Selasa, 11 Juli 2017

Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Panitia satu abad Qudsiyyah Menara Kudus menggelar pengajian umum bertajuk Roadshow: Meneladani Dakwah KHR Asnawi di Desa Papringan, Kaliwungu Kudus, Ahad (17/4) malam. Pengajian umum keliling kampung ini digelar dalam rangka meneladani dakwah salah seorang pendiri NU ini.

Acara yang dimeriahkan oleh Grup Rebana Al-Mubarok Qudsiyyah ini dimulai pukul 20.00 WIB dengan dihadiri KH Fathur Rahman, KH M Yusrul Hana, KH Saifuddin Lutfi beserta para ustadz Madrasah Qudsiyyah Kudus, dan ribuan jamaah lainnya.

Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Keliling Kampung, Qudsiyyah Ajak Masyarakat Teladani KHR Asnawi Kudus

Salah satu panitia Ali Yahya mengatakan, kegiatan keliling? ini merupakan upaya meneladani dan meneruskan dakwah KHR Asnawi.

"Kegiatan meneladani Dakwah KHR Asnawi ini paling tidak memberikan taushiyah dan menekankan pentingnya kita meneladani gaya dan ciri khas dakwah yang dilaksanakan pendiri Qudsiyyah, KHR Asnawi," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di tiga kota, yaitu Kudus, Demak, dan Jepara yang merupakan basis terbesar alumni Qudsiyyah Kudus. Kegiatan ini merupakan upaya melanjutkan perjuangan dakwah KHR Asnawi Kudus.

Berikut agenda pengajian keliling peringatan satu abad Qudsiyyah. Pertama, malam Senin 17 April 2016 di Masjid Baiturrahim, Dukuh Tumang wetan Desa Papringan, Kecamatan Kaliwungu Kudus, malam Kamis, 20 April 2016 di Masjid al-Hidayah, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kudus, malam Senin, 24 April 2016 di Masjid Nurul Mubin, Desa Bae, Kecamatan Bae Kudus, malam Kamis, 27 April 2016 di Masjid Baitul Adhim, Ngaringan Klumpit, Kecamatan Gebog Kudus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan pada malam Ahad, 30 April 2016 pengajian umum akan digelar di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati Kudus, malam Senin, 8 Mei 2016 di Masjid Baiturrahman Desa Cendono, Kecamatan Dawe Kudus, malam Rabu, 10 Mei 2016 di Masjid KUA Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan Kudus, malam Senin, 16 Mei 2016 di Desa Kirig, Kecamatan Mejobo Kudus, malam Kamis, 18 Mei 2016 di Kecamatan Karanganyar Demak, malam Jumat, 26 Mei 2016 di Lengkong Mulyorejo Kabupaten Demak.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus. Madrasah ini resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Anggota Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Nahdlatul Ulama (DPP K Sarbumusi NU) Suhandoko, di Jakarta, Selasa (4/10) menyatakan, hukum dan peraturan harus berpihak pada buruh.

"Hukum dan aturan peraturan perburuhan selama ini belum pernah ditegakan dan berpihak bagi buruh. Kita bisa melihat esensi berbagai undang-undang ketenagakerjaan dan sistem pengupahan. Outsourcing (alih daya) masih saja berjalan dan semakin merajalela bahkan sampai ke istana," ujar dia.

Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi: Hukum dan Aturan Ketenagakerjaan Harus Berpihak pada Buruh

Berkaitan dengan itu, Handoko menyayangkan para pembuat undang-undang yang tak pernah berpihak pada buruh yang membayar mereka. "Mereka kita bayar untuk mewakili kita di tempat-tempat terhormat seperti di Senayan untuk membuat undang-undang. Tapi kenapa ketika undang-undang diselesaikan tak pernah dijalankan sesuai hukum dan aturan dan berpihak bagi buruh?" Handoko mempertanyakan.

Hal tersebut, imbuhnya, menjadi ironi. "Lihatlah perlakuan para pekerja yang ada di Senayan dan Medan Merdeka tehadap orang-orang berduit dan pemilik uang. Bahkan kepada mereka yang selama ini tidak bayar pajak pun mereka memberi ampunan. Tentu saja ini terasa sangat menyakitkan. Tapi kenapa pada buruh seolah tak ada ampunan? Contoh kecil ketika terlambat bayar listrik hanya dua hingga tiga bulan, jaringan diputuskan. Anak-anaknya telat bayar iuran tak boleh ikut ujian," paparnya.

Persoalan lain, menurut dia adalah kemiskinan di berbagai bidang yang membuat buruh tidak sejahtera. "Jika buruh disuruh berwirausaha. Tingkat keberhasilan sangat rendah. Kenapa? Mereka itu miskin segalanya, mulai dari modal, teknologi, keahlian, pemasaran dan teknologi, seperti kebanyakan masyarakat miskin lainnya di Indonesia. Modal tanpa bimbingan dan keahlian hanya akan membawa mereka pada jurang kemiskinan yang makin dalam," ujar dia lagi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu jalan terbaik bagi tercapainya kesejahteraan buruh adalah aturan ketenagakerjaan yang berpihak pada buruh, selain mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia mendatang untuk mumpuni, demikian Suhandoko. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang, Jawa Timur, Kamis (3/7), menebar berkah Ramadhan dengan membagi-bagikan takjil untuk pengguna jalan. Pembagian menu buka puasa ini dimulai pukul 17.00 sore menjelang berbuka puasa.

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Jombang Bagi-bagi Takjil untuk Pengguna Jalan

Sekitar 25 kader PMII menyebar disudut perempatan Jalan Wahid Hasyim depan Masjid Ar-Raudloh Jombang. Hanya berselang 20 menit 500 bungkus kurma dan 500 gelas minuman ludes.

“Alhamdulillah, kami hari ini bisa membagi-bagikan rezeki kepada sesama yang ternyata diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, beberapa jamaah masjid ada yang tidak kebagian karena memang masih sebatas itu kemampuan kami,” terang Mahmudi, Ketua PC PMII Jombang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aksi bagi-bagi takjil mereka mendapat apresiasi dari masyarakat dan para pengguna jalan setempat. Mereka bersyukur kader mahasiswa Islam Nahdhlatul Ulama tersebut masih peduli sosial meski di tengah keterbatasan yang PMII Jombang miliki.

“Mahasiswa seperti mereka sangat baik sudah mempunyai rasa saling mengasihi. Saya dan jamaah yang lain senang kalau tiap hari ada yang mau seperti mereka. Kan yang tidak dapat hari ini, bisa dapat besok,” kata salah satu penerima takjil, Urifah, sembari tersenyum. (Romza M Gawat/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Lomba, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 10 Juli 2017

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Tanpa harus menunggu instruksi RW atau RT, warga NU sudah mengerti dari sononya untuk menyediakan aneka penganan dan makanan untuk dihidangkan dalam perayaan maulid Nabi Muhamad SAW.

Penganan maupun makanan yang tidak setiap hari tergeletak di meja sarapan pagi, bisa keluar begitu saja di perayaan maulid sebagai berkat. Penganan basah maupun kering khas di lingkungan masing-masing, mengobati kerinduan mereka pada makanan-makanan langka tersebut.

Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Penganan siap lahap antara lain adalah kue pisang, ketimus, gemblong, dodol, uli, ketan, lemper, dan lainnya. Kecuali itu, perayaan maulid juga dihadiri aneka buah-buahan baik yang panen musim setahun sekali atau lebih.

Dalam menyajikan hidangan maulid, warga NU sekenanya saja mengemas berkat. Kemasan yang dipakai berupa daun pisang, plastik, kertas nasi, hingga daun jati. Ada juga yang menggabungkan antara plastik dan daun pisang. Bahkan, ada pula yang membungkus makanan dalam keranjang dari anyaman bambu. Itu sah saja ditinjau dari hukum agama maupun hukum positif.

Isi berkat tentu saja bukan urusan kiai apalagi jajaran perangkat desa. Isi berkat ditentukan oleh individu masyarakat sendiri. Nasi boleh sama. Perkara lauknya, itu putusan yang tidak akan pernah bulat hingga hari Kiamat. Lauk berkat boleh daging kerbau, sapi, ikan bandeng, ikan emas, ikan mujahir, ayam atau telurnya.

Boleh jadi daging itu dimasak model goreng, semur, rendang, atau dendeng. Untuk ayam, ada kekhususan sedikit selain aneka model di atas. Warga NU juga kerap menyajikannya dalam bentuk opor atau dimasak banjir kecap. Yang pasti, nasi itu tidak dibiarkan sendirian. Akan terlihat janggal kalau nasi putih sendirian mendekam di dalam berkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ini pelajaran awal yang baik buat para remaja perihal hak yang nilainya melebihi harga sepuluh kilo daging. Aneka warna penganan dan lauk meramaikan perayaan maulid tanpa ada pembatasan atau pengawasan dari institusi apapun. Penganan yang terlalu manis atau asin juga tidak membuat mereka cerewet seperti pengunjung restoran.

Berkat maulid berupa penganan masuk tidak hanya ke dalam rongga tubuh mereka. Berkat juga bisa masuk ke alam pikiran mereka. Bayangkan, kehadiran beragam makanan membuat kanak-kanak yang belum mengerti dunia kegirangan. Meskipun pasti kebagian, kanak-kanak berebutan menjambret makanan dari tangan panitia.

Kanak-kanak seperti kesetanan. Kalau keadaan sudah demikian, imbauan tertib panitia takkan diindahkan. Mereka hanya mengerti berebut. Titik. Tetapi, melihat kekisruhan kecil itu, orang dewasa hanya tertawa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berkat Gaya Muslimat NU Depok

Dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. pada 1434 H yang bertepatan pada tahun 2013, pengurus Muslimat NU Depok tidak mau tertinggal kaum Nahdliyin. Mereka mengumpulkan paling sedikit dua ribu kadernya di Masjid Dian Al-Mahri yang masyhur dikenal ‘Masjid Kubah Emas’, jalan Meruyung, Kecamatan Limo Depok, Senin (28/1) pagi.

Hanya saja perayaan maulid tahun ini meleset jauh makanan dan penganan di atas. Mereka terima undangan dari majelis taklim, lalu datang hanya membawa diri tanpa makanan apapun. Karena, berkat sudah disediakan panitia maulid. Hal ini dipandang ringan saja oleh para hadirin.

Pulang mendengarkan sifat luhur Nabi Muhamad SAW, kaum ibu Muslimat NU Depok hanya menenteng kepalan-kepalan garam mentah. Tak ada semur kerbau, opor ayam, pecak bandeng, atau keributan kanak-kanak berebut berkat.

Bagi umat Islam pengamal setia maulid atau penentangnya, berkat berupa garam mentah tidak lazim sama sekali. Sesuatu di luar kelaziman akan mendatangkan guncangan di tengah masyarakat. Setuju dengan model berkat demikian? Silakan. Tidak setuju? Anggap saja angin lalu.

Yang masih menggantung, apa maksudnya pengurus Muslimat NU Depok membekali garam mentah sebagai berkat? Apa karena kaum ibu dinilai lebih akrab dengan cobek? Mungkin boleh jadi kaum ibu dinilai lebih mandiri dalam mengolah makanan yang senantiasa bercengkerama dengan garam?

Pengurus Muslimat NU Depok mungkin hanya ingin mengingatkan bahwa garam merupakan satu kebutuhan dasar bagi manusia. Tanpa garam, orang bisa diserbu penyakit gondok. Tak ada garam, kelezatan masakan pun berkurang drastis seperti benda jatuh dari lantai lima langsung menuju lubang sumur.

Boleh jadi berkat berisi garam mentah merupakan cara kaum ibu NU membela nasib petani garam Indonesia yang terhuyung-huyung akibat kebijakan impor garam oleh pemerintah setahun terakhir.

Berkat garam Muslimat NU Depok boleh jadi merupakan kelanjutan dari kongres Asosiasi Petani Garam Nusantara, Aspegnu 11-12 Juli 2012 di Madura atas pelbagai soal terkait garam nasional. Bagi-bagi garam merupakan partisipasi Muslimat NU agar petani garam dalam negeri tidak menjadi “Anak itik mati di lumbung padi” atau alih profesi menjadi importir garam.

Sadar akan kepentingan umum, Muslimat NU Depok sanggup mengurungkan niat untuk berdemonstrasi yang akan menimbulkan kebisingan selain kemacetan. Dalam hal ini, kaum ibu Muslimat NU tidak mau gegabah menyikapi masalah garam nasional. Karena, salah-salah ambil sikap dapat merumitkan persoalan yang sebenarnya mudah.

Karena itu, mereka berinisiatif untuk memilih bentuk berkat maulid tahun ini dengan garam mentah dalam arti harfiah. Artinya, berkat itu benar-benar garam mentah yang dibawa pulang oleh 2000 kader Muslimat NU Depok. Mereka akan bercerita berkat pada suami, anak, dan anak menantu mereka. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar malam selikuran (21 Ramadhan) akhir pekan lalu. Acara diawali dengan kirab yang dimulai dari Keraton Solo menuju Masjid Agung Solo.

Usai kirab mereka membagikan 1000 tumpeng kepada warga, yang sebelumnya dibawa dalam acara kirab. Pembagian tumpeng untuk menyambut malam selikuran sudah menjadi tradisi Keraton yang digelar sejak masa kerajaan Demak, termasuk dilakukan oleh para wali.?

Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Raih Seribu Bulan pada Malam Selikuran

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Pangeran (KP) Winarnokusumo mengatakan tradisi tersebut digelar untuk menyambut kedatangan malam lailatul qadar atau malam seribu bulan.

“Jumlah seribu tumpeng yang dikirab menggambarkan limpahan pahala setara seribu bulan bagi umat Islam yang beribadah pada malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tumpeng berisi nasi berwarna putih menandakan kesucian seperti manusia yang baru lahir, yakni penuh kebaikan,” kata Winarno.

Ditambahkan Winarno, pada zaman dahulu Keraton mengadakan malam selikuran, dengan rute kirab dari keraton melalui Jalan Slamet Riyadi, dan berakhir di Sriwedari. Namun, karena sekarang banyak perubahan akhirnya hanya diadakan di Masjid Agung.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Dulu dilakukan di Sriwedari pada masa pemerintahan Paku Buwono ke-IX. Karena sekarang Sriwedari sudah tidak memiliki ruh Keraton Solo. Maka malam selikuran kita lakukan di Masjid Agung," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, KRT Muhtarom menambahkan 1000 tumpeng kecil yang dibagikan kepada para jamaah dan pengunjung di Masjid Agung Surakarta juga memiliki maksud untuk memberikan penghormatan kepada para jamaah yang beri’tikaf.

“Tujuan lain untuk menghormati mereka yang hendak beritikaf dan berzikir serta qiyamullail untuk mengharapkan mendapat keutamaan lailatul qadar,” terang Ketua MWCNU Pasar Kliwon itu. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 09 Juli 2017

Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbagai upaya terus dilakukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk mempercepat proses Desa Membangun. Salah satunya mengajak Pemerintah Korea Selatan untuk melakukan transfer ilmu dan teknologi ke desa-desa.

Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Model Korea Selatan dalam Membangun Kawasan Perdesaan

Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Marwan Jafar mengatakan, desa-desa di Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar namun belum terkelola secara maksimal. Karena itu, kerjasama dengan Korea diarahkan untuk mempercepat proses pemanfaatan sumber daya alam desa dengan mengangkat skill masyarakat desa.

"Kita arahkan agar ada transfer ilmu dari Korea kepada masyarakat desa, sehingga nantinya masyarakat bisa mandiri mengelola potensi desa yang ada," tegasnya lewat rilis yang dikirim ke Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (25/8) di Jakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi dengan Korea secara khusus dijalin melalui Kementerian Administrasi Pemerintahan dan Dalam Negeri Republik Korea Selatan. Hadir dalam acara penandatanganan MoU itu Wakil Menteri Administasi Pemerintahan dan Dalam Negeri Republik Korea, Chung Chae Gun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ada lima poin yang ditandatangani dalam kerjasama itu, meliputi program peningkatan kapasitas sumber daya manusia; Kerjasama pembangunan kawasan perdesaan dengan menggunakan Model Pemberdayaan Masyarakat seperti Saemaul Undong (Gerakan Desa Baru).

Kemudian program peningkatan infrastruktur, ekonomi, social dan budaya; Penelitian dan pembelajaran bersama mengenai pembangunan perdesaan; dan saling kepentingan mengenai pembangunan desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi yang dapat diputuskan bersama secara tertulis. 

Chung Chae Gun menjelaskan, gerakan Saemaul Undong mulai lahir sejak tahun 1970-an. Hingga saat ini, gerakan ini terbukti mendongkrak pembangunan desa.

"Beberapa bulan lalu, media Korea melakukan survei apa yang bisa dongkrak pembangunan Korea, ternyata jawabannya 70 persen menyebut Saemaul Undong," ujarnya.

Menurut dia, gerakan itu bukan hanya dorongan untuk pembangunan desa, melainkan semacam gerakan revolusi mental. "Jadi membangun mental masyarakat desa untuk maju," tandasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 08 Juli 2017

Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) akan dilaksanakan pada 6-9 Agustus 2007 di Jakarta. Rakernas akan mengambil tema “Norma Hukum Islam Sebagai Spirit Legislasi Hukum Nasional.”

Menurut Ketua Panitia Rakernas HM Cholil Nafis, pemilihan tema itu dimaksudkan sebagai upaya mendialogkan teori “yang maha luas” yang terkandung dalam kitab-kitab kuning dengan realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Dikatakan Cholil Nafis, perundang-undangan yang saat ini terus berproses membutuhkan gagasan segar dan asli yang muncul dari tradisi masyarakat.

Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Lembaga Bahtsul Masail Digelar Awal Agustus

“Misalnya, Peradilan Agama yang belum memiliki undang-undang yang dijadikan sumber hukum materinya, revisi undang-undang perkawinan tahun 1974, rencana undang-undang keuangan syariah dan lain-lain memerlukan lebih banyak payung hulum Islam yang kreatif dan responsif,” katanya.

Dikatakan bahasa hukum Islam atau fikih dalam bahtsul masail perlu dialihkan ke dalam bahasa peraturan perundang-undang modern. Hal itu memerlukan keterampilan dan bahan yang lebih komprehensif, pembahasan lebih utuh, dan legal drafting yang lebih khas. “Ini tantangan baru bagi bahtsul masail,” kata Cholil Nafis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejak Muktamar NU ke 31 di Asrama Haji Donuhudan Jawa Tengah tahun 2004 lalu Lembaga Bahtsul Masail secara khusus membentuk komisi masail diniyyah qanuniyyah (masalah keagamaan hubungannya dengan aturan perundang-undangan) selain masail diniyyah waqi’iyyah (masalah keagamaan aktual yang lebih bersifat kasuistik), dan masail diniyyah maudlu’iyyah (masalah keagamaan aktual yang lebih umum dan tematik).

Rakernas diawali dengan pandangan umum dari Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi tentang revitalisasi LBMNU sebagai tangki pemikiran (think tank) NU, dan taushiyah dari Rais Am’ Syuriah PBNU KH MA Sahal Mahfudh mengenai agenda krusial LBMNU saat ini dan tantangan ke depan.

Rakernas dilanjutkan dengan beberapa seminar tentang bahtsul masail berkaitan dengan dengan proses legislasi nasional yang disampaikan oleh para pengurus PBNU, akademisi, menteri dan pejabat pemerintahan terkait.

Ada empat seminar sekaligus yakni, tentang paradima baru LBM dalam merespon agenda legislasi nasional dan daerah (Perda), posisi dan kontribusi hukum islam dalam legislasi hukum nasional, problem kependudukan indonesia dan kontribusi umat Islam mengatasinya, dan khitan perempuan dalam perspektif hukum Islam.

Sebelum acara inti pembahasan program kerja dan tata organisasi LBMNU, Rakernas akan membuka forum bahtsul masil. Pada Komisi Diniyah Waqi’iyyah, bahtsul masail akan membahas hukum Islam mengenai multi level marketing (MLM), hukum tinggal satu rumah setelah cerai, dan keluarga berencana (KB) dengan sistem baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada Komisi Diniyah Maudlu’iyyah akan ditegaskan kembali hukum memepekerjakan anak, khitan bagi wanita, dan aborsi bagi korban perkosaan. Sementara pada Komisi Diniyyah Qanuniyyah akan bahtsul masail akan membincang keabsahan Amandemen UUD 1945, UU anti korupsi, dan Kasus BLBI.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah