Kamis, 13 Maret 2014

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial

Kendal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Remaja rawan ekonomi dan sosial, menjadi perhatian khusus bagi Pengurus Cabang Fatayat NU Kabupaten Tegal. Perhatian tersebut ditunjukannya dengan mengirimkan remaja-remaja rawan ekonomi dan sosial ke Panti Karya Wanita “Wanodyatama” Kendal untuk mendapatkan pelatihan produktif.

“Tiap semester, kami mengirim dan menjemput remaja-remaja putri dari Tegal ke sini,” tutur Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal Dra. Hj Nurhasanah kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di sela penjemputan peserta pelatihan angkatan X yang telah selesai menempuh pelatihan, Jumat (25/6).

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Tegal Entas 167 Remaja Rawan Ekonomi dan Sosial

Maksud penjemputan, lanjut Nurhasanah, untuk memberikan pelayanan kepada peserta dan pertanggungjawaban Pengurus Fatayat kepada orang tua peserta pelatihan. Selain itu, untuk melihat lebih dekat keberadaan Panti Karya Wanita “Wanodyatama” yang terletak di Jl. Gemuh Km.1 Cepiring Kendal itu. Termasuk melihat dengan seksama keberadaan fasilitas yang diberikan panti milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masih menurut Nurhasanah, pada angkatan X ini Fatayat NU Kab. Tegal mengirimkan 12 orang remaja putri. “Mereka, selama 6 bulan penuh mendapatkan pelatihan sesuai dengan bidang yang dia minati, antara lain menjahit dan merias” terangnya.

Dia lebih jauh menjelaskan, bahwa para peserta mendapatkan pelatihan secara gratis dan mendapatkan fasilitas berupa asrama dan akomodasi lainnya. Selain itu mendapatkan seperangkat Mesin Jahit bagi yang mengambil jurusan menjahit dan alat-alat salon kecantikan bagi yang mengambil jurusan tata rias.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah seorang peserta pelatihan, Ana mengaku senang berada di panti karena pembelajaran yang diberikan tidak hanya menjahit saja. Tetapi setiap hari diberi bimbingan baca tulis Al quran, wawasan ke bangsaan dari Kepolisian dan TNI, olah raga dan lainnya. “Saya senang, karena bisa menimba ilmu yang banyak,” tuturnya.

Sementara Eva, berjanji akan memanfaatkan ilmu yang telah didapatkannya selama enam bulan. “Insya Allah Saya akan langsung buka praktek salon, sepulang dari pelatihan ini,” tekadnya kuat.

Hingga angkatan X, remaja putri yang telah mendapatkan pelatihan di bawah bimbingan Fatayat NU Tegal sebanyak 167 orang. “Untuk angkatan XI, kami kembali mendapat alokasi sebanyak 15 orang,” lanjutnya.

Angkatan XI, tahap seleksi akan dilakukan pada 4 Juli mendatang di Gedung NU Jalan Raya Procot Slawi.

Menurut Kepala Panti Agus Dwi A., SH melalui Staf Rehabilitasi dan penyaluran M. Fachrudin, pada semester ini telah meluluskan 80 peserta diklat. “Alhamdulillah berjalan baik, hanya saja pada angkatan ini ada 6 orang yang tidak mengikuti sampai selesai karena alasan menikah,” tandasnya.

Ketua PC Fatayat di dampingi dua orang pengurus dan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, berjalan-jalan mengelilingi berbagai fasilitas yang tersedia. Nampak asyik Ketua Fatayat mengambil gambar untuk dijadikan koleksi organisasi. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, IMNU, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 01 Maret 2014

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi

Bintan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, melaksanakan kegiatan rutin majelis dzikir dan shalawat, Sabtu (18/10), di Masjid Alhijrah yang merupakan kawasan lokalisasi terbesar di Kabupaten Bintan.

Ketua PC GP Ansor Bintan Zainal mengatakan, kegiatan bulanan ini merupakan upaya mensyiarkan dakwah Ahlussunah wal Jamaah dan membumikan shalawat.

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bintan Gemakan Shalawat di Lokalisasi

Tokoh masyarakat, Abdulloh berharap ada pembinaan lebih intens di kawasan ini. “Alhamdulillah dengan pembinaan seperti ini dapat mengurangi jumlah pekerja seks di lokalisasi ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir dalam kesempatan ini, sekretaris PCNU Bintan, Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Bintan, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bintan, dan warga Nahdliyin setempat. Acara dzikir dipimpin oleh ustadz Abu Fazla dan tausiyah disampaikan oleh Kiai Syaroni. (Majid/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 20 Februari 2014

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sidang lanjutan kasus penggelapan aset tanah milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan terdakwa Salim Muhammad (75) diisi dengan kesaksian oleh 2 orang saksi yang diajukan terdakwa. Salim mengajukan saksi yang meringankan dalam sidang yang dipimpin Heru Pramono SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu.

Saksi pertama, H. Luwandi, salah seorang guru, menjelaskan, sekolah di bawah Yayasan Waqfiyah yang dimiliki PBNU itu telah dipindah. Ia mengaku telah menerima uang sebesar Rp 2 Milyar untuk pendirian bangunan dan sewa tanah selama 30 tahun.



Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan

Dalam negosiasi awal, ia meminta dana sebesar Rp 9 Milyar untuk merenovasi bangunan dan pembelian tanah. Namun, akhirnya tercapai kesepakatan sebesar Rp 2 Milyar. Sebenarnya ia masih membutuhkan dana untuk membangun tiga kelas, namun permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh Salim.

Saksi kedua, Liacun menjelaskan bahwa ia telah menerima uang sebesar Rp 1.25 Milyar dari Salim untuk pembelian tanah yang dimilikinya.

Kesaksian-kesaksian tersebut menguatkan bukti yang memang sudah ada sebelumnya. Namun, perihal penarikan deposito sebesar Rp 10 Milyar, pembelian rumah di Jalan KS Tubun senilai lebih dari Rp 1.2 M, pembelian rumah di Jalan MT Haryono dan Kedoya yang semuanya tidak ada kaitannya dengan kepentingan Yayasan Waqfiyah NU tidak dijelaskan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kasus ini bermula dari surat dari Pemerintah DKI Jakarta agar Yayasan Waqfiyah NU yang berlokasi di Kuningan Selatan meminta agar lembaga pendidikan ini dipindah karena lokasi tersebut ditetapkan bukan untuk daerah pendidikan. Dalam prosesnya, terdapat dana yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, sehingga PBNU, selaku pemilik yayasan mengajukan tuntutan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Ubudiyah, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 19 Februari 2014

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa memohon kesediaan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin memimpin sedikitnya 120 peserta pelatihan da’i dan da‘iyah NU untuk mendoakan korban sipil di Gaza Palestina. Doa bersama untuk Palestina ini sekaligus menutup pelatihan dakwah di Gedung PBNU, Selasa (22/7) sore.

“Kita sedih menyaksikan kebrutalan agresi militer Israel yang menyerang korban sipil di jalur Gaza. Kita mengharapkan warga dunia dalam hal ini PBB, negara-negara Islam, dan liga Arab untuk berpartisipasi dalam perdamaian di Palestina,” kata Khofifah.

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Maruf Amin dan Para Da’i NU Doakan Warga Gaza

Sebelum memimpin doa, Kiai Ma’ruf yang juga mengisi materi Keaswajaan dan Kepemimpinan Nasional dalam pelatihan yang difasilitasi PP LDNU dan Himpunan Da’i dan Majelis Taklim Muslimat NU ini menekankan peran para da’i NU di tengah tantangan dakwah yang semakin berat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tugas para da’i ialah membuat peta dakwah agar mengetahui medan tantangan dakwah dari segala dimensinya. Karena itu, da’i mesti terus berpikir memetakan strategi dakwah. Tantangan terus berubah,” kata Kiai Ma’ruf.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kelenturan Aswaja NU memberikan keluasan kepada kita semua untuk tidak berhenti di titik nyaman. Da’i tidak boleh statis, harap Kiai Ma’ruf.

“Mari kita tengadahkan tangan mengharapkan ridho Allah untuk menurunkan bantuannya bagi kemaslahatan warga Gaza,” ujar Kiai Ma’ruf sebelum membacakan doa yang diaminkan peserta pelatihan da’i. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 09 Februari 2014

NU Diusulan Miliki Lembaga Kelautan

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Luas wilayah Indonesia lebih banyak lautan dibanding daratan. Dengan kondisi semacam ini, Nahdlatul Ulama semestinya mempunyai lembaga khusus yang menangani persoalan kelautan. Demikian disampaikan A Hisyam Karim, Ketua Pengurus Ranting NU Caracas, Kalijati, Subang, Jawa Barat.

"Sebagai negara maritim, bagusnya NU punya lembaga khusus yang menangani kelautan karena wilayah kita lebih banyak laut daripada darat. Dulu kan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) juga waktu jadi Presiden bikin Depertamen Kelautan dan Perikanan karena beliau tahu laut ini penting," ungkapnya usai Ngaji Pasaran NU Caracas di Pesantren Al-Mukhtariyyah, Selasa (8/7) malam.

NU Diusulan Miliki Lembaga Kelautan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Diusulan Miliki Lembaga Kelautan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Diusulan Miliki Lembaga Kelautan

Menurut mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta ini, laut Nusantara adalah anugerah dari Allah untuk bisa dimanfaatkan dengan baik, seperti sebagai sumber mata pencaharian para nelayan yang mayoritas adalah warga NU, eksplorasi energi, dan lainnya. Agar terfokus ia mengatakan mestinya NU melembagakannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Bukan hanya itu, laut atau maritim juga mempengaruhi dalam pembentukan sebuah kebudayaan, makanya dalam kajian budaya ada budaya maritim dan budaya kontinental," tambahnya

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam mencontohkan, salah satu ciri atau karakteristik budaya maritim adalah tidak ada hak cipta dalam sebuah karya dan sebaliknya hak cipta merupakan budaya kontinental.

"Jadi royaltinya maritim sifatnya moril, kalau kontinental sifatnya materiil. Coba kalau wayang, lenong, lagu, syair atau kitab? karya ulama Nusantara ada hak ciptanya, keturunannya bisa jadi kaya raya karena punya royalti," selorohnya.

Untuk itu, Hisyam mengharapkan agar ke depan NU bisa mempunyai lembaga kemaritiman dan bisa membentuk peradaban dari jalur kelautan sebagaimana jargon Jalesveva Jayamahe (Di Atas Lautan Kita Berjaya). (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 05 Februari 2014

PBNU Harus Perhatikan Pengembangan NU di Luar Jawa

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015-2020 mendatang harus memperhatikan lebih serius pengembangan NU di luar pulau Jawa. Pengembangan NU di luar Jawa ini sangat penting karena masih banyak kelemahan dari NU di luar Jawa dibanding di pulau Jawa. Siapa pun yang memimpin PBNU ke depan dari hasil Muktmar ke-33 NU, ini harus menjadi perhatian.

Demikian diungkapkan Rais Syuriah PWNU Sumatera Barat KH Zainal MS menjawab pertanyaan Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu (1/8). Menurut Zainal, kondisi NU di luar Jawa hanya pada wilayah tertentu saja yang lumayan baik. Tetapi masih banyak yang kondisi struktural dan pengkaderannya yang memprihatinkan.

PBNU Harus Perhatikan Pengembangan NU di Luar Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harus Perhatikan Pengembangan NU di Luar Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harus Perhatikan Pengembangan NU di Luar Jawa

"Perhatian khusus PBNU untuk pengembangan NU di luar pulau Jawa sangat dibutuhkan untuk memperkuat jaringan dan akses NU dalam mempertahankan NKRI yang sudah final bagi NU. Dengan makin gencarnya gerakan yang merongrong keutuhan NKRI belakangan ini, maka kehadiran NU semakin dibutuhkan," kata Zainal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Kiai Zainal, perhatian khusus PBNU tersebut harus lebih konkrit, tersistem dan support yang jelas. Kesulitan yang utama dialami pengurus NU di luar Jawa tersebut adalah tidak adanya bidang usaha yang dapat mendukung aktivitas ke-NU-an. Beberapa bidang usaha yang bisa dikembangkan NU di daerah adalah pengembangan unit usaha pelayanan masyarakat, pengembangan bidang energi dan pertanian. Pengembangan usaha ini sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"NU harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat maupun pemerintahan (daerah). Dengan adanya fokus pengembangan dan penguatan NU di luar Jawa, maka NU akan lebih banyak dirasakan manfaatnya bagi bangsa Indonesia ini," tambah Zainal.

Untuk itu, PBNU ? harus memperkuat pengkaderan berbasis pondok pesantren. Pesantren di luar Jawa harus dilibatkan dalam pengembangan NU. Selain itu, memperdalam penguatan nilai-nilai Ahlussunnah Waljamaah di tengah masyarakat. “Kalau di pulau Jawa mayoritas pondok pesantrennya sudah NU. Berbeda dengan di luar Jawa, yang masih "asing" dengan NU,” tutur Zainal menambahkan. ? (Armaidi ? Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 20 Januari 2014

Bermodal 900 Ribu, Kini Menjadi 208 Juta

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Meski dengan modal awal Rp 600 ribu pada tahun 1997, kini Koperasi Wanita “An-Nisa” Muslimat NU Brebes berkembang mencapai permodalannya menjadi Rp  208 juta lebih. 

Bermodal 900 Ribu, Kini Menjadi 208 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bermodal 900 Ribu, Kini Menjadi 208 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bermodal 900 Ribu, Kini Menjadi 208 Juta

Perkembangan ini sangat membanggakan karena menjalankan roda koperasi untuk era ini sangat sulit namun dan An-Nisa ternyata bisa bertahan.  

“Awal berdiri, kami hanya memiliki anggota 60 orang, kini berkembang menjadi 180 anggota,” terang Hj Nurhalimah Fathoni disela Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2012 di gedung Muslimat NU Jalan KH Cholid Barat Ahad (10/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Begitupun dengan permodalannya meningkat yang ditopang dari simpanan pokok Rp 10 ribu per anggota dan simpanan wajib perbulan Rp 2 ribu. Selain itu mendapatkan bantuan modal stimulan dari Kementerian Koperasi Rp 50 juta, aspirasi anggota DPRD sebesar Rp 50  juta dan Donasi Prov Jateng Rp 6 juta. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Modal koperasi memang bukan mutlak dari anggota. Tapi, kami juga mendapatkan suntikan pinjaman lunak dari Kementerian Koperasi, aspirasi  anggota dewan dan Pemda Jateng," tutur Halimah.

Meski mendapat pinjaman lunak, lanjut Halimah, tidak berarti pihaknya melalaikan pengembalian pinjaman tersebut. Menurutnya, koperasi yang dipimpinnya dinilai sebagai koperasi yang tertib administrasi oleh Pemerintah Kabupaten Brebes.

“Terbukti, dalam pengembalian kredit tersebut tepat waktu dan tidak ada anggota yang macet," jelasnya.

Bukti kemajuan lain, koperasi tersebut, tiap tahunnya selalu menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Tahun Buku 2012, telah dilangsungkan pada 10 Februari 2013 Gedung Muslimat NU. 

“Alhamdulillah, telah terkumpul Sisa Hasil Usaha sebesar mencapai Rp 6,8 juta," ungkap Halimah.

Sukses membesarkan koperasinya, pihaknya juga ingin membuka toko yang dapat memenuhi kebutuhan pokok ibu-ibu Muslimat. Sebab bidang usaha tidak hanya simpan pinjam saja, tapi kini telah menyediakan barang bagi anggota terutama pakaian seragam Muslimat NU, sembako dan lain-lain. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah