Jumat, 23 Februari 2018

Saat Nabi Menjawab Pertanyaan

Nabi adalah orang yang membawa berita. Bukan sembarang berita, tapi ini berita dari langit. Semua Nabi membawa dua pesan utama: percaya kepada Tuhan dan percaya pada hari akhir/hari kebangkitan. Pesan dari langit bukan sekadar pepesan kosong melainkan juga harus diterapkan untuk terciptanya ketertiban dan kenyamanan. Pada titik ini, Nabi menjelma menjadi suri tauladan untuk menjalankan pesan ilahi.

Nabi bukan hanya pembawa pesan (messenger) sebagaimana layaknya tukang pos yang tidak tahu isi pesan. Nabi diberi pemahaman akan berita atau pesan yang hendak diteruskan kepada sesama. Bahkan Nabi juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai maksud dan kandungan berita langit. Nabi juga menjadi orang pertama yang berhadapan dengan mereka yang tidak percaya dan mengingkari pesan langit.

Saat Nabi Menjawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Nabi Menjawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Nabi Menjawab Pertanyaan

Ada yang jelas-jelas menentang (kafir) namun ada pula yang hatinya mendua antara percaya dan tidak percaya (munafiq). Banyak pihak yang sekadar iseng bertanya kepada Nabi. Atau bertanya untuk menguji dan mengolok-olok. Ada pula yang gemar mencari-cari kesalahan, menguping dan membocorkan pembicaraan Nabi, bahkan ada yang meniru gerak-gerik Nabi berbicara sekadar mengejek setiap kali Nabi menyampaikan pesan atau penjelasan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam Hadis riwayat Imam Bukhari dikisahkan Nabi naik mimbar dan kemudian "menantang" jamaah untuk mengajukan pertanyaan yang mereka mau, dan pasti saat itu akan Nabi jawab. Melihat Nabi yang terlihat geram, sejumlah sahabat menangis terisak-isak. Nabi berulangkali berseru: "bertanyalah kalian kepadaku!". Seorang bertanya, "dimana tempat tinggalku kelak?" Nabi menjawab: "kamu di neraka!". lantas Abdullah bin Hudzaifah bertanya: "siapa ayahku Ya Rasul?" Nabi menjawab, "Ayahmu Hudzaifah." Nabi masih menunggu siapa lagi yang mau bertanya segala macam kepadanya dengan terus mengulang: "Ayo bertanya lagi?!"

Umar bin Khattab kemudian berkata: "Radhina billahi Rabba, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin shallahu alayhi wa sallam Rasula (Kami ridha Allah sebagai Rabb Kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad SAW sebagai Rasul)." Ucapan Umar di tengah isak tangis para sahabat tersebut mengandung pertaubatan, penyesalan akan ketidaksopanan sejumlah pihak dan juga pengulangan janji kesetiaan kepada Nabi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nabi terdiam sejenak mendengar ucapan Umar. Nabi kemudian bersabda: "Pada dinding ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Belum pernah kulihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini." Ucapan Nabi bermakna gentingnya situasi saat itu akibat kemarahan Nabi.

Peristiwa ini berbuntut panjang. Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan kisah tambahan betapa ibu Abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa bapaknya di depan Nabi. Bukan saja pertanyaan itu tidak penting ditanyakan tapi juga seolah meragukan jalur nasabnya. Kata ibunya, "Kamu sangka ibumu ini pelacur yang kemudian aibnya mau kamu buka di depan Nabi dan jamaah dengan bertanya seolah meragukan siapa ayahmu?! Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih durhaka ketimbang engkau!"

Ada memang orang yang selalu ingin tahu hal-hal yang amat sangat detil dari agama ini. Nabi yang membawa gagasan besar dan pesan dari langit disibukkan dengan pertanyaan remeh temeh, seperti orang yang kehilangan unta dan kemudian bertanya hal itu kepada Nabi.

Nabi pernah bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata, ”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah bersabda, ”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda, ”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah."

Maka kemudian turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian." [al-Mâidah: 101].

Jadi, apa kita tidak boleh bertanya? Tentu boleh. Ada sekitar 12 ayat di mana Allah turun tangan langsung menjelaskan jawaban dengan menggunakan redaksi: "Mereka bertanya kepadamu tentang...." Itu karena pertanyaannya sangat penting. Di lain kesempatan, Nabi juga senang sekali berdialog dengan para sahabatnya. Ini artinya Nabi tidak keberatan menghadapi berbagai pertanyaan sahabat.

Namun seringkali orang bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Ada yang bertanya untuk menunjukkan bahwa dia juga memiliki pengetahuan tentang hal yang dibicarakan. Ada yang bertanya untuk menyindir, atau untuk menunjukkan kita lebih pintar dari yang ditanya. Atau bertanya untuk menebar pesona betapa alim dan dermawannya kita.

Simak pertanyaan model ini: "Mengapa ya Ustadz setiap saya habis bersedekah rasanya nikmatttt sekaliii?" Lantas disusul pertanyaan jamaah lain, "Kalau saya rasanya nikmat itu pas sehabis shalat tahajud 12 rakaat. Kenapa ya Ustadz?" Atau yang satu ini: "Bu Ustadzah, setiap saya pergi umrah setiap bulannya kenapa ya saya selalu menangis kalau shalat di depan Kabah? Dan anehnya tetangga saya katanya tidak bisa keluar air mata di Tanah Suci. Apakah perbedaan ini karena saya rajin menyantuni anak yatim, sementara tetangga saya itu terkenal pelitnya ya Bu?"

Duuhhhh!

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kesebelasan pesantren Al-Barokah, Daleman, Wonosari, Klaten, menjadi tim pertama yang lolos ke babak semifinal Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 Zona Jateng 1. Hasil ini diperoleh Al-Barokah setelah pada laga keduanya di penyisihan Grup D menundukkan Al-Muayyad Solo dengan skor 3-0 di Lapangan Kota Barat Solo, Kamis (17/8).

Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri

Ketiga gol, dua tercipta dari kaki Rifa’i pada menit ke-11 dan 14. Sementara, satu gol lainnya dilesakkan M Shihab pada menit ke-47.

Berkat kemenangan ini, Al-Barokah pun semakin kokoh di puncak klasemen Grup D dengan torehan enam poin hasil dari dua kali kemenangan. Dengan regulasi turnamen yang hanya mengambil satu tim dalam tiap grup untuk melaju ke final, posisi puncak klasemen itu pun sudah membuat Al-Barokah sepenuhnya aman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatih tim Al-Barokah Wito, tidak menyangka jika timnya mampu melenggang ke babak semifinal dengan mulus. Sebab, persiapan timnya menghadapi turnamen ini terbilang mepet, hanya sekitar satu pekan.

“Semua pemain kami berasal dari kampung dan sebelumnya tidak pernah belajar bermain bola di SSB. Tapi, ternyata semangat mereka lebih besar dari kemampuannya,” ujar Wito saat dijumpai seusai laga.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, pada pertandingan lain di Grup A, Nurul Islam Boyolali kalah dengan skor telak dari Mamba’ul Hikmah Wonogiri 1-4. Dengan hasil ini, Nurul Islam melenggang ke semifinal pun menipis karena turun satu peringkat ke urutan kedua, digeser oleh Mamba’ul Hikmah yang juga mengemas tiga poin, namun lebih unggul dalam produktifitas gol. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Halaqoh, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Februari 2018

NU Minta Swasta Dilibatkan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah harus lebih banyak melibatkan partisipasi dan peran lembaga pendidikan swasta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, termasuk dalam menuntaskan program wajib belajar sembilan tahun. Mutu pendidikan nasional yang baik akan tercapai, apabila semua pihak sama-sama bekerja keras.

Demikian disampaikan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Endang Turmudzi sehubungan dengan penandatanganan piagam kerjasama antara Departemen Pendidikan Nasional dengan Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama tentang program sarjana dan pemuda penggerak wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Jakarta, Kamis (3/5).

NU Minta Swasta Dilibatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Minta Swasta Dilibatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Minta Swasta Dilibatkan

Penandatangan naskah piagam kerjasama program tersebut dilakukan di gedung Depdiknas Jakarta oleh Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto dan Ketua PP LP Ma’arif NU HM. Thoyib.

Endang mengatakan, dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, maka peningkatan anggaran pendidikan merupakan suatu keharusan. Karena dengan anggaran yang memadai merupakan faktor penting bagi pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk juga kesejahteraan para pendidik.

”Jadi anggaran yang sekarang ini masih kurang memadai. Karena itu NU mengupayakan agar anggaran pendidikan itu 20 % dari APBN,” tandasnya.

Terkait dengan lembaga pendidikan dibawah payung NU, Endang berharap pemerintah lebih memperhatikan sekolah-sekolah swasta seperti sekolah yang dimiliki organisasi berlambang bintang sembilan ini. Karena bagaimanapun lembaga pendidikan ini telah lama berkiprah di masyarakat, membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Secara umum lembaga pendidikan dibawah NU adalah swasta, baik sekolah maupun madrasah. Sebagian besar berada di pedesaan, namun selama ini perhatian pemerintah masih kurang," kata Endang.

Sementara itu Koordinator program sarjana dan pemuda penggerak wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun (SP2WB) Ma’arif-Depdiknas Mamat S. Burhanudin mengatakan, melalui program ini akan dilakukan rekrutmen sarjana dan pemuda untuk dilatih melakukan kegiatan-kegiatan pokok dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, seperti sosialisasi wajib belajar.

”Tujuannya untuk menggerakkan potensi yang ada di masyarakat, swasta dan pemerintah dalam menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun,” imbuh Mamat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, saat ini meskipun angka partisipasi kasar (APK) peserta wajib belajar nasional telah mencapai 88,68 persen, namun masih ada beberapa daerah yang memiliki APK rendah. ”Program ini ditujukan bagi daerah yang mempunyai APK rendah dan memiliki angka absolut tinggi,” jelasnya.

Adapun pelaksanaan program SP2WB Maarif-Depdiknas dijadwalkan dimulai dengan penyelenggarakan Training of Traner (TOT) pada 7-11 Mei mendatang di Jakarta yang akan diikuti 110 peserta, meliputi peserta dari daerah APK rendah dari 20 kabupaten yang mewakili 13 provinsi, darn dari unsur pengurus PP LP Ma’arif. (dpg/nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) merupakan harapan besar bagi generasi NU mendatang. Kedua badan otonom ini harus di garda depan dalam proses kaderisasi.

Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi

”IPNU dan IPPNU adalah gerbang awal atau pintu pertama kaderisasi di NU,” ujarnya usai melantik Pimpinan Pusat IPNU dan IPPNU di Jakarta, Senin (18/3) malam.

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said ini, menyongsong peringatan satu abad NU atau sekitar 13 tahun yang akan datang, NU membutuhkan kader-kader baru yang lebih unggul dari IPNU-IPPNU. Sebab, merekalah nanti yang akan meneruskan estafet kepengurusan dan pengabdian di ormas Islam terbesar ini di masa depan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turut hadir pula dalam kesempatan ini Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, utusan  Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan sejumlah mantan pengurus dan ketua umum IPNU dan IPPNU.

Dalam sambutannya, Muhaimin menjelaskan kebesaran Islam Indonesia di dunia internasional. Menurut pengalamnnya di luar negeri, selama ini Islam di Tanah Air sangat diperhitungkan dan menjadi rujukan bagi isu-isu keislaman baik oleh Timur Tengah ataupun Barat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dan kalau bicara Islam Indonesia berarti bicara NU karena NU lah yang terbesar di republik ini,” katanya.

Dengan alasan ini, Muhaimin mendorong kepengurusan baru IPNU-IPPNU untuk giat memajukan organisasi. Ia optimis IPNU-IPPNU akan menjadi lebih baik.

”Masa depan di tangan anda. Dan rebutlah masa depan itu untuk kemaslahatan NU dan Islam di masa yang akan datang,” ujarnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Makam, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 21 Februari 2018

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Desa Pengastulan, Kecataman Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki sejarah yang agak berbeda dengan daerah lain di Bali. Jika di tempat lain hubungan keharmonisan antara Islam dan Hindu berjalan cukup harmonis, di Desa yang berada di Kabupaten Buleleng ini dikenal sebagai desa yang seringkali terjadi letupan konflik berlatar SARA.

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA

Walau demikian, konflik yang terjadi tidak sampai meluas dan hanya terlokalisir di Desa Pengastulan. Karena sesungguhnya latar konflik tidak ansih karena agama, melainkan kesalahpahaman-kesalahpahaman antar anak muda yang kebetulan berbeda agama.?

Terakhir, konflik kembali memanas pada bulan puasa. Dan ini lagi lagi karena gesekan pemuda yang karena masalah sepele, namun dibawa dan diprovokasi menjadi konflik agama. Kondisi seperti ini tentunya tidak mengenakan bagi masyarakat Pengastulan baik Islam maupun Hindu, yang selalu dibayangi konflik terus menerus.

Untuk itu, keberadaan Gerakan Pemuda Ansor yang belum lama dibentuk di Desa Pengastulan ini terus melakukan komunikasi dua arah untuk meminimalisir kesalahpahaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal ini ditegaskan Mursalin, Ketua Ranting GP Ansor Pengastulan ketika ia dan puluhan anggota Banser turut mengamankan Upacara Ngaben, Rabu (30/8). "Kami akan terus berkomunikasi dan bekerja sama seperti ini," tegasnya.

Mursalin melanjutkan, selama ini gesekan kerap terulang karena tidak adanya tindakan nyata kedua belah pihak untuk benar benar bersatu. "Simbolitas semacam ini sungguh sangat berarti, dimana kami yang Muslim juga turut andil pada kegiatan saudara kita yang beragama Hindu, dan kerjasama seperti ini belum pernah terjadi sejak dulu" terangnya.

Setelah terbentuknya GP Ansor ini, Mursalin mengaku agak mudah berkomunikasi dengan semua pihak. ? Kemudahan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari nama besar NU dan Gus Dur.?

"Ketika kami berkoodinasi dan membawa nama NU, mereka sangat respek, dan menerima dengan hangat," ungkapnya.

Kondisi yang sudah cendrung membaik ini, akan dimanfaatkan GP Ansor untuk merajut persaudaraan sesama masyarakat Desa Pengastulan. "Kami tidak ingin ada lagi gesekan, karena sekali terjadi lagi, maka yang rugi adalah kita bersama," tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk diketahui, keberadaan Islam di Desa Pengastulan terbilang cukup lama, yang telah ada sejak abad ke 17. Dari empat dusun yang ada, Islam terisolir di satu dusun bernama Dusun Kauman, dengan jumlah pemeluk Islam sekitar 25 persen dari 4468 jumlah keseluruhan penduduk Desa Pengastulan. (Abraham Iboy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi mengupas makna Jihad dalam Refleksi Satu Tahun dilaksanakannya Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi), Ahad (21/02/16). Kegiatan yang dihadiri ratusan Jamaah yang datang dari segala penjuru Kabupaten Pringsewu ini dibarengkan dengan Launching Kegiatan Pra Harlah Ke-93 NU PCNU Kabupaten Pringsewu.

Baca:? Empat Kegiatan PCNU Pringsewu Sambut Harlah Ke-93 NU

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Dalam penjelasannya Abah Sujadi, biasa ia dipanggil, mengatakan bahwa mayoritas orang menafsirkan dan mengaitkan Jihad dengan peperangan. "Selain ditafsirkan dan dikaitkan dengan peperangan, pengembangan makna jihad menyentuh kepada perjuangan di jalan kebaikan atau sabilur khoir," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Kata Jihad dalam bahasa Arab terdiri dari 4 huruf yang masing-masing memiliki makna sesuai dengan tujuan jihad. "Jihad terdiri dari huruf Jim yaitu Juhdun wajihadun, huruf Ha yaitu hidayah, huruf Alif yaitu aman dan amanah dan huruf dzal yaitu dawam dan daulah," katanya mengutip Kitab Dalailul Falihin yang merupakan Syarah Kitab Riyadus Shalihin Jilid IV.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa setiap orang yang berjihad harus memiliki 4 rukun Jihad tersebut. "Rukun yang pertama adalah juhdun yaitu bersungguh sunguh. Dalam jihad kita harus bersusah payah namun tidak boleh merasa susah dan tidak boleh merasa payah," tegasnya dihadapan Jamaah yang memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rukun yang kedua dalam berjihad menurutnya adalah hidayah yang bermakna petunjuk. "Dengan petunjuk ini kita akan mendapatkan hasil jihad yaitu berupa keberkahan. Dan keberkahan inilah yang diharapkan dalam kehidupan dalam berbangsa dan bernegara," tuturnya.

Sujadi melanjutkan Rukun Jihad yang ketiga adalah Aman dan Amanah. Ia mengatakan bahwa keamanan adalah kunci dalam melaksanakan syariat Agama. "Jihad dilakukan dengan tidak merusak keamanan. Jika kondisi negara tidak aman maka kita akan merasa tidak tenang dan nyaman dalam melakukan Ibadah kita," ujar kiai yang juga Bupati Pringsewu ini.

Kemudian rukun jihad yang terakhir menurutnya adalah Dawam yaitu dilakukan secara terus menerus. " Jihad tidak bisa dilakukan secara instan. Jihad membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu dalam jihad tidak boleh memaksakan sesuatu berubah dengan cepat sesuai dengan keinginan kita," pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai rasa syukur atas sudah satu tahun Program Jihad Pagi pada diakhir acara dilakukan pemotongan Tumpeng oleh Abah Sujadi dan diberikan secara simbolis kepada Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sejak akhir Desember 2017 lalu, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo Jawa Timur memiliki gedung baru sebagai kantor dan sarana penunjang operasional kerja organisasi. Gedung ini terletak di Jalan Bengawan Solo Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok.

MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru

Ketua PCNU Kota Probolinggo H. Muhammad menyambut gembira adanya gedung baru MWCNU Kecamatan Kedopok tersebut. Menurutnya, adanya kantor sebagai perekat, ukhuwah, sinergis antar pengurus MWCNU dan Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Kedopok.

“Terwujudnya kantor ini tidak lepas dari cita-cita, kekompakan dan kerja keras para pengurus MWCNU Kecamatan Kedopok,” katanya, Selasa (16/1). Keberadaannya untuk memudahkan kegiatan pengurus baik MWC dan ranting, termasuk lembaga maupun badan otonom (banom) NU, lanjutnya.

Terpisah, Ketua MWCNU Kecamatan Kedopok Syairuddin berharap kantor baru tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan kepada warga NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mari bersama-sama menjadikan kantor baru ini sebagai media dakwah bagi warga NU baik di tingkat MWC, Ranting maupun lembaga dan badan otonom NU yang ada di sini,” katanya.

Sementara, Ketua Ranting NU Desa Sumber Wetan Hamdan Amrullah mengharapkan kantor baru menjadi ajang silaturrahim dan membuat lebih solid pengurus dalam menata, mengukuhkan dan mendakwahkan NU dengan melibatkan secara aktif dan masif kepada para Ranting NU se-Kecamatan Kedopok. (Syamsul Akbar/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah