Sabtu, 08 Juli 2017

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rabithah Alawiyah menggelar halaqoh bertajuk Kabar Gembira di Tengah Kesulitan dengan pembicara ulama asal Yaman, Alhabib Umar bin Salim bin Hafidz. 

Dalam kesempatan itu Sekretaris Jenderal PBNU HA. Helmy Faishal Zaini menyampaikan pentingnya pertemuan ulama untuk memecahkan masalah umat.

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halaqah Penguatan Ekonomi Umat

"Perlunya pertemuan ulama seperti ini, semoga kedepan bisa direncanakan lebih besar dan fokus kepada pemecahan masalah umat. Misal membicarakan apa kekuatan dan kelemahan kita," tutur Helmy dalam sambutannya di Crowne Hotel, Jakarta, Selasa (17/10).

Hal itu, lanjut Kang Helmy, penting karena data dari Bank Indonesia dari seluruh uang yang beredar di Indonesia 80 persen dimiliki hanya 35 orang saja. Ia menambahkan lebih tercengang lagi data global wealth 90 persen aset negara dikuasai 1 persen saja. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Secara logika sebagai mayoritas seharusnya ikut menentukan arah kebijakan negara, nyatanya masih belum," imbuh Pria kelahiran Cirebon ini.

Sementara Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Umar bin Smith mengatakan penguatan ekonomi umat sebagai salah satu benteng iman dari segala godaan. 

"Kristenisasi bukan hanya salah para petugas, kita juga ikut andil karena tidak aktif membentengi dengan membuat penguatan ekonomi, sebagai salah satu sebabnya," tutur Habib Zen.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal senada disampaikan Habib Umar bin Hafidz dalam ceramah, dimana ekonomi tergantung niatnya. Jika diniatkan mencari ekonomi untuk berjuang di jalan Allah SWT maka itu jalan yang dibenarkan. 

"Seperti dalam sebuah riwayat ada anak muda pergi ke pasar, ada sahabat yang bilang seandainya kekuatan digunakan untuk pergi jihad ke medan perang lebih bermanfaat. Namun Baginda Rasullullah menuturkan jangan mudah menilai, jika niatnya untuk menafkahi bapak dan ibunya maka fisabilillah, jika niatnya untuk memenuhi kebutuhannya sehingga ia tidak perlu mengemis maka fisabilillah tapi jika niatnya untuk menumpuk harta, pamer  maka ia dijalan setan," tutur Almusnid AlHabib Umar bin Salim bin Hafidz.

Hadir dalam kegiatan tersebut, KH Hasib Wahab, KH Manarul Hidayat, KH Anim Mahfus, KH Saifuddin Amsir, H Hanif Saha Ghofur. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, RMI NU, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 07 Juli 2017

KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro

Bojonegoro, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Konferensi Cabang (Konfercab) NU Bojonegoro, Jawa Timur menetapkan kembali KH Misbach Syakur sebagai Rais Syuriyah PCNU masa khidmah 2013-2018. Sementara Dr. Kholid Ubed sebagai Ketua Tanfidziyah.

KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Misbach-Kholid Pimpin NU Bojonegoro

Konfercab XXII tahun 2013 yang diselenggarakan pada Sabtu-Ahad (9-10/3) lalu dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur H Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

Usai ditetapkan kembali sebagai Rais Syuriyah, KH Misbach Syakur mengatakan akan langsung bermusyawarah dengan pihak tanfidziyah untuk membentuk susunan pengurus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mengatakan, terpilihnya kembali dirinya merupakan tanggungjawab yang besar dan harus dijalankan. Dengan harapan, semoga NU Bojonegoro kedepannya lebih baik dan mandiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Dr Kholid Ubed mengaku sangat menghargai proses demokrasi yang berjalan pada Konfercab 2013 ini, mengingat hampir 100% pengurus ranting mengikuti Konfercab. "Kedewasaan NU mulai muncul, adanya kandidat yang banyak," jelasnya.

Ubed berharap, kedepannya akan terjalin susunan NU yang kompak. Ia akan berusaha menjadikan NU mengimplementasikan Aswaja, mandiri dan rahmatalilalamin.

Selain itu, dirinya juga menjamin NU Bojonegoro nir politik. Sebab, sejatinya tugas NU hanya memberikan pengetahuan dan pengalaman. "NU tidak akan mengarahkan pilihan kepada partai mana pun, karena memilih partai hak anggota bukan hak NU," pungkasnya 

Foto: Gus Ipun membuka Konfercab NU Bojonegoro

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Ali Maksum

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pahlawan, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 04 Juli 2017

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Oleh Syarif Hidayat Santoso

---Disadari atau tidak, Indonesia adalah lahan penyebaran petroreligiositas. Petroreligiositas adalah lahirnya transformasi keberagamaan negara-negara kaya minyak. Di dunia Islam, negara yang gencar menyebarkan petroreligiositas adalah Arab Saudi dan Iran. Arab Saudi dengan paham salafi-wahabinya dan Iran dengan syiahnya. Melalui dana miyak yang melimpah, mereka menyebarkan pahamnya ke seluruh dunia. Bahkan antar keduanya telah terjadi semacam kontestasi yang saling menegasikan.

Melalui kekuatan Rabitah Alam Islami dan buku-buku gratis yang dibagikan kepada para jamaah haji, arab Saudi menyebarkan pahamnya. Arab Saudi juga aktif memobilisasi dan mendanai gerakan jihad internasional seperti di Afghanistan waktu invasi Sovyet dan perang Bosnia. Iran pun juga sama. Mereka mengekspor Revolusi Islamnya ke seluruh dunia, salah satunya melalui organisasi Jamaah Dakwah. Iran juga berperan aktif di Irak, Afghanistan, Lebanon, Bahrain, Yaman ? melalui ? partai-partai dan milisi lokal.

Jihad pun tak lagi murni sebuah ibadah. Jihad internasional telah menjadi pertaruhan perebutan kuasa politik antara Iran dan Arab Saudi. Semasa perang Bosnia (1992-1995), ditemukan dua kelompok mujahidin internasional yang berafiliasi baik dengan Iran maupun Saudi. Ada mujahidin syiah bentukan Hezbollah dukungan Iran. Kesatuan mujahidin ini berasal dari kombinasi pejuang Palestina, Lebanon, syiah Afghan dan Iran. Di sisi lain, Arab Saudi melatih dan mendanai veteran perang Afghan dalam jihad di Bosnia. Poros mujahidin pro Saudi ini terdiri dari kombinasi para pejuang sunni Turki, Albania, Arab Saudi, Afghanistan dan sukarelawan Eropa.

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Petroreligiositas juga merambah Indonesia. Bentuknya berupa transformasi pemikiran melalui buku-buku, yayasan, pesantren dan sekolah Islam yang berafiliasi dengan keduanya. Kaum Wahabi-Salafi juga pernah berjihad di Ambon. Salafi dan syiah juga saling berkontestasi dalam ruang religiositas Indonesia. keduanya saling berseteru dan menjadikan kaum sunni tanah air sebagai basis massa untuk diperebutkan.

NU dengan kekuatan basis massa tradisionalnya merupakan sasaran empuk gerakan petroreligiositas. Basis massa NU digerogori sedikit demi sedikit. Jika puluhan tahun lalu, basis NU di Jawa adalah sepenuhnya NU, kini tidak lagi. Di Madura, telah bersemi gerakan Syiah dan Salafi. Syiah dan salafi juga muncul dengan ambisius di basis terkuat NU mulai Bangil, Pekalongan, Jember, Bondowoso, Kediri, Jombang, Gresik, Banyuwangi, Cirebon dan Surabaya. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salafi dan syiah bergerak dengan dua titik. Pertama, ruang urban di perumahan-perumahan di kota, kedua di pedesaan terpencil. Ini merupakan taktik kaum petroreligiositas. Di perumahan-perumahan modern, kaum transnasional bisa dengan mudah mendapat kader. Sebab sosiologisnya karena ikatan warga penghuni perumahan relatif longgar. Warga perumahan pada dasarnya merupakan kalangan terpelajar kelas menengah keatas namun minim ilmu agama. Gerakan petroreligiositas dengan gigih berupaya merebut massa kalangan profesional. Mereka dengan bangga akan mengatakan ke hadapan publik bahwa kader dan simpatisannya merupakan kalangan terpeelajar dan profesional.

Kalangan awam di pedesaan terpencil juga merupakan sasaran empuk. Taktik yang dipakai mirip misionaris. Menyantuni kaum miskin sambil menyebarkan pahamnya. Baik di perumahan maupun kawasan terpencil NU relatif bergerak. Di perumahan kaum urban, NU relatif sulit didekati karena longgarnya basis soliditas antar warga. Kaum urban juga terkadang sinis terhadap para kiai dan ustadz NU yang dianggap konservatif dan tradisional. Di kawasan terpencil, NU terkena stigma sebagai pelindung kaum abangan. Posisi NU di kawasan terpencil kadang kalah gesit dengan ormas lokal Hidayatullah dan DDII. Dalam beberapa kasus sering dijumpai kalau gerakan Islam transnasional bisa berkembang karena memanfaatkan massa Islam modernis yang lebih dulu ada.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagi kalangan urban, para tokoh NU yang berstatus akademisi atau mereka yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi wajib didayagunakan. Kombinasi antara kiai salaf dengan kiai universitas wajib dilakukan demi dakwah di kota-kota. Tanpa dukungan akademisi, dakwah NU akan diminorkan kaum urban. Di desa terpencil, NU harus lebih kreatif dalam melindungi kaum abangan diantaranya dengan perbaikan syariat secara perlahan. Sebabnya, Kaum transnasional sering mendudukkan kaum abangan sebagai sasaran dakwah. Simpati terhadap Dakwah salafi-wahabi sebenarnya lebih banyak berasal dari kalangan abangan, bukan nahdliyyin. Kaum abanganlah penyumbang terbesar kader salafi-wahabi di Indonesia.

Petroreligiositas adalah fakta global abad ini. Meskipun terlihat kuat dan tangguh, namun petroreligiositas rapuh di dalam karena digerakkan berdasar uang. Petroreligiositas juga rapuh karena berdasar kombinasi antara dakwah dan politik.

?

Syarif Hidayat Santoso, alumni hubungan internasional FISIP UNEJ, warga NU Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Budaya, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 03 Juli 2017

Guru dalam Pandangan Gus Mus

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Orang yang suka membatas-batasi umumnya pengetahuannya memang terbatas. Orang yang membatasi santri hanya sebatas yang mondok di pesantren, misalnya. Atau membatasi Islam hanya sebatas urusan fiqh, membatasi ibadah hanya sebatas shalat, puasa, zakat, dan haji. Lalu membatasi rahmat Allah hanya sebatas untuk dirinya dan kelompoknya, membatasi jihad sebatas perang bersenjata, atau bisa diperpanjang dengan misal dan contoh yang lain.

Demikian tulis Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam akun Facebook milik pribadinya ‘Ahamd Mustofa Bisri’, Rabu (25/11).

Guru dalam Pandangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru dalam Pandangan Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru dalam Pandangan Gus Mus

“Mengenai guru, juga banyak yang membatasi hanya sebatas mereka yang mengajar di sekolahan dan madrasah. Bahkan ada yang membatasi hanya sebatas mereka yang termasuk anggota PGRI,” ujar kiai yang juga dikenal sebagai Budayawan ini.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagi Gus Mus, guru bisa siapa saja. Minimal untuk diri dia sendiri. “Siapa saja bisa menjadi guruku; asal ada sesuatu darinya yang bisa aku GUgu (percaya dan ikuti ucapan-ucapannya) dan aku tiRU (contoh). Boleh jadi kalian, atau di antara kalian, diam-diam adalah guru-guruku dalam berbagai hal dan bidang,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nyatanya di Facebook ini saja, kata Gus Mus, berapa banyak dirinya mendapat pelajaran. Baik dari status maupun komentar-komentar atas status. Mulai pelajaran tentang resep masakan, tentang akik, tentang kesehatan, tentang obat-obatan tradisional, tentang adat-istiadat, hingga tentang kearifan, dan pelajaran hidup.

Maka apabila hari ini, imbuhnya, dirinya mengucapkan selamat Hari Guru dan berterima kasih serta mendoakan kepada guru-gurunya, itu artinya termasuk untuk dan kepada semua orang juga.

“Selamat Hari Guru. Semoga semua guru senantiasa diberi rahmat dan berkah oleh Allah, dimudahkan hidupnya di dunia maupun di akhirat kelak,” tutup Gus Mus.

Hingga berita ini ditulis, status panjang tersebut telah disukai oleh 3.483 orang, dikomentari oleh 278 orang, dan 1.050 kali dibagikan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Cerita, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jumat Menyambut Hari Ibu 22 Desember

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setiap tahun pada bulan Desember ada satu hari yang disebut Hari Ibu.? Hampir setiap negara di dunia ini memiliki Hari Ibu yang peringatannya dilaksanakan pada hari yang berbeda satu sama lain. Di Indonesia Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Di negara-negera Eropa dan Amerika, peringatan Hari Ibu jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei. Sementara di negara-negara Arab, seperti, Mesir, Iraq,? Saudi Arabia, dan sebagainya? Hari Ibu jatuh pada tanggal 21 Maret.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari data tersebut, dapat kita ketahui bahwa di setiap budaya atau bangsa, seorang ibu diakui memiliki peran sangat penting dalam hidup ini. Adanya peringatan Hari Ibu di seluruh dunia menunjukkan adanya kesadaran bersama untuk mengakui sekaligus? menghargai jasa-jasa ibu. Jauh sebelum dunia menetapkan perlunya peringatan Hari Ibu, Rasulullah SAW? telah meletakkan dasar-dasar teologis bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatakan dari Anas bin Malik RA:

? ? ? ?

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Hadits tersebut menegaskan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia hingga seolah-olah surga yang begitu indah dan agung saja tidak lebih tingggi daripada seorang ibu karena diibaratkan berada di bawah telapak kakinya. Kita semua tahu bahwa telapak kaki adalah bagian paling bawah atau rendah dari organ manusia. Namun maksud hadits ini adalah bahwa? tidak mungkin seorang anak bisa masuk surga tanpa ketundukan kepada seorang ibu.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Rasulullah SAW mengisyaratkan agar bakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ? ? : ? ? ? ? : ?

“Suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah SAW. Orang itu? bertanya kepada Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu bertanya lagi, siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu? bertanya lagi,? siapa lagi setelah itu. Nabi menjawab, ibumu. Orang itu? bertanya lagi. Nabi kemudian menjawab, kemudian ayahmu."

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa perbandingan bakti kita kepada ibu dan ayah adalah 3 : 1 atau 75 persen : 25 persen. Pertanyaan yang muncul kemudian, atas dasar apa Rasulullah SAW mengisyaratakan perbandingan seperti itu. Pertanyaan ini dapat kita temukan jawabannya? dalam surat Luqman, ayat 14, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada ibu-bapa; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan susah payah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada ibu-bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kembalimu.”

Dari ayat di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam kaitannya dengan proses kejadian dan kelahiran manusia ke bumi ini, terdapat 4 fase penting. Fase pertama adalah fase yang melibatkan partisipasi dari? ayah dan ibu dimana peran ayah sangat menentukan. Dalam fase ini, sel telur sang ibu tidak mungkin terbuahi tanpa pertemuannya dengan seperrma sang ayah. Dengan kata lain tugas alamiah seorang laki-laki atau ayah adalah membuahi sel telur perempuan atau ibu sehingga terjadi kehamilan yang bentuk awalnya berupa gumpalan darah yang? dalam Al Qur’an, Surat ke 96, ayat 2? disebut sebagai ‘alaq sebagaimana ayat berikut:? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ?

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Ayat di atas menegaskan bahwa proses awal terjadinya manusia adalah gumpalan darah. Hanya pada fase awal inilah seorang laki-laki memainkan peran alamiah satu-satunya? yang tidak mungkin digantikan oleh perempuan karena sel telur hanya bisa dibuahi oleh sperma. Maka bisa dimengerti? bakti seorang anak kepada ayah dibadingkan dengan ibu adalah 1 : 3 karena dalam 3 proses berikutnya seorang ayah sudah tidak terlibat lagi. Masing-masing dari ketiga proses ini sepenuhnya dilakukan oleh ibu dengan susah payah dan penuh risiko. Hal ini berbeda sama sekali dengan proses awal atau fase pertama yang penuh dengan kenikmatan tanpa risiko berarti.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah selesainya proses pertama, yakni pembuahan sel telur oleh sperma, maka proses berikutnya atau kedua adalah kehamilan. Dalam proses ini, seorang ibu harus mengandung si janin dalam kandungan selama rata-rata 9 bulan. Selama 9 bulan ini, tidak ada partisipasi ayah sama sekali karena organ laki-laki memang tidak dirancang untuk bisa mengandung seorang bayi. Hingga kini pun tidak ada teknologi yang bisa membuat laki-laki berpartisipasi atau mengambil alih tugas mengandung. Bayi tabung pun juga tidak bisa dikembangkan dalam organ laki-laki karena faktanya? laki-laki memang tidak memiliki rahim.

Dalam fase mengandung ini, seorang ibu mengalami kesusahan demi kesusahan yang didalam Al Qur’an digambarkan sebagai ? ? ? , yakni keadaan susah payah dan lemah yang dari hari ke hari bukannya makin ringan tetapi makin berat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah proses kedua selesai, disusul proses ketiga yang merupakan puncak dari proses kehamilan, yakni proses melahirkan. Lagi-lagi dalam proses melahirkan ini tidak ada keterlibatkan seorang ayah. Seorang ibu harus berjuang sendiri untuk bisa melahirkan dengan selamat, baik selamat bagi dirinya sendiri maupun bayi yang dilahirkannya.? Tugas ini ber-risiko tinggi karena secara langsung berkaitan dengan keselamatan jiwa. Tentunya telah sering kita dengar beberapa perempuan meninggal saat melahirkan. Dalam proses melahirkan ini, sang ayah? juga tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban sang ibu. Seringkali terjadi, sang ayah? tak sanggup dan tak tega menyaksikan sang ibu sedang berjuang melahirkan karena penderitaan yang dialaminya sangat berat dengan nyawa sebagai taruhannya. Seringkali pula, sang ayah hanya bisa menangis penuh kekhawatiran sambil berdoa mudah-mudahan? sang ibu bisa melahirkan dengan selamat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setelah proses ketiga selesai, disusul proses keempat, yakni menyusui. Dalam proses menyusui ini, sang ibu harus berhati-hati dan selalu menjaga diri sebaik mungkin karena apa yang terjadi pada dirinya bisa berdampak langsung pada si bayi. Sang ibu harus sanggup berjaga menahan kantuk, baik siang maupun malam. Ketika si bayi haus dan lapar dan membutuhkan ASI, seorang ibu harus selalu siap memberikannya. Dalam tugas ini, sang ayah juga tidak bisa berbuat banyak untuk meringankan beban sang ibu. Berbagai resiko, baik fisik maupun non-fisik pun, juga sering dihadapi para ibu yang sedang menyusui.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Al-Qur’an memberitakan masa menyusui adalah dua tahun sebagaimana bunyi ayat:

? ? ?

“Dan menyapihnya dalam usia dua tahun.”

Masa dua tahun menyusui dengan ASI adalah ideal terutama bagi ibu-ibu yang memang memiliki kesempatan untuk itu. Tetapi bagi mereka yang memiliki masalah tertentu, maka setidaknya selama 6 bulan pertama dapat mengusahakannya sebab selama itu ASI bersifat eksklusif.? Ini merupakan standar? internasional yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Mengingat beratnya tugas ibu, yakni tiga hal penting yang terdiri dari: mengandung, melahirkan dan menyusui, maka bisa dimengerti mengapa? Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan agar hormat dan bakti kepada ibu lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana saya uraikan di atas, perbandingannya adalah 3 : 1. Perbandingan ini masuk akal dan adil.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) SurakartaDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Makam, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 01 Juli 2017

Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho

Bantul, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Syahdu malam di kawasan yang kental nuansa perkampungan menyeruak seiring dengan menyelinapnya dingin angin di tengkuk. Jarum jam sudah menunjukkan angka kembar, 11. Lantang pengeras suara di masjid melantunkan pujian dalam nada Jawa kuno kepada sang kekasih Nabi Muhammad SAW.

Sedikit aneh ketika pujian berbahasa Arab yang diambil dari kitab kumpulan syair Barzanji ditembangkan dengan iringan seperangkat kendang lengkap dengan sebuah rebana besar yang digantung bak gong. Rebana ini mirip dengan beduk tapi tipis dengan kulit hanya di satu sisinya.

Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran Ketupat di Masjid Panembahan Bodho

H Walid, seorang pengurus masjid Sabilurrosyad tempat di mana Lebaran Ketupat diselengarakan mengatakan, kegiatan ini sejak dahulu disebut Sholawat Maulid. Sholawat Maulid biasa dilakukan di pengujung Lebaran Ketupat tepat di hari ke-7 Syawal 1435 Hijriah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat ditanya perihal awal mula acara seperti ini dilangsungkan, H Walid menjawab, “Sejak saya masih kecil.” Kegiatan ini, menurutnya, sudah menjadi tradisi warga di sekitar masjid Sabilurrosyad di dusun Kauman Wijirejo Pandak, Bantul.

Di masa lalu, masjid yang juga dikenal dengan nama masjid Panembahan Bodho itu turut merayakan setiap kali datang peringatan harai besar Islam. “Untuk syi’ar dan ajang silaturahmi. Masyarakat di sini masih berusaha untuk terus menjaga tradisi silaturahmi melalui kegiatan ini agar jangan sampai hilang,” terang H Walid, Ahad (3/8).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

H Walid melanjutkan, “Sekarang-sekarang kegiatan ini hanya dilangsungkan di setiap dua lebaran, dan satu lagi di bulan Mulud. Beda dengan zaman saya masih kecil dulu.”

Para hadirin hampir semuanya terdiri atas bapak-bapak yang sudah berumur. H Walid menjelaskan, “Ya memang karena ini kegiatan bapak-bapak. Anak-anak muda biasanya ada di belakang, nyiapke soghatan.”

“Ibu-ibu juga tidak kelihatan karena mereka punya kegiatan masak untuk persiapan bodho kupat tadi sebelum acara ini. Pembacaan sholawatan ini adalah pamungkas dari acara Syawalan atau Halal Bihalal masyarakat sekitar sini,” lanjutnya.

H Walid mengakui bahwa usaha masyarakat di sekitar masjid Panembahan Bodho yang ada di selatan pesantren Al-Imdad Kauman Bantul ini memang masih kalah dibandingkan dengan uri-uri kabudayan yang dilakukan masyarakat di sekitar dusun Mlangi Sleman. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat warga untuk terus menjaga benteng ajaran yang konon diwariskan oleh leluhur.

Masyarakat percaya bahwa tradisi ini adalah salah satu bentuk perwujudan dari metode pengajaran yang dijalankan Kanjeng Sunan Kalijogo di masa lalu.

Sementara perangkat Kaur Kesra desa Wijirejo Pandak Hariyadi menjelaskan, “Sebetulnya yang dibaca dalam acara ini sama dengan yang dibaca saat rodatan pada 1 Syawal kemarin. Tapi, kalau rodatan itu nadanya rampak dan meriah di samping juga melibatkan anak-anak muda dan remaja masjid. Sedangkan sholawat maulid di acara Lebaran Ketupat ini nadanya lebih syahdu.” (M Yusuf Anas/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

Sidoarjo,Pondok Pesantren Attauhidiyyah ? . Sekitar 500 jamaah dan sejumlah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jabon, Sidoarjo, Jawa Timur menunaikan ibadah shalat tahajud, shalat tasbih dan shalat hajat. Kegiatan ini mereka lakukan di masjid setempat untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT melalui malam Lailatul Qodar atau malam seribu bulan pada malam 21 Ramadhan.

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Lailatul Qodar dengan Lailatul Ijtima

"Para jamaah menunaikan shalat tasbih yang dilakukan dengan empat rakaat dua salaman, shalat Hajad dan Tahajud dilakukan dua rakaat satu salaman. Semoga para pengurus bangkit dan tetap semangat untuk ibadah kepada Allah. Kami juga mangajak taqorrub dengan membaca istighfar kepada Allah agar segala permasalahan kita diberikan jalan keluarnya," kata Ketua MWCNU Jabon, Ahmad Kuzaemi, Sabtu (25/6).

Kuzaemi menuturkan, keutamaan shalat tasbih sendiri sangat banyak manfaatnya. Salah satunya, barangsiapa yang mau melakukan dengan istiqomah akan diberikan jalan keluar dan akan diberikan kemudahan di dunia. Sedangkan keutamaan dari shalat hajat dan tahajud akan mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski bukan bulan Ramadhan, sambung Kuzaemi, warga Nahdliyin di wilayahnya sudah terbiasa menunaikan ibadah shalat tersebut. Tak hanya itu saja, warga Nahdliyin pada setiap malam satu, tiga, lima dan tujuh juga mengadakan Khotmil Quran yang diadakan di masjid-masjid.

"Lailatul Ijtima ini sudah menjadi amaliyah pendiri NU. Bahkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama juga pernah berpesan untuk menggerakkan Lailatul Ijtima. Hanya Nahdlatul Ulama yang mempunyai kegiatan batin yang bisa mencarikan jalan keluar di berbagai problem lewat Lailatul Ijtima.? Kami juga memberikan dorongan dan motivasi kepada jajaran ranting untuk bangkit di dalam Lailatul Ijtima," tegasnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah