Senin, 08 Januari 2018

Jogetan Puspita Alam

Oleh Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Puisi ini terangkai atas bimbingan alam yang mengajarkan apa artinya kehidupan, menyadari kenapa mereka suka ke Pantai, ke Gunung? Hingga penulis melihat awat di sana, dan awan itu begitu setia. Kesetiaannya merasuki penulis untuk mengabadikannya.

I

Jogetan Puspita Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Jogetan Puspita Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Jogetan Puspita Alam

Aku terbangun menilik fajar

Menantikan peran orang-orang

Begitu orang-orang selalu begitu

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memang orang-orang memang

Aku menyaksikan burung-burung

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aku menyaksikan tanaman-tanaman

Aku menyaksikan awan-awan

Aku mendengar kicauan paling jujur

Aku mendengar tanaman paling diam

Aku mendengar awan paling setia

Tetapi aku tak dapati itu pada jasad-jasad

Yang menjelma di sekolah, di bank, di pasar,?

Begitu…?

Aku rasa burung, tanaman, awan?

Membutuhkan cahaya bukan

Begitu selalu mencari kebenaran

Mendekati cahaya-cahaya

Berpikirkah orang-orang tentang jogetan puspita alam?

Keislaman yang selalu dihirup, dipandang, didengar

Benar orang-orang tak jiwai malaikat-malaikat

Tetapi bisakah sedetik saja menikmati kehadiran panca indera

Supaya tak berkumpul noktah-noktah yang setan bersyukur jika menyatu

Lalu menghitam memburamkan, menutup hijab

Mereka saja selalu mendekati cahaya

Orang-orang mari menjamah mereka

Biar Allah-Allah selalu menjelma

II

Aku tak punya apa-apa

Aku tak dilahirkan seperti yang senantiasa memuja

Sering aku sombong, membangkang, melukai

Aku hanya punya kata

Yang mengabadikan semuanya

Hingga termenungku untuk pada jawaban

Mancari dan mencari, menghayati

Detik ini memikirkanMu Yang Maha Pengasih

Yang Maha Cinta, aku berterimakasih

Kataku melahirkan ucapan syukur

Tetapi aku hanya punya kata

Yang sejenak mengobati kerinduan panjangku

Sering muncul dan kembali muncul

Seperti itu selama aku di sini

Ya Allah… Yang Maha segalanya

III

Kadang sajakku hambar, tak berasa

Kadang ku buang, ku hapus

Berkali-kali… satu dua tiga

Ah… kembali lagi menjamah

Lagi menulis… kenapa begini?

Kembali sampai malam tak mendapati

Hingga ternyata Sang Kata di sini

Beralam bertasbih… ALLAH MAHA

Begitu kadang menjelma

IV

Pantai, kenapa harus ada buih?

Kamu tahu?

Pernah mendengar pujian pengakuan?

“Ilaahilastu lil firdusi ahlaaa…”

Yang awal syairnya seperti itu…

Ingat? Yah begitu ngilmu laut…

Begitu kenapa Dia menciptakan buih!

V

Gunung-gunung…

Wahai para pendaki apa sih yang kau cari?

Setelah mendaki apa sih yang kau kenang?

Tenaga kau habiskan, demi gunung

Pernahkah sambil membayangkan

Perbedaan para pendaki dan yang bukan

Seharusnya para pendaki lebih paham

Bagaimana nikmatnya Allah berada,

Dan jauh lebih kencang mencintai apa yang diciptakan

Dan aku sengaja tak mengakhiri dengan titik (.) sebagai tanda baca

Sebagai pesan bahwa aku inging selalu menghadirkan melalui kata

Little Netherlands, 6 Januari 2017?

Terimakasih atas pembacaan yang dilakukan oleh siapa saja. Semoga senantiasa menjadi makhluk perasa karena Dia Yang Maha Segalanya melahirkan kita dengan rasa.

Penulis adalah mahasiswi Jurusan Hukum Pidana dan Politik Islam, UIN Walisongo Semarang. Pegiat Sastra LIKSA (Lingkar Kajian Sastra) LPM Justisia. ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Jadwal Kajian, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar