Jumat, 06 April 2007

Bantu Polres, GP Ansor Depok Turunkan 100 Banser Amankan Gereja

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda (GP) Ansor NU Depok kembali turut serta mengamankan peringatan Hari Natal. Pengamanan ini menyebar di sejumlah titik ? gereja di Kota Depok. Sebanyak 100 personel Banser akan menjaga keamanan dan kenyamanan ibadah pengunjung gereja saat Natal.

Hal itu dibenarkan Ketua GP Ansor NU Depok Abdul Kodir. "Kita ikut serta serta ? mengamankan gereja saat Natal. Ini adalah bentuk komitmen kami dalam upaya menjaga kondusifitas dan kenyamanan umat beragama dalam menjalankan ibadah," ujarnya.

Bantu Polres, GP Ansor Depok Turunkan 100 Banser Amankan Gereja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Polres, GP Ansor Depok Turunkan 100 Banser Amankan Gereja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Polres, GP Ansor Depok Turunkan 100 Banser Amankan Gereja

Kodir mengungkapkan, upaya pengamanan gereja saat Natal merupakan agenda rutin. Langkah tersebut juga merupakan bagian dari menjaga stabilitas kemanan dari masyarakat melalui organisasi massa. Meski begitu, dalam menjalankan pengamanan tersebut pihaknya berkordinasi dengan sejumlah pihak seperti Polresta Depok.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tentunya dalam pengaman gereja nanti, kita berkoordinasi dengan pihak terkait," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia berharap, peringatan Natal berjalan dengan suasana kondusif dan aman. Dia menilai, ancaman keamanan kapan saja bisa terjadi. Apalagi, lanjutnya, kondisi saat ini bisa dipahami berdekatan dengan tahun baru dan pascapilkada.

"Kita hanya berupaya dalam mewujudkan keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan ibadah. Sebagai bentuk solidaritas antaragama dan menjaga keutuhan umat beragama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika," tandasnya. (Aan Humaidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 15 Februari 2007

Kiai Huda: Zakat Bisa Atasi Ketimpangan Kesejahteraan

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyaknya kekerasan kelompok ekstrem terjadi antara lain akibat ketimpangan kesejahteraan. Mereka yang tergabung dalam gerakan ISIS kerap kali didorong oleh motif ekonomi dan tergiur gaji yang besar. Untuk mengatasi ini, zakat bisa menjadi solusi dalam memutus peredaran jaringan ekstremisme.

Kiai Huda: Zakat Bisa Atasi Ketimpangan Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Huda: Zakat Bisa Atasi Ketimpangan Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Huda: Zakat Bisa Atasi Ketimpangan Kesejahteraan

"Kalau orang muslim bisa mengeluarkan zakatnya untuk warga sekitar maka tidak akan ada kesenjangan dan keterbelakangan ekonomi di lingkungan kita," demikian disampaikan Mustasyar NU Demak KH Muhammad Nurul Huda saat menyampaikan kajian kitab Majmuk Syarhul Muhadzab di pesantrennya, Senin (29/6) malam.

Pengasuh pesantren At-Taslim Bintoro Demak ini mengatakan, banyaknya warga negara masuk ISIS kalau ditelisik mayoritas bukan murni ideologi agama mereka yang kuat, melainkan kondisi ekonomi keluarga di bawah rata-rata.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Mereka masuk ISIS karena ada jaminan dari kelompok mereka akan kesejahteraan keluarganya, makanya daripada sulit cari bekal ekonomi keluarga, mereka mengambil jalan pintas dengan dalih jihad," tambah Kiai Nurul Huda.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut cucu mbah Maksum Lasem ini, selain sebagai pemenuhan kewajiban terhadap hukum syariat Islam, zakat justru bisa mengatasi bergabungnya mereka ke kelompok garis keras sehingga ajaran Aswaja bisa terselamatkan oleh zakat yang tersalurkan pada yang berhak terutama fakir miskin tersebut. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 30 Januari 2007

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peringatan 1000 hari wafat KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) akan digelar diberbagai tempat. Salah satunya di Ciganjur, kediaman Gus Dur semasa hidup. Beragam acara akan digelar, mulai tahlilan, taushiyah, dan pentas kebudayaan.

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur

Peringatan yang akan digelar 26 dan 27 September tersebut, akan dihadiri jamaah dari beragam tempat. Pondok Pesantren Attauhidiyyah berhasil menemui salah seorang warga yang sudah menggalang jamaah.

“Kami dari Tanjung Priuk akan berangkat enam truk sekitar dua ratus orang,” ujar Helmi salah seorang peserta peluncuran buku Sang Zahid buah karya KH Husein Muhammad di Wahid Institute, Matraman, Jakarta, Selasa, (25/9).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Itu belum termasuk yang berangkat dengan mobil pribadi dan motor,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Helmi mengaku mengetahui peringatan seribu hari wafat Gus Dur dari Gus Nuril Soko Tunggal Rawamangun, Jakarta. Kemudian para pengusaha yang memiliki truk dan mobil pribadinya disiapkan mengangkut jamaah.

“Jadi, kami tidak urunan. Itu truk-truk pribadi pengusaha kayu Sumenep, Madura, yang akan dengan gratis membawa jamaah,” ujarnya.

Menurut Helmi, mengajak mereka sangat mudah karena sudah terhubung dalam jamaah shalawat Nariyah KH Kholil As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, yang tiap seminggu sekali berkumpul.

“Kami hadir disebabakan cinta kepada Gus Dur. Ia selalu membela keragaman, bersahaja dan sekaligus salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama. Selain itu, karena KH Kholil As’ad Syamsul Arifin pernah mengisi shalawat Nariyah di Ciganjur,” katanya, ketika ditanya alasan kehadiran.

Selain dari Tanjung Priuk, Helmi juga mendapat informasi teman-temannya dari Taman Puring, Jakarta Selatan, Cibinong,dan Banten juga akan hadir berombongan.

“Dahsyat sekali. Sangat dahsyat! Saya kagum dengan fenomena ini. Saya kemudian mencari. Itulah kemudian saya menulis buku Sang Zahid,”komentar KH Husein Muhammad ketika diceritakan jamaah yang bersiap menghadiri peringatan 1000 hari wafat Gus Dur.

Karena itu, sambung pengasuh pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, semakin yakin betapa bahagianya orang-orang ikhlas seperti Ketua Umum PBNU 1984-1999.

“Ketika dia hadir sering tidak dipahami. Ketika tidak ada, dia dicari-cari,” tuturnya.Semula saya menduga, lanjutnya, akan membutuhkan waktu panjang warga memahami Gus Dur, “Ternyata begitu cepat ia menjadi legenda,” katanya.

Ia kemudian mengutip sebuah hadits, Allah itu apabila mencintai seseorang, mengatakan kepada malaikat Jibril. “Hai Jibril, aku mencintai seseorang, maka cintailah dia!” Kemudian Jibril juga menceritakan kepada teman-temannya. “Hai malaikat, Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!”

“Apabila yang di langit itu mencintai si fulan, maka yang di bumi pun akan mencintai si fulan. Itu yang dicintai Allah seperti itu,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Januari 2007

Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama”

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU H Rumadi meluncurkan buku karya terbarunya, Kamis (24/3) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta. Buku yang diberi judul ‘Fatwa Hubungan Antaragama di Indonesia’ yang dilakukan oleh 3 ormas besar, NU Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini sekaligus dibedah dalam kegiatan tersebut.

Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama”

Diantara para narasumber yang membedah karya Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut yaitu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfudh MD, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag RI H Machasin, Pengurus Pusat Muhammadiyah Imam Daruquthni, dan anggota komisi Fatwa MUI Pusat yang juga Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghozali.

Dalam bukunya ini, Rumadi berupaya mengupas 13 fatwa NU dari tahun 1929-1999, 12 fatwa Muhammadiyah dari tahun 1989-2011, dan 16 fatwa ditambah rekomendasi MUI dari tahun 1980-2012.

Menurut keterangan rilis tentang buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tersebut, setelah ditabulasi tercatat ada 27 topik antaragama. Beberapa tema dibahas silang oleh tiga atau dua dari tiga organisasi tersebut. Satu-satunya fatwa yang dibahas tiga organisasi ini adalah perkawinan beda agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain para narasumber dan penulis buku, hadir pada acara bedah buku setebal 310 halaman ini Wakil Ketua PBNU H M Maksoem Mahfoedz, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid yang didaulat sebagai moderator, Ulil Abshar Abdalla, dan ratusan peserta dari berbagai latar belakang yang hadir memadati ruangan tempat acara. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 Desember 2006

Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai

Pringsewu,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Eksistensi manusia di dunia ini pada hakikatnya adalah berawal dari ketiadaan. Asal kita berasal dari tidak ada, kemudian ada di dunia, selanjutnya tidak ada lagi. Akhirnya akan diadakan lagi oleh yang menciptakan kita, Allah SWT.

Demikian dikatakan KH Sujadi di depan Majelis Taklim Al Huda Pagelaran, Selasa (27/9).

Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai (Sumber Gambar : Nu Online)
Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai (Sumber Gambar : Nu Online)

Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai

Dari rangkaian peristiwa ini, lanjutnya, sudah seharusnya manusia mengambil hikmah perjalanan manusia tersebut dengan senantiasa mengingat bahwa kehidupan manusia tidaklah kekal di dunia ini. Ketidakkekalan ini juga harus diringi dengan mempersiapkan bekal dengan sebaik-baiknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Mari berkarya apa saja di dunia ini. Seluruh karya kita di dunia ini akan dinilai oleh Allah SWT. Kebaikan akan dinilai, kejelekan juga akan dinilai. Becik ketitik, Olo ketoro," ujar Bupati Pringsewu ini mengutip pepatah jawa.

Kiai tersebut menegaskan pula bahwa Penilaian Allah SWT kepada manusia selama di dunia bersifat mutlak kebenarannya. Tidak ada subjektifitas di dalamnya. Sehingganya apa yang dilakukan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan sesuai dengan apa yang dilakukannya.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula," terangnya mengutip Quran surat Az Zalzalah ayat 7-8.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Mustasyar PCNU Pringsewu ini juga mengajak kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan kepada sesama muslim baik yang masih hidup ataupun sudah dipanggil oleh yang kuasa. "Mereka yang dialam qubur juga melihat dan mendoakan kita yang di dunia," ujarnya.

Orang yang telah mendahului dipanggil Allah SWT akan melihat tingkah laku manusia di dunia. "Jika yang ditinggalkan selalu mendoakan dan saling berbuat baik dengan sesama maka merekapun akan senang. Namun sebaliknya jika yang ditinggalkan tidak mendoakan dan selalu berselisih maka merekapun akan bersedih," katanya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 01 Desember 2006

Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan

Oleh Nasrullah Nurdin

Pada era globalisasi seperti sekarang ini geliat bertukar informasi dan literasi digital tak bisa dihentikan. Masyarakat seakan kecanduan dalam berselancar di dunia virtual itu. Membaca, men-share, meng-upadate, dan mem-posting/meng-upload suatu berita di dunia maya menjadi bagian dari rutinitas masyarakat dunia. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah tidak bisa dihentikan, ancaman perang informasi juga semakin dahsyat saja. Berita benar dan salah tak menjadi persoalan.

Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan

Diakui atau tidak, perang informasi telah membawa implikasi yang luar biasa dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemanfaatan yang positif dari perkembangan teknologi informasi untuk membangun sistem dan tata nilai kehidupan manusia sudah banyak dirasakan. Namun, di sisi lain, dampak negatifnya tidak kalah besar dalam merusak karakter manusia yang juga berpotensi mengancam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta mudah untuk menghancurkan kedaulatan suatu negara dibandingkan perang fisik yang pernah mewarnai hubungan antar manusia di era Perang Dunia I dan Perang Dunia II maupun Perang Dingin. (Opini Harian Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jumat 13 Januari 2017, h. 8).

Mengonsumsi berita juga perlu kita perhatikan. Asupan informasi yang baik tentu dapat membuat pikiran kita positif, pun sebaliknya dengan berita negatif dan provokatif, apalagi berita bohong atau informasi palsu (hoax). Berita hoax belakangan ini cukup meresahkan masyarakat. Pasalnya, tak hanya berita isu berskala lokal atau nasional, hoax bisa menyerang seluruh aspek kehidupan manusia. Isu agama, ekonomi, politik, kesehatan, dan isu lainnya tidak luput dari sasaran empuk pembuat hoax. Istilahnya, hoax ibarat bensin yang tersulut api, tidak hanya menyebar dengan cepat, tetapi juga mampu membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Perumpamaan ini dirasa tak berlebihan karena banyak sekali orang yang sudah ‘terbakar habis’ karena hoax. Logikanya, orang awam setelah menerima hoax, tanpa pikir panjang mereka langsung menyebarkannya tanpa harus check and recheck terlebih dahulu. Apalagi, teknologi informasi, khususnya internet membuat penyebaran hoax menjadi lebih cepat dan masif. Media sosial menjadi salah satu sarana gratis yang sangat ampuh untuk menyebarkan hoax, mengingat sebagian masyarakat Indonesia memiliki akun media sosial (medsos).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ironisnya, penyebaran hoax tak hanya dilakukan orang awam, tetapi juga banyak yang berasal dari kalangan akademisi. Ada adagium yang menyatakan jika berita bohong disebarkan terus-menerus dan masif, lambat laun akan dipercaya masyarakat sebagai sebuah kebenaran. Kecenderungan masyarakat Indonesia yang sangat responsif terhadap suatu fenomena merupakan peluang yang sangat mungkin dimanfaatkan orang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan hoax. Di era sekarang ini siapa saja bisa menciptakan informasi dengan motif bermacam-macam. Berhati-hati dalam memercayai dan menyebarkan informasi (sharing information) adalah salah satu upaya preventif menghentikan mata rantai penyebaran hoax. (Harian Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jumat 13 Januari 2017, h. 9).

(Baca: Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



‘Jihad’ Membendung Hoax



Padanan kata hoax (Inggris), dalam bahasa Arab adalah khad?’ah, khud’ah, dan hilah, dan makr yang berarti menipu dan mengolok-olok. Bila ditelusuri melalui Al-Qur’an, orang-orang yang memproduksi berita hoax ini pada umumnya adalah orang-orang munafik dengan tujuan merusak agama, adu domba, dan provokasi. Akar kata yang sama dengan khad?’ah dan khud’ah ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: ayat 9. Akan tetapi, didahului oleh pernyataan tentang iman yakni QS. Al-Baqarah [2]: ayat 8, dan dilanjutkan dengan menyebutkan motif memproduksi atau menyebarkan hoax itu sendiri, yaitu sakit hati, iri, dengki, dan ragu terhadap Islam.

Ini berarti bahwa pekerjaan memproduksi hoax dan menyebarkannya bukanlah pekerjaan orang beriman, meskipun kebanyakan mereka—yang memproduksi dan menyebar berita hoax itu—mengaku beriman seperti yang terdapat dalam QS Al-Baqarah [2]: ayat 8. Meski ada yang berpendapat bahwa berita hoax telah menyatukan umat Islam, persatuan itu tidak lain dari hasil kerja yang batil (salah atau keliru). Sesuatu yang dihasilkan dari usaha batil, tak akan pernah mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, hanya akan menuai keburukan. Adanya ayat ini, dapat dipahami sebagai isyarat bahwa dalam sejarah umat beragama, masalah hoax adalah lagu lama. Peringatan Tuhan pada manusia tentang berita hoax, yang telah ada sejak 14 abad silam—dan hingga hari ini masih sangat relevan—menunjukkan hoax selalu hadir dalam kehidupan masyarakat beragama untuk merusak kerukunan beragama dan menciptakan perang (war). (Opini Harian Umum Republika, Jumat 13 Januari 2017, h. 6).



(Baca juga: Berita Hoax dalam Lintasan Sejarah)


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa berita bohong (hoax) ini sudah pernah ada dalam lintasan sejarah Islam. Menurut Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Muchlis Muhamamad Hanafi yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta ini, menyebarluaskan berita bohong (hoax) merupakan dosa besar. Tindakan tersebut, ungkap Muchlis, akan menimbulkan fitnah yang merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.Dia menyebutkan Rasulullah SAW pernah menjadi korban hoax. Ini ketika istri Rasul, Siti Aisyah RA mendapat tuduhan berselingkuh. Menurut Muchlis, berita hoax tersebut sempat menggelinding liar di Madinah seperti disebutkan dalam Alquran surah an-Nur [24]: ayat ke-11 dan 12. Dalam istilah Al-Qur’an, berita hoax tersebut disebut dengan kata ‘Fâhisyah’ sebagaimana penegasan Al-Qur’an surah an-Nur [24]: ayat ke-19, yaitu sesuatu yang teramat keji. “Bahkan, terbilang dosa besar terbesar,” tulis penyabet gelar doktor di bidang tafsir dari Universitas al-Azhar, Kairo? Mesir ini.



(Baca juga: Haditsul Ifki (Hoax) di Masa Rasulullah SAW)


Muchlis mengutip hadits Rasul tentang bahaya hoax dari riwayat Bukhari. Hadits tersebut berbunyi: "Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga, termasuk perkataan/persaksian dusta/palsu.” Tak hanya terhenti di situ, imbuh Muchlis, Allah SWT menggandengkan dua larangan sekaligus yaitu larangan menyembah berhala yang najis dan larangan berkata dusta sebagaimana penegasan Alquran surah al-Hajj ayat ke-30. Dalam pandangan Muchlis, ini mengesankan dosa penyebar hoax berada sedikit di bawah dosa syirik. “Penyebar hoax, awas! Murka Tuhan menanti Anda di dunia dan akhirat (QS an-Nur:19),” tulis Muchlis yang juga Ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini. (Source: Republika Online, Sabtu 14 Januari 2017 pukul 08.00 WIB).

Berita hoaxyang menimpa rumah tangga baginda Muhammad SAW, Ummul Mukminin Siti Aisyah RA dikenal dengan Haditsul Ifki (? ?)/yaitu berita bohong/gosip murahan. Disebutkan dalam QS An-Nur [24]: ayat 11-14. Dalam asbâbun nuzûl-nya dikisahkan bahwafitnah dan pemutarbalikan fakta alias kebohongan besar terjadi atas diri Aisyah sebagai akibat dari kebohongan berita yang disebarkan orang-orang munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Dalam perang dengan suku Yahudi, Bani Musthaliq, yang populer dengan Perang Muraisi’, Nabi Muhammad membawa Ummul Mukminin Aisyah RA. Selesai perang, pasukan siap untuk pulang, sementara Aisyah RA ingin buang air, lalu beliau pergi menjauh dari pasukan. Selesai melaksanakan hajatnya, beliau menyadari bahwa manik-maniknya (perhiasan) jatuh, lalu berbalik lagi untuk mengambilnya. Ketika beliau kembali ke tempat semula, beliau mengetahui bahwa pasukan sudah berangkat, dan beliau tidak mungkin menyusul dengan berjalan kaki karena untanya ikut rombongan pasukan itu. Tidak ada orang yang menyadari bahwa Aisyah RA tertinggal.

Aisyah RA terpaksa hanya menunggu, tetapi sampai memasuki waktu malam tidak ada yang datang menjemput. Lalu seorang pemuda muslim bernama Shafwan bin Mu’atthal as-Sulami, yang memilih berangkat paling belakang, melihat adanya sosok perempuan, lalu ia mendekat. Karena sebelum perintah berhijab bagi istri-istri Nabi diturunkan, ia (Shafwan) pernah melihat Aisyah RA. Lalu ia pun tahu bahwa itu adalah Ummul Mukmini Aisyah RA. Ia berteriak sambil mengucapkan Inna lillah wa inna Ilayhi Roji’un, sehingga Aisyah terbangun. Shafwan bin Mu’atthal memerintahkan untanya berjongkok, dan Aisyah menaikinya, lalu mereka berdua menyusul pasukan yang lebih dulu berangkat. Mereka baru menemukan pasukan ketika pasuka tentara itu istirahat untuk berlindung dari terik panas matahari pada tengah hari berikutnya. Sesampainya di Madinah, berkembanglah rumor yang bersumber dari Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik di Madinah), lalu Hassan bin Sabit (keponakan Nabi sebelum masuk Islam) dan Mistah (keponakan Abu Bakar), bahwa Aisyah RA berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’attal. Nabi mendengar berita/gosip murahan/rumor itu terpengaruh dan tidak menegur Aisyah dan hanya berdoa kepada Allah untuk mendapat ampunan dari Allah SWT. Ayat ini menerangkan bahwa Allah mencela tindakan orang-orang mukmin yang mendengar berita bohong (hoax) itu yang seakan-akan mempercayainya. Mengapa mereka tidak menolak fitnahan itu secara spontan? Mengapa mereka tidak mendahulukan baik sangkanya (positive thinking)? Iman mereka, semestinya membawa mereka untuk berbaik sangka (husnuz zhan), dan mencegah mereka berburuk sangka kepada sesama mukmin. (Referensi: Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid 6, Juz 16, 17, dan 18, Direktorat Jenderal Bimas Islam, Urusan Agama Islam dan Bimbingan Syariah (Urais) Kementerian Agama RI, 2012, h. 573-578). ?

Pentingnya Tabayun(Klarifikasi)

Berita bohong di era digital kini mencapai puncak kejayaannya. Berita yang lazim disebut hoax itu kerap tersebar di grup media sosial dari mulai Facebook, Instagram, Twitter, hingga Whatsapp. Hoax sebagaimana dipaparkan di atas adalah berita palsu yang diproduksi untuk tujuan menyerang orang atau kelompok tertentu. Berita bohong atau informasi palsu ini telah menggerus kaum intelek dan akademisi (sampai bergelar profesor dan doktor) serta melumpuhkan akal sehat kita hingga ke titik nadir. Bayangkan, kaum terpelajar yang semestinya memilah dan memilih berita terlebih dahulu bahkan harus kritis dalam menyerap informasi malah melahap mentah-mentah berita palsu dan menyebarkannya ke orang lain.

Di dalam Islam, orang beriman selayaknya mengklarifikasi berita yang sampai. Islam sebenarnya memiliki doktrin yang ketat untuk menghindari hoax. Allah SWT menyuruh kaum mukmin untuk meneliti dan mengonfirmasi berita yang datang kepadanya. Khususnya berita itu datang dari orang fasik. Berikut firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika ada seorang fasik datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayun lah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. Al-Hujurât [49]: ayat 6).M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah seperti dilansir Harian Umum Republika, Dialog Jumat 13 Januari 2017/14 Rabi’ul Akhir 1438 H, h. 4, bahwa ayat ke-6 ini merupakan salah satu ketetapan agama dalam kehidupan sosial. Kehidupan manusia dan interaksinya harus didasarkan pada hal-hal yang diketahui. Karena itu, dia membutuhkan pihak lain yang jujur dan berintegritas untuk menyampaikan hal-hal yang benar. Berita yang sampai pun harus disaring. Jangan sampai seseorang melangkah tidak dengan jelas atau dalam bahasa ayat di atas, yakni bi jahalah/ ? alias tidak tahu.

Oleh karena itu, penting bagi kita selaku pengguna media sosial dan internet untuk cerdas dan teliti dalam berbagi informasi. Jarimu, harimaumu. Mari bijak dalam bertukar informasi. Saring dulu sebelum sharing.

Penulis adalah staf Badan Litbang dan Diklat Kemenag; alumni Pascasarjana UIN Jakarta, penulis buku, dan pengurus Lembaga Falakiyah PW NU DKI Jakarta periode 2016-2020



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Ulama, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 22 September 2006

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional

Magelang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Perjuangan bangsa Indonesia menghadirkan kembali kejayaannya di bidang olahraga masih harus melalui jalan panjang dan penuh tantangan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi pada puncak Peringatan Hari Olahraga Nasional, di Alun-Alun Kota Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (9/9).

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional

Namun menurutnya justru dengan momentum peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) 2017 yang mengangkat tema “Olahraga Menyatukan Kita’’ akan menjadi langkah strategis mewujudkan tantangan itu dengan sinergi dan kerjasama dari semua pihak.

“Momentum Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) adalah momen sangat penting dimana kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, pengorbanan serta perjuangan seluruh pihak yang berkontribusi dalam membangun kemajuan olahraga dari tingkat daerah hingga pusat, mulai dari atlet, pelatih, manajer, pemilik klub, pimpinan cabang olahraga, para pembuat kebijakan, kampus-kampus dan sekolah olahraga, media dan juga masyarakat yang mencintai olahraga,” ujar Menpora.

Menpora mengatakan dengan semangat olahraga yang mempersatukan ini, banyak kegiatan-kegiatan keolahragaan diarahkan untuk menumbuhkan kembali semangat cinta tanah air, dan penyatuan kembali semangat kebangsaan dan solidaritas di antara sesama warga masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tidak hanya tentang persatuan, olahraga juga mengajarkan kita banyak hal tentang makna kejujuran, sportivitas, keadilan dan juga kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa. Ketika semua bersatu dan berjuang untuk olahraga, maka serentak kita akan berkata inilah Indonesia, Indonesia Raya…!!! maka disitulah kebanggaan kita hadir dari olahraga,” tegas Menpora lagi.

Menurutnya, semangat perayaan Hari Olahraga Nasional kali ini sedikit berbeda dari biasanya, karena dilakukan kurang lebih satu tahun jelang perhelatan olahraga paling bergengsi di Asia dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

“Asian Games dan Asian Paragames 2018 harus menjadi momentum kebangkitan kembali kejayaan olahraga Indonesia. Keduanya harus meninggalkan warisan berharga bagi bangsa Indonesia, yakni meninggalkan infrastruktur olahraga yang lebih baik, lebih maju dan lebih modern, dan hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah mewariskan masyarakat Indonesia yang gemar berolahraga.” jelas Imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih jauh ia mengatakan bahwa masyarakat yang gemar dan mencintai olahraga adalah dasar dari lahirnya prestasi olahraga, “Kita ingin membidik prestasi dari tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan olahraga, Prestasi adalah sebuah proses panjang melahirkan dan menemukan atlet-atlet elit dari ribuan bahkan jutaan anak-anak Indonesia yang turun ke lapangan olahraga, yang berlari dan terus berlari, bergerak terus berolahraga, menempa dirinya dengan disiplin dan latihan keras untuk menjadi juara,’’ jelas Cak Imam, sapaan akrabnya di kalangan anak-anak muda dan para atlet.

Gerakan #Ayo Olahraga Untuk Hadirkan Prestasi Olahraga

Di Tahun 2017, Kementerian Pemuda dan Olahraga telah mencanangkan Gerakan Ayo Olahraga. Gerakan Ayo Olahraga ini sudah berjalan sejak awal bulan Mei lalu dengan menggulirkan 3 program unggulan utama yaitu: Gowes Pesona Nusantara, Gala Desa dan Liga Sepakbola Pelajar (U-12, U-14, U-16 dan Liga Mahasiswa).

Kegiatan Gowes Pesona Nusantara telah melintasi 81 titik Kabupaten/Kota dari 90 Kabupaten/Kota, sementara itu Gala Desa telah berjalan dengan melibatkan 816 desa, 136 kabupaten/kota di 34 Provinsi. Untuk Liga Sepakbola Pelajar di berbagai level dan jenjang usia telah melibatkan ribuan pelajar dari seluruh Indonesia.

Semangat dari ratusan ribu masyarakat yang telah tersentuh oleh program ini diharapkan dapat terus meningkatkan kegemaran masyarakat berolahraga. 

Secara khusus Program Gowes Pesona Nusantara diarahkan untuk melahirkan sebuah konsensus bersama dari seluruh daerah di Indonesia untuk melahirkan Hari Bersepeda Nasional. Sementara pada kegiatan lainnya yakni Gala Desa dan Liga Sepakbola Pelajar bertujuan untuk menjadikan kedua ajang tersebut sebagai wadah pencarian bibit-bibit olahragawan handal dan penuh potensi dari seluruh pelosok nusantara.

Gerakan Ayo Olahraga ini sejatinya juga bisa dikatakan menjadi tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang  bertujuan melibatkan seluruh komponen bangsa untuk hidup sehat dengan berolahraga, hidup aktif dan produktif dengan berolahraga secara rutin dan teratur apapun jenis olahraganya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah