Selasa, 07 April 2009

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Krapyak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 40 santriwati Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum tingkat Madrasah Aliyah mengikuti Training and Workshop Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Lentera Foundation bersama Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) dan Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta (US Embassy).

Tema pelatihan ini ‘Journalism Training and Women Leadership Program for Female Students in Islamic Boarding School (pesantren)’. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari pada 14-15 September 2015 di gedung pengajian Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Santriwati MA Ali Maksum Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Dalam acara pembukaan, Indar, perwakilan dari Kedutaan Amerika menyampaikan sambutan dan rasa senang bisa mengadakaan pelatihan ini di pesantren. "Kami merasa senang, selain bisa mengunjungi pesantren, kami juga berharap potensi-potensi besar yang dimiliki santri khususnya santriwati bisa dikembangkan terutama bidang jurnalistik," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari pihak yayasan pondok pesantren yang diwakili oleh Ibu Ny Hj Maya Fitria sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. "Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggara dan kami berharap para santriwati mendapat pemahaman dan pengalaman dalam pelatihan ini," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan ini sebelumnya juga dilaksanakan di PPMI Assalaam Solo. Kemudian usai dari pesantren Krapyak, kegiatan ini akan dilanjutkan ke Semesta Boarding School Semarang. (Muyas/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 23 Maret 2009

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga

Dari segi permainan, taktik pelatih, sejauh ini ada yang menarik tidak, ada yang mengejutkan penampilannya?



Justru kalau mengejutkan sih enggak, saya sering kaget melihat permainan tim-tim yang berasal dari daerah tertentu yang selama ini tidak anggap daerah bola, tapi di Liga Santri ternyata pemainnya bagus-bagus. 

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Bung Kus: Liga Santri Harus Ikut Kompetisi di Liga Tiga

Misalkan?

Misalkan DDI Kaballangan. Selama ini siapa yang kenal DDI Kaballangan, ternyata mainnya bagus. Kalau misalnya dari Bandung, dari Surabaya, wajarlah. Dari Sragen juga ada Persi Sragen, tapi tiba-tiba dari Kaballangan, ternyata bagus. Terus dari Muaro Jambi, orang kan enggak kenal, tapi timnya bagus. Paiton, orang tahunya Pembangkit Listrik Tenaga Uap, ternyata mainnya bagus. Nurul Jadid itu bagus. 

Saya kira seperti Kaballangan ini menyiapkan tim? 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tahun kemarin mereka sudah ikut, juara Seri Regional, tahun ini masuk lagi. Jadi, kelihatan tim yang selama ini konsisten mempersiapkan diri di eskul atau ada program sekolah bolanya, biasanya hasilnya kelihatan. Dari segi permainan pun mereka sedikit lebih baik. Ashidiqiyah itu di Jakarta kan punya lapangan sendiri, punya SSB sendiri. Kaballangan juga sama. Walisongo juga sama. 

Ada yang menarik nih, Nuris juara pertama 2015, Nur Iman juara pertama 2016. Mereka selalu tersingkir. Kenapa? 

Saya bilang tadi, standar kualitas tim ini masih naik turun. Nah, sekarang dengan adanya liga santri berkelanjutan, mulai ada tim-tim yang membentuk SSB, lapangan sendiri, nanti ada tim-tim yang ajeg dan tim naik turun. Yang ajeg itu akan ada. Seperti Walisongo, model Ashidiqiyah, itu akan ajeg prestasinya. Kalau ini terus dikondosikan dan dipertahankan di Liga Santri ini; kalau sekarang ini kan baru tiga tahun, orang masih menakar, ini bisa panjang atau enggak. 

Jadi, kadang-kadang tim ini tahun ini juara, tahun depan enggak, karena memang kita belum punya lapisan-lapisan pemain. Generasi tahun ini bagus, generasi di bawahnya belum tentu ada. Makanya tahun ini bisa juara, tahun depan ambruk. Nur Iman, juara tahun lalu, tahun ini ambruk karena pemainnya udah beda. Liga Santri masih sesuatu yang sekarang belum menjadi semacam program rutin. Mungkin sesudah tiga dan empat tahun ini, pesantren mempersiapkan itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk tahun ini ada yang sudah kelihatan menonjol seperti tahun kemarin yang membuktikan kualitas Rafli?

Belumlah kelihatan. Kita tidak bisa semuanya datangi pertandingan di region. Sulit. Ya yang saya bisa katakan dari region yang saya kunjungi  level permainnanya sekarang tidak terlalu jauh. Saya nonton di Trenggalek, di Cirebon, di Maluku, di Lampung, levelnya dekat-dekat. Makanya pertandingan hari ini tipis-tipis, 1-1, 2-2, ada yang menang 4-1 memang, ada yang menang 7-0, itu kan kasus khusus, tapi selebihnya berimbang. 

LSN ini proyeksinya bagaimana, misalnya 10 tahun ke depan? 

Kalau dari obrolan kami, saya kan kebetulan kan bukan pengurus RMINU,  kebetulan tenaga profesional untuk mengelola kompetisinya. Dari wacana yang kami diskusikan, harus ada badan hukum yang secara formal liga ini, sekaligus badan itu menjadi anggota PSSI supaya pemain-pemain, alumnus liga ini bisa menjadi bagian badan hukum anggota PSSI ini berkompetisi di liga yang level lebih tinggi, misalnya alumnus liga ini bisa mengikuti liga tiga, liga dua, kalau lebih bagus lagi, ke liga satu, atau di liga tiga tetap di situ, tapi pemainnya bisa kemana saja. 

Kalau saya sih menganggap liga santri ini pabrik penghasil pemain, tapi tetap kita harus punya iconnya di kompetisi, misalnya Santri FC ikut di liga tiga. Santri mana sajalah, mau di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, ikut liga tiga, pemain-pemain alumnus liga santri ikut kompetisi itu. Hasilnya, bahwa mereka diambil di liga dua atau satu. Jadi memanfaatkan hasil kompetisi ini, pemainnya yang berkembang di kompetisi lain dengan pemain yang lain. 

Kalau kita mau evaluasi, dengan kondisi sekarang, kira-kira berapa tahun Liga Santri ini bisa mapan?

Tiga atau empat tahun lagi. Semakin kita konssiten menyelenggarakan liga ini, konsistensi jadwalnya, regulasinya, standar pelaksanaanya, tata kelolanya, akan semakin serius pesantren menyiapkannya tahun depan. Jadi, awal-awalnya kan mereka, oh begini, tahun kedua lebih banyak. Tahun ketiga semakin banyak. Tahun depan, kalau ini lancar sampai final, sukses dari segi tata kelola dan penyelenggaraan, dan publikasi, tahun depan akan lebih hits. Ini kan masih dikemas publikasinya publikasinya, masih perlu dikemas imaginenya, pencitraannya tentang kompetisi ini, masih perlu dikemas cara membuat event ini lebih meriah, lebih menarik, bukan sekadar selesai, tapi juga membekas, berkesan untuk masyarakat Bandung. Oh, kemarin ada Liga Santri ini. 

Ada pemantau talent scouting, tahun ini ada Robby Darwis, ada Ade Abdullah bekas Persi, Bandung Raya, PSIM juga. Hari ini ke sini, Siliwangi. Ada Udin Rafiudin, bekas Bandung Raya, hari pertama Udin di Arcamanik. 

Tanggung jawab apa? 

Mereka mendata pemain-pemain berbakat, dari pelatihnya Persis Solo, masih melatih Persis Solo kita undang ke sini untuk melihat dan mendata pemain-pemain yang potensial. Pemain itu kelebihannya apa, kekurangannya apa. Nanti pemain-pemain itu yang akan kita bawa ke Tim Nasional. Ini kan kelompoknya dekat dengan timnya Indra Sjafri ya. Rafli kan prosesnya begitu. Muncul 18 pemain tahun lalu. Dipakai enggaknya urusan tim nasional. Tapi kalau tim nasional perlu data pemain, kita punya databasenya. Ada 22 ribu data pemain ini yang kta bisa jaring dari kompetisi ini. Nanti yang terbaiknya, seratus besarnya, yang kita jaring ini, kita bawa ke PSSI. Nih pemainnya. Tahun ini ada 22 ribu pemain dari 1046 tim. Pemainnya kan rata-rata 20 orang. Jadi 22 ribu lebih. 

Jadwal yang ketat bagaimana?

Karena memang kompetisi ini budgetnya, finansialnya masih kurang. Idealnya main, tiga hari lagi main. 

Biaya klub bagimana? 

Diserahkan kepada mereka, kita subsidi aja.   

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Februari 2009

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji

Nganjuk, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kamis (20/9) pagi terjadi suasana berbeda di Lapas Kabupaten Nganjuk yang terletak di utara Masjid Agung Kabupaten Nganjuk. Pagi itu ratusan napi tampak rapi berbaju putih serta rombongan hafidz berdatangan di Lapas karena digelar gerakan Nusantara Mengaji.

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Lapas Nganjuk Gelar Nusantara Mengaji

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara yang digelar serentak secara nasional yang dilaksanakan di lapas-lapas se-Indonesia dalam rangka hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53. Kegiatan di lapas ini dimulai sejak jam 07.00 WIB dengan petanda dibuka oleh insiator gerakan Nusantara Mengaji HA. Muhaimin Iskandar dan Menteri Hukum dan HAM Yosanna H Laoly di Rutan kelas 1 Cipinang Jakarta Timur. Gerakan ngaji bersama di hari Bhakti Pemasyarakatan ke-53 ini telah mendapat rekor Muri.

Di Lapas Nganjuk, kegiatan ini diawali dengan shalat dluha berjama’ah yang dipimpin Korda Nusantara Mengaji Nganjuk KH Moh. Syamsudin Al Aly Pengasuh Ponpes Al ? Fattah Pule. Selanjutnya prakata pembuka oleh Moh. Mansur kepala Lapas Nganjuk yang didampingi H Ulum Basthomi, wakil ketua DPRD Nganjuk dan selanjutnya langsung dimulai oleh mengaji oleh para hufadz dan napi secara serentak. Acara diakhiri jam 13.00WIB ditutup dengan doa oleh Korda Nganjuk dan shalat dhuhur berjam’ah .

Moh. Mansur kepala Lapas Nganjuk sangat berterima kasih kepada insiator Nusantara Mengaji serta Korda Nganjuk. Dengan kegiatan semacam ini diharapkan bisa memberikan ketenangan jiwa serta memotivasi para napi untuk menjadikan hidup mereka hidup yang bermakna.?

Senada dengan Pak Mansur, Rumidi salah satu napi menyatakan senang sekali dengan kegiatan ini, terasa menjadi penyejuk bagi kehidupan kami dan spirit untuk memperbaiki kehidupan kami. Red: Mukafi Niam

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Daerah, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Desember 2008

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Masalah persatuan dalam kebhinekaan mengemuka dalam diskusi kebangsaan yang diadakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di Lantai Lima Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/10) siang. Masalah ini diperbincangkan dengan hangat oleh para pemuda dari pelbagai latar belakang organisasi pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah narasumber dari PMII, IPNU, PMKRI, GMNI, GMKI, dan Ketua FKUB Jati Asih Bekasi membawa menyampaikan pandangannya perihal semangat persatuan yang digelorakan para pemuda di tahun 1928. Mereka tampak menguasai sejarah dan semangat para pemuda Indonesia dengan membandingkannya dengan situasi disharmoni yang kerap hadir menjelang pilkada di sejumlah daerah di Indonesia.

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda

Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang berkenan hadir untuk membincangkan situasi sosial terkini di sejumlah daerah di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alhamdulillah sekarang kita masih bersatu dalam bingkai kebangsaan meskipun belakangan pilkada di beberapa daerah membawa pada ketegangan-ketegangan sosial,” kata Ghopur mengawali diskusi yang dihadiri sedikitnya 25 pemuda dari pelbagai latar belakang gerakan pelajar dan kemahasiswaan.

Ia masih berharap penuh pada para pemuda yang memiliki semangat kebangsaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita semua sebagai pemuda memiliki tanggung jawab sejarah untuk mengembalikan kondisi ini ke dalam apa yang dicita-citakan para pemuda pendiri bangsa kita,” kata Ghopur.

Sementara Ketua Umum PMKRI Angelo menyampaikan bahwa butir-butir Pancasila dan semangat persatuan para pemuda pergerakan bangsa dahulu merupakan pengembaraan pemikiran dan penggalian nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang didasarkan pada kerukunan masyarakat.

Sedangkan Ketua Umum GMNI Crisman menyayangkan sejumlah orang yang melanggar norma-norma semangat persatuan para pendiri bangsa. “Tidak sedikit perilaku anak bangsa hari ini bertolak belakang dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan, persatuan, demokrasi Indonesia, keadilan, ketuhanan, dan kerakyatan.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peringatan haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Yogyakarta berlangsung meriah, Senin (16/12). Hadir dalam acara bertema “Napak Tilas Perjalanan Gus Dur dalam Merawat Kebhinnekaan” ini warga dari berbagai komunitas dan pemeluk agama.

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama

Rangkaian perhelatan haul dimulai sejak pukul 15.00 WIB dengan melakukan kirab budaya dari gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Monumen Serangan Umum 1 Maret. Aneka pertunjukkan seperti barongsai, Bregodo Mataram, dan ketoprak turut meramaikan acara.

Dalam acara yang dihadiri komunitas difabel ini merupakan, istri Gus Dur, Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengatakan, semakin banyaknya orang yang meneruskan perjuangan Gus Dur membuat presiden ke-4 ini terus serasa di tengah-tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Gus Dur itu adalah oase yang menjadi sumber mata air bagi kehidupan. Kita semua punya tugas penting untuk menjaga sumber ini, agar selalu mengalir dan memebrikan kehidupan bagi manusia,” ujarnya.

Menurut Shinta Nuriyah, Gus Dur adalah orang yang selalu siap pasang badan ketika ada ketidakadilan. “Banyak orang yang secara lantang meneriakkan ketidakadilan, namun tidak ada yang berani pasang badan,” lanjutnya. (Muyassaroh Hafidzoh/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 11 Desember 2008

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi

Lviv, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bersama dengan ratusan Muslim Tatar yang ketakutan, Ismail Ayubov memutuskan untuk meninggalkan rumahnya di Crimea bersama dengan istri dan dua orang anaknya, mengingat ketidakpastian masa depan setelah aneksasi oleh Rusia.

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi

“Situasi bisa sangat berbahaya bagi Muslim di Rusia,” kata Ayubov kepada situs World Crunch, Selasa (13/5).

“Saya takut dengan milisi bersenjata,” tambah seorang laki-laki, Enver Mohammed.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terdapat sekitar 300 ribu minoritas Muslim di Krimea, yang mewakili kurang dari 15 persen populasi yang berjumlah 2 juta, yang menentang aneksasi Rusia ke wilayah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rusia melakukan aneksasi setelah referendum yang dilakukan di awal Maret, dengan hasil keputusan 96 persen masyarakat setuju bergabung dengan Rusia. Komunitas Tatar memboikot referendum tersebut yang menolak penyelenggaraan referendum dibawah todongan senjata serdadu Rusia.

Setelah aneksasi Rusia, ketakutan Muslim Tatar meningkat atas kemungkinan hilangnya kebebasan dan ingatan akan pengusiran dan tuntutan yang mereka hadapi pada 1944.

Selain itu, pemerintahan sementara Krimea menolak pemimpin Muslim Tatar, Mustafa Dzhemilev, ketua majelis Tatar, selama lima tahun atas kritik yang dilakukan terhadap Rusia, menjadi tambahan perhatian bagi kalangan Muslim.

Jaksa Agung Krimea, Natalia Poklonska mengancam akan membubarkan majelis dan mengajukan tuntutan kriminal atas para demonstran.

Menghadapi masa depan yang tidak pasti, ratusan orang Tatar meninggalkan rumah mereka menuju wilayah barat Ukraina di kota Lviv.

“Banyak yang tidak ingin meninggalkan kehidupan mereka di belakang,” kata Muhammad, 28 tahun. 

“Referendum ini adalah lelucon,” tambahnya.

Kehidupan baru

Setelah pergi dari kampung halaman, orang-orang Tatar tersebut membentuk kelompok-kelompok untuk mendukung para pendatang baru di Lviv.

“Rusia mungkin ingin melindungi minoritas, tetapi mereka hanya berpura-pura,” kata Alim Aliev, pemuda 25 tahun yang sudah tinggal di Lviv selama lima tahun dan saat ini memberi dukungan pada para pengungsi Tatar.

Bersama dengan 60 aktifis lainnya, dia membantu mencarikan tempat tinggal, mengumpulkan uang dan membantu mengisi formulir yang diperlukan.

Mereka tidak hanya membantu pengungsi Muslim. Ketika milisi merebut ibukota Krimea Simferopol, mereka membuat halaman Facebook SOS Krimea.

Suku Tatar yang telah mendiami Krimea selama berabad-abad diusir dari tempat tinggalnya oleh Stalin pada Mei 1944, yang menuduh mereka berkolaborasi dengan Nazi.

Populasi keseluruhan Tatar, lebih dari 200 ribu orang, dipindahkan dalam kondisi mengenaskan ribuah mil ke Uzbekistan dan lokasi-lokasi lainnya, banyak yang meninggal di perjalanan atau setelah tiba di lokasi baru.

Uni Soviet menyita rumah mereka, menghancurkan rumah mereka dan mengubahnya menjadi gudang, satu dirubah menjadi museum atheisme.

Sampai masa munculnya perestroika pada akhir 1980-an, sebagian besar orang Tatar baru diizinkan kembali, dan migrasi terus berlanjut setelah Ukraina menjadi merdeka setelah keruntuhan Soviet pada 1991.

Menghidupkan kembali pengalaman pengasingan yang sama, kondisi masih sulit bagi banyak Muslim Tatar untuk membuat kehidupan baru di Lviv.

Sebagai warga negara Ukraina, orang Tatar tidak diperlakukan sebagai pengungsi menurut ketentuan konvensi Jenewa.

Untuk memenuhi kehidupan, orang Tatar Krimea membuka kios dan toko, kata Aliev.

“Satu keluarga bahkan menjalankan bisnis kafe di pusat kota,” tambahnya.

Ketiadaan masjid di Lviv menjadi problem tersendiri bagi para pendatang baru tersebut, berdoa agar bisa kembali ke rumah mereka dibawah hukum Ukraina. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 12 Oktober 2008

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat  Fatayat NU memberikan orientasi kepada pengurus PCI Fatayat NU Malaysia, Senin (25/9). Orientasi bertujuan  menyemangati para pengurus PCI Fatayat NU Malaysia yang dilantik sehari sebelumnya.

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

“Organisasi Fatayat NU harus mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan para kader perempuan NU di Malaysia,” ujar Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Margareth Aliyatul Maimunah.

Ketua Bidang Keorganisasian PP Fatayat NU, Nadhifa mengungkapkan banyaknya jumlah tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. “Di antara mereka banyak yang terlibat permasalahan hukum,” tambahnya.

Perempuan yang juga staff ahli Mentri Ketenagakerjaan ini juga mengungkapkan dengan berbagai masalah yang dialami TKW di Malaysia, PCI Fatayat Malaysia harus dapat membantu para TKW tersebut dalam advokasi hukum.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiya, menyampaikan tugas dan tantangan Fatayat semakin berat.

“Tetapi yang paling penting adalah tidak boleh keluar dari ideologi kita, yaitu ahlussunah wal jamaah,” ujarnya.

Pelantikan PCI Fatayat NU Malaysia mengambil moto Jadilah orang yang tangguh dan mampu struggle. Kiki menegaskan, dengan moto itu  tidak ada kalimat menyerah dan buntu dalam menyampaikan amanah. (Uswah/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah