Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Persoalan yang sering ditanyakan terkait dengan pemilihan tidak langsung atau ahlul halli wal aqdi adalah apakah pemilihan ini menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan kedaulatan pengurus cabang dan wilayah NU?

Wakil sekjen PBNU Masduki Baidlawi menjelaskan, rais aam syuriyah merupakan “wilayah khusus” dimana warga atau pengurus tanfidziyah sudah samikna waathona (mendengar dan mematuhi), bukan lagi persoalan cabang terlibat atau tidak, karena syuriyah punya legitimasi kuat dalam syariah Islam.

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Pola pemilihan ahlul halli ini dicontohkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab. Sebelum meninggal, ia menunjuk beberapa orang untuk memilih penggantinya. Cerita ini kemudian dikodifikasi oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Al Ahkamus Sulthoniyah yang kemudian dijadikan landasan oleh para ulama NU terkait kebijakan pemerintahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faktor kedua, kata Masduki, ketika supremasi ulama tergerogoti, maka persoalan kewenangan cabang dan wilayah dalam memilih dipinggirkan dulu. Ketika tantangan politik eksternal begitu kuat, ada alasan dilakukan melalui ahlul hallli wal aqdi.

“Demokrasi itu alat untuk mencapai tujuan. Bisa saja dalam situasi tertentu dilakukan asal secara ideologis tidak terganggu, tetapi ketika ruh dan jantung organisasi terganggu, yang akhirnya jantung organisasi dirampas orang. Ya ngak bisa begitu,” tegasnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Belajar dari Syarekat Islam

Ia menyatakan, organissi NU tidak bisa dibiarkan terlalu terbuka sehingga sembarang orang bisa menjadi pengurus tanpa pernah terlibat dalam proses didalamnya, sementara tantangan di luar semakin keras.?

Kelompok Islam transnasional merupakan tantangan baru yagn harus diwaspadai infiltrasinya dalam lingkungan NU. Di beberapa daerah, sudah terindikasi penyusupan tersebut dan akhirnya bisa dikeluarkan. Orang makin kabur antara NU dan Islam transnasional. Ada yang sudah permisif ‘ngak papa yang penting sama-sama Islamnya’ padahal orientasi politiknya berbeda.?

Ia menyatakan, NU harus belajar dari keruntuhan Syarekat Islam (SI) yang pada zaman kolonial, merupakan organisasi Islam paling besar dan berjaya. Tapi puluhan tahun kemudian habis karena terlalu terbuka, akhirnya ada kelompok SI hijau dan SI merah yang dimasuki anasir-anasir komunis.

“Ini tidak ada urusan demokratis dan tidak demokratis, ini urusannya eksistensi NU untuk masa depannya seperti apa, yang 12-13 tahun lagi sudah 100 tahun. Kalau dibiarkan, NU bisa seperti SI. Jadi orang yang mengurus NU merupakan orang yang betul-betul secara ideologi adalah orang NU, jelas, aswajanya seperti apa, pengkaderannya seperti apa,” tandasnya.

Muktamar Situbondo

Ia mencontohkan pola ahlul halli sudah pernah digunakan dalam muktamar ke-27 NU yang berlangsung di Sitobondo yang akhirnya memilih Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Masa itu ditandai dengan munculnya kader-kader muda NU yang cemerlang seperti Fahmi Syaifuddin, Gus Dur, Masdar F Mas’udi, Slamet Effendy Yusuf, Ichwan Syam dan lainnya. Dikalangan para ulama, juga ada pikiran baru yang reformis seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ahmad Siddiq dan lainnya.?

Kelompok tersebut sangat resah dan gundah dengan kondisi NU yang terlalu terbawa ke politik praktis. Lalu dicarilah cara bagaimana yang memimpin NU memiliki visi yang sama dan sejalan dengan ulama.?

“Kalau dilakukan pemilihan one man one vote, yang akan terpilih lagi Kiai Idham Chalid. Maka dicarilah model pemilihan agar Gus Dur terpilih ketua umum PBNU. Jadi konteksnya begitu. Untuk konteks sekarang, ya alasannya seperti yang saya sebutkan di atas.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 30 September 2011

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pondok Pesantren memegang peranan penting di masyarakat, sementara di perguruan tinggi masing-masing tempat para mahasiswa menuntut ilmu porsi pembinaan spiritual dan karakter mental masih sangat kurang. Karenannya harus tersedia tempat untuk membina moral, membangun karakter dan memperkuat basis keilmuan sehingga kelak akan mampu berperan secara maksimal di dunia kerja dan masyarakat yang tetap disemangati dengan nilai-nilai Keislaman, kebudayaan dan ke Indonesiaan. Hal itu yang selalu diungkapkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH A Hasyim Muzadi.

Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1989 berdiri Yayasan Al Hikam Malang dengan akte notaris NO 47/ 1989. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/   

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book. 

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 11 September 2011

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima kunjungan dan silaturrahim elit pengurus Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sore ini, Jumat (8/1) di Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164.

Kedatangan elit partai pemenang pemilu 2014 itu dalam rangka mengundang secara khusus Ketua Umum dan Sekjend PBNU ke acara Rakernas dan Harlah PDI-P pada tanggal 10 Januari 2016 di JJC Kemayoran Jakarta Pusat.

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Dalam sambutannya, Sekjend PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa ada banyak kesamaan visi antara PBNU dengan PDIP terutama yang menyangkut pendampingan wong cilik dan program-program kerakyatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“PDIP memiliki visi memberdayakan rakyat kecil dan itu sejalan dengan visi NU yang sangat peduli pada rakyat kecil,” tandas Hasto.

Sementara itu, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah menceritakan, ia telah melaporkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri soal dirinya yang bergabung dalam kepengurusan LAZISNU periode 2015-2020 ini. Menanggapi hal itu Megawati sangat berbahagia dan mendukung sepenuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu dalam sambutannya KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa PDIP sebagai partai penguasa hendaknya harus terus bersinergi dengan ormas-ormas yang ada untuk urusan sosial kemasyarakatan.

Selain itu, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta itu juga banyak memberi masukan soal keadaan terkini dunia Islam terutama soal kondisi konflik yang mendera negara-negara teluk di kawasan Timur Tengah.

“Di saat negara-negara teluk berkonflik, kita di Indoenesia harus memberi contoh, bahkan harus siap memediasi,” tandas Kang Said.

Lebih Lanjut, Sekjen HA Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Indonesia sangat siap untuk menjadi juru damai dan mediator konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran ini.

“Kita sangat siap untuk menjadi juru damai konflik negara-negara teluk yang sangat meresahkan itu. Kedua negara baik Iran mapun Arab Saudi adalah representasi negara Islam. Jadi sebagai sesama muslim kita siap membantu mengatasi konflik,” ujar Kang Helmy.

Selain KH Said Aqil Siroj dan H Helmy Faishal Zaini, hadir juga Bendum PBNU, Bina Suhendra, Wasekjen PBNU H Imam Pituduh, dan H Ishfah Abidal Aziz.

Sementara dari pihak PDIP rombongan terdiri dari Sekjen Hasto Kristiyanto, Wasekjen Ahmad Basarah serta beberapa pengurus harian lainnya. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 September 2011

Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Warga NU Kampung Semeru Distrik Iwaka, Papua, mengadakan halal bihalal dan pembukaan rutinan istighosah. Acara yang dimulai setelah Maghrib diikuti oleh jamaah putra dan putri.

"Kita ini terlalu ngoyo bekerja secara fisik, tetapi kurang diimbangi secara spiritual," kata Ketua Takmir Mushala Ikhlasul Amal, H Asyari.

Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh

Sementara Wakil Ketua PCNU Mimika Sugiarso menyebut perlunya saling bermaafan meskipun mereka belum berjumpa sebelumnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Walaupun kita belum bertemu bisa jadi kita punya dosa. Misalnya teman kita menggunjing temannya, lalu kita ikut nimbrung, itu kita ikut kena dosa. Makanya kepada siapapun kita harus minta maaf," kata Sugiarso.

Ia mengajak para jamaah untuk istiqamah mengikuti upacara istighosah. “Insya Allah doa kita mustajab. Istiqamah lebih baik dari karamah. Doa kiai NU dalam Resolusi Jihad dan Perang 10 November manjur berkat keistiqamahan ibadah mereka," terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ustadz Hasyim Asyari mengajak jamaah untuk bersatu. "Mari kita kuatkan persatuan dengan silaturahim dan saling memberi dan meminta maaf. Bahkan kita sambung dengan silatur ruh agar bisa sambung dengan para Walisongo dan orang saleh. Caranya kita kirim Al-Fatihah. Istighotsah sarana untuk berkomunikasi dengan ruh mereka dan dengan Allah agar sinyal kita kuat. Istighotsah ibarat mengisi pulsa. Jika tidak punya pulsa, kita tidak bisa menelpon Allah."

Acara dilanjutkan dengan sholat Isya dan ramah tamah. Selanjutnya rutinan Istigosah akan diadakan malam Ahad Wage ba‘da Magrib.

PCNU Mimika juga membagikan stiker "Aku Bangga Jadi NU" dan "Alhamdulillah kami sekeluarga  NU." Jamaah mengisi lembar data untuk tanda terima stiker ini.

Diharapkan stiker bisa ditempel di motor, pintu, dan tempat lain sebagai Ke-NUan dan sebagai tanda keanggotaan jamaah istighotsah. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 29 Agustus 2011

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Para alumni Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya memperingati haul ke-27 pendiri pesantren tersebut, KH Mukhtar Syafa’at bin Abdul Ghafur.

Acara ini digelar di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (1/4). Acara yang rutin digelar tiap tahun ini tak hanya dihadiri alumni dan simpatisan, namun juga 30 keluarga Kiai Syafa’at dari Banyuwangi.

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Peringatan haul itu diawali dengan bakti sosial berupa pemberian santunan kepada 1000 anak yatim yang didatangkan dari berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya. Acara santunan ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Yang didaulat sebagai penceramah pada acara ini adalah KH. Syarif Rahmat. Pada kesempatan ini, kiai yang selalu memakai blangkon ini mengatakan bahwa fungsi ulama adalah seperti gunung. “Gunung selalu membuat daerah sekitarya sejuk. Ulama pun demikian,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qurra’, Pondok Cabe ini juga mengingatkan pentingnya kita mencari berkah kepada petilasan para salafussalih, seperti kuburan, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya berharap, alumni Blokagung ini, meskipun telah memperingati haul kiainya, untuk menyempatkan ziarah ke makam Kiai Syafa’at di Banyuwangi sana,” tambahnya.

Kiai Syarif juga mengingatkan akan pentingnya regenerasi para ulama, karena jika ulama telah tiada, maka bumi akan menjadi “panas”.

Acara itu juga dihadiri pengasuh Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar. Kiai Nur Muhammad dipercaya untuk memimpin doa di akhir acara. (M. Nurul Huda/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 Agustus 2011

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Grup Qasidah “Band Kepret” dari Pesantren Al-Karimiyyah turut berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan Pembukaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecatamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, di gedung Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Huda, Ahad (10/3) kemarin.

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Salah satu keunikan dari Grup Qasidah yang digawangi oleh Nashori, Cecep, Ino, Epul, Wisnu, Gofur, Irfan, Radi, Yadi dan Sopyan tersebut ketika tampil di hadapan sedikitnya 78 orang peserta dan 30 orang panitia adalah berhasil membawakan beberapa lagu shalawat dengan beberapa arransemen dan para penabuh yang mengiringinya pun dapat menyesuaikan dengan arransemen yang dibawakan oleh Nashori, sang vokalis.

Selain itu, keunikan lainnya adalah dalam Grup Qasidah ini pun terdapat beberapa alat musik yang tidak biasanya hadir dalam Grup Qasidah “Band Kepret”, karena selain alat musik konvensional dari “band kepret”, juga dilengkapi dengan tam-tam, kotek, symbal dan drum tenor.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Nashori, kolaborasi alat musik tersebut merupakan hasil karyanya sendiri, naluri dan imajinasi musiknya berhasil membuat inovasi suara dalam “band kepret” apalagi kemampuan musiknya selalu dilatih dalam seminggu paling tidak 2 kali.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadwal latihan kita seminggu dua kali, hari jum`at sore dan minggu sore,” ujarnya

Menurut mahasiswa STAI Riyadlul Jannah ini, dibandingkan dengan marawis dan hadroh, qasidah dihitung lebih mudah dalam melakukan inovasi.

“Menurut saya, untuk membuat kreasi dan inovasi musik lebih gampang qasidah daripada marawis dan hadrah,” ungkapnya

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Pengurus MWCNU Patokbeusi, PC IPNU Subang, Sekretaris Kecamatan dan beberapa tokoh masyarakat tersebut grup qasidah Al-karimiyyah cukup menghibur hadirin dan hadirin pun terlihat khusu dalam mendengarkan beberapa lantunan shalawat yang dibawakan oleh mereka.

Redaktur? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 Juli 2011

Santri Digoda Setan Kelas Santri

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH. Henry Sutopo mengatakan, Iblis mendapat kewenangan menggoda anak keturunan Adam. Ia menggoda manusia sesuai dengan kedudukan.

Santri Digoda Setan Kelas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Digoda Setan Kelas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Digoda Setan Kelas Santri

“Kalau santri, ya yang menggoda setannya kelas santri. Kalau kiai, yang menggoda setannya juga kelas kiai.” 

Ia menyampaikan hal itu pada pengajian menjelang buka bersama puasa arafah di masjid Yasayan Kodama (Korps Dakwah Mahasiwa) Yogyakarta, Senin (14/10).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di akhir pengajian, Henry Sutopo menegaskan bahwa semua manusia itu tidak ada yang selamat dari bujuk rayu iblis, kecuali Nabi Muhammad Saw.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tidak ada yang selamat dari bujuk rayu Iblis kecuali Nabi Muhammad Saw.” Pungkasnya, disambut suara adzan maghrib. 

Kegiatan tersebut, dihadiri oleh puluhan jamaah yang terdiri dari masyarakat di sekitar masjid Kodama Yogyakarta.  (Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah