Jumat, 29 Desember 2017

Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Muktamar ke-33 NU yang bakal digelar di Jombang, 1-5 Agustus 2015, masih dibayangi adanya pemadaman listrik. Pasalnya, hampir setiap pekan listrik di kota santri ini sering mati tanpa ada pemberitahuan pasti.

Manajer Area PLN Jombang Lusiana membenarkan masih adanya gangguan sehingga listrik padam. Terkait kesiapannya menyambut perhelatan nasional Muktamar NU di Jombang mendatang, pihaknya mengaku belum bisa memastikan.

Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Ke-33 NU Masih Dibayangi Pemadaman Listrik

"Soal itu (listrik padam) kami belum bisa menjamin, namun yang jelas kita berusaha agar saat digelarnya acara besar itu listrik tidak mati," ujarnya saat dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (8/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lusi mengakui bahwa beberapa wilayah di Jombang sempat mengalami gangguan mati listrik karena terdapat gangguan kabel putus akibat hujan dan kerusakan peralatan. "Beberapa waktu lalu memang PLN mengalami gangguan, jaringan putus karena adanya pohon tumbang disebabkan adanya angin dan hujan. Ya, memang ada beberapa banyak faktor penyebab mati listrik ini, " jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lusi menyarankan, pihak panitia yang menyelenggarakan acara besar? seperti Muktamar menyediakan genset? untuk berjaga jaga di samping pihaknya akan berusaha agar listrik tidak padam. "Ya memang alangkah lebih baiknya sedia genset, biasanya kita juga berkoordinasi dan menyarankan seperti itu di samping kita usahakan agar tidak listrik,” tandasnya.

Kerapnya gangguan listrik padam yang terjadi dihampir seluruh wilayah Kota Santri pada dua bulan terakhir banyak dikeluhkan masyarakat. "Kemarin mati menjelang magrib, listrik mati hampir 4 jam lebih di desa saya, pemadaman tidak pernah ada pemberitahuan, " ujar Amir, salah satu warga Desa Sawiji Jogoroto.

Tidak hanya Jogoroto, di wilayah Peterongan dan Kepatihan Jombang kota, Tembelang dan Sumobito juga mengalami hal yang sama, yakni listrik sering mengalami gangguan dan padam berjam-jam. "Catatan saya, hampir setiap pekan pasti ada listrik mati. Selama Januari hingga minggu pertama Februari saja mati listrik 8 kali. Hari ini saja mati sejak pukul 5.30 hingga pukul 10.00 lebih mati," ujar Muslim, warga Tembelang.

Seperti diketahui, Muktamar ke-33 NU akan digelar di empat pesantren besar di Jombang, yakni Pesantren Tebuireng Diwek, Pesantren Darul Ulum Peterongan, Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, dan Pesantren Mambaul Maarif Denanyar. Pusat kegiatan, seperti pembukaan dan sidang-sidang pleno, forum musyawarah tertinggi NU ini bertempat di Alun-alun Kabupaten Jombang. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek

Purbalingga, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Anak-anak muda yang berjoged ria mengikuti dendang rebana, seolah melupakan sejenak kepenatan kehidupan. Tembang shalawat mengalun merdu diiringi rampak rebana.



Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Pengajian Budaya, Warga Purbalingga Tumplek

Sontak ribuan jamaah ikut menyanyikan senandung merdu lagu shalawat yang dibawakan, menjadi koor yang indah membawa suasana penuh kecintaan dan puncak kehasyahduan ruhani kepada sang Pencipta kehidupan.

Tampak Barisan Ansor Serba Guna (Banser) NU  menjaga tempat acara dari sekitar 2 kilo sebelum acara digelar sampai lapangan Karanggambas demi tertibnya acara. Para penonton menitipkan kendaraan baik roda dua maupun roda empat di pinggir jalan sepanjang menuju tempat acara. Muda-mudi, baik tua maupun muda berjalan beriringan dengan memakai baju takwa dan mereka lalu menempati duduknya di atas tikar di dalam komplek lapangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Demikianlah panggung pengajian budaya bersama Emha Ainun Najib dan Kyai Kanjeng yang digelar, malam itu, Sabtu (8/12) suasana pengajian yang digelar di lapangan Karanggambas, Kec Padamara Kab Purbalingga menjadi sarana bertemu berbagai kalangan masyarakat baik itu dari pejabat maupun kalangan masyarakat biasa. 

Acara dibuka ba’da shalat Isya dengan pembacaan Maulid Simthud Durar yang diiringi hadrah rebana Darul Falah dari Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara bersambung dengan pengajian budaya yang dipimpin langsung oleh Emha Ainun Nadjib. Dalam kesempatan itu budayawan, Emha Ainun Najib alias Cak Nun mengungkapkan, tidak ada orang atau kelompok orang yang melarang manusia untuk beribadah sesuai agamnya. Orang Islam juga tidak boleh menilai bahwa cara yang dilakukan oleh organisasi tertentu itu termasuk haram.

Cak Nun mengibaratkan Islam itu sebagai sepotong ketela. Dari ketela itu diolah oleh manuia menjadi berbagai macam penganan. Ada getuk, cimplung, ciwel, kripik dan sebagainya. Aneka makanan itu menjadi kiasan bagi cara manusia untuk mendalami agama.

Menurut Cak Nun, "NU, Muhammadiyah, LDII lan sedayanipun, niku sanes agama, namung dalan kangge ngaji sinau agama (NU, Muhammadiyah, LDII dan sebagainya, itu bukan agama, hanya jalan untuk ngaji belajar agama)."

“Jadi, yang berhak menyatakan haram itu Allah. Bila masing-masing menganggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, berarti mereka belum bisa membedakan apa itu ketela, apa itu getuk. Ia menegaskan, bahwa manusia tidak usah menggantikan perannya Alloh,” kata Cak Nun pada pengajian dalam rangka peringatan 1 Muhaaram di lapangan Desa Karanggambas Kecamatan Padamara, Purbalingga.

Diungkapkan Cak Nun, jika ada yang makan getuk itu marah-arah dengan yang makan kripik, itu berarti tidak baik. “Lah wong asale nggih sami, asale niku saking tela, nggih napa mboten? (Sebab asalnya juga sama. Jadi jangan bertengkar hanya karena perbedaan makan getuk dan kripik)," kata penyair kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 itu.

Tausiyah yang santun dan berwibawa itu diselingi dengan menampilkan sholawat Nabi Muhammad SAW. Dengan iringan musik gamelan yang dibawakan oleh Kyai Kanjeng, ribuan pengunjung pun ikut bersholawat. Sebut saja syair Sidnan Nabi, Sholli Wasalimda, Sholawat Badar, Lir Ilir dan Tolaal Badru . Tidak ketinggalan pula lagu modern dimainkan seperti Pak Tani (Koes Plus) dan Musik (Rhoma Irama).

Sementara KH Supono Mustajab yang mendapat kesempatan kedua mengingatkan tentang celakanya orang yang mempunyai ilmu, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Celakanya orang-orang yang mengamalkan ilmunya, kecuali orang-orang yang mengamalkannya dengan ikhlas.

Dilanjutkan oleh KH Supono, “Sungguh surga merindukan empat golongan yang jamin masuk surge; orang-orang yang membaca al Qur’an, orang yang menjaga lisan, orang yang member makan dan orang yang puasa di bulan Ramadhan.”

Penceramah ketiga walau singkat, KH AKBP Imam Sutiyono mewakili Kapolres Purbalingga, menyampaikan pentingnya shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.”Senandung shalawat yang dilantunkan sungguh mendamaikan hati dan membuat hati menjadi lembut. Apalagi senandung yang dilantunkan adalah shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Shalawat sesungguhnya dicontohkan langsung Allah SWT dan termasuk bagian dari dzikir sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imron:191.

Dalam kesempatan terakhir Wakil Bupati Purbalingga, H. Sukento Ridho M, MM, yang turut menemani jama’ah dari awal acara sampai akhir acara menyambut dengan rasa kegembiraan atas pengajian budaya yang digelar.”Ini menunjukan masyarakat Purbalingga berakhlaq mulia. Dengan digelarnya acara ini semoga masyarakat Purbalingga semakin makmur, jauh dari bencana dan keluarga menjadi mawadah, warohmah dan sakinah.”

Acara kemudian dipungkasi dengan mahalul Qiyam dan ditutup dengan doa oleh KH Supono Mustajab tepat pukul 12.00 malam. 

Kontributor: Aji Setiawan  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Warta, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 28 Desember 2017

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah

Dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan mengharukan, Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq singgah di Quba, kota kecil berjarak kira-kira tujuh kilometer dari kota Madinah. Di kota kecil yang banyak ditumbuhi pohon kurma yang menghijau itu, Nabi tinggal selama empat hari, menurut riwayat lain disebutkan empat belas hari. Di sana, Nabi berjumpa dengan para sahabatnya yang sangat setia seperti Umar ibn Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang lain.  

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah

Selama tinggal di Quba, beliau dengan para sahabatnya yang terdiri dari para muhajir (orang-orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan penduduk Quba membangun suatu masjid yang disebut dengan Masjid Quba. Itulah masjid yang pertama kali dibangun Nabi dan para sahabatnya, yang ditegakkan atas dasar takwa kepada Allah. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu (dhirar) selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. di dalam masjid itu terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. Al-Taubah, 9:108).

Nabi shallallahu alaihi wasallam  sampai di Quba pada hari Senin, setelah tinggal selama empat atau empat belas hari, dan telah selesai membangun masjid yang pertama kali didirikan itu, beliau dan para sahabatnya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke kota Madinah yang selama ini menjadi tumpuan harapan. Pada hari Jumat pagi sekali, Nabi dan para sahabatnya berangkat menuju Yatsrib atau Madinah. Menjelang memasuki kota Madinah pada kilometer empat, beliau sampai di suatu lembah bernama Wadi Ranuna milik keluarga Bani Salim ibn Auf, di tempat itu Nabi dan rombongan melakukan shalat Jumat (M. Muhyiddin, Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahmah, hal. 61). Itulah shalat Jumat pertama yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Sampai sekarang jamaah haji selalu menyempatkan diri berkunjung ke masjid tersebut, dinamai Masjid Jumat karena ia dipakai shalat Jumat untuk yang pertama kalinya.





(Baca juga: Detik-detik Menegangkan Nabi dan Abu Bakar di Gua Tsur)

Dalam khutbahnya yang pertama itu Nabi mewasiatkan beberapa pelajaran yang penting, di antaranya sebagai berikut: “Wahai manusia, hendaklah kamu berbuat kebajikan bagi dirimu sendiri, kamu akan mengetahui, demi Allah, sesungguhnya seseorang dari kamu dikejutkan dengan suara gemuruh, sehingga meninggalkan domba gembalaannya, maka domba itu tidak ada penggembalanya lagi. Allah berfirman padanya, padahal tidak ada penerjemah dan tidak ada penghalang yang menghalangi di sisi-Nya: “Tidakkah rasul-Ku telah datang kepadamu menyampaikan kebenaran?, Aku karuniakan kepadamu harta dan kenikmatan yang banyak maka apa yang dapat kamu kerjakan untuk dirimu?” Orang itu kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, semuanya lengang tidak melihat sesuatu. Kemudian melihat ke depannya, ia pun tidak melihat sesuatu kecuali Jahannam. Siapa yang ingin terlepas dari siksa Jahannam, meskipun hanya sekedar berbuat baik kepada orang lain dengan memberikan secuil buah kurma, hendaklah ia lakukan. Jika secuil buah kurma pun tidak dimilikinya maka hendaklah ia bertutur kata yang baik. Karena tutur kata yang baik adalah amal perbuatan yang terpuji....”. (M. Khudry Bek, Nur al-Yaqien, hal. 82).

Khutbah tersebut mengarahkan umat manusia agar selalu berbuat kebajikan terhadap sesamanya dan tidak mencampakkan dirinya dalam kehancuran dan kenistaan. Sebagai umat Islam, kita wajib memberikan bantuan terhadap mereka yang membutuhkannya. Bantuan itu bisa berupa harta, wisdom (kebijaksanaan), jasa, nasehat, fikiran, do’a, dan bertutur kata yang baik. Umat Islam diarahkan al-Qur’an agar senantiasa menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tidak diperkenankan mengabaikan salah satunya. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash, 28: 77).

Mengenai perseimbangan kehidupan, yang juga berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Ibn al-Asakir meriwayatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

”Bukanlah orang yang terbaik di antaramu, orang yang meninggalkan kehidupan dunia karena semata-mata mengejar kehidupan akhirat, atau meninggalkan akhirat karena semata-mata mencari kehidupan dunia, hingga ia memperoleh keduanya sekaligus. Karena kehidupan dunia adalah sarana untuk mencapai akhirat....”.

KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia selalu memerlukan orang lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab itulah manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Demikian padatnya kebutuhan manusia sehingga persinggungan diantara mereka tidak mungkin terelakkan. Bahkan di dunia yang semakin mengglobal ini, persinggungan itu telah menembus batas. Batas ruang, waktu, budaya, agama dan juga ideologi.

Persinggungan ini harus dikelola dengan baik, agar tidak berubah menjadi gesekan yang akan menghanguskan harmonisme kehidupan. Untuk menjaga ritem ini diperlukan sebuah konsep saling mengerti, yang dalam bahasa kita dikenal dengan teposeliro atau tenggangrasa. Yaitu sikap saling menghormati dan saling menghargai perasaan orang lain. Karena hanya dengan sikap inilah keselarasan hidup bersama orang lain akan tetap terseleggara. Apalagi jika mengingat keberadaan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan juga bahasa. Maka memiliki sikap tenggangrasa menjadi sebuah kewajiban bagi saiapapun yang hidup di Indonesia.

Bagi umat Islam sendiri perbedaan ini bukanlah sebuah masalah. Karena memang demikianlah Allah swt menciptakan kehidupan di dunia ini, sebagaimana firmannya dalam al-Hujarat ayat 13

Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi, Tenggangrasa dan Ucapan Selamat Natal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  . Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…

Memang mengelola perbedaan bukanlah hal yang mudah, hanya muslim yang berkwalitas iman dan taqwanya yang dititipi oleh Allah swt kemampuan menjaga keseimbangan ini. Karena sejatinya perbedaan itu merupakan kasunyatan yang sengaja dihadirkan Allah swt sebagai cobaan bagi umat muslim. Sebagaimana diandaikan Allah sendiri dalam surat al-Maidah 48.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan  satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

 

Ayat di atas merupakan sebuah petunjuk bagi umat muslim, bahwasannya persamaan dan kesatuan hanyalah sekedar pengandaian adapaun kenyataannya sesungguhnya adalah perbedaan, dan sekaligus Allah swt menjadikan yang nyata itu sebagai ‘soal’ ujian bagi manusia. Karena Allah swt mengetahui bahwa manusia tidak akan mampu menjawab soal ujian yang bersifat pengandaian seperti di atas. Dengan kata lain manusia tidak akan mampu bertahan hidup jika Allah swt menciptakan manusia dalam satu macam saja.

Dalam rangka mempermudah manusia menemukan jawaban dari soal ujian tentang perbedaan ujian ini, Allah swt perintahkan Rasulullah saw turun ke bumi untuk mengajar umatnya. Sayangnya persinggungan Rasulullah saw dengan pemeluk agama lain (yahudi dan nasrani) tidak tergambar dengan komplit dalam hadits-haditsnya kecuali sangat sedikit sekali. Diantaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah;

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? r ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, dan bila kamu berjumpa dengan mereka di jalan maka desaklah mereka ke tempat yang lebih sempit.” (HR. Muslim)

Melalui hadits di atas Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara memperlakukan pemeluk agama lain ketika berpapasan di tengah jalan. Demikian pula seharusnya ajaran ini diqiyaskan secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya seorang muslim tetap menyediakan ‘ruang sosial’ untuk menghormati mereka, tetapi ruang itu harus lebih sempit adanya dibandingkan dengan ruang sosial yang kita sediakan sesama muslim. Hal ini sebagai bukti keteguhan hati dalam beragama Islam.

Ruang itupun harus jelas batasannya. Imam Nawawi dalam Tafsir Munir menjelaskan bahwa penghormatan itu hanya boleh dilakukan dalam batas urusan duniawi (sosial saja) tidak menyinggung soal aqidah. Itupun harus disertai dengan keyakinan bahwa hanya Islamlah agama yang paling haq, adapun yang lain adalah bathil. Jikalau penghormatan itu terlalu berlebihan hingga melahirkan rasa simpati kepada agama lain, maka hal itu dilarang. Karena dapat menyebabkan kekufuran.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Demikian pula pendapat Imam ar-Razi yang termaktub dalam tafsirnya Mafathul Ghaib. Meski demikian keterangan dalam Hasyiyah al-Bujairami alal Khatib memberikan pengecualian bahwa berhubungan dengan pemeluk agama lain sangat dianjurkan apabila dirasa mampu memberikan maslahah secara syar’i atau dapat menghindarkan diri dari bahaya

 ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ?

Pembahasan mengenai hubungan dengan agama lain menjadi sangat kontekstual ketika musim natal dan tahun baru tiba. Apalagi kalau tidak soal hukum mengucapkan natal dan tahun baru kepada pemeluk agama lain?

Beranjak dari keterangan teks di atas, memang tidak ada satupun kata yang menunjuk pada ucapan selamat natal ataupun tahun baru. Mungkin saja tradisi semacam itu tidak terdapat dalam kehidupan penulis pada zaman dan dilingkungannya. Akan tetapi teks tersebut bisa menjadi sumber simpulan melarang mengupkan selamat natal dan tahun baru kepada pemeluk agama lain, kecuali hanya sebagai basa-basi saja. Bukan diniatkan sebagai do’a apalagi sebagai rasa simpati dengan aqidahnya.

Demikialah tradisi saling berucap selamat ini dilakukan oleh umat bergama di Indonesia. Mereka saling mengucap selamat di hari raya dan tahun baru sebagai mujamalah dhahriyah (basa-basi saja) tanpa ada rasa dalam hati. Ini merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam konsep tenggangrasa. Yaitu saling menjaga perasaan antara satu dan lainnya yang diejawantahkan dalam bentuk basa-basi dan kesopanan. Ini sangatlah penting karena ‘yang lain’ itu pada dasarnya adalah bagian dari keluarga besar Indonseia juga. Tenggangrasa tidak pernah meganggap yang lain adalah benar-benar orang lain. Tenggangrasa melihat perbedaan sebagaimana adik-kakak yang berbeda pendirian, berbeda selera dan keinginan tetapi mereka adalah satu keluarga. Sesuai dengan firman Allah swt 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,

Hal ini sungguh berbeda dengan konsep toleransi yang memandang orang lain adalah benar-benar orang lain, bukan bagian dari keluarga. Sehingga harus dihormati dan diberi kesempatan selayaknya menghormati seorang tamu bukan saudara. Diantaranya dengan membiarkan (tolere) apapun yang mereka lakukan meskipun itu berbeda dengan kita. Terasa sekali adanya unsur ‘agak memaksa’ dalam memberikan penghormatan menurut konsep toleransi. Dalam toleransi tersirat adanya kepentingan dalam ‘menghormati’ orang lain, penghormatan yang tidak lahir dari tulusnya hati tapi karena seuatu hadirnya sesutau yang lain.

Sesungguhnya jika diangan lebih dalam berbagai masalah yang timbul seputar wacana hubungan antar pemeluk agama (mulai dari ucapan selamat natal, valentine day, tahun baru, dll) itu muncul berbarengan dengan munculnya konsep toleransi itu sendiri. Walhasil apakah kita masih ingin melanjutkan keterjebakan kita dalam goa toleransi yang selalu menghadirkan permasalahan? Atau menggeser diri keluar dari kegelapan goa toleransi dan kembali pada terang tenggangrasa? (Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Perilaku dan akhlak yang baik adalah anjuran nabi yang selalu ditekankan pada umatnya, bahkan berbuat baik pada orang yang telah melakukan hal buruk sekalipun. Hal ini jelas sudah dicontohkan oleh sang pemuda padang pasir, Muhammad SAW dengan selalu menimpali perbuatan buruk orang lain terhadapnya dengan kasih sayang.

Syahdan, suatu hari Nabi SAW hendak pergi ke masjid dan melewati jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju masjid. Di situ Nabi selalu mendapat hinaan, cacian, bahkan dilempar kotoran. 

Namun Nabi tidak pernah membalasnya walau hanya mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir terhadap orang yang melempar kotoran saat suatu hari dia tidak melakukan kebiasaan buruknya itu. Ternyata Nabi mendapat kabar bahwa dia sedang sakit. 

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Meski mendapat perlakuan negatif dan keji, Nabi tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dikerjainya tersebut mempunyai sifat baik dan tidak dendam sedikitpun. Perangai Nabi itulah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas hingga sekarang.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Barang siapa bangun pagi dengan maksud untuk tidak berbuat zhalim (Aniaya)kepada seseorang maka perbutan dosa yang dilakukan akan diampuni (oleh Allah). Dan barang siapa bangun dipagi hari berniat untuk menolong orang yang terzholimi, memenuhi kebutuhan orang muslim maka dia akan mndapatkan pahala seperti haji mabrur.” (Nashaihul Ibad, hal 21)

Berbuat baik (menolong orang yang terdzalimi)dalam arti di atas memiliki arti umum yakni “Madhlum” yang berarti orang yang teraniaya, artinya berbuat baik tidak pandang agama, golongan ataupun ras. Namun berbuat baik adalah anjuran yang harus melekat pada diri manusia. (Diana Manzila)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Amalan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku

Adik sepupu almarhum KH MA Sahal Mahfudh, Pengasuh Ponpes Putri Raudlah al Thahiriyah Kajen, Pati, Jawa Tengah, KH Ahmad Muadz Thohir, punya cerita tentang keistimewaan sang kakak. Menurutnya, Rais Am PBNU dan Ketua MUI yang wafat pada Januari 2014 lalu, itu seorang yang sangat hobi membaca. Kegiatan Mbah Sahal kalau tidak mengajar atau menemui tamu, ya membaca. Tak hanya membaca kitab klasik yang memang dikoleksinya, tetapi juga buku-buku terbaru terutama yang terkait pendidikan atau keagamaan.

Kiai Muadz pernah merasa "sakit hati" karena merasa sudah membaca buku terbaru, ternyata kalah duluan dengan kakaknya tersebut.

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kiai Sahal Mahfudh yang Hobi Baca Buku

Suatu hari ia punya acara di Jakarta. Saat hendak pulang, ia melihat buku baru di etalase Bandara Soekarno-Hatta. Dibelilah buku di kios Bandara tersebut. Tidak terlalu tebal, maka dia baca dengan target khatam dalam perjalanan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Di Bandara itu selalu ada buku baru yang dijual di kios. Saya beli buku tentang Pendidikan anak. Langsung saya baca di ruang tunggu. Saya lanjutkan kala duduk di dalam pesawat ke Semarang. Sampai mendarat di Semarang, buku itu rampung saya baca," ujar ketua PCNU Pati ini dalam rapat Majma Buhuts an-Nahdliyah di Solo, Selasa (17/11) malam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari buku itu dia merasa ada hal baru, dan ingin didiskusikannya dengan sang kakak. Selang sehari dari kepulangannya dari Jakarta, Kiai Muadz pun bertandang ke rumah Mbah Sahal. Ia tak bercerita kalau sudah beli dan baca buku tersebut, hanya bertanya dan meminta penjelasan saudara tuanya.

"Kak, menurut jenengan pendidikan anak itu dimulai sejak kapan,?" tanya dia.

Mbah Sahal tidak langsung menjawab melainkan menimpali tanya.

"Yang kamu inginkan konsep menurut ulama atau menurut ilmuwan modern?"

"Nggih kalih-kalih ipun (Ya dua-duanya)," sahut Kiai Muadz.

"Kalau menurut ulama, ada yang bilang pendidikan anak dimulai sejak sebelum nikah."

"Nggih to?"

"Ya iya. Kalau nikahnya menurut Islam, itu modal pendidikan yang baik untuk anak. Kalau tidak sesuai ajaran Islam, ya jadi investasi yang buruk," tutur Mbah Sahal.

Mbah Sahal melanjutkan; "Menurut ulama lain, pendidikan anak dimulai sejak sebelum jimak (berhubungan intim). Yakni jika jimaknya baik menurut tuntunan Kanjeng Nabi, ya Insyaallah hasilnya baik. Lantas ulama lain bilang dimulai dari sejak janin di kandungan ibu."

Kiai Muadz manggut-manggut tanda paham. Ia lalu menunjukkan gelagat ingin bertanya tentang pendidikan anak menurut ilmuwan moden. Mbah Sahal tahu gelagat itu, bukan meneruskan memberi penjelasan, melainkan masuk ke ruang tengah rumahnya, tempat perpustakaan pribadinya berada. Lalu sang kakak kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah buku.

"Kalau kamu ingin tahu bagaimana pendidikan anak menurut ilmuwan modern, ya baca buku ini," ucap Mbah Sahal sambil menaruh buku di meja agar dilihat sang adik.

Deg! Kiai Muadz terperanjat. Ternyata buku yang diberikan sang kakak itu persis buku yang kemarin ia baca selama perjalanan naik pesawat dari Jakarta. Rupanya sang kakak telah lebih dulu membacanya. “Padahal buku itu baru terbit 10 hari lalu. Bahkan sepertinya beliau sudah tahu kalau saya habis baca buku itu," tuturnya takjub.

Ketika ia buka, Kiai Muadz melihat bukti khas buku yang dibaca sang kakak. Mbah Sahal, menurutnya, selalu memberi catatan kecil dengan aksara Arab, di setiap buku atau kitab yang dibaca. Coretan yang ditulis di pinggir halaman buku/kitab tersebut merupakan tafsiran atau komentar Mbah Sahal.

Kiai Muadz pun pamit pulang sambil membaca buku permberian kakaknya tersebut. "Biarlah punya dua buku, yang ini istimewa karena ada coretan tulisan tangan Mbah Sahal," pungkasnya.

Ilâ hadlrati rûhi KH MA Sahal Mahfudh, al-Fâtihah. (Moch. Ichwan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan rukyatul hilal (observasi bulan sabit) untuk penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1433 H yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama di berbagai titik rukyat di Indonesia pada Senin (15/10) petang kemarin, bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah, dinyatakan tidak berhasil.

Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Tak Terlihat, 1 Dzulhijjah Rabu

Dalam almanak NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah, posisi hilal memang masih belum memungkinkan untuk dilihat, karena ijtima’ atau konjungsi terjadi sebelum dzuhur dan pada saat dilakukan rukyat hilal masih berada di bawah ufuk barat.

Setelah rukyat dinyatakan tidak berhasil, maka penentuan awal bulan dalam penanggalan qamariyah atau hijriyah dilakukan dengan kaidah istikmal, atau penyempurnaan bulan sebelumnya (dalam hal ini Dzulqa’dah) menjadi tiga puluh hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Diikhbarkan bahwa observasi hilal (ru’yah) tidak berhasil melihat hilal. Maka awal Dzulhijjah 1433 H jatuh pada Rabu 17 Oktober 2012 atas dasar istikmal,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah per-SMS usai pelaksanaan rukyatul hilal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Senin malam KH Ghazalie langsung mengikuti Sidang Itsbat di kantor Kementerian Agama, Jakarta, bersama perwakilan ormas Islam lainnya. Sidang yang dipimpin oleh Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar menetapkan hari raya Idul Adha atau tanggal 10 Dzulhijjah 1433 jatuh pada tanggal 26 Oktober 2012.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah