Minggu, 12 Juli 2015

Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader

Padangpariaman,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat terus melakukan pembenahan dengan konsolidasi kepengurusan Pimpinan Cabang di kabupaten dan kota. Kader Cabang-cabang yang sudah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) diminta mempersiapkan diri melaksanakan PKD lanjutan dan Konferensi Cabang (Konfercab).

Demikian diungkapkan Ketua Tim Carateker Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman pada rapat Tim Carateker PW Ansor Sumbar, Selasa (8/9) di batas Kota Padang – Padangpariaman.

Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sumbar Terus Benahi Organisasi dan Kader

Dikatakan Rahmat, sesuai dengan SK Pengesahan Penunjukkan Tim Caretaker PW GP Ansor Sumbar tahun 2015 tertanggal 2 September 2015, menetapkan penasehat Rahmat Hidayat Pulungan (PP GP Ansor) dan Drs. Rusli Intan Sati, MM. Ketua Rahmat Tuanku Sulaiman, Sekretaris Hafnizon dengan anggota Armaidi, Firdaus, Zeki Ali Wardana dan Afriendi Sikumbang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Rahmat Tuanku Sulaiman, dalam waktu dekat Tim Caretaker berkoordinasi dengan kader Ansor di sejumlah Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. "Untuk lebih memaksimalkan kerja Tim Caretaker, masing-masing anggota mengkonsolidasi kabupaten/kota. Hafnizon (Kota Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan), Afriendi (Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam dan Kota Padangpanjang), Armaidi (Kota Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat), Zeki Ali Wardana (Kabupaten 50 Kota, Kota Payakumbuh dan Kabupaten Pesisir Selatan), Firdaus (Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Dhamasraya)," katanya.

"Kami berharap kader-kader Ansor, pemuda nahdiyin dan aktifis pemuda lainnya untuk menyiapkan diri masuk dalam kepengurusan Ansor di masing-masing Kabupaten/Kota. Sebelum dilaksanakan Konfercab, masing-masing pengurus diharuskan mengikuti PKD," kata Rahmat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rapat Tim Caretaker ini dihadiri Ketua Rahmat Tuanku Sulaiman, Sekretaris Hafnizon dengan anggota Armaidi, Zeki Ali Wardana dan Afriendi Sikumbang, minus Firdaus yang berhalangan hadir.

Di bagian lain, Rahmat menambahkan, pada Mei 2015 lalu PW GP Ansor Sumbar sudah melaksanakan PKD sebanyak 5 angkatan yang menghasilkan 205 kader yang sudah mengikuti PKD. "Syarat menjadi pengurus PC Ansor di Kabupaten/Kota harus mengikuti PKD yang disetujui oleh PP GP Ansor. Selain itu, instruktur PKD langsung dari PP GP Ansor Jakarta," tutur Rahmat mantan anggota KPU Kabupaten Padangpariaman ini. (armaidi tanjung/abdullah alawi)

Keterangan foto:

Rahmat Tuanku Sulaiman sedang memimpin Rapat Tim Caretaker, Selasa (8/9/2015)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 11 Juli 2015

Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah? . Menteri Sosial Republik Indonesia Hj Khofifah Indar Parawansa meminta kepada para korban lumpur lapindo yang berada di dalam Peta Area Terdampak (PAT) untuk segera melengkapi berkas atau persyaratan pencairan dana talangan korban lumpur yang masih kurang selambat-lambatnya tanggal 31 Juli 2015.

Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencairan Dana Talangan, Mensos Minta Kumpulkan Berkas Selambatnya 31 Juli

"Sekarang masih kita cocokkan sejumlah 3337 berkas dan baru 1027 berkas yang tervalidasi. Kami juga masih menunggu kelengkapan warga sampai 31 Juli. Supaya pada pencairan nanti warga sama-sama menerima," kata Khofifah kepada ratusan warga korban lumpur lapindo di Pendopo Delta Wibawa, Selasa (14/7).

Menurutnya, semua dokumen harus masuk paling lambat 31 Juli 2015. Kalau ada surat keterangan kematian, mohon Bupati Sidoarjo untuk membantu percepatan dokumen yang dibutuhkan warga. "Bagi warga yang belum melengkapi surat-suratnya, supaya meminta bantuan Bupati, Camat dan Lurah setempat," tegas Pimpinan PP Muslimat NU ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia juga meminta kepada Pansus DPRD Tingkat II terkait dengan korban lumpur Sidoarjo untuk pro aktif membantu kelengkapan percapatan dokumen. Tidak hanya itu saja, dirinya juga meminta kepada Minarak Lapindo Jaya, BPLS, Pemkab Sidoarjo dan DPRD untuk sama-sama pro aktif dalam membantu masyarakat.

“Jika semua berkas sudah lengkap, maka data tersebut akan dibawa ke KPKN dan akan ditransfer ke warga korban lumpur lapindo lewat rekening BRI,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah mengingatkan, bahwa awal musibah luapan lumpur di Porong, Tanggulangin dan Jabon terjadi sejak 29 Mei 2006. Dirinya bersama pemerintah sudah bersusah payah melakukan cara untuk melunasi dana bagi para korban. Saat ini sedang berlangsung proses validasi diharapkan selesai secepatnya.

"Bagi warga yang belum melengkapi persyaratannya supaya diselesaikan secepatnya. Memecahkan permasalahan ini tidak gampang, karena ini uang negara. Sekali lagi tidak gampang. Maka warga korban lumpur harus sabar," ungkap Abah Ipul sapaan akrab Bupati. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Juni 2015

Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin menyambut kedatangan 564 jamaah haji yang baru tiba dari tanah suci, Kamis (30/10). Para tamu Allah SWT tersebut disambut di obyek wisata religius Miniatur Ka’bah Desa Curah Sawo Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo.

Dibandingkan dengan waktu pemberangkatan, jumlah jamaah haji berkurang 3 (tiga) jamaah. Pasalnya selama menjalankan ibadah haji, ketiga jamaah haji tersebut wafat di tanah suci. Yaitu, Sudarko bin Kastam (51), warga Desa/Kecamatan Sukapura, Suwito bin Sidin (54), warga Desa Pesisir Kecamatan Sumberasih dan Nirjo (63), warga Desa Alas Tengah Kecamatan Besuk.

Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Probolinggo Sambut 564 Jamaah Haji

Kedatangan jamaah haji Kabupaten Probolinggo terbagi dalam dua gelombang. Yakni gelombang pertama adalah jamaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 46 dengan 123 jamaah haji. Sementara gelombang kedua dengan 441 jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 47.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berkat kesiapan dan kesigapan petugas keamanan, proses kedatangan jamaah haji dan penjemputan oleh keluarganya mulai malam hingga dini hari itu berjalan lancar dan sukses. Meskipun ketika rombongan bus yang mengangkut jamaah haji tiba, gerombolan massa sempat memaksa untuk maju mendekat pagar pembatas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perasaan tidak sabar menahan rasa rindu ingin bertemu keluarga membuat ribuan penjemput sempat memaksa menerobos masuk. Hiruk-pikuk massa yang mencari keluarganya segera bercampur dengan keharuan dan isak tangis bahagia tatkala mereka bertemu dengan orang-orang yang sangat dirindukannya.

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin menyampaikan ucapan selamat datang dan bersyukur karena jamaah haji Kabupaten Probolinggo telah tiba di Tanah Air dalam kondisi sehat dan selamat. ”Selamat datang kembali di Kabupaten Probolinggo. Semoga menjadi haji yang mabrur,” ungkapnya.

Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo H Busthami mengungkapkan jamaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci itu langsung menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya untuk menyelesaikan beberapa proses administrasi seperti pemeriksaan paspor dan cek kesehatan.

“Setelah melalui pemeriksaan paspor, barang bawaan dan pemeriksaan kesehatan, selanjutnya jamaah haji diserahkan kepada petugas Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo untuk pemulangannya ke Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Terkait dengan wafatnya 3 jamaah haji, Busthami mengaku masih menunggu Surat Keterangan Kematian (SKK) dari Konsulat Jenderal (Konjen) Indonesia di Arab Saudi. ”Setelah SKK didapatkan, kami akan mengurusi administrasi untuk pencairan asuransi yang akan diberikan pada ahli waris,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Juni 2015

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan pemotretan program Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) tiap-tiap ranting di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo berjalan dengan sukses dan lancar. Tidak tanggung-tanggung, tercatat sedikitnya 14.250 warga Nahdliyin turut serta dalam program yang digagas oleh PBNU tersebut.

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

14.250 Warga Sumberasih Ikuti Pemotretan Kartanu

Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi evaluasi pelaksanaan program Kartanu yang digelar oleh MWCNU Kecamatan Sumberasih, Kamis (11/4) malam. Menurut Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Sumberasih Imam Syafi’i, jumlah ini merupakan perolehan terbesar untuk program Kartanu di Kabupaten Probolinggo.

“Dari MWC-MWC yang sudah melaksanakan pemotretan Kartanu, jumlah warga Nahdliyin yang mengikuti Kartanu di Kecamatan Sumberasih merupakan yang terbesar se Kabupaten Probolinggo. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat menyambut antusias program Kartanu ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Imam, keberhasilan dan kesuksesan pelaksanaan program Kartanu ini diraih berkat kerja sama seluruh pengurus NU, lembaga, lajnah dan badan otonom yang ikut melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang penting dan manfaatnya Kartanu sebagai database warga NU.

Alhamdulillah, semua warga Nahdliyin menyambut baik program Kartanu ini. Mereka datang ke lokasi pemotretan Kartanu sejak pagi untuk ikut antri dan mendapatkan Kartanu. Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Nahdliyin yang ikut memberikan database kepada pengurus NU,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Imam, sebenarnya warga NU di MWCNU Sumberasih lebih dari 14.250 orang. Hanya saja sebagian besar dari mereka ada yang belum sempat mengikuti pemotretan Kartanu di waktu yang telah ditentukan.

“Selain karena keterbatasan waktu, sebagian besar masyarakat ada yang sedang bekerja ke luar kota sehingga tidak dapat mengikuti pemotretan Kartanu. Tetapi kami akan mengupayakan supaya bisa diadakan pemotretan Kartanu susulan kepada PCNU kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Imam mengungkapkan bahwa kesuksesan pendataan Kartanu ini tentunya membantu pengurus NU dalam mendapatkan data keanggotaan yang benar-benar valid dan akurat. ”Melalui keberadaan Kartanu ini kami berharap data keanggotaan warga Nahdlatul Ulama khususnya di Kecamatan Sumberasih benar-benar valid dan akurat. Sehingga bisa diketahui siapa saja masyarakat yang memang setia kepada NU,” tegasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Kajian Sunnah, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 13 Juni 2015

Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI

Blitar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan anggota Gerakan Pemuda Ansor dan organisasi semi otonomnya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Kabupaten Blitar, Jumat (3/4) sore mengadakan apel kesetiaan pada bangsa dan negara.

Apel dalam rangka menyambut hari lahir ke-81 GP Ansor ini akan dilaksanakan di lapangan Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. “Apel akan dilaksanakan setelah shalat Jum’at. Sekitar 1000 lebih pasukan akan ikut ambil bagian dalam acara ini,” ujar Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Blitar Ir H Lutfi Azis kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah pagi ini.

Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Giliran Ribuan Anggota Banser Blitar Gelar Apel Kesetiaan NKRI

Apel akan diikuti pasukan Banser dari berbagai Satuan Koordinator Rayon? (Satkoryon) di Kababupaten Blitar yang terdiri dari 22 kecamatan atau satuan rayon. “Semua satkoryon memastikan bisa ikut dalam apel kesetian ini,” ungkap Lutfi Azis yang kini juga menjabat sebagai ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain anggota Banser, beberapa ulama dan tokoh akan hadir dalam apel tersebut, termasuk Bupati Blitar H Herry Noegroho bersama anggota Forpinda (Forum Pimpinan Daerah) Kabupaten Blitar. “Sore kita akan apel kesetiaan, malam harinya kita gelar pentas seni yang dilanjutkan gelar Bazar Ekonomi,” tambah Kepala Satkorcab Banser Kabupaten Blitar, Imron Rosyadi.

Imron menambahkan, selain dalam rangka memperingati hari lahir GP Ansor dan Banser tahun ini, kegiatan ini juga sekaligus sebagai ajang konsolidasi anggota menjelang diadakannya Muktamar Ke-33 NU di Kabupaten Jombang, 1-5 Agustus mendatang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Ini saatnya ‘manasi mesin’ istilahnya. Apalagi Banser juga menjadi sasaran ancaman ISIS setalah TNI dan Polri. Maka sudah waktunya kita manasi mesin,”? katanya. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

?

Foto: Ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Syariah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 Mei 2015

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja

Phnom Penh, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Ini mungkin satu-satunya hal konyol yang pernah dilakukan oleh "foreigner". Ceritanya begini, beberapa hari lalu, saya berangkat ke Kamboja setalah dipastikan mendapatkan kesempatan ikut Youth Exchange untuk magang mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di negara itu selama 6 pekan. Dari awal saya sudah menyiapkan oleh-oleh buat pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap project saya selama di negara tersebut.

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja

Dua hari menjelang pemberangkatan, saya memutuskan membawa dodol beberapa bungkus yang berukuran seperempat kilogram dengan aneka warna dan rasa. Lazimnya dodol, buah tangan yang rasanya manis tersebut hanya terbungkus plastik bening dan ditempel merk oleh-oleh khas Bandung. Padahal sebelumnya saya berniat membawa "jenang” khas Kudus, sayangnya saya tidak sempat pulang kampung terlebih dahulu.

Sebelum berangkat ke bandara Soekarno Hatta, saya menata perlengkapan ke koper di kosan teman dan merasa, "Kok bungkus dodolnya nampak kurang menarik ya...". Saat itu juga saya melihat seisi kamar tidak ada sama sekali wadah/kardus kecil yang pas untuk wadahnya supaya terlihat tambah manis.

Naluri koplak saya tiba-tiba muncul. Naluri santri yang suka memanfaatkan segala sesuatu ketika sedang kepepet. Saya mengamati ternyata ada wadah bungkus peci (baru) merk Atlas yang baru saja dibeli sebelum membeli dodol. Akhirnya peci tersebut saya keluarkan, lalu dodol dua bungkus tanpa ragu saya masukkan ke dalam kardus tersebut. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya mencoba berpikir sejenak. "Kayaknya orang Kamboja enggak akan tahu kalau kardus ini bekas wadah peci, bukan wadah aslinya dodol,” pikirku sambil ketawa kecil dalam hati. Dengan bacaan Bismillah, saat itu pokoknya saya yakin berniat baik hendak memberikan oleh-oleh dodol itu kepada orang Kamboja.

Saat-saat yang mendebarkan akhirnya tiba. Sekitar dua hari setelah sampai di Phnom Penh, ibu kota Kamboja, pagi-pagi hari saya menemui sang owner sekolah di kantornya. Dengan wajah sedikit malu, saya bilang, "Sorry, Miss, this is a special gift from my country, it like a candy. Its taste is sweet".

Dengan wajah gembira, perempuan berparas Chinese itu antusias menerima oleh-oleh dari saya.

Bayangkan saja, di wadah tersebut masih tercantum nomor ukuran dan tinggi peci. Untungnya tidak ada gambar pecinya. Meskipun ada tulisan “songkok”, tapi saya yakin dia tidak akan mengetahui bahwa itu adalah wadah peci alias songkok hitam yang biasa dipakai Muslim Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya sebenarnya tidak berniat jahil, justru saya ingin menambah ‘manis’ oleh-oleh tersebut supaya yang menerima tambah senang dalam menikmati manisnya dodol. Meskipun memang nampak agak lucu juga, menertawai diri sendiri, masak dodol kok bungkusnya dari wadah peci.

Bilamana nanti dia menanyakan tentang asal-usul wadah tersebut, insyaallah saya akan menjawabnya dengan jujur. Namun saya tetap yakin, oleh-oleh tersebut sudah habis dilahap atau wadahnya sudah dibuang entah kemana. Pokoknya kalau Anda keluar negeri, jangan lupa bawa oleh-oleh khas negeri kita untuk kolega atau rekan dekat kita. Insyaallah berkah seperti dodol rasa peci alias songkok. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, PonPes, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Mei 2015

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Siapapun umat Islam yang suka memproduksi dan menyebar berita bohong atau hoax menunjukkan dirinya gagal mengawal Firman Allah. Pernyataan itu ditegaskan aktivis Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Rabu (4/1).

"Kenapa demikian? Karena Al-Qur’an sebagai pegangan dengan tegas telah menjelaskan bagaimana umat Islam untuk menghindari fitnah hingga selektif menerima informasi," paparnya.

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah

Beberapa penegasan berkaitan dengan hal tersebut, ujar dia menambahkan, ditegaskan dalam QS. Al-Anfal: 25. Waattaquu fitnatan laa tushiibannal-ladziina zhalamuu minkum khaash-shatan waalamuu annallaha syadiidul iqaab.?

Artinya: Dan takutlah kalian terhadap fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gatot menambahkan, penegasan lain ada pada QS. Al-Hujurat: 6. Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabai-yanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin fatushbihuu ala maa faaltum naadimiin.?

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik, membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah, kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ada kata periksalah dengan teliti. Maksudnya tentu dengan cermat, seksama, tidak tergesa-gesa. Kalau begitu menerima informasi, baca sekilas langsung dibroadcast atau disebar mungkinkah bisa teliti? Menyebarkan yang haq lebih baik ketimbang menyebar hoax," kata dia lagi.

Selain itu, kata dia lagi, ditegaskan pula dalam QS. An Nuur: 15. Idz talaqqaunahu bialsinatikum wataquuluuna biafwaahikum maa laisa lakum bihi ilmun watahsabuunahu hai-yinan wahuwa indallahi azhiimun.?

Artinya: Ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.

Dalam Hadist Riwayat Muslim, kata Gatot menambahkan, Rasulullah SAW juga telah bersabda: "Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya), akan dilempar ke neraka jahanam sejauh antara timur dan barat."

"Saya tidak bermaksud menggurui, namun mengingatkan. Jika firman diabaikan, sabda Nabi, Mushaddiq yang menyatakan kebenaran diingkari, patutkah berteriak lantang paling Islam? Maka jika benar mencintai Al Quran, firman meski dikawal lebih dari fatwa," pungkasnya. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah