Rabu, 22 Februari 2017

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Meskipun saat ini sistem pembelajaran formal sudah diterapkan, tetapi tradisi pondok salaf di Pesantren Nurul Qodim di Desa Kalikajar Kulon Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo tetap eksis dan tidak berkurang. Bahkan, dengan santrinya yang semakin banyak, tingkat kriminalitas pelajar di sekitar pesantren bisa ditekan.

Pesantren Nurul Qodim dulunya merupakan pesantren yang murni salaf. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1966, artinya usia pesantren sudah 54 tahun. Pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Hasyim yang karib disapa Kiai Mino.

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal

Sejak awal, Kiai Mino telah menerapkan sistem pembelajaran salaf kepada para santrinya. Sampai sekarang, basic salaf tetap dipertahankan oleh pengasuh dan ketua Yayasan Nurul Qodim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah Kiai Mino wafat, posisi pengasuh diamanahkan kepada KH Nurudin Musiri, putra pertama Kiai Mino. Kiai Nurudin mengasuh pesantren sampai tahun 2015 lalu.

“Setelah ia wafat, pengasuh pondok dilimpahkan kepada KH Hasan Abdul Jalil, adik kandung dari KH Nurudin Musiri hingga sekarang,” tutur Gus Abdul Hadi, Ketua Yayasan Nurul Qodim, Jum’at (8/7).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rencana penerus pengasuh selanjutnya masih belum jelas siapa. Tapi kalangan masyarakat dan keluarga pondok menerangkan, nantinya yang akan menggantikan KH Hasan Abdul Jalil adalah Gus Abdul Hadi. Putra pertama dari Kiai Nurudin Musiri yang sudah 16 tahun mengenyam pendidikan di pesantren.

Gus Abdul Hadi adalah salah satu keluarga pondok yang digadang-gadang akan menggantikan KH Hasan Abdul Jalil. Dengan segudang pengalamannya, pendahulunya tidak meragukan kemampuannya untuk dapat mengasuh pondok.

Maklum, ia pernah mondok selama 11 tahun di Pesantren Lirboyo, Kediri. Setelah itu, Gus Abdul Hadi juga pernah menimba ilmu di Mekkah selama lima tahun.

“Selama di Mekkah, sering kali menjadi pemandu haji semasa musim haji. Biaya untuk mondok, tidak hanya menggunakan beasiswa, melainkan didapat juga dari kesibukannya menjadi pemandu haji,” kata bapak tiga anak itu.

Setelah merampungkan pendidikannya pada tahun 2005 lalu, ia banyak dilibatkan untuk ngurusi pesantren. Sejak saat itu, kondisi pesantren banyak berubah, terutama pada model pendidikan yang digunakan. “Perubahan terjadi karena saat itu saya berinisiatif mendirikan sekolah formal di pesantren ini,” ungkap pria 38 tahun itu.

“Meskipun banyak yang mengatakan kalau nantinya tradisi pondok akan hilang dengan sendirinya akibat masuknya pendidikan formal. Tapi, saya yakin mampu membuktikan kalau masuknya pendidikan formal tidak akan mengurangi minat santri untuk belajar salaf di pondok,” jelasnya.

Pembuktian pun saat ini sudah dirasakan. Yaitu dengan bertahan dan semakin berkembangnya basic pesantren salaf. Selain itu, jumlah santri tetap yang ada di pesantren saat ini tercatat ada sekitar 2.100 santri. “Mereka semua merupakan santri salaf. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak mengikuti tradisi pesantren,” ujarnya.

Bertahannya model pendidikan salaf di Ponpes Nurul Qodim, karena adanya strategi khusus yang diterapkan olehnya. Yakni, meski berdiri tiga sekolah formal setingkat MI, MTs dan MA, namun semua siswa wajib mondok.

Jam sekolah pun berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika sekolah formal di pondok lainnya masuk pagi dan pulang siang, di sini kebalikannya.

“Jadi, pagi digunakan untuk sekolah madin yang termasuk dalam salaf. Sedangkan siang harinya, baru berlanjut sekolah formal. Ini merupakan cara yang bertujuan untuk tetap mempertahankan tradisi ponpes,” ujar pria berkumis itu.

Saat ini, kepercayaan masyarakat terhadap ponpes semakin kuat. Hal itu karena berkurangnya kenakalan remaja dan narkoba di wilayah sekitar Kecamatan Paiton.

“Dengan adanya wajib pondok bagi siswa, secara tidak langsung efeknya sangat besar bagi pendidikan remaja. Terutama di ranah pola pikir dan tingkah lakunya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar