Sabtu, 24 Februari 2018

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proyek perluasan kilang Balikpapan (Refinery Unit V) yang dikelola PT. Pertamina, diperkirakan membutuhkan 20.000 tenaga terampil. Pemenuhan tenaga terampil tersebut sebagian akan diprioritaskan dari pekerja lokal, yakni dari daerah Kalimantan Timur.

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)
Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Terkait dengan rencana pemenuhan tenaga kerja, beberapa petinggi PT Pertamina melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Senin (20/11) kemarin.

"Kami sowan (silaturahim) ke Pak Menteri untuk menawarkan kerjasama pelatihan untuk  tenaga kerja lokal. Kebutuhan tenaga kerja terlatih sampai 20.000 orang, tapi sebagian akan dilatih dari tenaga kerja lokal sekitar 5000-7000 orang," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, Ardhy N. Mokobombang.

Turut serta dalam rombongan audiensi adalah Vice President Refining Project Pertamina Ignatius Tallulembang, serta beberapa pejabat lainnya.

Dijelaskannya, proyek perluasan kilang Balikpapan merupakan bagian dari program strategis meningkatkan kemandirian dan ketahanan energy nasional, baik peningkatan produksi BBM atau non BBM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kualitas produksi yang semula Euro 2 menjadi Euro 5. Proyek berdurasi 43 bulan ini akan menyerap tenaga kerja sedikitnya  20.000 orang. Saat kilang dioperasikan akan menyerap sekitar 2.500 orang pekerja.  

Rencananya, ground breaking mega proyek dengan investasi US$ 5 miliar ini akan  dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember atau Januari nanti.

Terkait dengan rencana kerjasama menyiapkan pelatihan tenaga kerja terampil, saat ini pihak sedang menyusun silabi pelatihan yang akan diterapkan pada lima Balai Latihan Kerja (BLK) di Kalimantan Timur. Atau di BLK lainnya sesuai kebutuhan pelatihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan tersebut, Menaker M Hanif Dhakiri menyatakan sangat mendukung adanya penyerapan tenaga kerja lokal dalam proyek tersebut.

“Selain mendukung kemandirian energi dan dunia industri, proyek ini akan menyerap ribuan pekerja lokal.  Pemerintah dan Pertamina akan menyiapkan pelatihan bagi tenaga kerjanya,” kata Menaker.   

Menaker berjanji, untuk keperluan pemenuhan tenaga kerja lokal tersebut, pihaknya akan segera membuat tim khusus (pertamina dan Kemnaker) untuk menyusun silabus, instruktur, dan peralatan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut.  (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Februari 2018

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Gowa, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Sekretaris Lembaga Takmir Masjid Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan H Misbahuddin mengingatkan bahwa sejarah kejayaan Islam ada di tangan pemuda. Karena pada saat itu, katanya, pemuda mengisi segala lini kehidupan termasuk mengisi masjid. 

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Demikian disampaikan Misbahuddin Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pesantren Bahrul Ulum Kabupaten Gowa, Jumat (8/12).

Menurutnya, kalau hari ini pemuda tidak bergerak, pemuda tidak berpikir tentang masjid dengan baik, maka boleh jadi masjid tidak berfungsi secara baik karena masjid menjadi kekuatan dan fondasi agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 

"Pemuda harus dekat dengan masjid, mengawasi masjid, mengisi masjid dengan kegiatan di antaranya dengan pengajian yang muatannya untuk menjadi NKRI," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Hadir pada hari terakhir roadshow Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pulau Sulawesi Selatan ini Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazein, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris LTM PBNU H Sarmidi Husna, Ketua PCNU Kabupaten Gowa Abdul Jabbar Hijaz, Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan H Muammar Bakri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Pada tahun 1958, ada yang menyebutkan pada tahun 1950, Presiden Soekarno berkunjung ke Mataram, melalui bandara Selaparang, Ampenan. Tujuannya untuk meresmikan kantor gubernur Nusatenggara Barat (NTB).

Rencana kedatangannya, telah tersiar jauh hari sebelumnya oleh warga di pulau Lombok itu, termasuk oleh Tuan Guru Haji (TGH) Saleh Hambali. Jika kejadian itu tahun 198, saat itu berarti ia adalah Rais Syuriyah PWNU NTB. Saat itu NU masih berstatus partai. ?

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Tuan Guru itu sebetulnya dikenal masyarakat sebagai orang yang rendah hati dan jarang berkomunikasi dengan pihak luar, apalagi dengan seorang presiden. Namun, entah kenapa, dengan percaya diri ia menegaskan, bahwa Bung Karno akan berkunjung ke pesantrennya, Darul Qur’an di desa Bengkel. Sebuah desa yang akan dilalui Bung Karno jika melalui Ampenan. ?

Akan mampirnya Bung Karno, dikemukakan Tuan Guru kepada para santrinya. Salah seorang saksi hidup peristiwa itu adalah Ustadz Asmaun dari desa Bonder, Lombok Tengah yang diceritakan anaknya, Syaifullah. Ketua PWNU NTB saat ini, TGH Taqiudin Mansur juga membenarkan kisah itu.? Dia mendngar cerita itu dari ayahnya, TGH Mansur, santri Darul Qur’an saat itu. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para santri merasa heran kenapa Tuan Guru Soleh Hambali bisa seyakin itu karena tidak ada pemberitahuan dari pihak mana pun tentang berkunjungnya Bung Karno ke pesantren Darul Qur’an.

Beberapa hari menjelang kedatangan, di agenda protokoler kepresidenan tetap tidak ada jadwal Presiden Soekarno ke pondok. Namun, TGH Saleh Hambali malah meminta para santri menyiapkan podium penyambutan.

Di hari kedatangan Bung Karno, dari bandara Selaparang Ampenan menuju kota Mataram, semua santri disuruh keluar oleh TGH Saleh Hambali.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh berkata kepada santri-santrinya, jika Bung Karno adalah pemimpin yang benar, dia akan mampir ke pesantren Darul Qur’an.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh waktu itu menulis ayat Al-Quran di dinding pesantren, yaitu “Fawaillul lil mushallin.” Namun, dalam pada catatan Yusuf Tantowi, ayat yang ditulis TGH Saleh adalah “Fa ammal yatima fala taqhar, wa amma sya ila fala tanhar” dan dia tidak menuliskannya di tembok, melainkan dibentangkan di atas spanduk.

Ternyata, ketika Bung Karno melewati pondok pesantren Darul Qur’an, ia benar-benar mampir. Hal itu di luar dugaan pasukan pengawal yang berada di paling depan. Mereka tidak mengetahui orang yang dikawalnya telah mampir pada tempat yang tidak dijadwalkan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kegiatan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 GP Ansor Bondowoso merupakan tidak lanjut dari rapat kerja cabang pertama yang telah digelar satu tahun lalu. Sebelumnya, Rakercab ini dilaksanakan bersamaan dengan pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bondowoso. Rakercab kedua ini juga merumuskan agenda-agenda ke depan agar berjalan dengan baik.

Hal tersebut di sampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (PG) Ansor Kabupaten Bondowoso Muzammil dalam sambutannya membuka Rapat Kerja Cabang Ke-2 dan sekaligus Pelantikan Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowosa PC GP Ansor di Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Koncer Darul Aman Jl KH Abd Muiz Tr Desa Koncer Darul Aman Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Sabtu (5/3).

Ia berharap nantinya di Rakercab ini agar ada kontrol bersama, agar ada tanggung jawab bersama sehingga kedepan betul-betul sesuai apa yang diinginkan warga Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso, selain bisa bermanfaat untuk masyarakat Bondowoso secara umum.

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Acara Pembukaan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 ini di ikuti 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor se-Kabupaten Bondowoso dengan mengambil tema ‘Revatalisasi peran Pemuda Ansor dalam proses Pembangunan menuju Masyarakat Bondowoso Beriman, Berdaya dan Bermartabat’.

Turut hadir pula juga dalam acara pembukaan Rakercab Ke-2 ini di antaranya Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil beserta jajarannya, Banser, Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor, Polsek Tenggarang, Koramil Tenggarang, Camat Tenggarang Jakfar Sodik, Diknas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Pengasuh Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki KH Muhammad Hasan Abd Muiz. (Ade Nurwahyudi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Hadits, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Oleh Ahmad Nur Kholis

--Awal tahun 2009 silam saya mengikuti acara pengajian Almaghfurlah KH Idris Marzuki Lirboyo. Acara dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Fattah Singosari, asuhan KH Ja’far Shadiq atau biasa disapa Gus Ja’far. Acara ini digelar oleh alumni dan masyarakat umum dalam rangka turba persiapan peringatan Harlah satu Abad lirboyo. Turut dalam acara ini Almukarram KH Abdullah Kafabih Mahrus.

Dalam kesempatan itu, selain diisi dengan pemberian ijazah “Dala’ilul Khairat” oleh KH Idris, juga ada mau’idzah hasanah oleh beliau, kepada semua yang hadir. Dalam ceramahnya ini KH Idris menjelaskan tentang pentingnya pendidikan pesantren bagi generasi masa depan.

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Disamping itu, Putra dari KH Marzuki Dahlan ini juga menerangkan tentang isi dari sebuah kitab kecil yang seingat saya dibawanya. Tapi waktu itu saya tidak tahu nama kitab tersebut karena pendengaran saya kurang teliti. Tapi yang jelas telinga saya mendengar bahwa kitab yang diterangkan ini ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Wahabi.

Dalam kitab itu seingat saya KH Idris menjelaskan tentang klarifikasi Muhammad bin Abdul Wahab bahwa jika ada yang mengatakan bahwa dirinya telah membid’ahkan tawassul maka itu adala kebohongan yang besar. KH Idris membacakan kitab kalimat “Buhtanun Adhim” dalam kitab itu.

Saat ini, setelah Al-Mukarrom KH Idris telah berpulang tahulah saya nama kitab itu. Dalam sebuah buku yang diterbitkan Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berjudul “Tradisi Amaliah NU dan Dalil-dalilnya” disebutkan:

“Sesungguhnya Sulaiman bin Suhaim telah menyandarkan pendapat-pendapat yang tidak saya katakan, diantaranya adalah: saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul terhadap orang Shalih, dan saya katanya, mengkafirkan Syaikh Al-Bushairy, dan telah membakar Kitab Dalailul Khairat. Jawaban saya atas tuduhan di atas adalah, bawa itu merupakan kebohongan yang besar.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendapat ini dikutip dari kitab Muhammad bin Abdul Wahab yang berjudul: “Al-Muwajjahah li Ahlil Qashim.”

Dalam buku terbitan PBNU itu juga dikutip tentang keterangan Muhammad bin Abdul Wahab saat ditanya tentang shalat Istisqa’. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menjawab tidak masalah dalam shalat istisqa’ diselingi tawasul kepada orang shalih. Pendapat ini dikutip dari kitab Rasail Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Subhanallah......

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Selasa (10/1) malam, akan menggelar diskusi bidang pertanian di Jalan Kramat Raya 65A Jakarta Pusat.

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), di Jakarta melalui pesan tertulisnya menyatakan, diskusi itu akan dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Eko Putro Sandjojo.

Dalam Diskusi Refleksi Akhir Tahun 2016, Gerakan Pemuda Ansor, Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM PP GP Ansor Adhe Musa Said prihatin melihat nasib petani yang cenderung tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ia berharap kebijakan sektor pertanian dijalankan serius oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Agenda lain di PP GP Ansor Selasa malam ialah menyambut anggota Banser dari Malang, Jawa Timur, Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) yang bertekad menyosialisasikan corak khas Islam Nusantara ke 11 Negara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni, Senin (9/1) malam mengintruksikan jajarannya mendampingi Gus Yaqut yang akan menyambut Hakam dan istri.?

Hakam yang bertolak dari Malang 17 Desember 2016 tiba di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (7/1). Kedua pasangan suami istr itu disambut ratusan Banser setempat di perbatasan Indramayu-Subang. Hakam dan Rofingatul dijadwalkan tiba di Kantor PP GP Ansor sekitar pukul 17.30 WIB. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah