Minggu, 26 Februari 2017

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Terhitung sejak bulan lalu, Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbulloh (MAU WH) Tambakberas Jombang membentuk kelompok baca perpustakaan. Meskipun baru memiliki 15 anggota yakni para siswa dan siswi madrasah setempat, diharapkan jumlah kelompok ini terus bertambah.

"Alhamdulillah, sejak bulan Januari telah terbentuk kelompok baca perpustakaan MAU WH yang anggotanya 15 siswa," kata Ustadz Mustaufikin, Senin (13/2) siang.?

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)
MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan (Sumber Gambar : Nu Online)

MAU WH Tambakberas Bentuk Kelompok Baca Perpustakaan

Staf unit Pengendalian Mutu Madrasah di MAU WH ini mengemukakan bahwa kelompok baca tersebut fokus pada kegiatan peningkatan minat baca dan menulis. "Kegiatan wajibnya, mereka harus membaca setiap hari, dan setiap minggu adalah menulis," jelas alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Sedangkan kegiatan insidental adalah kajian literasi, seperti yang dilakukan tadi siang. "Tema kajian adalah menggerakkan literasi madrasah yang menghadirkan Ustadz Miftahul Arif," ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam penjelasannya, Ustadz Miftahul Arif mengemukakan bahwa kesadaran literasi bangsa Indonesia termasuk rendah. "Rendahnya kesadaran literasi menjadi salah satu faktor masifnya peredaran khabar bohong atau hoax," kata Ustadz Arif, sapaan akrabnya. Dengan budaya baca yang rendah, masyarakat menelan informasi, seacara instan, tanpa berupaya mencerna secara utuh, lanjutnya.

Wakil Kepala Sekolah MAU WH bidang kurikulum tersebut menyebutkan data UNESCO bahwa indeks membaca bangsa Indonedia hanya 0,0001. "Artinya, dari 1000 orang, hanya satu orang yang punya tradisi membaca secara serius," ungkapnya.

Sementara itu ada sekitar 132, 7 juta orang telah menggunakan internet. Baginya, kondisi tersebut sebagai hal yang kontradiktif. "Menggunakan teknologi tinggi tanpa dilandasi tradisi membaca, maka buahnya adalah tradisi berteriak di jalanan sembari menyebar kebencian, memproduksi fitnah, serta memporak-porandakan ketentraman atas nama tuhan," tandas kandidat doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.?

Karenanya, Ustadz Arif mengajak seluruh elemen madrasah untuk mengawal gerakan literasi. "Tugas guru disamping mengajar adalah mendidik, menginspirasi dan menggerakkan," jelasnya.

Harapan serupa disampaikan Ustadz Mustaufikin. "Kami mohon dukungan bapak dan ibu guru untuk ikut menyemangati anak-anak untuk lebih banyak membaca," pintanya. Dia juga berharap dari komunitas kecil ini akan lahir siswa dan siswi yang gemar membaca dan memiliki kemampuan yang baik dalam menulis, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 23 Februari 2017

PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Para aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, turun ke jalan membagi-bagikan masker, sejak Sabtu (15/2) pagi, menyusul hujan abu vulkanik yang mengguyur Kota Malang akibat erupsi Gunung Kelud.

PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Universitas Muhammadiyah Malang Bagi-bagi Masker

Aksi bagi-bagi pelindung pernafasan tersebut diperuntukkan kepada para pengguna jalan maupun masyarakat setempat daerah Tlogomas, Malang. Berbeda dari yang lain, para aktivis PMII ini melakukan aksinya tanpa menggunakan atribut organisasi kemahasiswaan Islam tersebut.

“Memang begitu, ketika kita berdiri atas nama kemanusiaan, sudah selayaknya kita melepaskan atribut apapun,” ujar Ketua Komisariat PMII UMM Syukron Anshori.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pembagian masker disambut baik para pengendara. Umumnya mereka menepi dan menutupi mulut mereka dengan masker pemberian PMII UMM. Masyarakat Kota malang diimbau tetap menggunakan masker atau kacamata untuk mengindari serbuan abu vulkanik Gunung Kelud yang disertai bau belerang itu.

Selain PMII, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) beserta sejumlah badan otonom dan komunitas NU lainnya ? juga aktif menggalang bantuan di sejumlah daerah terdampak. Di samping bagi-bagi masker, mereka turut menyuplai bahan makanan, selimut, perlengkapan shalat, kebutuhan bayi, dan lainnya. (Orie Muhammad/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Pahlawan, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 22 Februari 2017

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Meskipun saat ini sistem pembelajaran formal sudah diterapkan, tetapi tradisi pondok salaf di Pesantren Nurul Qodim di Desa Kalikajar Kulon Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo tetap eksis dan tidak berkurang. Bahkan, dengan santrinya yang semakin banyak, tingkat kriminalitas pelajar di sekitar pesantren bisa ditekan.

Pesantren Nurul Qodim dulunya merupakan pesantren yang murni salaf. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1966, artinya usia pesantren sudah 54 tahun. Pesantren ini didirikan oleh KH Muhammad Hasyim yang karib disapa Kiai Mino.

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)
Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal (Sumber Gambar : Nu Online)

Optimis Kembangkan Pondok, Pesantren Nurul Qodim Dirikan Sekolah Formal

Sejak awal, Kiai Mino telah menerapkan sistem pembelajaran salaf kepada para santrinya. Sampai sekarang, basic salaf tetap dipertahankan oleh pengasuh dan ketua Yayasan Nurul Qodim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah Kiai Mino wafat, posisi pengasuh diamanahkan kepada KH Nurudin Musiri, putra pertama Kiai Mino. Kiai Nurudin mengasuh pesantren sampai tahun 2015 lalu.

“Setelah ia wafat, pengasuh pondok dilimpahkan kepada KH Hasan Abdul Jalil, adik kandung dari KH Nurudin Musiri hingga sekarang,” tutur Gus Abdul Hadi, Ketua Yayasan Nurul Qodim, Jum’at (8/7).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rencana penerus pengasuh selanjutnya masih belum jelas siapa. Tapi kalangan masyarakat dan keluarga pondok menerangkan, nantinya yang akan menggantikan KH Hasan Abdul Jalil adalah Gus Abdul Hadi. Putra pertama dari Kiai Nurudin Musiri yang sudah 16 tahun mengenyam pendidikan di pesantren.

Gus Abdul Hadi adalah salah satu keluarga pondok yang digadang-gadang akan menggantikan KH Hasan Abdul Jalil. Dengan segudang pengalamannya, pendahulunya tidak meragukan kemampuannya untuk dapat mengasuh pondok.

Maklum, ia pernah mondok selama 11 tahun di Pesantren Lirboyo, Kediri. Setelah itu, Gus Abdul Hadi juga pernah menimba ilmu di Mekkah selama lima tahun.

“Selama di Mekkah, sering kali menjadi pemandu haji semasa musim haji. Biaya untuk mondok, tidak hanya menggunakan beasiswa, melainkan didapat juga dari kesibukannya menjadi pemandu haji,” kata bapak tiga anak itu.

Setelah merampungkan pendidikannya pada tahun 2005 lalu, ia banyak dilibatkan untuk ngurusi pesantren. Sejak saat itu, kondisi pesantren banyak berubah, terutama pada model pendidikan yang digunakan. “Perubahan terjadi karena saat itu saya berinisiatif mendirikan sekolah formal di pesantren ini,” ungkap pria 38 tahun itu.

“Meskipun banyak yang mengatakan kalau nantinya tradisi pondok akan hilang dengan sendirinya akibat masuknya pendidikan formal. Tapi, saya yakin mampu membuktikan kalau masuknya pendidikan formal tidak akan mengurangi minat santri untuk belajar salaf di pondok,” jelasnya.

Pembuktian pun saat ini sudah dirasakan. Yaitu dengan bertahan dan semakin berkembangnya basic pesantren salaf. Selain itu, jumlah santri tetap yang ada di pesantren saat ini tercatat ada sekitar 2.100 santri. “Mereka semua merupakan santri salaf. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak mengikuti tradisi pesantren,” ujarnya.

Bertahannya model pendidikan salaf di Ponpes Nurul Qodim, karena adanya strategi khusus yang diterapkan olehnya. Yakni, meski berdiri tiga sekolah formal setingkat MI, MTs dan MA, namun semua siswa wajib mondok.

Jam sekolah pun berbeda dengan sekolah pada umumnya. Jika sekolah formal di pondok lainnya masuk pagi dan pulang siang, di sini kebalikannya.

“Jadi, pagi digunakan untuk sekolah madin yang termasuk dalam salaf. Sedangkan siang harinya, baru berlanjut sekolah formal. Ini merupakan cara yang bertujuan untuk tetap mempertahankan tradisi ponpes,” ujar pria berkumis itu.

Saat ini, kepercayaan masyarakat terhadap ponpes semakin kuat. Hal itu karena berkurangnya kenakalan remaja dan narkoba di wilayah sekitar Kecamatan Paiton.

“Dengan adanya wajib pondok bagi siswa, secara tidak langsung efeknya sangat besar bagi pendidikan remaja. Terutama di ranah pola pikir dan tingkah lakunya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 Februari 2017

Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa melepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial pekan lalu di halaman pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ini merupakan bagian dari dimulainya Bulan Bakti Kesetiakawanan Sosial sebagai penanda dimulainya rangkaian Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) dimulai dari Kabupaten Pacitan. 

Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Lepas Tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial

HKSN 2017 terbagi dalam 7 etape di 10 titik kabupaten/kota di Jawa Timur. 10 titik tersebut yakni Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Malang, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Blitar, Kabupaten Pamekasan,  Kabupaten Sampang, Kabupaten Bangkalan dan berakhir di Kota Surabaya. 

Agenda di masing-masing etape antara lain melakukan bakti sosial sesuai hasil assesment masing- masing tim kordinator yang diinisiasi oleh konsorsium relawan. 

Secara umum akan dilakukan baksos dengan memberikan  bantuan perlengkapan sekolah, pengobatan masyarakat gratis, pemberian bantuan alat bantu disabilitas, penyerahan hak sipil (akta nikah dan akta lahir), operasi katarak, operasi bibir sumbing, sunatan massal, dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dirjen Pemberdayaan Sosial Hartono Laras mengatakan Jawa Timur adalah satu-satunya wilayah di Pulau Jawa sejak tahun 2005 yang belum mendapat giliran sebagai tuan rumah HKSN. Karena alasan itulah Gubernur Jawa Timur, Soekarwo lantas mengirimkan surat menjadi tuan rumah HKSN sejak tahun 2014.

"Akhirnya saat perayaan HKSN di Palangkaraya, Kalimantan Tengah 2016 lalu, Gubernur Jawa Timur  Soekarwo menerima pataka HKSN sebagai tanda tuan rumah pelaksanaan HKSN tahun 2017," terangnya. 

Hartono kemudian merinci, tahun 2005 HKSN diselenggarakan di Serang, Banten, kemudian tahun 2006 di Solo, Jawa Tengah, tahun 2007 di Medan, Sumatera Utara, tahun 2008 di DKI Jakarta, tahun 2009 di Payakumbuh, Sumatera Barat, dan tahun 2010 di DI Yogyakarta.

Setelah itu, di tahun 2011 HKSN digelar di Bogor, Jawa Barat, tahun 2012 di Ternate, Maluku Utara, tahun 2013 di Makassar, Sulawesi Selatan, tahun 2014 di Jambi, tahun 2015 di Kupang, NTT dan terakhir di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 

"Untuk selanjutnya 2018, kemungkinan akan diselanggarakan di Pulau Sulawesi. Permohonan yang sudah masuk dari Gubernur Gorontalo dan Sulawesi Utara," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Hartono menjelaskan peringatan HKSN dimaksudkan untuk merevitalalisasi kembali spirit atau semangat kesetiakawanan sosial di benak seluruh anak bangsa sebagai modal pembangunan menuju cita-cita Indonesia Sejahtera.

"Dalam peringatan HKSN, terdapat agenda pemberian penghargaan kepada para relawan, seperti karang taruna berprestasi tingkat nasional, pekerja sosial berprestasi tingkat nasional, dan lembaga kesejahteraan sosial berprestasi," kata dia.

Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada kepala daerah dan tokoh masyarakat yang secara aktif melakukan kegiatan sosial dan kemanusiaan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 17 Februari 2017

Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keberadaan ideologi transnasional terus mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun demikian, menghadapi sejumlah gerakan transnasional itu masyarakat diharapkan menanggapinya dengan cara yang tepat.

“Yang harus dilakukan adalah melawan mereka dengan logika ilmu,” kata Yusuf Suharto, pembicara pada Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) dan bedah buku “HTI dan PKS Menuai Kritik: Perilaku Gerakan Islam Politik Indonesia” karya DR Zuly Qodir di kampus Unwaha Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (7/10).

Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Diingatkan Bahaya Ideologi Transnasional

Menurut dosen Universitas Darul Ulum Jombang ini, penguatan keilmuan merupakan cara paling tepat. Sedangkan perlawanan fisik, apalagi disertai pengerahan massa, justru akan berdampak sebaliknya alias menguntungkan kelompok ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di hadapan ratusan mahasiswa dan pegiat Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) se-Kabupaten Jombang, Yusuf mengajak pelajar untuk meningkatkan komunikasi dengan sejumlah kiai, ulama dan tokoh cendekiawan yang memiliki pemahaman Islam secara baik dan benar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Para kiai dan ulama telah memperjuangkan bentuk negara kita pada sidang konstituante,” kata dosen Universitas Darul Ulum Jombang ini. Dengan kebesaran hati dan kesadaran akan beragamanya suku, agama dan ras di negeri ini, para kiai yang terhimpun dalam Nahdlatul Ulama (NU) akhirnya lebih memilih NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara.

Dengan mengutip pandangan KH Ahmad Shiddiq, direktur PC Aswaja NU Center Jombang ini mengatakan bahwa Pancasila bukan agama dan tidak akan bisa menggantikan agama. Namun negara Pancasila adalah upaya final bagi umat Islam Indonesia untuk mendirikan negara.

Pada kesempatan tersebut, Yusuf juga membandingkan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW yang lebih menggunakan Piagam Madinah dalam menata masyarakat. “Nabi tidak memilih negara Islam karena sadar dengan keragaman yang ada di Madinah saat itu,” terang Yusuf.  Karena itu, para penganut agama Yahudi, Nasrani tetap dihargai keberadaannya untuk hidup damai di Madinah.

Demikian juga saat para sahabat menjadi pemimpin, tidak menggunakan Islam sebagai bentuk  negara. Sejumlah suksesi kepemimpinan juga menyesuaikan dengan aspirasi masyarakat saat itu.

Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya DR Ainur Rofik Al-Amin yang juga tampil sebagai pembicara menandaskan bahwa Pancasila dan NKRI sangat bergantung kepada bangsa Indonesia bagaimana mengisinya. “Kalau diisi dengan baik, maka yang akan tampil adalah nilai dan bentuk yang juga baik,” ujarnya.

Karena itu kalau kemudian ada sejumlah peraturan yang bernafaskan Islam, itu adalah sumbangsih dari para penentu kebijakan yang dilandasi oleh agama. “Lahirnya UU zakat, perkawinan, perwakafan dan sebagainya adalah kontribusi positif dari para anggota legislatif yang memiliki komitmen kuat dalam mewarnai perundangan di negeri ini,” terangnya.

NU dan Muhammadiyah serta organisasi sosial keagamaan yang ada telah memberikan sumbangsih yang besar bagi eksistensi negeri ini. “Bandingkan dengan HTI dan ideologi lain yang datang pasca kemerdekaan. Mereka tidak berkontribusi positif bagi negeri ini, bahkan cenderung memperkeruh keadaan,” lanjutnya.

Ideologi  transnasional dinilai tekstual dan melihat permasalahan secara hitam putih, kaku, gemar mengkafirkan, dan cenderung menggerogoti empat pilar bangsa Indonesia, yakni Pancasila, Bhinnneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945.

“Karena itu, sudah seharusnya para generasi muda khususnya pelajar dan mahasiswa mewaspadai gerakan ini demi terjaganya keutuhan bangsa,” pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Warta, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 16 Februari 2017

Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat

Karanganyar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Karanganyar Kiai Ahmad Hudaya saat ini tengah membangun joglo shalawat. Joglo shalawat tersebut akan digunakan sebagai tempat bershalawat dengan masyarakat sekitar.

“Saat ini shalawat tengah menjadi magnet luar biasa di wilayah Soloraya. Shalawat merupakan mahabah atau cinta kepada Rasulullah. Sehingga paling tidak menjadi pengingat Rasul dan tidak hanya itu, ternyata dengan bershalawat bersama mampu menyatukan masyarakat,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya di Sroyo, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, Ahad (7/9).

Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Karanganyar Bangun Joglo Shalawat

Membaca shalawat mampu memperngaruhi suasana batin bagi yang membacanya. Ketika yang jenuh menjadi hilang kejenuhannya, yang tegang menjadi lebih tenang. Dan kala itu dilaksanakan bersama-sama maka akan tumbuh rasa kasih sayang kepada sesama, sehingga tercipta kehidupan damai rukun dalam komunitas masyarakat pecinta shalawat dan masyarakat pada umumnya, imbuh mantan ketua PCNU Karanganyar yang juga mengemban amanah sebagai dosen IAIN Surakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Oleh sebab itu pembangunan joglo shalawat ini dimaksudkan sebagai salah satu cara kami untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat kultural NU. “Intinya jika ada konflik di struktural, jangan sampai hal itu membuat kita putus asa, terutama untuk ngopeni (mengurusi) jama’ah. Mari kita majukan NU Karanganyar dengan cara dan kemampuan masing-masing,” ajak alumni Lirboyo ini.

Sementara berdasarkan pengamatan Pondok Pesantren Attauhidiyyah bangunan joglo shalawat tersebut saat ini masih proses penyelesaian. Meski sudah ada atapnya, namun masih tampak puluhan bambu menyangga beton bangunan tersebut. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Foto: Ketua Mustasyar PCNU Kiai Hudaya Karanganyar (berjas hitam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 15 Februari 2017

Sekolah untuk Semua

Oleh A. Muchlishon Rochmat

Sejatinya fungsi sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. (Howard Gardner)

Sekolah merupakan institusi dimana proses belajar dan mengajar secara formal berlangsung. Seiring dengan berkembangnya waktu, posisi sekolah menjadi sentral dan utama di masyarakat kita. Hal tersebut bisa kita lihat dari persepsi masyarakat dan kesempatan mendapatkan kerja –baik di institusi negeri maupun swasta- bahwa orang baru dianggap berpendidikan kalau dia menamatkan sekolah formal dan orang bisa mendapatkan pekerjaan kalau ia memiki selembar kertas ijazah meski terkadang tidak ada skill. Bukankah pendidikan formal merupakan salah satu jenis pendidikan saja, selain informal dan non-formal?

Sekolah untuk Semua (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah untuk Semua (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah untuk Semua

Seiring dengan peran pendidikan formal yang begitu vital di masyarakat, maka menjamur lah sekolah-sekolah formal itu mulai dari tingkat SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas). Sekolah-sekolah tersebut berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, karena dengan menjadi sekolah terbaik tentu akan memberikan keuntungan ‘privilege’ dan sekaligus keuntungan materi. Keduanya saling terkait. Dimana sekolah yang memiliki ‘privilege’ tentu akan mudah mendapatkan keuntungan ‘materi’. 

Dengan demikian, banyak stakeholder dan manajemen sekolah yang berbondong-bondong untuk mengembangkan manajemen sekolahnya agar menjadi sekolah terbaik seperti menerapkan konsep sekolah unggulan, sekolah model, sekolah berstandar nasional dan sekolah berstandar internasional –kedua model terakhir sudah dihapuskan.

 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ironisnya, konsep sekolah terbaik yang dicetuskan oleh para stakeholder dan manajemen sekolah tersebut mengakar kuat di masyarakat kita. Sehingga tertanamlah di otak mereka sebuah paradigma bahwa sekolah terbaik adalah sekolah yang dihuni oleh siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif di atas rata-rata, sekolah terbaik adalah sekolah yang siswa-siswinya unggul dalam ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kimia, matematika dan lainnya. Paradigma tersebut tumbuh subur di masyarakat kita.

Kalau konsep sekolah terbaik adalah hanya untuk siswa-siswi yang memiliki kecerdasan kognitif semata, tentu sebagai akibatnya akan lahir pula konsep-konsep sekolah rendahan atau buangan. Sekolah dimana siswa-siswinya adalah orang-orang yang gagal masuk ke sekolah unggulan tersebut, sekolah dimana siswa-siswinya tidak memiliki kecerdasan kognitif, dan sekolah yang menampung orang-orang yang tidak memiliki kecerdasan kognitif. 

Konsep sekolah unggulan tersebut tentu menafikan dan mengabaikan siswa-siswi yang dianggap tidak cerdas karena hanya menerima dan mengakui siswa-siswi yang cerdas kognitifnya saja. Bukankah setiap individu itu cerdas sebagaimana yang disampaikan oleh Gardner di dalam teori multiple intelligence-nya? Konsep sekolah unggulan sudah menggurita di Indonesia. 

Menurut Munif Chatib, seorang konsultan pendidikan, konsep tersebut memiliki dampak negatif yang sangat luar biasa seperti mendiskriminasi kecerdasan siswa, tidak menghargai kecerdasan setiap individu, membuat individu tidak percaya diri dengan kecerdasannya –bagi mereka yang tidak lolos seleksi ke sekolah unggulan, dan lainnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Konsep sekolah unggulan yang ada tersebut bukankan sekolah yang manusiawi. Karena sebagaimana yang dikatakan Gardner bahwa sejatinya fungsi sekolah adalah bukan seberapa cerdas anda, melainkan bagaimana anda menjadi cerdas. Sekolah yang manusiawi adalah sekolah yang menerima setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

Di buku Sekolah Anak-anak Juara, Chatib menawarkan sebuah konsep sekolah unggulan yang manusiawi dan menghargai setiap kecerdasan individu. Menurutunya, ada tiga tahapan untuk mewujudkan sekolah unggulan yang manusiawi; Pertama, sekolah tanpa seleksi tes masuk. Kebanyakan sekolah ungulan yang ada adalah sekolah yang menerapkan tes standar masuk dengan begitu ketatnya, menjadikan hasil tes tersebut untuk memetakan kelas –yang pintar satu kelas dengan yang pintar dan begitu sebaliknya, dan tidak menerima siswa yang berkebutuhan khusus. 

Adapun konsep sekolah unggulan manusiawi yang ditawarkan oleh Chatib adalah sekolah yang menerima semua siswa yang mendaftar tanpa tes yang ketat–tentu dengan memperhatikan kuota ruangan kelas, menjadikan hasil tersebut sebagai database, memetakan kelas sesuai dengan gaya belajar siswa, dan menerima siswa yang berkebutuhan khusus.

Kedua, menerapkan proses belajar terbaik (the best process learning). Yang dimaksud dengan sekolah the best process learning adalah sekolah yang menerapkan metode pengajaran yang bervariasi (multiple intelligence strategy) sesuai dengan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Model pengajaran monoton dan satu arah tentu hanya akan membuat siswa tidak antusias dan malas untuk menyerap setiap materi yang disampaikan.

 

Maka dari itu, seorang guru harus menggunakan strategi multiple intelligence agar materi yang disampaikan bisa diserap oleh siswa dengan baik. Langkah-langkah penerapan the best process learning adalah dengan membuat lesson plan (rencana pengajaran) yang variatif dan menarik, serta tidak hanya menerapkan metode ceramah.

Terakhir, menerapkan the best output. Sekolah the best output adalah sekolah sekolah yang menerapkan metode penilaian terhadap kondisi kognitif maupun jenis kecerdasan siswa lainnya. Kalau sekolah unggulan yang ada sekarang hanya menerima kondisi kognitif siswa semata, dan menyangkal kecerdasan lainnya. 

Maka sekolah the best output menerima siswa-siswi dari berbagai kecerdasan, mulai dari siswa tipe pembelajar cepat (fast learner) hingga pembelajar lambat (slow learner) bahkan siswa yang membutuhkan siswa yang berkebutuhan khusus. Sekolah the best output juga menerapkan penilaian yang autentik yakni penilaian yang bukan menekankan pada sisi kognitif semata, tapi juga psikomotorik dan afektif secara seimbang.

Dengan demikian kita berharap bahwa konsep sekolah unggulan adalah bukan hanya untuk mereka saja yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, melainkan untuk setiap individu dengan kecerdasannya masing-masing. 

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah