Selasa, 31 Januari 2017

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiprah tokoh perempuan NU almarhumah Mahsusoh Ujiati begitu membekas di benak Guru Besar Universitas Ibnu Thufail Maroko Prof Dr Mariam Ait Ahmed. Prestasi salah seorang pendiri IPPNU ini dinilai patut diapresiasi.

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Baca Fatihah untuk Tokoh Perempuan NU

“Mari kita bacakan surat al-Fatihah kepada beliau. Al-Fatihah…” pinta Porf Mariam di sela kuliah umum yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Jakarta di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (12/11) malam.

Menurut dia, Mahsusoh adalah pedamping Dubes RI untuk Maroko Tosari Wijaya yang baik. “Subhanallah, ketika dibangun hubungan Indonesia dan Maroko dikirimlah wanita yang sangat mulia mendampingi seorang duta besar,” katanya sambil menahan air mata.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mahsusoh dianggap berjasa dalam menghubungkan Indonesia dan Maroko. Salah seorang pimpinan Muslimat NU ini termasuk ibu yang selalu mengayomi, terutama bagi para mahasiswa yang ada di Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Beliau mempunyai hati yang mulia, sehingga kedatangannya ke Maroko membawa bendera cinta. Beliau memberikan cinta kepada para mahasiswa,” sanjung Ketua Organisasi Persaudaraan Maroko-Indonesia ini .

Dalam acara Pekan Budaya di Maroko September lalu, Mahsusoh yang wafat pada 21 Desember 2011 itu mendapat anugerah penghargaan sebagai pejuang muslimah hubungan Indonesia-Maroko dari Jamiyyah Sidi Thalhah, bersamaan dengan acara mengenang al-Wali Sidi Thalhah, tokoh kemerdekaan Maroko.

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Pahlawan, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 29 Januari 2017

Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Daarussalam adalah salah satu asrama di Buntet Pesantren Cirebon yang seperti bulan-bulan Ramadhan sebelumnya membuka pengajian pasaran untuk umum. Di kawasan salah satu pesantren terpandang di Jawa Barat ini, pengajian pasaran ini dibagi menjadi dua kelas.

Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Pasaran di Pesantren Daarussalam Cirebon

Pengajian pasaran tahun ini, santri junior masuk dalam kelompok pengajian kelas 1, adapun kitab yang dikaji adalah “Hadits Arbain” dan “Lubabul Hadits”. Sementara kitab “Riyadlus Shalihin” dan “Nailurroja” dikaji untuk kelas 2 yang di dalamnya terdapat santri lintas pesantren, alumni, dan masyarakat umum yang terdiri dari remaja, pemuda, hingga bapak-bapak.

Setiap bada sahur, kelas 1 dan kelas 2 tersebut bergabung menjadi satu kelas dalam pengajian kitab “Almauidzatul Ushfuriyyah”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk masyarakat umum, khususnya bagi mereka yang datang jauh dari luar Kota Cirebon, diperbolehkan menginap bareng para santri. Namun sebelumnya mereka sangat dianjurkan sowan dan izin terlebih dahulu kepada pengasuh Pesantren Daarussalam, KH Tb Ahmad Rifqi.

Santri dan masyarakat yang ada di lingkungan Buntet Pesantren Cirebon biasanya langsung mengikuti jadwal pengajian karena di Buntet sendiri membebaskan santrinya mengikuti jadwal ngaji pasaran di asrama lain dengan catatan tidak meninggalkan jadwal pengajian di asrama yang dia tempati.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada tahun-tahun sebelumnya ngaji pasaran di pesantren Daarussalam ini biasanya ditutup paling cepat sampai tanggal 20 Ramadhan. Tapi untuk tahun ini, pengajiannya ditargetkan hanya sampai tanggal 15 Ramadhan. Alasannya adalah karena sudah menginjak libur sekolah.

Sementara itu, KH. Tb. Ahmad Rifqi yang mempunyai jadwal mengkaji dan menerangkan kitab “Riyadlus Shalihin” memastikan bahwa kitab Riyadlus Shalihin sama sekali tidak memuat hadits dhaif apalagi hadits palsu. Sebaliknya kitab karya Imam Nawawi itu memuat hadits-hadits Shahih dan Hasan.

"Kalau ada yang bilang kitab ‘Riyadlus Shalihin’ banyak memuat hadits dhaif, orang itu bakal diketawain sama ulama-ulama ahli hadits, ibaratnya kaya kidang nyeruduk watu, batu kan kuat, dianggap sama dia batu itu jelek dan lemah terus diadu ya tanduknya patah," kata kiai yang akrab disapa Kang Tus itu dalam pengajian, Ahad (21/6).

Kitab “Riyadlus Shalihin” dikaji di Pesantren Daarussalam dalam dua sesi, yakni pertama selepas Ashar sampai menjelang waktu Maghrib tiba; kemudian kedua, dilaksanakan pada malam hari tepatnya bada shalat isya’ dan tarawih hingga sekitar pukul 01.00 dini hari dengan potongan waktu istirahat sekitar setengah jam. Sementara waktu mengaji kitab Nailurroja adalah sekitar pukul 13.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB

Daarussalam ini bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan pesantren bagi para santri, alumni pesantren, dan masyarakat umum yang hendak mengisi kegiatan di bulan suci Ramadhan untuk mencari ilmu agama dan ngalap barokah dari kiai atau pesantren. Jika tahun ini tidak memungkinkan, tentu saja bisa diagendakan pada tahun-tahun berikutnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 23 Januari 2017

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan melaksanakan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan terhadap PMII sekaligus perekrutan anggota baru. Bagi mahasiswa yang ikut Mapaba telah dinyatakan sebagai anggota PMII akan dikader ke jenjang berikutnya.

Ketua Panitia Mapaba, Amrudin, Ahad (2/12/12) mengatakan, acara tersebut dipusatkan di Balai Desa Purworejo Pacitan. Kegiatan dilaksanakan dari tanggal 30 November  hingga 2 Desember 2012.

PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pacitan Adakan Mapaba (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pacitan Adakan Mapaba

Dikatakannya, Mapaba bertujuan membentuk kader militan yang Kritis Transformatif serta memiliki akhlakul karimah yang bernafaskan Islam sesuai dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaa’ah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diharapkan kegiatan ini dapat memberi motivasi karena merupakan awal pengenalan terhadap PMII sehingga organisasi berbasis mahasiswa melahirkan keintelektualan, berwawasan luas dan berperan sebagai sosial kontrol bagi pemerintahan kabupaten Pacitan khususnya dan umumnya pada bangsa Indonesia ini.

“Semoga kegiatan ini menjadikan kader yang terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam Pembukaan Mapaba yang  bertemakan “Implementasi Potensi Intelektual Kader Dalam Mencetak Generasi Yang Kritis Transformatif” itu di buka oleh Wakhuri, salah satu Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan. 

Dalam sambutanya ia menekankan kepada peserta Mapaba pada nantinya benar-benar menjadi keder militan yang multi talenta serta mau dan mampu memperjangkan nilai-nilai Ahlusunah Wal Jamaa’ah sebagai Manhaj (landasan) untuk berdzikir, berfikir dan beramal sholeh.

Mantan Aktifis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sekarang juga menjadi Kepala Seksi Pekapontren di Kementrian Agama Kabupaten Pacitan itu juga menegaskan bahwa PMII adalah organisasi yang berbasis kaderisasi yang mampu melahirkan Tokoh-tokoh yang besar. Setiap kader yang sudah siap secara Intelektual, Emosional, dan Spiritual harus kembali kepada masyarakatnya dan mengimplementasikan apa yang sudah dimiliki, karena hal itu adalah bentuk dari aktualisasi Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Acara pembukaan Mapaba ini juga dihadiri Ketua Lembaga Kajian Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Cabang Pacitan, Muhammad Munaji, Direktur Komunitas Insan Peduli Anak Sekolah (Kipas) Muhammad Zafri Wicaksana, dan sejumlah Majelis Pembina Cabang PMII Pacitan diantaranya Dodik Prasetyo, yang juga Direktur Prasetya Institute.

Materi yang disampaikan dalam Mapaba sesuai dengan  kurikulum kaderisasi yang dirumuskan PB PMII yang garis besarnya tentang Mahasiswa, Islam Indonesia (Aswaja), dan Ke Indonesiaan. Sedangkan pemateri dari Pengurus Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan, Pengurus Cabang PMII Pacitan, dan Alumni PMII dari berbagai kota yang berdomisili di Pacitan.

Kegiatan diikuti oleh puluhan peserta itu berasal dari beberapa perguruan tinggi yang ada di Pacitan, diantaranya STAI NU Pacitan, STKIP PGRI Pacitan, dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Pacitan berakhir dengan pembacaan Sumpah Mahasiswa Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Komisariat Kanjeng Jimat Pacitan Sapto Pitoyo dan dilanjutkan pengukuhan (pembaiatan) yang dipimpin oleh Ketua Umum PMII Cabang Pacitan Agus Salim. Acara pembaiatan berjalan dengan lancar dan penuh khidmat.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

Waykanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dan sejumlah ustadz di kabupaten Waykanan bersiap memasuki sekolah guna mengaji bersama pelajar setempat. Mereka telah melakukan pertemuan dengan sejumlah sekolah di Waykanan.

"Kami menjajaki kemungkinan tersebut, berbincang dengan sejumlah guru, kepala sekolah juga ustadz dan mendapat respon positif bahwa mengaji di sekolah ialah suatu yang mungkin," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Ahad (13/9).

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom NU Waykanan Rintis Ngaji Bareng Pelajar

Mengaji, demikian penggiat Gusdurian Lampung itu menambahkan, bukan persoalan tempatnya, apalagi konsumsinya, namun bagaimana ketersampaiannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pengajian di sekolah-sekolah akan kami sambangi melibatkan pelajar untuk ikut tampil, membaca kitab suci Al-Quran, puisi hingga menyanyi sesuai tema diangkat. Hal itu bertujuan agar pelajar mendapat ruang berkreativitas," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu menjelaskan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengajian akan digelar di sejumlah sekolah tersebut maksimal berdurasi 90 menit dan di luar atau selepas jam pelajaran. Tema diangkat sesuai dengan keyakinan NU, seperti NKRI harga mati, Pancasila Jaya hingga kewirausahaan. Nama program ini, kata Gatot yang merupakan alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) III Yayasan Satunama Yogyakarta itu menambahkan, ialah Maslahat (Mengaji Bersama Pelajar Indonesia Hebat).

"Kami akan menyambangi SMA sederajat terlebih dahulu, sudah ada dua sekolah yang siap untuk bekerja sama pada September ini. Tema-tema kebangsaan, kemanusiaan dan kewirausahaan akan kami usung sembari mengampanyekan peningkatan pendidikan, menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN Yayasan Mata Air," papar Gatot lagi.

Perihal pemilihan nama Maslahat untuk program itu, Gatot menyatakan NU memang harus bergerak memberi manfaat bagi hidup dan kehidupan.

"Kita harus memotivasi diri, jika kita, bangsa Indonesia, memiliki pelajar-pelajar hebat, mempunyai generasi bangsa yang tangguh. Inilah tugas kemanusiaan, tugas kebangsaan NU," ujar alumni Pendidikan Kader Penggerak NU itu pula.

Adapun modal untuk merealisasikan program itu, Gatot mengatakan ada puluhan miliar. "Saya mengamini pemikiran Bob Sadino. Satu dengkul tidak mungkin dilepas dengan harga Rp500 juta, karena itu, dengan dua dengkul setiap aktivis atau warga NU telah memiliki modal Rp1 miliar. Warga NU harus menggerakkan dengkulnya mewujudkan harapan kemanusiaan dan kebangsaan para pendiri NU dan Indonesia, cita-cita itu hanya akan tercapai dengan bergerak, bukan berwacana," demikian Gatot Arifianto. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Amalan, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 19 Januari 2017

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Oleh: Ferhadz Ammar Muhammad*

Wahai para pemuda putera bangsa yang cerdik pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan usaha ekonomi yang beroperasi, di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum ulama dan bagi lainnya yang masuk kaum terpelajar. Dari badan usaha ini didirikan suatu darun nadwah (balai pertemuan) sebagaimana yang dilakukan para sahabat. (Kutipan paragraf “Piagam Nahdlatut Tujjar” dalam Mun’im DZ, ed., Piagam Perjuangan Kebangsaan; 2011, 28).

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi” (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Hari Santri; Jihad “Kebangkitan Ekonomi”

Empat hari yang lalu, 22 Oktober 2017, negeri ini kembali menemukan fungsinya. Bukan dari gelaran forum para profesor dan peneliti luar negeri, melainkan gerombolan para santri dari bilik-bilik bumi pertiwi. Peringatan itu membawa memori seluruh warga Indonesia pada kejadian 72 tahun silam, Resolusi Jihad oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari namanya. Bukan berupa teks mempertahankan negeri semata, melainkan menjadi ruh ad-da’wah bagi pengisian kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Sebagai seorang yang beragama, setiap peristiwa pasti membawa hikmah, sebab Qur’an pun mengajak para manusia agar mengambil pelajaran dibalik setiap kejadian. Demikian juga dalam upacara peringatan “Hari Santri 2017” itu. Banyak sekali spirit yang bisa diteruskan pada generasi kini dan nanti. Sebagai bagian dari santri, penulis akan mencoba merefleksikan acara tersebutdengan mengambil fokus pada kemandirian ekonomi sebagai upaya agar pesan dan spirit Hari Santri 2017 ini tetap abadi.

Gerakan Pedagang

Gagasan ekonomi diHari Santri 2017 lahir dari catatan dan wacana serta diskusi panjang oleh tokoh-tokoh NU sekarang. Akan tetapi jauh sebelum itu, dibalik segala ide yang pernah hadir di kalangan Nahdlatul Ulama, tentu fakta sejarah Nahdlatul Tujjar adalah dasar dari segala rancangan ekonomi jam’iyyah terbesar itu.Nahdlatul Tujjar ini erat kaitannya dengan kemasyhuran Surabaya sebagai kota dagang dan industri sekitar awal abad ke-20,serta daerah dengan puncak arus perdagangan yang penting di kancah nasional maupun internasional. Hampir semua komponen masyarakat, tidak terkecuali para kyai, memiliki relasi perdagangan di kota ini. Ketatnya persaingan antar pedagang pun tidak bisa dielakkan. Oleh karena itu, para kyai yang terlibat dalam persinggungan dengan kelompok pedagang lain berupaya untuk membangun basis ekonomi bersama demi melindungi kegiatan ekonomi yang digunakan untuk tujuan pengembangan dakwah dan kemandirian pesantren. Maka di tahun 1918, saat para pedagang saling mendirikan perkumpulan-semacam gank dagang-, para kyai yang dimotori oleh Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah bersepakat untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang bernama Gerakan Pedagang (Nahdlatul Tujjar).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lewat Badan Usaha Al-Inan yang dimilikinya, Nahdlatul Tujjar mulai merangsak naik menjadi organisasi saudagar

yang diperhitungkan. Berkat kemandirian itu, para kyai pesantren semakin lantang menyuarakan kebenaran sesuai dengan keyakinan mereka tanpa takut jikalau ekonomi pesantrennya digencet oleh pihak luar. Bahkan saat kyai pesantren didiskriminasi oleh kalangan luar kaitannya dengan pendelegasian untuk Kongres Islam, mereka berani berangkat secara mandiri untuk tetap mengikuti Kongres Islam di Arab Saudi, sebab menyangkut aqidah yang tidak bisa ditawar lagi. Para kyai pesantren tentu telah mengkalkulasi semuanya, mulai dari persiapan argumen rasional dan biaya. Khusus yang terakhir, yakni biaya, syukur alhamdulillah para kyai yang dikenal dengan sebutan Komite Hijazitu terbiayai dengan adanya Badan Usaha Al-Inan milik Nahdlatul Tujjar, sehingga usaha untuk menyelamatkan makam nabi dari arogansi Wahabi, dan kebebasan bermadzhab di Haramain bisa terlaksana (Mun’im DZ, ed.; 2011, 25).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah Nahdlatul Ulama berdiri pada tahun 1926, otomatis segala kegiatan dan spirit perjuangan Nahdlatul Tujjar pun ikut melebur ke dalamnya. Bahkan di tahun awal NU berjalan, para anggota Tanfidziyah justru banyak dihuni oleh para saudagar, pengusaha kecil, dan pemilik tanah. Format yang demikian itu mengindikasikan bahwa ekonomi merupakan syarat penting bagi progresivitas organisasi. Sinyal ini cepat ditangkap oleh warga NU terutama di kota-kota besar. Hingga di tahun 1929 di Surabaya, beberapa tokoh NU mendirikan koperasi kaum muslimin yang berfungsi untuk mengorganisir barter atau penjualan barang dari para petani dan pengusaha kecil tradisionalis, seperti gula, kacang, minyak goreng, sayur-mayur, dan lain sebagainya. Spirit ini pun menginspirasi generasi di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1937, lahirlah Syirkah Mu’awanah, sebuah koperasi yang jaringannya sudah meluas bahkan sampai ke dunia internasional, dengan pokok kegiatan yakni memperdagangkan hasil pertanian, batik, hasil laut, rokok, dan sabun  (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama; 2003, 42).

Dan sekarang, spirit Nahdlatul Tujjar kembali bergelora. Mengambil momentum peringatan (bukan hanya perayaan) “Resolusi Jihad”, semua warga Nahdliyyin berbondong-bondong hadir di pusat peringatan dengan meneriakkan “Santri Mandiri NKRI Hebat”. Jargon itu sungguh menyuntikkan semangat baru. Diskusi mengenai pesan yang dibawa oleh PBNU turut menghiasi perkumpulan para santri. Dari diskusi itu lahir ide dan gagasan menarik yang perlu ditindaklanjuti (follow up), missal pemantapan LAZISNU, sosialisasi ekonomi hijau di desa-desa, dan lain sebagainya.

Ekonomi Inspiratif

Sekarang ini umat Islam dihadapkan pada fakta merebaknya lebelisasi berupa “ekonomi syar’i”, seakan-akan yang diluar konsep itu dianggap tidak Islami. Justru mengkultuskan dan mengarahkan interpretasi ekonominya pada model atau lebel “ekonomi syar’i” membuat Islam terlihat tertutup, dan cenderung bersifat imajinatif-simbolis. Meski demikian, umat juga tidak lantas musti berdiri di barisan para penganut system ekonomi kapitalis kini. Lantas bagaimana jalan yang paling realistis untuk ditempuh? Jawabnya tentulah mengupayakan pertautan esensi atau spirit di antara keduanya. Dalam hal ini, beberapa batas-batas prinsipil musti dipahami dalam praktik pengimplementasian ekonomi, agar tidak keluar dari maqashid fiqh iqtishadi. KH. Said Aqil Siradj (2006; 369-371) telah jauh membahas hal ini dengan menekankan enam prinsip dasar: 1) keadilan dalam distribusi kekayaan (al-‘adalah al-ijtima’iyah), 2) Jaminan atas hak-hak dasar kemanusiaan (al-kulliyah al-khams), 3) Kesejahteraan indvidu dan masyarakat (ar-rafahiyah al-fardiyah wa-l-ijtima’iyah), 4) Persamaan derajat (al-musawah), 5) kebebasan (al-hurriyyah), dan 6) Moderasi (at-tawassuth).

Jika kegiatan ekonomi yang dijalankan didasari dengan enam prinsip di atas, maka “kebijaksanaan ekonomi” bukanlah hal yang utopis. Ia (sistem ekonomi tersebut) lebih mengedepankan isi atau substansi Islam daripada terpaku untuk menampakkan simbol, yang bisa menciptakan eksklusifitas sendiri dihadapan kelompok sosial yang lain. Ia juga tidak berarti mengikuti segala doktrin dan model ekonomi modern (masyarakat industrial) yang justru akan menyebabkan absennya kesejahteraan sosial secara merata. Statement yang terakhir secara tidak langsung menjawab keraguan John Wesley-sebagaimana dikutip Max Weber (2006; 186-187)-saat membahas tentang masuknya doktrin agama di sektor ekonomi. Wesley sempat menulis:

“Saya takut, ketika kekayaan meningkat, esensi agama juga merosot pada proporsi yang sama… sebab agama secara pasti menghasilkan industry dan juga sikap hemat, dan keduanya tidak dapat menghasilkan apa-apa kecuali kekayaan. Akan tetapi ketika orang-orang kaya meningkat maka kesombongan, kemarahan, dan cinta terhadap dunia di dalam segala cabangnya juga akan meningkat…”

Meski Wesley memberi solusi atas fenomena demikian dengan cara “siapa saja yang dapat mencapai segalanya yang bisa mereka dapatkan dan menyimpan semua yang bisa mereka simpan, mereka juga harus memberikan semua yang bisa mereka berikan,…”, tetapi tetap saja belum memberi jawaban konkrit atas timbulnya kekhawatiran dalam bentuk arogansi kekayaan, karena-menurut Weber- corak ekonomi yang lahir di zaman modern sudah dianggap tidak ada hubungannya dengan panggilan spiritual. Tentunya ini berbeda dengan keyakinan KH. Saiq Aqil, bahwa “…ikatan-ikatan agama tidak bisa dilepaskan dalam praktik ekonomi.” Meski konteks keduanya berbeda--KH. Said Aqil berbicara mengenai ekonomi dalam ajaran Islam, sedang Weber tentang kapitalisme dalam etika protestan--tetapi keduanya bisa melahirkan dialektika mengenai peran agama dalam dinamika ekonomi dunia. Dalam hal inilah gagasan alternative yang dibawa KH. Saiq Aqil memberi solusi realistis. Pada sektor pemenuhan kesejahteraan, para ahli agama dituntut untuk menggalakkan ghirrah perekonomian lewat upaya yang kreatif dan prospektif. Namun, agar tidak keluar dari tujuan kehidupan, yakni kepentingan sosial, maka pada sektor pemerataan, tokoh agama perlu mendorong negara lewat instrumen sosialnya agar membuat regulasi guna mengatur perputaran roda ekonomi.

Follow-up

Saat turut serta menghadiri peringatan Hari Santri, penulis sendiri justru langsung teringat dengan ajakan Hadhratussyaikh dalam Mukaddimah Qanun Asasi. Jika diperhatikan secara saksama di kalimat ajakan itu, Hadhratussyaikh menempatkan para kelompok berdasar klasifikasi ekonomi-sosial diurutan awal. Lebih lengkapnya:

“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondonglah masuk jam’iyah yang diberi nama “Jam’iyah Nahdlatul Ulama.”

Akhirnya, bukan tanpa alasan Hadhratussyaikh membuat urutan yang demikian. Terlepas dari interpretasi itu, yang terpenting adalah para warga Nahdliyin semua telah menunjukkan konsistensi menjaga NKRI, terutama lewat sokongan ekonomi, dan ini harus ditindaklanjuti, sebab apa yang terlaksana di Hari Santri 2017 tidak mungkin berhenti. Acara memang sudah berakhir, tetapi cita-cita, ide, dan gagasan akan senantiasa mengalir.

(Penulis adalah aktivis PMII DI Yogyakarta, Nahdliyin Cabang Lasem, dan santri Pesantren Tahfidz Nurul Aziz Sarang)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 18 Januari 2017

Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Zaman sekarang merupakan era digital. Seseorang akan teralienasi (terasingkan) ketika tidak melek teknologi. Dengan tidak paham teknologi, manusia akan ketinggalan zaman. Apalagi zaman terus berubah dengan cepat.

Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Teknologi Berperan Penting agar Manusia Tidak Teralienasi

Hal tersebut dikatakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) H Nizar saat didaulat membuka resmi Rapat Koordinasi Nasional pematangan draft Peraturan Menteri Agama tentang Sistem Informasi Manajemen Kediklatan (Simdiklat).

"Pengalaman soal teknologi sudah saya terapkan ketika saya dilantik sebagai Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2010 silam. Saat itu belum ada gadget canggih seperti sekarang. Adanya baru Blackberry," kata Nizar di hadapan peserta rakornas, Kamis (21/4) malam.

Nizar punya ide yang kemudian ia sampaikan ke rektor. "Begini Pak, demi efisiensi, kita gunakan teknologi untuk virtual meeting. Jadi nggak perlu lagi rapat tatap muka. Belum konsumsinya, tenaganya. Belum lagi koordinasi waktu. Pokoknya melelahkan," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jika memakai virtual meeting, lanjut Nizar, sambil tiduran pun tetap bisa memberikan masukan dalam forum rapat. "Lalu kami membuat konsep untuk naskah akademiknya untuk pengadaan Blackberry dan tablet Samsung. Lalu, sejak itu tiap habis subuh dibuka rapat. Tiap hari itu," ungkap pria asal Jepara ini.

Sementara ada beberapa pimpinan yang gagap teknologi. "Mencet tombol aja nggak bisa. Karena sudah terbiasa dengan staf. Mau saya paksa. Ada trik atau briefing sehari untuk penggunaan Blackberry. Akhirnya, semua lancar," ujarnya bangga.

Menurut guru besar yang juga Wakil Rais Syuriah PWNU DIY ini, jika tidak selesai di level virtual, baru dilakukan rapat face to face. Apalagi sekarang sejak media sosial berkembang luar biasa, maka tidak ada alasan diklat juga harus menyesuaikan dengan kondisi kekinian.

"Sekarang, registrasi online sebenarnya sudah terlambat. Pendaftaran SMA di Yogya aja sudah online sejak 2010. Nah, kok Diklat masih manual. Apalagi dari Pusdiklat Ciputat sampai sekarang kalau minta peserta masih manual. Waduh, ini saya yang susah karena disposisi ya jadi lambat juga," selorohnya disambut tawa hadirin.

Tapi jika memakai IT, lanjut Nizar, maka real time langsung bisa. "Makanya kemudian, saya di Kanwil itu paperless (minim kertas). Jadi, saya ke mana-mana bisa mendisposisi. Kan sekarang ada electronic office," tukasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turbulensi birokrasi

Dari tipikal seorang akademisi yang terbiasa gerak cepat ke birokrasi yang "rutinitas", Nizar melihat dunianya yang baru seperti layaknya pesawat yang mengalami turbulensi. "Tapi saya paksakan. Kalau tidak, ke depan bakal makin ketinggalan. Memang, problemnya itu di sarprasnya," ujar Kakanwil.

Apalagi setelah diaudit, ternyata bandwitch internetnya dan server tidak memenuhi syarat. "Data center juga tidak punya. Bagaimana bisa cepat kalau kayak gini. Lalu ada bantuan dari Pinmas yang hanya 2 GB. Itu pun hanya untuk personalia SDM Kepegawaian. Nggak cukup. Kalau bareng-bareng bisa lemot. Makanya, Diklat juga harus memperhatikan aneka kebutuhan tersebut," tegasnya.

Hadir dalam upacara pembukaan rakornas, Kepala Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi Sekretariat Hj Sunarini, dan Kepala Bagian Ortala dan Kepegawaian Sekretariat H Bahari, Kasubag Hukum dan Perundang-undangan Asroi, dan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Jakarta Aden Daenuri.

Rakornas yang diinisasi Badan Litbang dan Diklat Kemenag ini digelar di Hotel Ros-In Jalan Lingkar Selatan No 110 Bangunharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan diagendakan selama tiga hari, Kamis-Sabtu, 21-23 April 2016. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 15 Januari 2017

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor Cabang Brebes meneguhkan tekad untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes. Pasalnya, Ansoriyin (sebutan anggota ansor) merupakan bagian dari warga masyarakat yang memiliki komitmen membangun daerah, bangsa dan negaranya.

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Brebes Bersinergi Dengan Pemkab

Tekad itu disampaikan Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Brebes Agus Mudrik Khaelani Al Khafidz saat melakukan audiensi di Pendopo Bupati Rabu malam (10/4).

Kegiatan Ansor yang meliputi bidang kepemudaan, kesehatan, ekonomi, pendidikan, ketrampilan, UMKM dan sebagainya membutuhkan sinergisitas dengan pemerintah, khususnya Pemkab. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Yang menjadi garapan Ansor, tentu sejalan dengan pemerintah kabupaten untuk itu perlu disinerjikan,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diungkapkan oleh Mudrik, Ansor bukanlah organisasi politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Untuk itu, dalam perkara pemilu gubernur dan wakil gubernur misalnya menjadi hak perorangan bukan bukan hak organisasi. 

“Termasuk sahabat Jabir Al Faruqi yang akan mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah, bukan karena dorongan partai politik tertentu,” terangya.

Gus Mudrik juga menyampaikan program-program untuk tahun kedepan dan melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh Ansor Cabang maupun PAC dan Ranting.

Sementara Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Ansor Jateng Jabir Al Faruqi yang turut serta dalam audiensi itu menuturkan pentingnya peran pemuda Ansor dan Banser dalam pembangunan di daerah. Di Jawa Tengah para pemuda Ansor banyak memegang peranan penting, namun juga tidak sedikit yang masih perlu diberdayakan. Termasuk di Kabupaten Brebes, potensi pemuda Ansor sangat bagus dan perlu mendapatkan sentuhan yang lebih nyata dari pemerintah setempat.

“Kalau sepuluh persen saja pemuda Ansor masuk dalam ranah pemerintahan, maka akan terjadi dinamika yang bagus,” kata Jabir.  

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyambut baik audiensi yang dilakukan Ansor dan Banser. Pasalnya, silaturahmi ini bisa mengetahui keadaan pemuda sebagai motor penggerak pembangunan dan sekaligus sebagao obyek dan subyek pembangunan daerah.

Rombongan diterima langsung Bupati Brebes Idza yang didampingi Suaminya Kompol Warsidin, Plt Sekda Brebes H Emasthoni Ezam.

Acara diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan kemajuan brebes serta kesejahteraan umat. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Doa, PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 13 Januari 2017

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Pekalongan melakukan soft opening Kantor Cabang PT Sorban Nusantara Tourism. Acara bertempat di Gedung Sentral Bisnis Ansor (SBA) Jalan Raya Karangdowo nomor 10, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan Minggu, kemarin (12/2).

Peresmian kantor cabang perusahaan travel umroh dan haji plus resmi milik GP Ansor tersebut ditandai dengan pemotongan pita dan tumpeng yang dilakukan oleh Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi.

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pekalongan Terus Kembangkan Usaha Biro Travel Umroh

Acara peresmian berlangsung cukup meriah dengan dihadiri oleh Manajemen Sorban Nusantara Kabupaten Pekalongan, PCNU Kabupaten Pekalongan, PW GP Ansor Jawa Tengah, PC GP Ansor, Dewan Penasihat PC GP Ansor, pengurus MWCNU, PAC GP Ansor se-Kabupaten Pekalongan, segenap marketing Sorban Nusantara serta sejumlah calon jamaah umroh.

Mewakili Manajemen PT Sorban Nusantara, H.M. Sholahudin Zuhdi menjelaskan bahwa PT Sorban Nusantara Tourism yang secara resmi beroperasi secara nasional sejak Oktober 2016 hingga Februari 2017 ini telah memberangkatkan jamaah umroh sebanyak 11 kloter dengan jumlah lebih dari 1000 jamaah dengan mengutamakan pelayanan prima dan sepenuhnya dikelola oleh kader-kader Ansor baik ketika pengurusan jamaah di tanah air sampai dengan pelaksanaan umroh di Arab Saudi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, Gus Sholah memaparkan bahwa PT Sorban Nusantara Tourims Cabang Kabupaten Pekalongan menawarkan program umroh reguler selama 12 hari dengan biaya Rp25 jutaan. PT Sorban Nusantara juga menawarkan program Haji Plus 1 tahun berangkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu juga menjalin kerja sama dengan KSPPS Ankasa dengan membuka tabungan umroh dengan setoran ringan hanya Rp 550.000,- per bulan selama 36 kali/ 3 tahun dan akan diberangkatkan pada tahun 2019 sekaligus umroh bersama Pengurus PC GP Ansor.

Sementara itu dalam sambutannya, ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan, M. Azmi Fahmi menyampaikan bahwa peresmian PT Sorban Nusantara Tourims merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi GP Ansor yakni pemberdayaan potensi kader dan mewujudkan kemandirian ekonomi kader dan organisasi.

"Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan telah membentuk pusat bisnis Ansor yang mewadahi tiga kegiatan sekaligus yakni KSPPS Ankasa, Sentral Bisnis Ansor sebagai media promosi dan transaksi produk-produk kader Ansor serta Sorban Nusantara Tourism yang hari ini secara resmi kita launching," terang Azmi.

Pada kesempatan peresmian tersebut juga dibuka pendaftaran tabungan umroh yang mendapat sambutan antusias dari calon jamaah. Hanya dalam waktu kurang dari 1 jam telah resmi mendaftar 40 orang calon peserta tabungan umroh. Suasana peresmian bertambah semarak dengan adanya pengundian Doorprize berupa berbagai macam hadiah hiburan dan hadiah utama berupa "Umroh Gratis" untuk calon jamaah yang telah mendaftar. (Alim Mustofa/Mahbib]Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Doa, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 05 Januari 2017

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan menyiapkan pemimpin berikutnya, manfaatnya antara lain agar transisi kekuasaan berjalan dengan baik sehingga tidak terjadi pengambilan keputusan yang salah oleh pemimpin berikutnya, ujar Yoga Aji Saputra, alumni Diklatsar IX Barisan Ansor Serbaguna (Banser) PC GP Ansor Way Kanan Lampung.

"Upaya GP Ansor Way Kanan melalui Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau BPUN adalah upaya mempersiapkan pemimpin berikutnya, baik bagi organisasi atau bangsa," kata Yoga di Blambangan Umpu, Senin (17/4).

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan Melalui BPUN

Yoga yang mengikuti Diklatsar Banser di Pesantren As Safiiah di Kampung Serdang Kuring Kecamatan Bahuga pada 2014 itu menegaskan, pemimpin masa depan haruslah memiliki pendidikan yang baik, minimal mengenyam pedidikan di perguruan tinggi.

"GP Ansor melalui BPUN menjadi gerbang bagi siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Tentu ini merupakan inisiatif yang baik dari GP Ansor untuk mempersiapkan kadernya atau generasi Way Kanan dan Indonesia untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang," kata pelajar SMK Kesehatan Persada Nusantara Kecamatan Bumi Agung itu pula.

Yoga yang pada tahun 2015 meraih Juara I Tingkat Provinsi Lampung pada Bidang Fisika Terapan Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN) sehingga dipercaya mewakili Lampung dalam ajang tingkat nasional menambahkan, jika individu sedari muda dibekali dengan ilmu-ilmu yang menunjang untuk bisa jadi pemimpin yang baik dan diberikan amanah yang menjadikan individu memiliki rasa tanggung jawab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

BPUN Way Kanan 2016 akan digelar di Pondok Pesantren Assidiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan mulai 23 April hingga 25 Mei 2016. PC GP Ansor Way Kanan merupakan satu-satunya pimpinan cabang yang menggelar program utama Yayasan Mata Air tahun ini di wilayah Sumatera.

Kontribusi peserta mengikuti bimbingan intensif satu bulan di pondok pesantren Rp200 ribu, digunakan untuk pembelian beras 20 kg. Peserta akan mendapatkan try out SBMPTN satu minggu sekali, modul terpadu berkualitas, tentor selektif, gratis biaya bimbingan belajar, konsultasi akademik, motivation training, capacity building, bimbingan rohani istiqomah, pendidikan kepemimpinan dasar, out bond, advokasi beasiswa dan kecakapan hidup.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada pelaksanaan tahun 2015 diikuti 14 pelajar, penyelenggaraan BPUN di Way Kanan meloloskan 6 pelajar memasuki PTN, 5 melalui jalur SBMPTN dan 1 melalui jalur mandiri. Dicky Afrizal dari SMAN2 Gunung Labuhan, diterima di jurusan Biologi Murni, Unila. Lalu Iwan Supriadi, SMAN1 Baradatu, masuk jurusan Agro Teknologi Universitas Jambi.

Selanjutnya Frastika Maulia, SMAN1 Blambangan Umpu, masuk di jurusan Sosiologi Universitas Sriwijaya. Lastri Dwi Saputri, SMAN1 Baradatu, diterima di jurusan Biologi Murni Universitas Bangka Belitung. Keempatnya terdaftar sebagai peserta Bidik Misi.

Lalu Suryaningsih, SMAN1 Blambangan Umpu diterima di jurusan Teknik Pertanian Unila. Dan Romadhoni, SMAN1 Baradatu masuk di Universitas Sriwijaya. Keduanya tidak terdaftar sebagai penerima Bidik Misi. (Disisi Saidi Fatah/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kiai, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 04 Januari 2017

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Santri tingkat akhir tingkat SMA dan SMP pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen mengunjungi makam KH Ibrahim Brumbung yang diyakini sebagai seorang wali. Ziarah ini merupakan bagian dari persiapan batin para santri menghadapi UN selain minta doa para kiai, puasa Senin-Kamis, mujahadah, dan sholat malam.

Kegiatan seperti ini sudah menjadi tradisi santri kelas akhir pesantren Futuhiyyah Mranggen. Tujuannya selain mendoakan para ulama, juga mencari berkah agar dimudahkan ketika mengerjakan soal-soal UN.

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi UN, Santri Futuhiyyah Ziarahi Makam Wali

“Ziarah ke makam Mbah Ibrahim ini bertujuan agar hati kita mantap dan yakin serta memiliki rasa percaya diri untuk menghadapi UN,” kata siswi MA Futuhiyyah 2 Mranggen Devi Nur Kholifatul Unfa di halaman makam, Selasa (1/4).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KH Ibrahim Brumbung dipercaya masyarakat Mranggen mempunyai karomah tertentu. Ia pengembang Thariqah Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah di Mranggen. Ia tidak lain guru KH Abdurrahman Qoshidil Haq dan KH Muslih Abdurrahman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kecuali berziarah, mereka juga meminta doa para kiai. Antara lain KH Muhammad Hanif Muslih, KH Said Lafif Hakim, KH Ali Makhsun, KH Ashif Makhdum, KH Muhibbin Muhsin, dan juga Umi Hj Sa’adah Muslih.

Mereka berharap doa para kiai akan menenteramkan batin mereka dalam mengerjakan soal UN disamping mengharapkan keberkahan dan ilmu bermanfaat. (Abdus Shomad, Ahmad Dliya’uddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Tokoh, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Judul Buku : Fiqih Imam Syafi’i

(Mengupas Masalah Fiqhiyah Berdasar Al-Qur’an dan Hadits)

Penulis : Prof. Dr. Wahbah Zuhaili

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Penerbit : Almahira, Jakarta

Cetakan : I, Februari 2010

Tebal : 716 hal.

Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Fiqih merupakan cabang ilmu keislaman yang mengkaji hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan? hubungan antar sesama manusia (hablum minannas). Kata “fiqih” sendiri secara bahasa berarti “paham”, seperti dikutip dalam hadits di atas, awal mulanya fiqih pengertian yang luas, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap islam secara utuh. Definisi ini berlaku pada masa generasi sahabat dan tabi’in. Selanjutnya pada masa muta’akhirin (abad IV-XII H), fiqih mengalami penyempitan makna, menjadi “pengetahuan hukum syara’ yang bersifat alamiyah bersumber dari dalil-dalil yang spesifik”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada periode Mutaakhirin ini, pula terjadi pelembagaan fiqih dalam beberapa madzhab. Ketika itu ada empat madzhab besar berkembang dan mampu bertahan hingga saat ini, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali. Empat madzhab tersebut tersebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara, Madzhab Syafi’i lah yang pertama kali di anut penduduk Nusantara. Dan saat ini mayoritas kaum muslimin indonesia bermadzhab Syafi’i.

Madzhab Syafi’i yang digagas oleh Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H) mendapat apresiasi yang luar biasa dari umat Islam dunia. Madzhab ini dianut oleh kurang lebih 28 persen populasi muslim dunia, atau sekitar 439,6 juta jiwa dari 1,57 miliyar penduduk? dunia.? Penganut Madzhab Syafi’i tersebar di Mesir, Arab Saudi, Suriah, Indonesia, Malasyia, Brunai Darussalam, Pantai Koromandel, Malabar, Hadramaut, dan Bahrain.

Tidak heran jika pengaruhnya sangat luar biasa dalam yurispundensi Islam sebab Imam Syafi’i memang dikaruniai kecerdasan istimewa, kemampuan nalar dan gaya bahasa yang luar biasa. Pada usia 20 tahun ia sudah hafal kitab “al-Muwaththa’” karya monumental Imam Malik. Imam Malik mengagumi Imam Syafi’i sembari berkata “wahai Muhammad (Syafi’i)” sesungguhnya Allah telah memancarkan cahaya hatimu, maka jangan engkau sia-siakan cahaya itu dengan maksiat. Esok akan banyak orang yang berdatangan untuk belajar kepadamu. Pujian Imam Malik benar menjadi kenyataan. Syafi’i kemudian Imam madzhab panutan umat diberbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Madzhab Syafi’i, satu dari sekian banyak madzhab fiqih saat ini masih mendapat apresiasi luar biasa mayoritas kaum muslim dunia. Keunggulan utama madzhab Syafi’i terletak pada sifatnya yang moderat. Di awal pertumbuhannya, pendiri madzhab ini, Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H), mengakomodasi dua aliran hukum Islam yang berkembang saat itu, yaitu aliran tektualis (madrasatul hadits) dan aliaran rasionalis (madrasatur ra’y). Hasil kolaborasi keduanya dapat dilihat dari produk hukum Imam Syafi’i yang selalu mengacu pada subtansi nash (Al-Qur’an dan as-Sunnah), kemudian dalam kasus tertentu dipadukan dengan dalil analogi (qiyas).

Sebagai Bapak Ushul Fiqh, Imam syafi’i mewariskan seperangkat metode istimbath hukum yang berfungsi untuk menganalisasi beragam kasus hukum baru yang terjadi dikemudian hari. Dari tangan Imam Syafi’i lahir ribuan ulama yang konsen menafsirkan, menjabarkan, dan mengembangkan pemikiran beliau dalam ribuan halaman karya dibidang hukum Islam. Tidak heran jika dinamika perkembangan Madzhab ini melampaui Madzhab lainnya.

Buku yang terdiri tiga jilid yang ditulis Prof. Dr. Wahbah Zuhaili ini, memuat ribuan kasus yang terjadi masyarakat, yang dibidik dengan aturan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan yang bersumber dari al-qur’an, as-sunnah, ijma’ ulama dan qiyas serta hasil ijtihad Imam Syafi’i dan murid-murid beliau.

Secara garis besar, Masterpiece Prof. Dr. Wahdah as Zuhaili ini disusun dalam lima bab. Sebagai pendahuluan, pembaca akan diajak menelusuri biografi dan pemikiran hukum Imam Syafi’i. Selanjutnya secara sistematis, Prof. Wahbah mengurai secara detail hukum thaharah dan ibadah, pada bab satu. Bab dua menyajikan hukum muamalah konferensional dan syari’ah berikut transaksinya. Bab ketiga memaparkan hukum keluaga Islam. Kemudian pada bab empat berisi hukum Hadd, Jinayah, dan Jihad, terakhir. Bab lima, mengulas aspek peradilan Islam.

Dalam buku fiqih Imam Syafi’i ini diperkaya dengan penjelasan hikmah dibalik penetapan sebuah aturan syariat, penjelasan terperinci atas setiap topik bahasan, dan pemberian contoh-contoh lengkap dengan dalilnya. Penulisan buku ini berpatokan sepenuhnya pendapat Imam Syafi’i yang lebih valid yang terdapat didalam Majmu’dan minhajnya, dan tidak merujuk pada kitab al-raudhah dan sebagainya. Tujuan agar madzhab ini dapat menjadi jelas bagi kalangan awam. Apalagi, penyajian Fiqih perbandingan yang dilakukan terlalu dini tampaknya lebih sering hanya akan memunculkan kebingungan serta menhancurkan keselarasan hukum syaiat.

Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainya, fiqih merupakan ilmu yang paling lurus dan matang. Dengan fiqih, syariat Islam telah menjadi salah satu sumber penetapan syariat yang sekaligus dapat diterima disetiap waktu dan tempat. Karena itu, fiqihlah yang telah menghimpun antara ajaran pokok dengan hal-hal yang menjaman serta menghimpun antara upaya untuk menjaga berbagai macam sumber syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis dengan berbagai macam pekembangan dan perubahan yang terjadi, yang tujuannya adalah untuk mengindentifikasi hukum halal-haram dan demi menggapai kemaslahatan bagi umat manusia dan kebutuahan mereka disepanjang zaman. Karena fiqih memang terlahir dari dasar-dasar dan berbagai sumber yang kokoh demi tujuan syariat yang universal.

Dengan demikian, buku yang sangat mengagumkan ini patut menjadi rujukan umat Islam, baik untuk dijadikan leterasi dalam dunia akademik maupun sebagai pandangan hidup dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Sehingga, mampu membedakan dari hal-hal yang diperbolehkan dengan yang tidak diperbolehkan oleh agama. Wallahu a’lam bis-showab.



* Peresensi adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, aktif Pada Pondok Budaya Ikon Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 01 Januari 2017

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelatihan Kader Penggerak Aswaja yang Berwawasan Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta, Senin dan Selasa, 14-15 Agustus 2017 ? di Hotel Bintang, Jakarta Pusat berlangsung sukses. Sedikitnya 150 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta

Mereka adalah perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PW Muslimat NU Lampung, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, IPNU, IPPNU, Fatayat, dan GP Ansor.

Maghfiroh, aktivis Muslimat NU dari Kecamatan Matraman Jakarta Timur, mengungkapkan ada pengalaman-pengalaman baru yang ia dapatkan dari kegiatan tersebut.

“Paling menarik tentang keaswajaan, itu sangat penting bagaimana kita sebagai aktivis Muslimat NU mengenalkan keaswajaan kepada anak-anak muda,” katanya.

Menurutnya anak-anak muda sekarang banyak yang jauh dari pengenalan keaswajaan ala NU karena lebih terpukau dengan penampilan yang mereka lihat dari kelompok di luar NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita sebagai orang NU harus memberikan contoh sebagai anutan. Kalau kita contohkan yang baik tentu mereka akan suka,” katanya saat ditanya bagaimana mengenalkan keaswajaan yang ia dapatkan dari pelatihan.

Peserta lainnya, Kholifah, aktivis Muslimat NU Jakarta Barat, mengungkapkan materi dalam pelatihan semakin memantapkan dan menambahkan wawasan.

“Terutama pengetahuan bahaya terorisme dan adanya paham-paham radikal. Penting kita ketahui dan kenalkan kepada masyarakat agar waspada,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan menghadirkan KH Musthofa Aqil Siroj dari Syuriyah PBNU, perwakilan BNPT, Kemenag, dan Pemda DKI Jakarta. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Nahdlatul Ulama, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah

Oleh Moh. Salapudin



Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengikhbarkan bahwa tanggal 1 Muharram 1438 H jatuh pada hari Senin, 3 Oktober 2016, atau persisnya dimulai sejak Ahad (1/10) malam nanti. PBNU mengistikmalkan bilangan bulan Dzulhijjah 1437 H menjadi 30 hari karena tidak ada yang berhasil mengamati hilal pada pelaksanaan rukyatul hilal pada Sabtu (1/10) kemarin. (Pondok Pesantren Attauhidiyyah, 2/10).

NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Penentuan Awal Bulan Kamariah

Ketika berita di atas di-share di group WhatsApp Keluarga Besar Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, terjadi diskusi panjang. Pasalnya, banyak yang sudah merayakan ritual tahun baru hijriah pada Sabtu (1/10) malam kemarin. Alasannya adalah karena keadaan hilal pada pelaksanaan rukyatul hilal kemarin sudah memenuhi kriteria imkan rukyat yang dipedomani pemerintah (imkan rukyat kriteria MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 2 derajat, jarak sudut matahari-bulan (elongasi) 3 derajat, dan umur bulan dari saat ijtimak 8 jam.

Tinggi hilal saat pelaksanaan rukyatul hilal pada Sabtu (1/10), kemarin, sebagaimana dipublikasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berkisar antara 2,90 derajat di Merauke, Papua, sampai dengan 4,33 derajat di Banda Aceh, Aceh. Dengan elongasi 3,7 sampai 4,9 derajat, dan umur bulan lebih dari 8 jam. Jika mengunakan hisab imkan rukyat kriteria MABIMS, maka keadaan hilal tersebut dapat dijadikan alasan masuknya awal bulan baru sehingga awal bulan Muharram 1438 H jatuh pada Sabtu (1/10) atau persisnya dimulai pada Sabtu malam kemarin. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masalahnya, meskipun keadaan hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS, ternyata pada pelaksanaan rukyatul hilal tidak ada yang berhasil melihat hilal. Dalam kasus semacam ini, NU akan mengistikmalkan bilangan bulan sebelumnya menjadi 30 hari, sehingga awal Muharram 1438 H, sebagaimana diikhbarkan PBNU, jatuh pada Senin (3/10) atau persisnya dimulai sejak Ahad malam nanti. Kasus ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali. Pada penetapan awa bulan Rabiul Akhir 1437 H lalu, keadaan hilal juga sudah memenuhi krieria imkan rukyat MABIMS, namun karena tidak ada yang berhasil melihat hilal pada pelaksanaan rukyat hilal, maka NU mengistikmalkan bulan Jumadil Akhir 1437 H.

Sebagai jam’iyah diniyah (organisasi sosial kegamaan Islam) yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah, NU menjunjung tinggi dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW serta tuntunan para sahabat Rasulullah SAW dan ijtihad para ulama mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). NU juga berkewajiban untuk senantiasa mengamalkan, mengembangkan dan menjaga kemurnian ajaran agama Islam yang diyakininya, termasuk dalam hal penetapan waktu/tatacara ibadah yang dianggap sah dan utama. Menurut keyakinan NU, metode yang mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan), dalam hal penentuan awal bulan kamariah, terlebih pada bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, adalah rukyatul hilal.

Dasar hukum dipilihnya rukyat oleh NU, selain hadits-hadits Nabi tentang hisab rukyat, tentu saja pendapat para ulama. Para ulama yang diikuti pendapatnya, sebagaimana terdapat dalam “Buku Pedoman Rukyat dan Hisab Nahdlatul Ulama” adalah: Imam Mazhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam ar-Ramli, Imam Bakhit al-Mu’thi, Imam Ba’lawi, dan ulama lainnya. Adapun kitab-kitab karya ulama klasik yang dirujuk NU adalah Fiqh ala al-Mazahibi al-Arba’ah, Majmu’, Tuhfah al-Muhtaj, Nihayah al-Muhtaj, Irsyadu Ahli al-Millah, I’anatut Thalibin, Bughyah al-Mustarsyidin, Syarah Ihya’ Ulumuddin, Fathul Bari, Bidayatul Mujtahid, al-Isyadatul Saniyah, Fatawa ar-Ramli, al-Alamul Mansyur fi Isbathi Syuhur, al-Fatawa asy-Syar’iyah, dan al-Mahalli.



Semua ulama tersebut berpendapat bahwa awal bulan kamariah, khususnya awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, ditentukan berdasarkan rukyatul hilal, dan jika rukyat tidak berhasil maka dilakukan istikmal. Bahkan, term rukyat dalam hadits-hadits hisab rukyat bersifat ta’abbudi ghair al-ma’qul al-ma’na (tidak dapat dirasionalisasi). Itulah alasan mengapa hingga sekarang NU masish memegang teguh rukyatul hilal.

Adapun terhadap kriteria imkan rukyat sebagaimana yang digunakan oleh pemerintah saat ini, PBNU tidak menolaknya secara mutlak. PBNU menggunakan hisab krieria imkan rukyat untuk menerima/menolak laporan rukyatul hilal. Artinya, jika keadaan hilal sudah memenuhi imkan rukyat dan ada kesaksian rukyatul hilal, maka kesaksian tersebut akan diterima. Sebaliknya, jika keadaan hilal masih di bawah kriteria imkan rukyat, dan ada yang mengaku melihat hilal, maka kesaksian tersebut akan ditolak.

Kasus tersebut pernah terjadi misalnya pada saat awal Syawal 1418 H dan Ramadhan 1427 H. Pada saat itu ada yang mengaku dapat melihat hilal, namun karena keadaan hilal tidak memenuhi kriteria imkan rukyat, maka PBNU menolak kesaksian itu. Pada kedua kasus tersebut, memang terdapat dinamika di internal NU, yakni keputusan PWNU yang menerima kesaksian hilal pada saat itu.

Penulis pernah belajar ilmu falak di UIN Walisongo SemarangDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Olahraga, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah