Selasa, 28 Juni 2005

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Keluarga besar Gerakan Pemuda Ansor kembali kehilangan sosok pemberani dan murah hati. Wawan, salah satu anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) meninggal dunia, Kamis (9/3) pukul 03.30 WIB, selang beberapa jam selesai menjalankan tugas membantu korban puting beliung di daerah Tamansari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut Haris sesama anggota Banser, Wawan seperti biasanya membantu warga masyarakat yang tertimpa musibah.

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

"Dia itu Ketua RT dan mempunyai jiwa sosial tinggi, tegas, baik, dan perhatian terhadap keluarganya," ujar Haris selesai menshalatkan almarhum.

Haris menceritakan, setelah kejadian puting beliung yang mengakibatkan kerusakan di beberapa tempat, seketika para anggota Banser berdatangan untuk membantu tidak terkecuali almarhum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami sesama Banser kaget, soalnya malam tadi Wawan bersama Ansor-Banser yang lainnya masih biasa saja, tidak terlihat sakit atau tanda-tanda, tiba-tiba menjelang Subuh kami mendengar kabar duka tersebut," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikabarkan, Wawan pulang ke rumahnya sekitar pukul 21.00 WIB setelah membersihkan puing reruntuhan dan pohon tumbang yang menimpa bangunan Pondok Pesantren Miftahul Anwar, Nangela.

Almarhum yang beralamat di Ciharashas RT 01/RW 08 Kelurahan Sumelap ini meninggalkan seorang istri bernama Juju dan empat orang anak. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Allahummaghfir lahu warhamhu waafihi wa`fu anhu.. Aamiin. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 08 Maret 2005

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi

Demak,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Demak Jawa Tengah mengadakan lomba menulis artikel dan puisi. Lomba tersebut untuk aggota IPPNU dan pelajar MA/SMA/SMK se-Demak. Naskah bisa dikirim mulai 23 September sampai 17 Oktober 2014.

Ketua PC IPPNU Demak Fitriyah mengatakan lomba menulis pelajar NU ini dalam rangka mengakhiri masa khidmat kepengurusan sebagai rangkaian kegiatan pra-Konferensi Cabang.

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi

Ia menyebut lomba tersebut sebagai sarana untuk menumbuhkan semangat menulis sehingga kemampuan kader IPPNU di bidang  kepenulisan atau jurnalistik semakin meningkat.

"Melalui lomba ini diharapkan muncul kader IPPNU yang menjadi penulis-penulis muda yang bisa mampu ikut mengisi dan mewarnai media massa serta berkembang di wadah IPPNU," katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah via telepon, Jumat (26/9).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengenai persyaratan lomba, Ia menjelaskan peserta adalah anggota IPPNU dan siswi MA/SMA/SMK s-Demak dengan usia maksimal 20  tahun. Tema artikel "Pelajar, Generasi Harapan Bangsa", sementara puisi bertema " Pelajar dalam Bingkai Belajar, Berjuang dan Bertaqwa".

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Peserta boleh mengikuti kedua lomba atau salah satu dengan syarat hanya diperbolehkan mengirimkan 1 naskah artikel atau puisi dan harus asli karya sendiri serta belum pernah dipublikasikan," terang Fitri.

Pengiriman naskah artikel dan puisi paling lambat tanggal 17 Oktober 2014 pukul 16.00 WiB ke alamat email: pc_ippnu_demak@yahoo.co.id. Pendaftaran lomba yang tidak dipungut biaya tersebut bisa melalui Group facebook "lomba menulis PC IPPNU Demak".

"Kami menyediakan hadiah berupa sertifikat, uang pembinaan dan hadiah menarik lainnya bagi para pemenang,"imbuh Fitri seraya menyatakan informasi jelasnya bisa dilihat pada pamflet selebaran. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 25 Januari 2005

5 Makna Penting Seorang Santri

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di kalangan warga NU (Nahdliyin), istilah santri biasanya dinisbatkan kepada mereka yang tengah menimba ilmu agama Islam di sebuah tempat bernama pesantren. Santri juga bisa diartikan sebagai orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh (Lihat KBBI).

“Identitas seorang santri, juga dapat dijabarkan dari makna per huruf yang ada pada kata santri,” terang Ustadz Hari Surasman, saat mengisi ceramah pada kegiatan Pengajian Dzikir dan Sholawat Sariro di kompleks Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Ahad, (3/4).

Menurut kiai asal Salatiga tersebut, kata santri (?) dalam bahasa Arab, terdiri dari 5 huruf, yakni sin, nun, ta’, ro’, dan ya’. “Pertama, seorang santri harus menjadi saafiqul khoir atau pelopor kebaikan, di manapun ia berada,” tukas dia.

5 Makna Penting Seorang Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Makna Penting Seorang Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Makna Penting Seorang Santri

Kemudian penjabaran dari huruf nun, naasibul ulama (penerus ulama). Santri merupakan para kader, calon yang kelak diharapkan akan menjadi penerus para ulama. “Ketiga huruf ta’, yaitu taarikul ma’ashi (meninggalkan maksiat),” tuturnya.

Sedangkan huruf ro’ dan ya’ dijabarkan sebagai syarat yang mesti dimiliki para santri, yaitu Ridho Allah dan sifat yaqin. Kelima hal inilah, yang mesti menjadi karakter dan syarat yang dimiliki para santri agar bisa berhasil dalam kehidupannya di dunia maupun akhirat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, salah satu pengajar di SMA Al-Muayyad, Agus Himawan menjelaskan, selain mengikuti kegiatan dzikir dan sholawat, para santri Al-Muayyad yang akan mengikuti Ujian Nasional juga diajak berziarah ke sejumlah makam ulama di Solo.

“Selain untuk mengharap berkah, kami juga ingin para santri tidak lupa sejarah para ulama, serta menyemai benih cinta mereka terhadap ulama,” tutur dia.

Adapun tujuan makam yang diziarahi antara lain makam Habib Anis Al-Habsyi di Masjid Riyadh Gurawan, KH Ahmad Siradj di Makamhaji, dan Ki Ageng Henis di Pajang Laweyan. (Ajie Najmuddin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Santri, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 21 September 2004

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. NU-CARE LAZISNU Tangerang Selatan akan membuka stand di Bintaro Xchange, Bintaro Jaya, Kota Tangerang Selatan. Stand yang digelar untuk mengenalkan program-program tersebut berada di tengah-tengah pagelaran BritAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 pada Sabtu 12 November mendatang.

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz

“Tujuan utama NU-CARE LAZISNU Tangsel buka stand di acara BritaAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 adalah untuk menggalang dana dalam rangka santunan anak yatim yang dibungkus dengan acara makan bersama di McD Perempatan Duren tanggal 13 November,” papar Sekretaris LAZISNU Tangsel, Rizky Subagia kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah pada Rabu (9/11) malam.

(Baca: http://www.nu.or.id/post/read/72630/peringati-hari-pahlawan-lazisnu-tangsel-adakan-santunan-anak-yatim)

Rizky menambahkan hal yang tak kalah penting melalui pembukaan stand di Bintaro XChange adalah mengenalkan kepada masyarakat Tangsel khususnya tentang adanya NU-CARE LAZISNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“NU-CARE Tangsel juga akan mengenalkan program Tabungan Berkah salah satu program andalan kami saat ini,” kata Rizky seraya menambahkan Tabungan Berkah dari NU-CARE LAZISNU Tangsel sangat mudah karena hanya dengan mengisi donasi melalui kencleng (kaleng) yang disediakan NU-CARE LAZISNU Tangsel. Jumlah donasi pun menyesuaikan minat dan kemampuan donatur.?

Melalui rilis yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Promotor BritaAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 Dinni Deniasti Atiek mengatakan BritAmaX Tangsel Jazz Festival merupakan pagelaran musik jazz terbesar di Kota Tangerang Selatan.?

Didukung Pemerintah Kota Tangerang Selatan, acara yang diadakan selama satu hari itu akan diisi oleh penampilan artis jazz papan atas Indonesia seperti Glenn Fredly, Iga Mawarni, Fariz RM, Jeffrey Tahalele, Rio Moreno Latin Combo, Amelia Ong, KSP Band, Alsa Quartet, Tiyo Alibasjah dan Ginda Bestari.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara yang pada tahun ini memasuki tahun ketiga, akan diisi dengan bazaar dan produk kreatif warga Tangsel. Selain panggung utama, panitia menyiapkan dua panggung yang dinamakan “BritAmaX Jawara dan Blandongan” yang akan menjadi panggung bagi ? musisi jazz mempertontonkan skill kecanggihan bermusik mereka.

Dari sisi konsep penyelenggaraan acara pada tahun ini berbeda dengan konsep tahun 2015 lalu. Tahun ini TJF mengusung konsep jazz family, jazz yang dapat ditonton oleh seluruh anggota keluarga, mulai anak hingga kakeknya. Selain itu juga jazz yang lebih akrab, hangat, dan memasyarakat. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 26 April 2004

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Indonesia memiliki jumlah masjid paling banyak di dunia. Ada sekitar delapan ratus ribuan masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (Kemenag RI, 2014). Uniknya, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan masjid di Indonesia dibangun dan dikelola masyarakat, sementara sisanya dibangun pemerintah. Hal ini berbeda dengan masjid-masjid yang ada di beberapa negara Islam. Di Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lainnya, masjid dibangun pemerintah. Tidak hanya itu, imam dan marbotnya diatur dan digaji oleh pemerintah.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk dakwah, pendidikan, pengembangan ekonomi, dan pelayanan sosial. Bahkan, para sahabat melakukan latihan perang pun di depan masjid. Masjid benar-benar dijadikan sebagai pusat kegiatan umat Islam. 

Saat ini, sebagian besar masjid di Indonesia hanya difungsikan sebagai tempat salat saja, tidak lebih. Jika ada masjid yang dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, itu pun jumlahnya tidak banyak. Kenapa bisa demikian? Sesuai dengan buku Pedoman Muharrik dan Ta’mir Masjid yang disusun Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi masjid di Indonesia seperti itu. Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten. Untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana seperti zaman Rasulullah, maka dibutuhkan pengelola masjid yang inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengelola masjid. 

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Kedua, tidak dikelola dengan serius. Pengelola dan pengurus masjid belum memiliki semangat yang tinggi untuk mengurusi masjid secara optimal. Biasanya mereka disibukkan dengan aktifitas kerja masing-masing sehingga kurang begitu memperhatikan masjidnya. Sehingga ada yang menyebut kalau sebagian besar masjid di Indonesia itu la yamutu wa la yahya (tidak hidup, mati pun segan), terutama dalam hal program kegiatannya. 

Ketiga, konflik antar pengelola. Biasanya, konflik antar pengelola disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam mengurus masjid. Yang satu menginginkan seperti itu, sementara yang satunya lagi menginginkan seperti itu. Sehingga tidak ada titik temu antar keduanya karena mementingkan ego dan keinginannya masing-masing. Kalau konflik seperti itu dibiarkan, maka masjid akan terbengkalai dan program-programnya tidak jalan.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy menyebutkan bahwa masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk secara kukuh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap Islam. Hal ini tidak akan bisa ditumbuhkan kecuali dengan cara memakmurkan masjid.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memakmurkan Rumah Allah

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya yang mendatangi-Ku adalah yang memakmurkannya. Maka beruntunglah orang-orang yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi-Ku di rumah-Ku, maka hak-Ku adalah memberi kemuliaan kepada orang yang datang ke rumah-Ku. (Hadist Qudsi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbicara tentang kemakmuran masjid, maka ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Pertama, jamaah. Seperti hadist qudsi di atas, bahwa salah satu cara untuk mengukur suatu masjid makmur atau tidak adalah dengan cara melihat jamaahnya. Jika jamaahnya banyak, maka masjid tersebut makmur. Begitupun sebaliknya. 

Kedua, program kegiatan. Kemakmuran masjid juga bisa dilihat dari variasi kegiatan yang ada. Dalam hal ini, Lembaga Ta’mir Masjid PBNU memiliki tujuh program kegiatan untuk memakmurkan masjid. (a) Menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran paham Aswaja. (b) Tempat penyuluhan kesehatan seperti mendirikan klinik di sekitar area masjid, khitanan masal, dan lainnya. (c) Pusat keilmuan seperti pengadaan Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lainnya. (d) Pusat pengembangan ekonomi umat seperti pendirian koperasi. (e) Pusat dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti menyelenggarakan kajian dan pengajian. (f) Pusat kepedulian sosial seperti memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. (g) Mendoakan orang wafat seperti menyelenggarakan tahlil dan istighotsah bersama.   

Ketiga, finansial atau keuangan. Untuk memakmurkan masjid, setidaknya harus memiliki pendanaan yang cukup. Program-program masjid yang sudah disusun tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ada anggaran yang memadahi. Kebutuhan, sarana dan prasarana masjid juga memerlukan bujet. 

Untuk itu, harus ada langkah yang tepat untuk mewujudkan kemandirian keuangan masjid. Salah satu cara menggalang dana adalah dengan mengaktifkan Gerakan Infak Sedekah Masjid (Gismas) sebagaimana yang digagas LTM PBNU. Pengurus masjid bisa menitipkan celengan di setiap rumah di sekitar masjid dan meminta pemilik rumah untuk mengisinya minimal seribu rupiah. Kalau seandainya ini berjalan dan misalnya ada tiga ratus celengan yang disebar pengurus masjid, maka akan terkumpul sembilan juta rupiah dalam waktu satu bulan. Tentu ini tidak mudah, butuh ketekunan, keuletan, dan konsistensi daripada pengurus masjid dan warga yang dititipi celengan Gismas tersebut.

 

Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Pondok Pesantren, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah