Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Bulungan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sultan Kasimuddin Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mengadakan refleksi dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71,

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Acara yang bertempat di gedung Fatayat NU Kabupaten Bulungan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Kaltara (Unikal), BEM STT Al Ansor, ketua IPNU dan IPPNU,? Kabupaten Bulungan, ketua Fatayat NU, dan ketua Gerakan Pemuda Ansor setempat. Selain itu hadir pula Komisioner KPU Kaltara Colirulliza, Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara, M. Achadi dari Jurnas, serta perwakilan dari Kemenag Bulungan.

Ketua Pengurus Cabang PMII Tarakan Rico Adriansyah mengatakan bahwa forum yang mengusung tema “Mewujudkan Indonesia Merdeka 100%” ini cukup berat dan menjadi tugas para aktivis dan mahasiswa terutama di Kalimantan Utara untuk merealisasikannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pada pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia’. Oleh karena itu untuk mewujudkan Indonesia merdeka seratus persen perlu terus diadakan diskusi yang sifatnya membangun serta mempererat persatuan," lanjut Rico, Selasa (16/8) malam itu.

Sementara itu Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara mengatakan, Kaltara sebagai provinsi baru sekaligus yang berbatasan dengan Malaysia memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, nasionalisme warga Kaltara sedang diuji karena sebagian dari keluarga kita ada di sana.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kalau merdeka secara de facto dan de jure kita sudah merdeka. Namun tantangan kita saat ini adalah menjaga nasionalisme, serta meningkatkan kemerdekaan ekonomi dan kemenrdekaan sosial," lanjutnya.

Ia menegaskan, Kaltara sebagai provinsi baru yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia menjadi kunci penting dalam peranan menjaga ketahanan nasional.

Di akhir acara PMII Komisariat Kasimuddin Bulungan berharap peringatan kemerdekaan 17 Agustus di Provinsi Kaltara akan menjadi momentum bagi mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memajukan Indonesia dari pinggiran sesuai dengan nawacita Joko Widodo pada butir ke-3. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah meresmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (9/8) siang. Peresmian ini ditandai dengan pelepasan balon dan penandatanganan prasasti peresmian.

Peresmian ini dihadiri oleh ? Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H Timbul Prihanjoko didampingi oleh Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Kegiatan peresmian ini diikuti oleh kurang lebih 2.000 undangan. Mereka terdiri dari segenap pengurus jajaran Syuriah dan Tanfidziah beserta seluruh pengurus lembaga dan badan otonom (banom) dari tingkat cabang hingga ranting juga santri dan masyarakat.?

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i mengutarakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu proses kelancaran pembangunan kantor dua lantai milik PCNU Kota Kraksaan ini. Dari yang awalnya hanya direncanakan di rehab saja sampai akhirnya diputuskan untuk dibangun kembali dari awal pondasi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kantor ini adalah wujud dari kekompakan dan kebersamaan yang baik antara ulama dan umaro. Insya Allah adanya kantor ini akan menambah semangat kami untuk meningkatkan kualitas kegiatan-kegiatan ke-NU-an kami untuk Kabupaten Probolinggo khususnya Kota Kraksaan,” katanya.

Sementara Ketua PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pengurus Tanfidziah dalam tubuh organisasi PCNU Kota Kraksaan mempunyai fungsi vital sebagai pelaksana fungsi pokok manajemen meliputi fungsi perencanaan, ? pengorganisasian, ? pengarahan dan pengendalian untuk jajaran dibawahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Untuk menjalankan semua pokok fungsi manajemen tersebut dengan baik dan optimal maka PCNU Kota Kraksaan membutuhkan kantor yang representatif dan memadai seperti ini,” katanya.

Menurut Kiai Mutawakkil, dengan adanya kantor yang lebih nyaman dan luas ini sedapatnya mampu meningkatkan ghiroh Nahdliyah, khususnya di lingkup internal kepengurusan.?

“Hikmah lainnya adalah sebagai penyemangat dalam melanjutkan perjuangan para ulama NU dan memastikan ajaran aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an nahdliyyah terus membumi di bumi pertiwi khususnya Kota Kraksaan,” tegasnya.?

Sedangkan Wabul Probolinggo H Timbul Prihanjoko menegaskan atas solidnya NU dalam memerangi segala pengaruh-pengaruh negatif yang selalu berusaha memecah belah umat dan membuat keruwetan yang mana hal itu juga akan menghambat pembangunan.?

“Yang sudah kondusif ini mari kita pertahankan. Ke depan perbanyaklah kegiatan keagamaan seperti pengajian dan sholawatan,” jelas salah satu mantan pengurus lembaga milik NU ini,” ungkapnya.?

Menurut Wabup Probolinggo, menjawab tantangan zaman yang tiap saat selalu berubah. Sehingga dihimbau agar NU supaya lebih peka dengan kompleksnya segala perkembangan di era millenium ini.?

“Hal ini merupakan PR bagi kita semua bagaimana kita bisa lebih luwes dalam melakukan pendekatan kepada generasi muda melalui temen yang sedang diminati untuk kita arahkan ke hal-hal positif dan Islami,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Santri, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 16 Februari 2018

Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah”

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengadilan tertinggi Malaysia menolak gugatan atas pelarangan penggunaan kata "Allah" yang merujuk ke Tuhan bagi umat Kristen.

Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengadilan Federal Malaysia Tolak Gugatan kata “Allah”

Gugatan itu dilayangkan oleh Gereja Katolik yang selama ini paling keras bersuara mengenai larangan penggunaan kata "Allah". Demikian dilansir oleh situs BBC Indonesia.

Tetapi, Pengadilan Federal mengatakan pelarangan yang menguatkan putusan Pengadilan Rendah pada 2013 lalu merupakan keputusan yang benar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kasus mengenai penggunaan kata "Allah" bermula ketika Kementerian Dalam Negeri Malaysia melarang surat kabar Katolik berbahasa Melayu, The Herald, menggunakan kata "Allah" yang merujuk Tuhan pada 2007 silam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada 2009, Pengadilan Tinggi memutuskan umat Kristen dan Katolik berhak menggunakan kata tersebut tatkala merujuk Tuhan.

Namun, pada 2013, Pengadilan Rendah mengubah putusan tersebut sehingga umat Kristen dan Katolik kembali tidak diperbolehkan menggunakan kata "Allah".

Kontroversi

Kasus yang kontroversial ini sempat memicu debat dan juga serangan terhadap masjid dan gereja.

Umat Kristen berpendapat mereka dapat menggunakan kata "Allah" dalam bahasa Melayu yang diambil dari bahasa Arab untuk menyebut Tuhan. Pelarangan justru melanggar hak mereka.

Namun, otoritas Malaysia mengatakan jika kata Allah digunakan oleh umat Kristen, umat muslim akan bingung dan menyebabkan sejumlah orang pindah menjadi pemeluk Kristen.

Umat muslim di Malaysia merupakan mayoritas, mencapai dua pertiga dari seluruh populasi negara tersebut. Meski demikian, komunitas Hindu dan Kristen cukup besar. (mukafi niam) 

foto: Reuters

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Berita, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 08 Februari 2018

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang saya hormati, beberapa waktu lalu ada seorang teman lama datang ke rumah. Ia menanyakan kepada saya hukumnya mengucapkan “Selamat siang” sebagai pembuka pembicaraan. Karena ia pernah ditegur oleh temannya bahwa ucapan “Selamat siang” itu tidak boleh.

Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana pandangan hukum Islam menyikapi hal ini. Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suryadi/Jakarta)

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Mengucapkan Selamat Pagi dan Sore

Jawaban

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Islam pada dasarnya menganjurkan umat Islam untuk mengucapkan salam sebagai pembuka perbincangan. Karena ucapan salam itu mengandung doa.

Lalu bagaimana hukumnya mengucapkan “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat sore”, atau “selamat pagi” sebagai bentuk kalimat untuk menyapa orang lain? Sejauh ini tidak ada larangan agama Islam untuk bentuk sapaan semacam itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat hadits juga pernah menyapa salah seorang sahabatnya dengan bentuk sapaan seperti ini. Tentunya Rasulullah SAW menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. Hal ini diangkat oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kumpulan fatwanya yang kami kutip sebagai berikut.

? ? ? .? ? ? ? ? ? ? : ? : ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bab mengucap ‘Selamat Pagi dan Sore’. Imam At-Thabarani dengan sanad hasan meriwayatkan hadits dari Ibnu Amr bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada seorang sahabatnya, ‘Apa kabarmu pada ini pagi sahabat?’ ‘Alhamdulillah baik, masih bisa menemuimu ya Rasul,’ jawab sahabatnya. ‘Syukurlah, itu yang kuharapkan darimu,’ sambut Rasulullah SAW,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawi fil Fiqh wa Ulumit Tafsir wal hadits wal Ushul wan Nahwi wal I‘rabi wa Sa’iril Funun, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, 1982 M/1402 H, juz 1, halaman 82).

Keterangan Syekh Jalaluddin As-Suyuthi  di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW juga menggunakan bentuk sapaan lain di luar ucapan salam. Dengan demikian penggunaan sapaan “selamat pagi”, “selamat siang”, “good morning”, “good night”, "shabahan nur" dan selanjutnya tidak masalah.

Simpulan kami, Islam tidak membatasi dan menentukan kalimat sapaan. Dan sangat terbuka kemungkinan ada bentuk sapaan lain di luar “selamat pagi” dan “selamat siang” seiring dengan perkembangan bahasa, perbedaan geografis, dan penggunaan di komunitas tertentu. Hanya saja, kami menyarankan agar kita menggunakan kata sapaan yang santun sesuai dengan norma yang berlaku.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Februari 2018

Gus Yus: Fisik Santri Lemah, Unggul Jiwa

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah . Pemerintah Jawa Tengah melalui Sekretariat Daerah mengundang berbagai elemen untuk mengadakan rapat koordinasi penanggulangan tuberculosis (TB) paru di lingkungan pondok pesantren. Kegiatan bertema "Temukan, Obati dan Lindungi Warga Pondok Pesantren dari penularan TB Baru" berlangsung di gedung Bappeda Jateng (19/3). 

Pada pertemuan dengan format dialog interaktif ini menghadirkan Dinas Kesehatan Jateng dengan menyampaikan “Kebijakan Penanggulangan TB dan Penyehatan Lingkungan”, perwakilan Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Magelang menyampaikan “Kecenderungan Meningkatanya Penemuan Kasus Baru TB Di Lingkungan Pesantren dan Upaya Penanggulangannya”, serta Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Yusuf Chudlori menyampaikan “Kesehatan dalam Perspektif Pesantren”. 

Gus Yus: Fisik Santri Lemah, Unggul Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yus: Fisik Santri Lemah, Unggul Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yus: Fisik Santri Lemah, Unggul Jiwa

Rapat Koordinasi tersebut berangkat dari penemuan kasus baru TB yang ternotifikasi (CNR) pada 2013 dan 2014 yaitu 114/100.000 penduduk mengalami penurunan 88,43% (2013) dan 87,03% (2014) padahal target nasional sebesar 90%. Hal ini menjadikan Jateng menjadi urutan 12 dengan jumlah TB terbesar di Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dinkes Jateng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dikarenakan TB banyak ditemukan di lingkungan pesantren karena lingkungan yang tidak bersih dan tidak sehat. Serta kehidupan pesantren yang komunal (sanitasi, tempat tidur, cuci tangan,  belajar dan pembuangan sampah) berpotensi sebagai tempat penularan TB secara luas dan cepat. 

BKPM Magelang merupakan salah satu dari lima BKPM yang ada di Jateng menjadikan pesantren sebagai salah satu tempat untuk pelaksanaan program deteksi dini pada kelompok potensial. Penyebabnya diantaranya populasinya ada yang  lebih besat dari 1000 santri dalam 1 pesantren. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, droplet infection dan airborne dissease. Ketiga, kebersamaan/persaudaraan yang kuat diantara santri. Keempat, pemantauan minum obat/kepatuhan penanganan TB yang belum mendapat dukungan maksimal. Kelima, santri sebagian besar berusia produktif dan mobilitas Santri yang tinggi. Data di BKPM Magelang menunjukkan 27 santri tahun 2013 meningkat pada tahun 2015 menjadi 35 santri yang dinyatakan BTA positif. 

KH Yusuf Chudlori mengatakan, perlu disadari kesehatan fisik santri lemah, namun dalam kesehatan jiwa lebih unggul. Pesantren berangkat dari apa adanya terkait kesehatan. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan menjadi salah satu faktor kenapa penyakit mudah menyebar di lingkungan pesantren. 

"Pesantren sangat terbuka terkait masalah kesehatan, sebenaranya masalah mindset atau pola pikir hidup sehat yang perlu kita kembangkan di kalangan pesantren", ungkap kiai yang akrab disapa Gus Yus tersebut. 

Menurut pengasuh pesantren  API Tegalrejo ini, pesantren sebagai lembaga pendidikan tempat melatih kesabaran. Makanya tak heran di lembaga pendidikan tertua di Indonesia tersebut selalu menerapkan pola hidup sederhana seperti makan. Ia mengakui di API Tegalrejo, santri makan daging atau telor hanya ada tiap Jumat. 

Ia juga menjelaskan, sarana dan prasarana pesantren disesuaikan dengan kemampuan kiai dan dukungan masyarakat setempat. Biasa tanpa kehadiran pemerintah pesantren bisa berdiri. Hal ini menjadi bagian dari kemandirian pesantren yang masih dianut oleh beberapa pesantren yang tidak mau menerima bantuan dari pemerintah. 

Pihak BKPM menyarankan pesantren untuk menyaratkan bebas TB ketika menerima santri baru, adanya penyuluhan dan sosialisasi TB, pemeriksaan deteksi dini, dan lingkungan belajar dan istirahat yang mendukung di lingkungan pesantren. 

Namun perlu adanya komitmen bersama dari berbagai pihak ditambah adanya dorongan pesantren memiliki poliklinik/pos kesehatan pesantren dengan pendampingan dari Dinkes, BKPM, Kemenag, RMI-NU (asosiasi pesantren) untuk mewujudkan pesantren yang perspektif kesehatan, sehingga akan dihasilkan santri religius yang sehat. (M. Zulfa/Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Khutbah, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Januari 2018

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat

Indramayu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Untuk mempermudah dan memfasilitasi masyarakat dalam pembayaran zakat infak dan sedekah (ZIS) terus dilakukan NU Care Lazisnu Indramayu. Mereka menyediakan fasilitas online Go ZIS, tenaga lapangan 24 jam akan datang menjemut ZIS ke tempat muzaki, munfiq, atau mushoddik.

Ketua NU Care Lazisnu Indramayu Imron Rosidi mengatakan, petugas Go ZIS berkoordinasi dengan seluruh MWCNU setempat, baik dalam penggalian ZIS maupun penyalurannya.

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Online, NU Care Lazisnu Indramayu Permudah Layanan Zakat

Layanan Go ZIS juga memudahkan bagi petugas. “Mereka lebih mudah mencari alamat donatur, meskipun tahap awal masih manual melalui telepon maupun sms,” kata Imron.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain dimudahkan dalam pendonasian, donatur yang databasenya telah tersimpan di sistem Go ZIS dapat dengan mudah mengetahui penggunaan ZIS-nya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Besaran donasi melalui Go ZIS tidak dibatasi. Artinya, pendonasian menyesuaikan niat dan kemampuan donatur dalam berzakat, infak, dan sedekah.

Imron menyebutkan, dengan layanan Go ZIS yang sudah diterapkan sejak tiga tahun ini, ada sejumlah donatur yang rutin setiap bulan menyalurkan ZIS ke NU Care Lazisnu Indramayu. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 15 Januari 2018

Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila

Ogan Ilir, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Marwan Jafar menegaskan, Pancasila adalah dasar negara bagi seluruh masyarakat Indonesia termasuk warga pesantren.

Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Desa Ajak Pesantren Pertahankan Nilai Pancasila

Dalam kunjungannya di Pondok Pesantren Al-Ittifaqiyah Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, Kamis (2/6), ia mengajak seluruh warga pesantren untuk ikut serta mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pesantren-pesantren di Indonesia juga sudah secara sah dan meyakinkan ikut serta mengembangkan nilai-nilai Pancasila, bukan nilai-nilai yang lain. Landasan kita adalah Pancasila, tidak ada paham yang lain. Apalagi kemarin (1/6) sudah diperingati hari Lahir Pancasila. Pemerintah sudah mengeluarkan Kepres (Keputusan Presiden) bahwa 1 Juni adalah hari lahirnya pancasila, dan hari libur nasional," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Marwan mengatakan, keberadaan pesantren di Indonesia telah terbukti mampu membentengi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kehadiran pesantren juga berhasil menciptakan kedamaian dan ketenangan negara, dibandingkan dengan Negara di Timur Tengah yang rawan terjadi perang.

"Bahwa pesantren juga selalu mengakomodasi dengan keadaan-keadaan yang terus berkembang, saya yakin seyakin-yakinnya itu. Tetapi yang lebih penting bahwa pesantren juga tidak lupa dengan misi dasarnya, tidak lupa dengan asas dasar, dan tidak lupa dengan ajaran-ajaran dasarnya," ujarnya.

Di sisi lain, Marwan juga mengatakan, bahwa pemerintah saat ini telah berkomitmen untuk membangun Indonesia melalui desa-desa. Pemerintah dalam hal ini menjamin, bahwa program-program pemerintah termasuik dana desa, adalah program-program yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

"Dana desa yang dikucurkan pemerintah adalah upaya menggelorakan pembangunan yang beradilan. Pengucuran dana desa sebagai upaya pemerintah untuk mewujudkan baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur, yakni negara yang makmur dan sejahtera," terangnya.

Terkait hal tersebut, Marwan mengajak seluruh Kepala Desa (Kades) khususnya di lingkungan Kabupaten Ogan Ilir, agar dapat menggunakan dana desa dengan sebaik-baiknya.

"Dana desa kalau berhasil digunakan dengan sebaik-baiknya oleh para Kades, masyarakat desa ikut sejahtera. Ketika ekonomi desa meningkat, maka Kadesnya mendapat keberkahan di sisi Allah SWT. Mari Kita Gunakan dana desa untuk mewujudkan Indonesia yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Marwan juga blusukan ke Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir. Ditemani Kepala Desa Pulau Semambu, Suparmin, ia menegaskan bahwa Pembuatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa), maupun laporan pertanggungjawaban penggunaan anggaran Dana Desa (DD) cukup dua lembar saja.

"Jadi RPJMDesa itu bisa dua lembar. Programnya-lah. Kalau laporannya, cash flow saja. Tidak usah terlalu tebal, biar lebih mudah untuk membuat dan memahami," ucap Marwan.

Marwan juga menegaskan bahwa pemanfaatan DD lebih baik memanfaatkan tenaga lokal, atau bersifat padat karya. Ini akan memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi desa setempat. Misalnya untuk peningkatan kerja dan ekonomi masyarakat setempat.

"Misalnya jalan desa, bisa dikerjakan bersama-sama, padat karya. Tidak perlu pihak ketiga atau kontraktor untuk menggarap jalan desa. Sehingga, masyarakat desa bisa terlibat semua," ujarnya. ?

"Kan bisa dihitung, kalau pekerja itu sekian keneknya juga berapa. Jika perharinya 100, keneknya 40, kan lumayan seulan dua bulan terserap maksimal 3 bulan. jangan sampai keluar (dari desa), supaya uang itu tetap berputar di desa. Bukan kembali lagi ke kota," lanjut Marwan. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PCNU Semarang Sambut Harlah Ke-91 NU dengan Khotmil Qur’an

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Khataman al-Quran 30 juz diinisiasi PCNU Kota Semarang, Jawa Tengah untuk menyambut 91 tahun hari lahir Nahdlatul Ulama. Dimulai dari kepengurusan PCNU usai melaksanakan khataman dilanjutkan lembaga, lajnah, badan otonom dan pesantren di lingkungan PCNU Semarang.?

Hingga berita ini diturunkan sudah lebih dari 5 khataman dilaksanakan yang lain sedang berlangsung. "Dengan khataman ini kita mengingat ghiroh para pejuang NU,” papar Wakil Sekretaris PCNU, Kiai Nur Siroj.

PCNU Semarang Sambut Harlah Ke-91 NU dengan Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Semarang Sambut Harlah Ke-91 NU dengan Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Semarang Sambut Harlah Ke-91 NU dengan Khotmil Qur’an

Dia mengatakan, kegiatan positif seperti ini harus ditradisikan. Hal ini mendapatkan respon bagus di kalangan Nahdliyyin di kota Semarang. Banyak tradisi yang kian luntur. Beberapa kegiatan besar NU sudah digelorakan dengan shalawat Nariyah, dzibaan dan istighotsah.?

“Tak ada salahnya kita mengadakan khataman untuk menyambut Harlah NU ke-91,” ujarnya.

Semangat untuk menjaga kebersamaan ini terus dipupuk kepengurusan PCNU Semarang. Membaca al-Quran dengan dibagi melalui grup media sosial ini bisa dikerjakan di sela-sela waktu kegiatan PCNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Dengan khataman ini kita juga ikut menjaga ruh dakwah NU," tambah mutakharrijin Sirojuth Thalibin ini.

Puncak dari khataman ini akan dilaksanakan di Kantor PCNU Kota Semarang sekaligus memperingati Harlah NU. Selain itu khataman seperti ini menguatkan persaudaraan baik antara pengurus dengan warga NU. (Zulfa/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Aswaja, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Jokowi: Jakarta Kembali Sejuk Berkat Kehadiran Ibu-ibu Muslimat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Presiden RI Joko Widodo hadir dan membuka perhelatan Kongres ke-17 Muslimat NU, Kamis (24/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Presiden yang akran disapa Jokowi ini hadir didampingi sejumlah Menteri Kabinet Kerja dan beberapa Pimpinan Lembaga Tinggi Negara.?

Dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan bahwa katanya kondisi Jakarta sedang panas. Padahal sebenarnya tidak, hanya hangat dan saat ini kembali dalam kondisi sejuk berkat kehadiran ibu-ibu Muslimat NU.

Jokowi: Jakarta Kembali Sejuk Berkat Kehadiran Ibu-ibu Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Jakarta Kembali Sejuk Berkat Kehadiran Ibu-ibu Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Jakarta Kembali Sejuk Berkat Kehadiran Ibu-ibu Muslimat

“Katanya panas, padahal tidak, cuma hangat. Sekarang Jakarta kembali adem dan sejuk berkat adanya ibu-ibu Muslimat,” ujar Jokowi disambut tepuk tangan 10.000 kader Muslimat NU yang hadir dalam pembukaan Kongres.

Presiden mengajak semua pihak untuk menjaga dan merawat Jakarta sebagai Ibu Kota Negara. Dia mengingatkan bahwa Indonesia bangsa majemuk, terdiri dari 34 provinsi, 646 bahasa lokal dan 1.128 suku.

“Beragam sekali bangsa kita ini. Satu suku saja bisa berkelahi, bisa perang, sedangkan kita ini ada 1.128 suku. Inilah yang perlu saya ingatkan. Kita jaga, kita rawat bersama,” pinta Jokowi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya juga melihat dalam dua-tiga minggu belakangan ini yang ada di media sosial isinya saling menghujat, mengejek, menjelekkan, memaki, fitnah dan adu domba,” tambahnya.?

Sebab itu, menurut Jokowi, masyarakat harus memanfaatkan media sosial untuk memperkuat persatuan dan kesatuan demi mewujudkan kehidupan bersama yang aman dan damai.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turut hadir dalam acara tersebut, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta Odang, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Wantimpres KH Hasyim Muzadi, Mustasyar PBNU H As’ad Said Ali, KH Malik Madany.?

Sejumlah Menteri hadir di antarnya Menteri Agama Lukman Hakim, Menteri Riset dan Teknologi Muhammad Nasir, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, serta Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mendukung kemandirian organisasi, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Krikilan Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang meluncurkan unit usaha angkringan. GP Ansor berkewajiban mendorong anggotanya untuk mandiri secara ekonomi.

Peluncuran ini diumumkan saat pengajian halal bihalal di halaman depan masjid desa setempat, Jumat (29/7) malam.

Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan

Salah seorang pengurus harian PP GP Ansor Aunallah (Gus Aun) dalam sambutanya menyampaikan bahwa kader NU harus menambah wawasan Aswaja. Selain itu Ansor harus mampu mendorong kemandirian organisasi dan kader.

"Adanya angkringan GP Ansor Sumber. Mudah-mudahan menjadi organisasi yang mandiri guna menghadapi persaingan global di Indonesia,” kata Gus Aun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain kemandirian organisasi, Gus Aun juga mengajak kader GP Ansor untuk terus menambah wawasan ke-Aswajaan dan ke-NUan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Adanya angkringan ini diharapkan dapat mewujudkan kemandirian ke depan dan mampu mencetak kader potensial, serta loyal terhadap organisasi, harap Gus Aun. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 30 November 2017

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menyikapi kejahatan kemanusiaan di Rohingnya, Rijalul Ansor Way Kanan, GP Ansor Bahuga, Gusdurian Lampung, Satkorwil Banser Lampung, dan Aji Tapak Sesontengan (ATS) Global Indonesia Tim Swarna Raya menggelar doa untuk Rohingya serta bakti sosial penyembuhan alternatif penyakit medis dan non-medis.

Ketua Rijalul Ansor Way Kanan Hasyim Asyari di Blambangan Umpu, Kamis (7/9) menjelaskan, kegiatan itu bertujuan untuk mengundang masyarakat mendoakan agar etnis Rohingya segera terbebas dari kekerasan dan diskriminasi dialami selama ini.

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS

Pelaksanaan kegiatan akan berlangsung di dua tempat, pertama pada Jumat 8 September di area Panti Asuhan Pesantren Roudlotul Mutaqqin dan pada Sabtu 9 September di Mushola Al Hikmah, Kampung Dewa Agung, Kecamatan Bahuga.

"Sembari menunggu penagananan penyembuhan penyakitnya seperti asam urat, lemah jantung, sakit gigi, urat kejepit, migrain, vertigo, maag dan berbagai penyakit medis lain oleh Pelaksana Tugas Kepala Satuan Khusus Banser Husada Lampung sekaligus kamitua atau master ATS sahabat Gatot Arifianto, masyarakat akan kami pandu mendoakan saudara kita di Rohingya," ujar Hasyim didampingi Ketua GP Ansor Bahuga Muhammad Nur Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyikapi persoalan Rohingya dengan doa menurut Hasyim, lebih maslahat daripada menyebar gambar hoax tidak sesuai, sadis dan didramatisir yang berpotensi memecah belah masyarakat Indonesia.

"Kami sepakat, bahwa apa yang terjadi di Rohingya ialah tragedi kemanusiaan yang harus segera dihentikan karena bertentangan dengan nalar hingga nurani. Siapapun yang beragama dan mengimaninya dengan benar pasti menolak kebiadaban," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain berdoa bersama, masyarakat juga akan diajak berfoto dengan membawa pesan-pesan perdamaian, seperti wasiat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Agama jangan jauh dari kemanusiaan, lalu Dalai Lama XIV: Perdamaian bukan hanya sekadar tidak adanya kekerasan. Perdamaian adalah, perwujudan kasih sayang manusia, serta kutipan positif lain. (Erli Badra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 21 November 2017

IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah? . Agenda kaderisasi dalam tubuh IPNU menjadi starting point pada setiap program kerja yang dicanangkan. IPNU dituntut untuk dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya tangguh secara intelektual semata, lebih dari itu ketangguhan dalam aspek karakter dan akhlak yang ditopang oleh keterampilan dalam berorganisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari visi dan misi IPNU itu sendiri.?

IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Dituntut Lahirkan Kader Tangguh dan Berakhlak

Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua PW IPNU DKI Jakarta, Mohammad Khoiron dalam rilis yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (24/2).

“Dengan kata lain, kaderisasi IPNU adalah upaya untuk mencetak calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki kapasitas kepemimpinan yang tinggi dan memiliki sifat militansi serta berkarakter kritis terhadap berbagai persoalan dan perkembangan sosial yang dihadapi,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan kaderisasi inilah, lajutnya, proses meritokrasi atau sistem organisasi di mana janji yang dibuat dan tanggung jawab yang ditugaskan untuk individu berdasarkan kecerdasan dan kemampuan akan terwujud, sehingga pada akhirnya kader organisasi yang muncul benar-benar berkualitas karena mengikuti prosedur kaderisasi yang ditetapkan dan memahami kebutuhan kader dan organisasi yang baik.?

“Dengan demikian, kebutuhan akan kaderisasi semacam ini semakin mendesak, mengingat saat ini kita dihadapkan pada problematika yang sangat kompleks, khususnya yang menyangkut masalah pelajar,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khoiron menerangkan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama atau IPNU adalah organisasi pelajar yang hadir sebagai organisasi dengan dua dimensi, yaitu dimensi sebagai organisasi kader NU, dan dimensi organ gerakan pelajar. Sejak kelahirannya pada tanggal 24 Pebruari 1954 yang lalu, ia telah mengemban amanat sebagai badan otonom NU di garda terdepan dalam hal kaderisasi pada segmen pelajar dan santri.?

Di samping itu, tambahnya, kehadiran IPNU di dalam tubuh NU sebagai penggerak bagi pelajar dan santri agar tetap kritis dan sadar terhadap berbagai macam persoalan yang dihadapi serta dituntut untuk melakukan berbagai macam upaya dalam mengadvokasi pelajar di segala bidang.

Dia juga menjelaskan, segmentasi pelajar dan santri dipilih bukan tanpa alasan yang jelas. Hampir bisa dipastikan, semua elemen orang sepakat bahwa pelajar merupakan tumpuan yang kokoh bagi bangsa dan Negara. Karena mereka merupakan elemen dari beberapa komponen penting dalam setiap perubahan.?

“Peran pelajar dalam Agent of Change atau agen perubahan bukanlah isapan jempol belaka. Bila dikaitkan dengan sejarah perjuangan pra dan pasca kemerdekaan Negara kita, maka pelajar, pemuda, dan santri selalu berada di garda terdepan,” ucapnya.

Oleh karena itu, ujarnya, agar peran yang dimainkannya teruss berkesinambungan, maka sudah barang tentu pelajar saat ini harus diorganisir. Untuk itu, dalam kaitannya dengan organisir pelajar, di samping dibutuhkan pengorganisasian pelajar, yang lebih penting lagi adalah pembangunan kapasitas pelajar dalam kepemimpinan atau Capacity Building on Leadership.

“Akhirnya, diusianya yang ke 61 ini, IPNU berharap kesadaran kalangan pemuda untuk terus ? belajar, berjuang, dan bertakwa guna menyiapkan peran di hari depan yang lebih baik, sehingga penguatan kaderisasi berbasis ideologi Aswaja menjadi ruh gerakan dan keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi,” pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 13 November 2017

Zakat: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya

Definisi Zakat

Kata zakat ditinjau dari sisi bahasa arab memiliki beberapa makna, di antaranya berkembang, berkah, banyaknya kebaikan, menyucikan dan memuji. Sedangkan dalam istilah fiqih, zakat memiliki arti sejumlah harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dan wajib diserahkan kepada golongan tertentu (mustahiqqin). 

Zakat dijadikan nama untuk harta yang diserahkan tersebut, sebab harta yang dizakati akan berkembang dan bertambah. Syekh Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni berkata:

Zakat: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat: Definisi, Sejarah, dan Hikmahnya

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Disebut zakat karena harta yang dizakati akan berkembang sebab berkah membayar zakat dan doa orang yang menerima.” (Syekh Taqiyyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Hishni, Kifayatul Akhyar, Surabaya, al-Haramain, cetakan kedua, 2002, halaman 104)

Allah berfirman:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Artinya: “Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan pahalanya.” (QS. Ar-Ruum : 39)

Sejarah

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kapan zakat diwajibkan. Di dalam kitab Hasyiyah al-Jamal dijelaskan bahwa Zakat mal mulai diwajibkan di bulan Sya’ban tahun kedua hijriah bersamaan dengan zakat fitri. Ada yang berpendapat bahwa zakat diwajibkan sebelum baginda Nabi hijrah ke Madinah. 

Namun, menurut pendapat yang masyhur di kalangan para pakar hadits, zakat mal diwajibkan pada bulan Syawal tahun kedua hijriah sedangkan zakat fitri diwajibkan dua hari sebelum hari raya Idul Fitri setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. (Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ala al-Minhaj, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 2003, jilid dua, halaman 96)





Hikmah Zakat

Tidak diragukan lagi betapa besar hikmah di balik kewajiban zakat. Hikmahnya begitu tampak jelas bagi siapa pun yang mau merenungkannya. Di antara hikmah zakat yang paling nampak jelas adalah mengentaskan kemiskinan. Di dalam kitab Syarh Yaqut an-Nafis fi Madhab Idris, Habib Muhammad bin Ahmad Bin Umar asy-Syathiri menjelaskan sebagian dari hikmah di balik kewajiban zakat. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Adapun hikmah zakat, maka sudah diketahui dan tampak jelas. Dan semakin tampak di masa sekarang. Termasuk dampak positif dari zakat akan terjalin kasih sayang dan saling mengasihi. Seandainya zakat dibayarkan dan dibagikan sesuai dengan cara yang benar secara syar’i, niscaya selamanya di muka bumi tidak akan ada orang yang miskin. Karena sesungguhnya di dalam harta para orang kaya, Tuhan kita, Allah Swt telah menetapkan sebagian hak yang bisa mencukupi para faqir.” (Habib Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri, Syarh Yaqut an-Nafis, Beirut, Dar al-Minhaj, cetakan ketiga tahun 2011, halaman : 259)

Sungguh benar apa yang telah beliau sampaikan ini. Seandainya kita kira-kirakan jumlah kaum Muslimin di dunia ini kurang lebih satu miliar. Coba kita melihat pada zakat fitri saja. Ukuran zakat fitri yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang Muslim adalah satu sho’ (kurang lebih 2,8 kg). Dan zakat fitri wajib dibayar oleh setiap orang yang memiliki makanan pokok yang lebih untuk sehari semalam di Hari Raya Idul Fitri. Seandainya kita kira-kirakan uang yang dihasilkan dari setiap sho’ kurang lebih Rp25.000, lalu berapa yang dihasilkan dari kelipatannya dengan jumlah orang islam yang wajib membayar zakat? Bayangkan saja betapa banyaknya!

Belum lagi zakat tijarah (perdagangan). Berapa banyak para pedagang Muslim yang memiliki aset dagang ratusan juta atau bahkan miliyaran rupiah. Jika masing-masing dari mereka mengeluarkan zakat 2,5 persen, maka betapa banyak zakat yang terkumpul.

Kemudian di dalam Islam masih ada lagi kewajiban zakat pertanian, zakat peternakan, zakat emas dan perak, dan zakat pertambangan. Dan perlu diingat bahwa semua zakat-zakat ini wajib dibayarkan setiap tahun.

Syariat juga telah mengajarkan bagaimana cara membagi zakat yang benar. Jika orang yang akan diberi zakat dinilai ahli berdagang, maka ia diberi modal untuk berdagang. Jika ahli bertani, maka diberi modal pertanian. Jika ahli dalam keilmuan, maka diberi bekal untuk mencari ilmu agar bermanfaat bagi orang banyak. Jika kreatif dalam membuat usaha, maka diberi modal untuk membuka usaha. Dan jika tidak ahli mengembangkan harta, maka diberi harta yang bisa dimanfaatkan seperti sawah yang bisa disewakan dan seterusnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam kitab-kitab mu’tabarah, di antaranya di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (Lihat Imam an-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 2001, jilid keenam, halaman : 194)

Kita lihat bagaimana Allah menata dan mengatur sedemikian rupa agar manusia di muka bumi ini menjadi baik dan sejahtera. Namun sayangnya, mungkin karena kurangnya pengetahuan terhadap aturan yang benar di dalam mengelola zakat, atau faktor lain, hingga seakan zakat tidak begitu mewarnai dalam kehidupan perekonomian kaum Muslimin.

Wallahu a’lam.

(Moh. Sibromulisi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 10 November 2017

KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Indonesia (UI) siap jadi tuan rumah dalam agenda Musyawarah Regional yang akan dihadiri oleh delapan perguruan tinggi. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada Sabtu (5/3) mendatang di Aula Setyaningrum, Pusat Kegiatan Mahasiswa UI.

Ketua KMNU UI Nurul Fauzi menyatakan Musyawarah Regional akan diikuti oleh IIUM, UNILA, UNPAD, ITB, UPI, UI, STAN, IPB dengan agenda laporan pertanggungjawaban dan reorganisasi kepengurusan.

Ia memaparkan, Musyawarah Regional bertujuan untuk menguatkan perjuangan NU di kampus-kampus besar, agar nilai Ahlussunnah Waljamaah An Nahdliyyah dapat dilestarikan di kalangan generasi muda.

KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional

"Ya, tentunya agenda ini menjadi penting khususnya untuk mulai meningkatkan eksistensi KMNU di UI yang baru berdiri sekitar dua tahun," kata Fauzi saat diwawancarai, Ahad (28/1).

Ketua Bidang Internal KMNU UI Tomy Lutvan menambahkan, selain meningkatkan keberadaan KMNU di UI, kegiatan ini juga sebagai penguat keberadaan KMNU UI di tingkat regional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Jelas harapannya agenda Musyawarah Regional ini menjadi starting point perjuangan NU di kampus kuning. Selain itu juga penting untuk menarik semangat pengurus KMNU UI agar ke depan semakin solid," pungkasnya. (Afifah Marwa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 November 2017

Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Wilayah Fatayat NU DIY dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar acara bertajuk Pemenuhan Hak Kesehatan Reproduksi di Kalangan Santri di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kota Gede, Selasa (21/3) siang. Kajian ini diikuti ratusan santri Nurul Ummah baik putra maupun putri.

Tim paduan suara MTs Bina’ul Ummah ikut memeriahkan acara tersebut. Hadir sebagai pembicara tunggal Kepala Pusat BKKBN Dr Surya Chandra Surapaty.

Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU DIY Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi untuk Santri

Sebagai tuan rumah, Kepala Madrasah Nurul Ummah Muhammad Baehaqi mengungkapkan kegemberiannya dengan adanya acara tersebut. “Semoga acara ini bisa membuat para santri merencanakan kehidupannya di masa depan dengan lebih baik,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Fatayat NU DIY Khotimatul Husna mengatakan, salah satu program PW Fatayat DIY adalah persoalan kesehatan dan lingkungan.

“Selain menggandeng BKKBN, kami sudah bekerja sama dan berjejaring dengan pesantren-pesantren yang ada di DIY dalam melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi untuk para santri ini,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada kesempatan tersebut, Khotim menjelaskan bahwa PW Fatayat pada kepengurusan sebelumnya sudah melakukan sosialisasi di pesantren-pesantren.

“Tahun lalu kami sudah mengadakan sosialisasi di 13 pesantren dan masjid di DIY. Tahun ini, akan ditambah 10 pesantren lagi,” ungkapnya.

Harapannya, lanjut Khotim, dengan adanya acara ini, para santri bisa menjaga kesehatan reproduksinya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala BKKBN Pusat yang berkenan hadir pada acara ini,” katanya.

Sebelum seminar dimulai Kepala BKKBN Pusat Surya Chandra Suryapaty meresmikan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). (Nur Rokhim/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care

Lumajang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Keharuan terpancar dari wajah Sawari saat Direktur NU Care-LAZISNU Lumajang Mortamin Syah dan Divisi Marketing M Misto, menyerahkan uang kepada salah satu warga dusun Karangsejati RT 005 RW 007 Desa Dadapan Kecamatan Gucialit, Lumajang, Jawa Timur.

Janda tua penjual rujak itu sudah lama menutup warungnya karena menderita sakit. Niat kembali membuka usaha terganjal ketiadaan modal.

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care

“Saya sangat bersyukur sekali sampai meneteskan air mata karena bantuan dari NU Care-LAZISNU Peduli. Saya akan menjalankan dengan baik modal ini sampai warung saya berkembang,” kata Sawari, .

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain Sawari ada dua warga lainnya yang hari itu menerima bantuan modal yang diserahkan pada tahap ketiga. Mereka adalah Hari, pemilik warung kopi dan gorengan di Desa Selok Gondang: dan Hasan Adiman, pemilik warung kopi dan gorengan Kelurahan Kepuharjo.

Ketiganya merupakan warga penerima bantuan modal pemberdayaan ekonomi dari NU Care LAZISNU Lumajang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Direktur NU Care-LAZISNU Lumajang, Mortamin Syah mengungkapkan program Ekonomi Mandiri NU Care-LAZISNU Lumajang menyasar 10 warga dan baru pertama kali dilaksanakan.

Besarnya bantuan modal bervariasi bagi masing-masing penerima. Ada yang Rp500 ribu, Rp300 ribu, atau Rp250 ribu.

“Disesuaikan modal awal kulakan (belanja) warung tersebut, misalnya warung kopi, pangkalan bakso, rujak, atau lainnya,” kata Mortamin.

Setiap penerima modal tidak diwajibkan mengembalikan uang bantuan.

“Ini dana hibah modal dari NU Care-LAZISNU tanpa harus mengembalikan. Kalau usahanya sudah lancar, baru kami anjurkan menjadi donatur NU Care dengan mengisi kaleng ZIS yang dititipkan kepada mereka,” ujarnya.

Pihaknya berharap bantuan tersebut dapat memberikan sumbangsih pengembangan usaha, sehingga nantinya warung-warung akan menjadi donatur NU Care-LAZSINU yang memutus rantai kemiskinan. Selain itu juga dapat menjadi uswah keshalehan sosial bagi kaum duafa lainnya. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Pemurnian Aqidah, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 September 2017

Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Forum Jurnalis Nahdlatul Ulama (FJNU) DIY menggelar Syawalan dan Talkshow, Ahad (9/9). Acara ini bertempat di Ballroom Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (UST) selatan Balai Kota Yogyakarta. Dalam pantauan Pondok Pesantren Attauhidiyyah tak kurang 50 hadirin antusias mengikuti kegiatan ini. 

Kebanyakan dari hadirin adalah pegiat jurnalis dari kalangan kader muda NU. Baik dari wartawan langsung maupun yang hanya memiliki hobi nulis. “FJNU bukan hanya forum untuk wartawan, tapi juga untuk semua kader NU yang menaruh perhatian besar di dunia tulis menulis,” ungkap Suraji. 

Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan

Ketua FJNU ini juga mengungkapkan bahwa FJNU sengaja dibentuk dengan mengusung visi besar bagi warga Nahdliyin agar melek media. Lebih-lebih bisa memberikan kontribusi berupa gagasan di media cetak maupun elektronik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara Talkshow tersebut dipendegani oleh tiga narasumber, Prof  Dr Maksum (PBNU), Hafidh Asrom (Anggota DPD-RI), dan Dr Kartono (Penulis & pakar pertanahan). Tak kurang dari dua jam, ketiganya membeberkan hal ihwal seputar NU dan dunia Jurnalis. Bahkan sesekali diselingi dengan canda tawa. Sehingga durasi waktu dua jam pun tak terasa.

Jurnalis Idealis

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pena lebih tajam dari pedang, adagium inilah yang kiranya diyakini oleh Hafidh Asrom. “Bukan mustahil kekuatan pena bisa merubah Indonesia, sudah dibuktikan oleh para founding fathers bangsa ini,” tuturnya. 

“Tak lain tak bukan karena media mampu menggiring opini publik, contohnya soal korupsi yang tengah santer diperbincangkan,” tegasnya.

Ketiga narasumber juga menghimbau agar melalui dunia jurnalistik kader-kader muda NU dapat menghadirkan sinar benderang bagi NU. Dengan catatan, bahwa jurnalis tersebut harus seorang yang idealis bukan jurnalis pragmatis. 

Kampus UST dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan acara agar para jurnalis NU dapat meneladani Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar, dengan idealismenya, mampu menyuguhkan bara api lewat tulisannya. Sehingga menyulut perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisasi. 

Dalam waktu dekat, kegiatan yang sama juga bakal diagendakan untuk kalangan guru serta siswa di lingkungan NU. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Hanif

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 07 Agustus 2017

Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks

Bengkulu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Anggota Dewan Pers, Anthonius Jimmy Silalahi, mengajak masyarakat dan insan pers untuk bersama-sama mengantisipasi penyebarluasan berita bohong atau hoaks. Tradisi cek dan ricek disebutnya bisa menjadi pencegah semakin tersebarnya hoaks. 

Hadir sebagai pemateri di kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisem di Masyarakat di Bengkulu, Kamis (12/10), Jimmy mengatakan, masyarakat bisa berperan membendung penyebarluasan hoaks dengan cara menahan diri setiap kali menerima kiriman informasi di media sosial. 

Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Cek dan Ricek Cegah Penyebarluasan Hoaks

"Jangan karena suka atas kiriman tersebut, kita share tanpa adanya verifikasi. Cek dan ricek kebenarannya. Jikapun benar cek lagi manfaatnya," kata Jimmy. 

Menurut Jimmy, kemauan melakukan cek dan ricek adalah langkah termudah yang bisa membantu membendung peredaran hoaks. Untuk cara pengecekan,  dia menyarankan masyarakat membandingkan informasi yang diterimanya dengan informasi sejenis dari sumber berbeda. "Jika meragukan kebenarannya, jangan disebar," tegasnya. 

Dorongan menjadikan cek dan ricek sebagai tradisi untuk mencegah hoaks tidak hanya disampaikan ke masyarakat, melainkan juga ke insan pers. Jimmy menandaskan, wajib bagi setiap wartawan mengecek kebenaran dan keberimbangan setiap informasi yang diterimanya sebelumnya mengolahnya menjadi sebuah berita. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Insan pers juga harus berperan. Hoaks sudah menggerus kepercayaan masyarakat ke media massa, jangan biarkan itu semakin parah," tandas Jimmy. 

Menjadikan cek dan ricek untuk setiap informasi, masih kata Jimmy, merupakan keterlibatan nyata masyarakat dan institusi pers terlibat aktif dalam upaya pencegahan terorisme. Ditegaskannya, BNPT dan aparat keamanan tidak bisa menyelesaikan permasalahan terorisme tanpa adanya keterlibatan masyarakat. 

"Terorisme musuh bersama, maka harus bersama-sama kita perangi," tutupnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme merupakan salah satu metode yang dijalankan  di kegiatan Pelibatan Pemuda dan Perempuan dalam Pencegahan Terorisme. Satu metode lainnya adalah Visit Media, kunjungan dan diskusi ke redaksi media massa pers untuk mensosialisasikan program pencegahan terorisme. (Red: Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 Maret 2017

Keutamaan Berbagi Takjil Kepada Orang Berpuasa

Tiada seorang pun yang mengetahui kualitas puasa orang lain. Karenanya kita sendiri tidak mengetahui kalau ada orang lain menipu kita dengan mengaku bahwa ia berpuasa. Karena saking rahasianya ibadah puasa, maka Allah menyediakan pahala yang besar untuk mereka yang berpuasa.

Terlepas dari kejujuran atau penipuan, Islam mengajurkan kita untuk berbagi takjil baik makanan maupun minuman. Hal ini merupakan salah satu bentuk kebaikan terhadap orang-orang yang berpuasa.

Keutamaan Berbagi Takjil Kepada Orang Berpuasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Berbagi Takjil Kepada Orang Berpuasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Berbagi Takjil Kepada Orang Berpuasa

Allah SWT menjanjikan ganjaran luar biasa begi merek yang berbagi takjil. Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Busyral Karim mengatakan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Orang yang berpuasa disunahkan berbagi sesuatu dengan orang lain untuk buka puasanya meskipun hanya sebutir kurma atau seteguk air. Kalau dengan makan malam, tentu lebih utama berdasar pada hadits Rasulullah SAW.

Beliau bersabda, ‘Siapa yang berbagi takjil kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala puasa tanpa mengurangi pahala puasa orang yang ditraktir takjil.’

Kalau selagi berpuasa tadi orang yang ditraktir melakukan hal-hal yang membatalkan pahala puasanya seperti berbuat ghibah, menghasut orang lain, berdusta, memalsukan kesaksian, atau tindakan tercela lainnya, maka semua itu tidak berpengaruh pada pahala orang yang mentraktirnya.”

Keterangan di atas menunjukkan kuatnya anjuran untuk berbagi saat berbuka puasa. Anjuran ini sama sekali terlepas dari bagaimana kualitas puasa orang yang menjadi partner berbagi. Untuk itu kita juga dituntut untuk berbaik sangka terhadap orang lain. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Sholawat, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah