Jumat, 30 Juni 2017

NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Nahdlatul Ulama perlu meningkatkan intensitas dakwah yang menyasar kepada masyarakat perkotaan. Hal itu mengingat demografi umat Islam di perkotaan terus meningkat, di samping karakternya yang relative berbeda dari masyarakat perdesaan juga membutuhkan strategi dakwah tertentu.

Demikian di antara poin utama diskusi bertema “Urgensi Dakwah di Masyarakat Perkotaan dan Perkantoran” yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) di Jakarta, Kamis (12/10) malam.

NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang rencananya digelar bulanan ini KH Maman Imanulhaq (Ketua LDNU), KH Asrorun Niam (Katib Syuriah PBNU), Ustadz Ali Sobirin (Wakil Ketua LTM NU), H Asrori Karni (Redaktur Senior Gatra), H Syamsul Huda (Ketua LAZISNU), dan Hadi Usmayadi (Ketua LTNNU). 

Maman di hadapan forum memaparkan tentang fenomena gairah keagamaan masyarakat perkotaan yang mulai muncul sejak tahun 1980-an. NU sebagai organisasi besar mau tidak mau harus menyesuaikan dalam metode dakwah yang digunakan.

Menurutnya, NU saat ini mestinya tidak hanya berfokus pada masalah substansial, namun juga harus memperhatikan simbol-simbol keagamaan. Hal ini dikarenakan masyarakat perkotaan saat ini lebih berfokus pada penggunaan simbol agama tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadi, dua hal itu yaitu memperhatikan simbol agama dan tetap menjaga substansi ajaran agama menjadi penting untuk diperhatikan,” ujar pria yang akrab disapa Kang Maman ini.

Sementara itu, Asrorun Niam mencoba untuk melihat permasalahan dakwah NU dari sisi yang lain. Menurutnya, NU mesti tidak lagi mengedepankan cara dakwah yang konfrontatif namun akan lebih baik jika NU melakukan sinergi pendampingan terhadap objek dakwah. Cara ini diyakini efektif dengan satu syarat yaitu dibutuhkan sikap yang istiqomah. Diharapkan dengan metode ini secara perlahan NU akan mewarnai kegiatan-kegiatan di sekitar objek dakwah. 

Diskusi malam hari ini dimanfaatkan oleh Ketua LAZISNU, Syamsul Huda, untuk melakukan introspeksi bersama. Betapa NU sebenarnya telah tertinggal dengan organisasi lain dalam manajemen zakat dan shadaqah, apalagi di kalangan perkotaan dan perkantoran. 

Ia memaparkan banyak fakta tentang hal ini. Namun demikian Syamsul optimis bahwa NU akan bisa menjadi lebih baik terutama dalam hal pengelolaan zakat yang profesional sebagai syarat menjangkau target masyarakat perkotaan dan perkantoran.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan Ali Shobirin sebagai pembicara selanjutnya menjelaskan bahwa solusi dari permasalahan ini sebenarnya sederhana yaitu kembali ke masjid. Ia mengajak hadirin secara umum dan khususnya kepada pengurus NU agar kembali memakmurkan masjid. Selain itu, penulis buku “Teknologi Ruh” ini juga meminta kepada Nahdhiyin untuk lebih berani mengambil peran dalam kegiatan keagamaan.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Asrori Karni, redaksi senior majalah Gatra. Asrori menganalisis perkembangan dakwah perkotaan dari sejak orde baru hingga saat ini. Menurutnya, jika melihat dari perjalanan waktu, NU saat ini mengalami akselerasi yang besar. Terbukti dengan banyaknya nahdhiyin yang berkiprah di berbagai bidang, sehingga dalam konteks dakwah kepada masyarakat perkotaan dan perkantoran ini, optimis akan melakukan akselerasi dari ketertinggalan pada saat ini.

Sebelumnya, Ketua LTNNU yang bertindak sebagai pemantik diskusi sekaligus moderator membuka pemaparannya dengan menjelaskan berbagai data terkait dengan demografi masyarakat perkotaan. 

Cak Usma, panggilan akrab Ketua LTN NU ini, juga menjelaskan tentang betapa pentingnya NU untuk memahami profil masyarakat perkotaan sehingga bisa tepat sasaran dalammenjalankan dakwah di perkotaan. Ia memaparkan tentang analisis SWOT terhadap tujuan dakwah NU ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menyatakan prihatin dengan kondisi dan perhatian terhadap guru di DKI Jakarta. Ada beberapa indikator yang dinilai menjadi bukti bahwa guru di ibu kota negara ini masih dipandang sebelah mata.

“Masih ada guru DKI Jakarta yang hanya mendapatkan gaji 300 ribu per bulan, padahal biaya hidup di Jakarta cukup tinggi. Bagaimana mereka bisa menghidupi keluarganya, menjamin kehidupan yang layak untuk anaknya, serta jaminan pendidikan yang berkelanjutan untuk anak turunnya?” kata Ketua PW Pergunu Aris Adi Leksono dalam siaran pers, Rabu (4/5).

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata

Ia menambahkan, tahun 2015 kemarin gaji guru honorer terlambat bayar hingga 10 bulan. Bahkan, di tahun 2016 belum ada kepastian honor untuk guru honorer di lingkungan Kementerian Agama. Tunjangan kesejateraan daerah (TKD) juta tak diterima semua guru, terutama guru yang lingkungan Kementerian Agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Padahal guru DKI Jakarta adalah sama mendidik anak Jakarta. Bahkan beban kerja guru Kementerian Agama lebih besar daripada lainnya dalam hal menanamkan akhlak dan moral pada generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Aris, terbitnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 235 Tahun 2015 tentang Honorarium Guru Non Pagawai Negeri Sipil Dan Tenaga Kependidikan Non Pegawai Sipil semakin menambah kesenjangan perlakuan pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap guru honorer, terutama bagi guru di sekolah swasta, apalagi bagi guru honorer di lingkungan Kementerian Agama.

Karena itu, Pergunu DKI meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta agar dapat memutuskan regulasi yang dapat memperhatikan nasib guru, secara berkeadilan tanpa dikotomi negeri-swasta, Diknas-Kemenag.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemangku kebijakan juga diharapkan bisa menjadi “rumah besar” pelayanan pendidikan di Jakarta yang berkeadilan dengan langkah konkret memberikan TKD untuk semuan Guru dan UMP untuk semua Guru.

“Untuk itu, Pemerintah Pusat, Pemprov DKI Jakarta, Dinas Pendidikan, dan Kementerian Agama perlu menerbitkan peraturan bersama untuk guru sebagai wujud sinergi kebijakan dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru di DKI Jakarta. Jakarta adalah daerah khusus, dengan APBD yang sangat besar, sangat memungkinkan menebitkan peraturan dengan pendekatan leg spesialis,” papar Aris.

PW Pergunu DKI Jakarta, Selasa (3/5) lalu juga menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta tersebut adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan". (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Drama Kalung Permata Barzanji karya WS Rendra akan dipentaskan sekitar 50 santri dari 9 pondok pesantren di Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (7/2) pukul 20.00.

Panitia pementasan, Jamaludin Mohammad mengatakan, sebelumnya drama itu dipentaskan juga oleh para santri itu di Pondok Kebon Jambu, Cirebon. Pementasan itu, kata Jamal, ditonton ribuan orang.

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM

Waktu di Tegal, tambah Jamal, ketika dipentaskan siang pukul 15.00 gedung teater dengan kapasitas 1500-an terisi penuh. “Malamnya, pukul 20.00 dihadiri Ki Entus (Bupati Tegal) dan Wamen Kemendikbud, gedung pementasan juga penuh,” katanya melalui pes rilis kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jumat (7/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Jamal yang juga pegiat Komunitas Seniman Santri (KSS) Cirebon ini, pementasan yang diadaptasi dari syair-syair puitis Sayid Jafar al-Barzanji disutradarai Ken Zuraida, istri WS Rendra.

Ken Zuraida, selepas pementasan di Kebon Jambu (29/2) kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah mengaku ada kebanggaan tersendiri mementaskan teater di tengah para santri dan dilakukan oleh mereka sendiri.

Ia menambahkan, gagasan pementasan teater Kalung Permata Barzanji bermula dari niatnya merevitalisasi Barzanji sebagai salah satu seni sastra yang berpuluh tahun akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain dilestarikan, sambung perempuan yang akarab disapa Mbak Ida ini, Barzanji sudah saatnya lebih dinikmati publik luas, bukan hanya kalangan pesantren.

"Selawat, melalui lantunan Barzanji itu bisa mencerahkan langit, juga bumi. Maka, tradisi ini penting untuk dipertahankan dan dikenalkan kepada masyarakat luas," katanya.

Pementasan akan berlansung tangaal 7 dan 8 Februari 2014 tiap 20.00 WIB. HTM: Balkon 50rbu Kursi bawah 100 rbu, VIP 250rbu, CP: Alice 0852 2377 3456. Informasi pemesanan tiket juga bisa melalui: TIM (021) 3193 7325 / 3193 7357 Untung: 9735 9735, Hemma 0857 1935 1935. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Juni 2017

Hikayat Khittah NU 1926

NU tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana. Kalimat ini begitu populer hingga sekarang setelah KH Achmad Siddiq menggunakannya untuk mengartikan Khitthah NU. Munculnya kalimat itu sangat erat dengan konteks sejarah yang melingkupinya, terutama pada sekitar tahun 1983-1984. Bagaimana asbabul wurud-nya?

Potongan-potongan sejarah tentang perjalanan NU tersebar di berbagai sumber. Ada yang tersurat dalam buku-buku tentang NU, ada yang terlukis dalam surat kabar, ada yang tertuang dalam cacatan-catatan pribadi, ada pula yang lestari melalui tutur kata orang per orang, dan ada juga yang terkunci dalam memori para pelaku sejarahnya.

Hikayat Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Khittah NU 1926

Secarik kisah berikut tentu tidak bisa mewakili aspek historis lahirnya Khitthah NU 1926 secara menyeluruh. Namun setidaknya inilah proses peristiwa yang berhasil direkam oleh Aula dari rujukan-rujukan utama tentang Khitthah NU 1926.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khitthah adalah satu kata dari Bahasa Arab yang berarti garis. Dalam NU, kata Khitthah pertama kali diungkapkan oleh KH Achyat Chalimi (Mojokerto) pada tahun 1954, ketika berlangsung Muktamar NU ke-20 di Surabaya. Kiai Achyat saat itu mengusulkan, “NU harus kembali ke Khitthah, agar tidak awut-awutan begini,” katanya. Namun usulan itu tidak disertai dengan konsep yang utuh, sehingga tidak mendapat banyak perhatian.

Kata Khitthah NU kemudian kembali menjadi perhatian nahdliyin pada Muktamar NU ke-26 pada tahun 1979 di Semarang. Dalam muktamar yang dilaksanakan pada 5-11 Juni 1979 itu, Sekjen PBNU waktu itu, KH Moenasir Ali, memesan buku berjudul Khitthah Nahdliyah yang ditulis oleh KH Achmad Siddiq dalam jumlah besar. Buku kecil itu kemudian dibagi-bagikan kepada peserta muktamar tapi tidak menjadi pembahasan muktamar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proses penulisan buku itu juga memiliki kisah tersendiri. Almaghfurlah KH A Muchith Muzadi, yang berperan dalam penulisan buku itu, pernah menuturkan secuil kisahnya kepad penulis. Menurutnya, sewaktu Kiai Achmad akan berangkat haji pada tahun 1978, banyak kiai dan pengurus NU yang diundang, termasuk Kiai Muchit. Saat itu Kiai Achmad memohon didoakan oleh para kiai sekaligus berceramah tentang NU pada masa lalu. Secara spontan Kiai Achmad dan para kiai meminta Kiai Muchith menulis isi ceramah itu.

Saat Kiai Achmad hendak berangkat dan transit di Surabaya, Kiai Muchith berkata: “Pak Achmad, ini catatan kemarin sudah jadi. Apakah mau ditinggal atau dibawa ke Makkah dan dikoreksi di sana?”. “Endi, tak gowo wae (Mana, aku bawa saja),” kata Kiai Achmad.

Setelah Kiai Achmad pulang ke tanah air, ternyata catatan itu sudah dikoreksi. Kemudian digarap lagi oleh Kiai Muchith, diserahkan, dikoreksi lagi dan begitu seterusnya. Sampai pada tahun 1979, setelah dianggap cukup, catatan itu kemudian diketik oleh Kiai Muchith dan diperbanyak hingga 10 eksemplar.

Draf itu memang rencananya dicetak menjadi buku. Namun sebelum Kiai Muchith mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama, ternyata ada pegawai percetakan dari Bangil yang datang membawa cetakan percobaan. Ia mengaku mendapat draf buku itu dari Amak Fadholi yang secara kebetulan diberi salinannya oleh Kiai Muchith.

Akhirnya buku itu dicetak dengan judul Khitthah Nahdliyah. Buku kecil itu juga diberi catatan pengantar oleh Wakil Rais Am waktu itu KH Masjkur dan Ketua Umum (Ketum) PBNU waktu itu KH Idham Chalid. Sejak saat itu, kata Khitthah banyak dibicarakan orang. Dan buku inilah yang menjadi  referensi utama untuk merumuskan Khitthah NU 1926 yang dibahas dan diputuskan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 tahun 1984.

Gejolak Organisasi

Khitthah NU 1926 sesungguhnya tidak hanya mengatur hubungan NU dengan partai politik. Tetapi secara historis, kelahiran Khitthah NU 1926 memang sangat dipengaruhi oleh realitas politik yang terjadi di Indonesia pada era awal 1980-an dan berdampak pada roda organisasi di tubuh NU.

Dalam konteks politik, NU pernah terjun ke dunia politik praktis dengan menjadi partai politik pada 1952. Setelah itu, Partai NU mengikuti dua kali Pemilu dan berhasil menjadi tiga partai politik terbesar di tanah air. Namun Partai NU dipaksa fusi pada tahun 1973 oleh pemerintah (Orde Baru) dengan dalih penyederhanaan partai. Sehingga hanya ada dua partai politik, yaitu PPP dan PDI serta Golkar (yang bukan partai politik tapi ikut Pemilu).

NU secara resmi menyatakan bergabung bersama umat Islam lainnya ke dalam PPP. Banyak pengurus NU yang merangkap sebagai pengurus PPP, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.  Bahkan Rais Am PBNU KH M Bisri Syansuri juga sekaligus menjabat Ketua Dewan Syura DPP PPP secara bersamaan. NU juga menempatkan beberapa tokohnya untuk menduduki kursi anggota legislatif, hasil Pemilu tahun 1977, baik di pusat maupun di tingkat daerah.

Pada muktamar ke-26 tahun 1979 di Semarang, suara untuk mengembalikan NU lepas dari partai politik sudah mulai terdengar. Salah satunya melalui buku berjudul Khitthah Nahdliyah yang ditulis oleh Kiai Achmad itu. Namun suaranya kurang menggema sehingga tidak bisa menjadi keputusan muktamar. Salah satu keputusan muktamar tersebut adalah memilih KH M Bisri Syansuri sebagai Rais Am yang menjabat sejak 1971 dan KH Idham Chalid sebagai Ketum PBNU yang memimpin sejak 1956.

Suasana berorganisasi kembali seperti semula. Said Budairy menceritakan dalam catatan pribadinya bahwa NU benar-benar mengalami krisis jati diri saat itu. “Sebagai organisasi politik sudah bukan, sedangkan merubah diri menjadi organisasi sosial keagamaan, baru berupa pernyataan. Prilaku masih tetap saja seperti masih sebagai partai politik. Kantor NU ramai dan sibuk hanya ketika menyongsong pemilihan umum. Ketika memasuki fase penyusunan calon untuk Pemilu, Ormas ini tiba-tiba saja persis seperti Parpol, repot banget menyusun daftar calon. Orang-orang berdatangan dari daerah. Khawatir susunan calon di daerahnya tidak sesuai dengan yang diinginkan”.

Keadaan ini diperparah dengan wafatnya Kiai Bisri pada tahun 1980. Kekosongan jabatan Rais Am PBNU berlangsung hingga satu setengah tahun kemudian. Baru pada bulan September 1981, posisi Rais Am PBNU dipercayakan kepada KH Ali Maksum melalui Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta.

Namun gejolak di dalam internal NU belum berakhir. Bahkan perpecahan antara syuriah dan tanfidziyah semakin menjadi-jadi. Puncaknya, pada tanggal 2 Mei 1982, dua hari sebelum dilangsungkannya Pemilu, empat orang kiai dari jajaran Syuriah PBNU berkumpul di Jakarta dan mengunjungi KH Idham Chalid di rumahnya di Cipete, Jakarta. Mereka adalah KH Ali Maksum, KH Machrus Aly, KH As’ad Syamsul Arifin dan KH Masjkur.

Mereka meminta Kiai Idham untuk lebih aktif mengurusi PBNU. Namun Kiai Idham tidak memenuhi permintaan mereka karena alasan kesehatan. Lalu Kiai As’ad mengusulkan, bagaimana jika Kiai Idham menyerahkan jabatan Ketum PBNU kepada Rais Am PBNU. Kiai Idham mengiyakan, dan pada hari itu pula Kiai Idham menandatangani surat pengunduran diri yang sebelumnya sudah disiapkan oleh empat kiai tersebut.

Tidak lama kemudian, Kiai Idham mencabut pengunduran diri itu karena para kiai dianggap menyalahi konsensus di antara mereka. Sebab berita pengunduran diri itu sudah tersebar luas dan sudah diketahui oleh pers sebelum perhitungan suara hasil Pemilu 1982 selesai.

Kiai Idham kemudian menyampaikan pengumuman bahwa jabatan Ketum PBNU masih ada di tangannya. Kiai Idham juga menentukan daftar pengurus yang berhak menandatangani surat keluar. Anehnya, nama Kiai Maksum sebagai Rais Am tidak ada dalam daftar itu. Seakan-akan Ketum PBNU itu telah memecat Rais Am. Padahal di pihak lain, Kiai Ali Maksum sudah merasa bahwa jabatan Ketum PBNU sudah diserahkan kepadanya, sehingga ia merangkap sebagai Rais Am sekaligus Ketum PBNU.

Peristiwa itu mengakibatkan kepemimpinan NU terpecah menjadi dua. Gerbong Idham Chalid dikenal dengan istilah kubu Cipete dan gerbong Kiai Ali Maksum dikenal dengan kubu Situbondo. Dualisme kepemimpinan ini berlangsung hingga setahun kemudian. Sampai akhirnya untuk menyelesaikan konflik itu kubu Cipete berencana mengadakan muktamar dan kubu Situbondo hendak menggelar Munas Alim Ulama.

Di tengah-tengah dualisme kepemimpinan itu, para aktivis muda NU mengambil inisiatif yang berbeda. Mereka kerap mengadakan diskusi untuk mencari solusi atas gejolak tersebut. Adalah dr Fahmi D Saifuddin yang menjadi motor penggeraknya. Dia merangkul tokoh-tokoh muda yang waktu itu peduli terhadap nasib NU dan sudah menjauh dari kepentingan politik manapun. Pertama-tama dr Fahmi bertamu ke rumah Said Budairy di rumahnya yang ada di Mampang, Jakarta Selatan, dan mengajaknya bergabung. Setelah itu, bergabung juga Mahbub Djunaidi, M Zamroni, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Danial Tandjung, Slamet Effendi Yusuf, M Ichwan Sam dan sebagainya. Diskusi dan rapat paling sering digelar di rumah Said Budairy yang kemudian dikenal dengan Kelompok G, karena rumah Said Budairy terletak di gang G.

Hasil diskusi-diskusi kecil itu semakin kongkret. Salah satunya adalah menggelar forum diskusi yang lebih besar dengan mengundang 24 tokoh NU dari berbagai daerah. Mereka adalah KH MA Sahal Mahfudz (tidak sempat hadir), KH Musthofa Bisri, KH M Moenasir Ali, KH A Muchith Muzadi, Gus Dur, KH Tholchah Hasan, Dr Asep Hadipranata, Mahbub Djunaidi, M Zamroni, dr Muhammad Thohir, dr Fahmi D Saifuddin, M Said Budairy, Abdullah Sjarwani, SH, M Saiful Mudjab, Umar Basalim, Drs H Cholil Musaddad, Gaffar Rahman, SH, Slamet Effendy Yusuf, M Ichwan Syam, Musa Abdillah, Musthofa Zuhad, M Danial Tanjung, Ahmad Bagdja dan Masdar F Mas’udi.

Diskusi yang membahas tentang NU masa depan itu kemudian dikenal dengan Majelis 24 karena pesertanya berjumlah 24 orang. Mereka berdiskusi pada 12 Mei 1983 di Hotel Hasta Jakarta. Pertemuan itu dilakukan dengan fasilitas yang sangat sederhana. Penyelenggara hanya menyewa ruangan dengan suguhan minuman dan kacang goreng. Malah waktu makan siang, semua peserta mencari makan di trotoar depan hotel. Pertemuan berlangsung sampai malam dan setelah pertemuan selesai, semua pulang ke tempat masing-masing.

Meskipun singkat dan penuh keterbatasan, tapi hasilnya sangat penting. Majelis 24 sepakat membentuk tim yang diberi nama Tim Tujuh Pemulihan Khitthah NU. Anggota tim ini diberi tugas untuk menyusun rumusan Khitthah NU 1926. Sedangkan acuan pokok tentang Khitthah NU adalah buku Khitthah Nahdliyah dan Fikrah Nahdliyah karya KH Ahmad Siddiq.

Kelompok ini disebut Tim Tujuh karena beranggota tujuh orang. Mereka terdiri dari Abdurrahman Wahid (ketua), M Zamroni (wakil ketua), M Said Budairy (sekretaris), Mahbub Djunaidi, dr Fahmi D Saifuddin, M Danial Tanjung dan Ahmad Bagdja (anggota).

Akhirnya Tim Tujuh berhasil menyusun rumusan Khitthah NU 1926 sebelum dilaksanakannya Munas Alim Ulama NU pada 18-21 Desember 1983. Rumusan tersebut kemudian menjadi pembahasan dan disahkan dalam Munas Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo. Setelah mengalami beberapa koreksi dari peserta Munas, Khitthah NU 1926 disahkan menjadi keputusan muktamar melalui Komisi Khitthah. (A. Afif Amrullah)

 

Penulis adalah Redaktur pelaksana Majalah Aula dan Dosen FAI Unsuri Surabaya

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbeda dari pertemuan rutin selapanan Ikatan Pelajar Nahadlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) anak cabang Sulang Rembang yang biasanya diisi materi keagamaan kali ini diisi materi Entrepreneurship, Ahad (25/9) bertempat di Masjid Jamiul Muttaqin Desa Pragu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB menghadirkan pemateri Ragil Bambang Sumatri asal Desa Kemadu Sulang Rembang. Dia mengisi materi Entrepreneurship dan banyak bercerita jatuh bangunnya dalam perjalanan bisnisnya menggeluti ternak kambing jawa.?

Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)
Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)

Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship

Dengan latar belakang pendidikan sarjana arsitek dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tidak menyiutkan nyali dia untuk menjadi pengusaha peternak kambing jawa dan kambing etawa yang dikenal memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

"Saya mulai beternak kambing itu mulai 2006. Pada saat itu, mencari kerja sangatlah sulit. Oleh karenanya, saya memilih membuka usaha sendiri dengan beternak kambing Jawa. Pertama kali ternak hanya sebanyak 8 ekor," ujar Ragil Bambang Sumatri diawal penyampaiannya.

Hadir dalam selapanan ini sebanyak 76 kader pelajar NU Sulang. Istiqomah, salah satu kader asal Ranting Pedak merasa senang karena materi selapanan kali ini sangat menginspirasinya. "Saya sangat senang sekali mengikuti acara dipagi hari ini, karena diajari oleh bapak Ragil mengenai peternakan kambing yang banyak sekali manfaatnya," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, beliau menceritakan kelompok tani ternak bernama Taruna Tani Margo Mulyo yang digagas beliau pada tahun 2009 meraih peringkat II tingkat Provinsi Jawa Tengah pada lomba peternakan pada tahun 2010. Sedangkan pada tahun ini, meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah dan akan maju tingkat nasional pada 2017 nanti.

Lain halnya dengan Edi Sucipto salah satu peserta asal Ranting Pragu merasa mendapatkan pengetahuan baru bagaimana memulai usaha yang baik, "Kalau pendapat saya secara pribadi terkait materi yang disampaikan sangatlah puas, banyak pelajaran bagaimana tips dan trik memulai sebuah usaha," tuturnya.

Acara yang selesai menjelang dzuhur ini dihadiri oleh sesepuh desa dan nampak hadir perwakilan dari pengurus cabang IPNU-IPPNU Rembang dan perwakilan Banom NU lainnya. (M. Ulin/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, PonPes, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah akan melaksanakan sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1434 Hijriyah pada 7 Agustus 2013 sesaat setelah diadakan rukyatul hilal di berbagai dareah. 

Pada saat itu posisi hilal sudah memungkinkan untuk dirukyat (imakur rukyat), dan berdasarkan pengalaman  maka hilal dimungkinkan bisa disaksikan.

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam laman Kementerian Agama di Jakarta, Rabu, berharap hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan secara bersama oleh semua umat Muslim di Tanah Air.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sidang itsbat akan dilaksanakan 7 Agustus, semua ormas Islam kita undang," kata Wamenag kepada wartawan pada acara buka puasa bersama di kediamannya, Jalan Ampera I No. 10, Jakarta Selatan, Selasa sore.

Hadir Duta Besar Arab Saudi Mustafa bin Ibrahim Al Mubarak, para pejabat eselon I, II, dan III Kementerian Agama, serta beberapa direktur BUMN.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wamenag mengatakan, jika didasarkan pada perhitungan hisab, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal atau hari Rabu senja tanggal 7 Agustus 2013, posisi hilal berada di atas dua derajat.

Sesuai pengalaman tahun-tahun yang lalu, apabila hilal di atas dua derajat, maka hilal atau bulan baru dimungkinkan akan bisa disaksikan atau imkanur rukyat.

"Kecuali jika pada hari itu seluruh lokasi pemantauan hilal di Tanah Air terhalang mendung," ujarnya.

Namun Wamenag berharap, hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. “Kita berharap lebaran bareng, sehingga lebih menguatkan ukhuwah Islamiyah," ujarnya.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, pada sidang itsbat penentuan awal syawal nanti terlebih dahulu dilaksanakan sebuah seminar membahas tentang masalah hisab-rukyat.

"Jika sebelumnya kegiatan sidang dilaksanakan sore hari, itsbat nanti akan dimulai dari siang hari, sekitar pukul 13.30 dengan sebuah seminar membahas permasalahan hisab rukyat, termasuk juga mengenai penetapan yang dilakukan oleh kelompok An Nazir dan Naqshabandi," kata Djamil.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kiai, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 26 Juni 2017

Pengurus NU Harus Sauyunan

Sukabumi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Penggerak Nahdlatul Ulama harus memiliki soliditas yang kuat. Saling bekerjasama dan sauyunan di antara para pengurus. Dalam bahasa Sunda, sauyunan berarti merapatkan barisan, seniat dan semisi, sevisi, dalam bercita-cita.?



Pengurus NU Harus Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Harus Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Harus Sauyunan

Menurut Mustasyar NU Kabupaten Sukabumi, Ajengan KH Mahbub, sauyunan bisa dicontoh dari penggerak NU Sukabumi di tahun 1950-an, yaitu Ajengan Masthuro, pemimpin Al-Masthuriyah, Ajengan Djunaidi pengasuh pesantren Cigunung, KH Abdullah Sanusi, pemimpin pesantren Al-Falah dan H Siroj.?

“Ajengan Masthuro menonjol dalam intelektual, Ajengan Abdullah ahli mengarang kitab, Ajengan Cigunung terkenal dengan ketawadhuan dan wara’ serta ajengan Siroj terkenal dengan ilmu kanuragannya,” ujar putera Ajengan Abdullah Sanusi, ketika ditemu Pondok Pesantren Attauhidiyyah beberapa waktu lalu.?

Para ajengan itu, terus menjaga silaturahim dan selalu bertukar pikirang tentang pesantren, umat, dan NU. Jika tidak demikian, sambung pengasuh pesantren Al-Falah Sukamantri ini, NU akan susah bergerak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Daden Sukendar, kiprah keempat penggerak NU itu mesti ditauladani penggerak NU sekarang.

Untuk tujuan itu, Keluarga Besar NU Sukabumi akan mengkaji karya-karya kiai NU di Sukabumi untuk kalangan anak muda NU. “Kegiatan tersebut merupakan upaya mempertemukan antara anak muda NU dengan orang tuanya,” ujar Daden, santri lulusan Al-Masthuriyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan tersebut diharapkan akan memupuk kebersamaan dan sauyunan anak muda NU Sukabumi yang aktif di PMII, IPNU, IPPNU, Fatayat dan GP Ansor. Sehingga soliditas yang kuat bisa terjalin. ?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah