Selasa, 14 Februari 2017

Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan orang membanjiri kawasan Bunderan Hotel Indonesia guna mengikuti Jalan Sehat Kebangsaan dan doa lintas agama yang digelar Kementerian Sosial, Ahad (5/11) kemarin. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November mendatang. 

Para tokoh lintas agama membacakan doa dengan tata cara agama masing-masing perwakilan lima agama yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Islam diwakili oleh Wakil Imam Besar Masjid Istiqlal Syarifuddin Muhammad. Lalu, Kristen diwakili oleh Ketua Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Hendriette Lebang Hutabarat.

Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Hari Pahlawan, Mensos Khofifah Gelar Doa Bareng Tokoh Lintas Agama

Kemudian, Katolik diwakili Sekretaris Komisi Hubungan Antar Umat Beragama Wali Gereja Indonesia Romo Agustinus Ulahayanan, umat Hindu diwakili oleh Astono Chandra Dana dari dari Parisada Hindu Dharma Indonesia dan umat Budha diwakili oleh Samanera Kantisilo dari Wali Umat Budha Indonesia (Walubi).

"Lewat doa bersama ini, saya berharap rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan seluruh umat beragama dapat semakin erat," ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (5/11) di Jakarta. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah berpesan agar para generasi milenial membangun semangat patriotisme dan senantiasa meneladani jasa para pahlawan bangsa. Peringatan Hari Pahlawan, kata dia, hendaknya menjadi cermin refleksi keteladanan untuk terus bekerja dan meningkatkan produktivitas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera.

Menurut Khofifah, hari pahlawan harus dimaknai sebagai upaya membangun kesadaran kolektif akan nilai-nilai kejuangan yang diimplementasikan dan direvitalisasi dari generasi ke generasi sepanjang masa sesuai dengan perkembangan zaman. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selepas doa bersama, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa lalu melepas peserta jalan sehat yang terdiri dari berbagai unsur seperti pelajar, keluarga besar Kementerian Sosial, Pramuka, organisasi masyarakat, Komunitas Sepeda Onthel, Kowani, Muslimat NU, Suporter Sepak Bola, Karang Taruna, keluarga pahlawan dan masyarakat umum.

Jalan Sehat tersebut dimulai dari Jalan Imam Bonjol menuju Bunderan HI kemudian ke Jalan MH Thamrin dan berbalik arah di perempatan Sarinah kembali ke Bunderan HI. 

Sejumlah lomba turut digelar untuk memeriahkan acara tersebut diantaranya lomba baju adat dan lomba kostum pahlawan. Panitia membagikan banyak hadiah doorprize kepada peserta jalan sehat. 

Dirjen Pemberdayaan Sosial, Kementerian Sosial Hartono Laras mengatakan di waktu yang bersamaan, jalan sehat kebangsaan juga digelar di beberapa daerah. 

Sementara itu, puncak peringatan Hari Pahlawan akan berlangsung di TMP Kalibata yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat, 10 November. Pada saat yang sama juga dilakukan tabur bunga di laut dengan menggunakan KRI Soeharso dipimpin Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang. 

Masyarakat diharapkan mengheningkan cipta pada pukul 08.15 waktu Indonesia setempat selama 60 detik sebagai tanda penghormatan dan mengenang jasa para pahlawan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 09 Februari 2017

Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi

Kupang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Konfercab ke-5 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kupang, berlangsung ? di aula Dinas Pertanian Provinsi NTT, Rabu (31/12). Selesai konferensi, pengurus baru PMII Kupang menyelenggarakan Pelatihan Kader dasar (PKD).

Sekretaris Mabincab ? PMII Kupang Samsudin Ridwan menganjurkan agar kader PMII harus mengembang potensi. “Lingkungan organisasi akan membentuk Anda dan harus memiliki jati diri yang bisa menghidupkan diri sendiri.”

Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab ke-5, PMII Kupang Berlanjut Kaderisasi

Samsudin berharap ketua terpilih sudah memiliki agenda yang baik. Karena, ada karakter pemimpin yang buruk. Kehadirannya tidak disenangi. Sementara ketidakhadirannya disyukuri banyak orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum konferensi, Ketua PMII Kupang Tadjudin M Nur berharap ke depan organisasi pergerakan ini lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. “Kegiatan ini merupakan pesta kita bersama. Diharapkan menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pelaksanaan konfercab ke-5 ini.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia konferensi Adhar mengatakan, PMII tidak terlepas dengan perhelatan persoalan sosial di masyarakat. Untuk itu, sebagai organsisasi mahasiswa kader PMII tetap bertekad untuk memperjuangkan kemajuan dan daerah ini melalui berbagai kondisi riil di lapangan.

Konferensi berlangsung selama tiga hari sejak Rabu-Ahad (31/12-4/1). “Karena selain konferensi kegiatan ini dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar (PKD),” kata Adhar. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Makam, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

KHA Musallim Ridlo adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, dan menjabat Ketua NU Banyumas selama tiga dekade. Beliau wafat seratus hari silam, tepatnya tanggal 1 Mei 2014, pada usia 84 tahun.

“Warga Nahdliyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Musallim adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela NU,” kata Drs H Taefur Arofat, salah satu pengurus PCNU Kabupaten Banyumas.

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

?

Tokoh kelahiran 27 Februari 1932 ini tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Musallim kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KHA Masruri. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musallim mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak. “Dulu ayah mengaji dari jam 3 dini hari hingga waktu Subuh tiba,” tutur M Ibnu Ridlo (50), putera sulung almarhum.

Selain mengaji ilmu agama, Musallim muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD). Ternyata, kepiawaian Musallim dalam ilmu agama telah diakui sang ayah sekaligus guru saat usianya relalif muda. Suatu hari KHA Masruri akan mengimami salat jamaah seperti hari-hari biasa namun beliau merasa was-was saat hendak takbiratul ihram. Lantas, beliau memilih mundur dan meminta Musallim menggantikannya sebagai imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setamat SR, pemuda Musallim melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “KH Wahid Hasyim adalah inspirator ayah dalam banyak hal,” kata M Ibnu Ridlo.

Kepergian KH Wahid Hasyim yang begitu tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sungguh memukul hatinya. Konon, semangat pemuda Musallim sempat drop sepeninggal Kiai Wahid. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, beliau melanjutkan studi ke pesantren asuhan KH Bisri Mustofa di Rembang, JawaTengah. Sepulang nyantri dari Tebuireng dan Rembang, Kiai Musallim mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Beliau mendapat amanah sebagai Ketua Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Yayasan Perguruan Al-Hidayah yang berkantor pusat di Karangsuci Purwokerto bersama KH Muslich, KHM Sami’un, dan sejumlah ulama lain.

?

Politik dan Dakwah

Kiprah sebagai wakil rakyat dimulai saat beliau terpilih sebagai anggota DPR-GR Jawa Tengah (1971). Selanjutnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas hingga tahun 1992. Semasa Ketua DPRD Kabupaten Banyumas dijabat Kisworo, dirinya menjabat Wakil Ketua DPRD bersama Agus Taruno.

Pada 1992-1997 KHA Musallim duduk sebagai anggota DPR-RI dari PPP. “Dalam dunia politik, Kiai Musallim dikenal sebagai sosok yang lurus ibarat penggaris; lempeng kaya garisan,” ujar Bupati Achmad Husein, seperti ditirukan M Ibnu Ridlo.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blakasuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Eyang Singa setiap malam Jumat Kliwon mengisi acara Gendu-Gendu Rasa di RRI Purwokerto. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam upaya nguri-nguri (baca: melestarikan) Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Demikian halnya dengan KHA Musallim Ridlo. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Musallim adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KHA Musallim Ridlo telah berpulang ke hadirat Allah, Kamis (1/5) silam. Jenazah almarhum dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Al-Masruriyah Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dari pernikahannya dengan Nyai Solihah, beliau dikaruniai lima orang putra: M Ibnu Ridlo, Niswati Amanah, M Aman Ridlo, HM Maskun Ridlo, dan M Hanif Ridlo. Kini dakwah beliau di Pesantren Al-Masruriyah dilanjutkan HM Maskun Ridlo alias Gus Maskun. (Akhmad Saefudin)

Foto: KHA Musallim Ridlo (kanan) saat bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 08 Februari 2017

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Tulisannya sering muncul di kolom berbagai surat kabar. Temanya begitu menyejukkan, tentang Islam Rahmatan lil Alamin, tentang keadilan. Para pembaca menjadi ikut tercerahkan dan membuat orang menjadi tertarik akan konsep Islam yang damai.

Pada Rabu sore (19/6), wartawan NU Online, Ajie Najmuddin, berkunjung ke rumahnya, di Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Sukoharjo. Saat ditemui, Pak Dian, begitu dia biasa dipanggil, baru selesai mengatur kursi yang akan digunakan untuk acara akhirussanah RA Al-Muayyad Windan, esoknya. Ditemani suguhan lotis dan segelas teh hangat, mereka memulai pembicaraan.

Tulisan anda di media massa, banyak yang bertemakan gagasan Islam yang damai, apa tujuannya?

Saya hanya ingin menggambarkan sedikit tentang nilai-nilai yang saya dapatkan di pesantren. Tentang nilai kebenaran, keluhuran, persaudaraan dan sebagainya. Semuanya saya dapatkan dari para guru saya di pesantren.

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Mengenai nilai-nilai di pesantren, bisa sedikit anda jabarkan?

Tentang kebenaran. Kebenaran ini bisa diartikan, yakni kesesuaian dengan 6 hal ini; norma, hukum, ilmu, fakta, realita, dan perikatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kesesuaian perikatan, maksudnya?

Sebagai orang indonesia, kita semestinya juga menyesuaikan diri dengan menerima Pancasila dan UUD, karena itu merupakan sebuah perjanjian atau ikatan dari para pendiri bangsa.

Selain nilai-nilai di pesantren yang anda sebutkan, anda juga menyebut sekilas tentang guru. Siapa guru yang paling menginspirasi anda?

Alm. Kiai Umar Abdul Mannan (Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, wafat tahun 1980,-red). Beliau adalah sosok yang menginspirasi. Saya ceritakan salah satu kisah beliau, pernah suatu ketika beliau mendapat kiriman surat bertinta hitam. Diperlihatkannya surat tersebut kepada saya, isinya begitu keras dan kasar bahasanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beliau bertanya, “Saya harus bagaimana?”.

Akhirnya beliau justru sowan ke sang pengirim surat. Meminta klarifikasi atas surat tersebut. dan tidak ada lagi konflik setelahnya. Inilah salah satu teladan keluhuran dari beliau.

Saat ini anda juga dikenal sebagai pemilik sebuah radio, apa motivasi anda mendirikannya?

Saya bukan pemilik, hanya mengelola. Tujuannya untuk mengembangkan sapaan kepada publik Solo Raya. Juga untuk memperkuat warga Nahdliyyin melalui media massa.

Selain itu, saya selalu memegang 3 hal ini, pun dalam mendirikan radio ini. Tiga hal yakni, untuk meraih prestasi vertikal (dapat juga dimaknai mendekat ke Tuhan), kita harus bertindak baik pula ke horizontal (sesama makhluk).

Kedua, bertindaklah inklusif jangan eksklusif. Radio ini bisa berkembang dengan bagus, karena kita merangkul semua. Bahkan pendengar kita mayoritas anak muda. Tapi di sisi lain, kita sisipi dengan siraman rohani.

Ketiga, apabila terjadi konflik senior-yunior, maka senior mesti melakukan afirmasi kepada yunior. Juga dalam setiap hal, mesti ada sinergitas dan kolaborasi antara keduanya.

 

*

M. Dian Nafi’ lahir di Sragen pada 4 April 1964. Ia adalah anak ketiga dari delapanbersaudara. Ayahnya, Kiai Haji Ahmad Djisam Abdul Mannan, merintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah, yang kini diasuh kakak iparnya. Sementara kakeknya, Kiai Haji Abdul Mannan, adalah pendiri Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, salah satu pesantren Al-Quran yang terkenal di Solo.

Pertemuannya dengan beberapa tokoh rekonsiliasi kemudian membawanya bergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Common Ground Indonesia, dansebagainya. Pertemuan dan pendidikan yang diikuti di luar negeri adalah Disaster Management Training di Africa University Zimbabwe, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).

Saat ini, ia mengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Sukoharjo, yang merupakan pengembangan dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Nahdlatul, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat kelas dua madrasah aliyah A Hisyam Karim (39) secara tidak sengaja membaca buku Filsafat Eksistensialisme. Rupanya buku filsafat itu membuatnya tertarik untuk mempelajari filsafat lebih lanjut.

"Sejak saat itu saya berpikir filsafat itu menarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi," kata Hisyam di Subang. Jumat (20/5).

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Setelah lulus aliyah pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuludin Universitas Islam Bandung (Unisba). Dua tahun kemudian, keinginan untuk mempelajari filsafat membuat Hisyam pindah kuliah ke Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Jakarta.

"Saat mondok hanya disajikan satu kebenaran saja, tapi pas kuliah di filsafat ternyata kebenaran itu banyak. Makanya dulu teman saya ada yang pakai salib, tidak sholat dan lain-lain karena punya landasan berpikir tersendiri," tambah pendiri Forum Studi M@kar (Manbaul Afkar) Ciputat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah lama berkecimpung dalam dunia filsafat, muncul kegelisahan dalam batinnya karena diakuinya filsafat untuk konsumsi akal. Sementara hati yang menjadi tempat aneka rasa tidak terisi sehingga batinnya menjadi hampa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam melanjutkan, setelah lulus kuliah pada tahun 2004 Hisyam sering sowan kepada Kiai Nawawi yang merupakan sahabat bapaknya. Kemudian pada tahun 2009, Hisyam memberanikan diri untuk bercerita kepada Kiai Nawawi tentang kegelisahan batinnya.

"Saat itu dengan sikap tawadlu Kiai Nawawi mengantar saya ketemu kakaknya, Kiai Sayuti," ungkapnya.

Hisyam menceritakan, Kiai Sayuti adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi adalah khalifahnya. Saat bertemu dengan Kiai Sayuti, Hisyam langsung dibaiat menjadi murid Tarekat Syattariyah.

"Setelah dibaiat, sambil salaman. Alhamdulillah, usai salaman dengan Kiai Sayuti kegelisahan batin yang mengendap dalam diri saya langsung hilang saat itu juga, langsung plong," jelas alumni Pascasarjana STAINU Jakarta yang menulis tesis tentang Peran Kiai Sayuti dalam Menyebarkan Tarekat Syattariyah Itu.

Hisyam mengakui, filsafat memang penting untuk dipelajari karena berdasarkan pengalamannya, dengan mempelajari filsafat manusia bisa berpikir terbuka namun tetap kritis sehingga dalam menerima pemikiran tidak menelan mentah-mentah.

"Selain itu juga dengan belajar filsafat kita bisa berusaha untuk bersikap adil. Kita juga bisa menemukan solusi aneka masalah dengan menggunakan teori-teori filsafat, dan masih banyak lagi tentunya," jelas Hisyam yang saat ini menjabat Ketua NU Caracas itu.

Namun demikian, menurut Hisyam, dalam mempelajari filsafat sebaiknya dibarengi juga dengan mengamalkan ajaran tasawuf seperti masuk salah satu tarekat mutabarah. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan kebutuhan hati.

"Sekali lagi saya tegaskan, ini subjektif pengalaman pribadi saya, tentu yang lain juga punya pengalaman sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 Februari 2017

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU berencana akan mengumpulkan para pengasuh pesantren se-Jawa. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat peran pesantren di tengah masyarakat.

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Draf acuan kegiatan (ToR) yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah menyebutkan, pertemuan para kiai ini akan diwujudkan dalam bentuk halaqah bertema “Penguatan Peran Pesantren sebagai Pusat Peradaban” di Jakarta, 29-30 Desember 2012.

Rencananya, 40 pengasuh pesantren yang menjadi peserta akan memetakan potensi pesantren, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya; merumuskan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor; serta merumuskan aksi bagi upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bersama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, RMI bertekad akan mengembalikan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu.

“Pesantren tidak hanya  menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya,” demikian bunyi ToR acara halaqah pengasuh pesantren ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 02 Februari 2017

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah