Selasa, 05 Desember 2017

Perempuan Haidh Boleh Tahlil

Mati tidak mengenal kompromi. Kapapun bisa datang, dimanapun bisa terjadi. Dan mati juga tidak bisa ditawar apalagi dimajukan waktunya fala yastakhiruna saatan wa la yastaqdimun. Begitulah aturan dari Yang Maha Kuasa. Dia yang memberi penghidupan Dia pula yang berhak mencabutnya kembali. Kapanpun dia suka.Sehubungan dengan mati, maka taziyah dan tahlil sebagai acara doa bersama tidak bisa dilewati. Meskipun banyak orang yang mengatakan doa untuk orang mati tidak sampai, tetap saja keluarga tidak tega untuk tidak mendoakannya. Apalagi jika si mayit itu ayah, suami, kakak atau adik yang memiliki peran dan kontribusi pada kehidupan kita. Apalagi yang dapat kita berikan kepadanya selain doa. Uang, emas, mobil tidak dapat dia bawanya ke alam kubur. Bahkan harta yang dikumpulkannya selama hidupnya malah akan segera dibagi-bagi sebagai warisan. Sungguh kasihan jika mayit tidak kita bekali dengan doa, dan sungguh tega jika hanya doapun kita tidak memberikannya.

Namun sekali lagi kematian datang sesuka hati, dia tidak tahu ternyata istri, adik, kakak, ataupun emak yang ditinggalkan dalam keadaan hadats besar. Seringkali mereka bingung bolehkah berkirim doa membaca surat ikhlas dan Fatihah, jika dalam keadaa haidh. Padahal mayit kesayangan sangat membutuhkan doanya?

Mengenai hal ini Ianatuht Thaibin menerangkan dengan jelas:

Perempuan Haidh Boleh Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Haidh Boleh Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Haidh Boleh Tahlil

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Apabila ada tujuan berdzikir saja atau berdoa, atau ngalap berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apapun (selama tidak berniat membaca al-Quran) maka (membacaal-quan bagi perempuan haidh) tidak diharamkan. Kerena ketika dijumpai suatu qarinah, maka yang dibacanya itu bukanlah al-Quran kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca al-Quran. Walaupun bacaan itu seseungguhnya adalah bagian dari alquran semisal surat al-ikhlas.

Demikianlah seseungguhnya seorang yang sedang haidh diperbolehkan membaca al-Quran selama tidak diniatkan untuk berzikir maupun berdoa demikian pula membaca tahlil dan tahmid dan takbir. Bahakan dalam kitab al-Mizanul Kubra diterangkan dengan tegas bahwa Imam Malik memperbolehkan wanita haidh membaca al-Quran. (Pen/Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar