Kamis, 22 Oktober 2015

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Pacitan,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menyemarakkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyambut peringatan haul ke-18 almagfurlah KH Habib Dimyathi, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, menggelar turnamen bola voli tingkat kabupaten pada Sabtu-Ahad (2-3/1) di halaman pesantren tersebut.

Panitia penyelenggara, Nasrowi, menyatakan, turnamen dihelat untuk memperkenalkan pesantren pada masyarakat luas. "Ini sebagai salah satu wujud mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok, bahwa image pesantren tidak hanya ngaji saja, tapi ada olahraganya juga, " tuturnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (3/1).

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Dikatakannya, melalui turnamen ini masyarakat bisa datang menyaksikan pertandingan bola voli sekaligus bisa mengenal lebih dekat dengan dunia pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turnamen yang digelar setahun sekali ini diikuti 52 tim se-Kabupaten Pacitan. Panitia menyediakan hadiah sebesar Rp. 5.250.000 beserta tropi tetap PHBI CUP 2016.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada laga final yang digelar pada Ahad sore (3/1), tim Sumber Rejeki Ketepung, Kecamatan Kebonagung menjadi juara setelah menekuk tim Desa Mlati. Pertandingan yang disaksikan ribuan massa ini berlangsung sangat ketat, dengan skor akhir 3-1.

Sumber rejeki berhak menerima hadiah uang pembinaan dan piala tetap PHBI CUP 2016. Penyerahan piala secara simbolis akan dilakukan pada malam pengajian Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW Rabu malam (6/1). (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 18 Oktober 2015

Puasa dan Budaya Literasi

Oleh Sholihin Hasan



Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq. Artinya; Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Ayat di atas merupakan ayat pertama dari lima ayat Surat Al-‘Alaq yang turun sebagai wahyu pertama. Ayat itu diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril pada malam 17 Ramadhan saat Nabi Muhammad Saw sedang berkhalwat di Gua Hira’. Ketika itu beliau memasuki usia 40 tahun.

Puasa dan Budaya Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Budaya Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Budaya Literasi

M Quraish Shihab dalam kitab tafsir Al-Mishbah menyebutkan, kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a yang berarti bacalah. Iqra’ juga berarti  menghimpun, menyampaikan, menelaah, membaca mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-ciri sesuatu. Perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik suci maupun tidak suci.

Perintah iqra’ yang turun 14,5 abad yang lalu akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian dari mayoritas umat Islam di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa lembaga internasional menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara-negara lain.

Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 menempati posisi terburuk kedua. Posisi Indonesia berada diurutan ke 64 dari 65 negara yang disurvei.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Empat tahun setelah penelitian PISA, ternyata posisi budaya literasi bangsa ini belum mengalami perubahan signifikan. Sebab, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) di New Britain, Conn, Amerika Serikat tahun 2016, menempatkan literasi di Indonesia pada peringkat ke 60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literate Nations. 

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan betapa lemahnya budaya literasi masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya literasi di Indonesia salah satunya disebabkan karena budaya masyarakat adalah budaya menonton, budaya dongeng dan cerita, bukan budaya membaca.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Anak-anak sekolah lebih senang bermain game ketimbang pergi ke perpustakaan. Masyarakat lebih senang membicarakan materi pembicaraan yang berdasarkan katanya, katanya dan katanya, ketimbang berdasarkan sumber ilmiah atau dari ayat-ayat suci.

Tingginya budaya menonton masyarakat terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun lalu. Dimana jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia untuk menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah waktu menonton anak-anak Indonesia terlalu besar jika dibandingkan dengan anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari.

Untuk mendorong minat baca di kalangan siswa, di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pernah mewajibkan para siswa membaca buku 15 menit sebelum jam belajar dimulai.

Pentingnya Literasi

Literasi biasa dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Menurut Unesco, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menerjemahkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan tertulis maupun tercetak yang berhubungan dengan berbagai konteks.

Kemampuan literasi sering menjadi pembuka bagi datangnya keberhasilan. Hubungan lingkaran setan antara status kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sesungguhnya berkaitan erat dengan budaya literasi.

Ketika budaya literasi menguat, maka impact-nya lambat laun akan menghilangkan status kebodohan. Dengan sirnanya status kebodohan, maka status keterbelakangan juga ikut sirna. Bahkan, impact dari kuatnya budaya literasi akan mampu memperbaiki taraf hidup, serta kemajuan suatu bangsa.

Unesco pernah melakukan penelitian berjudul Literacy for Life, menemukan adanya hubungan erat antara lemahnya budaya literasi (illiteracy) dengan kemiskinan. Negara-negara yang tingkat literasinya rendah, rata-rata adalah negara miskin. 

Momentum Puasa

Umat Islam yang saat ini tengah melaksakan ibadah puasa Ramadhan perlu merenungi kembali makna perintah iqra’. Apakah perintah iqra’ sudah dilaksanakan dengan baik dan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari? Kalau pun sudah, apakah iqra’ memiliki pengaruh dalam kehidupan nyata?

Ramadhan adalah momentum penting untuk memperbaiki atau meningkatkan budaya literasi. Sebab, bagi umat Islam di Indonesia, khususnya umat Islam di Jawa, momentum Ramadhan identik dengan budaya literasi.

Beberapa tradisi Ramadhan yang terkait dengan literasi antara lain tradisi tadarus Al-Qur’an. Tradisi ini biasanya digelar selepas shalat Tarawih. Hampir di setiap masjid dan mushalla, selalu dilaksanakan kegiatan tadarus. Baik dengan metode koor, sorogan maupun long march.

Kegiatan tadarus dilaksanakan antara satu hingga dua jam setiap malamnya. Yakni, pukul 20.00 hingga pukul 22.00. Selama Ramadhan biasanya khatam membaca al Qur’an antara dua hingga empat kali khataman. Bahkan ada yang lebih, lima atau enam kali.

Kegiatan tadarus tidak hanya dilaksanakan di masjid dan mushalla, tetapi tadarus juga dilaksanakan di rumah, sekolah, kampus maupun kantor. Organisasi sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatkan pun tak ketinggalan melaksanakan kegiatan tadarus berjamaah.

Selama Ramadhan juga semarak dengan kegiatan ceramah agama dan kajian agama. Ceramah agama tersebut biasanya dilaksanakan selepas jamaah shalat isya’ atau tarawih, dan setelah jamaah shalat subuh. Ceramah agama yang ditempatkan di dua waktu ini biasanya sifatnya pendek atau dikenal dengan ceramah kuliah tujuh menit (kultum).

Kajian agama pun marak dilaksanakan di pondok-pondok pesantren. Mulai ba’da subuh hingga larut malam dilakukan kajian kitab kuning. Kajian kitab kuning ini dilakukan para kiai, ustadz dan para santrinya. Berbagai macam kitab kuning dikaji selama Ramadhan. Mereka mengambil waktu khataman baca kitab kuning antara 17 hingga 21 Ramadhan. 

Momen buka puasa bersama sering dijadikan media dilaksanakannya kajian agama atau kultum. Buka puasa bersama dengan kajian agama dengan durasi waktu agak panjang biasanya dilaksanakan di masjid-masjid atau mushalla. Sedangkan untuk buka puasa di kantor, sekolah, perusahaan, kampus maupun organisasi sosial kemasyarakatan biasa didahului dengan ceramah agama agak singkat.

Berbagai kegiatan di atas menunjukkan bahwa kegiatan literasi umat Islam selama Ramadhan meningkat jika dibandingkan di luar Ramadhan. Karena kegiatan-kegiatan seperti itu tidak dijumpai di luar Ramadhan.

Suasana religi tersebut diperkuat tampilan media cetak dan elektronik. Koran, majalah, radio, situs internet dan televisi memberikan ruang khusus selama Ramadhan.

Pertanyaanya, kegiatan baca Al-Qur’an begitu marak, kajian dan ceramah agama digelar di mana-mana, tetapi mengapa literasi bangsa Indonesia dinilai masih terpuruk? 

Hal ini dikarenakan kemampuan literasi umat Islam hanya berhenti pada kemampuan membaca. Kemampuan literasi belum sampai pada kemampuan mengidentifikasi apalagi memahami. Kemampuan literasi belum sampai menghasilkan karya atau produksi.

Tadarus al Qur’an hanya berhenti pada kegiatan membaca. Masih berkutat pada aplikasi penerapan ilmu tajwid, makharijul huruf, ketartilan bacaan, serta merdu dan tidaknya suara. Tadarus Al-Qur’an belum dikembangkan menjadi kegiatan pendalaman melalui kajian tafsir. 

Melalui kajian tafsir akan diperoleh pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai penafsir. Dari pendalaman ayat-ayat tersebut akan diperoleh pemahaman. Dari pemahaman tersebut umat Islam diharapkan bisa melakukan identifikasi pesan moral dari kandungan ayat untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Maraknya ceramah agama selama Ramadhan ini juga berhenti dengan selesainya materi ceramah. Minim program tindak lanjut. Masyarakat masih cenderung mendengarkan atau mencari penceramah yang lucu dan memiliki selera humor tinggi. Mengenai isi materi menjadi persoalan belakangan.

Penceramahnya juga cenderung melayani selera masyarakat ketimbang melakukan pencerahan dan melakukan program tindak lanjut. Bahkan, materi ceramah sering diulang-ulang. 

Itulah mengapa masyarakat Indonesia oleh lembaga Programme for International Student Assessment dan Central Connecticut State University dinilai kemampuan literasinya rendah. Karena kemampuan literasinya baru taraf membaca dan mendengarkan.

Untuk menguatkan kemampuan literasi, maka maraknya kegiatan tadarus, kajian agama, dan ceramah agama selama Ramadhan ini hendaknya tidak berhenti di tempat. Gelombangnya sedikit di naikkan. Tadarus tidak sekedar membaca, ceramah tidak sekedar mendengarkan, tetapi sedikit ditingkatkan menjadi memahami maknanya dan selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan nyata.  

Penulis adalah mahasiswa program doktor UIN Walisongo Semarang, sekaligus dosen STAI Almuhammad Cepu

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, IMNU, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Oktober 2015

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Dalam masyarakat kita ada kecenderungan sebagian orang memandang sebelah mata mereka yang tak bisa memberikan keturunan. Apalagi jika mereka perempuan. Beberapa suami menceraikan istrinya hanya karena ia mandul. Hal seperti ini ? dialami seorang wanita yang Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) memanggilnya “Bulik” untuk “mbasakke” anak-anak Mbah Ngis. Memang masih ada hubungan kerabat antara Mbah Ngis dengannya meski tidak sangat dekat. Sebut saja perempuan itu beranama Bulik Fulanah.

Betul. Bulik Fulanah dicerai suaminya hanya karena tak bisa memberikan keturunan. Sejak itu Bulik Fulanah hidup menjanda. Suami tak ada. Anak tak punya. Kakak atau adik sudah tiada. Orang tua juga sudah lama meninggal dunia. Bulik Fulanah tak punya keluarga. Ia sebatang kara. Masih beruntung ada keponakan yang bersedia menampung hidupnya di rumah di sebuah kampung yang padat penduduk.?

Bulik Fulanah hidup menderita. Ia tak punya apa-apa alias miskin. Jika diperbandingkan, Bulik Fulanah sangat kontras dengan Mbah Ngis meskipun ada beberapa persamaan, seperti sama-sama bukan orang kaya yang berjualan makanan kecil. Bulik Fulanah tak memiliki seorang anak pun. Mbah Ngis memiliki 13 anak. Bulik Fulanah dikenal suka banyak bicara. ? Sedangkan Mbah Ngis cukup tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Kebiasaan banyak bicara yang topiknya tidak selalu menarik kadang membuat beberapa orang tak menyukai Bulik Fulanah.?

Empati  Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)
Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Tetapi bagi Mbah Ngis, semua kekurangan Bulik Fulanah tak dipermasalahkan. Mbah Ngis cukup toleran terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. Mbah Ngis cukup mengerti tidak setiap orang berpengatahuan luas atau memiliki banyak pengalaman menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Mbah Ngis malahan menaruh iba yang mendalam terhadap nasib Bulik Fulanah sebagai sesama saudara sekaligus sesama perempuan.?

Sudah lama Mbah Ngis bertanya pada diri sendiri kapan bisa menyenangkan Bulik Fulanah dengan memberikan atau mewujudkan sesuatu yang membuatnya berbesar hati. Mbah Ngis lama berpikir soal itu hingga akhirnya Mbah Ngis menemukan gagasan.?

Gagasan itu adalah mengajaknya pergi ke Jakarta, sebuah kota metropolitan dengan segala kemegahannya. Mbah Ngis sendiri belum pernah ke Ibu Kota. Kali ini ada kesempatan bagi Mbah Ngis pergi ke sana, tapi bukan karena Mbah Ngis memiliki banyak uang. Salah seorang keponakan Mbah Dullah di Jakarta mempunyai hajat menikahkan putrinya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keponakan itu cukup mapan secara ekonomi karena ia seorang pejabat penting. Mbah Ngis dan Mbah Dullah diundang menghadiri resepsi perkawinan itu. Segala sesuatu terkait dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi selama di perjalanan Jakarta pulang-pergi sudah ada yang mengurus dan semuanya ditanggung oleh sang keponakan. Mbah Ngis dan Mbah Dullah tinggal menyiapkan diri, terutama kesehatannya, agar bisa hadir. Mbah Ngis sangat senang atas undangan ini dan bersyukur karena semua fasiltas tersedia secara cuma-cuma.?

Rasa syukur itu diwujudkan Mbah Ngis dalam bentuk menyisihkan selama sebulan penuh uang hasil berjualan makanan kecil setiap hari di pondok. Mbah Ngis ingin sekali mengajak Bulik Fulanah ke Jakarta dengan seluruh biaya ditanggung Mbah Ngis.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Benar. Mbah Ngis, Mbah Dullah dan Bulik Fulanah serta rombongan lain dari Solo berangkat bersama ke Jakarta dengan menaiki Kereta Api Senja Utama. Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi Mbah Ngis dan Bulik Fulanah pergi ke Jakarta. Juga merupakan kali pertama dan terakhir menaiki kereta api kelas bisnis.?

Sekembalinya ke Solo, Bulik Fulanah memiliki banyak cerita tentang Jakarta dan orang-orang besar yang dilihatnya di resepsi pernikhan putri keponakan Mbah Dullah. Banyak orang tertarik menyimaknya meski ada sebagian kecil berpura-pura tak mendengar. Yang pasti mereka semua menikmati “oleh-oleh” yang dibawa Bulik Fulanah dari Jakarta. ? Peristiwa ini terjadi puluhan tahun lalu di awal tahun 1990-an.?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 September 2015

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Diantara faktor yang menyebabkan kondisi Indonesia terpuruk adalah semakin maraknya praktik korupsi oleh para elit negeri ini. Salah satu upaya untuk membasmi korupsi adalah dengan meningkatkan spiritualitas melalui tasawuf.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta, Selatan, Jumat (4/10)

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf

“Menteri gajinya sudah cukup, bupati sudah cukup, bensinnya, pembantunya, sopir, semuanya digaji oleh pemerintah. Menteri itu sudah staf khusus, staf ahli, asisten, deputi, sekretaris pribadi, bensin mobilnya, tukang masak di rumahnya itu ditanggung negara semua,” papar kiai asal Cirebon tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ternyata, Kiai Said menambahkan, mereka masih merasa kurang, “Kalau masih kurang, berarti jauh dari sifat-sifat sufi. Coba kalau terima, coba kalau qonaah, alhamdulillah sudah cukup, tidak akan korupsi,” paparnya.

Kiai yang akrab dipanggil Kang Said tersebut menyatakan bahwa salah besar jika ada yang mengatakan tasawuf yang menjadikan penyebab kemunduran Islam, justru tasawuflah yang mendorong agar spirit kualitas manusia menjadi dinamis dan memberikan semangat yang tinggi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tasawuf tidak membuat manusia pusing, sedih dengan urusan-urusan tektek bengek. Hanya sedih karena Allah. Yang menyebabkan kemunduran Islam adalah hubbu dunya, rebutan jabatan, rebutan harta, takut kelaparan, takut miskin takut mati,” tambahnya.

Jika saja para pejabat dan pemimpin negeri ini memiliki kualitas spiritual yang tinggi maka mereka akan menghindari korupsi, untuk menuju kualitas spiritualitas tersebut dapat ditempuh dengan tasawuf. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 September 2015

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia meramaikan acara malam apresiasi seni yang diselenggarakan oleh Omah Aksoro dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pijar STAINU Jakarta, Rabu malam (23/12) di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Berbagai karya seni dipentaskan, seperti halnya puisi, cerpen, akustik, musikalisasi puisi, dan stand up comedy.

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Ketua panitia, Ibnu Athoillah mengatakan, diselenggarakannya kegiatan kali ini dimaksudkan sebagai tempat ekspresi mahasiswa mengembangkan bakat yang dimilikinya. “Mahasiswa memang membutuhkan banyak tempat berekspresi, tidak hanya menyoal tentang hiruk-pikuk akademik dan perkuliahan saja,” katanya.

Mengambil tema ‘Rabun Sastra, Buta Sejarah’ Athok mengatakan kepada seluruh yang hadir untuk tidak melupakan dunia sastra dalam belajar. Meskipun secara makna sastra memiliki banyak penafsiran yang berbeda, akan tetapi pada dasarnya sastra mampu membaca sejarah dengan kaca mata yang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ambil saja Pramoedya Ananta Toer yang menulis sejarah dalam bentuk sastra tetraloginya, kita disajikan epik sejarah yang enak dibaca alurnya,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Pembantu Ketua (Puka) III Bidang Kemahasiswaan STAINU Jakarta Ahmad Nurul Huda mengatakan, kegiatan malam apresiasi seni menjadi warna tersendiri kegiatan mahasiswa di luar perkuliahan. Kelompok kajian seperti Omah Aksoro mungkin bisa dicontoh mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kegiatan yang sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya senang dengan kegiatan kali ini, dan saya dukung sepenuhnya sekaligus berharap bisa rutin digelar, kalau perlu tiap bulan,” katanya.

Lebih ramai lagi karena juga ada penampilan dari kampus di luar STAINU Jakarta dan UNU Indonesia. Acara ditutup dengan penampilan dari Kaprodi Psikologi Any Rufaedah yang menyanyikan lagu kemesraan dari Iwan Fals.

Turut memeriahkan dalam kegiatan ini wakil sekretaris LTN PBNU yang juga dosen STAINU Jakarta dan UNU Indonesia, Faris Alnizar; Ketua LP3M STAINU Jakarta, Fatkhu Yasik; dan civitas akademika, Amsar Dulmanan, Muhammad Nurul Huda, Ahmad Dzakirin serta para alumni STAINU Jakarta. (Faridurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Khutbah, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 16 Agustus 2015

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbagai pemikiran para ulama Indonesia yang saat ini hanya ditulis dalam bahasa Indonesia perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris agar dikenal oleh dunia.

“Kenapa tidak ada ulama Indonesia yang mendunia, persoalan karena ditulis dalam bahasa Indoensia, sehingga yang tahu hanya orang Indonesia,” tutur Ketua PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Jum’at (3/8).

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing

Dikatakannya ulama Indonesia masa lalu telah melahirkan banyak pemikiran yang dikenal dunia karena mereka menulisnya dalam bahasa Arab seperti yang dilakukan oleh Syeikh Ihsan Jampes, Syeikh Nawawi al Bantani, dan lainnya.

Penyebarluasan pemikiran melalui metode terjemahan ini dilakukan oleh Abu A’la Al Maududi, pemikir dari Pakistan yang hanya menulis dalam bahasa Urdu, namun ia memiliki tim dari Institute of Islamic studies yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan Arab sehingga ide-idenya bisa disosialisasikan secara luas.

Mantan Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini menceritakan pengalamannya ketika mengikuti Islamic Expo di London sebagai wakil NU tahu lalu. Sejauh ini pemikiran dari ulama Indonesia kurang dikenal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saat diskusi, tentang Indonesia sedikit sekali yang datang, hanya para pecinta Indonesia karena ada anggapan Indonesia tidak ada intelektualisme,” paparnya dengan nada prihatin.

Lulusan Doktor dari Jerman ini juga menjelaskan bahwa pemikiran ulama Malaysia lebih dikenal meskipun pemikiran dari cendekiawan muslim Indonesia lebih maju. Ini disebabkan pemerintah Malaysia membantu mensosialisasikan pemikiran Islam melalui Institute Kepahaman Islam Malaysia dan lembaga lainnya yang memiliki fungsi sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Walaupun dalam kenyataannya, pemikiran Islam di Indonesia lebih maju, tetapi gaungnya di dunia lebih bergaung Malaysia. Ini karena ada lembaga yang secara gencar mempromosikan, disamping setiap negara besar ada chair of Malaysia,” tandasnya.

Saat ini ia tengah mengusulkan adanya Lembaga Riset Islam Indonesia yang diharapkan didukung pemerintah untuk menjalankan fungsi sosialisasi pemikiran dan ide para ulama Indonesia sehingga lebih dikenal dunia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 14 Agustus 2015

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Meski terhitung masih lama, Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, tapi sejumlah isu strategis untuk terus memperkuat NU baik secara struktural ataupun kultural sudah mulai dihembuskan.?

Salah satunya penguatan jenjang kaderisasi NU sebagai pengurus di level cabang NU harus diperhitungkan. "Ke depan, PCNU Harus diisi sebagaimana yang sudah dibikin para ulama terdahulu," kata H Zulfikar Damam Ikhwanto, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor setempat, Selasa (15/11).?

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Dijelaskan, jenjang kaderisasi NU merupakan media kekuatan dalam berorganisasi. Sejumlah kader NU dari masa ke masa juga dari semua level kepengurusannya akan terwadahi. "Kalau tidak demikian, input kader itu tidak akan kuat untuk ngopeni NU. Militansi pengurus kurang matang kalau tidak berdasar tahapan-tahapan kaderisasi itu," ujarnya.?

Jenjang kaderisasi di NU, lanjut pria yang kerap disapa Gus Antok itu, sudah sangat jelas mulai dari tingkat pelajar, pemuda dan kader NU yang sudah dianggap sepuh. "Kita ini gantian, di tingkat pelajar ada IPNU dan IPPNU, terus naik lagi ke level mahasiswa ada PMII juga PKPTNU, kemudian setelah itu naik lagi ke GP Ansor atau Fatayat NU, setelahnya PCNU dan Muslimat NU," tegas dia.

Selama ini ia memantau, jenjang kaderisasi itu masih belum diperhatikan dengan serius, sehingga kader yang benar-benar berproses di NU sekalipun terkadang tak ada wadah dan hengkang dengan sendirinya. "Saya ada banyak kader Ansor yang sudah pasca kepengurusan cabang, tapi mereka tidak masuk struktur PCNU, terus siapa yang akan mengisi PCNU kalau tidak Pengurus Ansor yang sudah selesai itu," singgung dia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PNS di lingkungan kota santri itu berharap PCNU sudah mulai memperhatikan ketertiban jenjang kaderisasi NU menjelang Konfercab ini. "Ya memang PCNU harus berani mengambil kebijakan seperti itu agar dicontoh oleh MWC-MWCnya, dan MWC juga ambil kader Ansor yang di kecamatan-kecamatan, begitu juga di ranting," ucapnya.

Untuk diketahui, Konfercab NU Jombang akan berlangsung pada bulan April 2017 mendatang. Hal ini sesuai koordinasi antar pengurus internal PCNU setempat. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah