Senin, 27 Mei 2013

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat kelas dua madrasah aliyah A Hisyam Karim (39) secara tidak sengaja membaca buku Filsafat Eksistensialisme. Rupanya buku filsafat itu membuatnya tertarik untuk mempelajari filsafat lebih lanjut.

"Sejak saat itu saya berpikir filsafat itu menarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi," kata Hisyam di Subang. Jumat (20/5).

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Setelah lulus aliyah pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuludin Universitas Islam Bandung (Unisba). Dua tahun kemudian, keinginan untuk mempelajari filsafat membuat Hisyam pindah kuliah ke Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Jakarta.

"Saat mondok hanya disajikan satu kebenaran saja, tapi pas kuliah di filsafat ternyata kebenaran itu banyak. Makanya dulu teman saya ada yang pakai salib, tidak sholat dan lain-lain karena punya landasan berpikir tersendiri," tambah pendiri Forum Studi M@kar (Manbaul Afkar) Ciputat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah lama berkecimpung dalam dunia filsafat, muncul kegelisahan dalam batinnya karena diakuinya filsafat untuk konsumsi akal. Sementara hati yang menjadi tempat aneka rasa tidak terisi sehingga batinnya menjadi hampa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam melanjutkan, setelah lulus kuliah pada tahun 2004 Hisyam sering sowan kepada Kiai Nawawi yang merupakan sahabat bapaknya. Kemudian pada tahun 2009, Hisyam memberanikan diri untuk bercerita kepada Kiai Nawawi tentang kegelisahan batinnya.

"Saat itu dengan sikap tawadlu Kiai Nawawi mengantar saya ketemu kakaknya, Kiai Sayuti," ungkapnya.

Hisyam menceritakan, Kiai Sayuti adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi adalah khalifahnya. Saat bertemu dengan Kiai Sayuti, Hisyam langsung dibaiat menjadi murid Tarekat Syattariyah.

"Setelah dibaiat, sambil salaman. Alhamdulillah, usai salaman dengan Kiai Sayuti kegelisahan batin yang mengendap dalam diri saya langsung hilang saat itu juga, langsung plong," jelas alumni Pascasarjana STAINU Jakarta yang menulis tesis tentang Peran Kiai Sayuti dalam Menyebarkan Tarekat Syattariyah Itu.

Hisyam mengakui, filsafat memang penting untuk dipelajari karena berdasarkan pengalamannya, dengan mempelajari filsafat manusia bisa berpikir terbuka namun tetap kritis sehingga dalam menerima pemikiran tidak menelan mentah-mentah.

"Selain itu juga dengan belajar filsafat kita bisa berusaha untuk bersikap adil. Kita juga bisa menemukan solusi aneka masalah dengan menggunakan teori-teori filsafat, dan masih banyak lagi tentunya," jelas Hisyam yang saat ini menjabat Ketua NU Caracas itu.

Namun demikian, menurut Hisyam, dalam mempelajari filsafat sebaiknya dibarengi juga dengan mengamalkan ajaran tasawuf seperti masuk salah satu tarekat mutabarah. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan kebutuhan hati.

"Sekali lagi saya tegaskan, ini subjektif pengalaman pribadi saya, tentu yang lain juga punya pengalaman sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 Mei 2013

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Jaringan Lintas Iman Nusantara menggelar "Silaturahmi dan Dialog Kultural" di food court Denala, Jombang, Jawa Timur. Temanya, "Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama". Pada kesempatan itu, Ketua Umum Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Nia Sjarifudin mengingatkan negara melalui aparaturnya harus paham Pancasila.

"Apakah saat ini aparatur negara paham Pancasila atau tidak? Jika tidak ini menjadi persoalan," ujar dia, Sabtu (1/8) malam terkait tumbuhnya fenomena perlawanan-perlawanan terhadap Bhineka Tunggal Ika.

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Pada kegiatan dimoderatori Aan Anshori dari Gusdurian Jawa Timur itu, Nia menegaskan keberagaman ialah takdir Tuhan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Siapa berani melawan Tuhan yang telah menggariskan keberagaman? Cara kita berpikir dan berkelakuan itu juga harus arif. Agama tidak boleh mendominasi kepentingan publik, konstitusi kita menyebut setiap orang, apapun latar belakangnya. Tantangan bangsa Indonesia saat ini ialah kecerdasan kita harus lebih menang dari puritanisme," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di beberapa tempat di Indonesia menegaskan Indonesia masih memerlukan Pancasila yang merupakan bagian dari 4 (empat) konsensus kebangsaan sebagai landasan dan pedoman untuk meyatukan berbagai elemen di tanah air ini. 

Indonesia, ujar Wakil Ketua II PC Fatayat NU Waykanan Provinsi Lampung Ponita Dewi, terdiri dari 1.128 suku bangsa dan bahasa, ragam agama dan budaya, lebih kurang 17.508 pulau yang membentang dari 6,08 LU - 11,15 LS dan 94,45 BT - 141,05 BT.

Konsepsi tentang dasar negara Indonesia dirumuskan dengan merangkum lima prinsip utama (sila) yang menyatukan dan menjadi haluan ke-Indonesiaan, yang dikenal dengan "Pancasila",  yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Karena itu, menjadi mengejutkan ketika masih ada kekerasan atas nama agama di Indonesia beberapa pekan lalu," ujar Ponita yang beberapa hari lalu diminta menjadi moderator Riungan (kumpulan) Kebangsaan dihelat Gusdurian Lampung dan sejumlah pihak berpandangan sama mengenai kebangsaan dan kemanusiaan.

Riungan Kebangsaan merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Riungan Kebangsaan berisi donor darah dan diskusi kebangsaan membahas "Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?" dengan pembicara I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan, Ketua PC Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Supri Iswan. 

Dengan menjadi moderator dalam acara itu, katanya, berarti ikut aktif dalam mensosialisasikan 4 (empat) konsensus kebangsaan, salah satunya adalah Pancasila. 

"Selain mendapatkan ilmu, secara otomatis ikut memberikan kesimpulan kemudian menggali lagi Pancasila. Riungan Kebangsaan mengingatkan kembali lima sila yang menjadi ideologi negara, yang mana nilai-nilai Pancasila tersebut harus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena tanpa kita sadari nilai-nilai Pancasila itu sudah mulai luntur," papar Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 itu pula.

Adapun Presiden Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) HM Syaiful Bahri Anshori menegaskan,  4 (empat) pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika harus disosialisasikan secara berkesinambungan.

"Sosialisasi empat Pilar Kebangsaan menjadi sangat penting dan urgen untuk selalu dilakukan secara sustainable, sistematis dan berkesinambungan sebagai refreshing dan reformating untuk menumbuh kembangkan kembali cita cita luhur para founding father kita tentang konsepsi pendirian negara kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai empat  pilar yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita," ujar anggota DPR RI dari PKB itu. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 April 2013

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, KH Musthofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan kepada para nasional untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan sebaliknya, harus bisa memecahkan persoalan bangsa.

“Jadi pemimpin jangan hanya mementingkan diri sendiri saja, tetapi harus bisa memikirkan nasib bangsa ini,” kata Gus Mus dalam sambutannya pada acara tahlilan Tujuh Hari Wafatnya KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (21/1) lalu.

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri

Menurut salah seorang anggota Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai cobaan mulai dari bencana alam hingga beberapa peristiwa kecelakaan transportasi.

“Sayangnya ketika kita sedang dirundung cobaan seperti ini, sampai sekarang kita masih belum memiliki seorang pemimpin yang benar-benar bisa menyelesaikan persoalan ini. Para pemimpin masih memikirkan kepentingan dirinya sendiri,” ujar Gus Mus di depan sekitar tiga ribu massa yang menghadiri acara tersebut.

Oleh sebab itu, Gus Mus, meminta para pemimpin nasional harus bisa menauladani para pendahulu yang berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga demi bangsa ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pendiri NU Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan Pak Ud (putranya) adalah orang yang sampai akhir hayatnya tidak pernah berhenti memikirkan bangsa. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya kita tauladani bersama,” ujar budayawan dan penyair itu.

Ia mengungkapkan, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari bersama beberapa ulama semasa hidupnya pernah mengikrarkan diri di depan Ka’bah sebelum pulang ke Tanah Air untuk berjuang membela bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah.

Demikian juga dengan putranya, Pak Ud, yang semasa mudanya ikut terjun di medan pertempuran melawan penjajah Belanda. Disusul kemudian di era 1960-an, Pak Ud bersama dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang dipimpinnya turut serta dalam penumpas gerombolan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang hendak merongrong NKRI.

“Beliau ini sudah akrab dengan desingan peluru. Jarang sekali seorang pimpinan pondok pesantren ikut bertempur seperti Pak Ud,” ucap alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu.

Bahkan, meski dalam keadaan susah berjalan pun, Pak Ud, masih saja terlibat dalam berbagai aktifitas, termasuk menjadi “keynote speaker” dalam seminar tentang wacana kebangkitan komunis di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat itu, Pak Ud lah yang memelopori penolakan pembentukan Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional yang beberapa nama calon anggotanya sudah diusulkan kepada presiden sebelum akhirnya dibatalkan.

Sementara, acara tujuh hari wafatnya sesepuh pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang itu selain dihadiri para santri dan ulama dari berbagai daerah, juga warga masyarakat sekitar yang ingin memberikan sumbangsih bacaan doa dan tahlil. (ant/miol/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 April 2013

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja

Mojokerto, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa berpesan kepada para guru di sekolah-sekolah NU untuk meningkatkan pengetahuan perihal Aswaja. Menurutnya, para guru NU mengambil peran kunci bagi kelanjutan sosialisasi paham aswaja di lingkungan sekolah.

Demikian disampaikan Hj Khofifah pada Pembukaan Kongres II Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (27/10).

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja

"Guru yang mengajar di sekolah NU, jangan sampai tidak tahu apa itu Aswaja. Guru itu harusnya mengajar tidak sebatas menyampaikan materinya, tapi harus sampai muridnya paham, dan menjamin dilaksanakan oleh murid dalam kehidupan sehari-hari,” kata Khofifah.

Baginya, hal itu pembeda antara guru yang tergabung dalam Pergunu dan guru di luar NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menyebutkan dua peran para guru Pergunu. "Guru itu harus bisa menjadi speaker (penyampai Aswaja). Kedua, guru NU juga harus bisa membangun harmoni dalam kebhinekaan," tegas Khififah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga menyinggung perihal peredaran narkoba di lingkungan pendidikan. "Jika saya kaitkan dengan momentum Kongres II Pergunu ini, maka pertanyaannya ketika masyarakat Indonesia sudah darurat narkoba, masihkah ada Pergunu di Indonesia?"

Menurutnya, capaian kesuksesan dan maju-mundurnya suatu bangsa itu ditentukan oleh pendidikannya. Sementara pendidikan itu ditentukan oleh para pendidiknya sendiri. (Ayip-Mang Ayi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 Maret 2013

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kontribusi positif dan aktif mahasiswa untuk mengabdi dalam pembangunan desa sangat penting. Karena itu, Mahasiswa harus aktif dan berani menyuarakan semua aspirasi untuk memperkaya proses pengambilan kebijakan di desa-desa.

Hal ini disampaikan Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi saat menghadiri Konfrensi Nasional III Inovasi Lingkungan Terbangun Restorasi Permukiman Desa-Kota yang dihadiri mahasiswa dari berbagai Universitas di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (12/10).

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa! Mengabdilah di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa

Marwan menegaskan, salah satu kelemahan paling berat dalam proses pembangunan desa selama ini adalah lemahnya peran dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat desa biasanya hanya jadi subjek yang tidak banyak dilibatkan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pengelolaan pembangunan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini semua problem lama yang harus kita dobrak. Bersyukur sudah ada UU Desa yang memposisikan masyarakat desa sebagai pemeran utama dalam pembangunan nasional. Desa sudah jadi pelaku pembangunan yang didukung perangkat kuat serta dana desa yang besar," ujar Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) ini.

Mahasiswa, lanjut Marwan, harus ikut menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat desa. Karena itu, jika sudah lulus, mahasiswa jangan pergi ke kota tapi bangunlah desa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pemerintah pasti mendengar apa yang disampaikan mahasiswa karena pikiran positif dari perguruan tunggi akan jadi rujukan dalam membuat kebijakan yang konstruktif," jelas Marwan.

Tak lupa, pria asal Pati, Jawa Tengah ini juga meminta rekomendasi dari mahasiswa yang konstruktif demi pemberdayaan masyarakat desa. Termasuk dalam proses penataan ruang desa yang selama ini sangat lemah.

Dalam sistem perencanaan tata ruang, katanya, kelemahan yang dirasakan karena selama ini kebijakan pemerintah kurang menjadikan masyarakat sebagi subjek dalam perencanaan. Kemudian pelaku pembangunan tidak terbuka dalam proses penataan ruang. Juga karena rendahnya upaya pemerintah dalam memberi informasi akuntabilitas tentang penataan ruang. “Bahkan sinergi antara swasta dan masyarakat kurang optimal dalam tata ruang pembangunan," tandas Marwan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Maret 2013

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Grebek Mulud yang digelar di halaman Masjid Agung Surakarta, Senin (12/12), menandai puncak perayaan tradisi Sekaten. Dalam acara yang dihelat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. itu diarak dua gunungan, Jaler-Estri.

Prosesi dimulai saat Gunungan Jaler-Estri dan empat Gunungan Anakan dikirab dengan rute dari Keraton Solo melewati Sithinggil menuju Masjid Agung Solo. Kirab Gunungan itu keluar dari Keraton melalui Kori Kamandungan.

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan

Usai didoakan, gunungan-gunungan tersebut langsung diserbu pengunjung. Sebagian pengunjung percaya, isi gunungan yang telah didoakan tersebut membawa keberkahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengageng Kusumawa Wandawa Keraton Solo, KGPH Puger mengatakan, kirab Gunungan Jaler-Estri dalam Grebek Mulud menggambarkan keberadaan laki-laki dan perempuan yang kemudian melahirkan keturunan. “Lahirnya Nabi Muhammad SAW simbol sejahtera, mampu menyejahterakan umat.” terang Puger.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, menambahkan Tradisi Sekaten ini merupakan salah satu produk dari proses internalisasi Islam dengan budaya. “Konsep ini digagas oleh Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah Islam yang penuh kearifan dan jauh dari sikap intervensi,” tutur dia.

Grebek Mulud sendiri merupakan tradisi yang tidak hanya diselenggarakan di Solo. Tradisi ini juga diadakan di daerah lain, antara lain Yogyakarta dan Demak. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Februari 2013

Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Dalam waktu dekat, Universitas Hasyim Asyari Tebuireng, Jombang, akan berkolaborasi dengan Universiti Sultan Azlan Syah (USAS) Malaysia untuk mengadakan penelitian bersama. Penelitian itu dimaksudkan untuk mendapatkan potret utuh perkembangan gerakan radikal dan liberal di kawasan Asia.

Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian (Sumber Gambar : Nu Online)
Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian (Sumber Gambar : Nu Online)

Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian

"Selain penelitian, kami juga akan menjalin kerjasama program dalam bentuk pertukaran mahasiswa dan dosen antar kedua universitas. Juga kerjasama di bidang penelitian, penulisan jurnal ilmiah dan pertukaran budaya," kata Wakil Rektor III Mif Rohim Syarkun, Jumat (10/2/2017).

Kerjasama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia di kampus Unhasy Tebuireng, sehari sebelumnya. Dari pihak USAS, delegasi dipimpin oleh Deputy Vice-Chancellor Academic and Student Affair (Wakil Rektor I), Dato Wan Sabri Bin Wan Yusof. Sedangkan delegasi Unhasy dipimpin oleh Wakil Rektor I Unhasy Muhsin Ks.

Nantinya, kata Rohim, jika ada dosen Unhasy yang mengambil studi S3 di USAS, salah satu dosen Unhasy akan diminta menjadi co-promotor atau co-supervisor. "Untuk penulisan jurnal, kami akan mengkaji pemikiran keislaman yang dikembangkan oleh Hadlratus Syaikh Hasyim Asyari," ungkap pria yang sebelumnya cukup lama mengajar di Universiti Teknologi Malaysia ini.

Di tempat sama, Wakil Rektor I USAS Wan Sobri menuturkan, kerja sama ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Sebab, Unhasy memiliki tradisi keilmuan yang cukup lama. Pesantren Tebuireng sejak berdiri pada 1899 dan Unhasy pada 1967, menurut dia, sudah memulai tradisi keilmuan dan kajian keislamanan yang cukup memadai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"MoU kali ini kami bekerja sama dalam bidang akademik, penulisan, penyelidikan (penelitian, red), pertukaran pelajar dan staf/pengajar. Supaya pengalaman yang sudah dimiliki dua universiti ini dapat dikongsikan (dikerjasamakan, red). Advantage-advantage masing-masing juga dapat dikongsikan," tutur Dato Wan Sabri dengan logat khas Melayu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain berkunjung ke kampus Unhasy, rombongan USAS juga berziarah ke makam KH Hasyim Asyari dan KH Abdurrahman Wahid Gus Dur di Kompleks Pesantren Tebuireng.

"Saya sangat kagum dengan pondok dan kampus ini. Pondoknya sangat bersih dan teratur. Dan saya bangga bisa berpeluang menziarahi Allah Yarham Gus Dur," ungkap Dato Wan Sabri. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah