Senin, 05 Maret 2012

Ribuan Massa Hadiri Puncak Acara

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puncak acara penyelenggaraan Global Peace Festival yang diselenggarakan di Gelora Bung Karno, Ahad (17/10)  dihadiri oleh ribuan massa yang terdiri dari para santri, pelajar dan mahasiswa.



Ribuan Massa Hadiri Puncak Acara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Massa Hadiri Puncak Acara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Massa Hadiri Puncak Acara

Secara bersama-sama mereka menyerukan tentang pentingnya perdamaian yang belakangan ini terus menghadapi tantangan.

Beberapa perguruan tinggi yang terlibat aktif dalam acara ini diantaranya adalah Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Guna Darma, UIN Jakarta, Universitas Kristen Indonesia, Presiden University, London School, Budi Luhur dan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seluruh badan otonom juga mengerahkan anggotanya untuk memeriahkan acara ini seperti IPNU, IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU, Pagar Nusa, Ansor NU dan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara ini dimeriahkan dengan sejumlah pentas seni yang mewakili tradisi di Indonesia, seperti tari saman, barongsai, Soreang yang merupakan tradisi masyarakat lereng Merbabu, lagu-lagu daerah dan lainnya. Turut pula ditampilkan hadrah yang sudah akrab bagi warga NU. Marching band siswa Maarif NU Blitar yang telah menjadi juara tingkat internasional juga unjuk kebolehan.

Audiens juga dihibur dengan pentas seni dari para artis terkenal seperti Harvey Malaiholo, Mike Mohede serta Maudi Wilhemina. Para penonton yang sebagian besar masih berusia muda menantikan aksi dari penyanyi Rossa, Evelyn Young, Sarwana serta Slank menutup acara. Tak ketinggalan Slanker dengan setia mengikuti kemana pujaan mereka beraksi.

Pada kesempatan tersebut program power of rupiah yang merupakan upaya mengumpulkan dana melalui koin-koin untuk membantu kelompok tidak mampu, yang telah berjalan sekitar sebulan ini diserahkan kepada panitia yang selanjutnya akan dikelola oleh PBNU untuk kelompok masyarakat miskin dan anak tak mampu sekolah.

Program ini bertemakan aksi kecil harapan besar, tidak bermaksud untuk mengumpulkan milyaran rupiah, tetapi lebih pada upaya memberdayakan masyarakat untuk membantu orang lain.

Hadir pada acara tersebut KH Said Aqil Siradj, pendiri Global Peace Foundation Hung Jim Moon, Ketua MK Mahfud MD, Menakertrans Muhaimin Iskandar, sekitar seratus peserta Global Peace Leadership Conference dari 17 negara serta para tokoh lintas agama. (mkf) Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Hadits, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 02 Maret 2012

Sejak Kapan Tradisi Bedug Diganti Lonceng

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Sekjen PBNU) A Helmy Faishal Zaini berhasil meluncurkan buku terbarunya, “Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan” di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (9/6).

Peluncuran tersebut menghadirkan narasumber Pendeta Andreas Yawangoe (PGI), Romo Agus Uluhayana (KWI), dan Biksu Dutavira Mahasthravira.

Sejak Kapan Tradisi Bedug Diganti Lonceng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak Kapan Tradisi Bedug Diganti Lonceng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejak Kapan Tradisi Bedug Diganti Lonceng

Di sela-sela sambutannya, Helmy mengungkapkan alasannya mengapa menggunakan kata peluncuran bukan kata ‘launching.’?

Menurut dia, pada acara Pra-Muktamar NU Makasaar, ia pernah dikritik oleh Wakil Rais ‘Aam karena menggunakan istilah ‘launching’ dalam menyelenggarakan suatu acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sengaja kami menggunakan peluncuran Pak, tidak launching karena pernah dikritik oleh Wakil Rais ‘Aam,” ungkapnya. “Sejak kapan tradisi bedug diganti lonceng?” ucapnya menirukan ucapan Wakil Rais ‘Aam saat itu yang mungkin salah dengar. Sontak hadirin tertawa berderai.

Maka dari itu, imbuh Helmy, sejak itu NU tidak pernah menggunakan istilah ‘launching’ lagi saat mengadakan sebuah acara yang bertemakan peluncuran.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Buku Miqat Kebinekaan itu mengangkat tiga tema besar, yaitu Pancasila, Islam, dan NU. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 07 Februari 2012

Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyebaran radikalisme agama semakin berkembang ke berbagai lapisan masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa. Kelompok garis keras sengaja merekrut anak muda yang cerdas, mempunyai emosionalnya tinggi, tetapi awam pengetahuan agamanya alias tidak berbasis pesantren.

Demikian muncul dalam seminar bertajuk “Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama” yang digelar Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Tarbiyyah dan Keguruan, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di aula fakultas setempat, Senin (28/3).

Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama

“Akibatnya mereka mudah dicuci otaknya. Termasuk juga para preman yang baru tobat kemudian diberi konsep-konsep jihad,” ujar Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Matan) Adjid Thohir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tedi Priatna menjamin mahasiswa Fakultas Tarbiyyah dan Keguruan tidak akan menjadi teroris, karena cara pendidikannya sudah benar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Makanya saya percaya betul, salah satu faktornya munculnya radikalisme adalah bagaimana cara membelajarkan dan mendidik mereka,” kata Tedi di hadapan ratusan aktivis mahasiswa dari kalangan NU, Muhammadiyah, Persis dan PUI.

Tedi mengingatkan kepada para mahasiswa bahwa adalah hal yang tidak masuk akal ketika agama yang mengajarkan kebahagiaan, kedamaian, tiba-tiba menjadi momok yang menyeramkan karena dianggap berpotensi menjadi menjadi jahat.

Untuk itu pihaknya mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi dalam mengajarkan pendidikan toleransi antarumat beragama. Sebab munculnya pemahaman radikal dan tindakan ekstrem lantaran terdapat kesalahan dalam mendidik umat beragama.

“Mudah-mudahan ini menjadi wawasan bagi mahasiswa untuk mengetahui untuk kemajuan dan syiar Islam untuk tetap menjadi Islam rahmatan lil alamin,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 14 Januari 2012

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Katib Syuriyah PBNU KH Lukman Harits Dimyati menyampaikan, santri-santri NU selain menguasai kitab kuning dan hidup bermasyarakat harus memahami pilar-pilar negara. Salah satunya adalah mamahami Pancasila. Bagi NU, Pancasila sudah final dan sudah sesuai dengan syariat Islam.

Demikian disampaikan Kiai Harits di hadapan seribu warga dalam rangka khataman kitab Al-‘Imrithi Haflah Akhirussanah di halaman kompleks Pesantren Baitul Mustaqim Sidomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah asuhan Ketua Idaroh Syu’biyyah Jatman Lampung Tengah KH Muhtar Ghozali, Ahad (14/5).

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Lukman Harits Imbau Warga dan Santri di Lampung Bela Prinsip Negara

“Warga Nahdlatul Ulama di Provinsi Lampung umumnya dan khususnya di Kabupaten Lampung Tengah harus hati-hati dengan adanya upaya gerakan-gerakan, kelompok Islam radikal yang merongrong Pancasila. Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 adalah harga mati. Yang Tidak sepaham dengan Pancasila. Silakan pergi dari Indonesia,” kata Kiai Harits yang juga Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok Pesantrenku Keren ini.

“Gerakan merongrong Pancasila jangan-jangan juga menjalar ke para pegawai negeri sipil di Lampung Tengah. Pak Wakil Bupati Lampung Tengah mohon disisir para ASN (aparatur sipil negara) di kabupaten ini. Mereka anti-Pancasila, pemerintah adalah thoghut tapi setiap bulan menerima gaji negara. Pemkab Lampung Tengah harus tanggap dengan kondisi ini,” tegas Katib Suriyah PBNU ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tampak hadir pada haflah ini Rais Syuriyah PCNU Lampung Tengah KH Nur Daim, Sekretaris Jatman Lampung Tengah KH Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lampung Tengah KH Slamet Anwar, Sekretaris Fatayat NU Lampung Nurhayati, Wakil Bupati Lampung Tengah H Lukman Djoyosumarto, Dosen IAIM NU Kota Metro Lampung Aminan, Kabag Perekonomian Lampung Tengah Ahmad Jailani, Kadis Kominfo Lampung Tengah H Sarjito, anggota DPRD Lampung H Midi Iswanto, Camat Punggur, para kepala kampung, anggota TNI dan Polri, dan puluhan generasi muda NU lainnya. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Kyai, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Desember 2011

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan paham gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).?

"Saya berharap agar masyarakat tidak terpengaruh dengan gerakan dan ideologi yang aneh-aneh, organisasi yang aneh-aneh. Jaga kebersamaan dan keutuhan NKRI," kata Ida di Jakarta, Selasa.?

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Ia juga meminta kepada pemerintah untuk memberikan penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Melakukan dialog sekaligus penggalangan kerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat untuk mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat," sebut politisi PKB itu.?

Ida juga berharap agar lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Langkah-langkah tersebut tentu saja jangan sampai menimbulkan suasana yang mencekam dan justru menjadi alat untuk menakuti-nakuti masyarakat," kata Ida. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 November 2011

Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan

Oleh Hilful Fudhul





Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan

Bagi sebagian orang adanya hari santri dinggap mengarah kepada kelompok masyarakat tertentu. Jika melihat latar belakang sejarah lahirnya hari santri, ialah bagian dari sejarah bangsa saat kembali terjadi pengalihan kekuasaan atas bangsa Indonesia oleh para penjajah. Tepat pada tanggal 22 Oktober 1945, para ulama dan santri berkumpul untuk membahas cara mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Maka muncullah fatwa yang disebut Resolusi Jihad yang pada akhirnya mampu menggerakkan rakyat untuk ikut berjuangan melawan penjajah.



Fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari itu mendapatkan respons dan sekaligus sebagai sebuah semangat yang mampu memberi kekuatan bagi pejuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Kewajiban melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan adalah seruan dari fatwa penting Mbah Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak sia-sia, perlawanan rakyat atas penjajah pasca resolusi jihad disampaikan kepada rakyat. Perlawanan itu pun diluar dari prediksi penjajah, sebab terus dilakukan oleh rakyat saat itu sehingga dalam kurun waktu yang relative singkat dapat menguasai wilayah Surabaya.

Peristiwa dikeluarkannya Resolusi Jihad adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat dihapuskan begitu saja, mengingat kontribusi santri dalam mepertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini menepis anggapan bahwa santri dan ulama tidak berjiwa nasionalis. Resolusi Jihad adalah bukti kecintaan santri pada bangsanya. 

Pada peristiwa ini pula terbukti bahwa santri sebagai kaum agamawan sekaligus berjiwa nasionalis. Bangsa Indonesia perlu bersyukur atas kehadiran santri dan ulama yang begitu cinta atas negerinya. Ini pula yang tidak dimiliki oleh bangsa lain yang miliki ulama seperti di beberapa negara di Timur Tengah. Tidak hadirnya ulama dan santri yang berjiwa nasionalis adalah masalah yang kian penting di negara-negara di Timur Tengah yang dapat memicu konflik disebabkan oleh ulama yang tidak memiliki rasa nasionalisme.

Keadaan di Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara di Timur tengah, Indonesia memiliki ulama dan santri yang begitu cinta akan bangsanya, bahkan siap mengorbankan jiwa dan raganya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang sering disampaikan oleh Gus Yaqut sebagai pimpinan GP-Ansor Pusat dan juga KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU. Hal itu bukanlah hal yang baru lagi sebab kecintaan terhadap bangsa itu telah ditunjukan oleh salah satu tokoh nasional seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah sehingga antara Negara dan agama dalam prinsip tertentu merupakan satu kesatuan.

Santri, Pembangunan dan Hilangnya Moralitas

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kini perjuangan dalam jihad kebangsaan yaitu melawan penjajahan telah usai. Tapi apakah santri juga harus berhenti berjihad atas bangsanya? Tentu saja tidak. Sebagai bangsa yang memiliki cita-cita dan capaian masa depan sangat banyak persoalan yang kini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia seperti menguatnya paham keagamaan yang meniadakan prinsip-prinsip toleransi serta kemanusiaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh paham Wahabi ini juga turut menyerang bangsa Indonesia. Perlu sebuah simpul kebangsaan yang dibalut oleh pemahaman Islam yang rahmatan lill’alamin yaitu agama sebagai sebuah seruan persatuan dan persaudaraan agar menjadi rahmat bagi alam semesta.

Masalah lain yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah penuntasan kemiskinan yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain masih sedikitnya peluang lapangan pekerjaan. Maka persoalan bangsa hari ini merupakan bagian dari persoalan ulama dan santri. Jika dahulu santri berjihad melawan penjajahan sebagai representasi penderitaan rakyat, hari ini jihad kebangsaan ialah ikut serta dalam pembangunan nasional seperti ikut serta membuka lapangan pekerjaan sebagai salah satu cara mengentaskan kemiskinan. 

Begitu pula dengan zaman yang kian modern ditandai dengan hadirnya teknologi canggih dalam mempermudah urusan umat manusia seperti alat komunikasi dan teknologi lainnya. Tuntutan agar masyarakat mampu mengikuti arus gerak zaman, diperlukan penguatan skill bagi masyarakat melalui instansi pendidikan dan pelatihan. Pelatihan skill perlu diajarkan juga di pondok pesantren dan struktur yang ada di beberapa ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Keikutsertaan santri dalam membangun bangsa melalui bidang ekonomi, politik, pendidikan dan kesehatan tanpa meninggalkan moral sebagai basis atau modal pembangunan nasional yang berkemajuan serta berperadaban tinggi.

Moral menjadi penting mengiringi pembangunan nasional saat ini, mengingat banyaknya persoalan bangsa yang tidak diiringi dengan moralitas sumber daya manusia. Maka muncul persoalan seperti pornografi, korupsi, narkoba, miras yang disebabkan oleh merosotnya moralitas manusia dan juga menyumbang merosotnya moralitas bangsa. Ini juga yang menyebabkan penggunaan media sosial atau teknologi yang tidak disertai dengan penanaman moral terhadap masyarakat. 

Muncul kemudian persoalan hoaks yang beberapa bulan terakhir menyulut konflik yang tidak saja terjadi di dunia maya, akan tetapi juga menyebabkan konflik di dunia nyata. Sudah saatnya santri hari ini berjihad kebangsaan dengan ikut membangun Indonesia di berbagai bidang yang diiringi dengan moralitas yang tinggi agar Indonesia menjadi bangsa yang maju. 

Jelas rasanya bahwa antisipasi atas persoalan bangsa hari ini ialah pembangunan nasional yang tidak diirngi dengan penguatan moralitas. Penting kiranya pemerintah membahas persoalan moralitas yang kian merosot. Di era kepemimpinan Jokowi-Kalla hari ini yang terus membangun infrastruktur serta percepatan pembangunan ekonomi sudah dibuktikan dengan hadirnya berbagai infrastruktur seperti pembangunan tol sampai kereta cepat sebagai upaya dalam memajukan bangsa. Selain itu, pemerintah mendorong berbagai cara untuk mempermudah investasi untuk membangun negeri, ini juga akan dapat mendorong pembangunan infrastruktur lainya.

Akan tetapi, muncul persoalan seperti korupsi yang merugikan keuangan negara yang kian hari meningkat yang menjerat tokoh nasional sampai daerah yang tersandung kasus korupsi dengan bentuk yang beragam dari suap menyuap sampai jual-beli jabatan. Tentu persoalan ini dapat merugikan keuangan negara. 

Maka pemerintah harus menunjukkan komitmennya dalam memberantas korupsi. Selain menghadirkan hukum positif yang dapat memberikan efek jera terhadap pelaku korupsi, perlu pula mendorong paham keagamaan yang kuat agar setiap orang tidak saja menghadirkan wajah agama hanya di mimbar-mimbar masjid sampai gereja, akan tetapi juga menghadirkan agama di instansi seperti kantor pemerintah. Moral yang kuat ini akan menjadi rem bagi seseorang dalam melaksanakan tugas kenegaraan maupun di setiap pekerjaannya.

Ajaran Islam sendiri, sebagaimana kita ketahui bahwa narkoba, korupsi, maupun hoaks sangatlah dilarang. Islam tidak membenarkan perbuatan mengambil harta yang bukan menjadi miliknya. Islam melarang memfitnah antara satu dengan yang lainnya karena dapat menyulut permusuhan. Begitu juga dengan narkoba; anjuran untuk tidak merugikan diri dengan menggunakan narkoba yang dapat merusak kesehatan juga dilarang dalam Islam. 

Artinya persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa hari ini, juga merupakan persoalan umat Islam secara keseluruhan. Maka jihad dalam melawan persoalan bangsa serta turut pula membangun bangsa yang lebih makmur merupakan tugas mulia yang dapat pula dilakukan oleh ulama dan santri hari ini. 

Penulis adalah Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Kota Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Persoalan yang sering ditanyakan terkait dengan pemilihan tidak langsung atau ahlul halli wal aqdi adalah apakah pemilihan ini menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan kedaulatan pengurus cabang dan wilayah NU?

Wakil sekjen PBNU Masduki Baidlawi menjelaskan, rais aam syuriyah merupakan “wilayah khusus” dimana warga atau pengurus tanfidziyah sudah samikna waathona (mendengar dan mematuhi), bukan lagi persoalan cabang terlibat atau tidak, karena syuriyah punya legitimasi kuat dalam syariah Islam.

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Pola pemilihan ahlul halli ini dicontohkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab. Sebelum meninggal, ia menunjuk beberapa orang untuk memilih penggantinya. Cerita ini kemudian dikodifikasi oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Al Ahkamus Sulthoniyah yang kemudian dijadikan landasan oleh para ulama NU terkait kebijakan pemerintahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faktor kedua, kata Masduki, ketika supremasi ulama tergerogoti, maka persoalan kewenangan cabang dan wilayah dalam memilih dipinggirkan dulu. Ketika tantangan politik eksternal begitu kuat, ada alasan dilakukan melalui ahlul hallli wal aqdi.

“Demokrasi itu alat untuk mencapai tujuan. Bisa saja dalam situasi tertentu dilakukan asal secara ideologis tidak terganggu, tetapi ketika ruh dan jantung organisasi terganggu, yang akhirnya jantung organisasi dirampas orang. Ya ngak bisa begitu,” tegasnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Belajar dari Syarekat Islam

Ia menyatakan, organissi NU tidak bisa dibiarkan terlalu terbuka sehingga sembarang orang bisa menjadi pengurus tanpa pernah terlibat dalam proses didalamnya, sementara tantangan di luar semakin keras.?

Kelompok Islam transnasional merupakan tantangan baru yagn harus diwaspadai infiltrasinya dalam lingkungan NU. Di beberapa daerah, sudah terindikasi penyusupan tersebut dan akhirnya bisa dikeluarkan. Orang makin kabur antara NU dan Islam transnasional. Ada yang sudah permisif ‘ngak papa yang penting sama-sama Islamnya’ padahal orientasi politiknya berbeda.?

Ia menyatakan, NU harus belajar dari keruntuhan Syarekat Islam (SI) yang pada zaman kolonial, merupakan organisasi Islam paling besar dan berjaya. Tapi puluhan tahun kemudian habis karena terlalu terbuka, akhirnya ada kelompok SI hijau dan SI merah yang dimasuki anasir-anasir komunis.

“Ini tidak ada urusan demokratis dan tidak demokratis, ini urusannya eksistensi NU untuk masa depannya seperti apa, yang 12-13 tahun lagi sudah 100 tahun. Kalau dibiarkan, NU bisa seperti SI. Jadi orang yang mengurus NU merupakan orang yang betul-betul secara ideologi adalah orang NU, jelas, aswajanya seperti apa, pengkaderannya seperti apa,” tandasnya.

Muktamar Situbondo

Ia mencontohkan pola ahlul halli sudah pernah digunakan dalam muktamar ke-27 NU yang berlangsung di Sitobondo yang akhirnya memilih Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Masa itu ditandai dengan munculnya kader-kader muda NU yang cemerlang seperti Fahmi Syaifuddin, Gus Dur, Masdar F Mas’udi, Slamet Effendy Yusuf, Ichwan Syam dan lainnya. Dikalangan para ulama, juga ada pikiran baru yang reformis seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ahmad Siddiq dan lainnya.?

Kelompok tersebut sangat resah dan gundah dengan kondisi NU yang terlalu terbawa ke politik praktis. Lalu dicarilah cara bagaimana yang memimpin NU memiliki visi yang sama dan sejalan dengan ulama.?

“Kalau dilakukan pemilihan one man one vote, yang akan terpilih lagi Kiai Idham Chalid. Maka dicarilah model pemilihan agar Gus Dur terpilih ketua umum PBNU. Jadi konteksnya begitu. Untuk konteks sekarang, ya alasannya seperti yang saya sebutkan di atas.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah