Rabu, 30 Agustus 2017

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin

Cilacap, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?



Presiden Joko Widodo melakakuna Safari Ramadhan ke Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Kamis (15/6) sore. Ia hadir bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji.

Presiden yang akrab disapa Jokowi menyampaikan tentang pentingnya menjaga persaudaraan, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.?

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin

"Marilah kita jaga persaudaraan kita. Persaudaraan antarumat Muslim, ukhuwah islamiyah kita. Kita jaga persaudaraan antarumat beragama yang lain, ukhuwah wataniyah kita, agar kerukunan, persaudaraan d iantara kita terjalin dengan baik," katanya.

Presiden Jokowi juga menyampaikan, Indonesia adalah negara yang besar dan berananekaragam suku, agama dan ras. Oleh sebab itu, ia mengajak untuk mensyukuri anugerah yang diberikan Allah kepada bangsa Indonesia.?

"Jangan sampai di antara kita masih ada yang saling menyalahkan, saling menjelekkan, saling mencemooh, saling mencela; kita lupa bahwa kita ini saudara," lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jokowi juga mengajak untuk saling menjaga satu sama lain supaya tidak terjadi gesekan yang dapat memecah belah bangsa Indonesia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya mengajak, agar kebinekaan yang telah menjadi takdir dari Allah, untuk benar-benar dijaga dan dipelihara dengan baik. Jangan sampai ada gesekan dan perpecahan," tegasnya di hadapan ribuan santri dan masyarakat yang hadir sore itu.

Presiden juga menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin KH Chasbullah Badawi, dan menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa hadir saat itu. (Kifayatul Akhyar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 Agustus 2017

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

Oleh Cecep Zakarias El Bilad

Tujuh puluh dua tahun lalu era penjajahan berakhir. Kita baru saja memperingatinya. Perjuangan panjang nenek moyang kita, mempertaruhkan jiwa dan raga, akhirnya berhasil mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Namun betapapun beratnya sebuah perjuangan kemerdekaan, musuh yang dihadapi jelas wujudnya. Jelas pula posisinya, sehingga kita bisa bersembunyi, lari atau hadapi dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Tetapi, akan jauh lebih berat lagi ketika penjajah itu tak nampak wujudnya, dan tak jauh pula posisinya. Musuh itu bahkan menyatu dalam diri kita masing-masing, sehingga tak mungkin bersembuyi, lari atau menghadapinya langsung secara vis ? vis, yaitu hawa nafsu. Tanpa maksud mengurangi nilai kemuliaan jihad f? sab?llâh, jihad melawan hawa nafsu adalah perjuangan panjang dan sulit yang dijalani setiap orang sepanjang hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya:

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

? ? ? ? ?

“Orang yang berjihad sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah.” (HR. Ahmad).

Mahluk merdeka

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Manusia tercipta sebagai mahluk merdeka. Ia lahir tidak menjadi budak siapapun, dan tidak pula untuk kepentingan siapapun. Namun, ini tentunya bukan berarti merdeka secara mutlak. Sebab sebagai mahluk, wujud manusia tidaklah berdiri sendiri. Ia semula tidak ada, lalu diadakan oleh Tuhan. Sebagai mahluk, ia juga tidak berdaya apapun.

Semua kemampuan yang ia miliki ialah juga ciptaan dan pemberian dari Sang Pencipta. Statusnya sebagai mahluk ini tidak akan pernah memberinya kebebasan/kemerdekaan yang mutlak. Ia merdeka dalam arti, tidak tunduk pada apapun dan siapapun sesama mahluk di alam semesta ini. Ia hamba Allah dan menghamba hanya kepada-Nya.

Jauh sebelum kelahirannya di dunia, manusia sudah sepenuhnya sadar akan status kehambaannya itu. Ia sadar bahwa kehidupanya di dunia kelak hanya mengemban satu visi yakni menjadi hamba Allah dan satu misi, menghamba kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-nya:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ?

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada-Ku.” (adz-Dzariyat, 56).

Kesadarannya itu bahkan diwujudkan dalam sebuah ikrar suci seperti yang Allah sendiri kisahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka. Kemudian Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Agar kelak di hari Kiamat kamu tidak berkata sesungguhnya dahulu kami lalai dari hal itu” (al-A‘raf: 172).

Dalam kitab tafsirnya, Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi menyebut sumpah manusia kepada Allah ini dengan syahâdah al-fi?rah (ikrar suci), yakni ikrar manusia untuk mengesakan Allah (wa?dâniyyatihi). Ikrar ini terjadi di âlam adz-dzar, alam menjelang manusia diturunkan ke alam dunia. Menurut Syekh Asy-Sya’rawi, ayat ini menegaskan bahwa secara fitrah semua mahluk itu beriman kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Inilah yang sering disebut bahwa agama itu fitrah. Secara alami, manusia akan percaya bahwa alam raya ini ada yang menciptakan, dan Pencipta itu pula yang sekaligus mengatur peredarannya. Fitrah, dalam al-Mu’jam al-Wash?t, bermakna ?? ? ? ? ? ? ? ? (suatu potensi asal saat sesuatu mahluk diciptakan). Ini berarti, dari sekian potensi yang dibawa manusia sejak lahirnya, satu di antaranya adalah potensi ketuhanan ini.

Dari perspektif sains modern sendiri, sudah sejak lama manusia diyakini sebagai mahluk relijius. Agama sebagai fenomena alami, yang niscaya ada dalam kehidupan manusia. Setiap orang secara naluri percaya akan adanya suatu kekuatan di luar sana yang mendesain alam semesta ini, dan mengatur perjalanan setiap jengkal kehidupan.

Namun sesuatu itu keberadaannya di luar jangkauan akal dan pancainderanya. Naluri ini menjadi sumber dorongan manusia untuk menganut agama. Jesse Bering, seorang psikolog kontemporer Amerika dalam bukunya the God Instinct: The Psychology of Souls, Destiny and the Meaning of Life, mengistilahkannya dengan God Instinct (insting ketuhanan). Menurutnya, ini adalah unsur unik dalam diri manusia, yang membedakannya dari binatang. Unsur inilah yang melahirkan fenomena agama dan kepercayaan di setiap tempat dan zaman.

Penjara tubuh

Tibalah giliran masing-masing manusia diturunkan ke muka bumi. Memasuki alam dunia, wujud ruhani itu dimasukkan dalam wadah tubuh jasmani. Di awal perjalanannya, ia mulai belajar survive dan beradaptasi dengan lingkungan duniawinya. Itu dimulai dari ruang sempit rahim ibunya. Seiring waktu, tubuhnya yang semula segumpal daging, tumbuh menjadi janin. Setelah sembilan bulan, saat semua organ dan sistem tubuhnya sempurna, ia kemudian keluar dari ruang sempit itu ke ruang bebas alam dunia ini.

Hari berganti hari. Tubuh mungil itu terus berkembang. Yang semua lemah menjadi kuat; semula kecil semakin besar; semula pendek menjadi tinggi. Semua unsur terus berkembang tahap demi tahap, hingga akhirnya menjadi sosok remaja dan dewasa. Semula ia masih merasa canggung dengan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Lambat laun ia mulai meniru dan membiasakan diri. Berkat bimbingan orangtua dan orang-orang di sekitarnya ia pun menjadi terbiasa.

Tahun berganti tahun. Ia sudah mulai akrab, betah, dan akhirnya bisa merasakan manisnya kehidupan dunia. Ia mulai kenal nikmatnya makanan, lembutnya belaian, bagusnya pakaian, asiknya permainan, dan seterusnya. Memasuki usia remaja, kesannya tentang kehidupan pun semakin mendalam. Ia sudah bisa merasakan indahnya pemandangan, cantiknya lawan jenis, asyiknya bergaul, manisnya ilmu, bangganya prestasi, dan seterusnya.

Saat dewasa pun tiba. Ia semakin merasa dunia ini sebagai tempat terbaik. Bagaimana tidak, ia sudah bisa menikmati nikmatnya pujian, asiknya rumah tangga, enaknya banyak uang, indahnya kemewahan, hebatnya kekayaan, kekuasaan, pangkat, jabatan dan seterusnya. Dunia menjadi tempat yang begitu menakjubkan baginya. Bila perlu, ia ingin hidup seterusnya di dunia, terlebih jika “kebetulan” ia memperoleh itu semua dengan mudah.?

Di sinilah manusia mulai merinci daftar keinginan, merangkai cita-cita dan merancang rencana-rencana hidup. Waktu menjadi terasa sangat berharga. Hari demi hari ibarat susunan anak tangga yang dilalui menuju satu demi satu keinginannya.

Di satu sisi, ia sebenarnya sadar bahwa jatah hidup di dunia ini terbatas. Pada saatnya pasti akan berakhir. Namun di sisi lain, dunia ini sudah terlampau indah baginya dan ia sudah terlanjur jatuh cinta. Target-target hidup sudah dipancang. Usaha untuk meraihnya pun sudah dilakukan lahir dan batin. Secara lahir, ia bekerja dan belajar. Kegagalan demi kegagalan ia alami, namun ia terus bangkit.?

Tahap demi tahap, jenjang demi jenjang ia lalui dengan sebar, demi meraih daftar-daftar keinginannya. Tak hanya secara lahir, usaha-usaha batin pun dilakukan, terutama di saat-saat kondisi sulit/terjepit. Ia rajin beribadah dan berdoa, memohon agar Allah memudahkan usahanya meraih setiap keinginannya.

Demikianlah cara umumnya manusia melalui fase hidupnya di dunia. Mereka tentu sadar hidup ini hanya sementara, tapi mereka seolah mencoba melupakannya. Sampai tak lagi merasa jika jatah waktunya di dunia kian habis. Saat ajal tiba, ia mungkin sedang giat-giatnya bekerja, belajar, bercengkrama, bersenang-senang.?

Keinginannya masih banyak yang belum terpenuhi. Masih banyak cita-cita yang belum tercapai. Masalah masih banyak yang belum diselesaikan dan tanggungjawab pun masih besar, di keluarga, kantor, organisasi, masyarakat. Namun ajal tak bisa ditunda. Maka kematian menjadi terasa begitu menyakitkan.

Dijajah nafsu

Seperti sudah diuraikan, manusia adalah mahluk dua dimensi, lahir dan batin; jasad dan ruh. Setelah ruh dan jasad dipersatukan, seperti kata Imam al-Ghazali dalam I?yâ ‘Ul?mudd?n, jasad menjadi kendaraaan bagi ruh (manusia) selama menjalani fase kehidupannya di dunia.

Kemudian, dalam menahkodai tubuh, ruh memiliki satu organ/sistem dalam “tubuh”nya yang disebut an-nafs, yang dalam konteks ini sering diartikan sebagai hawa nafsu atau syahwat. Dalam terminologi pakar kejiwaan Muslim seperti Ibnu Sina dan Mullâ ?adrâ, hawa nafsu diistilahkan dengan an-nafs al-?ayawâniyyah (nafsu hewani).?

Sejatinya, keberadaan hawa nafsu ini adalah fitrah, sebagaimana fitrah-fitrah lainnya dalam diri manusia. Ia adalah unsur ruhani yang menjadi sumber gerak tubuh. Ia menggerakkan dan memproses seluruh organ dan sistem tubuh, pencernaan, pertumbuhan, perkembangbiakkan, penginderaan, dan lain sebagainya.

Dari sinilah bersumber semua rasa dan hasrat jasmaniah manusia. Ini tentunya terkait langsung dengan aktivitas fisik manusia, seperti makan, tidur, bangun, pergi, bekerja, seks dan lain-lain. Artinya, hawa nafsu merupakan penggerak berlangsungnya aktifitas dasar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ia sebagai hasrat yang mendorong aktivitas-aktivitas itu dan sekaligus yang merasakannya.

Selain hawa nafsu, ruhani manusia juga memiliki bagian lain yang diistilahkan Ibnu Sina sebagai an-nafs al-insâniyyah (nafsu insani), yang mencakup qalbu dan akal-pikiran. Qalbu menjadi sumber spiritualitas dan akal-pikiran sumber intelektualitas. Aspek ruhani inilah yang mendorong manusia pada aktifitas keilmuan, intelektualitas, keagamaan dan filantropi.

Persoalannya adalah nafsu hewani mengontrol langsung aktivitas dasar manusia, seperti makan, minum, seks, penglihatan, pendengaran, dan lain sebagainya. Ketika ruh masuk ke dalam tubuh, aspek ruh inilah yang langsung berperan dan aktif bekerja. Saat tubuh masih gumpalang daging, ia menumbuhkannya jadi janin hingga lengkap dengan organ-organ tubuhnya.?

Jadilah janin itu bayi yang bergerak dan mengindera, hingga sempurna dan siap terjun keluar dari rahim sang ibu. Tahun berganti tahun, barulah nafsu insani aktif bekerja menumbuhkan kesadaran intelektual dan spiritual pada manusia baru itu.

Kondisi ini tentu saja menjadikan hawa nafsu lebih unggul dalam mengendalikan tubuh, dibandingkan pikiran dan qalbu. Sementara dalam konteks ini, tugas akal dan qalbu sebenarnya adalah untuk mengontrol dan membimbing aktifitas hawa nafsu.?

Seperti dikatakan Imam al-Ghazali dalam K?miyâ‘ as-Sa’âdah, jika diri manusia itu diibaratkan sebuah negara (mad?nah), maka tubuh itu adalah wilayah kekuasaan (dliyâ‘), syahwat itu ibarat perdana menteri (wâliy) yang mengatur pemerintahan atas perintah dan bimbingan raja. Sedangkan qalbu adalah sang raja (mâlik) dan akal adalah penasehat raja (waz?r).

Namun jika perdana menteri itu begitu cerdik dan kuat pengaruhnya, sementara sang raja lemah dan bodoh, maka seluruh kerajaan akan tunduk di bawah kendali sang perdana menteri, termasuk pula raja dan penasehatnya itu.?

Artinya, ketika hawa nafsu seseorang terlampau kuat mencengkram tubuh, sementara qalbu dan akalnya lemah, maka orang itu perilakunya sehari-hari akan hanya berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Qalbu dan akalnya pun akan bekerja menuruti perintah hawa nafsunya.

Ini kondisi ruhani yang umum dialami manusia, saat hawa nafsu menjajah wilayah kekuasaan qalbu dan akal. Untuk itulah Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai ilâh (tuhan). Allah membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan qolbunya, serta menutup pandangannya. Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (al-Jatsiyah: 23)

Ketika hidup seseorang dipenuhi dengan keinginan-keinginan, maka hari-harinya akan dipenuhi dengan rangkaian kesibukan untuk mencapainya satu demi satu. Jika ia berhasrat jadi seorang PNS, misalkan, maka dia akan mengejarnya. Tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga, semuanya akan dipertaruhkan. Perasaannya akan selalu diliputi harapan dan kecemasan, yang hanya hilang jika ia sudah berhasil. Sebaliknya jika gagal, ia akan dirundung stres dan kesedihan.

Satu keinginan terpenuhi, muncullah keinginan-keinginan berikutnya. Dan manusia, pada saat bersamaan, selalu punya lebih dari satu keinginan. Hidupnya akan disesaki berbagai kesibukan demi mengejar daftar kemauan syahwatnya: uang, rumah, sepeda motor, mobil, tanah, pekerjaan, pangkat/jabatan, kekuasaan, istri/suami, anak-cucu, hiburan, hobi, ilmu, prestasi, gelar, dan lain sebagainya.

Ia terjebak dalam jejaring keinginan dan kesibukan yang diciptakannya sendiri atas perintah syahwat. Dan itu berlangsung hampir sepanjang hidupnya, dan menyita hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran dan perasaannya. Namun di sisi lain, ibadah dilakukan hanya sekedarnya. Bahkan, momen-momen sakral itu pun, misalnya shalat, puasa, haji, infak, sedekah, tak jarang dijadikan sarana ruhani untuk memuluskan keinginan-keinginan duniawinya itu.

Kemauan nafsu tak pernah habis. Dan untuk setiap kemauan, nafsu akan menggerakkan tubuh tuannya (manusia) untuk melakukan apa saja untuk memenuhinya, meskipun hal itu bisa berakibat buruk bagi dirinya sendiri ataupun melanggar batas-batas aturan syari’at.?

Dalam qalbunya, orang mungkin sadar bahwa suatu perbuatan itu salah/dosa dan akalnya pun tahu jika itu berbahaya, namun karena desakan syahwat yang begitu kuat, ia tetap melakukannya. Ia juga tetap menikmatinya. Keadaan seperti ini, berarti seseorang sudah menjadi hamba bagi hawa nafsunya. Seperti dikecam Allah dalam ayat surat al-Jatsiyah di atas.

Tentang kondisi manusia semacam itu, Allah SWT juga berfiman:

? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh manusia itu kepada Tuhannya ingkar. Mereka mengakui keingkarannya itu. Kepada harta-benda, cintanya begitu besar.” (al-‘Adiyat, 6-8).

Ia selalu sadar bahwa Allah adalah Tuhan (ilâh), dan hanya kepada-Nya ia mengabdikan diri. Namun jeratan hawa nafsu begitu kuat, qalbu dan akalnya yang lemah tak mampu mengendalikan apalagi membebaskannya. Akhirnya, sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan semua yang dimilikinya, didedikasikan bukan untuk Allah, tapi untuk mengejar semua yang diinginkan nafsu hewaninya. Bahkan terkadang ia rela melanggar aturan-aturan Allah, hanya demi menuruti kemauan “tuhan” kecilnya itu. Inilah barangkali yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, serta yang menundukkan matahari dan bulan. Niscaya mereka akan menjawab “Allah”. (al-Ankabut, 61).

Sampai di sini, jelas bahwa musuh terbesar kita sampai detik ini adalah syahwat/hawa nafsu. Setiap insan sudah beriman kepada Allah jauh sebelum ia lahir ke muka bumi. Namun, seperti dikatakan Syekh Asy-Sya’rawi saat bicara tentang syahâdah al-fi?hrah, hawa nafsulah yang kemudian melalaikan kita dari ikrar suci itu.?

Sedangkan hawa nafsu itu sendiri adalah bagian penting dari diri selama kita menjalani hidup di dunia. Oleh karenanya, perjuangan kita untuk merdeka dari belenggu hawa nafsu menjadi begitu berat dan sulit. Terlebih ini adalah perjuangan abadi di sepanjang hidup kita.

Sebentar lagi ‘Idul Adha tiba. Saat yang tepat untuk menyelami makna pengorbanan Ibrahim a.s dan puteranya Isma’il a.s. Keduanya menjadi teladan bagi kita tentang insan yang merdeka dari penjajahan hawa nafsu. Telah sekian lama Ibrahim menanti hadirnya seorang putera, namun setelah hadir dan beranjak dewasa Allah justru menyuruhnya menyembelih putera kesayangannya itu.

Jika melirik pada kemauan syahwat, perintah itu tentu sangat berat bagi Ibrahim. Namun, dengan penuh kesadaran dan ketulusan sebagai hamba Allah, Ibrahim a.s tetap taat melaksanakan perintah itu. Demikian halnya sang putera, Isma’il a.s.

Akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Sejauh mana kesungguhan kita berjuang membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu, kembali menjadi hamba Allah sepenuhnya. Selagi masih ada sisa umur dan badan masih sehat. Dahulu kita terlahir sebagai hamba Allah yang merdeka, kelak mati pun semoga dalam keadaan merdeka pula. Âm?n.

Penulis adalah Dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 26 Agustus 2017

9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang (PC) Ikatan Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jepara telah memulai langkah baru dalam merealisasikan keinginan untuk membangun gedung Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) bagi kader-badernya. Peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung Pusdiklat PMII Centre itu dilaksanakan Rabu, (14/9).

Peletakan batu pertama diselenggarakan di tanah seluas 945 meter persegi yang berlokasi di Kelurahan Karangkebagusan RT. 02 RW. 01 Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara. Tanah tersebut telah dibeli IKA PMII Jepara dengan hasil iuran para alumni PMII.

9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre

Turut serta meletakkan batu dalam acara tersebut Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah H. Noor Ahmad, Rois Syuriah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar, Ketua PCNU Jepara KH Khayatun Abdullah Hadziq beserta sekretaris PCNU Jepara H. Ulul Absor.

Kemudian turut hadir Ketua MPC IKA PMII Jepara KH. Ahmad Bahrowi beserta Sekretaris MPC KH. Mashudi? yang juga ketua MUI Jepara, anggota MPC H. Zainuri Toha, para alumni dan pengurus PC IKA PMII, kader-kader PMII serta warga di Kelurahan Karangkebagusan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam peletakan batu pertama, ada sembilan batu yang ditanam. Pertama dimulai dari sesepuh warga di Kelurahan Karang Kebagusan, Sulaiman yang juga mengawali memberi doa untuk kelancaran pembangunan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian berturut-turut batu kedua oleh KH Ubaidillah Noor, KH Khayatun Abdullah Hadziq, H. Noor Ahmad, KH. Ahmad Bahrowi, KH. Mashudi, H Zainuri Toha, Musim Aisha dan batu kesembilan ditanam Ketua PC PMII Jepara, Fandeli.

Ketua IKA PMII Jepara, Muslim Aisha mengatakan pembangunan Pusdiklat PMII menjadi salah satu program prioritas dalam kepengurusannya periode 2015-2020.

Dikatakannya, dalam waktu setahun kepengurusannya, IKA PMII Jepara sudah mampu membeli sebidang tanah yang saat ini akan dibangun Gedung PMII Centre. “Semoga upaya IKA PMII untuk membangun gedung yang kedepan dapat dijadikan pusat pendidikan dan latihan kader ini dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah, H. Noor Ahmad megapresiasi atas usaha IKA PMII Jepara. Menurutnya pembangunan pusat pendidikan dan latihan bagi kader-kader PMII di Jepara ini akan dapat menghasilkan kader-kader yang militan. Anggota Komisi X DPR RI ini juga juga memberikan support agar upaya IKA PMII Jepara ini berjalan lancar.

Sementara Rais Syuriah PCNU Jepara, KH Ubaidillah Noor berharap agar apa yang dilakukan IKA PMII maupun para kader PMII dapat membantu proses kaderisasi di kalangan NU. Kader-kader PMII yang merupakan kader NU diharapkan menjadi kader yang teguh dalam memperjuangkan Islam ahlussunah wal jamaah. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Khutbah, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 25 Agustus 2017

MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai, Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush, lebih baik tak usah datang ke Indonesia terkait citra dan perlakuannya yang buruk terhadap umat Islam di dunia.

“Kita tahu tata krama bahwa tamu seharusnya dihormati dan disambut baik, tetapi kami lebih senang jika pemerintah tidak mengundang orang yang melukai umat Islam di dunia,” kata Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, di Jakarta, Kamis (9/11).

MUI sebagai wadah dari para pimpinan umat Islam, ujarnya, dapat merasakan bagaimana ketidaksenangan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, terhadap kedatangan Bush.

MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang

Bush dijadwalkan berkunjung ke Indonesia seusai menghadiri pertemuan forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada 20 November di Vietnam yang merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke AS pada Mei 2005.

“Ketidaksenangan yang tulus dan tanpa provokasi itu merupakan hal wajar, jika melihat sepak terjang Bush selama ini, seperti invasi ke Irak dan Afghanistan, serta dukungannya terhadap Israel yang membunuhi warga Palestina dan Lebanon,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seharusnya, ujar Ma’ruf, pemerintah mengundang para pimpinan negeri yang bersahabat dan menjalin hubungan baik sama rendah dan sama tinggi saja, bukan pemimpin negara yang senang merendahkan dan menekan negara dan bangsa lain.

Jika dikalkulasi pemerintah, kedatangan Bush mungkin ada untung ruginya bagi Indonesia, tetapi dari perasaan umat Islam kedatangan Bush dianggap sebagai kontroversi dan hanya dianggap ingin menekan atau minimal membuat repot saja, ujarnya.

Ia menambahkan reaksi negatif terhadap Bush juga bukan hanya datang dari kalangan Muslim, tetapi juga dari kalangan non Muslim, karena mereka juga memiliki hati nurani. (ant/rif)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jumlah peserta didiik di SMK Bakti Pangkalpinang, Bangka Belitung pada tahun 2015 sebanyak 657 orang, terdiri dari 299 laki-laki dan 358 perempuan. Masing-masing peserta didik memeluk salah satu dari enam agama yang saat itu diakui pemerintah RI.

Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang (Sumber Gambar : Nu Online)
Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang (Sumber Gambar : Nu Online)

Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang

Secara berurutan dari segi jumlah pemeluk agama adalah pemeluk agama Buddha berjumlah 233 orang (35,46 %), pemeluk  agama Konghucu 130 (19,79 %), pemeluk  agama Kristen 114 orang (17,35  %), pemeluk  agama Katholik 103 orang (15,68 %), pemeluk  agama Islam  76 orang (11,56 %), dan pemeluk  agama Hindu satu orang ( 0,15 %).

Berdasarkan penelitian Balitbang Diklat Kemenag, diketahui layanan pendidikan agama di SMK Bakti Pangkalpinang, Bangka Belitung yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur mencakup Pendidikan Agama Buddha, Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Agama Katholik, dan Pendidikan Agama Islam. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Pendidikan Agama Konghucu dan Pendidikan Agama Hindu tidak disediakan di sekolah ini. Peserta didik yang beragama Konghucu mengikuti Pendidikan Agama Katolik dan Buddha. Sedangkan peserta didik yang beragama Hindu mengikuti Pendidikan Agama Buddha. 

Namun, kadang-kadang peserta didik yang beragama Hindu mengikuti kegiatan keagamaan di pura untuk belajar kepada tokoh agama Hindu. Guru Pendidikan Agama di sekolah ini berjumlah sebelas orang; terdiri dari dua guru Pendidikan Agama Islam, dan masing-masing tiga guru pendidikan agama Kristen, guru pendidikan agama Katholik, serta guru pendidikan agama Buddha. Tidak terdapat guru Pendidikan Agama Konghucu dan Hindu di sekolah ini.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendidikan Agama Islam dilaksanakan pada jam efektif sebagaimana jadwal pelajaran pada umumnya. Pendidikan Agama Kristen, Katholik, dan Buddha dilaksanakan setiap Jumat siang di luar jam pelajaran sebagaimana jadwal pelajaran lainnya. Tempat ibadah yang ada berupa musala terletak di dalam kompleks sekolah. Buku pelajaran Pendidikan Agama untuk pegangan siswa dirasakan masih sangat kurang. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Daerah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 24 Agustus 2017

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2014 yang menyoroti isu kehidupan beragama. Hal ini akan menunjang program Kemenag yang tengah menggalakkan gerakan deradikalisasi agama.

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU

“Kami sangat berkepentingan dengan hasil Munas ini karena di dalamnya disinggung soal pemahaman keagamaan dan bagaimana agama bersikap dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya kepada wartawan selepas acara pembukaan Munas-Konbes NU 2014 di kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11).

Munas NU yang akan berakhir Ahad (2/11) ini di antaranya mendiskkusikan kode etik penyiaran agama yang meliputi pula wewenang dan batasan negara mengatur kehidupan beragama, etika dakwah, penghargaan tradisi, dan penguatan harmoni di kalangan lintas agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lukman menunggu hasil pembahasan Munas NU. Menurtnya, NU mempunyai sejarah panjang tentang keterlibatannya dalam menjaga NKRI. “Saya menilai paham NU juga sangat cocok dengan jati diri bangsa ini,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Putra tokoh NU KH Saifuddin Zuhri ini mengatakan, bulan depan Kementerian Agama mulai bergerak melaksanakan program deradikalisasi yang bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi. Karenanya, rekomendasi Munas NU menjadi bahan penting bagi usaha menghapus ekstremisme dalam bergama dan membangun kesadaran berkonstitusi tersebut.

Lukman menilai, forum tertinggi setelah Muktamar NU ini merupakan salah satu tradisi yang baik karena dilakukan oleh para ulama kompeten dan melalui kajian mendalam terhadap teks-teks keagamaan.

Secara terpisah, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Ja’far juga mendukung penuh terselenggaranya Munas-Konbes NU. Ia berharap, hasil Munas dapat dikoordinasikan kepada pihaknya untuk ditindak lanjuti. “Tentu saya siap melaksanakan rekomendasi Munas nanti sesuai tupoksi (tigas poko dan fungsi) saya,” tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kamis (29/12) pagi melepas puluhan jamaah umroh Kabupaten Probolinggo. Para jamaah yang dilepas dari Pendopo Bupati Probolinggo ini merupakan para guru pendidik dan pedagang di Kabupaten Probolinggo.

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh

Dalam kesempatan tersebut Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa saat ini suhu di Madinah mencapai 5 derajat yang merupakan cuaca yang ektrem. Oleh karena itu, jamaah umroh harus mempersiapkan diri serta menjaga kondisi kesehatan dengan baik.

"Ibadah umroh dan haji merupakan ibadah fisik. Melaksanakan ibadah umroh maupun haji yang mahal itu adalah untuk kebutuhan hotel (penginapan) dan pesawat," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hasan, sholat dhuhur 1 kali di Masjidil Haram itu sama dengan sholat Dhuhur 100 ribu kali di Indonesia. "Perbanyaklah serta maksimalkan untuk melaksanakan ibadah dan shalat sunnahnya," jelasnya.

Kepada jamaah umroh Hasan meminta agar meninggalkan baju kesomboangan dan keangkuhannya selama berada di tanah suci Mekah dan Madinah. Sebab dengan sombong dan takabur nantinya akan membawa masalah selama menjalankan ibadah di tanah suci Mekah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tawadhu atau rendah hatilah yang harus ditanamkan pada setiap hati jamaah untuk kelancaran melaksanakan ibadah umroh selama berada di tanah suci Mekah dan Madinah," tegasnya.

Hasan menambahkan bahwa banyak orang kaya yang tidak pernah ke Mekah dan Madinah untuk menjalan ibadah haji maupun umroh. "Jadi para jamaah ini merupakan kesempatan yang mendapat panggilan sebagai tamu Allah SWT dan Rasulullah," pungkasnya.

Pelepasan para jamaah umroh ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah