Sabtu, 03 Maret 2018

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Kedatangan Ethan Zohn, mantan bintang sepak bola Timnas Amerika, disambut hangat dan meriah oleh para santri di Pondok Pesantren Darul Muttaqin. Ethan yang sudah tiga kali menjadi survivor kanker ini memang aktif di dunia pendidikan dan anak-anak selepas dari karirnya di bola.

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Co-founder Grassroots Soccer ini menyengajakan diri mengunjungi pesantren atas fasilitasi Kedubes Amerika setelah mendengar gaung Liga Santri Nusantara (LSN). Melalui yayasannya, Ethan Zohn mengkampanyekan pendidikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kali ini kunjungannya ke pesantren juga dilatarbelakangi oleh informasi bahwa para santri hidup dalam kesederhanaan bahkan tidak sedikit yang kekurangan.

Bertempat di lapangan sepak bola Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis Tangerang, Ethan memberikan coaching clinic kepada dua kesebelasan dari Ponpes Darul Muttaqin Tangerang dan Ponpes Ar Roisiyah Tangerang Selatan. 

Didampingi asistennya, Bryan, mantan kapten kesebelasan Maccabee Amerika Serikat tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut. Kedua kesebelasan tersebut masing-masing adalah juara dan runner-up Liga Santri Region Banten tahun ini.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Tanpa malu-malu, para santri belia tersebut berinteraksi dengan Ethan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak hanya memberikan materi teknik sepak bola, Ethan juga memberikan motivasi kepada para santri. Ethan mengisahkan lika-liku kehidupannya hingga akhirnya bisa merumput di dunia sepak bola Amerika Serikat sebagai pemain professional bahkan bintang. Ia juga menceritakan pengalamannya bertahan dari serangan kanker dan bersyukur bisa selamat hingga kini.

"Sepak bola itu kadang penuh misteri. Kadang Anda tidak tahu akan seperti apa Anda ke depannya. Tetapi bermimpilah dan wujudkan mimpi itu. Awal karir saya di sepak bola adalah kiper cadangan. Ini membuat saya merasa tak berkecil hati karena tidak selalu dimainkan. Hingga suatu ketika saya mendapatkan titik balik dan tumbuh seperti ini," kata Ethan memotivasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Ethan menambahkan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter pesepak bola yang kuat. "Sepak bola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin dan tanggung jawab. Sepak bola adalah kerjasama dan adaptasi, kita harus membuang egoisme dan rasa ingin tampil mencolok," imbuhnya. 

"Berlatih sepak bola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepak bola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik," tambah Ethan seraya memotivasi santri. 

Coaching clinic lalu dilanjutkan dengan pertandingan ekhibisi. Dalam pertandingan ini para pemain Liga Santri Nusantara tersebut tampak bersemangat setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Ethan Zohn yang merupakan kiper dan sekaligus kapten tersebut. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Sholawat, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Maret 2018

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi

Bagi Drs. Suhardi, M.Pd.I., Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Pamulang, Banten, terget yang ditetapkan oleh madrasah harus jelas dan kongkret. Setiap tahun madrasah yang dipimpinnya harus mendapatkan prestasi, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga untuk berbagai kompetisi non akademik.

Suhardi tercatat oleh Kementerian Agama sebagai salah satu kepala madrasah yang luar biasa. Madrasah yang dulunya tidak diminati bahkan tidak dikenal, sekarang diperebutkan oleh para orang tua calon siswa baru dan mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Para siswa MTsN 2 Pamulang juga mencatatkan segudang prestasi tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Di luar bidang akademik, MTs ini tercatat pernah memenangi lomba UKS, Juara Umum Porseni beberapa bidang olahraga, marcing band, dan kontes robotik. Untuk marching band, madrasah ini telah memeroleh Piala Wakil Presiden 2010 dan Piala Presiden 2010. Untuk robotik, MTsN 2 Pamulang bahkan sampai memperoleh juara pda kontes robotik tingkat internasional di Malaysia.

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi

Suhardi punya cerita tersendiri mengenai awal mula kegiatan marching band di madrasahnya. “Tahun 2010 saya punya waka kesiswaan yang hobi marching band. Lalu saya tantang, kamu bisa nggak bikin marching band berkelas nasional? Katanya, bisa pak. Saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi kata dia, gampang pak. Kita jalan-jalan ke pasar baru lihat toko-toko marching band yang bagus-bagus nanti kita kerjasama saja,” katanya.

“Akhirnya kita pergi ke pasar baru. Ketemulah toko Wijaya milik orang India. Saya katakan, saya ingin merintis marching band tapi saya tidak punya alat dan saya janji kalau saya akan membeli alat-alat akan ke bapak terus. Saya datang ke situ dan bikin MOU. Jadi saat latihan kita pakai alat yang bagus dan harganya mahal sekali 20 jutaan itu,” kata Suhardi bercerita.

Semenjak itu MTsN 2 Pamulang selalu langganan juara marching band. Puncaknya madrasah tsanawiyah ini berhasil memeroleh Piala Presiden dan sering kali menang kompetisi dengan sekolah lain seluruh Indonesia bahkan dengan grup marching band tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Kembali ke toko Wijaya yang pertama meminjamkan alat marching band, setelah beberapa kali juara, pemilik toko makin percaya kepada Suhardi. Bahkan anak dari penjaga toko juga disekolahkan ke MTsN 2 Pamulang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata Suhardi, ketidaktersediaan sarana bukan hambatan untuk meraih prestasi. Dengan tekat juara, beragam cara bisa ditempuh.

Prestasi lain yang sangat membanggakan diraih MTSN 2 pada akhir tahun 2014 di bidang robotik. MTsN ini memborong sejumlah penghargaan dalam kontes robotik tingkat internasional di Johor Malaysia. Padahal kegiatan eskul robotik baru dimulai pada 2013, baru satu tahun sebelum prestasi internasional diraih. Hampir mirip seperti marching band, pada awalnya madrasah ini juga tidak punya peralatan robotik. Salah satu kunci sukses dalam hal ini adalah kerjasama dengan pihak-pihak yang kompeten dan kejelian memilih siswa yang berbakat di bidang logika, matematika, sains dan informatika.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di bidang akademik, prestasi akademik yang diperoleh MTsN 2 Pamulang lebih banyak lagi, dari mulai lomba cerdas cermat di berbagai tingkatan, olympiade matematika, oimpiade bahasa Inggris, dan lomba karya tulis tingkat nasional. Untuk institusi madrasah sendiri, tahun 2008 MTsN 2 Pamulang telah ditetapkan sebagai madrasah berprestasi tingkat Kanwil Kemenag Banten, dan tahun 2009 MTsN mendapatkan Juara I Lomba Madrasah Berpretasi Tingkat Nasional.

Menurut Suhardi, MTsN 2 Pamulang menyusun kalender pendidikan dengan sangat rapi. Hasil rapat kerja juga dicetak dengan baik dan karena melibatkan semua komponen maka hasil rapat kerja ini bersifat mengikat semua pihak. Semua yang telah dirumuskan bersama harus dilaksanakan.

MTsN 2 Pamulang juga telah menyusun dan menerbitkan buku pedoman khusus tentang pengelolaan Kelas Bina Prestasi.

Kata Suhardi, target yang ingin dicapai oleh madrasah jelas, yakni harus berprestasi. Dari berbagai prestasi yang telah dicapai, maka tingkat kepercayaan masyarakat kepada madrasah otomatis akan meningkat. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Pondok Pesantren, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kehadiran Habib Ahmad Alaydrus dari Jakarta pada Kamis (17/11) malam mendapat sambutan luar biasa dari ribuan warga Jombang. Mereka khidmat mengikuti seluruh rangkaian acara yang dikemas dalam Jombang Bershalawat tersebut.

Wakil Bupati Jombang Nyai Hj Mundjidah Wahab saat memberikan sambutan berharap kegiatan ini mampu menjauhkan Kabupaten Jombang dari bala, petaka, maupun musibah. "Semoga apa yang kita niatkan, yang kita cita-citakan akan terwujud," katanya disambut amin ribuan hadirin.

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta

Yang terpenting karena malam ini membaca shalawat, maka nanti di akhirat akan mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, lanjutnya.

Tidak hanya bershalawat, sebelumnya ribuan warga ini disuguhi penampilan grup Banjari tiga pilar yang terdiri dari anggota TNI, Polri, dan Korpri. Selanjutnya hadirin diajak beristighotsah dan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan KH Syahroni dari Sidoarjo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejak sore ribuan warga yang berbusana dominan warna putih ini tampak sudah memenuhi halaman Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang hingga Alun-alun yang berada persis di depannya.

Tidak hanya dari dalam kota, jamaah juga datang dari penjuru Jombang bahkan ada yang dari luar kota. Lantunan shalawat nabi tanpa henti dilantunkan yang diiringi rebana dan Banjari. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Cerita, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof HM. Quraish Shihab. Secara silsilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan Penulis Tafsir Al-Misbah ini. Namun secara pribadi, Mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?

Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.?

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Di kalangan Arab-Indonesia, habib menjadi gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad SAW (Bani Hasyim). Khususnya dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidatina Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Panggilan habib juga penanda Arab-Indonesia yang memiliki Moyang yang berasal dari Negeri Yaman, khususnya Hadhramaut. Kakek Prof Quraish Shihab, Habib Ali bin Abdurrahman Shihab berasal dari Hadhramaut.

Dalam Bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alasan kedua itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Quraish adalah profesor doktor bidang Ilmu Tafsir, hafal al-Quran, pernah jadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Menteri Agama. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Baginya, gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil habib,” kata Quraish merendah.?

Apalagi, ada ajaran ayahnya, Habib Abdurrahman, agar tidak menonjolkan garis keturunan. Beliau enggan menggunakan gelar “Sayyid”, “Haji”, atau “Kiai”. Bahkan tidak juga gelar akademis.

Ada sajak yang acap didendangkan Habib Abdurrahman dan ditulis dalam buku tersebut:?

Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat

Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan?

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun

Dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.

Tidak hanya Prof Quraish, keluarga Shihab yang lain, seperti Umar Shihab dan Alwi Shihab pun sependapat. Alwi lebih keras, menyebut ada “inflasi habib”, karena pemakaian yang tidak pada tempatnya. Bahkan sudah sampai pada tahap berkonotasi buruk, seperti didengar Quraish dari sopir taksi, saat ia terjebak macet akibat adanya pengajian yang menutup badan jalan.

Maka mereka pun bersepakat, memakai gelar habib hanya sekadar sebutan untuk kakek. “Karena kakek itu sangat mencintai cucunya, terkadang lebih dari cinta kepada anaknya. Cucu juga kadang-kadang lebih mencintai kakeknya daripada bapaknya,” kata Quraish.?

Pesan lain dari penolakan itu untuk memberikan contoh keteladanan, siapa yang wajar diberi gelar kehormatan.

Tak hanya sapaan habib, Prof Quraish juga emoh dipanggil “kiai”. Lagi-lagi alasan serupa, gelar itu jabatan yang sangat tinggi. Baginya, kiai berkonotasi ulama besar yang tulus. Tapi, diksi ‘besar’ itu bisa mengandung pujian. Sesuatu yang selalu ia hindari. Belum lagi, sebutan kiai juga mengalami inflasi, karena dipakai banyak orang yang berpotensi menurunkan makna sebenarnya.?

Ia mencontohkan seseorang bergelar kiai atau ki, yang sedang dirundung masalah karena penipuan pengobatan alternatif.?

“Jadi udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustadz saja,” katanya tergelak. Ia tak menolak, karena ustadz berarti guru, dan ia sejak belia sudah menjadi pengajar, dengan raihan tertinggi menjabat Rektor IAIN. (Detik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pahlawan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Februari 2018

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Bulungan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sultan Kasimuddin Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mengadakan refleksi dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71,

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Acara yang bertempat di gedung Fatayat NU Kabupaten Bulungan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Kaltara (Unikal), BEM STT Al Ansor, ketua IPNU dan IPPNU,? Kabupaten Bulungan, ketua Fatayat NU, dan ketua Gerakan Pemuda Ansor setempat. Selain itu hadir pula Komisioner KPU Kaltara Colirulliza, Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara, M. Achadi dari Jurnas, serta perwakilan dari Kemenag Bulungan.

Ketua Pengurus Cabang PMII Tarakan Rico Adriansyah mengatakan bahwa forum yang mengusung tema “Mewujudkan Indonesia Merdeka 100%” ini cukup berat dan menjadi tugas para aktivis dan mahasiswa terutama di Kalimantan Utara untuk merealisasikannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pada pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia’. Oleh karena itu untuk mewujudkan Indonesia merdeka seratus persen perlu terus diadakan diskusi yang sifatnya membangun serta mempererat persatuan," lanjut Rico, Selasa (16/8) malam itu.

Sementara itu Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara mengatakan, Kaltara sebagai provinsi baru sekaligus yang berbatasan dengan Malaysia memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, nasionalisme warga Kaltara sedang diuji karena sebagian dari keluarga kita ada di sana.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kalau merdeka secara de facto dan de jure kita sudah merdeka. Namun tantangan kita saat ini adalah menjaga nasionalisme, serta meningkatkan kemerdekaan ekonomi dan kemenrdekaan sosial," lanjutnya.

Ia menegaskan, Kaltara sebagai provinsi baru yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia menjadi kunci penting dalam peranan menjaga ketahanan nasional.

Di akhir acara PMII Komisariat Kasimuddin Bulungan berharap peringatan kemerdekaan 17 Agustus di Provinsi Kaltara akan menjadi momentum bagi mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memajukan Indonesia dari pinggiran sesuai dengan nawacita Joko Widodo pada butir ke-3. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 25 Februari 2018

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

Taipe, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiai muda MN Harisudin mendorong pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk gemar bersedekah, baik sedekah wajib maupun sunah. Dalam penyaluran, ia menekankan harus diberikan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, mengingat ada banyak dana sedekah yang disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme atas nama Islam. 

Demikian disampaikannya dalam pengajian On Air Majelis Talim Darus Syafa’ah, Kamis (28/12) malam waktu setempat.

Utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya itu menguraikan sedekah terbagi menjadi dua. Pertama, sedekah wajib yang juga disebut dengan zakat, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Kedua, sedekah yang tidak wajib; yakni sedekah biasa dan sedekah jariyah (wakaf).

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

“Saya yakin, Bapak dan Ibu pekerja migran Indonesia di sini sudah banyak membayar zakat, juga bersedekah. Saya sudah sering mendengar kalau LAZISNU PCINU Taiwan sudah banyak membantu saudara-saudara kita di tanah air. Kemarin membantu korban banjir di Pacitan. Sebelumnya, sedekah dan zakat PCI NU Taiwan disebar mulai Sabang (Aceh) sampai dengan Merauke,” tukas kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember. 

Namun, Kiai MN Harisudin menggarisbawahi bahwa sedekah dan zakat pekerja migran Indonesia agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, nuwun sewu (mohon maaf), saya minta agar sedekahnya disalurkan di tempat yang jelas, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian ini agar sedekah tidak disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme. Ini penting. Agar sedekahnya tidak dipakai untuk ngebom di Indonesia,” ujar Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut ketepatan tempat atau sasaran sedekah dan zakat, pertama adalah sanak famili di Indonesia, dan kedua LAZISNU PCINU Taiwan.

“Insyaallah, dua tempat ini merupakan tempat yang jelas dan tepat sasaran. Dan insyaallah juga berkah,” ujar Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates, Jember tersebut.

Majelis Talim Darus Syafa’ah merupakan salah satu majelis talim yang ada di Taiwan, dan merupakan satu diantara kurang lebih 30 lebih majelis talim yang berada di bawah koordinasi PCINU Taiwan. Anggota majelis adalah para pekerja migran Indonesia  yang menyempatkan diri mengaji setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka tidak bertemu fisik, tapi secara on air karena keterbatasan waktu dan tempat. Pengajian diisi dengan khataman Al-Qur’an, yasinan, tahlil, shalawat nariyah, dan mauidlah hasanah oleh para ustadz dan kiai dari Indonesia. (Sohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah meresmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (9/8) siang. Peresmian ini ditandai dengan pelepasan balon dan penandatanganan prasasti peresmian.

Peresmian ini dihadiri oleh ? Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H Timbul Prihanjoko didampingi oleh Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Kegiatan peresmian ini diikuti oleh kurang lebih 2.000 undangan. Mereka terdiri dari segenap pengurus jajaran Syuriah dan Tanfidziah beserta seluruh pengurus lembaga dan badan otonom (banom) dari tingkat cabang hingga ranting juga santri dan masyarakat.?

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i mengutarakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu proses kelancaran pembangunan kantor dua lantai milik PCNU Kota Kraksaan ini. Dari yang awalnya hanya direncanakan di rehab saja sampai akhirnya diputuskan untuk dibangun kembali dari awal pondasi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kantor ini adalah wujud dari kekompakan dan kebersamaan yang baik antara ulama dan umaro. Insya Allah adanya kantor ini akan menambah semangat kami untuk meningkatkan kualitas kegiatan-kegiatan ke-NU-an kami untuk Kabupaten Probolinggo khususnya Kota Kraksaan,” katanya.

Sementara Ketua PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pengurus Tanfidziah dalam tubuh organisasi PCNU Kota Kraksaan mempunyai fungsi vital sebagai pelaksana fungsi pokok manajemen meliputi fungsi perencanaan, ? pengorganisasian, ? pengarahan dan pengendalian untuk jajaran dibawahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Untuk menjalankan semua pokok fungsi manajemen tersebut dengan baik dan optimal maka PCNU Kota Kraksaan membutuhkan kantor yang representatif dan memadai seperti ini,” katanya.

Menurut Kiai Mutawakkil, dengan adanya kantor yang lebih nyaman dan luas ini sedapatnya mampu meningkatkan ghiroh Nahdliyah, khususnya di lingkup internal kepengurusan.?

“Hikmah lainnya adalah sebagai penyemangat dalam melanjutkan perjuangan para ulama NU dan memastikan ajaran aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an nahdliyyah terus membumi di bumi pertiwi khususnya Kota Kraksaan,” tegasnya.?

Sedangkan Wabul Probolinggo H Timbul Prihanjoko menegaskan atas solidnya NU dalam memerangi segala pengaruh-pengaruh negatif yang selalu berusaha memecah belah umat dan membuat keruwetan yang mana hal itu juga akan menghambat pembangunan.?

“Yang sudah kondusif ini mari kita pertahankan. Ke depan perbanyaklah kegiatan keagamaan seperti pengajian dan sholawatan,” jelas salah satu mantan pengurus lembaga milik NU ini,” ungkapnya.?

Menurut Wabup Probolinggo, menjawab tantangan zaman yang tiap saat selalu berubah. Sehingga dihimbau agar NU supaya lebih peka dengan kompleksnya segala perkembangan di era millenium ini.?

“Hal ini merupakan PR bagi kita semua bagaimana kita bisa lebih luwes dalam melakukan pendekatan kepada generasi muda melalui temen yang sedang diminati untuk kita arahkan ke hal-hal positif dan Islami,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Santri, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah