Kamis, 26 Mei 2016

Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1)

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jika berbicara soal Aswaja, kurang lengkap rasanya kalau tidak memperbincangkan ? Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Antirogo, Jember, Jawa Timur. Pasalnya, pesantren yang terletak di 5 kilometer ke arah utara Kota Jember ini mengusung komitmen yang kuat untuk menyemai ? bibit-bibit Aswaja.?

Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nuris, Ladang Subur Persemaian Bibit Aswaja (1)

Berawal dari sebuah kerisauan yang merajam jiwa KH. Muhyiddin Abdusshomad, pengasuh Pesanten Nuris. Sebagai tokoh NU, ia merasa gundah karena posisi Aswaja (NU) yang moderat semakin lama semakin terjepit oleh dua aliran yang berseberangan. Yang satu adalah aliran liberal.?

Dan satunya lagi aliran radikal. Yang disebut terakhir ini, gerakannya cukup massif, dan gampang meraih simpati ? masyarakat. Tidak hanya itu, mereka juga berani terang-terangan mencaci-maki, mencap amaliah NU sebagai amalan bidah, khurarat, bahkan kafir.

Sebagian orang, menilai hal tersebut sebagai persoalan yang remeh-temeh. Namun bagi Kiai Muhyiddin, menjamurnya aliran radikal di Indonesia, termasuk Jember ? merupakan awal petaka. Sebab, mereka mempunyai kemampuan menyusup dan berbaur di tengah-tengah masyarakat.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan semangat "dakwah" yang militan, didukung oleh finansial yang memadai, sungguh mereka bisa menjadi ancaman serius bagi NU, bahkan bangsa Indonesia. Betul, Islam mungkin tak akan hilang dari bumi Indonesia. Tapi bukan mustahil, ? NU kelak hanya tinggal papan nama ? jika agresifitas kelompok radikal dibiarkan leluasa bergerak menebar propaganda palsu.?

"Mesir asalnya sunni. Begitu juga ? Turki, Irak dan masih banyak lagi. Tapi akhirnya aliran sunni di situ jadi minoritas bahkan habis sama sekali," tukas putra Kiai Muhyiddin, Ra Robith Qashidi kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Itulah sebabnya, Kiai Muhyiddin mengadakan perlawanan dengan menerbitkan sejumlah buku yang berisi dalil atau argumentasi tentang amaliah warga NU. Sebab, mereka menyerang ajaran atau amaliah NU. Berarti benteng dalilnya harus diperkuat. Diantara bukunya adalah "Fiqih Tradisionalis: Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari", "Tahlil Dalam Perspektif Alquran dan As-sunnah (kajian Kitab Kuning)",? dan sebagainya.?

Satu lagi kitab "perlawanan" Kiai Muhyiddin berbahasa Arab, yaitu "Al-Hujjaj ? al-Qathiyyah lil-Aqaaid wal Amaliyyah an-Nahdliyyah". Kitab ini bahkan menjadi materi kajian dan dihatamkan ? di sejumlah pesantren besar seperti Matholiul Falah asuhan Kiai Sahal Mahfudz, Pesantren Ngunut, Tulungagung, pesantren Mojogeneng, Mojokerto, pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Ilmu Al-Quran pimpinan Kiai Bashori Alwi, Malang dan Sekolah Tinggi Agama Islam, Tambak Beras Jombang.?

"Masih banyak pesantren besar lain yang bahkan menjadikan buku dan kitab abah sebagai materi pelajaran wajib bagi santrinya," lanjut Ra Robith.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gerakan Kiai Muhyiddin ternyata merangsang timbulnya ghirah di kalangan tokoh NU dan pengasuh ? pesantren. Antusiasme sejumlah pesantren di atas dalam mengkaji kitab dan buku ? karya Kiai Muhyiddin ? menjadi petunjuk sahih betapa langkah dan gerakannya dapat menginspirasi "perlawanan" pesantren terhadap aliran kontra NU, dengan cara memperkuat benteng dalil amaliyah NU.

Dalam perkembangan yang sama, Kiai Muhyiddin juga mendorong pendirian Aswaja Center ? dan memaksimalkan kiprah Lembaga Bahtsul Masail PCNU Jember. Munculnya nama-nama seperti Ustdaz Idrus Ramli, Mahmulul Huda, Abdul Haris, Gus Wahab ? dan lain-lain tak lepas dari besutan tangan dingin Kiai Muhyiddin.?

Mereka siap "tempur" untuk mendebat aliran radikal dan liberal dalam kondisi dan situasi apapun. Kiai Muhyiddin sendiri saat itu juga keliling Nusantara memenuhi undangan pelatihan Aswaja.

Pesantren Nuris, tentu saja menjadi ladang subur untuk menyemaikan bibit Aswaja. Karena itu, Kiai Muhyidin lalu mencanangkan tekad bahwa pesantren yang dipimpinnya ? merupakan kawah candradimuka bagi lahirnya kader-kader Aswaja yang mumpuni. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 19 Mei 2016

Indonesia Siap Berperan Dukung Kemerdekaan Palestina

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Presiden Joko Widodo mengatakan Indonesia siap berperan untuk mendukung tercapainya perdamaian di Palestina.

"Indonesia siap berperan untuk mendukung proses perdamaian ini," kata Jokowi dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Balai Sidang Jakarta pada Ahad sore.

Indonesia Siap Berperan Dukung Kemerdekaan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Siap Berperan Dukung Kemerdekaan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Siap Berperan Dukung Kemerdekaan Palestina

Menurut Presiden, dengan diselenggarakannya KTT Luar Biasa ke-5 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maka seluruh negara anggota dapat lebih bersatu menjunjung kemerdekaan Palestina.

Konferensi tersebut diharapkan Presiden RI dapat mendorong negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mendukung kepentingan Palestina dan juga ASEAN di semua hal.

"Saya berharap negara-negara Islam lebih banyak mendukung proses perdamaian di Palestina dan Israel," tegas Presiden.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelumnya, Presiden mengatakan Indonesia selalu mendukung agar Palestina menjadi negara berdaulat.

Hal itu, jelas Presiden, ditunjukkan melalui pembukaan kantor konsulat kehormatan di Kota Ramallah, Palestina pada Maret 2016.

KTT LB ke-5 OKI yang diselenggarakan di Jakarta pada 6-7 Maret 2016 juga merupakan bentuk nyata upaya negara-negara OKI, termasuk Indonesia, untuk mendorong penyelesaian konflik di Palestina.

Indonesia telah diminta negara Mesir dan Palestina untuk menyelenggarakan KTT Luar Biasa yang membahas kedaulatan Palestina dan pendirian Al Quds Al Syarif. (Antara/Mukafi Niam)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 08 Mei 2016

Sidang Paripurna DPD RI Dorong Daerah Siap MEA 2015

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Selasa (13/1) ini, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) akan menggelar Sidang Paripurna ke-9 dengan ? agenda di ? Gedung Nusantara V MPR RI/DPD RI. Sidang paripurna akan membahas mengenai Acara Persidangan DPD RI Massa Sidang 2014-2015.

Sidang Paripurna DPD RI  Dorong Daerah Siap MEA 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Paripurna DPD RI Dorong Daerah Siap MEA 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Paripurna DPD RI Dorong Daerah Siap MEA 2015

Kepala Pusat Data dan Informasi Sekretariat Jenderal DPD RI Nana Sutisna, dalam rilis pers yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah mengatakan, Sidang Paripurna DPD RI dilaksanakan dengan agenda Sidang Pidato Pembukaan Masa Sidang II DPD RI Tahun Sidang 2014-2015 oleh Ketua DPD RI Irman Gusman, didampingi wakil ketua Farouk Muhammad dan GKR Hemas dan diakhiri dengan laporan Kegiatan Anggota DPD RI di daerah Pemilihan.

Para senator dari 33 propinsi telah melakukan reses ke daerah masing-masing dengan agenda melalukan pemantauan langsung; Salah satu point adalah Kesipan Daerah menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Tahun 2015.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu point penting adalah kesiapan daya saing masing-masing daerah dalam masyarakat ekonomi ASEAN 2015 karena disadari atau tidak daerah yang paling merasakan dampaknya disamping menurunnya daya beli masyarakat disebabkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), dan tingginya tingkat pengangguran di daerah. Untuk itu diharapkan pemerintah harus bekerja keras melakukan percepatan semua kebijakan ekonomi demi mendongkrak daya saing bangsa di regional ASEAN.

Daerah-daerah harus mengangkat produk khas daerah yang berkualitas dan terstandarisasi sehingga daerah mendapatkan efek positif di era pasar bebas kawasan ASEAN tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sidang paripurna DPD RI merupakan bagian dari mekanisme sistem pengawasan anggota DPD RI.

Dalam Laporan ? kegiatan setiap anggota DPD RI di daerah pemilihannya biasanya juga akan membahas tentang kesiapan daerah dalam berbagai aspirasi masyarakat melingkupi antara lain otonomi daerah, pendidikan; agama; kebudayaan; kesehatan; pariwisata; pemuda dan olahraga; kesejahteraan sosial; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; tenaga kerja dan transmigrasi; ekonomi kreatif; dan permasalahan lainnya yang berhubungan dengan aspirasi masyarakat dan daerah yang ditampung oleh anggota dewan.

Menurut rencana, dalam Sidang paripurna yang akan dihadiri oleh para senator dari 33 provinsi tersebut, juga akan membahas beberapa program kerja ke depan; salah satunya adalah membangun komunikasi dengan media massa. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 02 Mei 2016

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ratusan pelajar dan santri SMP – SMK dan pesantren Az Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan upacara bendera berlangsung di halaman kompleks Az Zahra, Rabu (1/10).

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar dan Santri Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Inspektur upacara, Misbah dalam amanatnya menyampaikan upacara bukan sekadar ritual tapi perlunya mengunduh sebuah nilai. Kepala SMP Az Zahra itu menyontohkan petugas upacara yang dilakukan kelas VII. Jika ada kekurangan, terangnya tidak perlu ditertawarakan namun dijadikan pelajaran berharga.

"Kekurangan yang ada pada petugas upacara kelas VII, tingkatan terendah di Az Zahra bukan dijadikan bahan tontonan tetapi tuntunan. Oh, maklum mereka masih belajar. Kedepan kelak mereka tambah baik," jelas Misbah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia melanjutkan dengan Pancasila sebagai salah satu dasar negara merupakan komitmen bangsa untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Disamping itu perlu pula didasari akhlak mulia. Hal itu sebagaimana tercermin dalam lembaga dipimpinnya. "Di SMP ada pembelajaran praktik yakni shalat Dluha sedangkan di SMK mapel takhasus," imbuhnya.

Hal itu sambungnya untuk menguatkan kualitas akhlak peserta didik. Dengan akhlak, etika dan moral niscaya pelajar tetap disegani dimana pun berada apalagi eksitensi bangsa juga perlu didasari moral bangsa.(Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Budaya, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 April 2016

Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Desa Kumbo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengikuti karnaval peringatan HUT Kemerdekaan Ke-68 RI, pada Kamis (22/8) lalu.?

Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan

Pimpinan Ranting IPNU Desa Kumbo M. Aan Ainun Najib mengatakan, pelajar NU sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Walaupun terik matahari sangat menyengat, para peserta mengikuti acara sampai selesai. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Ranting IPNU-IPPNU dan Karang Taruna Desa Kumbo.

Aan juga menjelaskan ini adalah wujud bakti kita kepada bangsa, wujud nasionalisme dan patriotisme bela negara. Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini generasi muda dapat lebih aktif dalam mewujudnyatakan pembangunan Bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebagai langkah sosialisasi kita kepada masyarakat, kami juga membagikan lembaran informasi tentang Ranting Kumbo. Lembaran tersebut berisikan, sejarah berdirinya Ranting Kumbo, tujuan berdiri, fungsi IPNU-IPPNU, syarat perekrutan kader baru dan cara pendaftaran. Dengan adanya kegiatan ini kami harapkan pengkaderan pelajar NU tidak akan putus”, tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Rencana kami ke depan ingin menyelenggarakan pelatihan komputer gratis untuk para rekan dan rekanita IPNU-IPPNU Ranting Kumbo. Kami akan bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Komputer (LPK) Yayasan Bina Dhuafa Indonesia,” harapnya.?

Wafa’udin selaku ketua Karang Taruna Desa Kumbo mengatakan, keikutsertaan para Pelajar NU membuat tambah meriah acara ini. Walaupun perencanaan acara ini sangat singkat, tetapi penyelenggaraannya cukup meriah. Bukan hanya pelajar NU yang meriahkan acara ini, ada pula dari SD, MI, MTs dan SMK Kumbo, mereka sangat antusias mengikuti acara sampai selesai.

Wafa’udin yang juga sebagai Ketua Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) Desa Kumbo menambahkan, kami juga menyediakan seratus nasi bungkus untuk para peserta, baik Karang Taruna maupun IPNU-IPPNU.

Dan pada malam harinya, juga diselenggarakan Pagelaran Ketoprak sebagai wujud pelestarian budaya jawa. Acara ini diselenggarakan selama semalam suntuk.?

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor: M. Syahri DM

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 April 2016

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Ini catatan perjalanan Ustadz Fauzi Palestin yang beberapa hari lalu melakukan perjalanan ke Malaysia. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini diundang komunitas masyarakat Indonesia yang berada di negeri Jiran tersebut. Bagaimana seru dan kekhasan yang dirasakan selama kegiatan maulid? Berikut uraiannya.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa bulan Rabiul awal merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Mayoritas umat Islam merayakannya sebagai ekspresi bahagia dan syukur yang tak terhingga atas lahirnya Nabi yang mulia, tak terkecuali penduduk Indonesia yang berada di Malaysia bahkan tidak sedikit yang sudah menjadi warga Negara Malaysia.

Berdasarkan safari dakwah yang saya lakukan di beberapa tempat, seperti di kota Kemuning, Damansara, Sungai Buloh dan sebagainya, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Pertama, saya melihat warga Indonesia di negeri Jiran ini dalam merayakan maulid Nabi sangat antusias bahkan bisa dikatakan sebagai pelopor dzikra maulidir rasul. Hal ini bisa dilihat dari kekompakan dalam pelaksanaan maulid. Kalau di daerah perkotaan sebagian besar penyelenggaranya adalah orang Bawean Gresik yang sudah menjadi warga di sana.

Adapun di daerah perumahan yang masih dalam proses pembangunan, banyak digagas orang Madura. Dalam sebulan, orang Madura bisa menyelenggarakan dua bahkan tiga kali acara pengajian dalam rangka maulidir rasul.

Kedua, orang Indonesia di Malaysia tidak sekedar menyelenggarakan seremonial yang hanya diikuti mereka yang berasal dari Indonesia, tapi juga ikut bergabung orang Melayu selaku penduduk asli. Mereka seakan dipersatukan, dan terlibat aktif dalam menyukseskan acara dan tentu saja bergabung dalam satu majlis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kala itu saya menceritakan betapa dahsyat ulama Indonesia hingga reputasinya yang mendunia. Ada  Syaikh Ihsan Jampes yang menyarahi kitab Minhajul Abidin menjadi Sirajut Thalibin, demikian pula Imam An-Nawawi al-Banteni yang juga mengarang kitab Al-Arbain Nawawi. Kala itu saya tidak lupa mengenalkan kewalian Syaichona Cholil Bangkalan yang dikenal umat Islam di Nusantara bahkan dunia.

Saat di Kota Damansara selepas pengajian, ternyata ada orang Melayu berkeinginan menguliahkan putranya yang sekarang sedang menghafal al-Quran di Indonesia. Yang bersangkutan sempat mencatat nomor hape saya.

Ketiga, teknis pelaksanaan maulid, demikian pula budaya yang digunakan layaknya di Indonesia, Sebagaimana di tanah air, dalam peringatan maulidir rasul yang dibaca adalah qasidah maulid al-Barzanji yang dikarang Sayyid Jakfar bin Abdul Karim. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bahkan shalawat khas Indonesia seperti pembacaan Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur juga dikumandangkan. Dan lagu yang digunakan pun sesuai pola khas di Tanah Air yang disertai musik tradisional compang, yakni sejenis marawis.

Keempat, tidak kalah menarik pula, model berkat atau makanan untuk dibawa pulang yang mereka buat sangat unik dan bervariasi. Kalau orang Madura menggunakan buah sebagai menu pokoknya, mayoritas warga Bawean memanfaatkan aneka ragam jajan dan minuman, bahkan di dalamnya disertakan sarung, sajadah, termasuk sabun mandi. 

Menurut informasi yang saya dapat, untuk membuat satu buah berkat saja dibutuhkan biaya 500 ringgit. Dan waktu yang dibutuhkan untuk membungkus menjadi layak diberikan sampai seminggu lamanya. Itu dilakukan agar berkat terlihat menarik dan menyenangkan para tamu undangan.

Karena didesain sedemikian rupa dan ukurannya lumayan besar, untuk membawa berkat ke rumah harus memakai mobil khusus, termasuk petugas sampai dua hingga tiga orang. Berkat itupun diberikan kepada setiap undangan.

Walau berkat bukan menjadi tujuan, besarnya ukuran menjadi bukti rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, saat diberikan kesempatan memberikan mauidhah, saya katakana bahwa bila dikalkulasi, dana yang dikeluarkan untuk maulid tidaklah melebihi dari biaya para pecandu rokok dalam setahun. Dan para undanganpun yakni jamaah yang hadir tertawa renyah.

Kelima, khusus di Kota Kemuning Taman Wijaya, yang membuat maulid terasa berbeda adalah karena kekompakan anak muda. Saat ceramah, mereka berada di shaf paling depan. Tak hanya itu, secara khusus juga membuat berkat jumbo dengan varian isi yang sangat beragam.

Ketika saya bertanya kepada salah seorang pemuda terkait iuran yang dibutuhkan untuk membuat berkat jumbo tersebut, ternyata masing-masing dikenakan biaya 10 ringgit.

Melihat kekompakan anak-anak muda ini, saya mengurai kisah seorang pemuda di zaman Harun Al-Rasyid yang mendapatkan kenikmatan di alam kubur karena memuluskan bulan Rabiul Awal. Cerita tersebut sebagaimana ditulis Sayyid Satha dalam kitab Ianatul Thalibin.

Segala kisah ini menjadi catatan penting bahwa tradisi Indonesia bisa menjadi kegiatan keagamaan yang membahana di Malaysia. Semoga mereka tidak lupa akan tanah leluhur, terlebih dalam upaya menjaga hubungan antara kedua negara. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 24 April 2016

Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan?

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat Islam. Sudah barang tentu, sebagai pedoman maka umat Islam perlu memahaminya. Oleh sebagian pihak kemudian juga dibuat terjemahan, dengan maksud untuk membantu dalam memahaminya. Namun sayangnya, terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia ini, kemudian justru menghilangkan beberapa sisi keindahan dalam Al-Qur’an yang diturunkan Allah dalam bahasa Arab.

Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan?

Demikan, disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus pada pengajian yang diselenggarakan Pesantren Tahfidz wa Ta’limil Qur’an Masjid Agung Surakarta dan Jamuro, di Serambi Masjid Agung, Ahad (29/11) malam.

“Sekarang ini banyak yang paham Al-Qur’an, tapi hanya lewat terjemahan. Padahal balungan kata arab dan Indonesia ini lain, kalau dileterlek orang Indonesia ya tidak paham. Tapi praktis orang yang ingin mengerti makna al-Qur’an, pasti membuka terjemahan ini,” kata kiai yang akrab disapa Gus Mus ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Secara pribadi, Gus Mus juga kurang sepakat dengan adanya terjemahan Al-Qur’an ini. “Kalau saya tidak cocok dengan penerjemahan al-Quran, tapi sampeyan monggo, wong ini negara demokratis,” ujar dia.

Hal ini, menurut Gus Mus akan menghilangkan banyak hal: kasusastraan, balaghah, bayan, badi’. “Keindahan al-Qur’an itu dalam bahasa Arab: qoma zaidun, zaidun qoimun, inna zaidun qoimun, kana zaidun qoiman itu beda semua, kalau diterjemahkan bahasa indonesia maknanya satu, zaid berdiri,” papar Gus Mus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ditambahkan Gus Mus, yang pernah mengemban amanah sebagai Rais ‘Aam PBNU ini, ungkapan-ungkapan indah yang ada di Al-Qur’an juga akan banyak yang hilang ketika diterjemahkan. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah