Minggu, 26 Agustus 2012

PBNU: AS Tak Mungkin Tinggalkan Irak Sebelum Dapat Minyak

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, Amerika Serikat (AS) tak mungkin meninggalkan Irak sebelum berhasil mengeruk keuntungan ekonomis, yakni mendapatkan minyak. Karena hal itulah yang menjadi tujuan utama AS menginvasi negeri 1001 Malam itu.

“Karena kalau sekarang, bondo (modal, Red) Amerika Serikat untuk perang (invasi ke Irak) belum kembali. Sulit kalau untuk menarik pasukannya dari Irak sekarang,” ujar Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (30/4)

Desakan dari berbagai pihak pun, menurut Hasyim, sulit mengubah kebijakan Presiden AS Goerge W Bush, terutama dalam pendudukannya terhadap Irak. “PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) saja nggak didengar, juga rakyatnya sendiri, yang jadi korban kebijakan Bush,” terangnya.

PBNU: AS Tak Mungkin Tinggalkan Irak Sebelum Dapat Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: AS Tak Mungkin Tinggalkan Irak Sebelum Dapat Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: AS Tak Mungkin Tinggalkan Irak Sebelum Dapat Minyak

Namun demikian, tambah Presiden World Conference on Religion for Peace itu, perlawanan terhadap negara Adidaya itu, apapun caranya, tetap harus digelorakan. Meski sekedar desakan moral yang tak banyak berpengaruh, harus tetap disuarakan.

Indonesia, lanjutnya, sebagai negara yang berdaulat dan memiliki komitmen untuk ikut serta dalam memelihara perdamaian dunia dan keadilan sosial, pun harus melakukan perlawanan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu caranya adalah melakukan pengggalangan dukungan oleh parlemen Indonesia dengan parlemen negara lain pada sidang majelis Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-116 di Nusa Dua, Bali, 29 April hingga 4 Mei 2007, untuk mendesak penarikan pasukan AS dan sekutunya dari Irak.

Desakan terhadap upaya penarikan pasukan AS dari Irak, baginya, bisa menjadi langkah tepat untuk menaikkan derajat bangsa Indonesia di mata dunia yang menurun akibat dukungan pemerintah Indonesia pada resolusi Dewan Keamanan PBB bernomer 1747 yang menjatuhkan sanksi pada Iran.

“Dengan begitu, Indonesia sebagai polopor gerakan Non-Blok, bisa terangkat derajatnya. Indonesia bisa menyatakan keberpihakannya sebagai sebuah bangsa, bukan keberpihakan terhadap yang kuat,” urai Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Hasyim menambahkan, desakan terhadap penarikan pasukan pendudukan AS dan sekutunya dari Irak yang juga didukung Kongres AS, bisa menjadi cara untuk membantu memulihkan citra AS di mata dunia yang mulai menurun, terutama di bawah pimpinan Presiden Bush. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Kyai, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 Agustus 2012

Banser Harus Militan dan Ideologis

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor kecamatan Batealit Jepara selama tiga hari Jum’at-Ahad, (16-18/10) sukses menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Diklatsar yang digelar di Dukuh Setro, Desa Batealit, kecamatan Batealit kabupaten Jepara itu diikuti 45 peserta yang kini telah dibaiat menjadi angota Banser baru.

Diklatsar itu merupakan kali pertama digelar PAC GP Ansor Batealit. Sementara di Jepara, merupakan Dikltasar angkatan kelima.

Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Harus Militan dan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Harus Militan dan Ideologis

Peserta yang mengikuti Diklastar itu sebagian besar dari wilayah Kemacatan Batealit dan beberapa ada delegasi dari PAC Tahunan, Keling dan Donorojo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PAC GP Ansor Batealit, Nur Alimin mengatakan Diklatsar banser diadakan dalam rangka menyiapkan barisan kader muda NU yang tanggap akan problem keumatan dan kebangsaan demi mengawal tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Banser menjadi garda terdepan Ansor maupun NU yang harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai problem. Khususnya masalah-masalah keumatan dan kebangsaan,” tambahnya sebagaimana rilis yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Subchan Zuhri, Wakil Ketua PAC Ansor Batealit menambahkan dalam rangka membentuk kader Banser yang tangguh peserta Diklastar diberi materi yang lengkap. Mulai dari materi Ke-NU-an, Aswaja, Keansoran, Kebanseran, analisis SWOT, leadership, wawasan kebangsaan, PBB, kelalulintasan, SAR, Bagana, dan materi-materi pendukung lainnya.

Pada malam terakhir kemarin, panitia juga menghadirkan KH Subakir dari Kudus untuk memberikan materi penguatan mental spriritual kader banser,” imbuhnya.

Diklatsar Banser di Batealit Jepara itu juga dihadiri Sekretaris Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah, Sholahuddin Ali. Mantan Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah itu menyampaikan materi Keansoran di hari pertama.

Sholahuddin menegaskan, bahwa Banser sebagai kekuatan utama Ansor harus memiliki militansi dan ideologi Islam Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang kuat. Tantangan Banser dan Ansor pada saat ini semakin kompleks dan harus dihadapi dengan kemampuan-kemampuan khusus.

“Sikap Banser adalah merepresentasikan Ansor dan NU yang harus menampakkan Islam Ahlussunah Waljamaah. Islam yang ramah, bukan Islam yang marah-marah,” tandasnya. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Tegal, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 13 Agustus 2012

Ribuan Jamaah Iringi Pemakaman KH Noor Ahmad

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan jamaah turut mengiringi pemakaman KH Noor Ahmad SS, ahli falak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (20/6) kemarin. Sejak pagi, tepatnya pukul 10.00 WIB Yi Noor pulang ke rahmatullah. Kediamannya di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan ramai dengan pentakziyah.?

Ribuan Jamaah Iringi Pemakaman KH Noor Ahmad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Iringi Pemakaman KH Noor Ahmad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Iringi Pemakaman KH Noor Ahmad

Puncaknya selepas Ashar. Atas nama shohibul musibah KH Sholeh Taufiq mengatakan sebelum wafat, Kiai Noor masih dalam keadaan baik-baik saja. Saat pukul 08.30 WIB kondisinya sedang kurang baik akhirnya diberangkatkan ke RSUD Kudus. “Kurang lebih jam 10.00 WIB Kiai Noor dalam usia 83 tahun kapundut ila rahmatillah,” paparnya.?

Kiai Noor, dikatakannya adalah seorang Ulama yang ikhlas utamanya dalam membimbing santri dalam ilmu Falak. Santrinya sudah tersebar di berbagai penjuru. Sebagai manusia biasa, lanjut Sholeh Kiai Noor tentu mempunyai urusan haqqul adami. Karenanya urusan hak adam dipasrahkan kepada anaknya, H Romli.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rais Syuriyah PCNU Jepara, KH Ahmad Kholil mengungkapkan, Kiai Noor Ahmad merupakan ulama yang ngrumati masyarakat. Meski beliau telah tiada, tambahnya Lajnah Falakiyah masih tetap membutuhkan pemikirannya. “Hal itulah kemanfataan dari sosok Kiai Noor,” ungkapnya.?

Matinya orang alim adalah matinya alam semesta. Kyai Kholil menjelaskan wafatnya orang alim adalah cobaan yang besar. “Meskipun demikian semoga akan ada yang menggantikan KH Noor Ahmad,” harapnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiga kategori manusia yang disabdakan Nabi, tegasnya juga tercermin pada pribadi Kiai Noor. Alim, abid dan arif. “Kiai Noor seorang alim pewaris Nabi, seorang abid yang taat beribadah maupun bermujahadah dan seorang arif, mengerti serta menjalankan perintah Rasul,” jelasnya.?

H Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara yang turut hadir menghaturkan rasa bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Cepat atau lambat, imbuhnya semuanya akan menyusul almarhum. “Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap diberikan kesabaran atas ujian yang diberikan Allah SWT,” doanya.?

Ilmu Falak yang dimiliki Kiai Noor Ahmad papar Marzuqi dibutuhkan masyarakat maupun pemerintah. Oleh karenanya, apa yang dicita-citakan almarhum di waktu berikutnya bisa diteruskan sanak keluarga maupun para santri.?

Karena banyaknya pentakziyah, shalat jenazah dilaksanakan tiga kali bertempat di Masjid Al-Makmur. Almarhum KH Noor Ahmad SS dikebumikan di makam Jabang Bayi.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 11 Agustus 2012

Kopri Prihatin Narkoba dan Kekerasan Seksual Meningkat di Jombang

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Cabang Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Putri (Kopri) Jombang berupaya menekan maraknya penyalahgunaan narkoba dan kekerasan seksual yang menimpa masyarakat setempat.

Kopri Prihatin Narkoba dan Kekerasan Seksual Meningkat di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kopri Prihatin Narkoba dan Kekerasan Seksual Meningkat di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kopri Prihatin Narkoba dan Kekerasan Seksual Meningkat di Jombang

Upaya demikian tercermin dalam pagelaran seminar terbuka dengan tema “Kopri PMII : Melawan Teror Narkoba dan Kekerasan Seksual” sebagai pembukaan kegiatan Sekolah Kader Kopri (SKK) pada Kamis, (10/11), di aula Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.

Ketua PC Kopri Jombang Priwahayu menyebutkan bahwa dua problem itu terus mengalami peningkatan di Jombang. Kesimpulan itu diperoleh dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Timur dan hasil kajian sejumlah data yang diperoleh dari penanganan kasus kekerasan seksual oleh Woman Crisis Center (WCC) setempat selama beberapa tahun sebelumnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Berdasarkan data BNN Provinsi Jawa Timur, bahwa Kabupaten Jombang sebagai daerah dengan kasus narkoba tertinggi kelima tingkat Jawa Timur. Dan hasil kajian kami dan WCC bahwa jumlah kekerasan seksual di Jombang pada 2004 lalu sebanyak 29 kasus, namun pada tahun 2015 mengalami peningkatan hingga 36 kasus," katanya, Rabu (9/11).

Sementara itu, lanjut dia, usia korban kekerasan seksual rata-rata di bawah 18 tahun. "Sebanyak 85 persen, kekerasan seksual masih berumur di bawah 18 tahun, kemudian pelakunya adalah orang terdekat korban, seperti orang tua, saudara, pacar, teman dan tetangga," imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terjadinya kasus kekerasan seksual cenderung berkaitan erat dengan penyalahgunaan narkoba dalam perkembangannya. Sehingga ketika kasus penyalahgunaan narkoba mengalami peningkatan, maka juga terkadang akan memicu terhadap naiknya kasus kekerasan seksual.

"Akibat penyalahgunaan narkoba tidak hanya merusak fisik, namun juga mental, sehingga tidak bisa mengontrol dirinya, dan akan mudah melakukan hal-hal yang di luar kekuasaannya, seperti kekerasan seksual. Kemudian naiknya angka kasus kekerasan terhadap perempuan dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya penyalahgunaan narkoba," tegasnya.

Untuk itu, Ayu panggilan akrab Priwahayu mengajak kepada segenap elemen masyarakat juga pemerintah untuk melek dua persoalan tersebut, kemudian mencari solusi tepat untuk menanganinya.

"Dalam Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 dijelaskan bahwa masyarakat bisa berpartisipasi dalam pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Di pasal 104 berbunyi kalau masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam membantu upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika," tutur mahasiswa asal Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang itu.

Menurutnya, seminar tersebut adalah salah satu media dalam memberikan pemahaman lebih kepada khalayak terkait dua persoalan itu, dan juga upaya pencegahannya.

Seminar akan dihadiri sejumlah perwakilan organisasi kemasyarakatan (Ormas) se-Jawa Timur, anggota dan kader PMII se-Jawa Timur, lembaga dan instansi pemerintah terkait, pondok pesantren se-Jombang, seluruh elemen masyarakat dan mahasiswa se-Jombang.

Sementara untuk narasumber kegiatan diantaranya Drs Amrin Remico MM, Kepala BNPP Jawa Timur, Andy Irfan, Ketua Kontras Surabaya dan Muklinah Shohib, Ketua DPD Nasdem Jombang. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Makam, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 18 Juli 2012

PMII Jombang Garap Pesantren Aswaja

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang, Jawa Timur tengah menyiapkan kegiatan Pesantren Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) dan seminar deradikalisasi aliran anti Pancasila dan NKRI.?

PMII Jombang Garap Pesantren Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jombang Garap Pesantren Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jombang Garap Pesantren Aswaja

Rencananya acara tersebut berlangsung selama tiga hari, sejak tanggal 16-18 September 2016 mendatang bertempat di Gedung Islamic Center Jombang.?

"Susunan kegiatannya, sebelum kegiatan Pesantren Aswaja berlangsung, lebih dulu kami menyajikan seminar deradikalisasi untuk seluruh kader PMII Jombang pada tanggal 16 September yang insyaallah akan disampaikan oleh pihak Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang," kata Rizki Amalia, Ketua Pelaksana kegiatan ini, Ahad (27/8).?

Khusus saat kegiatan Pesantren Aswaja, delegasi peserta hanya dari Wakil Ketua III Bidang Keagamaan komisariat maupun rayon. "Pesertanya itu Wakil ketua III bidang keagamaan komisariat maupun rayon yang memiliki wawasan cukup prihal Aswaja dan siap dikader menjadi fasilitator Aswaja untuk follow up materi Aswaja di rayon maupun Komisariat," imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Disinggung terkait indikator kegiatan, ia menekankan pada kualitas out put kader yang didorong oleh dua belas pemateri handal, tujuh pemateri diantaranya dari Aswaja NU Center Jombang, dan lima pemateri dari pakar dan alumni PMII sendiri. "Mereka cukup mumpuni untuk menggembleng peserta menjadi ahli dalam bidang keaswajaan," tandasnya.?

Pada gilirannya, lanjut dia, masing-masing diantara mereka sudah siap menjadi instruktur atau fasilitor tentang materi Aswaja di lintas komisariat dan rayon se-Jombang.?

"Tidak hanya berhenti pasca kegiatan tersebut, nanti akan ada RTL sebagai pembekalan lebih lanjut para calon fasilitor Aswaja yang mesti siap dikirim ke rayon dan komisariat se-Jombang," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Olahraga, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Juni 2012

Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Fungsi pesantren sebagai area kaderisasi ulama, dakwah Islam, dan penjaga moralitas umat, kini terus tumbuh seiring dengan kebutuhan zaman. Pertumbuhan itu mengarah kepada peran aktifnya untuk mengembangkan masyarakat di sektor ekonomi melalui penguatan etos berwirausaha.

Kenyataan ini seperti terlihat di Pesantren Al-Huda, Turalak, Baregbeg, Ciamis, Jawa Barat. Kurangnya alternatif usaha masyararakat Baregbeg yang selama ini banyak menggantungkan hidup pada hasil budidaya ikan air tawar, menggugah sang pengasuh, KH. Deden Abdul Aziz, berinisiatif merintis Koperasi Pesantren SMK Pesantren Al-Huda di bidang perkayuan dan pertukangan.

Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Terus Pacu Etos Berwirausaha

Selama tiga hari (9-12 Maret), Pesantren Al-Huda melatih 30 kader muda dari dalam dan luar pesantren untuk produktif secara mandiri di bidang perkayuan dan pertukangan. Kegiatan difasilitasi oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) bekerjasama dengan Corporate Social Responbility (CSR) Bank Mandiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Entepreneur harus bervisi besar. Setelah itu buat perencanaan, laksanakan, dan evaluasi. Semua orang kalau mau bisnis apa saja, harus melakukan empat hal ini,” tegas wirausahawan sukses Aunur Rofiq saat mengisi materi Penguatan Etos Kewirausahaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

RMI berkomitmen akan terus memfasilitasi dan mengembangkan semangat kewirausahaan ini ke pesantren-pesantren lain di Indonesia. Pengembangan akan disesuaikan dengan sumberdaya yang secara khas dimiliki masing-masing pesantren dan lingkungannya.

Seperti telah dijadwalkan, pelatihan serupa akan dilaksanakan di Pesantren Al-Ikhlas, Boyolali, Jawa Tengah, dengan segmen pelatihan Penggemukan Sapi pada 27-30 Maret 2012. Sementara di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, dengan segmen pelatihan Usaha Kecil Menengah di sekitar pesantren, rencananya akan terealisasi pada bulan April mendatang.

“Nabi Muhammad SAW itu saudagar yang kaya raya. Karena itu umat Islam tidak boleh miskin karena panutannya adalah seorang yang sukses. Tentu modal penting beliau adalah sidiq (jujur),” tandas Sekretaris RMI Miftah Faqih.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 26 Mei 2012

11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen

Entah mengapa selepas menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di desaku, saya berhasrat sekali untuk meneruskan pendidikan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah atau biasa dikenal dengan Mathole’, sebuah sebuah sekolah yang terletak di desa Kajen. Saya tahu bahwa di sekolah tersebut muridnya diwajibkan untuk menghapal bait-bait dan atau matan kitab kuning, suatu hal yang dijauhi teman saya pada waktu itu, tapi saya tidak gentar dan mantap untuk meneguk ilmu di Mathole’ karena tertantang. Keinginan kuat saya untuk belajar di Mathole’ didasari atas dua hal: hafalan kitab dan tidak ada Ujian Negeri (UN). Bagi saya, itu ‘sesuatu’ banget.

Namun sayang beribu sayang, orang tua saya tidak memperkenankan saya untuk mendaftar di sekolah tersebut karena berbagai alasan, diantaranya adalah usia saya yang masih kecil. Karena kalau saya jadi mendaftar di sekolah tersebut, saya harus sekaligus tinggal di pesantren yang ada di sekitar Mathole’(salah satu peraturan Mathole’ adalah murid yang jarak rumahnya lebih dari 5 km dari Mathole’, maka wajib mesantren). Itu yang mungkin tidak diinginkan oleh orang tua saya, yakni meninggalkan mereka di saat saya masih bocah.

Setelah tamat dari Madrasah Tsanawiyah, segera saya daftarkan diri di Mathole’. Singkat cerita, dari sekitar 99 orang (kalau tidak salah) yang mendaftarkan diri untuk tingkat Aliyah di Mathole’,hanya ada 9 orang yang diterima pada tingkat Aliyah, termasuk saya. Adapun selebihnya masuk ke tingkat Diniyah Wustho satu dan dua. Kelas persiapan sebelum masuk ke tingkat Aliyah, masing-masing masa pendidikannya berlangsung selama satu tahun. Kalau ada yang diterima di Diniyah Wustho satu, maka ia harus melewati Diniyah Wustho dua terlebih dahulu sebelum menginjak jenjang Aliyah.?

11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)
11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)

11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen

Selama tiga tahun mengenyam pendidikan Islam yang berhaluan Aswaja dan memiliki tagline “Tafaqquh Fiddin, Menuju Insan Sholih Akrom” tersebut, saya menemukan beberapa keunikanyang ada di Mathole’dan itu sudah melekat dan menjadi karakteristiknya. Berikut adalah keunikan-keunikan yang ada di Mathole’.?

1. Menggunakan perhitungan Hijriyah

Pada umumnya, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia menggunakan perhitungan bulan Masehi untuk menentukan tahun pelajaran atauawal-akhir dari proses belajar mengajar (akhir Juli adalah waktu kenaikan kelas). Namun tidak demikian dengan Mathole’, Mathole’ menggunakan tahun dan bulan Hijriyah sebagai patokan untuk menentukan tahun pelajaran.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kalau sekolahan yang lain menetapkan akhir Juli sebagai awal dari proses belajar mengajar, maka Mathole’ menetapkan bulan Syawal (bulan ke-10 dari tahun Hijriyah) sebagai awal dari tahun pelajaran dan bulan Sya’ban (bulan ke-8 dari tahun Hijriyah) sebagai akhir dari proses belajar mengajar. Jadi pada bulan ke-9 dari bulan Hijriyah, bulan Ramadhan, murid Mathali’ul Falah libur penuh. Dan biasanya selama bulan puasa ini, mereka mengaji posonan di pesantrennya masing-masing atau di pesantren yang menyediakan program posonan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syawwal memiliki arti peningkatan. Setelah satu bulan penuh menjalani puasa pada bulan Ramadlan, maka orang-orang yang beriman akan mendapatkan peningkatan keimanan dan ketakwaan. Berangkat dari situ, maka masyayikh Mathole’ menetapkan Syawwal sebagai awal tahun pelajaran sebagai bulan peningkatan intelektualitas murid Mathole’ atau kenaikan kelas.Cerita yang saya dengar seperti itu. Entah benar atau tidak, Wallahu ‘Alam. Namun yang pasti, tahun pelajaran baru Mathole’ berbeda dengan tahun pelajaran baru sekolah-sekolah lainnya.

2. Tidak ada Ujian Nasional

Sekolah yang didirikan oleh KH Abdussalam pada tahun 1912 ini tetep keukeuh tidak mau mengikuti Ujian Nasional (UN). Konon, pada masa Orde Baru, Mathole’ diminta pemerintah untuk ikut serta dalam Ebtanas/UN dengan iming-iming Mathole’ akan diberikan bantuan untuk pembangunan gedung. Namun KH Sahal Mahfudh, Direktur Mathali’ul Falah pada waktu itu, menolak dengan tegas tawaran dari pemerintah tersebut dan tetap mempertahankan kurikulum Mathole’ yang tidak ikut Ujian Nasional hingga sekarang.

Meski tidak ada Ujian Nasional, ijazah yang dikeluarkan Mathole’ memiliki status mu’adalah (setara) dengan sekolah-sekolah yang mengikuti UN dan bisa digunakan untuk mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi baik swasta maupun negeri.Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 2852 tahun 2015 tentang penetapan status kesetaraan, ada 31 pondok pesantren yang disetarakan dengan Madrasah Aliyah/ sederajat, termasuk diantaranya adalah Mathali’ul Falah Kajen, Pati. ? ?

Namun demikian, jangan dikira murid Mathole’akan lulus dengan mudah meski tidak ada Ujian Nasional.Angkatan saya saja ada sekitar 20 teman saya yang tidak lulus karena beberapa alasan seperti tidak lulus tes baca kitab, tidak lulus tes baca Al-Quran, dan lain sebagainya. ?

3. Semua yang mendaftar pasti diterima

Di buku Sekolah Anak-anak Juara, Munif Chatib menyatakan bahwa ada tiga tingkatan (maqam) dalam sebuah institusi pendidikan. Pertama, sekolah yang menetapkan tes standar masuk adalah maqam terendah. Kedua, sekolah yang hanya mau menerima anak-anak pintar dan baik, sebagai maqam kedua. Terakhir, sekolah yang menerima semua kategori alias menerima semua siswa yang mendaftar adalah sekolah denga maqam tertinggi.?

Pada sekolah maqam tertinggi,murid-murid tersebut diklasifikasikan ke dalam kelas sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.Chatib menyakini setiap murid itu cerdas, tinggal bagaimana mereka diperlakukan dengan sesuai dan tepat.

Pun di Mathole’, tidak ada satu pun murid yang mendaftar yang tidak diterima, semuanya diterima. Tes masuk yang dilakukan Mathole’ hanya bersifat untuk mengetahui kompetensi masing-masing murid, sehingga mereka bisa ditempatkan di kelas yang sesuai dengan kemampuan mereka.?

Sesuai dengan informasi yang saya terima, siswi Mathole’ atau biasa disebut Banatbeberapa tahun terakhir ini membludak hingga lokal kelas yang ada di komplek Perguruan Islam Mathali’ul Falah tidak cukup untuk menampungnya, meski demikian Mathole’ tetap menerima murid yang mendaftar tersebut. Hingga akhirnya, gedung TPQ yang berada di sebelah selatan Masjid Kajen dijadikan sebagai tempat belajar mengajar Banat. Karena dalam sejarahnya, Mathole’ tidak pernah menolak murid yang ingin belajar.

4. Hafalan sebagai sebuah kewajiban

Salah satu keunikan dan karakteristik dari Mathali’ul Falah adalah menjadikan hafalan nadzaman atau matan kitab-kitab kuning sebagai syarat kenaikan kelas. Sepintar dan sebagus apapun nilainya, tapi kalau tidak hafal, ya harus tinggal di kelas yang sama. Di Mathole’, hafalan sudah mendarah daging dan itu sudah dimulai sejak tingkat Madrasah Ibtidaiyyah (setingkat Sekolah Dasar).

Hafalan untuk kelas tiga Madrasah Ibtidaiyyah adalah Durusul Fiqhiyyah bagian pertama (Fiqih), kelas empat Ibtidaiyyah juga Durusul Fiqhiyyah, tapi bagian yang terakhir. Untuk kelas lima dan enam Ibtidaiyyah hafalannya adalah Arbain Nawawi (hadis) dan Amtsilati Tasrifiyyah (sorof), berturut-turut bagian pertama dan bagian akhir.

Adapun hafalan kelas satu Tsanawiyyah adalah 500 bait Alfiyah ibnu Malik (nahwu) bagian pertama, untuk 500 bait berikutnya dihafal di kelas dua Tsanawiyah dan ditambah dengan 110-an bait Kifayatut Tullab (ilmu faroid). Kelas tiga Tsanawiyah, murid harus hafal matan Tashilut Turuqot 140-an bait (ushul fikih). Sementara kelas satu Aliyah, hafalannya adalah 280-anbait Jauharul Maknun (balaghoh) dan 140-an bait Sullamul Munauroq (mantiq).?

Satu, dua, atau tiga hari sebelum setoran, biasanya banyak ditemukan murid-murid Mathali’ul Falah yang begadang sampai subuh di makan Mbah Mutamakkin, makam Mbah Syamsuddin, dan Makam Mbah Ronggo Kusumo. Mereka menghafal bagian-bagian yang mereka belum hafal atau sekedar mengulang dan melancarkan bait-bait yang sudah mereka hafal. Di Mathole’ masih menggunakan sistem Cawu (Catur Wulan), yaitu Cawu satu, dua, dan tiga. Untuk setoran hafalan, biasanya diselenggarakan tiga kali: setelah Cawu satu dan dua, serta sebelum Cawu tiga.?

5. Karya Tulis Arab (KTA)

Kalau hafalan menjadi syarat kenaikan kelas, maka Karya Tulis Arab (KTA) adalah syarat untuk mengikuti ujian Catur Wulan dua pada saat kelas tiga Aliyah. Kewajiban menulis karya tulis ini dimulai sejak sejak tahun 1998 dengan tujuan untuk mengembangkan dan melestarikan budaya tulis-menulis di kalangan pesantren yang kian hari kian susut. KTA ini wajib ditulis tangan secara manual, tidak diperkenankan diketik dengan komputer kecuali tulisan sampulnya.?

Para murid Mathole’ dibimbing oleh musyrif (pembimbing) dalam menyusun karya tulis tersebut. Selain menulis, mereka juga harus mampu memahami dan menjelaskan apa yang mereka tulis. Setelah KTA berhasil disusun, maka sesis selanjutnya adalah munaqosah (ujian KTA). Di sinilah mereka diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis di hadapan tim penguji. Jadi kalau lulus Mathole’ kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi, Insya Allah tidak akan kaget lagi denganhal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis karya tulis. Hehe, semoga.

6. Tes Al-Quran dan Kitab sebagai syarat kelulusan

Jika dibandingkan dengan sekolah lain, Mathole’ memang memiliki persyaratan kelulusan yang lebih banyak. Mulai dari menulis KTA, tes Al Quran, tes kitab, dan nilai yang harus melebihi standar adalah rangkaian syarat untuk lulus dari Mathali’ul Falah.?

Tes Al Quran dan tes kitab dilaksanakan sebelum ujian Catur Wulan tiga. Ada empat kitab yang diujikan; Tafsir Jalalain, Bulughul Marom, Tukhfatut Tullab, dan Ghoyatul Wushul.? Sekitar satu jam sebelum tes kitab, murid-murid baru dikasih tahu kitab apa yang akan diujikan kepadanya. Maka dari itu, merekaharus mempersiapkan ke-empat-empatnya dengan matang.Dalam tes kitab, mereka diminta untuk memaknai teks dengan utawi iki iku, kemudian mereka menjelaskan maksud dari teks tersebut. Waktu itu saya kebagian kitab Tuhfatut Tullab dan mendapatkan bab-bab awal. Hehe,?

7. Absen yang sangat ketat

Menurut saya, Mathole’ memiliki sistem absensi yang super ketat. Bagaimana tidak, murid yang tidak masuk kelas, lari atau L istilah yang digunakan Mathole’, sebanyak tujuh kali dalam satu tahun pelajaransecara berturut-turut tanpa keterangan maka ia dianggap mengundurkan diri dari Mathole’ atau dikeluarkan.Sedangkan, murid yang lari (L) sebanyak sepuluh kali tanpa alasan, mereka tidak akan naik kelas meski nilainya bagus-bagus dan hafalannya tuntas. ?

Pada zaman saya masih sekolah di sana, murid yang datang telat diminta untuk membaca Al Quran beberapa juz tergantung dari tingkat keterlambatannya. Mungkin sistem absesi dan sanksi bagi yang datang telat telah berubah. Terlepas dari itu semua, saya berkeyakinan bahwa hal tersebut diterapkan Mathole’ untuk mendidikdan menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi. semoga tidak ada lagi yang tidak naik kelas gara-gara “L”.?

8. Direktur, sebutan untuk Kepala Sekolah?

Di Mathali’ul Falah, Direktur bertanggung jawab atas Madrasah Aliyah, Diniyah Wustho, Madrasah Tsanawaiyyah, Diniyah Ula, dan Madrasah Ibtidaiyyah. Sebagaimana tulisan Musthofa Asrori dalam buku Kekhasan Pendidikan Islam, sampai sekarang Mathali’ul Falah sudah dipimpin oleh empat orang. Mereka adalah KH. Mahfudh Salam (1922-1944), KH. Abdullah Zen Salam dan dibantu KH. Muhammadun Abdul Hadi (1945-1963), KH. Sahal Mahfudh (1967-2014), KH. Nafi’ Abdillah (2014-2017), dan Ustadz H. Muhammad Abbad (2017-sekarang).

Pada zaman KH. Mahfudh Salam, Mathole’ menggunakan kurikulum klasikal dengan pembagian kelas shifir awwal, tsani, dan tsalis. Sedang pada kepemimpinan KH. Abdullah Salam, dikembangkan sistem penjenjangan: kelas 1-6 Ibtidaiyyah dan kelas 1-3 Tsanawiyyah. Selanjutnya KH. Sahal Mahfudh mengembangkan Mathole’ hingga tingkat Aliyah untuk putra-putri, Diniyah Ula, dan Diniyah Wustho.?

Setahu saya hanya Mathali’ul Falah yang menggunakan istilah Direktur untuk menyebut kepala sekolahdi instutusi pendidikan setingkat Madrasah Aliyah atau sederajatnya.?

9. Asatidz adalah Para Alumni PIM

Selama saya sekolah di Mathali’ul Falah, (setahu saya) hanya ada satu guru yang tidak alumni Mathole’. Guru tersebut mengajar pelajaran ilmu eksak. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memberdayakan alumni-alumni Mathole’ yang berilmu mumpuni baik lulusan pondok pesantren ataupun lulusan Perguruan Tinggi dalam maupun luar negeri,terlebih alumni Timur Tengah. Ada program mengabdi untuk Mathole’ selama satu tahun bagi lulusan-lulusan Timur Tengah,terutama bagi yang “diberangkatkan” oleh Mathali’ul Falah.

10. Pakai Jarit

Unik, menarik, dan tidak ada duanya. Murid perempuan Mathali’ul Falah atau biasa disebut banatmemiliki seragam yang khas. Jarit. Kain bawahan yang tidak berjahit. Iya, banat tidak diperkenankan menggunakan bawahan selain jarit. Jarit tersebut dililitkan melingkari perut kemudian diikat dengan korset.

Banat memiliki tiga style seragam; pertama, kerudung hitam, baju putih, dan jarit hitam. Kemudian, kerudung putih, baju dan jarit warna hijau daun. Dan, kerudung putih, baju putih, serta jarit warna krem. Semua bawahannya adalah jarit.?

Kalau sekolah lain menggunakan rok untuk bawahan siswa perempuan, maka Mathole’ tetap mewajibkan siswinya untuk menggunakan jarit. Sebuah keunikan tersendiri bukan?

11. Banin dan Banat Dipisah

Banin (Siswa laki-laki) dan banat (siswi perempuan) Mathali’ul Falah memiliki jadwal pelajaran yang berbeda. Banin dan banat belajar pada gedung yang sama, namun mereka tidak belajar bersama. Banin belajar dari pukul tujuh pagi sampai pukul setengah satu siang, sementara banat belajar dari pukul satu siang sampai pukul lima sore.Dengan demikian, antara murid laki-laki dan murid perempuan tidak bisa bertemu dan berinteraksi satu sama lain karena perbedaan jam pelajaran tersebut dan memang tidak diperkenankan untuk berkomunikasi kecuali urusan organisasi, itu pun terbatas dan tidak di tempat umum.Siapapun yang ketahuan berinteraksi dengan yang bukan mahromnya, maka sanksi akan menantinya.

Terkait perbedaan jam pelajaran tersebut, saya punya cerita yang menggelitik. Saat itu, saya tertidur pada jam pelajaran terakhir. Setelah pelajaran selesai, tidak ada satu temanpun yang membangunkan saya (mereka sudah bersepakat), mereka membiarkan dan malah mengerjai saya dengan menyembunyikan peci, buku, dan sepatu di laci-laci meja secara acak. Saya tertidur hingga anak banat datang. Saya kaget bukan kepalang, terdengar suara cewek membangunkan saya dengan menggebrak-gebrak meja.?

Mbak-mbak yang membangunkan tersebut langsung keluar dan di luar terlihat banyak anakbanat yang sepertinya tidak berani masuk karena ada anak banin yang tertidur tersebut. Saya langsung bangun, mencari peci, buku, dan sepatu yang diumpatkan tersebut. Kemudian lari terbirit-birit menerjang pojok-pojok gedung Mathole’ yang sudah dipenuhi oleh anak-anak banat. Hanya orang yang pernah tertidur (bukan sengaja tidur) di kelas dan dibangunkan mbak-mbak lah yang bisa merasakan bagaimana malunya hal tersebut, apalagi kalau tidurnya ‘membuat pulau’.Karena ada juga anak banin yang sengaja tidur di jam akhir pelajaran agar terlanjur dan dibangunkan oleh mbak-mbak banat. (Ati-ati modus, hehe)

Itulah sebelas keunikan yang dimiliki oleh Mathali’ul Falah dan mungkin tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah lain. Selain itu, mungkin ada keunikan-keunikan lain. Tapi menurut saya, kesebelas itulah yang menjadikan Mathole’ ‘berbeda’ dengan sekolah-sekolah yang lainnya. Wallahu ‘Alamu Bisshowab.

Muchlishon Rochmat, Alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen, Margoyoso, Pati.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Ulama, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah