Kamis, 21 September 2006

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Penolakan massif dari berbagai kalangan masyarakat tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah menjadi perhatian serius bagi Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB).?

Peraturan yang mewajibkan siswa berkegiatan dengan sekolah mulai Senin sampai Jumat dari pagi sampai petang ini dinilai gegabah dan merugikan masyarakat karena keadaan masyarakat Indonesia yang beragam baik secara geografis, sosiologis maupun budaya. ?

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud

Merespon pengesahan peraturan yang lebih populer dikalangan masyarakat sebagai kebijakan Full Day School (FDS) ini DPP PKB melalui Desk Halaqoh mengundang berbagai kalangan masyarakat yang peduli dengan pendidikan untuk berdiskusi secara serius dalam acara Halaqoh Kebangsaan di Hotel Acacia Jakarta Pusat, Senin (7/8).?

Halaqoh kebangsaan ini akan dihadiri oleh anggota legislatif FPKB DPR RI komisi VIII dan X, perwakilan-perwakilan ormas Islam, Pengasuh Pesantren, Madrasah Diniyah dan TPQ dari DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, serta elemen masyarakat yang peduli pendidikan.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dari awal sebelum dijadikan peraturan resmi, kami sudah menolak adanya sekolah lima hari yang mengatur jam sekolah dari pagi sampai sore hari,” ujar Abdul Kadir Karding, Sekretaris Jenderal DPP PKB.?

“PBNU, KPAI, LPOI beberapa pemerintah daerah seperti Papua, NTT, Pasuruan, Tegal, Purwakarta sudah tegas menolak bahkan sejak peraturan ini masih jadi wacana dan sampai sekarang sikap mereka tidak berubah, hal ini seharusnya didengar oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi,” imbuhnya lagi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seperti yang sudah diketahui, salah satu nawa cita Presiden Joko Widodo adalah merevolusi karakter bangsa, akan tetapi menerjemahkannya dengan peraturan sekolah lima hari atau full day school menurut Karding sama sekali tidak tepat.

“Kami sepakat dengan revolusi karakter bangsa atau penguatan karakter bangsa, sebab itu yang sudah dilakukan oleh Pesantren dan Madrasah Diniyah selama ini, bahkan sejak sebelum Indonesia Merdeka. Maka dari itu, kami akan tolak segala kebijakan yang akan melemahkan atau bahkan menghapus lembaga pendidikan asli Indonesia ini,” tegas Ketua FPKB MPR RI ini.?

“Yang terancam bukan hanya Pesantren dan Madrasah Diniyah tapi justru karakter bangsa sedang terancam, lebih jauh NKRI bisa terancam,” katanya lagi.

Pria yang akrab disapa dengan AKK ini juga menegaskan bahwa partainya telah menginstruksikan kepada seluruh kader untuk terus berjuang menolak adanya FDS. PKB menilai FDS telah menafikan peran-peran kesejarahan dan peran madrasah dalam membangun karakter bangsa dan akhlak mulia.?

PKB menyatakan bahwa pembangunan karakter bangsa tidak bisa diukur dengan banyaknya hari dan jam anak belajar di sekolah akan tetapi lewat kualitas proses pendidikan dan kesungguhan para guru/ustadz dalam membimbing dan memberi tauladan bagi peserta didik.

Baginya, tidak semua kebijakan politik bisa dinegosiasikan, salah satunya adalah kebijakan full day school yang tidak boleh dinegosiasikan dengan alasan apapun.?

Harapannya, Halaqoh Kebangsaan ini bisa merumuskan hal-hal strategis menyangkut penguatan karakter bangsa dan langkah taktis-strategis untuk menolak pelaksanaan Permendikbud nomor 23 tahun 2017 ini.?

Adapun narasumber yang akan hadir adalah Robikin Emhas (Ketua PBNU Bidang Hukum), Arifin Junaidi (Ketua LP Ma’arif NU), Lukman Hakim (Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah), Irsyad Yusuf (Bupati Kab Pasuruan), dan Margaret AM (Komisioner KPAI). (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 30 Juli 2006

Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri menegaskan bahwa pemagangan jangan dijadikan alat oleh industri untuk merekrut buruh dengan upah rendah.

“Pemagangan merupakan bagian dari pelatihan kerja untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan pemagangan berbasis jabatan,” kata Hanif saat menerima Perusahaan Industri Pemagangan yang tergabung dalam GAN (Global Apprenticeship Network) Indonesia pada Rabu (25/10) di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan.

Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah

Hanif menambahkan, pemagangan berbasis jabatan akan memiliki hasil yang jelas, sehingga mereka benar-benar memenuhi standar kompetensi sesuai jabatannya. Jangan anak magang disuruh bikin kopi atau fotokopi, mereka mau belajar apa?

Dikatakan Hanif, supaya pemagangan bisa berjalan dengan baik, maka industri harus memiliki planner dan instruktur pemagangan. “Kita perlu instruktur untuk membantu peserta magang berlatih, selain itu kita juga memerlukan planner untuk membantu proses pemagangan,” paparnya.

Sementara itu, untuk memudahkan kontrol dan pembinaan, Menaker Hanif menyarankan supaya semua industri bergabung dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dengan bergabung ke Kadin dan Apindo, maka proses monitoring dan pembinaan industri terkait pemagangan akan lebih mudah,” jelas Hanif.

Selain itu, Hanif menghimbau, saat ini kita harus merubah pola pikir dari yang sebelumnya mengandalkan sumber daya alam beralih ke bagaimana untuk memaksimalkan sumber daya manusia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sumber daya alam akan habis, oleh karena itu kita harus meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya, salah satunya adalah dengan pemagangan. Kita harus ‘jualan’ kompetensi,” kata Hanif.

Ketua Kawasan Industri MM 2100 Darwoto yang juga anggota GAN Indonesia menuturkan, industri akan mendapat lebih banyak keuntungan jika merekrut tenaga kerja yang sudah mengikuti program pemagangan.

“Merekrut tenaga kerja yang sudah mengikuti pemagangan jauh lebih produktif. Mereka sudah tau alur kerja di industri. Pemagangan bukanlah ‘kernet’, sehingga mereka harus berada di line produksi dan didampingi oleh mentornya,” jelas Darwoto.

Namun demikian, Darwoto menjelaskan, hingga saat ini masih banyak pihak yang menolak pemagangan karena dianggap praktek upah murah. “Mereka belum memahami bahwa pemagangan adalah program latihan kerja,” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Makam, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 01 Januari 2006

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Sepeninggal Rasulullah SAW, Malaikat Jibril akan tetap turun ke bumi. Tidak untuk menurunkan wahyu lagi, tetapi guna mengambil sepuluh mutira yang paling berharga dalam kehidupan manusia.

? الحمد لله أحمده وسبحاÙ? Ù‡ وتعالى على Ù? عمه الغزار, أشكره على قسمه المدرار, . أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. واشهد اÙ? سÙ? دÙ? ا محمدا عبده Ùˆ رسوله الÙ? بÙ? المختار. اللهم صل على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخÙ? ار وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . . Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Marilah kita kembali menambah kadar ketaqwaan kita kepada Allah swt dengan menghindar berbagai larangan-Nya dan juga menjauhi berbagai perkara yang dibenci Rasul-Nya. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita akan menghadapi kehidupan ini secara sempurna.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Memang tidak selayaknya kita membicarakan keburukan demi keburukan yang terjadi di muka bumi ini. Apalagi keburukan yag terjadi di sekitar kita, yang kerap kali melibatkan orang-orang dekat kita. Alangkah baiknya jikalau kita mulai melangkah menyelesaikan dan membenahi keburukan itu, tidak sekedar membicarakannya.

Tindak korupsi yang tidak kunjung surut, pasar narkoba yang semakin meluas, kriminalitas yang kian tinggi, norma dan nilai moral yang telah bergeser. Begitu merosotnya keadaan di sekitar kita, hingga berbagai fatwa ulamapun dianggap angin lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Guna berbenah itulah kita harus tahu persis akar permasalahan dari keburukan itu. Agar treatmen yang akan diberikan tidak salah sasaran. Nampaknya hadits Rasulullah saw ketika berdialog dengan Malaikat Jibril dapat dijadikan pegangan sebagai indikasi juga sebagai solusi.

Ketika Rasulullah saw dalam keadaan sakit yang menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah saw bertanya kepada Jibril “Jibril, apakah kamu nanti masih akan sering turun ke bumi ketika aku sudah meninggal? Jibril menjawab “masih Rasul, saya akan turun sepuluh kali lagi ke bumi, saya turun untuk mngambil sepuluh mutiara dari bumi ini sepeninggalmu”. Rasulullah saw pun penasaran, lalu bertanya kembali “mutiara macam apa yang igin kau ambil itu? jibril menjawab “لأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ)mutiara pertama yang akan saya ambil dari muka bumi ini adalah barokah.

Para kyai biasa memaknai barokah dengan ziyadatul khair. Yang secara bahasa dapat diartikan ‘tambah baik’. Artinya, sesuatu itu dianggap memiliki kebarokahan jika memang dapat melahirkan kebaikan yang lain. Misalkan berdagang yang berkah itu akan menjadikan pedagangnya makin banyak bersedekah dan tambah rajin beribadah. Begitu pula ilmu yang barokah itu akan menjadikan pemiliknya berperilaku semakin baik, tidak malah semakin buruk. Ilmu akuntansi yang barokah tidak akan disalah gunakan oleh pemiliknya untuk korupsi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara kedua yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah rasa dari hati manusia ? وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ) jika demikian, maka yang tersisa hanyalah rasa benci. Lihatlah sekarang di sekitar kita apakah masih ada cinta dalam hati penguasa yang membuat rakyat dan para petani hidup makin sengsara. Bagaimana ada cinta jikalau mereka tega mengimpor bahan baku dan menghancurkan harga local? Apakah itu cinta? Saya kira kita sudah bisa menilia dan menjawabnya.

Mutiara yang ketika yang akan diambil Jibril dari bumi ini adalah rasa sayang diantara keluarga (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ jikalau harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, tetapi sering kali kita temukan anak dan orang tua saling membunuh, bahkan seorang ibu tega menjual bayinya. Atau bahkan seorang anak menjual bapaknya. Bahkan dalam dunia politik yang semakin menghangat karena musim pilkada berapa saudara yang telah berubah menjadi musuh? Sepertinya rasa sayang antar keluarga semakin menipis. Namun demikian semoga Allah tetap melindungi kita semua.

Mutaiar keempat yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini keadilan di hati pemimpin وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ) rasa-rasanya mengenai hal ini kita bersama telah pandai menilai. Apakah kekuasaan di sekitar kita masih mengandung keadilan? Dapatkah disebut ke adilan jika terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum? Na’udzubillah min dzalik.

Mutiara kelima yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini adalah وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ) rasa malu dari perempuan. Rasa malu itu kini telah dirubah menjadi rasa bangga. Bangga menjadi perempuan simpanan. Bangga menjadi gadis gratifikasi seksual, bahkan sebagian menggunakan alasan seni demi menutupi kemaluan yang telah hilang. Semoga kita semua terhindar dari yang demikian ini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mutiara keenam yang akan diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ) kesabaran dari para fakir. Perlu diakui bahwa factor yang mengondisikan negara miskin dan berkembang tetap aman dan tertata adalah kesabaran para fakir dalam menerima bagian mereka. Namun, ketika golongan fakir miskin ini tidak sabar dengan nasib mereka, maka kesenjangan social bisa berubah menjadi kekacauan fisik. Inilah yang tergambar dalam prosesi premanisme di berbagai kota.

Mutiara ketujuh yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ) wirai dan zuhud dari para ulama. Wira’i adalah menjaga diri dari yang syuhbat dan yang haram, sedangkan zuhud itu tidak mementingkan harta-dunia, keduanya merupakan karakter para ulama. Akan tetapi jika wira’i dan zuhud telah hilang dari ulama maka nilai keulamannyapun mulai berkurang. Nampaknya inilah yang terjadi pada ulama kita. wajarlah jika akhir-akhir ini berbagai fatwa mereka tidak di dengar lagi oleh masyarakat. Pengajian-pengajiannya hanya dianggap sebagai tontonan.

Mutiara ke delapan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ) kedermawanan bagi orang kaya. Diantara unsur yang dapat melanggengkan sirkulasi kehidupan ekonomi dan social di suatu masyarakat adalah kesabaran fakir dan kedermawanan orang kaya. Keduanya akan saling mengisi. Namun jikalau semua itu lenyap, maka harmonisme dalam satu masyarakat dapat hilang tergantikan dengan unharmonism.

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara ke Sembilan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ) mengangkat al-Qur’an, tepatnya menghilangkan ruh al-Qur’an itu sendiri sebagai tuntunan dalam kehidupan. Memang, kemajuan teknologi kini makin mempermudah telinga kita mendengarkan lanutnan ayat-ayat al-Qur’an. melalui mp3, DVD, online bahkan juga tafsirnya pun dapat diperoleh dengan mudah pula. Akan tetapi semangat qur’an itu sendiri sekarang makin pudar bersama dengan makin mudahnya mendengarkan al-qur’an. Meski demikian kita harus tetap berusaha memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar Jibril tidak mengambil mutiara ini.

Dan terakhir, mutiara yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah iman. العاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ) mungkin ini adalah mutiara paling berharga diantara sembilan mutiara lainnya. Atau bisa saja ini adalah urutan mutiara yang paling akhir yang akan diambil oleh Jibril. Sebagaimana struktur teks hadits ini yang memposisikannya paling belakang. Iman itu ada di hati semoga Allah menetapkannya dalam hati kita masing-masing.

Jama’ah yang Dimuliakan Allah

Khotbah kali ini sebenarnya berdasarkan pada hadits yang bunyinya:

رُوِىَ Ø£ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ جِبْرِÙ? ْلَ عَلَÙ? ْهِ السَّلاَمُ Ù? َزَلَ عَلَى الÙ? َّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ Ù? اَجِبْرِÙ? ْلُ هَلْ تَÙ? ْزِلُ مِÙ? Ù’ بَعْدِى ؟؟ فَقاَلَ Ù? َعَمْ Ù? اَرَسُوْلَ اللهِ Ø£ÙŽÙ? ْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ قاَلَ Ù? اَ جِبْرَÙ? ْلُ وَماَتَرْفَعُ مِÙ? ْهاَ ØŸ قاَلَ Ø› (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ (وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ (وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ?

Dari hadits inilah khotib kemudian berusaha mengefaluasai realita zaman sekarang yang ternyata dalam bahasa hadits itu Jibril sudah mulai bertindak turun kebumi satu-persatu mengambil mutiara itu. Semoga masih banyak mutiara yang tersisa. Semoga Allah swt memberikan kekuatan pada kaum muslimin untuk menjaga kesepuluh mutiara tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

?

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا اَمَّا بَعْدُ

فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Redaktur: Ulil Hadrawy. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 30 Desember 2005

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Untuk kesekian kalinya Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) SMK NU Ma’arif 2 Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, mengadakan agenda Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Acara diikuti oleh 289 peserta kelas X dan dipandu oleh tim instruktur Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Jekulo. Selama dua? hari acara ini berlokasi di madrasah setempat dalam pembagian dua ruang terpisah, pada Kamis-Jum’at (14-15).

Wakil Kepala Urusan Kurikulum Madrasah, Mohammad Badawi, mengatakan, Makesta ini diadakan untuk menguatkan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah dan moral pelajar. Terdapat peningkatan jumlah peserta didik SMK NU Ma’arif 2, namun berasal tak hanya dari latar belakang NU. Karenanya, Makesta dirasa cukup penting untuk mengajarkan ihwal ke-NU-an pada para calon teknisi mesin, komputer dan jaringan ini.

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah

“Kami tidak pernah pilih-pilih pelajar. Yang NU maupun selainnya, kami terima. Melihat semakin banyak gerakan-gerakan yang menggerogoti NU dan Aswaja, maka mereka perlu mengikuti IPNU-IPPNU. Apalagi gerakan Islam radikal juga meluas, mereka benar-benar perlu penyelamatan sejak dini,” terang Badawi yang juga mantan aktivis PMII semasa kuliahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Moral juga yang kami tekankan di sini. Sekarang ini, PR terbesar para pendidik adalah soal moralitas pelajar. Terutama lagi untuk pelajar putri, mereka sangat rawan. Dibutuhkan penekanan aspek moral, agar selain pandai otomotif, juga berakhlakul karimah,” lanjut Badawi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Badawi juga mengatakan, pihaknya menjalin komunikasi dengan pengurus ranting. Ini dilakukan di antaranya untuk koordinasi agar peserta didiknya juga aktif dalam IPNU-IPPNU di desanya masing-masing.

Madrasah ini tengah berusaha menekankan peran Pimpinan Komisariat (PK). Sejak semula berdiri, madrasah memang telah menyelenggarakan agenda Makesta yang wajib bagi peserta didik baru. Namun sejauh ini, peran PK belum begitu optimal.

“Sejak berdiri, tahun 2009, madrasah telah mengadakan Makesta setiap tahun ajaran baru. Namun karena tergolong baru, Pimpinan Komisariat masih belum dapat aktif optimal dalam program kerjanya. Para pengurus cenderung lebih menginduk pada instruksi dari pihak madrasah. Ke depan, kami ingin agar Pimpinan Komisariat bisa lebih optimal lagi dalam menyusun dan melaksanakan progam kerjanya sendiri, tanpa harus menunggu instruksi,” terang Badawi.

Beberapa materi yang disampaikan saat Makesta berlangsung, yakni Ahlussunnah Waljama’ah, Ke-NU-an, Ke-IPNU-IPPNU-an, serta Keorganisasian. Selain IPNU-IPPNU, para peserta didik SMK NU Ma’arif 2 Kudus ini juga aktif dalam kegiatan ekstra pencak silat, Pagar Nusa. Setelah ini, rencananya mereka segera mengadakan diklat jurnalistik dan menerbitkan majalah. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 28 Oktober 2005

Pendidikan Keluarga dan Tantangannya

Oleh Waliyadin

Pendidikan keluarga memainkan peranan penting bagi perkembangan kehidupan seorang anak. Pendidikan dan pembelajaran 24 jam di sekolah pun belum tentu bisa menandingi efektifitas pendidikan keluarga lantaran ikatan emosional orang tua dan anak yang sudah terbentuk sejak awal masa kehidupannya.

?

Pendidikan Keluarga dan Tantangannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Keluarga dan Tantangannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Keluarga dan Tantangannya

Di dalam keluarga seorang anak mulai menyerap segala macam nilai-nilai pendidikan mulai dari mengenal bagaimana dunia ini bekerja, norma dan sistem nilai yang berlaku, bahkan keyakinan pada agamadimulai dari pendidikan yang ditanamkan kepada anak oleh orangtuanya. Di keluarga pulalah, kecerdasan dan perkembangan karakter dan budi pekerti seorang anak mulai berkembang. Boleh jadi itulah yang mendorong kementerian pendidikan dan kebudayaan menggalakan penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun demikian, pendidikan keluarga tidak lepas dari tantangan dalam pelaksanaanya. Nyatanya, masih kerap dijumpai keluarga yang tidak tuntas mengantarkan anaknya menjadi pribadi yang berhasil seutuhnya. Dengan perkataan lain masih banyak ditemui kegagalan pendidikan keluarga untuk mencetak generasi “jenius” meminjam istilah Karen Armstrong dalam bukunya Awakening Genius in the Classroom (1998).

?

Padahal, sejatinya setiap anak dalam keadaan jenius memiliki rasa ingin tahu yang besar (curiosity), semangat hidup yang tinggi (vitality), riang gembira (cheerful), menikmati hidup (joyfulness), dan sederet sifat dasar anak lainnya yang menunjukkan kejeniusan mereka.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masih mengutip gagasan yang dipaparkan oleh Armstrong, dalam buku tersebut dinyatakan bahwa lingkungan keluarga yang tidak kondusif justru mematikan kejeniusan seorang anak lantaran ada beberapa kondisi yang memicu terjadinya kerusakan kejeniusan anak. Pertama, disfungsi emosional merupakan kondisi dimana emosi seorang anak tidak berfungsi sebagaimana seharusnya.

?

Hal ini terjadi karena kondisi keluarga yang kacau lantaran orang tua ketergantungan minuman keras atau narkoba, pola makan yang tidak sesuai, kondisi keluarga yang penuh kekerasan, kehawatiran yang berlebihan dan depresi. Kondisi-kondisi seperti itulah yang menyebabkan seorang anak tidak memiliki gairah hidup, rasa ingin tahu menjadi redup, takut berbuat kesalahan, tingkat kebahagian hidup rendah yang menandakan matinya kejeniusan seorang anak.?

Kedua, kemiskinan dalam kehidupan keluargamenuntut orangtua menghabiskan banyak waktu untuk mencari penghidupan sehingga hampir tidak ada waktu untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak untuk belajar. Kemiskinan yang terus berlangsung dalam kehidupan keluarga inilah yang pada akhirnya menyebabkab seorang anak depresi dan kehilangan vitalitasnya karena mereka merasa kurang beruntung bila dibandingkan dengan temannya yang memiliki tingkat sosial dan ekonomi yang lebih baik. Kondisi tersebut akan semakin diperparah manakalaorangtua tergolong buta aksara karena tidak ada stimulus verbal yang bisa disampaikan oleh orang tua kepada anak untuk tetap memicu kecerdasannya.

Ketiga, gaya hidup yang penuh dengan ketergesa-gesaan (fast tract life style). Jika sebelumnya karena kondisi ketiadaan harta, kali ini justru karena orangtua bergelimang harta yang memicunya untuk menjalani hectic lives, kehidupan yang begitu padat dengan aktivitas menumpuk harta, kekayaan, dan kedudukan dalam karir tertentu. Tak ayal, orang tua tidak punya waktu untuk bercengkrama dengan anak. Karena persoalan kesempatan dan kesempitanwaktu itu, orangtua berusaha mendorong anaknya untuk berkembang lebih cepat meski belum waktunya.

?

Misalnya, sejak usia dini mereka dipaksa untuk mampu menguasai banyak keterampilan yang melampaui kapasitasnya sebagai seorang anak. Masa anak-anak yang penuh dengan kehidupan bermain ria direnggut oleh keculasan orang tua. Kondisi semacam itulah yang membawa dampak buruk bagi anak misalnya anak menjadi tertekan, depresi, rasa takut berlebihan, sakit kepala, dan kesulitan untuk berkonsentrasi saat belajar.

?

Keempat, kondisi dimana orang tua menerapakan ideologi yang rigid dengan cara mengasuh anak dalam lingkungan yang serba mencekam dan penuh kebencian manakala seorang anak tidak mau patuh dengan ideologi yang dianut oleh orang tua. Ideologi ini bisa menurut agama dan kepercayaan yang dianut oleh orangtua atau mungkin landasan filosofis yang dianut olehnya. Lingkungan keluaraga yang seperti itu menjadikan anak selalu merasa curiga dan tidak memiliki alternatif dalam bertindak, sensitivitas terhadap keberagaman menjadi mati, keluwesan dalam berfikir pun menjadi beku.

Agaknya itulah kondisi dilingkungan keluarga yang perlu dihindari bagi setiap orangtua yang memikul tanggung jawab awal mendidik putra-putrinya. Jangan sampai lingkungan keluarga yang sejatinya lingkungan yang paling ideal untuk menjadikan seorang anak menjadi generasi yang berguna bagi dirinya sendiri, orangtua, nusa, bangsa dan agama sudah dimatikan potensinya oleh orangtuanya sendiri.

?

Kondisi-kondisi itu pulalah yang perlu menjadi perhatian bagi para pemangku kebijakan dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan yang akan menerapkan kebijakan full day school melalui sekolah lima hari. Kebijakan itu memang menghendaki tersedianya banyak waktu antara orangtua dengan anak. Namun, ketersediaan banyak waktusaja tidak cukup masih ada banyak hal yang semestinya ada di lingkungan keluarga yakni figur orangtua yang baik, terpenuhinya kebutuhan dasar setiap keluarga, serta ideologi demokratis dalam mendidik anak.

?

Dengan terciptanya kondisi keluarga yang kondusif dan terbebasnya dari permasalahan keluarga, maka harapan terciptanya generasi jenius hasil proses pendidikan keluarga bisa terpenuhi. Sebaliknya jika belum bisa terpenuhi maka penguatan pendidikan keluarga sepertinya akan terus mengalami hambatan.

?

Mahasiswa Pascasarjana University of Canberra dan Penerima Beasiswa Luar Negeri Program 5000 Doktor Kementerian Agama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 28 Juni 2005

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Keluarga besar Gerakan Pemuda Ansor kembali kehilangan sosok pemberani dan murah hati. Wawan, salah satu anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) meninggal dunia, Kamis (9/3) pukul 03.30 WIB, selang beberapa jam selesai menjalankan tugas membantu korban puting beliung di daerah Tamansari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut Haris sesama anggota Banser, Wawan seperti biasanya membantu warga masyarakat yang tertimpa musibah.

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

"Dia itu Ketua RT dan mempunyai jiwa sosial tinggi, tegas, baik, dan perhatian terhadap keluarganya," ujar Haris selesai menshalatkan almarhum.

Haris menceritakan, setelah kejadian puting beliung yang mengakibatkan kerusakan di beberapa tempat, seketika para anggota Banser berdatangan untuk membantu tidak terkecuali almarhum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami sesama Banser kaget, soalnya malam tadi Wawan bersama Ansor-Banser yang lainnya masih biasa saja, tidak terlihat sakit atau tanda-tanda, tiba-tiba menjelang Subuh kami mendengar kabar duka tersebut," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikabarkan, Wawan pulang ke rumahnya sekitar pukul 21.00 WIB setelah membersihkan puing reruntuhan dan pohon tumbang yang menimpa bangunan Pondok Pesantren Miftahul Anwar, Nangela.

Almarhum yang beralamat di Ciharashas RT 01/RW 08 Kelurahan Sumelap ini meninggalkan seorang istri bernama Juju dan empat orang anak. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Allahummaghfir lahu warhamhu waafihi wa`fu anhu.. Aamiin. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 08 Maret 2005

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi

Demak,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Demak Jawa Tengah mengadakan lomba menulis artikel dan puisi. Lomba tersebut untuk aggota IPPNU dan pelajar MA/SMA/SMK se-Demak. Naskah bisa dikirim mulai 23 September sampai 17 Oktober 2014.

Ketua PC IPPNU Demak Fitriyah mengatakan lomba menulis pelajar NU ini dalam rangka mengakhiri masa khidmat kepengurusan sebagai rangkaian kegiatan pra-Konferensi Cabang.

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi

Ia menyebut lomba tersebut sebagai sarana untuk menumbuhkan semangat menulis sehingga kemampuan kader IPPNU di bidang  kepenulisan atau jurnalistik semakin meningkat.

"Melalui lomba ini diharapkan muncul kader IPPNU yang menjadi penulis-penulis muda yang bisa mampu ikut mengisi dan mewarnai media massa serta berkembang di wadah IPPNU," katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah via telepon, Jumat (26/9).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengenai persyaratan lomba, Ia menjelaskan peserta adalah anggota IPPNU dan siswi MA/SMA/SMK s-Demak dengan usia maksimal 20  tahun. Tema artikel "Pelajar, Generasi Harapan Bangsa", sementara puisi bertema " Pelajar dalam Bingkai Belajar, Berjuang dan Bertaqwa".

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Peserta boleh mengikuti kedua lomba atau salah satu dengan syarat hanya diperbolehkan mengirimkan 1 naskah artikel atau puisi dan harus asli karya sendiri serta belum pernah dipublikasikan," terang Fitri.

Pengiriman naskah artikel dan puisi paling lambat tanggal 17 Oktober 2014 pukul 16.00 WiB ke alamat email: pc_ippnu_demak@yahoo.co.id. Pendaftaran lomba yang tidak dipungut biaya tersebut bisa melalui Group facebook "lomba menulis PC IPPNU Demak".

"Kami menyediakan hadiah berupa sertifikat, uang pembinaan dan hadiah menarik lainnya bagi para pemenang,"imbuh Fitri seraya menyatakan informasi jelasnya bisa dilihat pada pamflet selebaran. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah