Diklatsar itu merupakan kali pertama digelar PAC GP Ansor Batealit. Sementara di Jepara, merupakan Dikltasar angkatan kelima.
| Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online) |
Banser Harus Militan dan Ideologis
Peserta yang mengikuti Diklastar itu sebagian besar dari wilayah Kemacatan Batealit dan beberapa ada delegasi dari PAC Tahunan, Keling dan Donorojo.Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Ketua PAC GP Ansor Batealit, Nur Alimin mengatakan Diklatsar banser diadakan dalam rangka menyiapkan barisan kader muda NU yang tanggap akan problem keumatan dan kebangsaan demi mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).“Banser menjadi garda terdepan Ansor maupun NU yang harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai problem. Khususnya masalah-masalah keumatan dan kebangsaan,” tambahnya sebagaimana rilis yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah.
Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Subchan Zuhri, Wakil Ketua PAC Ansor Batealit menambahkan dalam rangka membentuk kader Banser yang tangguh peserta Diklastar diberi materi yang lengkap. Mulai dari materi Ke-NU-an, Aswaja, Keansoran, Kebanseran, analisis SWOT, leadership, wawasan kebangsaan, PBB, kelalulintasan, SAR, Bagana, dan materi-materi pendukung lainnya.Pada malam terakhir kemarin, panitia juga menghadirkan KH Subakir dari Kudus untuk memberikan materi penguatan mental spriritual kader banser,” imbuhnya.
Diklatsar Banser di Batealit Jepara itu juga dihadiri Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Ali. Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah itu menyampaikan materi Keansoran di hari pertama.
Sholahuddin menegaskan, bahwa Banser sebagai kekuatan utama Ansor harus memiliki militansi dan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat. Tantangan Banser dan Ansor pada saat ini semakin kompleks dan harus dihadapi dengan kemampuan-kemampuan khusus.
“Sikap Banser adalah merepresentasikan Ansor dan NU yang harus menampakkan Islam Ahlussunah Waljamaah. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)
Dari Nu Online: nu.or.id
Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Tegal, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar