Selasa, 02 Desember 2014

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf

Batam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Mualaf 2016, untuk mengasah pengetahuan muallaf terkait ajaran Islam.

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf

"Saya menyambut baik kegiatan ini karena merupakan wujud visi dan misi Kementerian Agama dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama," kata Kepala Kanwil Kemenag Kepri Marwin Jamal dalam siaran pers di Batam, Selasa.

Terdapat lima cabang lomba yang digelar dalam MTQ Mualaf, yaitu shalat, pidato, cerdas cermat, adzan dan iqomah.

Ia berharap MTQ Mualaf dapat dilakukan berkelanjutan agar manfaat yang dirasakan juga tidak terputus. Kemenag juga akan mendorong agar MTQ Mualaf bisa menjadi cabang dalam MTQ Nasional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemenag ingin pembinaan mualaf terus dilakukan, satu di antaranya menggunakan dana zakat, karena mualaf berhak menerima zakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Ali Hasan Hasibuan mengatakan peserta MTQ Mualaf berasal dari enam kabupaten/kota, di Kepri, yaitu Tanjungpinang, Batam, Bintan, Lingga, Natuna dan Karimun. Hanya Kabupaten Kepulauan Anambas yang belum hadir dalam MTQ Mualaf.

MTQ Mualaf, kata dia, merupakan bentuk pembinaan bagi saudara baru untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam.?

Ketua Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI) Kepulauan Riau yang juga Kepala Bidang Bimas Islam Kanwil Kemenag Kepri Erman Zaruddin mengatakan penyelenggaraan MTQ Mualaf itu sudah dilaksanakan tiga kali, dan sempat terhenti selama lima tahun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Biasanya semua mualaf dapat mengikuti kegiatan ini, namun kali ini sengaja dibatasi bagi mualaf yang baru lima tahun menjadi pemeluk agama Islam. Tujuannya supaya kita mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pembinaan yang dilakukan di kabupaten/kota," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Daerah, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 15 November 2014

Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya

Banyuwangi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Tindak kekerasan yang dilakukan militer Myanmar terhadap etnis muslim Rohingya mendapat kecaman dari berbagai pihak. Di antaranya Pengurus Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Banyuwangi. Banom NU tersebut juga melakukan doa bersama di gedung PCNU banyuwangi, Selasa (22/11) untuk kedamaian Rohingya.?

Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Pelajar NU Banyuwangi untuk Rohingya

"Acara ini sebagai wujud keprihatinan dan solidaritas kita kepada saudara-saudara kita di Rohingya yang mengalami penindasan," ungkap Ketua IPNU Banyuwangi, Yahya Muzakki yang menjadi penggerak kegiatan tersebut.

Selain doa bersama, ada tiga hal yang menjadi pernyataan sikap dari mereka terkait kasus Rohingya. "Pertama, kami mengutuk setiap tindak kekerasan yang menciderai rasa kemanusiaan atas nama apa pun. Terlebih yang melegitimasinya dengan ajaran keagamaan," tegas Yahya.

Mereka juga mendesak kepada Pemerintah Indonesia untuk terlibat penuh dalam upaya-upaya diplomatik mewujudkan kedamaian bagi etnis Rohingya.?

"Kami mengapresiasi respon cepat Pemerintah Indonesia melalui Menlu (Menteri Luar Negeri) untuk melakukan klarifikasi dan langkah-langkah diplomatik lainnya. Namun, kami mendesak Presiden Jokowi untuk lebih intens lagi dalam melakukan penekanan pada Myanmar. Indonesia sebagai salah satu negara besar di Asean harus menunjukkan kekuatan diplomatiknya pada negara lain sekawasannya," harap Yahya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Yahya juga mengimbau kepada segenap masyarakat untuk tidak gegabah dalam melihat kasus Rohingya. Konflik Rohingya ini, menurutnya, merupakan konflik sosial yang merambat ke isu keagamaan.?

"Oleh karena itu, kami berharap masyarakat Indonesia tidak mudah terprovokasi dengan ajakan-ajakan jihad yang justru akan semakin memperunyam keadaan. Apalagi sampai muncul di kalangan umat muslim Indonesia budhaphobia karena yang melakukan kekerasan kebetulan beragama Budha," imbau Yahya.

Sebenarnya, sebagai bentuk solidaritas IPNU IPPNU Banyuwangi akan melakukan penggalangan dana, namun berdasarkan informasi yang mereka dapat, sulit untuk menemukan lembaga donor yang akan menyalurkannya," katanya, banyak bantuan yang ditujukan kepada mereka (Rohingya) yang tidak sampai. Bantuan itu ngendon di lembaga-lembaga melakukan penggalangan dana. Kami takut tidak amanah," papar pria berkacamata tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai penggantinya, mereka melakukan kampanye #SAVEROHINGYA di media sosial untuk mengundang solidaritas yang lebih luas. "Fungsi media sosial yang saat ini begitu luar biasa dalam memberikan daya tekan, kami harapkan bisa gerakan #SAVEROHINGYA ini bisa terekskalasi secara luas dan menarik perhatian internasional untuk ikut terlibat dalam penyelesaiannya," tutup Yahya. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)





Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 Oktober 2014

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tiris Barat (Tiba), Selasa (8/12) memberikan sosialisasikan program Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Tiba ke Ranting NU Pesawahan dan Ranugedang Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo.

Sosialisasi program kerja LKNU MWCNU Tiba ini dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah MWCNU Tiba Imron Hamzah, Ketua LKNU MWCNU Tiba H Sutisro, Kepala Puskesmas Ranugedang Mujoko dan sejumlah pengurus MWCNU Tiba.

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Tiba Sosialisasikan Program LKNU

Ketua Tanfidziyah MWCNU Tiba Imron Hamzah mengungkapkan sosialisasi ini bertujuan supaya Nahdliyin mengetahui beberarapa program kerja yang akan dilaksanakan oleh LKNU MWCNU Tiba pada tahun 2016 mendatang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Semua program ini dibuat supaya NU tidak hanya dikesankan berdakwah hanya dibidang agama saja. Setidaknya warga NU merasa diurusi oleh NU dibidang kesehatan sehingga memiliki kesehatan yang berkah,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Ketua LKNU MWCNU Tiba H Sutisro menyampaikan beberapa program kerja yang akan dilakukan pada tahun 2016 mendatang. Salah satunya adalah memperkuat pelayanan kesehatan terhadap warga NU dan mengadakan kerja sama lebih dalam dengan Puskesmas Ranugedang.

“Selain itu juga akan dilakukan sosialisasi antisipasi penyakit HIV/AIDS dan mengadakan kajian kesehatan 1 bulan 1 kali dalam 1 bulan bagi pengurus LKNU MWCNU dan Ranting NU,” katanya.

Program lain yang akan dilakukan diantaranya adalah turun ke bawah (turba) kesehatan tim LKNU beserta tim Puskesmas Ranugedang. Serta mengupayakan pemberdayaan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) agar mendapatkan keringanan pembiayaan bagi pemilik Kartanu ketika berobat ke Puskesmas Ranugedang.

“Kami juga akan mengadakan pengobatan massal dan operasi bibir sumbing bekerja sama dengan Puskesmas Ranugedang. Kegiatan ini akan diberikan kepada masyarakat yang ada di wilayah kerja MWCNU Tiba,” pungkasnya.

Sedangkan Kepala Puskesmas Ranugedang Mujoko menyambut baik yang dilakukan oleh LKNU MWCNU Tiba ini. Pihaknya akan selalu memfasilitasi sepanjang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 25 Oktober 2014

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj siang ini, Senin (7/4) mengajak para pimpinan partai politik peserta Pemilu 2014 melaksanakan Istighotsah. Acara yang digelar di pesantren Luhur Al-Tsaqafah jalan M Kahfi I nomor 22 Cipedak-Ciganjur kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini akan dihadiri semua ketum parpol.

Ketika dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah via telepon, staf Ketua Umum PBNU Muhammad Nabil Harun mengatakan, para pimpinan parpol menyatakan siap datang memenuhi undangan. Yang sudah konfirmasi antara lain Ketua Umum Gerindra Suhardi, Ketua Umum PAN M Hatta Radjasa.

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah (Sumber Gambar : Nu Online)
H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah (Sumber Gambar : Nu Online)

H-2 Pemilu, Kang Said Ajak Pemimpin Parpol Istighatsah

“Pak Jokowi juga dijadwalkan memberi sambutan selaku Gubernur DKI Jakarta. Yang membuka acara tentu Kang Said,” ujar Nabil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hingga berita ini ditulis, suasana di sepanjang jalan raya M Kahfi I hingga menuju pesantren Luhur Al-Tsaqafah asuhan KH Said Aqil Siroj terpantau ramai lancar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beberapa pengguna jalan baik yang berkendaraan roda empat maupun roda dua tampak sesekali melirik spanduk bergambar Kang Said bersama para pemimpin parpol. Bahkan ada juga yang berhenti sembari membaca informasi Istighotsah yang sebentar lagi digelar. (Ali Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Anti Hoax, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 Oktober 2014

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tiap hari Jum’at malam rutin menggelar kegiatan istighotsah. 

Kegiatan yang sudah berlangsung secara istiqomah selama 10 tahun ini diikuti oleh seluruh pengurus ranting NU, lembaga, lajnah dan badan otonom.

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kraksaan Moch. Siddiq Hasan kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (10/2) mengatakan selain merupakan instruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), istighotsah ini juga bertujuan untuk mengamalkan ajaran tradisi NU Ahlussunnah wal Jamaah dan mendoakan masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam istighotsah ini kami berdoa bersama-sama dan memohon kepada Allah agar Kabupaten Probolinggo, khususnya Kraksaan menjadi daerah yang aman dan kondusif baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Selain itu diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik kepada ranting dalam melaksanakan program kerja,” ungkapnya.

Menurut Hasan, biasanya setelah istighotsah dilanjutkan dengan diskusi dengan seluruh pengurus ranting untuk membahas program kerja yang akan dijalankan baik di MWC maupun ranting NU. Usulan-usulan tersebut kemudian ditampung untuk diambil sebuah keputusan membuat usulan prioritas yang selanjutnya akan dijadikan sebagai program kerja.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam kesempatan tersebut kami juga menyerap aspirasi warga nahdliyin dari masing-masing ranting. Kesulitan-kesulitan yang disampaikan warga nahdliyin selanjutnya kami bicarakan bersama untuk dicarikan solusi dan jalan keluarnya. Seperti pada saat adanya aliran sehat yang sangat meresahkan warga Nahdliyin karena ajaran yang disampaikan menyimpang dari akidah ahlussunnah wal jamaah,” jelasnya.

Dikatakan Hasan, melalui kegiatan istighotsah tersebut akhirnya tercipta sebuah ikatan silaturahim yang sangat kuat diantara sesama pengurus NU. Apalagi istighotsah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan.

“Istighosah ini merupakan salah satu tradisi NU. Oleh karena itu saya berpesan kepada segenap masyarakat agar tidak meninggalkan tradisi-tradisi yang ada serta tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh para ulama-ulama NU,” pintanya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pendidikan, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 02 Oktober 2014

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB

Lombok Tengah,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menghadiri Sarasehan Alim Ulama se-Nusa Tenggara Barat di Pondok Pesantren NU Al-Mansuriyah Ta’limushibyan Bonder, Lombok Tengah, pada Jumat sore (24/2).

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU Dengar Suara Alim Ulama NTB

Ia hadir bersama Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi dan Katib Syuriyah PBNU KH Mujib Qulyubi. Pada kesempatan tersebut, setelah berceramah tentang tugas-tugas dan peran ulama, Rais ‘Aam mendengarkan pendapat dan pertanyaan dari para ulama.

Di antara pertanyaan yang diajukan para ulama tersebut adalah bagaimana menghadapi orang menistakan Al-Qur’an, agama, dan ulama; bagaimana menyelesaikan masalah ekonomi umat; pedoman berorganisasi, toleransi mayoritas dan minoritas, kekhasan NU, dan Islam Nusantara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bagaimana menghadapi penistaan, saya kira, kita sudah jelas. Kebetulan saya sebagai Ketua Majelis Ulama, misalnya kasus Ahok, sudah jelas ia menghina ulama. Kalau di dalam masalah unjuk rasa, NU memang tidak menyuruh, tidak melarang, tidak boleh menggunakan atribut NU. Alasannya apa? Pemerintah saja tidak melarang, masa kita melarang. Urusannya bukan agama, tapi konstitusi, moderat saja,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Soal istinbatul ahkam masail jadidah atau keputusan hukum masalah-masalah yang baru, menurut dia, kalau sudah diputuskan di muktamar atau munas, warga NU harus mengikutinya. Kalau belum diputuskan, boleh berbeda. ?

Ia juga menjawab tentang pertanyaan kenapa muncul istilah Islam Nusantara dari rahim Nahdlatul Ulama. “Sepakat tidak sepakat itu sudah menjadi keputusan muktamar. Islam Nusantara itu ya Ahlussunah wal-Jamaah itu. Huwa, huwa, Islam Nusantara itu kemasan saja. Isinya ya Ahlussunah wal-Jamaah. Tidak ada Islam yang lain. Ini bukan konsumsi umat kita, tapi global, dunia, dari gambar NU itu,” terangnya.

Terkait mendengar pendapat para alim ulama di daerah tersebut, menurut Rais ‘Aam, PBNU selepas Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur pada 2015, memprogramkan silaturahim dengan para Syuriyah NU dan kiai-kiai yang bukan pungurus.

“Sebab ada kesan kiai yang bukan pengurus itu tidak punya tanggung jawab kepada NU. Padahal pengurus itu hanya sopir, menjalankan, yang punya NU itu ulama. Oleh karena itu, para ulama punya tanggung jawab terhadap NU. Kalau pengurus terlalu kencang, diperingatkan. Kalau kendor, didorong.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Nusantara, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 September 2014

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gul-e-Khandana, 44, seorang guru sekolah di wilayah barat laut Pakistan, telah menjadi ikon pendidikan yang menentang Taliban berkuasa selama puncak pemberontakan di tahun 2007 hingga 2009.

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

Khandana, Ikon Pendidikan Putri Penentang Taliban

Hidup di lembah Swat, ia terus mengajar gadis-gadis lokal hingga peluncuran operasi militer yang memaksa penduduk setempat untuk mengevakuasi. Sebagai hasil dari operasi, yang berlangsung selama hampir dua bulan, tentara Pakistan mengusir militan keluar dari Swat dan orang-orang kembali ke rumah mereka. Setelah kembali ke rumah, dia tidak hanya menjalankan SD putri, tetapi juga mengawasi Organisasi Non-Pemerintah (NGO) yang bekerja untuk hak-hak perempuan miskin di daerah setempat, sebagaimana dilaporkan oleh al arabiya.

Selama periode kekerasan, Taliban menghancurkan lebih dari 400 sekolah di Lembah Swat, tanah air Malala Yousafzai, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian termuda. Sementara Malala telah memainkan peran besar dalam bekerja untuk pendidikan untuk anak perempuan di lembah Swat, sejarah juga harus ingat wanita seperti Khandana, yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi lembaga-lembaga pendidikan di wilayah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini adalah waktu yang sangat sulit dalam hidup kita," kata Khandana. Selalu ada ketakutan ledakan dan serangan bunuh diri, dengan hujan mortir turun dari lokasi yang tidak diketahui, dan jika anak-anak terluka, itu sulit untuk membawa mereka ke rumah sakit karena jalan diblokir, katanya. "Ketika Taliban melarang pendidikan untuk anak perempuan itu benar-benar mengejutkan bagi saya," kata Khandana. "Siapa yang pernah mencoba untuk menentang perintah mereka secara brutal dihukum. Mereka menentang pendidikan."

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini adalah periode yang mengerikan dan menyakitkan bagi wanita yang dibatasi. Dengan kehancuran sekolah-sekolah putri, mereka hampir kehilangan harapan mereka untuk mendapatkan pendidikan," kata Khandana.

"Bukan hanya para militan tetapi bahkan beberapa orang lokal juga tidak menunjukkan rasa hormat dan memberi label kita sebagai kafir," katanya.

"Di malam hari aku mendengar sebuah ledakan. Kemudian kami menemukan bahwa sekolah menengah seorang gadis di sekitarnya saya hancur," kata Khandana.

"Pagi hari saya pergi ke sekolah saya. Aku melihat puluhan militan, bersenjata dengan senapan Kalashnikov dan roket granat turun dari truk mereka. Mereka berbicara tentang membakar sekolah ... aku keluar dan menantang mereka bahwa tidak ada yang dapat membahayakan sekolah bahkan jika aku harus mengorbankan hidup saya untuk perlindungan."

"Aku berdebat dengan mereka selama berjam-jam dan akhirnya membuat mereka pergi. Tapi sebelum meninggalkan mereka memperingatkan bahwa mereka akan kembali dan tidak hanya akan menghancurkan sekolah tetapi juga akan menggorok leher saya. "

"Saya memiliki keyakinan bahwa setiap orang akan mati satu hari dan hanya Allah dapat mengambil kehidupan seseorang bukan manusia ... salah satu tidak boleh takut pada keyakinan ini," kata Khandana.

"Mereka membantai banyak orang. Jika kita mempelajari agama kita, tidak ada menyebutkan perintah membantai orang atau melancarkan terorisme," katanya. "Mereka benar-benar menyebarkan agenda mereka kekerasan dibungkus dalam sampul Syariah [hukum Islam]."

Pada awal tahun 2009, terjadi pertempuran sengit antara militan dan tentara Pakistan. Peluru menembus melalui tubuh warga sipil tak berdosa. Semua alat komunikasi diblokir. Militan mengambil alih desa Khandana, dan membawanya bersama dengan orang lain sebagai tahanan.

"Sebagai balas dendam atas apa yang telah saya lakukan pada mereka untuk menyelamatkan sekolah, mereka memerintahkan saya memasak makanan... mereka terlalu banyak dalam jumlah dan saya memasak kari dan membuat roti (roti tradisional) siang dan malam. Ini adalah saat paling kelam dalam hidupku. Tidak ada rasa hormat. Tidak ada kehormatan. Tidak ada harapan," kenangnya.

"Mereka adalah monster yang menganggap diri mereka sebagai raja dan bagi kita tidak ada pilihan lain selain mematuhi perintah mereka," katanya.

"Para militan duduk di luar rumah kita dan sibuk mempersiapkan diri untuk meluncurkan serangan terhadap tentara. Mereka terlalu banyak dan di mana-mana-rumah, ladang, kebun dan pegunungan," katanya.

"Ada ketakutan dan kepanikan di seluruh lembah seperti itu. Militan, dan bukan pemerintah Pakistan, yang memutuskan nasib masyarakat setempat," kata Khandana.

Segera pertempuran memasuki fase menentukan dan penduduk setempat diberitahu untuk mengosongkan rumah mereka. Alih-alih mengambil pakaian dari anak-anaknya, Khandana pergi ke sekolah dan dikantonginya semua catatan siswa.

"Catatan yang jauh lebih penting dari apapun. Itu masa depan anak-anak perempuan di daerah itu dan itu sebabnya aku terus dengan diri saya sendiri," kata Khandana.

Haroor ur Rasheed, suami Khandana, yang disebut istrinya "seorang wanita yang sangat berani. Lebih berani dari saya."

"Semua orang di keluarga kami berbeda dengan dia dan menegur dia untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi dia tidak mendengarkan siapa pun karena dia memiliki gairah untuk layanan kemanusiaan," katanya.

"Saya dengan dia, dan misi kami adalah untuk membantu orang-orang berani tanpa rasa takut. Kadang-kadang selama sesi pelatihan, beberapa gadis akan berkata: ‘Anda adalah orang tua kami’ Komentar dan sentimen tersebut selalu membuat pipi saya basah dengan air mata syukur dan kebahagiaan bergulir turun dari mata saya dan meresap ke dalam jenggot saya," kata Rasheed.

Berbicara tentang pemberontakan Taliban, Iffit Nasir, seorang pejabat pendidikan senior Swat mengatakan: "Militan pertama kali mulai menargetkan sekolah seorang gadis, tapi kemudian dalam rangka menciptakan kepanikan dan mengintensifkan dampak; mereka mulai meledakkan sekolah anak laki-laki juga. Para militan mengancam kami, memperingatkan kita untuk tidak datang ke sekolah karena mereka menggunakan bahan peledak untuk meledakkan bangunan."

"Hal yang baik yang saya catat adalah bahwa ada setidaknya kenaikan 29 persen dalam pendaftaran anak perempuan di sekolah Swat setelah mereka kembali ke lembah dari pengungsian di mana mereka dipaksa untuk hidup sementara operasi militer terjadi," tambah Nasir.

"Daerah kami menghadapi kemiskinan dan ketidaktahuan meningkat di wilayah tersebut. Saudara kita duduk diam di rumah. Itu sebabnya saya berpikir untuk mengorbankan hidup saya untuk saudara saya, untuk memperbaiki kehidupan mereka," kata Khandana.

Terlepas dari pekerjaan guru sekolah, Khandana juga menjalankan LSM Kesejahteraan & Pengembangan Perempuan. Sejauh ini dia telah memberdayakan dan memberi ketrampilan lebih dari 20.000 wanita yang sekarang menjalankan keluarga mereka.

Khandana ingat hari ketika seorang janda dan ibu dari empat datang kepadanya dan meminta bantuan.

"Saya membeli mesin jahit dan mengajarinya teknik menjahit dan keterampilan yang diberdayakannya. Dia sekarang memberikan anak-anaknya pendidikan dan hidup bahagia," kata Khandana.

"Selama pemberontakan, orang-orang yang bekerja untuk LSM dinyatakan sebagai kafir dan itulah mengapa saya ingin memberitahu orang-orang lokal bahwa tidak pekerjaan yang buruk dan itu adalah untuk kesejahteraan manusia."

Guli Khandana memuji Malala atas kerja keras dan pengorbanannya dalam pendidikan perempuan. "Dia adalah seorang gadis pemberani. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional bahwa mereka mendukung Malala, karena dia banyak menderita di wilayah ini. Malala telah mengangkat suaranya dalam mendukung pendidikan gadis. Dia telah melakukan pekerjaan yang besar," katanya.

Mengingat masa lalu, Khandana mengatakan, "Ini adalah waktu yang mengerikan dari kehidupan kita. Itu adalah zaman kegelapan. Kami meminta Tuhan untuk tidak menghitung periode dalam hidup kita."

Namun sampai sekarang, ia masih menerima surat ancaman dan panggilan telepon, kata Khandana.

"Terima kasih Tuhan sekarang situasi damai di Swat, tapi masih ada ketakutan pemberontakan mungkin kembali ke wilayah itu," katanya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah