan Muhammad SAW,” tegasnya kepada ribuan jamaah yang hadir.   

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi...

Meneladani Nabi kata lelaki asal Madiun Jawa Timur itu dengan mengikuti empat sifat wajibNya; sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. “Dengan kejujuran para santri yang kini sedang menuntut ilmu kelak yang akan memimpin bangsa kita Indonesia,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kirun pun menyontohkan tokoh semacam Gus Ipul Wagub Jatim, Ki Entus Susmono Bupati Tegal bisa mewarnai bangsa, sebutnya dengan modal sidiq, kejujuran.

Dalam ceramahnya ia juga menceritakan tentang dirinya yang kini banyak mengaji. Hal itu dilakukannya dalam rangka gandul sarung kiai. Golek selamet dunia dan akhirat. “Saya nyedak Ulama agar tidak katut pelawak yang nyedot sabu-sabu,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Disamping itu, imbuhnya untuk menggapai berkah. “Pedagang untung karena dagangannya laku. Petani panen hasil tandurannya. Bupati lan polisi digaji karena bekerja untuk negara. Lha aku dibayar goro-goro lambeku,” guraunya sembari disambut tawa jamaah.

Agar lambe, (mulutnya, red) berkah itulah ia semakin dekat dengan kiai. “Dengan ilmu hidup menjadi berkah, dengan agama akan terarah dan dengan budaya hidup menjadi indah,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Hikmah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Juni 2017

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU, KH Hasyim Muzadi menegaskan, berbuat amal kebaikan kepada orang lain hendaknya diniati dengan ikhlas, tanpa mengingat-ingat kembali kebaikan tersebut. Sebab, jika seseorang berbuat baik kepada orang lain dengan ikhlas, tanpa pamrih serta tanpa mengharapkan imbalan apapun, maka perbuatan orang tersebut akan dibalas Allah lebih baik lagi.

"Kalau kita dapat pertolongan dari orang lain, perbuatan itu mari kita ingat. Tapi kalau kita berbuat baik kepada orang jangan diingat-ingat. Sebab, orang kalau beramal tidak akan dihilangkan amalnya oleh Allah," kata KH Hasyim Muzadi saat memberikan tausiah pada acara Haul para ulama pendiri masjid jami Al-Abror di kelurahan Kauman Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, Rabu (20/5) malam.

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya

Kiai Hasyim juga menerangkan, bahwa jangan takut amal hilang, karena Allah tidak akan menghilangkan amal manusia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Maka jangan takut pula orang lain menghilangkan amal kita. Amal itu bisa hilang kalau manusianya sendiri yang menghilangkan, bukan Allah," imbuhnya.

Dirinya menegaskan, jika seseorang menolong orang lain, jangan dipikirkan apa yang sudah dilakukannya itu. "Kalau sudah menolong di lepas saja. Tidak usah mikir atau diatur. Itu sudah kuasanya Allah," jelasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah