Senin, 02 Agustus 2010

Surau, Pusat Dakwah di Minangkabau

Kata Surau, konon berasal dari kata bahasa Arab sugra, yang berarti kecil. Karena pengaruh dialek, berubah dengan bunyi “surau”, yang berarti bangunan lebih kecil dari mesjid, didirikan sebagai bangunan pelengkap rumah gadang. 

Di Minangkabau, Surau pada dasarnya adalah tempat para bujangan laki-laki untuk bertemu, berkumpul, rapat dan tidur. Dengan masuknya Islam, fungsi surau diperluas, yakni menjadi tempat mengaji Al-Quran dan tempat shalat seperti halnya mushala. 



Surau, Pusat Dakwah di Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)
Surau, Pusat Dakwah di Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)

Surau, Pusat Dakwah di Minangkabau

Surau dalam skala yang lebih besar, kemudian identik dengan sebuah lembaga pendidikan keislaman bagi para santri atau yang dikenal dengan urang siak. Kiai atau guru yang mengelola sebuah surau disebut “tuanku” (terjemahan dari sebuah kata bahasa Arab, sayyidi). Kalau mengasuh sebuah surau besar, maka sang kiai disebut “tuanku syekh”. Sistem pengajaran yang dipakai adalah seperti model pesantren pada umumnya, yakni model salafi, dengan metode halaqah, talaqqi (sorogan) dan sama’i (bandongan).

Surau pertama yang dikenal adalah Surau Ulakan, Pariaman, yang didirikan oleh Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1691) yang pernah belajar ke ulama-ulama terkenal Aceh, Syekh Abdurrauf Singkel dan Syekh Abdullah Arif. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seabad kemudian, ketika kembali dari Mekkah ke Tanah Minang, Syekh Abdurrahman (1777-1899) mendirikan Surau Batu Hampar, Payakumbuh, pada 1840, dengan jumlah urang siak mencapai ribuan.

Setelah itu muncul surau-surau besar lainnya yang terkenal di Minangkabau, seperti Surau Parabek, Surau Silungkang, dan seterusnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain mengajarkan ilmu-ilmu keislaman (biasanya ilmu-ilmu tata bahasa Arab, fiqih, tafsir hingga manthiq), surau-surau ini juga mengajarkan tarekat. Kalau Surau Ulakan dikenal sebagai pusat tarekat Syatariyah, maka Surau Batu Hampar lebih dikenal dengan praktek ilmu suluknya, semacam olah kebatinan sufistik. 

Surau biasanya dibangun dekat dengan sumber-sumber air. Karena itu di sekitar surau sering muncul permukiman baru, kegiatan dagang dan pasar baru, dan juga peradaban baru. Keberadaan surau-surau tidak lepas dari posisi kedekatannya dengan jaringan keulamaan, jaringan tarekat, hingga jaringan pasar dan perdagangan antar kota-desa-pesisir di Sumatera. Adat pun dirangkul dan dibuat berorientasi ke Mazhab Syafi’i.

Surau Ulakan merupakan surau pertama yang berada dalam sirkuit gerakan keilmuan yang menghubungkan pesisir Sumatera Barat dan pesisir Aceh. Relasi ini menjadi pusat pengembangan Islam dengan adat sebagai mitranya, sehingga terjadi perpaduan serasi antara keduanya. Dalam relasi ini selain ada usaha ekstensifikasi, yakni perluasan penyiaran Islam di tengah masyarakat adat, juga ada upaya intensifikasi, yaitu pendalaman berbagai jenis pengetahuan dan ilmu-ilmu keislaman dalam surau, sehingga keislaman masyarakat benar-benar mendalam, sesuai dengan ajaran kitab dan para ulama salaf. 

Selain itu, jaringan ke pedalaman, sejak abad 18, dilakukan oleh surau-surau yang menekuni gerakan tarekat. Ada tiga tarekat besar di masa itu: Naqsyabandiyah, Syathariyah dan Qadiriyah. Kehadiran Surau Batuhampar di pedalaman Minangkabau dimungkinkan berkat jaringan surau-surau tarekat ini. 

Selain itu, jaringan surau juga menghubungkan diri dengan jaringan pasar dan ekonomi strategis di Minang, seperti jaringan desa-desa pertanian subur dan makmur, jaringan desa-desa pertambangan yang kaya, dan juga jaringan desa-desa yang terletak di persimpangan rute-rute dagang. 

Surau Ulakan misalnya menjadi penggerak jaringan tarekat Syathariyah di jaringan desa-desa dagang dari Padang Panjang, Kota Lawas, hingga ke jaringan persawahan kaya di Agam selatan, terutama di Kota Tua. 

Sementara surau-surau yang mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah muncul di sekitar jaringan tambang emas Talawi di Tanah Datar. Demikian pula Surau Silungkang muncul di jaringan desa-desa pertambangan batu bara yang kaya. 

Jaringan surau-surau tarekat ini kemudian membawa warna baru ke dalam peta geografis penguasaan ilmu-ilmu keagamaan sejak abad 18. 

Jaringan Surau Ulakan dengan tarekat Sythariyah-nya sangat kuat mendalami ilmu-ilmu fiqih. Kitab Minhajuth Thalibin karya Imam Nawawi, Kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami, hingga karya-karya fiqih Syekh Abdurrauf Singkel, adalah bacaan-bacaan favorit urang siak di surau ini. 

Surau-surau di Kamang lebih fokus pada ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, shataf dan qawa’id lughah (seluk beluk tata bahasa dan leksikografi Arab). Di Kota Gadang surau-suraunya terkenal dengan penguasaan ilmu manthiq dan ilmu ma’ani, berkat Tuanku di Tanah Rao yang baru pulang dari Mekkah dan menurunkannya kepada Tuanku Nan Katjik. Surau-surau di Kota Tua terkenal dengan ilmu tafsirnya. 

Setelah kehadiran Tuanku Nan Tua, seorang ulama kharismatik dan juga dikenal sebagai “pelindung para pedagang” di daerah Agam ini perkembangan tradisi keilmuan surau-surau Minangkabau semakin canggih. Berbagai disiplin keilmuan tersebut yang terpisah-pisah antara satu surau dengan surau lainnya, mulai diintegrasikan ke dalam Surau Koto Tuo Empat Angkat, Agam, yang didirikan oleh Tuanku Syekh Nan Tuo. 

Di penghujung abad 18, surau ini menjadi terkenal, dan banyak didatangi oleh para santri atau urang siak dari berbagai daerah.

Kemunculan kelompok Padri di Minangkabu pada abad 19 menghambat laju perkembangan surau-surau, dan berjalan bersamaan dengan masuknya penjajahan Belanda di daerah pedalaman. Kompeni berkepetingan menguasai sumber-sumber ekonomi strategis Minangkabu. 

Keributan yang ditimbulkan oleh Kaum Paderi dengan kaum adat dan komunitas surau memunculkan masalah keamanan internal, terutama keamanan bisnis-bisnis kolonial. Maka ada alasan untuk menindak Kaum Paderi dan menjinakkan kaum adat dan komunitas surau untuk melepaskan aset-aset strategis ekonomi mereka. 

Perang Paderi dan ekspansi kolonialisme akhirnya memotong jaringan keulamaan, dagang dan pusat-pusat ekonomi strategis yang selama ini dinikmati oleh komunitas surau. Jaringan keulamaan dan tarekat dicerai-beraikan oleh kelompok puritan Paderi dan oleh pelanjutnya, kelompok Wahabi-reformis. 

Sementara jaringan dagang dan ekonomi strategis diambil-alih oleh Kompeni, dan keuntungannya dibawa ke negeri Belanda. 

Perlawanan terhadap kelompok puritan dan pemerintah kolonial sejak awal abad 20 pun terpencar-pencar, meski tetap digerakkan oleh komunitas  surau dan tarekat. Seperti dalam Pemberontakan Kamang tahun 1908. Komunitas surau mulai mengajarkan kemandirian dengan bertani, dan meminta tanah-tanah penduduk untuk tidak dijual atau disewakan kepada orang-orang berkulit putih. 

Dalam perkembangan berikutnya, surau-surau mempertahankan dirinya untuk bisa eksis dengan memasukkan sistem madrasah, dengan kurikulum yang lebih modern, mengikuti model ideal sekolah Sumatera Thawalib. 

Penyatuan antara sistem salafi dan sistem madrasah ini lalu melahirkan sejumlah surau model baru dan tetap eksis hingga sekarang. Seperti Surau Candung Bukittinggi yang didirikan oleh Syekh Haji Sulaiman ar-Rasuli (pendiri Perti), Surau Parabek Bukittinggi yang didirikan oleh Syekh Haji Ibrahim Musa, dan Surau Jaho Padang Panjang yang didirikan oleh Syekh Haji Jamil Jaho yang berhaluan Ahlussunnah Waljamaah. 

Gerakan modernisasi dan pembaruan Islam yang dilancarkan sejak masa Paderi hingga kemunculan Kaum Muda di tahun 1920-an, ternyata tidak membawa orang-orang Minang untuk menguasai kembali sumber-sumber dan jaringan ekonomi strategis mereka. Mereka lebih suka merantau, dan meninggalkan surau bergumul dengan perkembangan zaman. (Ahmad Baso

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Tokoh, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 06 Juni 2010

Jelang Nyepi, GP Ansor Pejarakan Kawal Konvoi Ogoh-Ogoh

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Semangat kebersamaan antarumat beragama terlihat nyata di desa Pejarakan kecamatan Gerokgak kabupaten Buleleng, Bali. Suasana harmonis ini bisa disaksikan saat perayaan Ogoh-Ogoh oleh umat hindu yang dikawal GP Ansor Pejarakan, Jumat (20/3).

Jelang Nyepi, GP Ansor Pejarakan Kawal Konvoi Ogoh-Ogoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Nyepi, GP Ansor Pejarakan Kawal Konvoi Ogoh-Ogoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Nyepi, GP Ansor Pejarakan Kawal Konvoi Ogoh-Ogoh

Para anggota GP Ansor Pejakaran bersama Pecalang menjaga setiap arak-arakan Ogoh-Ogoh. Arak-arakan ini mengelilingi desa dan berakhir di Sema (tempat pembakaran mayat/pengabenan).

Perayaan ini merupakan salah satu persiapan menjelang hari Nyepi yang jatuh pada Sabtu (21/3). Ogoh-Ogoh sendiri merupakan representasi dari Bhuta Kala yang digambarkan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Setelah diarak keliling desa, semua ogoh-ogoh dibakar dengan harapan semua kejelekan juga ikut musnah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua GP Ansor Pejakaran Abdul Karim Abraham merasa bersyukur hidup di daerah yang sejak dulu mengutamakan perdamaian dari pada permusuhan.

“Para pendahulu kami, baik dari sesepuh Islam maupun Hindu, telah mengajarkan kami untuk hidup berdampingan dan saling menghormati. Sebuah ajaran yang kami jadikan batu tapal toleransi di sini,” kata Karim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Karim, isu toleransi yang selalu dikampanyekan oleh kaum-kaum terpelajar tidak hanya mandeg di forum-forum diskusi dan seminar. Isu itu harus nyata dipraktikkan di dalam kehidupan.

“Menjalankan toleransi secara nyata memang tidak semudah mengeluarkan pendapat dalam forum, perlu konsistensi dan kesabaran. Kami GP Ansor akan siap setia menjalankan itu demi sebuah keharmonisan antarumat beragama,” tambah Karim.

Di Sabtu ini adalah puncak perayaan Nyepi di Bali. Umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelangunan. Umat agama lain termasuk Islam juga menghormati untuk tidak beraktivitas di luar rumah. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 18 Mei 2010

Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman

Pada Idul Fitri kali ini adalah ketiga kalinya bagi saya selama kuliah di Yaman. Satu kali berada di kota Mukalla dan dua kali di desa Tarim keduanya berada di Provinsi Hadhramaut Yaman.

Kalau di Mukalla biasanya syiar takbir hari raya begitu syahdu terdengar sepanjang malam dari berbagai masjid. Masjid Asrama kami misalnya, Masjid Imam Syafii. Menurut informasi yang kami dapatkan merupakan masjid terbesar yang ada di Hadhramaut. Di masjid Imam Syafii sepanjang malam mengumandangkan takbir guna Ihya Lailatil Ied menghidupkan malam Idul Fitri serta qiyamul lail sebagaimana anjuran Nabi hingga waktu shalat tiba.

Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Khazanah Idul Fitri di Kota Tarim Yaman

Berbeda dengan Kota Mukalla Desa Tarim yang klasik memiliki tradisi yang berbeda. Masyarakat tarim lebih banyak mengisi malam harinya dengan qiyamul lail dan shalat Tasbih, Qosidah, serta dzikir-dzikir kepada Allah SWT. Adapun takbiran dilantunkan tanpa pengeras suara. Barulah sehabis shalat subuh dikumandangkan takbir dengan pengeras suara.

Pembayaran zakat juga semarak diberikan kepada fakir miskin sehari sebelum pelaksanaan shalat ied. Kemarin saat saya akan membayar zakat fitrah setiap orangnya diminta 500 real untuk beras yang kualitas rendah, 700 Real beras kualitas menengah, dan 1000 Real untuk beras unggulan.

Beberapa masjid yang terkenal di Tarim melaksanakan shalat Ied dengan ragam yang berbeda. Misalnya masjid fenomenal dengan Menara tanah liat tertinggi di Yaman yaitu Masjid Al-Muhdlor. Nampak para jemaah yang shalat di sini lebih mengintepretasikan makna khusyu dan ketenangan. Jamaah yang hadir ada yang sejak subuh duduk bersama bertakbir dan berdzikir kepada Allah SWT. Adapun yang menjadi khotib adalah dari keluarga bin Syihab yang terkenal di Tarim.

Begitu juga dengan masjid Al-Fath masjid yang didirikan oleh Imam Abdulloh al-Haddad nampak tidak jauh berbeda dengan masjid muhdlor. Hanya saja jika solat dimasjid ini kita bisa melihat ornamen hiasan kaligrafi dan lampion bergaya eropa. Kitapun juga bisa mengunjungi tempat peribadatan Imam Abdulloh Al-Haddad dan melihat artefak peninggalan dakwah beliau. Adapun yang menjadi imam dan khotib di masjid fath adalah dari keluarga al-Haddad

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada hari raya kali ini kebetulan kami ingin merasakan suasana yang berbeda dan saya pun melaksanakan shalat Ied di Jabbanah yaitu masjid yang berada di sebelah kanan makam zambal dan furait. di pinggiran jalan menuju Jabbanah banyak orang menjajahkan mainan anak-anak, batotis, sambossa, makanan ringan dan manisan hari raya.?

Di Jabbanah juga unik berbeda dengan masjid lainnya sebab di sini banyak sekali anak anak kecil yang sengaja diajak orang tuanya untuk membeli maenan dan kuliner hari raya. Dengan mengenakan aneka pakaian ala cinderella arab dan dandanan Jambul rambut bermacam macam membuat anak anak itu makin nampak lucu dan menggemaskan. Karena saya orang indonesia, saya terperajat melihat kecantikan dan ketampanan gadis dan bocah Arab.

Sholat ied di masjid Jabbanah dipenuhi ribuan masyarakat dan santri dari Universitas Al-Ahqof, Rubath Tarim, dan Universitas Imam Syafii. Sementara yang menjadi imam dan khotib adalah dari keluarga Al-Khotib.? Selepas sholat ied para jamaah berziarah ke makam para ulama wal Auliya di zambal serta makam Syuhada Perang Badar. Sementara sebagian lainnya masih asyik berbelanja dan menikmati kuliner disekitar masjid jabbanah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Darul Mustofa, pesantren asuhan habib umar memiliki cara sendiri dalam melaksanakan hari raya. Darul Mustofa terkenal sebagai pesantren yang mencetak dai kelas dunia, di sini ribuan santrinya menggunakan pakaian jubah dan imamah lengkap.

Kemudian segenap santri Darul Musthofa, Mahad idrus, Mahad Nur dan masyarakat sekitar kompleks Aidid bergerak melakukan arak arakan dari Markas musholla Ahlul Kisa menuju Masjid Ar-Raudloh yang berjarak sekitar 500 M. Arak arakan ini dipimpin langsung oleh beliau Habib Umar Bin Hafidz dan putranya Habib Salim Bin Hafidz.?

Arak arakan ini sangat meriah sebab di depan di bawakan 4 empat atribut bendera habaib serta tabuhan genderang berirama klasik penghangat suasana. Teriakan Allohu Akbar Walillahil Hamd dan qosidah Ala Ya Alloh Binadzroh Minal Aini Rohimah memecah tangisan kerinduan kepada bumi pertiwi Indonesia serta mengingatkan pada masa kejayaan islam dibawah bendera Rosulullah SAW.

Sesampainya di masjid raudloh para jamaah langsung melaksanakan shalat Idul fitri dan yang menjadi imam adalah dari keluarga Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim. Biasanya selepas sholat ied segenap santri dan mahasiswa bersalam salaman dan selfie bersama sambil melepas kerinduan dengan keluarga dirumah. Yang berbeda khutbah iedul fitri di Tarim menggunakan rujukan dari kitab karya ulama Tarim yang telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu.?

Seorang dosen saya Al-Qodli DR Abdullah Balfaqih menuturkan, khutbah di tarim memiliki ciri khas dari segi keistimewaan sastranya yang tinggi, keluhuran pesan morilnya, serta tidak pernah mengabaikan aspek dzikrulloh mengingat Alloh SWT maka jangan heran meskipun disaat suasana bahagia kalian akan menemukan khotibnya menangis tersedu sedu saat mengingatkan mengenai kematian, dunia yang hanya sementara dibanding kekalnya kehidupan akhirat.? Dan itu terbukti saya pun beserta jamaah lainnya turut menitikan air mata saat mendengarkan khutbah yang dibacakan oleh khatib.

Dihari pertama hari raya banyak dari kalangan santri dan mahasiswa yang melaksanakan halal bi halal dan Uzumah dengan menyewa Suggoh (losmen) atau di Masbah (kolam renang) dan bertemu teman kerabat yang berbeda institusi. Barulah di hari kedua biasanya kita melaksanakan puasa syawalan hingga tanggal 7 Syawal.

Demikianlah beberapa hal yang menjadi khas Idul Fitri di Kota Tarim. Semoga bermanfaat dan selamat menunaikan hari raya Idul Fitri, Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Tarim, 1 Syawal 1437 H

Dilaporkan oleh Moh Nasirul Haq, Mahasiswa Universitas Imam Syafii Yaman.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 03 Mei 2010

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mengantisipasi jatuhnya korban demam berdarah di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, GP Ansor Gerokgak mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng pada Jumat (29/1). Mereka melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Buleleng.

Dalam surat itu, mereka setidaknya mengajukan dua hal dalam rangka pencegahan demam berdarah. Mereka mengharapkan dinas kesehatan melalui petugas medis melakukan sosialisasi bahaya demam berdarah, mulai dari sebab, gejala, dan cara pencegahannya.

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Kedua, karena banyaknya genangan air dan tumpukan sampah plastik akibat intensitas hujan yang begitu tinggi, GP Ansor meminta dinas terkait mengadakan pengasapan pada wilayah-wilayah yang rawan penyakit demam berdarah.

Ketua GP Ansor gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, selama tahun 2015, di kecamatan Gerokgak ada seratus lebih kasus demam berdarah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Banyaknya kasus pada tahun sebelumnya setidaknya menjadi peringatan bagi petugas kesehatan untuk dapat meminimalisasi kasus DBD dengan cara antisipasi sejak dini,” ujar Karim. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 20 Maret 2010

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan "Kiai Bambu Runcing". Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi?

Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo, ? kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subchi.

Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati ? Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Dipanegara, dalam periode Perang Jawa (1825-1830). Ketika laskar Dipanegara kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.

Pasukan Belanda henti-hentinya mengejar pengikut Dipanegara di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarata, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Dipanegara. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya untuk mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.

Parakan: Simpul Perjuangan Laskar Santri

Parakan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Temanggung. Kota ini, memiliki arti penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad 20, Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI). Kaum santri yang tinggal di Parakan, menjadi tulang punggung kaderisasi SI. Bahkan, di Parakan juga pernah diselenggarakan Kongres Sarekat Islam, yang dihadiri oleh HOS Tjokroaminoto. Pada 1913, anggota Sarekat Islam di Parakan, berjumlah 3.769 orang. Cabang SI Temanggung dibuka pada 1915, dengan jumlah anggota 4.507 (Thamrin, 2008).

Di Parakan, Temanggung, masa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan bagi rakyat. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Ketika Jepang menduduki Jawa, warga Temanggung juga menanggung beban yang sulit. Kewajiban Romusha menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat Parakan di Temanggung. Pemberlakukan romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan. Bahkan, kain karung goni sebagai penutup tubuh, menjadi pemandangan biasa pada masa itu (Darban, 1988). Warga Parakan, Temanggung juga banyak yang direkrut sebagai romusha. Mereka dikirim ke Banten, serta ke wilayah Malaysia dan Myanmar.

Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Pada saat itu, dibentuklah Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Barisan ini dipelopori oleh kiai-santri, yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan penjajah. BMT didirikan pada 30 Oktober 1945 di masjid Kauman Parakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum adanya BMT, warga Parakan Temanggung bergerak dalam jaringan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo (Gunardo, 1986).

Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi, mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Beberapa tokoh berkunjung ke Parakan, untuk bertemu Kiai Subchi dan pemuda BMT: Jendral Soedirman (1916-1950), Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Zaenal Arifin (Hizbullah), Kiai Masykur (Sabilillah), Kasman Singadimedja (Jaksa Agung), Mohammad Roem, Mr. Wangsanegara, Mr. Sujudi, Roeslan Abdul Gani dan beberapa tokoh lainnya.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Bahkan, Jendral Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan dari Kiai Subchi. Jendral Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi. ?

Kiai Bambu Runcing, Kiai Penggerak

Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subchi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat.

Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayahanda Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.

Kiai Subchi dikenal sebagai kiai alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Kiai ini, dikenal sebagai "Kiai Bambu Runcing", karena pada masa revolusi meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.

Dalam catatan Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986), Kiai Subchi menjadi rujukan askar-askar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. "Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur", Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, "Barisan Banteng" di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini, baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju Parakan".

Kiai Subchi dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhu. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma, Kiai Subchi justru menangis tersedu. "KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar", catat Kiai Saifuddin Zuhri dalam memoarnya "Berangkat dari Pesantren".

Kiai Subchi merupakan teladan dalam kedermawanan, pengetahuan dan perjuangan. Sosok Kiai Subchi menjadi panutan bangsa ini untuk mengawal negeri, mengawal NKRI. Selayaknya, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Bangsa.

*Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, pengurus LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)

?

Referensi:

Ahmad Adaby Darban, Sejarah Bambu Runcing, Laporan Penelitian: Fakultas Sastra UGM, 1988.

_________________________, Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, Surabaya: JP Books, 2008.

Ahmad Baso, Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka Afid, 2015.

Amran Habibi, Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009

Husni Thamrin,dkk, Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung1945-1950, Temanggung: Dewan Harian Cabang, 2008.

Muhaiminan Gunardo, Bambu Runcing Parakan, Yogyakarta: Kota Kembang,1986.

Nur Laela, Perjuangan Rakyat Parakan-Temanggung dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1946), Skripsi UIN Yogyakarta, 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Pendidikan, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Maret 2010

Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI

Batam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dandim Kota Batam Kepulauan Riau Letkol Inf Andres Nanang Dwi Prastowo Marbun menyebut, Banser termasuk prajurit yang turut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Saya Khatolik, tapi saya tidak asing dengan Banser karena om saya di Demak, Jawa Tengah juga Banser," ujar dia, di Batam, Ahad (28/11) malam.

Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Dandim Batam: Banser Prajurit Penjaga NKRI

Pandangan Banser dan TNI, lanjut dia, tidak berbeda, sama-sama NKRI. "Selain mempunyai tugas mengawal kiai, Banser dan TNI sama-sama menjaga NKRI," ujar pria kelahiran Solo, Jawa Tengah itu kepada peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III.?

Ia lalu menceritakan sedikit masa kecilnya. Menurut Dandim Batam itu, saat shalat tarawih di bulan Ramadhan, dirinya mendapat bagian menjaga sandal, setelah itu mendapat tajilan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tugas lebih Banser sebagai prajurit muslim juga untuk menjaga aqidah nasional, menjaga kehidupan toleransi beragama. Sama dengan saya, juga punya tanggung jawab untuk itu," paparnya.

Ia mengaku telah mendengar mengenai sejarah Banser dari pidato Jenderal TNI Gatot Nurmantyo tentang awal mula pemuda pembela tanah air atau (Peta) yang berasal dari santri dan Banser.

"Saya sangat menghormati apa yang dilakukan Banser. Bahwa agama merupakan hal pribadi. Berkaitan dengan adanya isu perpecahan yang mungkin karena kepentingan politik, kita bersama-sama tetap menjaga NKRI," pungkasnya saat bertatap muka dengan peserta Susbanpim III dan jajaran Satkornas Banser. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 Maret 2010

Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setiap saat usia manusia di dunia pasti bertambah. Dengan demikian jatah berada di dunia kian berkurang. Karenanya, tidak ada pilihan lain kecuali semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.

Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Semakin Berumur, Ibadah Harus Kian Meningkat

"Karena usia kita terus bertambah, maka ibadah juga harus mengalami peningkatan," kata Ustadz Slamet Santoso. Penjelasan ini disampaikan Mbah Met, sapaan akrabnya saat memberikan mauidhah hasanah di Masjid Ulil Albab Tebuireng Cukir Jombang, Jumat (10/2) pagi.

Di hadapan para penerima santunan rutin dari Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT, Mbah Met kemudian menguraikan bahwa waktu tidak dapat diulang. "Masa muda kita tidak dapat diulang," pesannya. Apa yang dilakukan hari ini, akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya, lanjutnya.

Lantaran demikian berharganya waktu, maka yang harus dilakukan adalah mengisi aktifitas keseharian dengan amal ibadah yang bermutu. "Baik ibadah yang ada hubungannya dengan Allah atau hablum ninallah, maupun hablum minannas yakni berkenaan dengan manusia," kata alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang tersebut.

"Yang juga tidak kalah diperhatikan adalah selalu menghadirkan Allah SWT dalam seluruh aktifitas harian," kata aktifis Serban atau Seribu Rebana di Jombang ini. Mbah Met mengingatkan bahwa mengingat Allah SWT tidak semata ketika berada di masjid dan mushalla. "Bahkan saat shalat saja kadang kita bisa lupa dengan-Nya," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Justru yang terus dilakukan dan dijadikan pegangan adalah bagaimana di seluruh aktifitas, kaum muslimin senantiasa diawasi "Karena itu kita dianjurkan mengawali seluruh kegiatan dengan bacaan basmalah," katanya. Hal ini juga sebagai bukti dan komitmen bahwa diri selalu ingat dan melandasi kegiatan dengan pengawasan Allah SWT, lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di akhir penjelasannya, Mbah Met mengajak para penerima santunan untuk menjadikan ibadah sebagai sarana untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya. "Ini penting agar sisa usia kita dihiasi dengan ibadah yang berkualitas," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Pesantren, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah