Rabu, 16 Agustus 2017

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Terhitung mulai selepas matahari terbenam atau waktu maghrib, Senin (4/11) umat Islam telah memulai awal bulan Muharram atau pergantian tahun 1435 Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1425 H ditetapkan jatuh pada hari Selasa (5/11).

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Rukyat awal bulan Muharram 1435 H yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama di berbagai titik strategis pada Ahad (3/11) kemarin atau bertepatan dengan tanggal 29 Dzulhijjah 1434 H tidak berhasil melihat hilal karena bulan masih berada di bawah ufuk.

Dalam almanak NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah PBNU menyebutkan, peristiwa ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada Ahad (3/11) malam pukul 19.49 WIB. Sementara posisi bulan pada saat matahari terbenam di hari yang sama berada 2021’ di bawah ufuk sehingga hilal tidak mungkin terlihat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami mengikhbarkan awal Muharram 1435 H Jatuh pada Selasa 5 November 2013 atau dimulai malam Selasa sebab rukyat Ahad kemarin tidak berhasil melihat hilal,” demikian disampaikan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A. Ghazalie Masroeri dalam pesan singkatnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Awal bulan muharram dengan demikian ditetapkan berdasarkan kaidah istikmal atau penyempurnaan bulan Dzulhijjah menjadi 30 hari, atau sampai Senin, dan hari Selasa baru ditetapkan sebagai awal bulan Muharram. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Hikmah, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 13 Agustus 2017

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Buku baru berjudul "KH Sholeh Darat Al Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara" karya Amirul Ulum dibedah oleh peneliti Balai Litbang Agama Kemenag Semarang Samidi Khalim di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Rabu (19/10). Bedah buku ini merupakan rangkaian peringatan hari santri PCNU Kota Semarang yang bekerja sama dengan PKPI2 Unwahas.

"Kami ikut berbangga hati, kampus Unwahas dijadikan tuan rumah bedah buku Mbah Sholeh Darat. Semoga ada berkah untuk kampus," tegas Rektor Unwahas Mudzakir Ali.

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

"Unwahas berdiri tahun 1999 dengan wasilah makam mbah Sholeh selama 40 hari sesuai nasehat KH. Abdurrahman Wahid," tambah H. Mudzakir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mbah Sholeh merupakan ulama lintas aliran yang melahirkan murid-murid yang menjadi tokoh agama dan berjiwa nasionalis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Buku ini adalah hadiah hari santri dan sekaligus menguatkan posisi Mbah Sholeh Darat sebagai ulama internasional," kata penulis buku, Amirul Ulum.

Banyak ajaran-ajaran Mbah Sholeh Darat yang hingga sekarang dijalani masyarakat. Kitab-kitab yang dikaryakannya juga masih dijadikan rujukan di pondok pesantren dan madrasah. "Ini menunjukkan bahwa berkah Mbah Sholeh Darat sangat abadi dan masih bisa dinikmati kata Ulum. Banyak murid-murid Mbah Sholeh yang menjadi tokoh nasional, lanjutnya, semacam RA Kartini, KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

"Buku karya Mas Ulum ini patut menjadi rujukan kajian biografi ulama Nusantara," kata Samidi. Masih banyak orang yang belum mengenal biografi Mbah Sholeh Darat. Sehingga, kehadiran buku ini mampu melengkapi karya-karya sebelumnya yang membahas Mbah Sholeh dari berbagai sudut keilmuan.

Keluarga besar Mbah Sholeh Darat pun menyambut baik hadirnya buku baru ini. "Semakin banyak orang yang mengkaji Mbah Sholeh menandakan ilmu beliau masih membekas untuk umat," kata Agus Taufiq, buyut Mbah Sholeh Darat. Di sisi lain, dzuriyah Mbah Sholeh Darat berharap kepada PCNU Kota Semarang menjadi penggerak ajaran Mbah Sholeh Darat. "Kita harap ke depan, PCNU Kota Semarang mampu menjadi garda depan penyebar ajaran Mbah Sholeh Darat," tegas Agus Tiyanto yang juga dzuriyah Mbah Sholeh. (Zulfa/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaNu, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Oleh Ayik Heriansyah



NU sebagai kekuatan sipil terbesar di Indonesia berada di garda terdepan menjaga NKRI. Harus diakui sejak republik ini berdiri, NU masih bersih dari segala macam kegiatan yang menganggu eksistensi negara. Dalam keadaan suka duka NU selalu bersama Indonesia secara lahir dan batin.?

Wajar jika pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh kepercayaan penuh kepada NU ketika gerakan kaum radikal mulai menggeliat sejak 20 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, mereka semakin menampakkan diri bertujuan mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Untuk mengamankan negara, pemerintah? pun membubarkan organisasi pengusung paham itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas oleh DPR.?

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Logis jika NU, GP Ansor dan Banser menjadi sasaran kemarahan selepas dicabutnya badan hukum mereka oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham; dengan memanfaatkan blog dan media sosial, berbagai berita hoaks, meme bernada pelecehan, potongan video yang tendensius, serta opini-opini lepas tanpa peduli benar atau salah, yang penting viral.?

Di sisi lain, reaksi GP Ansor dan Banser terhadap HTI, jadi dalih penghalang “dakwah”. Itu merupakan pintu propaganda masif agar terjadi pelemahan jama’ah dan jam’iyah. Tak hanya itu, untuk menciptakan aura kebencian kalangan umat Islam yang lain terhadap NU, GP Ansor dan Banser. Awalnya sempat terjadi kontraksi kecil di internal jama’ah NU, tapi tampaknya makin lama, mulai paham dan sadar ada niat busuk di balik share-sharean mereka di dunia maya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alhamdulillah warga NU cepat kembali ke kiainya setelah sempat sebentar geger dan gagap dibombardir konten hoaks mereka.?

Selama ini HTI mencitrakan dirinya sebagai kelompok politik intelektual, santun dan tanpa kekerasan. Bagi mereka, bahwa akhlak bagian dari syariat Islam. Bahkan ada satu kitab khusus berisi kumpulan ayat dan hadits tentang akhlak dalam rangka memperkokoh nafsiyah para anggotanya yaitu kitab Min Muqawwimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di sisi lain pendapat HTI tentang akhlak terkait dakwah dan kebangkitan umat Islam sangat minor. Terkesan mengabaikan akhlak. Di bab terakhir kitab Nizhamul Islam? membahas akhlak. Di bab tersebut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan: akhlak tidak mempengaruhi secara langsung tegaknya suatu masyarakat. Masyarakat tegak dengan peraturanperaturan hidup dan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Akhlak tidak mempengaruhi tegaknya suatu masyarakat, baik kebangkitan maupun kejatuhannya. Yang mempengaruhinya adalah opini (kesepakatan) umum yang lahir dari persepsi tentang hidup. Disamping itu yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran, perasaan, dan hasil penerapan peraturan.?

Atas dasar inilah, maka tidak diperbolehkan dakwah hanya diarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat. Sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah- perintah Allah SWT yang dapat dibentuk dengan cara mengajak masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna.?

Disamping itu, mengajak masyarakat pada akhlak semata, dapat memutarbalikkan persepsi Islam tentang kehidupan dan dapat menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakikat dan bentuk masyarakat. Bahkan dapat membius manusia dengan hanya mengerjakan keutamaan amal-amal yang bersifat individual. Hal ini mengakibatkan kelalaian terhadap langkah-langkah yang benar menuju kemajuan hidup. Dengan demikian sangat berbahaya mengarahkan dakwah Islamiyah hanya pada pembentukan akhlak saja. Hal itu memunculkan anggapan bahwa dakwah Islam adalah dakwah untuk akhlak saja. Cara seperti ini dapat mengaburkan gambaran utuh tentang Islam dan menghalangi pemahaman manusia terhadap Islam. Lebih dari itu dapat menjauhkan masyarakat dari satu-satunya metode dakwah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. (Nizhamul Islam, terj, 2007: 197-198)

Di kitab at-Takattul Hizbi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga mengkritik organisasi-organisasi yang mendakwahkan Islam, di samping berbagai organisasi pendidikan dan social tersebut, berdiri pula organisasi berdasarkan akhlak yang berusaha membangkitkan umat atas dasar akhlak melalui nasihat-nasihat, bimbingan-bimbingan, pidato-pidato, dan selebaran-selebaran, dengan suatu anggapan bahwa akhlak adalah dasar kebangkitan. Organisasi-organisasi ini telah mencurahkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, namun tidak mendatangkan hasil yang berarti. Perasaan umat tersalur melalui pembicaraan-pembicaraan yang membosankan yang diulang-ulang tanpa arti. (at-Takattul Hizbi, terj: 2001: 25).

Dari pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas sebenarnya HTI tidak melepaskan akhlak secara mutlak. Akhlak sebatas urusan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya akhlak masalah privat bukan politik. Di ranah politik, akhlak dikesampingkan sebab dalam proses politik menuju tegaknya khilafah, HTI berpedoman pada metode dakwah yang mereka adopsi yang diyakini berasal dari metode dakwah Nabi SAW. Tahap yang krusial bagi eks-HTI dalam metode dakwah mereka adalah fase tafa’ul ma’a ummah (berinteraksi dengan umat). Di fase ini eks-HTI melancarkan shira’ul fikri (konfrontasi pemikiran) dan gencar melakukan aktivitas kifahu siyasi (perjuangan politik).?

Pelanggaran akhlak islami sering kali terjadi pada dua aktivitas ini. Untuk memenangkan konfrontasi pemikiran, eks-HTI tidak segan-segan memanipulasi makna kitab turats (kitab kuning). Contohnya makna khilafah itu sendiri. Eks-HTI mengutip qaul ulama berbagai mazhab tentang khilafah yang bermakna umum (general) kemudian oleh eks-HTI keumuman makna khilafah ditimpali/ditahrif menjadi makna khusus menjadi lebih spesisfik dengan makna khilafah yang mereka maksud dan mereka perjuangkan.?

Khilafah yang ada dalam benak eks-HTI adalah kepemimpinan umat yang dipegang oleh Amir Hizbut Tahrir dalam naungan negara yang mengadopi kontitusi yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Tentu saja makna khilafah seperti ini bukan yang dimaksud oleh para ulama salaf dan khalaf di kitab-kitab mereka. Para ulama membiarkan keumuman makna khilafah, sehingga bentuk kepemimpinan, negara dan pemerintahan yang tercakup dalam keumuman makna ini, dianggap Khilafa secara syar’i. NKRI salah satunya.?

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak pernah kosong dari khilafah sejak dibaiatnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah sampai dilantiknya Presiden Jokowi. Keadaan vacuum of khilafah tidak pernah terjadi pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 3 Maret 1924 sebagaimana yang diyakini oleh HTI.

Adapun titik rawan pelanggaran akhlak islami oleh eks-HTI ketika melakukan aktivitas perjuangan politik yaitu aksi membongkar strategi (kasyful khuththath). Kasyful khuththath merupakan aktivitas politik eks-HTI dalam membongkar, menyingkap lalu membongkar ke publik strategi dan rencana penguasa yang mereka vonis sebagai antek-antek negara asing. Tujuan aksi ini untuk memutus kepercayaan publik terhadap pemerintah (dharbu ‘alaqah baina ummah wa hukkam).?

Untuk mendapatkan informasi seputar strategi dan rencana penguasa, eks-HTI melakukan kegiatan mata-mata (intelijen) amatiran. Informasi-informasi mereka kumpulkan dari berbagai sumber baik yang terbuka umum seperti media massa, media online dan media sosial maupun sumber-sumber tertutup dari kegiatan silaturahmi mereka dengan para ulama, pejabat, birokrat, akademisi, dan lain-lain yang mayoritas beragaman Islam.?

Padahal aktivitas memata-matai mereka sangat dilarang oleh akhlak islami. Tajassus kepada sesama muslim perbuatan yang tidak diragukan lagi keharamannya. Seringkali eks-HTI ceroboh dalam menilai kegiatan seorang Muslim yang jadi pejabat, antara perbuatan pribadi atau sebagai pejabat sehingga yang terjadi justru aksi bongkar aib pribadi yang dilakukan eks-HTI kepada seorang pejabat bukan membongkar rencana “jahat antek penjajah”. Membongkar aib pribadi pejabat ke publik termasuk dosa besar. Itu pun bercampur fitnah dan ghibah.

Namun demikian, eks-HTI merasa tidak bersalah karena diyakini sebagai bagian dari implementasi metode dakwah Nabi SAW. Kemudian diperkuat oleh pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang memisahkan akhlak dari masyarakat membuat eks-HTI mengabaikan akhlak dalam berdakwah. HTI sendiri menegaskan kelompok mereka bukan kelompok ruhani dan akhlak. Mereka merupakan partai politik yang berorientasi meraih kekuasaan sebagai syarat terjadinya perubahan masyarakat. Manuver politik nirakhlak yang dipraktikkan eks-HTI dampak dari keyakinan mereka yang salah tentang metode dakwah Nabi SAW dan konsepsi tentang akhlak kaitannya dengan perubahan masyarakat.?

Betul, suatu masyarakat eksis karena adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, namun unsur pokok masyarakat adalah individu. Tanpa individu-individu tidak akan terwujud suatu masyarakat sebagus apapun pemikiran, perasaan dan aturan yang dirancang. Sebab itu perubahan masyarakat ditentukan oleh perubahan individu yang meliputi pemikiran, perasaan dan akhlak. Jika seorang individu belum bisa mengatur dirinya dengan akhlak, maka rasanya berat bagi individu untuk bisa diatur dalam suatu masyarakat. Akhlak jadi parameter keteraturan suatu masyarakat.

Kesalahpahaman Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam mendiagnosa penyakit masyarakat ditambah kedangkalan ilmu agama eks-HTI menjadikan mereka tidak segan-segan mengadu domba lawan-lawan politik mereka dari kalangan ulama dan ormas Islam. NU, GP Ansor dan Banser sebagai benteng NKRI tidak lain merupakan penghalang terbesar sipil bagi agenda pendirian Khilafah oleh eks-HTI.?

Meski belum ada bukti pasti berasal dari mereka, memproduksi konten hoaks agar menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada NU, GP Ansor dan Banser adalah perbuatan keji yang jauh dari akhlak terpuji. Dan sepertinya kalangan petinggi eks-DPP HTI membiarkan aksi-aksi “machiaveli” eks-HTI karena dianggap aksi individual, bukan agenda jama’ah dan secara politik aksi-memberi manfaat bagi perjuangan mereka. Mereka seperti menikmati aksi-aksi lone wolf eks-HTI di dunia maya mengingat mereka tidak bisa lagi beraktivitas di dunia nyata.?

Yang pasti, dakwah Islam dengan cara-cara kotor, alih-alih mendapat nashrullah, justru akan mengundang murka Allah SWT. Sudah jadi sunnatullah syariat Islam hanya tegak dengan cara-cara yang bersih, bersih niat, bersih pikiran, bersih ujaran dan bersih tindakan. Menegakkan syariat Islam dengan akhlak tercela ibarat menegakkan benang basah.

Penulis adalah jama’ah Sabtuan NU Kota Bandung, Pegiat di Institute for Democracy Education. Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 12 Agustus 2017

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf optimis Mukatamar NU ke-33 pada tahun 2015 akan digelar di Jombang, Jawa Timur. Menurutnya, usulan Jombang menjadi tuan rumah sudah disepakati PWNU Jatim dan disampaikan kepada PBNU.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengungkapkan hal itu pada acara tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk KH Wahab Chasbullah di Jalan Gus Dur, depan GOR Merdeka, Jombang, Sabtu malam (15/11).

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

“Sudah saatnya NU kembali ke pendirinya, di Jombang ada tiga tokoh pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang harus dikenal lebih dekat dan diteladani oleh nahdliyin,” lanjut mantan ketua umum GP Ansor dua periode ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga mengatakan, empat pesantren besar yang ada di Jombang sudah menyatakan kesiapannya. “Gus Sholah Tebuireng sudah siap, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso juga demikian. Serta pondok-pondok lainnya juga harus siap,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pagelaran akbar NU ini. Kita siap dan mendukung penuh Jombang jadi tuan rumah Muktamar NU. Bahkan, kita sudah menyiapkan anggaran khusus untuk kegiatan ini, tuturnya tanpa menyebutkan nominal anggarannya. (Romza/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa merasa prihatin dengan penetapan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apalagi, peristiwa tersebut terjadi hampir bersamaan dengan puncak peringatan Hari Ibu yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (18/12).

Menurut Khofifah, penetapan Atut sebagai tersangka menjadi catatan keprihatinan akhir tahun bagi perempuan politik di tengah perayaan peringatan Hari Ibu ke-85. “Kasus ini menjadi pukulan berat bagi kaum perempuan Indonesia di tengah gencarnya meningkatkan keterwakilan perempuan di ranah politik,” terangnya, Rabu.

Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN era Gus Dur itu mengungkapkan, Atut sampai sekarang adalah Gubernur satu-satunya dari kaum perempuan. “Jadi catatan kepiluan karena Atut adalah gubernur perempuan pertama dan satu-satunya di republik ini ditetapkan oleh KPK menjadi tersangka kasus korupsi,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski terpukul, Khofifah tetap mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia. “Korupsi memang tetap harus diberantas dan kebenaran tetaplah harus ditegakkan. Tak ada pilihan lain. Susah dan sulitnya jalan untuk memenuhi syarat keterwakilan, perempuan masih dihadapkan lagi menjaga amanat kekuasaan ketika mencapai puncak,” tuturnya.

Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu menambahkan, kasus yang menimpa Atut jangan sampai membuat perempuan Indonesia bergerak mundur, meski ujian yang dihadapi ke depan akan tetap berat. “Di sinilah perempuan diuji ghirah politiknya. Saya berharap perempuan Indonesia tetap bergerak maju di tengah situasi politik ini,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini mengatakan, perempuan Indonesia harus tetap optimis turut membangun Indonesia ke depan yang lebih baik. “Ada hujan lebat dikarenakan ada gerimis, ada perempuan hebat pastilah disitu ada jiwa-jiwa yang optimis. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita untuk tetap berjuang menegakkan demokrasi,” pungkasnya. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia Puan Maharani menyampaikan harapan kepada Muslimat NU untuk bisa berjuang bersama dengan pemerintah dalam berbagai hal.

“Semoga perempuan-perempuan yang ada di Muslimat NU itu bisa menjadi salah satu garda terdepan pemberdayaaan perempuan yang ada di Indonesia,” kata Puan seusai menghadiri acara pelantikan Pimpin Pusat (PP) Muslimat NU periode 2016-2021 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Selasa (28/3).

Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU

Selain pemberdayaan perempuan, Puan juga berharap kepada Muslimat NU untuk bisa bersama-sama menjaga toleransi beragama, dan menjaga NKRI, menjaga persatuan dan kesatuan.

“Ini salah satu hal yang harus dilakukan, dan pekerjaan rumah Muslimat NU (periode) 2016-2021,” lanjut perempuan 43 tahun ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Puan juga berharap Muslimat NU ikut aktif mencegah dan memberantas Narkoba, mengurangi dan mencegah kekerasan pada perempuan dan anak, juga bisa lebih banyak membangun sekolah-sekolah anak di daerah.?

“Karena membangun bangsa ini memang diperlukan kerja sama dan gotong royong, bukan hanya oleh pemerintah pusat dan daerah, tapi juga bagaimana upaya yang dilakukan Muslimat NU,” terang cucu Bung Karno ini.

Acara pelantikan PP Muslimat NU sendiri dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Imam Masjid Besar Istiqlal KH Nasaruddin Umar dan Hj Shinta Nuriyah Andurrahman Wahid, serta 23.000 kader Muslimat NU dari sejumlah daerah. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

Oleh Poetra Adi Soerjo

 

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

Yang membawa NU pertama kali ke Sumbawa adalah seorang anak muda yang lahir dari rahim kandung Muhammadiyah, dan yang membawa Muhammadiyah melejit ke panggung dunia internasional adalah anak muda Sumbawa yang lahir dari rahim kandung NU.

Adalah Abdul Majid seorang pemuda Sumbawa yang masih berusia 15 tahun pada tahun 1934, pulang ke Sumbawa melihat kegiatan yang dikembangkan oleh Badan Tablig sebuah wadah organisasi ulama yang sudah terlebih dahulu eksis di Sumbawa. Kegiatan Badan Tablig ini mendapat sokongan restu dari Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin III dan mengirimkan para mubalignya keliling ke seluruh daerah di Sumbawa.

Abdul Majid sendiri adalah seorang pemuda asal Sumbawa yang kecil dan besar dalam pengasuhan KH Agus Salim seorang tokoh sentral Muhammadiyah di Jakarta. Kepada Badan Tablig, Abdul Majid menjelaskan tentang perkembangan oraganisasi kebangkitan ulama di tingkat nasional yang merupakatan geneologi dari komite Hijaz yang dikirimkan oleh ulama ulama Nusantara untuk memprotes kebijakan Raja Najed di Saudi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melihat begitu semangatnya dakwah Badan Tablig, Abdul Majid kemudian memperkenalkan organisasi nasional Nahdhatul Ulama (NU) yang memang secara tradisi ibadah sangat dekat dengan tradisi ibadah orang Sumbawa pada umumnya saat itu. Pembacaan Barzanji, Sarakalan, Yasinan, Gendang Tabuh Ratib Rabana Ode dan Rabana Rea, Ratib Munid yang datang dari Banjar dan lain sebagainya telah mendarah daging dalam amaliah ibadah orang Sumbawa. 

Sultan Sumbawa sendiri memiliki garis keturunan yang langsung dari kesultanan Banjar di kalimantan Selatan tempat di mana tradisi awal Ratib berkembang. Maka tak butuh waktu dan perdebatan yang lama untuk menjelaskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar) dan juga kitab Itiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang disusun oleh KH Hasyim Asyari sebagai khittah NU. Karena paham aqidah Asyariyah al-Maturidiyah sendiri telah menjadi amaliah hari-hari orang Sumbawa. Hal tersebut dibuktikan dengan hafalan sifat dua puluh karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi yang sudah umum dikenal masyarakat Sumbawa dan diajarkan di tempat-tempat mengaji.

Adalah M. Sirajudin Syamsuddin yang pidatonya hingga kini terus menggelegar di seluruh penjuru bumi dan dinanti oleh tokoh-tokoh dunia. Bagi saya pribadi, ada aura wibawa yang sangat kuat dalam pidato M. Sirajudin Syamsuddin yang kita kenal dengan nama Prof. Din Syamsuddin sejak mulai membuka salam. Seriuh apa pun audiens, nada salam pembuka dalam pidato Din selalu membuat dunia berhenti dan menoleh, Din selalu mampu mencuri perhatian audiens sejak salam pembuka, dan terus dengan tutur yang sistematis, konten yang berisi, argumentasi dalil yang kuat disertai irama nada dan retorika pidatonya membuat pendengar terkunci tak beranjak dari kursinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di umur 12 tahun, sebagai peserta termuda dalam lomba pidato tingkat kabupaten di Sumbawa, Din telah menjadi juara dan mengalahkan peserta lain yang bahkan ada yang sudah menjadi mahasiswa. Pidato Din kala itu sekelas dengan pidato Idham Kholid (tokoh NU) dan M. Natsir (Masyumi) yang terkenal sebagai macan panggung. Kemenangan Din sang kader cilik NU dalam lomba pidato tersebut membuat Sumbawa tercengang, dan inilah pemantik awal karir Din hingga menjadi ulama dunia sampai hari ini.

Adalah Khudori HS, Orang Madura yang menjadi Kepala Depag Sumbawa dan sekaligus Ketua Pimpinan Cabang NU Sumbawa yang menempa dan mengolah teknik dan retorika pidato Din. Ayah Din adalah seorang tokoh dan pengurus NU di Sumbawa. Din mulai dari Ibtadiyah hingga Tsanawiyah menimba pendidikan di sekolah NU di Sumbawa hingga menjadi ketua IPNU. Kembali ke masalah pidato, maka terkait gaya bahasa dan olah kata, Din di bawa oleh sang ayah untuk ditempa oleh seorang punggawa penyair dan sastrawan Sumbawa yaitu Dinullah Rayes yang kini juga dikenal sebagai sastrawan nasional. Dinullah Rayes diusianya yang tak lagi muda menikahi adik dari sahabatnya sesasama penyair yaitu KH Zawawi Imron.

Di umur yang masih begitu belia, Din sudah menjadi mubalig cilik yang berkeliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk memberikan ceramah. Din belia telah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Oleh seorang tokoh NU Sumbawa bernama Muchtar Anwar kemampuan piadato dan ceramah Din kembali digembleng. Muchtar Anwar menaikkan Din ke atas kuda untuk dijadikan fodium latihan pidato. Dan oleh Muchtar Anwar, Din dibawa keliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk keliling berceramah sebagai mubalig cilik. Bintang ketokohan seorang Din Syamsuddin mulai menyala dan dijadikan sebagai vote getter oleh partai NU Sumbawa untuk berkampanye meraup suara dalam pemilu. 

Ada cerita menarik Din di masa kecil. Alkisah diadakan sebuah rapat rahasia para tokoh tokoh NU di rumah Ayahnya untuk membahas strategi politik Partai NU dalam Pemilu. Hasil rapat diketikkan dalam beberapa lembar kertas. Din kecil yang suka bermain layang layang tanpa dosa mengambil kertas tersebut sebagai bahan untuk membuat layang layang. Dengan riang gembira Din yang paling suka bermain dan mandi di Kali Tiu Baru memainkan layangannya. Betapa kaget sang Ayah karena tak lagi menemukan berkas rapat penting para tokoh NU di rumahnya. Dan diketahuilah bahwa ternyata kertas tersebut tak lagi berbentuk karena sudah dijadikan layangan oleh Din. Al hasil, sebagaimana orang Sumbawa pada umumnya, Din dilebak sang Ayah yang sedang asik bermain layangan di Tiu Baru. Namun Din yang karena prestasinya yang cemerlang sejak kecil tetaplah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Din selalu menjadi bintang dalam kampanye kampanye partai NU Sumbawa. Melihat Din yang terlalu muda dilibatkan dalam panggung politik, maka sang paman yang merupakan tokoh Muhammadiyah mengirimkan Din ke Pondok Modern Gontor, hingga Din bertemu Muhammadiyah dan mencapai puncak tertinggi karirnya dalam organisasi Muhammadiyah sebagai Ketua Pimpinan Pusat.

Maka lihatlah bagaimana investasi Muhammadiyah bagi NU Sumbawa dan demikian pula investasi NU bagi Muhammadiyah. Abdul Majid yang lahir dari rahim Muhammadiyah, anak asuh KH Agus Salim membawa NU untuk pertama kali ke Sumbawa, dan Din Syamsuddin yang lahir dari rahim NU membalas budinya dengan membawa nama besar Muhammadiyah semakin besar lagi ke pentas dunia.

Penulis adalah Sekretaris Bidang Akademik Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah