Minggu, 26 Februari 2017

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Terhitung sejak bulan lalu, Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAU WH) Tambakberas Jombang membentuk kelompok baca perpustakaan. Meskipun baru memiliki 15 anggota yakni para siswa dan siswi madrasah setempat, diharapkan jumlah kelompok ini terus bertambah.

"Alhamdulillah, sejak bulan Januari telah terbentuk kelompok baca perpustakaan MAU WH yang anggotanya 15 siswa," kata Ustadz Mustaufikin, Senin (13/2) siang.?

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Staf unit Pengendalian Mutu Madrasah di MAU WH ini mengemukakan bahwa kelompok baca tersebut fokus pada kegiatan peningkatan minat baca dan menulis. "Kegiatan wajibnya, mereka harus membaca setiap hari, dan setiap minggu adalah menulis," jelas alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Sedangkan kegiatan insidental adalah kajian literasi, seperti yang dilakukan tadi siang. "Tema kajian adalah menggerakkan literasi madrasah yang menghadirkan Ustadz Miftahul Arif," ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam penjelasannya, Ustadz Miftahul Arif mengemukakan bahwa kesadaran literasi bangsa Indonesia termasuk rendah. "Rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor masifnya peredaran khabar bohong atau hoax," kata Ustadz Arif, sapaan akrabnya. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi, seacara instan, tanpa berupaya mencerna secara utuh, lanjutnya.

Wakil Kepala Sekolah MAU WH bidang kurikulum tersebut menyebutkan data UNESCO bahwa indeks membaca bangsa Indonedia hanya 0,0001. "Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang punya tradisi membaca secara serius," ungkapnya.

Sementara itu ada sekitar 132, 7 juta orang telah menggunakan internet. Baginya, kondisi tersebut sebagai hal yang kontradiktif. "Menggunakan teknologi tinggi tanpa dilandasi tradisi membaca, maka buahnya adalah tradisi berteriak di jalanan sembari menyebar kebencian, memproduksi fitnah, serta memporak-porandakan ketentraman atas nama tuhan," tandas kandidat doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.?

Karenanya, Ustadz Arif mengajak seluruh elemen madrasah untuk mengawal gerakan literasi. "Tugas guru disamping mengajar adalah mendidik, menginspirasi dan menggerakkan," jelasnya.

Harapan serupa disampaikan Ustadz Mustaufikin. "Kami mohon dukungan bapak dan ibu guru untuk ikut menyemangati anak-anak untuk lebih banyak membaca," pintanya. Dia juga berharap dari komunitas kecil ini akan lahir siswa dan siswi yang gemar membaca dan memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 23 Februari 2017

PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Para aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, turun ke jalan membagi-bagikan masker, sejak Sabtu (15/2) pagi, menyusul hujan abu vulkanik yang mengguyur Kota Malang akibat erupsi Gunung Kelud.

PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker

Aksi bagi-bagi pelindung pernafasan tersebut diperuntukkan kepada para pengguna jalan maupun masyarakat setempat daerah Tlogomas, Malang. Berbeda dari yang lain, para aktivis PMII ini melakukan aksinya tanpa menggunakan atribut organisasi kemahasiswaan Islam tersebut.

“Memang begitu, ketika kita berdiri atas nama kemanusiaan, sudah selayaknya kita melepaskan atribut apapun,” ujar Ketua Komisariat PMII UMM Syukron Anshori.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pembagian masker disambut baik para pengendara. Umumnya mereka menepi dan menutupi mulut mereka dengan masker pemberian PMII UMM. Masyarakat Kota malang diimbau tetap menggunakan masker atau kacamata untuk mengindari serbuan abu vulkanik Gunung Kelud yang disertai bau belerang itu.

Selain PMII, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) beserta sejumlah badan otonom dan komunitas NU lainnya ? juga aktif menggalang bantuan di sejumlah daerah terdampak. Di samping bagi-bagi masker, mereka turut menyuplai bahan makanan, selimut, perlengkapan shalat, kebutuhan bayi, dan lainnya. (Orie Muhammad/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Pahlawan, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 22 Februari 2017

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Meskipun saat ini sistem pembelajaran formal sudah diterapkan, tetapi tradisi pondok salaf di Pesantren Nurul Qodim di Desa Kalikajar Kulon Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo tetap eksis dan tidak berkurang. Bahkan, dengan santrinya yang semakin banyak, tingkat kriminalitas pelajar di sekitar pesantren bisa ditekan.

Pesantren Nurul Qodim dulunya merupakan pesantren yang murni salaf. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1966, artinya usia pesantren sudah 54 tahun. Pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Hasyim yang karib disapa Kiai Mino.

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal

Sejak awal, Kiai Mino telah menerapkan sistem pembelajaran salaf kepada para santrinya. Sampai sekarang, basic salaf tetap dipertahankan oleh pengasuh dan ketua Yayasan Nurul Qodim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah Kiai Mino wafat, posisi pengasuh diamanahkan kepada KH Nurudin Musiri, putra pertama Kiai Mino. Kiai Nurudin mengasuh pesantren sampai tahun 2015 lalu.

“Setelah ia wafat, pengasuh pondok dilimpahkan kepada KH Hasan Abdul Jalil, adik kandung dari KH Nurudin Musiri hingga sekarang,” tutur Gus Abdul Hadi, Ketua Yayasan Nurul Qodim, Jum’at (8/7).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rencana penerus pengasuh selanjutnya masih belum jelas siapa. Tapi kalangan masyarakat dan keluarga pondok menerangkan, nantinya yang akan menggantikan KH Hasan Abdul Jalil adalah Gus Abdul Hadi. Putra pertama dari Kiai Nurudin Musiri yang sudah 16 tahun mengenyam pendidikan di pesantren.

Gus Abdul Hadi adalah salah satu keluarga pondok yang digadang-gadang akan menggantikan KH Hasan Abdul Jalil. Dengan segudang pengalamannya, pendahulunya tidak meragukan kemampuannya untuk dapat mengasuh pondok.

Maklum, ia pernah mondok selama 11 tahun di Pesantren Lirboyo, Kediri. Setelah itu, Gus Abdul Hadi juga pernah menimba ilmu di Mekkah selama lima tahun.

“Selama di Mekkah, sering kali menjadi pemandu haji semasa musim haji. Biaya untuk mondok, tidak hanya menggunakan beasiswa, melainkan didapat juga dari kesibukannya menjadi pemandu haji,” kata bapak tiga anak itu.

Setelah merampungkan pendidikannya pada tahun 2005 lalu, ia banyak dilibatkan untuk ngurusi pesantren. Sejak saat itu, kondisi pesantren banyak berubah, terutama pada model pendidikan yang digunakan. “Perubahan terjadi karena saat itu saya berinisiatif mendirikan sekolah formal di pesantren ini,” ungkap pria 38 tahun itu.

“Meskipun banyak yang mengatakan kalau nantinya tradisi pondok akan hilang dengan sendirinya akibat masuknya pendidikan formal. Tapi, saya yakin mampu membuktikan kalau masuknya pendidikan formal tidak akan mengurangi minat santri untuk belajar salaf di pondok,” jelasnya.

Pembuktian pun saat ini sudah dirasakan. Yaitu dengan bertahan dan semakin berkembangnya basic pesantren salaf. Selain itu, jumlah santri tetap yang ada di pesantren saat ini tercatat ada sekitar 2.100 santri. “Mereka semua merupakan santri salaf. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak mengikuti tradisi pesantren,” ujarnya.

Bertahannya model pendidikan salaf di Ponpes Nurul Qodim, karena adanya strategi khusus yang diterapkan olehnya. Yakni, meski berdiri tiga sekolah formal setingkat MI, MTs dan MA, namun semua siswa wajib mondok.

Jam sekolah pun berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika sekolah formal di pondok lainnya masuk pagi dan pulang siang, di sini kebalikannya.

“Jadi, pagi digunakan untuk sekolah madin yang termasuk dalam salaf. Sedangkan siang harinya, baru berlanjut sekolah formal. Ini merupakan cara yang bertujuan untuk tetap mempertahankan tradisi ponpes,” ujar pria berkumis itu.

Saat ini, kepercayaan masyarakat terhadap ponpes semakin kuat. Hal itu karena berkurangnya kenakalan remaja dan narkoba di wilayah sekitar Kecamatan Paiton.

“Dengan adanya wajib pondok bagi siswa, secara tidak langsung efeknya sangat besar bagi pendidikan remaja. Terutama di ranah pola pikir dan tingkah lakunya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 Februari 2017

Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa melepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial pekan lalu di halaman pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ini merupakan bagian dari dimulainya Bulan Bakti Kesetiakawanan Sosial sebagai penanda dimulainya rangkaian Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) dimulai dari Kabupaten Pacitan. 

Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial

HKSN 2017 terbagi dalam 7 etape di 10 titik kabupaten/kota di Jawa Timur. 10 titik tersebut yakni Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Malang, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pamekasan,  Kabupaten Sampang, Kabupaten Bangkalan dan berakhir di Kota Surabaya. 

Agenda di masing-masing etape antara lain melakukan bakti sosial sesuai hasil assesment masing- masing tim kordinator yang diinisiasi oleh konsorsium relawan. 

Secara umum akan dilakukan baksos dengan memberikan  bantuan perlengkapan sekolah, pengobatan masyarakat gratis, pemberian bantuan alat bantu disabilitas, penyerahan hak sipil (akta nikah dan akta lahir), operasi katarak, operasi bibir sumbing, sunatan massal, dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dirjen Pemberdayaan Sosial Hartono Laras mengatakan Jawa Timur adalah satu-satunya wilayah di Pulau Jawa sejak tahun 2005 yang belum mendapat giliran sebagai tuan rumah HKSN. Karena alasan itulah Gubernur Jawa Timur, Soekarwo lantas mengirimkan surat menjadi tuan rumah HKSN sejak tahun 2014.

"Akhirnya saat perayaan HKSN di Palangkaraya, Kalimantan Tengah 2016 lalu, Gubernur Jawa Timur  Soekarwo menerima pataka HKSN sebagai tanda tuan rumah pelaksanaan HKSN tahun 2017," terangnya. 

Hartono kemudian merinci, tahun 2005 HKSN diselenggarakan di Serang, Banten, kemudian tahun 2006 di Solo, Jawa Tengah, tahun 2007 di Medan, Sumatera Utara, tahun 2008 di DKI Jakarta, tahun 2009 di Payakumbuh, Sumatera Barat, dan tahun 2010 di DI Yogyakarta.

Setelah itu, di tahun 2011 HKSN digelar di Bogor, Jawa Barat, tahun 2012 di Ternate, Maluku Utara, tahun 2013 di Makassar, Sulawesi Selatan, tahun 2014 di Jambi, tahun 2015 di Kupang, NTT dan terakhir di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 

"Untuk selanjutnya 2018, kemungkinan akan diselanggarakan di Pulau Sulawesi. Permohonan yang sudah masuk dari Gubernur Gorontalo dan Sulawesi Utara," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Hartono menjelaskan peringatan HKSN dimaksudkan untuk merevitalalisasi kembali spirit atau semangat kesetiakawanan sosial di benak seluruh anak bangsa sebagai modal pembangunan menuju cita-cita Indonesia Sejahtera.

"Dalam peringatan HKSN, terdapat agenda pemberian penghargaan kepada para relawan, seperti karang taruna berprestasi tingkat nasional, pekerja sosial berprestasi tingkat nasional, dan lembaga kesejahteraan sosial berprestasi," kata dia.

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada kepala daerah dan tokoh masyarakat yang secara aktif melakukan kegiatan sosial dan kemanusiaan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 17 Februari 2017

Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keberadaan ideologi transnasional terus mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun demikian, menghadapi sejumlah gerakan transnasional itu masyarakat diharapkan menanggapinya dengan cara yang tepat.

“Yang harus dilakukan adalah melawan mereka dengan logika ilmu,” kata Yusuf Suharto, pembicara pada Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) dan bedah buku “HTI dan PKS Menuai Kritik: Perilaku Gerakan Islam Politik Indonesia” karya DR Zuly Qodir di kampus Unwaha Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (7/10).

Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional

Menurut dosen Universitas Darul Ulum Jombang ini, penguatan keilmuan merupakan cara paling tepat. Sedangkan perlawanan fisik, apalagi disertai pengerahan massa, justru akan berdampak sebaliknya alias menguntungkan kelompok ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di hadapan ratusan mahasiswa dan pegiat Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) se-Kabupaten Jombang, Yusuf mengajak pelajar untuk meningkatkan komunikasi dengan sejumlah kiai, ulama dan tokoh cendekiawan yang memiliki pemahaman Islam secara baik dan benar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Para kiai dan ulama telah memperjuangkan bentuk negara kita pada sidang konstituante,” kata dosen Universitas Darul Ulum Jombang ini. Dengan kebesaran hati dan kesadaran akan beragamanya suku, agama dan ras di negeri ini, para kiai yang terhimpun dalam Nahdlatul Ulama (NU) akhirnya lebih memilih NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara.

Dengan mengutip pandangan KH Ahmad Shiddiq, direktur PC Aswaja NU Center Jombang ini mengatakan bahwa Pancasila bukan agama dan tidak akan bisa menggantikan agama. Namun negara Pancasila adalah upaya final bagi umat Islam Indonesia untuk mendirikan negara.

Pada kesempatan tersebut, Yusuf juga membandingkan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW yang lebih menggunakan Piagam Madinah dalam menata masyarakat. “Nabi tidak memilih negara Islam karena sadar dengan keragaman yang ada di Madinah saat itu,” terang Yusuf.  Karena itu, para penganut agama Yahudi, Nasrani tetap dihargai keberadaannya untuk hidup damai di Madinah.

Demikian juga saat para sahabat menjadi pemimpin, tidak menggunakan Islam sebagai bentuk  negara. Sejumlah suksesi kepemimpinan juga menyesuaikan dengan aspirasi masyarakat saat itu.

Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya DR Ainur Rofik Al-Amin yang juga tampil sebagai pembicara menandaskan bahwa Pancasila dan NKRI sangat bergantung kepada bangsa Indonesia bagaimana mengisinya. “Kalau diisi dengan baik, maka yang akan tampil adalah nilai dan bentuk yang juga baik,” ujarnya.

Karena itu kalau kemudian ada sejumlah peraturan yang bernafaskan Islam, itu adalah sumbangsih dari para penentu kebijakan yang dilandasi oleh agama. “Lahirnya UU zakat, perkawinan, perwakafan dan sebagainya adalah kontribusi positif dari para anggota legislatif yang memiliki komitmen kuat dalam mewarnai perundangan di negeri ini,” terangnya.

NU dan Muhammadiyah serta organisasi sosial keagamaan yang ada telah memberikan sumbangsih yang besar bagi eksistensi negeri ini. “Bandingkan dengan HTI dan ideologi lain yang datang pasca kemerdekaan. Mereka tidak berkontribusi positif bagi negeri ini, bahkan cenderung memperkeruh keadaan,” lanjutnya.

Ideologi  transnasional dinilai tekstual dan melihat permasalahan secara hitam putih, kaku, gemar mengkafirkan, dan cenderung menggerogoti empat pilar bangsa Indonesia, yakni Pancasila, Bhinnneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

“Karena itu, sudah seharusnya para generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa mewaspadai gerakan ini demi terjaganya keutuhan bangsa,” pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Warta, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 16 Februari 2017

Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat

Karanganyar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Karanganyar Kiai Ahmad Hudaya saat ini tengah membangun joglo shalawat. Joglo shalawat tersebut akan digunakan sebagai tempat bershalawat dengan masyarakat sekitar.

“Saat ini shalawat tengah menjadi magnet luar biasa di wilayah Soloraya. Shalawat merupakan mahabah atau cinta kepada Rasulullah. Sehingga paling tidak menjadi pengingat Rasul dan tidak hanya itu, ternyata dengan bershalawat bersama mampu menyatukan masyarakat,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya di Sroyo, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (7/9).

Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat

Membaca shalawat mampu memperngaruhi suasana batin bagi yang membacanya. Ketika yang jenuh menjadi hilang kejenuhannya, yang tegang menjadi lebih tenang. Dan kala itu dilaksanakan bersama-sama maka akan tumbuh rasa kasih sayang kepada sesama, sehingga tercipta kehidupan damai rukun dalam komunitas masyarakat pecinta shalawat dan masyarakat pada umumnya, imbuh mantan ketua PCNU Karanganyar yang juga mengemban amanah sebagai dosen IAIN Surakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Oleh sebab itu pembangunan joglo shalawat ini dimaksudkan sebagai salah satu cara kami untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat kultural NU. “Intinya jika ada konflik di struktural, jangan sampai hal itu membuat kita putus asa, terutama untuk ngopeni (mengurusi) jama’ah. Mari kita majukan NU Karanganyar dengan cara dan kemampuan masing-masing,” ajak alumni Lirboyo ini.

Sementara berdasarkan pengamatan Pondok Pesantren Attauhidiyyah bangunan joglo shalawat tersebut saat ini masih proses penyelesaian. Meski sudah ada atapnya, namun masih tampak puluhan bambu menyangga beton bangunan tersebut. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Foto: Ketua Mustasyar PCNU Kiai Hudaya Karanganyar (berjas hitam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 15 Februari 2017

Sekolah untuk Semua

Oleh A. Muchlishon Rochmat

Sejatinya fungsi sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. (Howard Gardner)

Sekolah merupakan institusi dimana proses belajar dan mengajar secara formal berlangsung. Seiring dengan berkembangnya waktu, posisi sekolah menjadi sentral dan utama di masyarakat kita. Hal tersebut bisa kita lihat dari persepsi masyarakat dan kesempatan mendapatkan kerja –baik di institusi negeri maupun swasta- bahwa orang baru dianggap berpendidikan kalau dia menamatkan sekolah formal dan orang bisa mendapatkan pekerjaan kalau ia memiki selembar kertas ijazah meski terkadang tidak ada skill. Bukankah pendidikan formal merupakan salah satu jenis pendidikan saja, selain informal dan non-formal?

Sekolah untuk Semua (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah untuk Semua (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah untuk Semua

Seiring dengan peran pendidikan formal yang begitu vital di masyarakat, maka menjamur lah sekolah-sekolah formal itu mulai dari tingkat SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas). Sekolah-sekolah tersebut berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, karena dengan menjadi sekolah terbaik tentu akan memberikan keuntungan ‘privilege’ dan sekaligus keuntungan materi. Keduanya saling terkait. Dimana sekolah yang memiliki ‘privilege’ tentu akan mudah mendapatkan keuntungan ‘materi’. 

Dengan demikian, banyak stakeholder dan manajemen sekolah yang berbondong-bondong untuk mengembangkan manajemen sekolahnya agar menjadi sekolah terbaik seperti menerapkan konsep sekolah unggulan, sekolah model, sekolah berstandar nasional dan sekolah berstandar internasional –kedua model terakhir sudah dihapuskan.

 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ironisnya, konsep sekolah terbaik yang dicetuskan oleh para stakeholder dan manajemen sekolah tersebut mengakar kuat di masyarakat kita. Sehingga tertanamlah di otak mereka sebuah paradigma bahwa sekolah terbaik adalah sekolah yang dihuni oleh siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif di atas rata-rata, sekolah terbaik adalah sekolah yang siswa-siswinya unggul dalam ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kimia, matematika dan lainnya. Paradigma tersebut tumbuh subur di masyarakat kita.

Kalau konsep sekolah terbaik adalah hanya untuk siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif semata, tentu sebagai akibatnya akan lahir pula konsep-konsep sekolah rendahan atau buangan. Sekolah dimana siswa-siswinya adalah orang-orang yang gagal masuk ke sekolah unggulan tersebut, sekolah dimana siswa-siswinya tidak memiliki kecerdasan kognitif, dan sekolah yang menampung orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan kognitif. 

Konsep sekolah unggulan tersebut tentu menafikan dan mengabaikan siswa-siswi yang dianggap tidak cerdas karena hanya menerima dan mengakui siswa-siswi yang cerdas kognitifnya saja. Bukankah setiap individu itu cerdas sebagaimana yang disampaikan oleh Gardner di dalam teori multiple intelligence-nya? Konsep sekolah unggulan sudah menggurita di Indonesia. 

Menurut Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan, konsep tersebut memiliki dampak negatif yang sangat luar biasa seperti mendiskriminasi kecerdasan siswa, tidak menghargai kecerdasan setiap individu, membuat individu tidak percaya diri dengan kecerdasannya –bagi mereka yang tidak lolos seleksi ke sekolah unggulan, dan lainnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Konsep sekolah unggulan yang ada tersebut bukankan sekolah yang manusiawi. Karena sebagaimana yang dikatakan Gardner bahwa sejatinya fungsi sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. Sekolah yang manusiawi adalah sekolah yang menerima setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

Di buku Sekolah Anak-anak Juara, Chatib menawarkan sebuah konsep sekolah unggulan yang manusiawi dan menghargai setiap kecerdasan individu. Menurutunya, ada tiga tahapan untuk mewujudkan sekolah unggulan yang manusiawi; Pertama, sekolah tanpa seleksi tes masuk. Kebanyakan sekolah ungulan yang ada adalah sekolah yang menerapkan tes standar masuk dengan begitu ketatnya, menjadikan hasil tes tersebut untuk memetakan kelas –yang pintar satu kelas dengan yang pintar dan begitu sebaliknya, dan tidak menerima siswa yang berkebutuhan khusus. 

Adapun konsep sekolah unggulan manusiawi yang ditawarkan oleh Chatib adalah sekolah yang menerima semua siswa yang mendaftar tanpa tes yang ketat–tentu dengan memperhatikan kuota ruangan kelas, menjadikan hasil tersebut sebagai database, memetakan kelas sesuai dengan gaya belajar siswa, dan menerima siswa yang berkebutuhan khusus.

Kedua, menerapkan proses belajar terbaik (the best process learning). Yang dimaksud dengan sekolah the best process learning adalah sekolah yang menerapkan metode pengajaran yang bervariasi (multiple intelligence strategy) sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Model pengajaran monoton dan satu arah tentu hanya akan membuat siswa tidak antusias dan malas untuk menyerap setiap materi yang disampaikan.

 

Maka dari itu, seorang guru harus menggunakan strategi multiple intelligence agar materi yang disampaikan bisa diserap oleh siswa dengan baik. Langkah-langkah penerapan the best process learning adalah dengan membuat lesson plan (rencana pengajaran) yang variatif dan menarik, serta tidak hanya menerapkan metode ceramah.

Terakhir, menerapkan the best output. Sekolah the best output adalah sekolah sekolah yang menerapkan metode penilaian terhadap kondisi kognitif maupun jenis kecerdasan siswa lainnya. Kalau sekolah unggulan yang ada sekarang hanya menerima kondisi kognitif siswa semata, dan menyangkal kecerdasan lainnya. 

Maka sekolah the best output menerima siswa-siswi dari berbagai kecerdasan, mulai dari siswa tipe pembelajar cepat (fast learner) hingga pembelajar lambat (slow learner) bahkan siswa yang membutuhkan siswa yang berkebutuhan khusus. Sekolah the best output juga menerapkan penilaian yang autentik yakni penilaian yang bukan menekankan pada sisi kognitif semata, tapi juga psikomotorik dan afektif secara seimbang.

Dengan demikian kita berharap bahwa konsep sekolah unggulan adalah bukan hanya untuk mereka saja yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, melainkan untuk setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 Februari 2017

Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan orang membanjiri kawasan Bunderan Hotel Indonesia guna mengikuti Jalan Sehat Kebangsaan dan doa lintas agama yang digelar Kementerian Sosial, Ahad (5/11) kemarin. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November mendatang. 

Para tokoh lintas agama membacakan doa dengan tata cara agama masing-masing perwakilan lima agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Islam diwakili oleh Wakil Imam Besar Masjid Istiqlal Syarifuddin Muhammad. Lalu, Kristen diwakili oleh Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Hendriette Lebang Hutabarat.

Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama

Kemudian, Katolik diwakili Sekretaris Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Wali Gereja Indonesia Romo Agustinus Ulahayanan, umat Hindu diwakili oleh Astono Chandra Dana dari dari Parisada Hindu Dharma Indonesia dan umat Budha diwakili oleh Samanera Kantisilo dari Wali Umat Budha Indonesia (Walubi).

"Lewat doa bersama ini, saya berharap rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan seluruh umat beragama dapat semakin erat," ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (5/11) di Jakarta. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah berpesan agar para generasi milenial membangun semangat patriotisme dan senantiasa meneladani jasa para pahlawan bangsa. Peringatan Hari Pahlawan, kata dia, hendaknya menjadi cermin refleksi keteladanan untuk terus bekerja dan meningkatkan produktivitas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera.

Menurut Khofifah, hari pahlawan harus dimaknai sebagai upaya membangun kesadaran kolektif akan nilai-nilai kejuangan yang diimplementasikan dan direvitalisasi dari generasi ke generasi sepanjang masa sesuai dengan perkembangan zaman. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selepas doa bersama, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa lalu melepas peserta jalan sehat yang terdiri dari berbagai unsur seperti pelajar, keluarga besar Kementerian Sosial, Pramuka, organisasi masyarakat, Komunitas Sepeda Onthel, Kowani, Muslimat NU, Suporter Sepak Bola, Karang Taruna, keluarga pahlawan dan masyarakat umum.

Jalan Sehat tersebut dimulai dari Jalan Imam Bonjol menuju Bunderan HI kemudian ke Jalan MH Thamrin dan berbalik arah di perempatan Sarinah kembali ke Bunderan HI. 

Sejumlah lomba turut digelar untuk memeriahkan acara tersebut diantaranya lomba baju adat dan lomba kostum pahlawan. Panitia membagikan banyak hadiah doorprize kepada peserta jalan sehat. 

Dirjen Pemberdayaan Sosial, Kementerian Sosial Hartono Laras mengatakan di waktu yang bersamaan, jalan sehat kebangsaan juga digelar di beberapa daerah. 

Sementara itu, puncak peringatan Hari Pahlawan akan berlangsung di TMP Kalibata yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat, 10 November. Pada saat yang sama juga dilakukan tabur bunga di laut dengan menggunakan KRI Soeharso dipimpin Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang. 

Masyarakat diharapkan mengheningkan cipta pada pukul 08.15 waktu Indonesia setempat selama 60 detik sebagai tanda penghormatan dan mengenang jasa para pahlawan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 09 Februari 2017

Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi

Kupang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Konfercab ke-5 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kupang, berlangsung ? di aula Dinas Pertanian Provinsi NTT, Rabu (31/12). Selesai konferensi, pengurus baru PMII Kupang menyelenggarakan Pelatihan Kader dasar (PKD).

Sekretaris Mabincab ? PMII Kupang Samsudin Ridwan menganjurkan agar kader PMII harus mengembang potensi. “Lingkungan organisasi akan membentuk Anda dan harus memiliki jati diri yang bisa menghidupkan diri sendiri.”

Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi

Samsudin berharap ketua terpilih sudah memiliki agenda yang baik. Karena, ada karakter pemimpin yang buruk. Kehadirannya tidak disenangi. Sementara ketidakhadirannya disyukuri banyak orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum konferensi, Ketua PMII Kupang Tadjudin M Nur berharap ke depan organisasi pergerakan ini lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. “Kegiatan ini merupakan pesta kita bersama. Diharapkan menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pelaksanaan konfercab ke-5 ini.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia konferensi Adhar mengatakan, PMII tidak terlepas dengan perhelatan persoalan sosial di masyarakat. Untuk itu, sebagai organsisasi mahasiswa kader PMII tetap bertekad untuk memperjuangkan kemajuan dan daerah ini melalui berbagai kondisi riil di lapangan.

Konferensi berlangsung selama tiga hari sejak Rabu-Ahad (31/12-4/1). “Karena selain konferensi kegiatan ini dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD),” kata Adhar. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Makam, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

KHA Musallim Ridlo adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, dan menjabat Ketua NU Banyumas selama tiga dekade. Beliau wafat seratus hari silam, tepatnya tanggal 1 Mei 2014, pada usia 84 tahun.

“Warga Nahdliyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Musallim adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela NU,” kata Drs H Taefur Arofat, salah satu pengurus PCNU Kabupaten Banyumas.

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

?

Tokoh kelahiran 27 Februari 1932 ini tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Musallim kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KHA Masruri. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musallim mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak. “Dulu ayah mengaji dari jam 3 dini hari hingga waktu Subuh tiba,” tutur M Ibnu Ridlo (50), putera sulung almarhum.

Selain mengaji ilmu agama, Musallim muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD). Ternyata, kepiawaian Musallim dalam ilmu agama telah diakui sang ayah sekaligus guru saat usianya relalif muda. Suatu hari KHA Masruri akan mengimami salat jamaah seperti hari-hari biasa namun beliau merasa was-was saat hendak takbiratul ihram. Lantas, beliau memilih mundur dan meminta Musallim menggantikannya sebagai imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setamat SR, pemuda Musallim melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “KH Wahid Hasyim adalah inspirator ayah dalam banyak hal,” kata M Ibnu Ridlo.

Kepergian KH Wahid Hasyim yang begitu tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sungguh memukul hatinya. Konon, semangat pemuda Musallim sempat drop sepeninggal Kiai Wahid. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, beliau melanjutkan studi ke pesantren asuhan KH Bisri Mustofa di Rembang, JawaTengah. Sepulang nyantri dari Tebuireng dan Rembang, Kiai Musallim mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Beliau mendapat amanah sebagai Ketua Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Yayasan Perguruan Al-Hidayah yang berkantor pusat di Karangsuci Purwokerto bersama KH Muslich, KHM Sami’un, dan sejumlah ulama lain.

?

Politik dan Dakwah

Kiprah sebagai wakil rakyat dimulai saat beliau terpilih sebagai anggota DPR-GR Jawa Tengah (1971). Selanjutnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas hingga tahun 1992. Semasa Ketua DPRD Kabupaten Banyumas dijabat Kisworo, dirinya menjabat Wakil Ketua DPRD bersama Agus Taruno.

Pada 1992-1997 KHA Musallim duduk sebagai anggota DPR-RI dari PPP. “Dalam dunia politik, Kiai Musallim dikenal sebagai sosok yang lurus ibarat penggaris; lempeng kaya garisan,” ujar Bupati Achmad Husein, seperti ditirukan M Ibnu Ridlo.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blakasuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Eyang Singa setiap malam Jumat Kliwon mengisi acara Gendu-Gendu Rasa di RRI Purwokerto. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam upaya nguri-nguri (baca: melestarikan) Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Demikian halnya dengan KHA Musallim Ridlo. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Musallim adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KHA Musallim Ridlo telah berpulang ke hadirat Allah, Kamis (1/5) silam. Jenazah almarhum dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Al-Masruriyah Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dari pernikahannya dengan Nyai Solihah, beliau dikaruniai lima orang putra: M Ibnu Ridlo, Niswati Amanah, M Aman Ridlo, HM Maskun Ridlo, dan M Hanif Ridlo. Kini dakwah beliau di Pesantren Al-Masruriyah dilanjutkan HM Maskun Ridlo alias Gus Maskun. (Akhmad Saefudin)

Foto: KHA Musallim Ridlo (kanan) saat bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 08 Februari 2017

KH Dian NafiĆ¢€™, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Tulisannya sering muncul di kolom berbagai surat kabar. Temanya begitu menyejukkan, tentang Islam Rahmatan lil Alamin, tentang keadilan. Para pembaca menjadi ikut tercerahkan dan membuat orang menjadi tertarik akan konsep Islam yang damai.

Pada Rabu sore (19/6), wartawan NU Online, Ajie Najmuddin, berkunjung ke rumahnya, di Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Sukoharjo. Saat ditemui, Pak Dian, begitu dia biasa dipanggil, baru selesai mengatur kursi yang akan digunakan untuk acara akhirussanah RA Al-Muayyad Windan, esoknya. Ditemani suguhan lotis dan segelas teh hangat, mereka memulai pembicaraan.

Tulisan anda di media massa, banyak yang bertemakan gagasan Islam yang damai, apa tujuannya?

Saya hanya ingin menggambarkan sedikit tentang nilai-nilai yang saya dapatkan di pesantren. Tentang nilai kebenaran, keluhuran, persaudaraan dan sebagainya. Semuanya saya dapatkan dari para guru saya di pesantren.

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dian NafiĆ¢€™, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dian NafiĆ¢€™, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Mengenai nilai-nilai di pesantren, bisa sedikit anda jabarkan?

Tentang kebenaran. Kebenaran ini bisa diartikan, yakni kesesuaian dengan 6 hal ini; norma, hukum, ilmu, fakta, realita, dan perikatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kesesuaian perikatan, maksudnya?

Sebagai orang indonesia, kita semestinya juga menyesuaikan diri dengan menerima Pancasila dan UUD, karena itu merupakan sebuah perjanjian atau ikatan dari para pendiri bangsa.

Selain nilai-nilai di pesantren yang anda sebutkan, anda juga menyebut sekilas tentang guru. Siapa guru yang paling menginspirasi anda?

Alm. Kiai Umar Abdul Mannan (Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, wafat tahun 1980,-red). Beliau adalah sosok yang menginspirasi. Saya ceritakan salah satu kisah beliau, pernah suatu ketika beliau mendapat kiriman surat bertinta hitam. Diperlihatkannya surat tersebut kepada saya, isinya begitu keras dan kasar bahasanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beliau bertanya, “Saya harus bagaimana?”.

Akhirnya beliau justru sowan ke sang pengirim surat. Meminta klarifikasi atas surat tersebut. dan tidak ada lagi konflik setelahnya. Inilah salah satu teladan keluhuran dari beliau.

Saat ini anda juga dikenal sebagai pemilik sebuah radio, apa motivasi anda mendirikannya?

Saya bukan pemilik, hanya mengelola. Tujuannya untuk mengembangkan sapaan kepada publik Solo Raya. Juga untuk memperkuat warga Nahdliyyin melalui media massa.

Selain itu, saya selalu memegang 3 hal ini, pun dalam mendirikan radio ini. Tiga hal yakni, untuk meraih prestasi vertikal (dapat juga dimaknai mendekat ke Tuhan), kita harus bertindak baik pula ke horizontal (sesama makhluk).

Kedua, bertindaklah inklusif jangan eksklusif. Radio ini bisa berkembang dengan bagus, karena kita merangkul semua. Bahkan pendengar kita mayoritas anak muda. Tapi di sisi lain, kita sisipi dengan siraman rohani.

Ketiga, apabila terjadi konflik senior-yunior, maka senior mesti melakukan afirmasi kepada yunior. Juga dalam setiap hal, mesti ada sinergitas dan kolaborasi antara keduanya.

 

*

M. Dian Nafi’ lahir di Sragen pada 4 April 1964. Ia adalah anak ketiga dari delapanbersaudara. Ayahnya, Kiai Haji Ahmad Djisam Abdul Mannan, merintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah, yang kini diasuh kakak iparnya. Sementara kakeknya, Kiai Haji Abdul Mannan, adalah pendiri Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, salah satu pesantren Al-Quran yang terkenal di Solo.

Pertemuannya dengan beberapa tokoh rekonsiliasi kemudian membawanya bergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Common Ground Indonesia, dansebagainya. Pertemuan dan pendidikan yang diikuti di luar negeri adalah Disaster Management Training di Africa University Zimbabwe, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).

Saat ini, ia mengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Sukoharjo, yang merupakan pengembangan dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat kelas dua madrasah aliyah A Hisyam Karim (39) secara tidak sengaja membaca buku Filsafat Eksistensialisme. Rupanya buku filsafat itu membuatnya tertarik untuk mempelajari filsafat lebih lanjut.

"Sejak saat itu saya berpikir filsafat itu menarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi," kata Hisyam di Subang. Jumat (20/5).

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Setelah lulus aliyah pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuludin Universitas Islam Bandung (Unisba). Dua tahun kemudian, keinginan untuk mempelajari filsafat membuat Hisyam pindah kuliah ke Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Jakarta.

"Saat mondok hanya disajikan satu kebenaran saja, tapi pas kuliah di filsafat ternyata kebenaran itu banyak. Makanya dulu teman saya ada yang pakai salib, tidak sholat dan lain-lain karena punya landasan berpikir tersendiri," tambah pendiri Forum Studi M@kar (Manbaul Afkar) Ciputat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah lama berkecimpung dalam dunia filsafat, muncul kegelisahan dalam batinnya karena diakuinya filsafat untuk konsumsi akal. Sementara hati yang menjadi tempat aneka rasa tidak terisi sehingga batinnya menjadi hampa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam melanjutkan, setelah lulus kuliah pada tahun 2004 Hisyam sering sowan kepada Kiai Nawawi yang merupakan sahabat bapaknya. Kemudian pada tahun 2009, Hisyam memberanikan diri untuk bercerita kepada Kiai Nawawi tentang kegelisahan batinnya.

"Saat itu dengan sikap tawadlu Kiai Nawawi mengantar saya ketemu kakaknya, Kiai Sayuti," ungkapnya.

Hisyam menceritakan, Kiai Sayuti adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi adalah khalifahnya. Saat bertemu dengan Kiai Sayuti, Hisyam langsung dibaiat menjadi murid Tarekat Syattariyah.

"Setelah dibaiat, sambil salaman. Alhamdulillah, usai salaman dengan Kiai Sayuti kegelisahan batin yang mengendap dalam diri saya langsung hilang saat itu juga, langsung plong," jelas alumni Pascasarjana STAINU Jakarta yang menulis tesis tentang Peran Kiai Sayuti dalam Menyebarkan Tarekat Syattariyah Itu.

Hisyam mengakui, filsafat memang penting untuk dipelajari karena berdasarkan pengalamannya, dengan mempelajari filsafat manusia bisa berpikir terbuka namun tetap kritis sehingga dalam menerima pemikiran tidak menelan mentah-mentah.

"Selain itu juga dengan belajar filsafat kita bisa berusaha untuk bersikap adil. Kita juga bisa menemukan solusi aneka masalah dengan menggunakan teori-teori filsafat, dan masih banyak lagi tentunya," jelas Hisyam yang saat ini menjabat Ketua NU Caracas itu.

Namun demikian, menurut Hisyam, dalam mempelajari filsafat sebaiknya dibarengi juga dengan mengamalkan ajaran tasawuf seperti masuk salah satu tarekat mutabarah. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan kebutuhan hati.

"Sekali lagi saya tegaskan, ini subjektif pengalaman pribadi saya, tentu yang lain juga punya pengalaman sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 Februari 2017

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU berencana akan mengumpulkan para pengasuh pesantren se-Jawa. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat peran pesantren di tengah masyarakat.

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Draf acuan kegiatan (ToR) yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah menyebutkan, pertemuan para kiai ini akan diwujudkan dalam bentuk halaqah bertema “Penguatan Peran Pesantren sebagai Pusat Peradaban” di Jakarta, 29-30 Desember 2012.

Rencananya, 40 pengasuh pesantren yang menjadi peserta akan memetakan potensi pesantren, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya; merumuskan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor; serta merumuskan aksi bagi upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bersama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, RMI bertekad akan mengembalikan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu.

“Pesantren tidak hanya  menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya,” demikian bunyi ToR acara halaqah pengasuh pesantren ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 02 Februari 2017

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah