Senin, 19 Februari 2018

Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah”

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menangani orang meninggal dunia, itu bukan tugas dari Modin. Melainkan tugas orang terdekatnya. Hal ini ditegaskan oleh Ustadz Muhammad Maruf Khozin saat mengisi acara bedah buku "Fikih Jenazah An-Nahdliyah" dalam kegiatan pengajian Ramadhan di masjid Agung Sidoarjo, Ahad (5/7) lalu.

Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah”

Menurut pria yang juga pengurus Aswaja Center PWNU Jatim ini menuturkan, bahwa memperlakukan orang yang sudah meninggal dunia itu harus sebaik mungkin. "Upaya kita memperlakukan jenazah itu harus dengan sebaik-baiknya," tuturnya.

Mayat yang sudah dimandikan dan diberi sabun, itu sudah cukup. Kalau ada yang dikasih bedak atau dihias supaya kelihatan cantik, di dalam Fikih, Maruf Khozin menyatakan belum menemukan keterangannya. Yang penting syari, itu sudah cukup.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menghadapi perbedaan modin, terkait memandikan jenazah, mengkafani, menyolati, dikatakan Ustadz Maruf itu yang paling pokok. Setelah secara fikih, itu adalah kebiasaan setempat.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Menurut Imam Ibnu Aqil, tidak dianjurkan menyolati secara adat di masyarakat kecuali adat itu haram. Kalau misal di tempat itu sudah biasa dipacaki (dihias), ya silahkan dari pada gegeran (bertengkar)," ujarnya.

Dia menambahkan, masalah tradisi selama belum mengarah pada sesuatu yang haram, itu tidak masalah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar