Sabtu, 02 Desember 2017

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan ibadah haji lebih dari sekali baik, sudah jelas mubah menurut agama. Namun pelaksanaan haji lebih dari sekali di tengah keterbatasan kuota haji, jelas memasukkan pelakunya ke dalam daftar mereka yang berperilaku tercela. Pasalnya, pelaksanaan haji lebih dari sekali jelas mengurangi kuota calon haji wajib.

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral

Isu ini mengemuka dalam forum bahtsul masail pra muktamar NU yang diadakan PBNU di pesantren Krapyak, Yogyakarta, Sabtu-Ahad (28-29/3).

Beberapa kiai mendasarkan perilaku tercela ini pada ghosob yang secara otomatis hukumnya haram. Menurut mereka, orang yang melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali merampas secara nyata hak kuota orang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu peserta forum ini KH Muzammil menerangkan bahwa ibadah haji kedua atau ketiga hukumnya sunah. Ini sudah maklum. Tetapi hukum haji tidak wajib (kedua atau ketiga kali) yang menghalangi orang lain menunaikan haji wajib ialah haram baik dilarang pemerintah atau tidak. Karena dasarnya, merugikan orang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Alasan kedua, secara moral orang yang berhaji dua kali mencederai muru’ahnya (harga diri) karena menghamburkan harta (isrof). Menurut Imam Ghozali, termasuk orang yang terpedaya ialah infaq untuk keperluan haji beberapa kali sementara ia meninggalkan tetangga dalam keadaan lapar,” kata Ketua LBM PWNU Yogyakarta mengutip nukilan dari Ihya Ulumiddin di hadapan sedikitnya 40 kiai NU.

Kiai Muzammil juga mengutip qaul Ibnu Masud RA, “Di akhir zaman banyak orang haji tanpa sebab”. Karena itu, Dirjen Haji Kemenag RI perlu membuat aturan penundaan keberangkatan untuk mereka yang pernah melaksanakan haji.

Sedangkan mereka yang pernah ibadah haji perlu menyadari untuk menunda pendaftaran demi memberi kesempatan ibadah haji bagi saudara lain yang belum menunaikannya. Alangkah baiknya ia mengalokasikan dananya untuk kesejahteraan tetangga di sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pertandingan, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 tahun 2017 yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Ahad (22/10) membawa berkah tersendiri.

Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI

Pasalnya pada peringatan HSN kali ini, IPNU Jatim dan Pondok Pesantren Nurul Jadid menerima Piagam Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dari Senior Manager MURI Sri Widiyati atas penyelenggara sajian nasi Tabheg terbanyak.

Pada peringatan HSN ke-3 ini, IPNU Jatim dan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menggelar makan nasi tabheg (bungkus) bersama Kegiatan ini diikuti sedikitnya 12.297 santri dari pondok pesantren se-Jawa Timur. Secara bersama-sama mereka memakan nasi tabheg sebanyak 1.025 porsi dengan nasi dan lauk seadanya di Lapangan Kampus Terpadu Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan makan nasi tabheg bersama ini dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Zuhri Zaini beserta seluruh kepala pesantren. Serta KH. Zainul Mu’in dari Situbondo dan Junaidi Mut’hi dari Bondowoso. Tidak ketinggalan pula Ketua PW IPNU Jawa Timur Haikal Atiq Zamzani.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Suasana keakraban terlihat jelas dari raut muka para santri se-Jawa Timur. Meskipun tidak saling mengenal dan berada di bawah terik matahari, puluhan ribu santri ini sangat antusias dengan acara yang telah mencatat Rekor MURI tersebut.

Zaskia Sholeha, salah satu santri yang mengikuti makan nasi tabheg bersama mengungkapkan bahwa nasi tabheg merupakan ciri khas pondok pesantren dimana hanya ada saat ada kiriman dari orang tua santri. Kini nasi tabheg sudah digantikan dengan nasi kotak.

“Dengan acara ini, kita diajak kembali ke budaya pesantren berupa makan nasi tabheg. Tidak terasa meski terik matahari, karena bisa kumpul dan makan bersama para santri se-Jawa Timur. Inilah yang membuat kita bangga luar biasa, meskipun masih tidak saling kenal,” katanya.

Sementara Kepala Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid mengatakan kegiatan ini dimaksudkan karena ingin meneguhkan dan mengokohkan kemandirian santri. Dari hal tersebut diharapkan santri bisa mengkontribusikan dirinya untuk kemajuan bangsa. “Dalam sejarah, santri telah memberikan sumbangan tenaga dan kontribusi nyata terhadap bangsa dan negara,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat melantik Pengurus Ranting NU Desa Tanjung Dalam, Kecamatan Pagelaran, periode 2016-2021, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu KH Hambali berpesan agar segenap pengurus dapat mempertahankan amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah di wilayahnya.

"Saya harap pengurus tidak hanya cukup dilantik. Namun ikrar yang diucapkan harus diwujudkan dalam kerja nyata. Salah satu wujudnya adalah memperhatikan dan memperhatankan ciri khas amaliyah NU," katanya saat melantik pengurus tersebut yang dibarengkan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (25/12).

PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU

Menurut Kiai Hambali yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pringsewu ini, salah satu tugas pengurus NU adalah memberikan pencerahan dan penjelasan kepada warga NU terkait permasalahan tentang agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam menjalankan tugas, Kiai Hambali juga berharap agar pengurus dapat dengan ikhlas dalam berkhidmah. "Semoga pengurus dapat berkiprah dengan ikhlas dan ini akan menjadi lahan ibadah bagi kita, " jelasnya seraya berharap pula pengurus NU akan termasuk dalam gerbong Hadratussyekh Hasyim Asy’ari besok di hari akhir.

Pada kesempatan tersebut Kiai Hambali memotivasi para pengurus dengan mengingatkan pesan pendiri NU KH Hasyim Asyari bahwa siapa pun yang mengurus jamiyyah NU adalah santrinya dan didoakan hidup barakah, memiliki keturunan yang sholeh dan sholehah serta husnul khotimah saat bertemu dengan Allah SWT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepengurusan Pengurus Ranting NU Desa Tanjung Dalam dilantik berdasarkan Surat Keputusan PCNU Kabupaten Pringsewu Nomor 77/PC/A.II/013/IV/2016. Sebagai Rais di jajaran Syuriyah Kiai Hasanusi dan Ketua Tanfidziyah Ustadz Wagirin. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sifat kebudayaan yang pragmatis atau lebih dikenal dengan kebudayaan populer, kini menjadi tantangan bagi Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) untuk menghasilkan kebudayaan dan kesenian yang manusiawi dan berkualitas.

“Ini membutuhkan pemikiran besar dan visioner bahwa ke depan kita harus menguasai dan kita berjuang kembali dari nol. Sebenarnya orang yang segaris dengan Lesbumi masih banyak, cuma masih berserakan, ” tutur Pemimpin Redaksi Pondok Pesantren AttauhidiyyahMun’im DZ saat memberikan kilas balik Lesbumi dalam rapat koordinasi Pimpinan Pusat Lesbumi di Jakarta, Sabtu.

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan

Dikatakan Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) itu, Lesbumi sendiri dilahirkan pada tahun 1962 sebagai respon terhadap kondisi politik saat itu. Lesbumi menentang Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dengan konsep Manifesto Kebudayaan-nya atau dikenal dengan istilah Manikebu. Selain PKI sendiri, Lesbumi menentang keras imperialisme Barat.

Sejak awal berdirinya, Lesbumi tidak hanya hidup untuk berkesenian seperti prinsip yang dimiliki oleh Manikebu dengan prinsip art for art atau berkesenian untuk kesenian sementara Lesbumi prinsipnya art for humanity atau seni untuk kemanusiaan. “Apakah ini masih bisa kita pegangi terus atau kita ikut manikebu yang indah-indah, yang bagus-bagus, tanpa ada misi-misi kebudayaan dan moral tertentu,” paparnya.

Namun Mun’im percaya bahwa sebuah arus akan mengalami titik jenuh, hal yang sama juga akan dialami oleh kesenian pop. Karena itu Lesbumi diharapkan bisa menampilkan karya-karya lama berkualitas yang dimasa mendatang bisa menjadi spirit dan mainstream baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Dijelaskannya bahwa sebenarnya keberadaan Lesbumi waktu itu tidak hanya berfungsi sebagai badan otonom atau lembaga NU, tetapi sebagai think thank di bidang politik kebudayaan. Karena itu, keberadaan dewan kebudayaan saat ini sangat penting untuk menjalankan fungsi tersebut.

Pada masa Trikora untuk memperebutkan Irian Barat Lesbumi mendukung dalam berbagai kegiatan kesenian. “Disini, dewan kebudayaan bisa mengendalikan arah politik dan menjalankan misi politik untuk kebebasan,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU juga mendukung revoluasi yang belum selesai yang dicetuskan oleh Soekarno. Dukungan ini terkait dengan pembelaan NU terhadap Pancasila yang menurut Soekarno merupakan produk filsafat yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada Declaration of Human Right dan Manifesto Komunis.

Mun’im menjelaskan kekuatan imperialis Barat bekerjasama dengan Orde Baru telah mematikan budaya dan kesenian yang berbasis pada kerakyatan dan kebangsaan. Ini untuk menjaga kepentingan politik imperialis, dan hal ini menguntungkan Orde Baru karena dengan hilangnya nuansa kerakyatan dan kebangsaan pada seni dan budaya maka akan muncul seni dan budaya baru yang menjadi ciri khas Orde Baru.

Pada waktu itu, Lesbumi paling menguasai teknologi perfilman dan mampu menghasilkan film-film berkualitas ketika Lekra yang dianggap paling maju belum bisa membuatnya. Film seperti Darah dan Doa dan Film Pagar Kawat Berduri mencerminkan visi yang dimiliki Lesbumi.

Di sisi lain, Lesbumi juga tidak meninggalkan kesenian tradisional di masyarakat tingkat bawah mengingat NU sangat menghargai keragaman seni. “Ada yang selera seninya tinggi, menengah, atau rendah, sehingga semua harus dikelola, kalau seleranya baru kuda lumping atau reog ya harus ditanggapi,” (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketum PBNU dan Grand Syekh Al-Azhar Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Dakwah

Kairo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Indonesia adalah negara multi etnis, multi agama dan multi bahasa, dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa, Indonesia tetap bersatu dalam sebuah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasar Pancasila.

Umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas mampu menaungi keragamaan yang ada dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Ini adalah kesyukuran yang sangat mendalam, karena keragaman yang ada tidak menjadi kendala untuk bernegara dalam sistem demokrasi yang disepakati oleh semua komponen bangsa.

Ketum PBNU dan Grand Syekh Al-Azhar Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU dan Grand Syekh Al-Azhar Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU dan Grand Syekh Al-Azhar Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Dakwah

Poin tersebut disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj kepada Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Mohamed Al-Tayeb saat bertemu di sela-sela kegiatan Konferensi Internasional Kebebasan, Kewarganegaraan, Keragaman dan Persatuan di Hotel Fairmont Kairo, Rabu (1/3).

Kiai Said menambahkan, sebagai negara dengan penduduk muslim sunni terbesar, Indonesia saat ini mendapat tantangan yang cukup besar, khususnya dengan maraknya kelompok-kelompok Islam beraliran liberal dan radikal.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dua kelompok ini terus berupaya untuk menyudutkan penganut ahlussunnah wal jamaah yang mengutamakan tawasut, tawazun dan tasamuh, mereka berkeinginan untuk membawa mayoritas umat Islam kepada radikalisme dan liberalisme.?

Untuk itu, Nahdhatul Ulama (NU) sebagai salah satu benteng ahlussunah waljamaah terbesar di Indonesia selalu berupaya untuk merangkul semua kelompok agar kembali kepada Islam yang penuh rahmat, Islam yang penuh kasih sayang melalui risalah kemanusiaan Islam rahmatan lilálamin.

Pada saat yang sama, Grand Syekh Al-Azhar Mesir, Syekh Ahmad Mohamed Al-Tayeb selaku Ketua Muslim Cauncil of Elders (Majelis Hukama el-Muslimin) dan Pimpinan Tertinggi Al-Azhar menegaskan bahwa NU dan Al-Azhar memiliki misi yang sama. Saat ini Al-Azhar sebagaimana NU juga mendapat tantangan yang memerlukan kerja keras untuk menghadapinya.?

Menurut Ahmad Tayeb, Al-Azhar bisa bertahan hingga seribu tahun lebih antara lain adalah karena Al-Azhar senantiasa merangkul semua golongan, berusaha menjadi penengah setiap konflik antar golongan, dan menempatkan risalah Islam yang moderat dan toleran sebagai perisai perjuangan mempertahankan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Grand Syekh Al-Azhar menambahkan, posisi di atas tidak jarang disalahpahami oleh kelompok-kelompok yang tidak punya itikad baik terhadap persatuan Islam. Tidak jarang kebijakan yang dikeluarkan oleh Al-Azhar ditentang oleh kelompok-kelompok yang ada, kelompok yang keras menuduh Al-Azhar liberal, sementara kelompok liberal menuduh Al-Azhar radikal. Tetapi itulah risiko posisi di tengah, moderat, banyak yang ingin menarik ke kiri atau ke kanan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sinergi pendidikan dan dakwah

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Grand Syekh Al-Azhar dan Ketua Umum PBNU juga membahas upaya kerja sama pendidikan dan dakwah antara Al-Azhar dan NU.

Kiai Said menjelaskan kepada Ahmad Tayeb, pesantren yang ada dalam naungan NU saat ini mencapai 12 ribu lebih. Mereka mewarisi metode belajar Islam seperti yang pernah dilakukan oleh Al-Azhar.?

Selain itu, tidak sedikit dari pesantren-pesantren ini yang mengembangkan pendidikan modern dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap dalam nuansa pesantren yang menekankan pentingnya akidah, akhlak, dan syariah.

Grand Syekh Al-Azhar yang cukup antusias mendengarkan penjelasan Ketua Umum PBNU tentang pendidikan dan dakwah di Indonesia menawarkan berbagai bentuk kerja sama untuk meningkatkan pendidikan dakwah Islam yang rahmatan lil alamin sesuai dengan risalah Nabi Muhammad SAW. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 01 Desember 2017

KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem

Kakak alm Mbah Abdus Salam, Pak Udin berpenampilan sederhana dan rendah hati putra Kiai Mahfudz mewakili keluarga turun langsung selama jalannya renovasi. Makam pejuang tanpa pamrih itu yang telah ditata rapi oleh Pengurus Masjid semakin nyaman bagi peziarah dengan dibangun lantai kramik oleh pihak keluarga.?

Letak makam di sebelah selatan Makam Mbah Sambu, hanya berjarak 6 meter. Mudah ditemui, jika berjalan menuju pintu masuk makam Mbah Sambu, sebelumnya peziarah akan menemukan makam Kiai Mahfudz. Di Komplek Masjid Jami Lasem juga terdapat makam tokoh perang sabil yang dikenal juga dengan nama perang kuning tahun 1751 yaitu KH Ali Baidlowi atau Ki Joyo Tirto, timur makam Mbah Sambu

KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mahfudz Cholil Tokoh Pejuang Kemerdekaan dari Lasem

Kiai Mahfudz kakak Kiai Mansyur ayah dari Gus Qayyum. Putra KH Cholil Lasem salah satu pendiri NU, terbilang Keponakan Mbah Mashoem Lasem, merupakan putra Kyai Abdur Rasyid mantan Kepala Desa Soditan yang selama hidupnya tercatat sebagai Kontraktor pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, sehingga banyak warga Lasem diikutkan bekerja.?

Untuk mengenangnya, dulu tokonya di Alun-alun Lasem diberi nama Toko Tanjung Perak, kemudian dibongkar terkena pelebaran jalan raya Lasem-Jatirogo. Jiwa pejuang KH Mahfudz Cholil juga menurun dari kakek jalur ibu yaitu juga bernama Kyai Mahfudz ayah dari KH Sahal Mahfudz Kajen Pati, yang gugur dalam Perang Palagan Ambarawa melawan penjajah, wilayah perjuangan Panglima Besar Jendral Soedirman.?

Dari garis ibu juga ada pertalinan kerabat dengan KH Abdullah Salam Kajen dan KH Syansuri Badawi Denanyar. ? Teman seperjuangan Kyai Mahfudz Cholil antara lain KH A Hamid Syarif Pohlandak, KH Zuber ayah KH Maemun Zuber Sarang, dan Kolonel Suyono mantan Bupati Jember.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selama masa perjuangan di Kab Rembang hidup berpindah-pindah, bergrilya di Watu Pecah, Sedan, Lasem dll, sehingga Pak Udin anaknya lahir di Luar Lasem. Kyai Mahfudz lahir tahun 1920, wafat tahun 1973, pada usia 53 tahun. Beliau biasa disapa Gus Fud, di akhir hidupnya banyak berhidmat di Masjid Jami Lasem aktif mengelola dan merenovasi Madrasah Jailaniyah.

Pasca perjuangan fisik, di masa damai mengundurkan diri dari barak militer kembali ke pesantren atau pengabdian di masyarakat berpangkat Letnan, sebagian teman beliau mengurus status veteran, ada pula yang melebur/ masuk TNI melalui proses seleksi pangkat, tes baca tulis dan lain-lain. Sebagaimana tertulis dalam sejarah Laskar Mujahidin Hizbullah, PETA, BKR, TKR sampai pembentukan TNI.

Tahun 1966 beliau menjadi Kordinator Latihan Tutup Tahun Wisuda AKABRI dulu bernama AMN, Posko latihan berpusat di Soditan Lasem. Berupa latihan darat, laut dan terjun payung di Pemotan, Sedan dan Lapangan sekarang jadi ? Pasar Lasem.?

Dihadiri langsung Jenderal Ahmad Taher selaku Gubernur AKMIL, pemerintah kemudian memberikan Piagam Penghargaan atas suksesnya latihan tersebut. Ahmad Taher kemudian menjadi menteri, termasuk Jenderal Agum Gumelar menantunya dan anaknya. (Abdullah Hamid)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gusdurian Lampung kembali menggelar “Riungan Kebangsaan” di Bandar Lampung. Kegiatan ini diadakan dengan melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor Lampung, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari) dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

Penggiat Gusdurian Lampung Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Jumat (14/8) menjelaskan, Riungan Kebangsaan akan menghadirkan beberapa narasumber utama Fatah Yasin, aktivis lingkungan hidup dari PW GP Ansor Lampung Fatah Yasin, penyuluh Agama Budha Kantor Wilayah Kementerian Agama Lampung Supriyadi, Komisi Kerasulan Awam dari Keuskupan Tanjungkarang Sr. Vincentia HK, pemuka Agama Hindu, serta pegiat Majelis Semaan Al Qur’an dan Dzikrul Ghofillin.

Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung

"Riungan Kebangsaan dan Donor Darah" digelar di Gedung B Aula Pasca Sarjana, Kampus IBI Darmajaya, Kamis (20/8) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Tema dibahas ialah "Bagaimana Agama-Agama Memandang Lingkungan Hidup?"

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian acara perayaan HUT ke-21 AJI yang jatuh pada 7 Agustus lalu," ujar Gatot yang juga anggota AJI Bandar Lampung itu menambahkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sekretaris AJI Bandar Lampung Wandi Barboy Silaban melanjutkan, panitia mengundang jurnalis, aktivis lingkungan hidup, tokoh-tokoh agama, mahasiswa pecinta alam, lembaga mahasiswa keagamaan, serta para pelajar untuk hadir bersilaturahmi dan menyumbangkan pemikirannya dalam Riungan Kebangsaan.

"Kami sengaja mengundang orang-orang yang aktif di bidang keagamaan untuk memberi perspektif bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan dari sisi agama," ujar Wandi lagi.

Menurutnya, walaupun ada narasumber utama, tapi konsep diskusinya seperti ILC (Indonesian Lawyer Club). Akan ada moderator memandu, yakni Ponita Dewi, Duta Genre atau Generasi Terencana 2013.

"Semua yang hadir bisa berpartisipasi menyumbangkan pemikiran. Kami juga berharap para peserta Riungan Kebangsaan serta masyarakat umum untuk datang dan berkenan mendonorkan darahnya mengingat hal tersebut merupakan bagian dari partisipasi dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Bagi yang berminat donor darah bisa menghubungi Disisi Saidi Fatah, Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 di nomor 082377505585," kata Wandi. (Teddy Heriyanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah