Selasa, 07 Februari 2012

Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyebaran radikalisme agama semakin berkembang ke berbagai lapisan masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa. Kelompok garis keras sengaja merekrut anak muda yang cerdas, mempunyai emosionalnya tinggi, tetapi awam pengetahuan agamanya alias tidak berbasis pesantren.

Demikian muncul dalam seminar bertajuk “Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama” yang digelar Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Tarbiyyah dan Keguruan, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di aula fakultas setempat, Senin (28/3).

Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama

“Akibatnya mereka mudah dicuci otaknya. Termasuk juga para preman yang baru tobat kemudian diberi konsep-konsep jihad,” ujar Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Matan) Adjid Thohir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tedi Priatna menjamin mahasiswa Fakultas Tarbiyyah dan Keguruan tidak akan menjadi teroris, karena cara pendidikannya sudah benar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Makanya saya percaya betul, salah satu faktornya munculnya radikalisme adalah bagaimana cara membelajarkan dan mendidik mereka,” kata Tedi di hadapan ratusan aktivis mahasiswa dari kalangan NU, Muhammadiyah, Persis dan PUI.

Tedi mengingatkan kepada para mahasiswa bahwa adalah hal yang tidak masuk akal ketika agama yang mengajarkan kebahagiaan, kedamaian, tiba-tiba menjadi momok yang menyeramkan karena dianggap berpotensi menjadi menjadi jahat.

Untuk itu pihaknya mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi dalam mengajarkan pendidikan toleransi antarumat beragama. Sebab munculnya pemahaman radikal dan tindakan ekstrem lantaran terdapat kesalahan dalam mendidik umat beragama.

“Mudah-mudahan ini menjadi wawasan bagi mahasiswa untuk mengetahui untuk kemajuan dan syiar Islam untuk tetap menjadi Islam rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 14 Januari 2012

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Katib Syuriyah PBNU KH Lukman Harits Dimyati menyampaikan, santri-santri NU selain menguasai kitab kuning dan hidup bermasyarakat harus memahami pilar-pilar negara. Salah satunya adalah mamahami Pancasila. Bagi NU, Pancasila sudah final dan sudah sesuai dengan syariat Islam.

Demikian disampaikan Kiai Harits di hadapan seribu warga dalam rangka khataman kitab Al-‘Imrithi Haflah Akhirussanah di halaman kompleks Pesantren Baitul Mustaqim Sidomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah asuhan Ketua Idaroh Syu’biyyah Jatman Lampung Tengah KH Muhtar Ghozali, Ahad (14/5).

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

“Warga Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung umumnya dan khususnya di Kabupaten Lampung Tengah harus hati-hati dengan adanya upaya gerakan-gerakan, kelompok Islam radikal yang merongrong Pancasila. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 adalah harga mati. Yang Tidak sepaham dengan Pancasila. Silakan pergi dari Indonesia,” kata Kiai Harits yang juga Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren ini.

“Gerakan merongrong Pancasila jangan-jangan juga menjalar ke para pegawai negeri sipil di Lampung Tengah. Pak Wakil Bupati Lampung Tengah mohon disisir para ASN (aparatur sipil negara) di kabupaten ini. Mereka anti-Pancasila, pemerintah adalah thoghut tapi setiap bulan menerima gaji negara. Pemkab Lampung Tengah harus tanggap dengan kondisi ini,” tegas Katib Suriyah PBNU ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tampak hadir pada haflah ini Rais Syuriyah PCNU Lampung Tengah KH Nur Daim, Sekretaris Jatman Lampung Tengah KH Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah KH Slamet Anwar, Sekretaris Fatayat NU Lampung Nurhayati, Wakil Bupati Lampung Tengah H Lukman Djoyosumarto, Dosen IAIM NU Kota Metro Lampung Aminan, Kabag Perekonomian Lampung Tengah Ahmad Jailani, Kadis Kominfo Lampung Tengah H Sarjito, anggota DPRD Lampung H Midi Iswanto, Camat Punggur, para kepala kampung, anggota TNI dan Polri, dan puluhan generasi muda NU lainnya. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Kyai, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Desember 2011

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan paham gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).?

"Saya berharap agar masyarakat tidak terpengaruh dengan gerakan dan ideologi yang aneh-aneh, organisasi yang aneh-aneh. Jaga kebersamaan dan keutuhan NKRI," kata Ida di Jakarta, Selasa.?

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Ia juga meminta kepada pemerintah untuk memberikan penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Melakukan dialog sekaligus penggalangan kerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat untuk mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat," sebut politisi PKB itu.?

Ida juga berharap agar lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Langkah-langkah tersebut tentu saja jangan sampai menimbulkan suasana yang mencekam dan justru menjadi alat untuk menakuti-nakuti masyarakat," kata Ida. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 November 2011

Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan

Oleh Hilful Fudhul





Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan

Bagi sebagian orang adanya hari santri dinggap mengarah kepada kelompok masyarakat tertentu. Jika melihat latar belakang sejarah lahirnya hari santri, ialah bagian dari sejarah bangsa saat kembali terjadi pengalihan kekuasaan atas bangsa Indonesia oleh para penjajah. Tepat pada tanggal 22 Oktober 1945, para ulama dan santri berkumpul untuk membahas cara mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Maka muncullah fatwa yang disebut Resolusi Jihad yang pada akhirnya mampu menggerakkan rakyat untuk ikut berjuangan melawan penjajah.



Fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari itu mendapatkan respons dan sekaligus sebagai sebuah semangat yang mampu memberi kekuatan bagi pejuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Kewajiban melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan adalah seruan dari fatwa penting Mbah Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak sia-sia, perlawanan rakyat atas penjajah pasca resolusi jihad disampaikan kepada rakyat. Perlawanan itu pun diluar dari prediksi penjajah, sebab terus dilakukan oleh rakyat saat itu sehingga dalam kurun waktu yang relative singkat dapat menguasai wilayah Surabaya.

Peristiwa dikeluarkannya Resolusi Jihad adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat dihapuskan begitu saja, mengingat kontribusi santri dalam mepertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini menepis anggapan bahwa santri dan ulama tidak berjiwa nasionalis. Resolusi Jihad adalah bukti kecintaan santri pada bangsanya. 

Pada peristiwa ini pula terbukti bahwa santri sebagai kaum agamawan sekaligus berjiwa nasionalis. Bangsa Indonesia perlu bersyukur atas kehadiran santri dan ulama yang begitu cinta atas negerinya. Ini pula yang tidak dimiliki oleh bangsa lain yang miliki ulama seperti di beberapa negara di Timur Tengah. Tidak hadirnya ulama dan santri yang berjiwa nasionalis adalah masalah yang kian penting di negara-negara di Timur Tengah yang dapat memicu konflik disebabkan oleh ulama yang tidak memiliki rasa nasionalisme.

Keadaan di Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara di Timur tengah, Indonesia memiliki ulama dan santri yang begitu cinta akan bangsanya, bahkan siap mengorbankan jiwa dan raganya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang sering disampaikan oleh Gus Yaqut sebagai pimpinan GP-Ansor Pusat dan juga KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU. Hal itu bukanlah hal yang baru lagi sebab kecintaan terhadap bangsa itu telah ditunjukan oleh salah satu tokoh nasional seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah sehingga antara Negara dan agama dalam prinsip tertentu merupakan satu kesatuan.

Santri, Pembangunan dan Hilangnya Moralitas

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kini perjuangan dalam jihad kebangsaan yaitu melawan penjajahan telah usai. Tapi apakah santri juga harus berhenti berjihad atas bangsanya? Tentu saja tidak. Sebagai bangsa yang memiliki cita-cita dan capaian masa depan sangat banyak persoalan yang kini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia seperti menguatnya paham keagamaan yang meniadakan prinsip-prinsip toleransi serta kemanusiaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh paham Wahabi ini juga turut menyerang bangsa Indonesia. Perlu sebuah simpul kebangsaan yang dibalut oleh pemahaman Islam yang rahmatan lill’alamin yaitu agama sebagai sebuah seruan persatuan dan persaudaraan agar menjadi rahmat bagi alam semesta.

Masalah lain yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah penuntasan kemiskinan yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain masih sedikitnya peluang lapangan pekerjaan. Maka persoalan bangsa hari ini merupakan bagian dari persoalan ulama dan santri. Jika dahulu santri berjihad melawan penjajahan sebagai representasi penderitaan rakyat, hari ini jihad kebangsaan ialah ikut serta dalam pembangunan nasional seperti ikut serta membuka lapangan pekerjaan sebagai salah satu cara mengentaskan kemiskinan. 

Begitu pula dengan zaman yang kian modern ditandai dengan hadirnya teknologi canggih dalam mempermudah urusan umat manusia seperti alat komunikasi dan teknologi lainnya. Tuntutan agar masyarakat mampu mengikuti arus gerak zaman, diperlukan penguatan skill bagi masyarakat melalui instansi pendidikan dan pelatihan. Pelatihan skill perlu diajarkan juga di pondok pesantren dan struktur yang ada di beberapa ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Keikutsertaan santri dalam membangun bangsa melalui bidang ekonomi, politik, pendidikan dan kesehatan tanpa meninggalkan moral sebagai basis atau modal pembangunan nasional yang berkemajuan serta berperadaban tinggi.

Moral menjadi penting mengiringi pembangunan nasional saat ini, mengingat banyaknya persoalan bangsa yang tidak diiringi dengan moralitas sumber daya manusia. Maka muncul persoalan seperti pornografi, korupsi, narkoba, miras yang disebabkan oleh merosotnya moralitas manusia dan juga menyumbang merosotnya moralitas bangsa. Ini juga yang menyebabkan penggunaan media sosial atau teknologi yang tidak disertai dengan penanaman moral terhadap masyarakat. 

Muncul kemudian persoalan hoaks yang beberapa bulan terakhir menyulut konflik yang tidak saja terjadi di dunia maya, akan tetapi juga menyebabkan konflik di dunia nyata. Sudah saatnya santri hari ini berjihad kebangsaan dengan ikut membangun Indonesia di berbagai bidang yang diiringi dengan moralitas yang tinggi agar Indonesia menjadi bangsa yang maju. 

Jelas rasanya bahwa antisipasi atas persoalan bangsa hari ini ialah pembangunan nasional yang tidak diirngi dengan penguatan moralitas. Penting kiranya pemerintah membahas persoalan moralitas yang kian merosot. Di era kepemimpinan Jokowi-Kalla hari ini yang terus membangun infrastruktur serta percepatan pembangunan ekonomi sudah dibuktikan dengan hadirnya berbagai infrastruktur seperti pembangunan tol sampai kereta cepat sebagai upaya dalam memajukan bangsa. Selain itu, pemerintah mendorong berbagai cara untuk mempermudah investasi untuk membangun negeri, ini juga akan dapat mendorong pembangunan infrastruktur lainya.

Akan tetapi, muncul persoalan seperti korupsi yang merugikan keuangan negara yang kian hari meningkat yang menjerat tokoh nasional sampai daerah yang tersandung kasus korupsi dengan bentuk yang beragam dari suap menyuap sampai jual-beli jabatan. Tentu persoalan ini dapat merugikan keuangan negara. 

Maka pemerintah harus menunjukkan komitmennya dalam memberantas korupsi. Selain menghadirkan hukum positif yang dapat memberikan efek jera terhadap pelaku korupsi, perlu pula mendorong paham keagamaan yang kuat agar setiap orang tidak saja menghadirkan wajah agama hanya di mimbar-mimbar masjid sampai gereja, akan tetapi juga menghadirkan agama di instansi seperti kantor pemerintah. Moral yang kuat ini akan menjadi rem bagi seseorang dalam melaksanakan tugas kenegaraan maupun di setiap pekerjaannya.

Ajaran Islam sendiri, sebagaimana kita ketahui bahwa narkoba, korupsi, maupun hoaks sangatlah dilarang. Islam tidak membenarkan perbuatan mengambil harta yang bukan menjadi miliknya. Islam melarang memfitnah antara satu dengan yang lainnya karena dapat menyulut permusuhan. Begitu juga dengan narkoba; anjuran untuk tidak merugikan diri dengan menggunakan narkoba yang dapat merusak kesehatan juga dilarang dalam Islam. 

Artinya persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa hari ini, juga merupakan persoalan umat Islam secara keseluruhan. Maka jihad dalam melawan persoalan bangsa serta turut pula membangun bangsa yang lebih makmur merupakan tugas mulia yang dapat pula dilakukan oleh ulama dan santri hari ini. 

Penulis adalah Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Kota Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Persoalan yang sering ditanyakan terkait dengan pemilihan tidak langsung atau ahlul halli wal aqdi adalah apakah pemilihan ini menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan kedaulatan pengurus cabang dan wilayah NU?

Wakil sekjen PBNU Masduki Baidlawi menjelaskan, rais aam syuriyah merupakan “wilayah khusus” dimana warga atau pengurus tanfidziyah sudah samikna waathona (mendengar dan mematuhi), bukan lagi persoalan cabang terlibat atau tidak, karena syuriyah punya legitimasi kuat dalam syariah Islam.

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Pola pemilihan ahlul halli ini dicontohkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab. Sebelum meninggal, ia menunjuk beberapa orang untuk memilih penggantinya. Cerita ini kemudian dikodifikasi oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Al Ahkamus Sulthoniyah yang kemudian dijadikan landasan oleh para ulama NU terkait kebijakan pemerintahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faktor kedua, kata Masduki, ketika supremasi ulama tergerogoti, maka persoalan kewenangan cabang dan wilayah dalam memilih dipinggirkan dulu. Ketika tantangan politik eksternal begitu kuat, ada alasan dilakukan melalui ahlul hallli wal aqdi.

“Demokrasi itu alat untuk mencapai tujuan. Bisa saja dalam situasi tertentu dilakukan asal secara ideologis tidak terganggu, tetapi ketika ruh dan jantung organisasi terganggu, yang akhirnya jantung organisasi dirampas orang. Ya ngak bisa begitu,” tegasnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Belajar dari Syarekat Islam

Ia menyatakan, organissi NU tidak bisa dibiarkan terlalu terbuka sehingga sembarang orang bisa menjadi pengurus tanpa pernah terlibat dalam proses didalamnya, sementara tantangan di luar semakin keras.?

Kelompok Islam transnasional merupakan tantangan baru yagn harus diwaspadai infiltrasinya dalam lingkungan NU. Di beberapa daerah, sudah terindikasi penyusupan tersebut dan akhirnya bisa dikeluarkan. Orang makin kabur antara NU dan Islam transnasional. Ada yang sudah permisif ‘ngak papa yang penting sama-sama Islamnya’ padahal orientasi politiknya berbeda.?

Ia menyatakan, NU harus belajar dari keruntuhan Syarekat Islam (SI) yang pada zaman kolonial, merupakan organisasi Islam paling besar dan berjaya. Tapi puluhan tahun kemudian habis karena terlalu terbuka, akhirnya ada kelompok SI hijau dan SI merah yang dimasuki anasir-anasir komunis.

“Ini tidak ada urusan demokratis dan tidak demokratis, ini urusannya eksistensi NU untuk masa depannya seperti apa, yang 12-13 tahun lagi sudah 100 tahun. Kalau dibiarkan, NU bisa seperti SI. Jadi orang yang mengurus NU merupakan orang yang betul-betul secara ideologi adalah orang NU, jelas, aswajanya seperti apa, pengkaderannya seperti apa,” tandasnya.

Muktamar Situbondo

Ia mencontohkan pola ahlul halli sudah pernah digunakan dalam muktamar ke-27 NU yang berlangsung di Sitobondo yang akhirnya memilih Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Masa itu ditandai dengan munculnya kader-kader muda NU yang cemerlang seperti Fahmi Syaifuddin, Gus Dur, Masdar F Mas’udi, Slamet Effendy Yusuf, Ichwan Syam dan lainnya. Dikalangan para ulama, juga ada pikiran baru yang reformis seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ahmad Siddiq dan lainnya.?

Kelompok tersebut sangat resah dan gundah dengan kondisi NU yang terlalu terbawa ke politik praktis. Lalu dicarilah cara bagaimana yang memimpin NU memiliki visi yang sama dan sejalan dengan ulama.?

“Kalau dilakukan pemilihan one man one vote, yang akan terpilih lagi Kiai Idham Chalid. Maka dicarilah model pemilihan agar Gus Dur terpilih ketua umum PBNU. Jadi konteksnya begitu. Untuk konteks sekarang, ya alasannya seperti yang saya sebutkan di atas.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 30 September 2011

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pondok Pesantren memegang peranan penting di masyarakat, sementara di perguruan tinggi masing-masing tempat para mahasiswa menuntut ilmu porsi pembinaan spiritual dan karakter mental masih sangat kurang. Karenannya harus tersedia tempat untuk membina moral, membangun karakter dan memperkuat basis keilmuan sehingga kelak akan mampu berperan secara maksimal di dunia kerja dan masyarakat yang tetap disemangati dengan nilai-nilai Keislaman, kebudayaan dan ke Indonesiaan. Hal itu yang selalu diungkapkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH A Hasyim Muzadi.

Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1989 berdiri Yayasan Al Hikam Malang dengan akte notaris NO 47/ 1989. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/   

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book. 

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 11 September 2011

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima kunjungan dan silaturrahim elit pengurus Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sore ini, Jumat (8/1) di Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164.

Kedatangan elit partai pemenang pemilu 2014 itu dalam rangka mengundang secara khusus Ketua Umum dan Sekjend PBNU ke acara Rakernas dan Harlah PDI-P pada tanggal 10 Januari 2016 di JJC Kemayoran Jakarta Pusat.

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Dalam sambutannya, Sekjend PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa ada banyak kesamaan visi antara PBNU dengan PDIP terutama yang menyangkut pendampingan wong cilik dan program-program kerakyatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“PDIP memiliki visi memberdayakan rakyat kecil dan itu sejalan dengan visi NU yang sangat peduli pada rakyat kecil,” tandas Hasto.

Sementara itu, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah menceritakan, ia telah melaporkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri soal dirinya yang bergabung dalam kepengurusan LAZISNU periode 2015-2020 ini. Menanggapi hal itu Megawati sangat berbahagia dan mendukung sepenuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu dalam sambutannya KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa PDIP sebagai partai penguasa hendaknya harus terus bersinergi dengan ormas-ormas yang ada untuk urusan sosial kemasyarakatan.

Selain itu, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta itu juga banyak memberi masukan soal keadaan terkini dunia Islam terutama soal kondisi konflik yang mendera negara-negara teluk di kawasan Timur Tengah.

“Di saat negara-negara teluk berkonflik, kita di Indoenesia harus memberi contoh, bahkan harus siap memediasi,” tandas Kang Said.

Lebih Lanjut, Sekjen HA Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Indonesia sangat siap untuk menjadi juru damai dan mediator konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran ini.

“Kita sangat siap untuk menjadi juru damai konflik negara-negara teluk yang sangat meresahkan itu. Kedua negara baik Iran mapun Arab Saudi adalah representasi negara Islam. Jadi sebagai sesama muslim kita siap membantu mengatasi konflik,” ujar Kang Helmy.

Selain KH Said Aqil Siroj dan H Helmy Faishal Zaini, hadir juga Bendum PBNU, Bina Suhendra, Wasekjen PBNU H Imam Pituduh, dan H Ishfah Abidal Aziz.

Sementara dari pihak PDIP rombongan terdiri dari Sekjen Hasto Kristiyanto, Wasekjen Ahmad Basarah serta beberapa pengurus harian lainnya. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah