Rabu, 03 Februari 2016

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman

Pariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh ikut menyaksikan puncak perayaan Tabuik masyarakat Pariaman, Ahad (25/11) kemarin di pendopo Walikota Pariaman.

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman

Mahmoud Farazandeh  menyaksikan tradisi Tabuik bersama Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, dan Kabag Humas Pemko Pariaman  Gusniyeti Zaunit, Wakil Gubernur   Sumbar Muslim Kasim yang juga Ketua Umum Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumbar, pejabat Propinsi Sumatera Barat, pejabat di lingkungan Kota Pariaman, dan ribuan masyarakat yang memadati pusat perayaan Tabuik di Pasar Pariaman hingga ke pantai Gandoriah.  

Ia mengakatan, tanggal 1-10 Muharram saat berlangsungnya Tabuik sama dengan tanggal peristiwa yang menimpa keluarga Imam Husain di Karbala 10. Peristiwa di tahun 61 H ini menjadi semangat bagi masyarakat Iran dalam momen penting kehidupannya. Sehingga kehidupan Husain juga menjadi simbol  bagi orang Iran.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Mahmoud, selama 10 hari (1 hingga 10 Muharram) cucu Nabi Muhammad Saw, Imam Husain mengalami kegetiran di Padang Karbala. Mereka tidak diperkenan mengambil air  dari sumber air. Hingga akhirnya rombongan yang menyertai kurang lebih 70 orang, satu per satu dihabisi oleh pasukan Yazid Muawiyah. 

“Puncaknya, Husain saat hendak melakukan shalat zuhur dihujani anak panah tentara Yazid . Sahabat setia Husain berusaha menghalangi serangan anak panah,” kata.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesan yang hendak disampaikan oleh Husain adalah tekadnya menegakkan kebenaran dan ajaran Islam yang dibawa oleh kakek beliau, Nabi Muhammad saw.  “Bagi masyarakat Iran, pada hari ini (Asyura) menggunakan pakaian berwarna hitam, tidak ada pesta perkawinan dan kegiatan yang berbau kegembiraan. Hari ini disebut juga hari kesedihan, “ kata Mahmoud.

Dikatakan, perlakuan terhadap Imam Husain oleh tentara Yazid  memberikan simbol perlawanan terhadap kezaliman, kesyahidan untuk kemenangan. Dalam kondisi apa pun, Husain tetap memegang teguh pendirian menolak membaiat Yazid sebagai khalifah yang dinilai melenceng dari ajaran Islam. 

Terkait dengan Tabuik Pariaman, menurut Mahmoud, salah satu bentuk mengenang peristiwa bagaimana keteguhan Imam Husain menghadapi kezaliman tentara Yazid. Tentu saja akulturasi budaya dari berbagai masyarakat mengalami perbedaan.  Seperti Tabuik ini, diselenggarakan sesuai dengan budaya yang tumbuh dan berkembang di Pariaman. 

“Di Iran sendiri tidak ada Tabuik yang disimbolkan seperti di Pariaman. Hanya peti saja yang diarak. Peti itu melambangkan jenazah Husain yang tercerai berai oleh pasukan Yazid. Pada hari Asyura masyarakat Iran mengenai peristiwa bersejarah yang dialami cucu Nabi Muhammad Saw tersebut,” kata Mahmoud.  

Menjawab pertanyaan wartawan, Mahmoud menjelaskan, bouraq yang terdapat dalam perayaan Tabuik sebenarnya simbol pada peringatan Asyura. Di mana kuda yang ditinggalkan oleh Imam Husain, merupakan kuda dari Nabi Muhammad SAW. Kudo itu simbol kesetian. Karena kuda tersebut tidak pernah ditungganggi oleh yang lain setelah Husain tewas di tangan tentara Yazid. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Kajian Islam, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 02 Februari 2016

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Pada sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu 15 April 2017, KH Aziz Masyhuri Denanyar wafat. Berita ini tentu mengejutkan karena pada paginya beliau masih membaca koran dan melanjutkan menulis buku sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Dengan demikian berarti dua kiai besar bernama Aziz dari Jombang telah tiada, satunya lagi yaitu KH Aziz Mansyur Paculgowang sudah wafat pada 2015 lalu.

Saya, walaupun tidak lama, pernah mengaji ke beliau berdua. Kiai Aziz Mansyur adalah sosok kiai yang mempunyai etos ilmiah ala Lirboyo, yang tidak lain adalah pondok kakeknya sendiri, karena beliau juga lama mondok di Lirboyo. Gaya ngaji beliau; duduk bersila di depan meja kecil, dilengkapi dengan lampu belajar, serta bersandar di bantal. Diatas meja kecil itu, selain ada kitab dan lampu belajar, juga ada segelas air putih.

Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Ketika saya mengaji romadhon pada 2014, saya begitu takjub dengan kedisiplinan Kiai yang menjabat dewan syuro PKB ini. Kalau sudah duduk didepan kitab, maka sekitar 2 jam sampai 2, 5 jam ke depan, tidak beranjak dari tempat duduknya, membaca kitab tanpa berhenti, dan tanpa basa-basi. Ketika membaca kitab semacam ini posisi beliau menghadap ke arah kiblat, bertempat di selasar masjid. sementara kami yang mengaji juga menghadap kiblat, berada di belakang beliau. Nah, ini tentunya menguntungkan bagi saya, karena kalau ngantuk tidak akan ketahuan, hehehe.

Kitab yang dikaji ba’da taraweh ketika itu adalah al-Asybah wa An-nadhair, dan Dalailul Khoirot. Belum lagi yang dibaca pada waktu pagi dan sore. Dengan etos yang demikian itu, maka wajar kalau dalam kesempatan romadhon yang biasanya tidak sampai tanggal 20 sudah selesai, berhasil menghatamkan beberapa kitab. Sehingga bisa dimaklumi jika santri alumni pondok salaf, semacam Paculgowang dan Lirboyo mempunyai perbendaharaan kitab kuning yang relatif banyak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu bagaimana gaya Kiai Aziz Masyhuri mengaji? Tempat belia mengaji tidak? ? di masjid, namun di ruang tamu. Beliau duduk di salah satu kursi, kemudian yang mengaji duduk dikursi-kursi yang lain, ada dua set kursi tamu di ruang tersebut. Sebagaimana layaknya menerima tamu, di meja tersaji aneka hidangan, ada makanan kering yang berada di toples-toples dan ada makanan basah, seperti pisang goreng, roti bakar, atau yang lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jadwal mengaji satu minggu sekali, saya perhatikan hidangan di atas meja tersebut selalu berganti. Terasa benar bahwa memang itu disiapkan secara khusus untuk orang-orang yang mengaji pada beliau. Tidak berhenti sampai disitu, setiap ada yang datang, tidak lama kemudian ada yang menghidangkan kopi. Di tengah-tengah pengajian biasanya disusul dengan kolak, lalu diakhir ditutup dengan nasi goreng atau tahu petis. Jadi saya katakan pada Anda, bahwa tips mengaji pada Kiai Aziz Masyhuri haruslah dalam kondisi perut kosong, kalau tidak mau keringat dingin, karena harus menghabiskan makanan yang sedemikian banyak.

Nah, begitu kita datang ternyata tidak langsung mengaji kitab, tetapi masih mengobrol kesana-kemari antara setengah sampai satu jam. Bahan obrolan biasanya tentang permasalahan aktual, tentang ke-NU-an, tentang kegiatan-kegiatan beliau, atau seputar penulisan kitab yang sedang beliau kerjakan.

Jujur, awal-awal saya merasa gelisah dengan ritme mengaji seperti ini, karena tidak langsung to the poin. Tapi lama-kelamaan merasakan hal yang berbeda. Apa yang beliau obrolkan tersebut biasanya adalah pandangan atau sikap beliau sebagai seorang kiai menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Jadi ini adalah pengajian aktual, tidak melulu mengaji kitab, tapi juga mengaji kehidupan. Apalagi ketika membaca kitab juga selalu disisipi dengan penjelasan-penjelasan.

Yang dikaji ketika itu adalah kitab Kawakibul Lama’ah karangan Kiai Fadhol Senori Tuban, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Mungkin Kiai Aziz Masyhuri produktif mengarang kitab karena terinspirasi oleh Kiai Fadhol ini. Kitab lain karya Kiai Fadhol diantaranya adalah ahlal musyamarah yang menceritakan tentang 10 wali di tanah Jawa. Di tangan Kiai Aziz Masyhuri, keterangan kawakibul lama’ah menjadi sangat luas.

Keterangan tentang apa yang tertulis di kawakibul lama’ah sepertinya sudah nempel banget di lidah beliau. Keterangannya bisa sangat detail. Misalkan saja, ketika masuk pada pembahasan devinisi sunnah dan jama’ah, dalam kitab tersebut menyitir devinisi dari kamus Muhith. Oleh beliau dijelaskan kamus mukhit ini merupakan kamus 4 jilid yang patokannya adalah huruf terakhir dari suatu kata. Misal kata ‘wasala’ yang terdiri dari huruf wawu, sin, dan lam, maka cara mencarinya dari huruf lam.

Keterangan ini kemudian melebar pada jenis-jenis kamus. Dimulai dari Tajul Arus yang merupakan sarah kamus mukhit. Lalu ada juga Misbahul Munir yang menurut beliau merupakan kamus yang paling ‘marem’, karena kalau ada masalah fiqh keterangannya dipanjangkan. Ada juga kamus munjit. Ini adalah kamus yang paling gampang, karena kalau ada yang tidak jelas dikasih gambar. Kelebihan yang lain dari kamus ini ada Faraidul Adab-nya. Namun yang mengarang orang kristen.

Keterangan kamus munjit ini menjadi semakin hidup manakala ditambahi dengan kisah Mbah Kiai Maksum Lasem dan putranya Mbah Kiai Ali Maksum. Mbah Kiai Maksum mengharamkan kamus munjit. Ketika Mbah Kiai Ali Maksum masih dipondok, waktu mau dijenguk ayahnya, santri-santri senior yang punya kamus munjit suruh menyembunyikan. Takut kalau-kalau Mbah Kiai Maksum memeriksa kamar-kamar. Nah, nanti kalau sudah pulang boleh dikeluarkan lagi.

Kitab berikutnya yang dikaji setelah kawakibul lama’ahkhatam adalah kitab tipis berjudul, butlani aqoidul syiah, sebuah kitab yang sepertinya belum ada di penerbitah Indonesia. Karena kami mengkajinya pun dari foto copy-an kitab yang beliau punya. Demikianlah Kiai Aziz Masyhuri, perbendaharaan kitab-kitab langkanya melimpah. Sehingga wajar kalau beliau menjadi rujukan kiai-kiai yang lain, termasuk dari pondok-pondok besar. Namun taqdir kami tidak bisa mempelajari kitab ini sampai selesai, karena setelah libur hari raya, pengajian kitab tersebut belum dilanjutkan lagi sampai beliau wafat.

Beliau memang pernah cerita, bahwa jika sedang haji, yang beliau buru adalah kitab-kitab terbitan timur tengah. Saking banyaknya yang beliau beli, sampai-sampai sebagiannya harus dititipkan ke orang lain yang jatah bagasinya masih ada. Maka wajar, kalau wacana kitab kuningnya di atas rata-rata. Sampai-sampai ketika Dr. Musthofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang juga karibnya waktu di Tebuireng membuat tulisan di Republika, tentang banyaknya kesamaan ajaran-ajaran NU melalui kitab karangan KH Hayim Asyari yang terkodifikasi dalam Irsyadus Syari, dengan ajaran-ajaran Wahabi, maka Kiai Aziz Masyhuri menegurnya, ketika bertemu di sebuah acara di madura. Hal ini karena Kiai Aziz Masyhuri mempunyai refrensi lain yang menguatkan tentang perbedaan besar antara ajaran NU dan wahabi.

Dengan kekayaan wacana kitab kuning demikian ini, ternyata Kiai Aziz Masyhuri mentransformasikan apa yang dipunyainya itu dengan cara yang santai; mengajar ngaji disambi dengan makan-makan dan ngobrol kesana-kemari. Perut terisi, kepala pun terisi.

Sedangkan Kiai Aziz Mansyur yang mempunyai tradisi dan etos kitab kuning yang disiplin, ternyata pembawaannya tidak dikit-dikit nge-dalil. Saya teringat ketika resepsi pernikahan saya, dalam tausyiahnya beliau malah hanya bercerita, tidak mendalil, tentang bagaimana galaunya ketika beliau dipasrahi untuk meneruskan estafet kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatun Nasihin, selepas ayahnya meninggal. Juga bercerita tentang awal-awal diundang mengaji ke kampung-kampung dengan mengendarai sepeda ontel, lalu beralih naik sepeda motor, lalu beralih memohon kapeda Allah agar diberi kendaraan yang ada iyup-iyupane (ada atapnya: mobil). Selanjutnya tausyiah beliau malah ditutup dengan penjelasan filosofi janur dan lain-lain, yang biasa digunakan di resepsi pernikahan adat Jawa. Allahummaghfirlahuma...

M. Fathoni Mahsun, Kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 01 Februari 2016

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendukung usul amendemen kelima terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang disampaikan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pernyatan tersebut dikemukakan Gus Dur di hadapan anggota DPD di Ruang GBHN di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (21/5) kemarin.

Acara bertajuk Diskusi Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan Kelompok DPD di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu dipandu Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita didampingi para Wakil Ketua DPD, Irman Gusman dan Laode Ida serta Ketua Kelompok DPD di MPR Bambang Soeroso.

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Gus Dur menyatakan, ia tidak berkeinginan mogok atau berhenti mendorong DPD menggolkan usulan amendemen kelima tersebut.

"Saya mendukung teman-teman DPD yang ingin mengadakan amendemen terhadap UUD. Saya juga tidak ingin mogok, berhenti. Ya nggak," kata Gus Dur.

Kendati MPR sejak tahun 1999 sampai tahun 2002 masih membahas amendemen UUD 1945, Gus Dur berpendapat perubahan konstitusi yang dilakukan kurang lama dirembug. Akibatnya, tidak semua kalangan rakyat Indonesia mengetahui bahwa UUD 1945 telah empat kali diamendemen. "Tidak semua (rakyat Indonesia) tahu. Bahasa menterengnya, sosialisasinya kurang," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Membandingkan UUD 1945 dengan UUD Amerika Serikat (AS), Gus Dur menyatakan sejak Thomas Jefferson yang Deklarator Kemerdekaan (1776) serta bapak pendiri AS menjabat sebagai Presiden AS yang ketiga (tahun 1801 hingga tahun 1809), perdebatan mengenai perubahan konstitusi hanya dibatasi pada dua pandangan, yakni hak-hak individu dan hak-hak negara bagian. Dari masa itu hingga kini, perdebatan mengenai amendemen UUD hanya dibatasi pada dua pandangan saja.

Melalui perbandingan tersebut, UUD 1945 yang telah diamendemen empat kali bagus sekali. Meski demikian, amendemen kelima UUD 1945 tetap dipersilakan digagas DPD jika membuat UUD 1945 semakin lebih bagus lagi. "Kalaupun toh di-amendemen (kembali) nanti, silakan. Tentu sesuatu yang lebih baik akan kita terima," kata Ketua Umum Dewan Syura Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) itu. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Januari 2016

Doa Ketika Ditraktir Makan

Sebelum mengambil suapan, kita dianjurkan untuk membaca doa sebelum makan. Demikian pula setelah makan. Kita dianjurkan untuk membaca doa setelah makan sebagai tanda rasa syukur kepada Allah SWT. Tetapi ketika ditraktir makan, kita juga dianjurkan untuk berterima kasih kepada yang bersangkutan.

Selain berterima kasih, Rasulullah SAW juga mengajarkan ita untuk mendoakan orang yang mentraktir kita. Demikian ini doanya.

Doa Ketika Ditraktir Makan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Ketika Ditraktir Makan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Ketika Ditraktir Makan

? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Allâhumma bârik lahum fî mâ razaqtahum, waghfir lahum, warhamhum.

Artinya, “Tuhanku, berkatilah mereka (yang mentraktirku) pada nikmat yang Kau anugerahkan kepada mereka. Ampuni dan rahmatilah mereka.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Doa ini dibaca oleh Rasulullah SAW ketika salah seorang sahabatnya memberinya makan. Hadits ini disebutkan Imam Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Santri, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Januari 2016

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan Muktamar NU ke-33 di Jombang tinggal menghitung hari. Tidak sampai tiga pekan lagi, forum tertinggi di NU ini digelar. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Termasuk konsolidasi panitia dan persiapan lokasi acara.

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Tenda Muktamar NU Dimulai

Demikian terlihat di alun-alun Jombang sejak Rabu (8/7). Berbagai alat berat untuk mendirikan tenda besar sudah didatangkan. Alat-alat itu diangkut dengan menggunakan beberapa truk besar.

"Truk-truk itu sempat parkir di alun-alun Jombang," kata Mukani, guru SMAN 1 Jombang yang berlokasi di utara alun-alun Jombang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mulai Rabu (8/7) pagi, pendirian tenda besar berwarna putih dimulai oleh puluhan pekerja. Letaknya di sisi selatan alun-alun. Sedangkan di sisi timur dan utara, dimulai pada Kamis (9/7) hari ini.?

Menurut rencana, tenda-tenda itu akan digunakan sebagai lokasi pembukaan dan penutupan acara Muktamar NU ke-33. Sedangkan sidang komisi digelar di empat pondok pesantren, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Peterongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai sekolah yang berdekatan dengan lokasi Muktamar NU, SMAN 1 Jombang juga siap menyukseskan Muktamar kali ini. Baliho besar sudah dipasang di timur pintu gerbang sejak sepekan lalu. Baliho besar itu bertuliskan “Keluarga Besar SMAN 1 Jombang siap menyuksukseskan Muktamar NU Ke-33 di Jombang.”

Menurut rencana, SMAN 1 Jombang juga ditempati peserta muktamar. "Puluhan kran air sudah disediakan di tempat parkir sebelah barat. Renovasi mushalla juga dipercepat agar sudah bisa digunakan saat Muktamar nanti," ujar Mukani.

Demi kenyamanan peserta dalam beribadah di mushalla, arah kiblat pun sudah diukur ulang. "Selasa (7/7) kemarin kita mengundang Ketua Lajnah Falakiyah MWCNU Diwek ustadz Abdul Majid untuk mengukur ulang arah kiblat mushalla di sekolah ini," pungkasnya. (Abu Jauhar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Pesantren, Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 Desember 2015

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mengantisipasi jatuhnya korban demam berdarah di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, GP Ansor Gerokgak mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng pada Jumat (29/1). Mereka melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Buleleng.

Dalam surat itu, mereka setidaknya mengajukan dua hal dalam rangka pencegahan demam berdarah. Mereka mengharapkan dinas kesehatan melalui petugas medis melakukan sosialisasi bahaya demam berdarah, mulai dari sebab, gejala, dan cara pencegahannya.

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Kedua, karena banyaknya genangan air dan tumpukan sampah plastik akibat intensitas hujan yang begitu tinggi, GP Ansor meminta dinas terkait mengadakan pengasapan pada wilayah-wilayah yang rawan penyakit demam berdarah.

Ketua GP Ansor gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, selama tahun 2015, di kecamatan Gerokgak ada seratus lebih kasus demam berdarah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Banyaknya kasus pada tahun sebelumnya setidaknya menjadi peringatan bagi petugas kesehatan untuk dapat meminimalisasi kasus DBD dengan cara antisipasi sejak dini,” ujar Karim. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Internasional, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 23 Desember 2015

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) menghelat seminar nasional bertajuk “Menelusuri Indikasi Pengaburan Sejarah Islam Nusantara”. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab dan Humaniora.

Acara tersebut digelar di aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (12/3) siang. Diskusi tersebut menghadirkan tiga sejarawan: Wakil Ketua PP Lesbumi NU KH Agus Sunyoto, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, dan Ridwan Saidi.

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah

Pengasuh Padasuka KH Syarif Rahmat dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjernihkan pemahaman keislaman masyarakat. “Saya harap, diskusi ini membuka cakrawala pemahaman baru sejarah kita,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyoal tentang pengaburan suatu sejarah, Kiai Syarif Rahmat memberikan satu contoh. Suatu ketika, para dukun dan tukang santet di zaman Nabi Sulaiman kehilangan pasaran. Lalu mereka bersekongkol untuk mengdongkel kekuasaan Raja Sulaiman. Mereka pun sepakat menyelundupkan sejumlah orang untuk menjadi punggawa istana Sulaiman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setelah situasi dirasa aman, mereka mengubur sejumlah peralatan sihir di bawah singgasana Raja Sulaiman. Beberapa waktu setelah Sulaiman wafat, mereka lalu berkumpul untuk mengatur strategi. Mereka membagi tugas, ada yang jadi tim gabungan pencari fakta (TGPF), ada pula yang bagian berita,” tutur Kiai Syarif menirukan mereka.

TGPF itu, lanjut Kiai Syarif, lalu meminta izin untuk masuk istana dengan dalih penyelidikan. Lalu, mereka pun membongkar apa yang pernah mereka tanam di bawah kursi Sulaiman. Mereka lalu pura-pura terkejut. Tanpa banyak komentar, mereka lalu melakukan konferensi pers yang pesertanya adalah anggota mereka sendiri.

“Singkat cerita, sejak itu terbentuklah opini bahwa Sulaiman adalah tukang sihir, pendusta yang memutarbalikkan fakta. Mereka mengambil kesimpulan bahwa Sulaiman selama ini menggunakan kekuatan sihir,” paparnya.?

Hal ini, lanjut Kiai Syarif, berlangsung hingga ribuan tahun hingga datang seorang pembaharu, yakni Nabi Muhammad SAW. Mereka lalu marah karena memandang penjelasan Rasulullah merupakan hal baru.

Rasulullah juga menjelaskan kepada mereka bahwa Baitullah yang paling tua adalah yang ada di Mekah, bukan yang di Baitul Maqdis. “Apa alasanmu, Muhammad. Sejarah kan harus ada buktinya,” kata mereka.

Lalu Rasulullah mengajukan tiga bukti dan fakta bahwa Baitullah yang di Mekah itu lebih tua. Sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani beranggapan sebaliknya. Pertama, ayat bayyinat itu ayat-ayat yang nyata. Yakni, adanya maqam Ibrahim lebih tua sepuluh generasi baru sampai Sulaiman.

“Kedua, siapapun yang masuk ke wilayah Ka’bah di Mekah merasa aman yang mana hal tersebut disepakati tiga agama karena menghormati kewingitan daerah itu. Ketiga, adanya kewajiban melakukan ibadah haji ke Baitullah, bukan ke Baitul Maqdis,” tandasnya.

Kiai Syarif berkesimpulan, peristiwa semacam itu bukan tak mungkin terjadi pada masa berikutnya. Peristiwa pemalsuan sejarah ala Yahudi dan Nasrani bisa saja terjadi di negeri tercinta ini.

“Oleh karena itu, ketika saya berkeliling sowan ke para kiai dan para tokoh, saya berpandangan bahwa sekarang ini saatnya para pendekar sejarah bicara untuk Indonesia, bukan untuk orang lain,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Anti Hoax, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah